Glenikan Akbar Komsos KAS 2023: Upaya Meneguhkan Peran Gereja bagi Dunia

Salah satu corak khas Komsos KAS adalah bekerja di bidang produktivitas dan kreativitas. Untuk menghadirkan Gereja yang kreatif dibutuhkan upaya terus menerus untuk berani memahami kebutuhan umat/ audiens, up to date, terus menerus belajar, mau berkolaborasi, dan terus mencoba membuat karya. Dengan demikian diharapkan Komsos KAS dapat menjadi “penghubung” warta kasih Allah dengan manusia.

Hal tersebut menjadi latar belakang diselenggarakannya Glenikan Akbar Komsos KAS, pada Sabtu-Minggu (15-16/07/23) lalu, bertempat di Wisma Salam Muntilan.

Di hari pertama kegiatan, Romo H. Budi Purwantoro, Pr., selaku Kepala UPP Komunikasi KAS memberi materi tentang perlunya umat katolik mewujudkan pesan Paus fransiscus pada peringatan “25 tahun Runtuhnya Tembok Berlin” pada 9 November 2014 lalu, yang dirasa relevan denan peran Komsos kondisi zaman sekarang. Untuk bisa membangun jembatan maka umat Kristen, khususnya Komsos perlu meneladani cara Yesus yang selalu berkomunikasi dengan sesama menggunakan hati.

“Yesus ahlinya membangun jembatan, karena Yesus mau berkomunikasi dengan siapapun, bahkan dengan orang-orang yang disingkirkan, dan Yesus berbicara dengan hati.” Terang romo Budi.

Romo Budi menambahkan, dengan adanya kemajuan teknologi, maka membangun jembatan kini perlu diperluas dengan media digital. Dunia digital memberi kesempatan seluas-luasnya, namun perlu diwaspadai, karena juga memberi dampak buruk. Oleh karena itu Komsos diharapkan menjadi pewarta gereja yang kreatif dan inovatif.

Di sesi kedua, Romo Petrus Dwi Purnomo A, Pr. selaku koordinator KOMSOS KAS, menyampaikan materi tentang Tiga Cara Berkomunikasi pada Manusia.

“Ada tiga cara manusia berkomunikasi saat berelasi dengan orang lain, yaitu kepala, hati dan perut. Jika berkomunikasi dari kepala, maka logika, rasionalitas yang dipakai, sehingga muncul perdebatan. Jika berkomunikasi dari perut, komunikasi ini hanya berdasarkan pada insting-nafsu. Namun, jika berkomunikasi dari hati, yang mendasarkan pada emosi, empati dan ekspresi maka akan tercipta bentuk komunikasi yang ramah, menyejukkan, dan mendorong siapapun untuk berkomunikasi yang baik, berkolaborasi, dan berelasi”, imbuh pastur yang akrab disapa romo Ipung ini.

Live Streaming Tidak Cukup Lagi!

Di hari kedua Glenikan Akbar Komsos KAS (16/07/23) diisi dengan praktik menulis berita dan membuat  Konten film pendek. Untuk sesi praktik menulis berita menghadirkan narasumber Agung Purwandono, Pemred Mojok.Co. Sedangkan pelatihan film pendek diisi oleh Fransiscus B. Edgar, staf UPPK KAS.

Dalam materinya Edgar, menyampaikan pada masa pandemi Komsos paroki menjadi “anak emas” karena sangat dibutuhkan oleh gereja untuk   pewartaan, diantaranya menyelenggarakan misa Online/ live streaming. Dampak positifnya kemudian membuat lini media massa seperti youtube  dibanjiri dengan konten- konten yang memuat kata kunci misa atau ekaristi.  Namun di masa endemi seperti sekarang,  komsos perlu memikirkan kembali apa perannya dalam pewartaan. ” Ketika misa sudah berjalan seperti biasa, live streaming sudah tidak cukup lagi. bahkan bisa dibilang kuno. Kita perlu memikirkan cara-cara lain agar komsos bisa tetap relevan menjawab kebutuhan pewartaan”, jelas Edgar

Menurut Edgar, ada beberapa agenda yang bisa menjadi lahan garapan komsos di luar kegiatan rutin gerejawi. Diantaranya membuat konten- konten positif bertema sosial untuk dimuat di seluruh akun media sosial gereja. Tujuannya agar wajah gereja tetap hadir di zaman digital seperti sekarang ini. Cara ini sudah dimulai melalui kolaborasi antar Komsos se-Kevikepan DIY yang membuat konten bertema pemilu.

Dalam diskusi juga terungkap, bahwa hierarki paroki  belum seluruhnya mengetahui dan memahami bahwa kehadiran komsos adalah entitas wajib bagi Gereja sebagaimana tertuang dalam dokumen gereja katolik Inter Mirifica.

“Melalui dokumen Inter Mirifica, Gereja menyadari bahwa ia sedang berada di dunia yang sedang berkembang. Terutama dalam hal komunikasi sosial”, terang Edgar. Hal itu menunjukkan bahwa Gereja menyadari bahwa jika digunakan dengan baik, media sosial dapat menjadi sarana pewartaan yang efektif.

Hingga hari kedua antusiasme ratusan peserta Glenikan Akbar Komsos KAS tetap menyala. Mereka dengan semangat mengikuti praktik langsung penulisan berita dan pembuatan video pendek. Semangat untuk tetap berkarya  menghidupi komsos paroki  diteguhkan melalui misa perutusan yang dibawakan oleh tiga romo, yakni Romo H. Budi Purwantoro Pr, Romo P. Dwi Purnomo Adi Pr, Romo J. Ari Purnomo Pr., ketiganya berpesan agar Komsos bisa meneladani Yesus dalam menjalin relasi dengan sesama, yakni berkomunikasi dengan hati. Dan membawa pesan Paus Fransiscus, agar Gereja membangun jembatan, bukan tembok untuk mewujudkan persaudaraan.

.

Wempi dan Seno / Komsos Jetis

.

.

‘NYAMBUNG’ Sukses Jadi Juara III Lomba FESFIKOM #2 Tahun 2021

Festival film Komsos (Fesfikom) kedua tahun 2021 yang telah digelar sejak Juni telah mencapai babak akhir. Setelah absen di tahun lalu, perhelatan bergengsi ini diadakan kembali untuk menguji kreatifitas para pegiat komsos, komunitas katolik dan para orang muda katolik di seluruh Indonesia.

Proses panjang mulai dari pendaftaran, technical meeting, pengumpulan karya, hingga proses penjurian memakan waktu selama 3,5 bulan berhasil dilewati. Kini tiba saatnya untuk mengetahui tim yang masuk dalam juara favorit para juri dan berhasil membawa pulang gelar sebagai juara. Dari 31 tim yang mendaftar, 20 tim telah mengumpulkan karya terbaiknya.

Komsos Keuskupan Agung Semarang (KAS) tahun ini mengusung tema “Urip iku Urup” artinya hidup itu nyala, hidup itu bermakna. Sebuah filosofi jawa yang memiliki makna mendalam namun tak mudah untuk diwujudkan. Ungkapan “Urip iku urup” dimaknai sebagai semangat hidup untuk membawa manfaat bagi orang lain. Saling memberi, menolong dan membantu sesama terutama di masa pandemi covid-19 saat ini.

Karena kondisi pandemi yang belum usai, malam penganugerahan Fesfikom #2 dilakukan secara streaming melalui kanal youtube UPPKKAS. Walaupun belum dapat bertemu secara langsung, antusiasme dan semangat para peserta tak surut.

Begitu juga kami walaupun menonton secara terpisah kami tetap terhubung satu sama lain. Acara dimulai dengan suara merdu bintang tamu utama yaitu Hudson Prananjaya menbawakan lagu Ave Maria. Kemudian dilanjutkan pembukaan dari MC dan bincang-bincang singkat bersama Kepala Unit Pengembangan Pastoral Komunikasi KAS, Romo Yustinus Slamet Witokaryono, Pr.

Dalam sambutannya, Romo Wito menyampaikan melalui festival film ini, para pegiat komsos di paroki memilki wadah untuk menuangkan ide dan karya yang nantinya menjadi media pewartaan di dunia digital. Selain itu, menjadi ajang apresiasi bagi para anggota dan pegiat komsos di paroki.

Tema yang diusung pada tahun ini pun yaitu “Urip iku Urup” tak dipilih begitu saja namun merujuk pada Arah Dasar Keuskupan Agung Semarang (ARDAS KAS) tahun 2021-2025. ARDAS KAS ini diwujudkan dalam fokus pastoral dan beberapa poin rinci kemudian didiskusikan sehingga ditemukan 3 kata kunci “Urip iku Urup”.

Melalui tema ini, Romo Wito mengharapkan ARDAS KAS dapat dipahami dan dimaknai oleh umat katolik karena lebih membumi melalui film-film yang telah dibuat. Lewat festival film ini, Romo Wito mengharapkan komsos di setiap paroki untuk terus berkarya bukan hanya saat lomba namun juga ketika kembali ke paroki. Ciptakanlah karya-karya yang mendukung program paroki, keuskupan dan karya pewartaan gereja secara umum.

Acara berikutnya dilanjutkan bincang-bincang dengan Hudson Prananjaya tentang pemaknaan tema tahun ini. Dilanjutkan dengan ngobrol bersama 3 juri dalam fesfikom #2 yaitu Bapak Valen Triyadi, Romo Agustinus Suryo Nugroho, Pr. dan Romo Murti Hadi, SJ. Ketiga juri mengungkapkan pemaknaan tema dan kemampuan mengangkat konflik yang berbeda-beda di setiap film. Kriteria penilaian dalam fesfikom kali ini menitikberatkan pada sisi alur cerita, kesesuaian tema, kreativitas dan sinematografi.

Tibalah saat yang ditunggu yaitu pengumuman pemenang. Komsos Paroki St Albertus Magnus Jetis  berhasil mendapatkan juara 3 Fesfikom #2. Berikut ini daftar para pemenang Festival Film Komsos 2021:

  1. Juara 1 dengan judul “Panggilan Masuk” karya Komunitas Metafora Metamorfosa Paroki. St. Maria Assumpta Klaten
  2. Juara 2 dengan judul “Cultus (Manembah Jagad)” karya Komsos Paroki. St. Maria Assumpta Babarsari
  3. Juara 3 dengan judul “Nyambung” karya Komsos Paroki St. Albertus Magnus Jetis Yogyakarta
  4. Juara 4 dengan judul “Palwa” karya Komsos Paroki St. Perawan Maria Fatima Sragen
  5. Juara Favorit dewan juri dengan judul “(S) Amin” karya Paroki St. Aloysius Mojosongo.

Terimakasih kepada para pihak yang telah mendukung pembuatan film “Nyambung”. Sampai bertemu di Fesfikom #3 tahun depan!

Video Malam Penganugerahan FESFIKOM #2 bisa ditonton disini: https://www.youtube.com/watch?v=3jMCUP8L9dg

.

.

Paus Fransiskus, Hidup Menjadi Cerita-Hari Komunikasi Sosial Sedunia Ke-54

paus fransiskus

Paus Fransiskus Berpesan

“Cerita yang baik supaya tidak tersesat. Cerita membangun bukan menghancurkan. Cerita yang menemukan kembali akar dan kekuatan untuk bergerak maju bersama.”

Memperingati Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-54

Tema : Hidup Menjadi Cerita, Menjahit Kembali Yang Putus dan Terbelah

“Supaya Engkau Dapat Menceritakan Kepada Anak Cucumu” (Kel 10:2)

Saya ingin mengkhususkan pesan tahun ini pada tema “Cerita”. Karena saya yakin, kita perlu menghirup kebenaran dari cerita-cerita yang baik supaya tidak tersesat. Itulah cerita yang membangun, bukan menghancurkan; cerita yang membantu menemukan kembali akar dan kekuatan untuk bergerak maju bersama.

Di tengah-tengah hiruk-pikuk suara dan pesan membingungkan, kita butuh cerita manusiawi yang bicara tentang diri sendiri dan segala keindahan di sekitar. Cerita
yang mampu memandang dunia dan peristiwa dengan penuh kelembutan. Yang bisa menceritakan, kita bagian dari permadani hidup dan saling terhubung. Cerita yang mengungkapkan jalinan benang yang menghubungkan kita satu sama lain.

1. Menenun Cerita

Manusia adalah makhluk pencerita. Sejak kecil tanpa disadari kita “lapar” akan cerita sebagaimana lapar akan makanan. Entah itu dongeng, novel, film, lagu, maupun berita; Inilah cerita-cerita yang mempengaruhi kehidupan. Kita sering memutuskan apa yang benar atau apa yang salah berdasarkan karakter/tokoh-tokoh dan cerita-cerita yang terekam. Cerita-cerita tersebut membekas dan mempengaruhi keyakinanserta perilaku kita. Lewat cerita-cerita itu, kita juga terbantu memahami dan mengetahui siapa diri kita sesungguhnya.

Manusia bukan hanya satu-satunya makhluk hidup yang membutuhkan pakaian untuk menutupi kerapuhannya (bdk. Kej 3:21). Ia juga merupakan satu-satunya makhluk yang perlu mengisahkan dan “mengenakan” pada dirinya cerita-cerita untuk menjaga hidupnya. Kita tak hanya menenun pakaian, tetapi juga menenun cerita. Ini karena sesungguhnya, kemampuan manusiawi untuk “menenun” (Latin: texere) tidak hanya mengacu pada kata “tekstil”, tetapi juga “teks”.

Berbagai cerita dari setiap masa memiliki sebuah “mesin tenun” umum yang selalu menampilkan sosok “para pahlawan” yang dapat mewujudkan mimpinya menghadapi situasi sulit, melawan kejahatan dalam kehidupan sehari-hari karena didorong oleh sebuah kekuatan yang membuat mereka berani, yaitu kekuatan cinta kasih. Dengan membenamkan diri kita dalam cerita-cerita itulah, kita dapat menemukan kembali motivasi-motivasi heroik untuk menghadapi berbagai tantangan dalam hidup.

Manusia adalah makhluk pencerita karena ia adalah makhluk yang berkembang, yang menemukan siapa dirinya. Ia juga diperkaya oleh berbagai jalan cerita dalam hari-hari hidupnya. Akan tetapi, sejak awal mula, cerita kita telah mendapatkan ancaman dari si jahat yang meliuk-liuk sepanjang sejarah.

2. Tidak semua Cerita Baik

“Jika kamu memakannya, kamu akan menjadi seperti Allah“ (bdk. Kej 3:4). Godaan ular ini menyisipkan simpul yang sulit dilepas dalam alur sejarah. “Jika kamu memiliki, kamu akan menjadi; kamu akan mendapatkan…”. Inilah pesan yang terus dibisikkan sampai hari ini oleh mereka yang menggunakan storytelling untuk mengeksploitasi. Ada banyak cerita yang membius dan meyakinkan bahwa untuk berbahagia kita harus terus menerus mendapatkan, memiliki dan mengonsumsi. Bahkan mungkin tanpa disadari kita rakus membicarakan hal buruk dan bergosip serta mengonsumsi banyak kisah kekerasan dan dusta.

Seringkali berbagai media komunikasi justru memproduksi cerita-cerita destruktif dan provokatif yang mengikis dan menghancurkan benang-benang yang rapuh dalam kehidupan bersama, daripada mengisahkan cerita-cerita konstruktif yang merekatkan ikatan sosial dan tatanan budaya. Media komunikasi juga kerap sekedar mengumpulkan aneka informasi yang tidak terverifikasi, mengulang-ulang obrolan sepele dan persuasif yang palsu, menyerang dengan ujaran kebencian. Semua sungguh tidak menenun sejarah manusia, melainkan menelanjangi martabatnya.

Cerita-cerita yang dimanfatkan untuk tujuan kekuasaan bakal berumur pendek. Berbeda dengan cerita yang baik yang mampu melampaui batas-batas ruang dan waktu. Cerita-cerita itu tetap aktual berabad-abad lamanya karena memberikan asupan dalam kehidupan.

Pada era di mana pemalsuan menjadi semakin canggih, bahkan mencapai tingkat eksponensial (seperti rekayasa materi digital), kita butuh kebijaksanaan untuk menerima dan menciptakan cerita-cerita indah, benar dan baik. Kita butuh keberanian menolak cerita palsu dan jahat. Kita butuh kesabaran dan penegasan rohani untuk menemukan kembali cerita-cerita yang membantu kita agar tidak kehilangan benang di antara banyaknya masalah sekarang ini. Sebuah cerita yang mengungkapkan kebenaran tentang siapa diri kita sesungguhnya. Dan banyak cerita kepahlawanan yang diabaikan dalam kehidupan sehari-hari.

3. Cerita dari Segala Cerita – Paus Fransiskus

Kitab Suci adalah cerita dari segala cerita. Betapa banyaknya peristiwa, bangsa dan pribadi yang dikisahkan kepada kita! Ini menunjukkan, sejak awal, Allah adalah Sang Pencipta sekaligus Narator. Sungguh, Ia mengucapkan Sabda-Nya dan segala sesuatu ada (bdk. Kej 1). Melalui narasi yang dibuat-Nya, Allah memanggil segala sesuatu kepada kehidupan. Dan pada puncaknya Ia menciptakan laki-laki dan perempuan sebagai rekan dialog-Nya yang bebas, yang membuat sejarah bersamaNya. Dalam Mazmur, sang makhluk ciptaan berkata kepada Sang Pencipta: “Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku. Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, […]. Tulang-tulangku tidak terlindung bagi-Mu, ketika aku dijadikan di tempat yang tersembunyi, dan aku direkam di bagian-bagian bumi yang paling bawah” (Mzm 139:13-15). Kita tidak terlahir lengkap, tetapi kita harus “ditenun” dan “disulam” terus menerus. Kita telah diberi kehidupan sebagai sebuah undangan untuk terus menenun “keajaiban yang luar biasa” dalam diri kita.

Dalam pengertian ini, Kitab Suci adalah kisah cinta yang luar biasa antara Allah dan manusia. Di tengahnya ada Yesus. Kisah-Nya menggenapi Kasih Allah bagi manusia dan pada saat yang sama juga merupakan kisah cinta manusia kepada Allah. Dengan demikian manusia dipanggil, dari generasi ke generasi, untuk menceritakan dan menyimpan dalam memori berbagai episode yang paling penting dari cerita dari segala cerita ini, yang mampu untuk mengomunikasikan makna dari apa yang terjadi.

Judul Pesan tahun ini diambil dari Kitab Keluaran. Sebuah kisah mendasar alkitabiah yang melihat campur tangan Allah dalam cerita umat-Nya. Ketika anak-anak Israel yang diperbudak berseru kepada-Nya, Allah mendengar dan mengingat: “Allah mengingat kepada perjanjian-Nya dengan Abraham, Ishak dan Yakub. Maka Allah melihat orang Israel itu, dan Allah memperhatikan mereka” (Kel 2: 24-25). Ingatan Allah membawa pembebasan dari penindasan yang datang melalui berbagai tanda dan keajaiban. Pada titik inilah Tuhan memberi Musa makna dari semua tanda: “Dan supaya engkau dapat menceritakan kepada anak cucumu tanda-tanda mukjizat mana yang telah Kulakukan di antara mereka, supaya kamu mengetahui, bahwa Akulah Tuhan!” (Kel 10:2). Pengalaman Keluaran mengajarkan bahwa pengetahuan tentang Allah diteruskan dari generasi ke generasi dengan menceritakan kisah bagaimana Ia terus membuat diri-Nya hadir. Allah Kehidupan dikomunikasikan dengan menceritakan kehidupan.

Yesus sendiri bicara mengenai Allah bukan dengan pidato yang abstrak, namun dengan perumpamaan cerita-cerita dan cerita singkat yang diambil dari kehidupan sehari-hari. Di sini hidup menjadi cerita. Dan bagi pendengar, cerita itu menjadi kehidupan dan memasuki kehidupan orang-orang yang mendengarkan dan mengubahnya.

Tidak mengherankan, Injil juga merupakan cerita. Ia menyampaikan informasi sekaligus “menunjukkan” kepada kita siapa Yesus dan membuat kita sesuai pada-Nya. Injil juga meminta pembacanya mengambil bagian dalam iman yang sama untuk berbagi kehidupan yang sama. Injil Yohanes mengatakan Narator yang sesungguhnya– Sang Sabda,– itu sendiri menjadi cerita: “Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menceritakan-Nya” (Yoh 1:18). Saya menggunakan istilah “menceritakan” karena kata dasar (Bahasa Yunani-red) exeghésato dapat diterjemahkan sebagai “mewahyukan” atau menceritakan”. Allah secara pribadi telah membuat diri-Nya terajut ke dalam kemanusiaan kita, yang memberi cara baru merajut cerita-cerita kita.

4. Sebuah Cerita yang Dibarui 

Cerita tentang Kristus bukanlah warisan masa lalu; melainkan cerita kita sendiri yang selalu aktual. Cerita ini menunjukkan Allah memberi perhatian mendalam kepada manusia, kedagingan dan sejarah kita, sampai Ia sendiri menjadi manusia, menjadi daging dan menjadi sejarah. Hal itu juga menunjukkan kepada kita bahwa tidak ada cerita manusia yang tidak penting atau tidak bernilai. Sesudah Allah menjadi cerita, dalam arti tertentu, setiap cerita manusia merupakan cerita ilahi. Dalam cerita setiap orang, Bapa melihat kembali cerita tentang Putera-Nya yang turun ke bumi. Setiap cerita manusia memiliki martabat luar biasa. Karena itu, kemanusiaan layak mendapatkan cerita-cerita luhur, yang keluhurannya sungguh memesona seperti yang telah diangkat oleh Yesus.

“Kalian – sebagaimana ditulis oleh Santo Paulus – adalah surat Kristus, yang ditulis oleh pelayan kami, ditulis bukan dengan tinta, tetapi dengan Roh dari Allah yang hidup, bukan pada loh-loh batu, melainkan pada loh-loh daging, yaitu di dalam di hati manusia” (2 Kor 3:3). Roh Kudus, cinta kasih Allah, menulis dalam diri kita. Dan selama Ia menulis, Ia menaruh hal-hal baik dan terus menerus mengingatkan kita akan hal itu. Sesungguhnya, mengingat (re-cordare) berarti membawa hati (Lat. cor), “menulis” di hati. Berkat karya Roh Kudus, setiap cerita, bahkan yang terlupakan, juga yang tampaknya ditulis pada garis yang paling bengkok sekalipun, dapat menjadi inspirasi dan dilahirkan kembali seperti sebuah karya agung; menjadi pelengkap Injil. Cerita yang dimaksud seperti Pengakuan-pengakuan Agustinus; Kisah Sang Peziarah oleh Ignasius; Cerita Sebuah Jiwa dari Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus; Pertunangan, dan seperti Saudara-saudara Karamazov. Cerita-cerita ini, seperti juga cerita-cerita lain yang tak terhitung jumlahnya, telah menggambarkan pertemuan antara kebebasan Allah dan kebebasan manusia dengan sangat mengagumkan. Tiap-tiap kita mengenal berbagai cerita Injil yang harum, yang telah memberikan kesaksian tentang cinta yang mengubah hidup. Cerita-cerita ini berseru-seru untuk dibagikan, diceritakan, dihidupi di setiap waktu, dalam setiap bahasa dan dengan segala cara.

5. Sebuah Cerita yang Membarui Kita

Cerita kita menjadi bagian dari setiap cerita agung. Ketika membaca Kitab Suci, kisah orang-orang kudus dan juga cerita-cerita yang mampu membaca jiwa manusia dan mengungkapkan keindahannya, Roh Kudus memiliki kebebasan menulis di dalam hati kita dan membarui diri kita, serta mengingatkan tentang siapa diri kita di mata Allah. Ketika kita mengingat cinta yang telah menciptakan dan menyelamatkan, ketika kita menaruh cinta ke dalam cerita-cerita kita setiap hari, dan ketika kita menenun jalan cerita sehari-hari kita dengan belas kasihan, maka kita akan berpindah ke halaman berikutnya.

Hendaklah kita tidak berhenti dengan penyesalan dan kesedihan, terikat pada kenangan menyakitkan yang memenjarakan hati. Melainkan membuka hati dan diri pada yang lain, pada visi yang sama dengan sang Narator. Menceritakan kisah kita kepada Allah tidak pernah sia-sia, meskipun riwayat peristiwa-peristiwa tidak berubah, tetapi makna dan perspektifnya akan berubah. Bercerita kepada Tuhan berarti masuk ke dalam tatapan cinta-Nya yang berbelas-kasih kepada kita dan orang lain. Kita bisa menceritakan kepada-Nya kisah-kisah yang kita jalani, membawa orang-orang dan mempercayakan berbagai situasi dalam kehidupan kita. Bersama-Nya, kita dapat menyimpul kembali jalinan kehidupan, menjahit kembali yang putus dan terbelah. Betapa kita membutuhkannya, semuanya! Dengan cara pandang Narator – satu-satunya yang memiliki cara pandang akhir – kita mendekatkan diri kepada para pemeran utama, kepada saudara dan saudari kita, para aktor yang berada bersama di dalam cerita kita hari ini. Ya, karena tidak ada seorang pun yang menjadi tambahan di panggung dunia dan cerita setiap orang terbuka pada perubahan yang mungkin terjadi. Bahkan ketika menceritakan keburukan, kita dapat belajar untuk memberikan ruang untuk penebusan. Di tengah-tengah keburukan, kita juga dapat mengenali kembali dinamisme kebaikan dan memberikannya ruang.

Karena itu, ini bukan berarti hanya sekedar mengikuti logika penceritaan (storytelling) atau mengiklankan diri, tetapi untuk mengingat siapa diri kita di hadapan Allah; Untuk memberi kesaksian akan apa yang ditulis oleh Roh Kudus dalam hati kita; Untuk
mengungkapkan kepada setiap orang bahwa cerita dirinya mengandung keajaiban yang luar biasa. Untuk dapat melakukan ini, marilah kita mempercayakan diri kepada seorang wanita yang telah merajut kemanusiaan Allah di dalam rahimnya, dan sebagaimana disampaikan dalam Injil, telah merajut segala peristiwa yang terjadi dalam hidupnya. Santa Perawan Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya (bdk. Luk 2:19). Marilah kita meminta bantuan kepada Sang Bunda, yang telah mengetahui cara melepaskan ikatan simpul-simpul kehidupan dengan kekuatan cinta yang lembut:

O Maria, perempuan dan Bunda, engkau telah menenun Sabda ilahi di dalam rahimMu, engkau telah menceritakan karya Allah yang luar biasa di sepanjang hidupmu.

Dengarkanlah cerita-cerita kami, simpanlah dalam hatimu dan jadikanlah milikmu sendiri, juga cerita-cerita yang tidak seorang pun mau mendengarkannya.

Ajarilah kami untuk mengenal kembali benang-benang baik yang memandu jalan cerita. Lihatlah kumpulan simpul-simpul kusut dalam hidup kami yang melumpuhkan ingatan kami. Dengan tanganmu yang halus, setiap benang kusut dapat dilepaskan.

O Wanita yang penuh Roh, Ibu yang penuh kepercayaan, berikanlah juga kami
inspirasi. Bantulah kami untuk membangun cerita-cerita perdamaian, cerita-ceritayang mengarah menuju masa depan. Dan tunjukkanlah kepada kami jalan untuk menghidupinya bersama.

 

Roma, di Basilika Santo Yohanes Lateran, 24 Januari 2020,
Peringatan Santo Fransiskus dari Sales
Paus Fransiskus

.
.

Semangat Berbagi di Minggu Paskah Saat Merebaknya Covid-19 Corona Virus

Sudah lebih dari 30 hari semenjak virus Corona (Covid-19) merebak di negara kita. Tidak hanya di Indonesia, bahkan hampir seluruh negara di belahan dunia terdampak oleh virus ini.

Efek dari virus ini tidak hanya berdampak langsung terhadap kesehatan, yang tidak terlihat namun dirasakan adalah efeknya terhadap perekonomian negara-negara di seluruh dunia.

Berdasarkan data dari CNN Indonesia, di negara Amerika Serikat sendiri sekitar 17 juta orang kehilangan pekerjaannya akibat adanya pemutusan hubungan kerja (PHK) oleh perusahaan pemberi kerja karena mereka pun tidak memiliki pilihan akibat pembatasan sosial (social distancing) yang terbukti efektif menurunkan tingkat penularan Corona Virus Covid-19.

Koordinasi Sebelum Pembagian

Berangkat dari kepedulian terhadap pribadi-pribadi yang terdampak di negara Indonesia khususnya di kota Yogyakarta ini, pada hari Minggu Paskah sekitar pukul 10.00 WIB diadakan pembagian paket nasi dan masker yang terbuat dari kain oleh Gereja Albertus Agung Jetis kepada masyarakat umum. Paket nasi ini berasal dari donasi salah satu umat Gereja St. Albertus Agung Jetis.

Sejumlah nasi dus dengan total 300 paket dibagikan kepada penduduk RT47 Kelurahan Cokrodiningratan sebanyak 150 paket, dan sisanya 150 paket nasi dibagikan di halaman gereja kepada masyarakat umum dengan menganut sistem drive-thru agar tidak menimbulkan kerumunan massa.

Menuju RT47 Kelurahan Cokrodiningratan

Penyerahan Simbolis Kepada Ketua RT47

Bagi para penerima paket nasi diwajibkan untuk melakukan sanitasi menggunakan hand sanitizer sebelum  masuk ke halaman gereja dengan dibantu oleh beberapa umat yang hadir membantu terlaksananya kegiatan ini.

Wajib Menggunakan Hand Sanitizer

Semua paket nasi tersebut dibagikan hanya dalam waktu sekitar 1 jam saja. Panitia dadakan yang berjumlah sekitar 20 orang bergerak cepat terdiri dari berbagai elemen, yaitu Romo, Bidang Kemasyarakatan dan Tim Pelayanan APP, OMK, semuanya baik tua dan muda bergerak seirama bahu membahu bersama-sama memberikan dukungan bagi masyarakat yang terdampak oleh virus Corona.

Panitia Dadakan

Paskah tahun 2020 ini memang terasa jauh berbeda dengan perayaan di tahun-tahun sebelumnya yang selalu dihiasi oleh kemeriahan perayaan di gereja. Tahun ini kita seakan disadarkan bahwa Paskah tidak selalu tentang perayaan, namun juga fleksibel melakukan perubahan dan terus menjadi perpanjangan kasih Tuhan di saat terjadinya bencana wabah seperti sekarang ini. Sesuai dengan tema Paskah 2020 – Berubah dan Berbuah Berkat.

Kita berdoa dan terus berharap, semoga pandemi ini dapat cepat berlalu dan segalanya dapat pulih kembali seperti sediakala.

Artikel & Foto : Tim Pelayanan Komsos

DOWNLOAD Foto – Foto Kegiatan

Komsos Jetis Goes To Wonosari, Workshop Fotografi, Videografi & Website

Jam menunjukkan waktu pukul 09.30 WIB, kami berangkat dari paroki Jetis bersama-sama berempat orang. Di tengah perjalanan kami menjemput seorang kawan dari Komsos Babarsari.

St. Petrus Kanisius – Paroki Wonosari

Siang ini, sebanyak 35 anggota komunikasi sosial (komsos) Paroki di Daerah Istimewa Yogyakarta mengikuti workshop penulisan web, fotografi, dan videografi, yang diselenggarakan oleh Kevikepan DIY, Minggu (15/03/20). Kegiatan yang dilaksanakan di aula Ignatius Loyola Gereja Petrus Kanisius, Wonosari, Gunungkidul ini berlangsung dengan penuh keakraban.

Pemateri workshop, adalah Frans untuk pembuatan Web, Ery untuk materi fotografi, dan Sunu untuk materi videografi.

Dalam materi penulisan web, Frans menekankan fungsi web sebagai media pewartaan karya gereja. Sementara untuk kelas fotografi, Eri menekankan bagaimana membuat foto yang menarik dan etika peliputan. Sementara Sunu mengajarkan teknik- teknik pengambilan gambar via video dan editing singkat menggunakan telepon pintar (smartphone).

Frans – Website

 

Eri – Fotografi

 

Sunu – Videografi

Bapak Agustinus Suseno selaku wakil ketua Komsos Kevikepan DIY mengaku senang bahwa Komsos DIY bisa hadir mengisi pelatihan. Dan berharap pelatihan seperti ini bisa terus berlanjut ” jika ada yang membutuhkan pelatihan bisa menghubungi Kevikepan untuk nanti ditindaklanjuti” ujarnya.

Hal yang sama disampaikan oleh salah satu peserta dari Wonosari, yang mengaku waktu yang tersedia sangat singkat. ” Materinya banyak, sayangnya waktu yang tersedia terbatas”, katanya lebih lanjut. Sementara itu, Ibu Sixsy dari paroki Petrus Kanisius – Wonosari mengaku senang dengan acara ini dan berharap dari pelatihan ini bisa mewujudkan keinginan hadirnya website milik paroki Petrus Kanisius.

Ibu Sixsy – Paroki Wonosari

Dari pelatihan singkat ini diharapkan para peserta dapat segera praktik melalui komunitas Komsos di Parokinya masing-masing. Kegiatan yang berlangsung dari jam 11.30 sampai 15.00 WIB tersebut diakhiri dengan foto bersama. Turut hadir dalam acara ini Romo Lukas Ivan Sanjaya Pr, selaku Ketua Komsos Kevikepan DIY.

 

Penulis : Wempi Gunarto

Foto : Vinsensius & Christina

DOWNLOAD FOTO-FOTO DISINI

Ingin Nikah Beda Agama di Gereja Katolik? Ini Syaratnya

nikah beda agama

Nikah beda agama dalam Katolik – Dengan semakin beragamnya masyarakat dunia saat ini, berdampak pada kompleksitas persoalan pernikahan. Tak jarang kita melihat, pacaran anak muda yang telah berlangsung lama berujung pada putusnya hubungan mana kala hendak berlanjut ke jenjang pernikahan, karena persoalan beda agama. Hal ini mengemuka dalam diskusi Lincak Alma yang digelar OMK Palma Jetis, Yogyakarta (08/03/2020).

Lincak Alma besutan OMK Palma Jetis ini sedari awal memang sudah terlihat spesial. Mulai dari topik yang diangkat yaitu Nikah Beda Agama, sampai dengan mendatangkan narasumber yang kompeten. Maka tidak heran jika acara ini diramaikan oleh sekitar 70-an orang yang bahkan tidak hanya beragama Katolik, namun dari berbagai lini kepercayaan. Kemungkinan besar karena menariknya tema yang diambil tersebut.

Romo Agustinus Tri Edi Warsono, Pr

Romo Agustinus Tri Edi Warsono, Pr, selaku pembicara, menegaskan pernikahan atau perkawinan dalam Gereja Katolik diatur dalam Kitab Hukum Kanonik (KHK) yang menjadi pegangan pelaksanaan pernikahan. Romo Tri menambahkan, menurut Gereja Katolik, pernikahan idealnya dilakukan oleh pasangan yang sama-sama sudah dibaptis secara Katolik (seiman) melalui sakramen pernikahan. Namun, dalam kenyataan sosial di tengah masyarakat yang kian beragam, pernikahan bisa saja dilakukan  antara orang Katolik dengan orang non-Katolik, yang dalam khasanah Gereja Katolik disebut sebagai pernikahan campur.

Nikah Beda Agama Menurut Agama Katolik

Pernikahan campur dibedakan menjadi dua, yakni pernikahan beda agama dan pernikahan beda gereja. Dalam hal pernikahan beda gereja, yakni antara orang Katolik dan anggota gereja lain, dianggap sah jika kedua pasangan telah dibaptis Trinitarian (dibaptis dalam nama Bapa, Putera, dan Roh Kudus). Untuk pernikahannya dinamakan pemberkatan pernikahan, diperlukan ijin dari otoritas gereja yang berwenang. Dalam hal ini uskup atau yang ditunjuk olehnya. Pernikahan beda gereja sah jika dilakukan di hadapan imam dan dua saksi.

Sedangkan pernikahan beda agama, yakni antara orang Katolik dan non-Katolik/Kristen, termasuk mereka yang mengikuti aliran kepercayaan dan juga yang menyatakan tidak beragama, dimungkinkan adanya dispensasi setelah memenuhi beberapa persyaratan.

Sesi tanya jawab dengan peserta

Persyaratan Dispensasi Nikah Dalam Katolik

Pernikahan beda agama bisa dilakukan setelah ada dispensasi dari romo vikep. Adapun dispensasi diberikan jika terpenuhi syarat-syarat sebagaimana dinyatakan dalam KHK, yakni :

  1. Pihak Katolik menyatakan bersedia menjauhkan bahaya meninggalkan iman serta memberi janji dengan jujur bahwa ia akan berbuat segala sesuatu dengan sekuat tenaga agar semua anaknya dibaptis dan dididik dalam Gereja Katolik
  2. Mengenai janji-janji yang harus dibuat oleh pihak Katolik itu pihak lain hendaknya diberi tahu pada waktunya, sedemikian jelas bahwa ia sungguh sadar akan janji dan kewajiban pihak Katolik.
  3. Kedua pihak hendaknya diberi penjelasan mengenai tujuan-tujuan serta sifat hakiki perkawinan, yang tidak boleh dikecualikan oleh seorang pun dari keduanya.
  4. Pernikahan beda agama dianggap sah jika dilakukan di hadapan romo dan dua orang saksi.

Memahami Nikah Beda Agama Dalam Gereja Katolik

Meski pernikahan campur dimungkinkan dalam Gereja katolik, namun romo Tri Edi mengingatkan pasangan beda agama yang akan menikah untuk memahami makna suci pernikahan. Terutama dalam Gereja Katolik, pernikahan bersifat monogami eksklusif dan tak terceraikan seumur hidup. “Jadi kalau masih pacaran beda agama ya silahkan, tapi kalau sudah memutuskan untuk menikah maka harus dipahami makna hakiki pernikahan”, ujar  romo yang menjabat sebagai Tribunal Keuskupan Agung Semarang ini.

Penyerahan Buah Tangan

Acara diakhiri sekitar pukul 21.30 WIB setelah sebelumnya berfoto dan berdoa bersama. Ikuti Lincak Alma Edisi selanjutnya yang lebih seru ya ! 😉

Foto-Foto Lincak Alma Edisi Maret 2020 :

Download disini

.

Baca Juga: https://staging2.christina.my.id/doa-koronka-seruan-kepada-kerahiman-ilahi/

.

.

Reporter : Paulina Dita

Artikel : Wempi Gunarto

Fotografer : Silvester Angie

Editor : Frans

.

.

Pewartaan Yang Kekinian, Komsos Jetis Goes to Jambore #1 DIY

Hujan rintik-rintik di sore hari tanggal 15 Februari 2020 ini menemani sekitar 80 orang di Aula Girli Wisma Salam, Muntilan. Tempat tersebut terlihat ramai dengan para anggota Komsos dari berbagai kalangan usia. Dominasi peserta tentu saja dari teman-teman yang berusia muda. Selain awam, acara ini diikuti pula oleh 3 orang suster, 2 diantaranya yaitu Suster Pasifica dan Suster Rita. Selama 2 hari (15-16 Februari 2020) Komsos Kevikepan DIY mengadakan temu anggota Komsos se-kevikepan DIY dalam kegiatan Jambore Komsos dengan tema “Bertransformasi Dalam Pewartaan.”

Para peserta menjalin jejaring dan persahabatan diantara 39 paroki se-Kevikepan DIY. Hari pertama acara diisi dengan ice breaking yang cukup seru, kemudian disusul dengan sambutan oleh Franciskus dari Komsos Paroki Jetis selaku ketua pelaksana Jambore Komsos #1 DIY. Selanjutnya diisi sambutan oleh Bp. Agustinus Suseno selaku wakil ketua Komsos Kevikepan DIY. Dalam sambutannya beliau menyampaikan bahwa Komsos dari berbagai paroki harus bersedia untuk berjejaring dan menambah skill timnya masing-masing melalui pelatihan-pelatihan yang diadakan oleh Komsos Kevikepan DIY.

Dalam kesempatan selanjutnya Romo Yustinus Slamet Wito Karyono,Pr menyapa para peserta Jambore melalui rekaman video dan mengajak seluruh peserta untuk melakukan pewartaan iman dengan memanfaatkan teknologi informasi seraya memperhatikan 3 poin penting yang termuat dalam pedoman pastoral regio jawa, salah satu diantaranya yaitu dalam memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk pewartaan. Para SDM Komsos perlu memperhatikan nilai-nilai Kristiani dan prinsip pewartaan, serta agar lebih efektif dalam menjangkau lebih banyak umat di dalam mewartakan maka Komsos seluruh paroki di Kevikepan DIY mau tidak mau harus berjejaring.

Dinamika selanjutnya yaitu para peserta Jambore dibekali dengan materi jati diri, serta perkembangan kinerja Komsos Keuskupan Agung Semarang oleh Bp. FX Wasdi atau yang lazim dikenal dengan abah Encep didampingi Mas Sunbhio Pratama. Dalam sesi ini peserta saling berinteraksi dan mengajukan pertanyaan maupun berkomentar mengenai dinamika Tim Komsos mereka di masing- masing paroki.

Acara pada malam pertama ditutup dengan sharing bersama dalam kelompok-kelompok kecil mengenai dinamika masing-masing peserta maupun tim Komsos di paroki-paroki.

Setelah sarapan pagi, sekitar pukul 07.30 kegiatan outbound dimulai. Ada 4 pos yang harus dilalui keenam kelompok outbound. Pos-pos tersebut diantaranya yaitu karpet terbang dan pipe ball yang mengajarkan bahwa dalam mewartakan setiap Tim Komsos paroki tentu perlu berproses dan melakukannya selangkah demi selangkah serta juga perlu bekerjasama dengan banyak pihak.

Pada kesempatan ini ELTI Jogja dan Penerbit Pohon Cahaya mensponsori sebagian alat tulis pada acara Jambore Komsos sehingga dapat berjalan lancar. Sejumlah 5 buah buku pun diberikan sebagai doorprize oleh Pohon Cahaya menjadi milik peserta dengan menjawab beberapa pertanyaan seputar acara selama 2 hari ini.

Seluruh kegiatan Jambore Komsos di hari terakhir dibungkus dengan perayaan ekaristi bersama di Aula Batu Wisma Salam. Sebagai evaluasi akhir, Romo Lukas Ivan Sanjaya, Pr selaku Ketua Komsos Kevikepan DIY menyampaikan beberapa hal :

  1. Alat bukan merupakan harga mutlak bagi Komsos di setiap paroki untuk berkarya, namun konten yang kreatif lebih penting dari semua itu. Kita bisa memanfaatkan smartphone masing-masing untuk mewartakan.
  2. Para tim Komsos di paroki-paroki tidak perlu terpaku pada konten dalam bentuk video yang memang sedang marak dan populer saat ini. Konten dalam bentuk foto dan caption pun bisa menjadi media pewartaan yang memadai.
  3. Komsos rayon kota sulit untuk dikumpulkan dalam acara-acara yang diadakan oleh Kevikepan, namun Romo juga menyampaikan rasa syukur bahwa ada tim Komsos paroki yang dipikir tidak ada ternyata bisa mengirimkan 2 peserta yaitu salah satunya paroki Kidul Loji.
  4. Komsos Kevikepan DIY akan mengadakan pelatihan di Rayon Gunung Kidul bertempat di Paroki Wonosari Kota pada tanggal 15 Maret 2020 mendatang. Seluruh Tim Komsos di semua rayon diundang untuk menghadirinya.
  5. Double Tim Komsos dalam satu paroki (Komsos dan Tim Multimedia) menjadi penghalang bagi salah satu tim untuk berkarya, namun jika bisa bersinergi dan menghasilkan karya maka Romo mengacungi jempol karena bisa menjadi contoh baik bagi banyak paroki.
  6. Regenerasi Komsos di tiap paroki perlu dilakukan, dan jika menemui kesulitan silahkan belajar kepada paroki-paroki lain yang berhasil melakukan regenerasi.

Wakil ketua Komsos Kevikepan DIY Bp. Agustinus Suseno menambahkan 2 pesan penting untuk teman-teman peserta Jambore, yaitu :

  1. Tidak memiliki alat yang memadai bukan menjadi alasan untuk tidak berkarya, banyak jalan menuju Roma. Anda bisa meminjam terlebih dahulu ke teman, tentu bertanggung jawab dalam penggunaannya.
  2. Tidak disetujui oleh dewan paroki karena belum memiliki karya sudah menjadi hal yang lumrah, namun juga bukan alasan untuk maju dan berkarya serta menjadi pewarta.

Romo Ivan juga berpesan kepada peserta untuk tetap menjaga sinergi dan jejaring meski nanti Kevikepan DIY akan dimekarkan menjadi 2, yaitu Kevikepan DIY Timur dan Kevikepan DIY Barat pada bulan Oktober 2020 mendatang. Tepat pukul 15.00 seluruh peserta kembali ke rumah masing-masing dengan mengantongi sertifikat kepesertaan Jambore Komsos #1 DIY. Maju terus Komsos Kevikepan DIY ! Salam KOMSOS !

DOWNLOAD FOTO KEGIATAN DISINI

Penulis : Franciskus

Foto : Komsos DIY

Inilah Wajah Para Pemenang Festival Film Komsos #1

Sore hari yang agak dingin, mendung menggantung di langit, gerimis pun terlihat sudah turun rintik-rintik. Kami perlahan-lahan berangkat menuju Wisma Domus Pacis Puren, Pringwulung, Condongcatur, Sleman, DI Yogyakarta. Hari ini hari besar bagi kami Komsos Paroki Jetis, para pemenang Festival Film Komsos (FESFIKOM) yang pertama akan diumumkan pada malam hari ini.

Komsos Keuskupan Agung Semarang di tahun 2019 menyelenggarakan Festival Film Komsos (FESFIKOM) yang pertama. Fesfikom diselenggarakan dengan tujuan untuk mengajak umat menghidupi ARDAS KAS dan RIKAS melalui karya audio visual dengan mengangkat tema“Manusia Biasa yang Berdampak Luar Biasa.

Sebagai sasaran narasumber Fesfikom adalah orang Katolik/Komunitas Katolik yang mempunyai karya untuk mewujudkan kesejahteraan umum secara lintas suku, agama, ras, dan antar golongan di Keuskupan Agung Semarang.

Pengumuman pemenang diselenggarakan di kantor Komsos KAS, Wisma Domus Pacis Puren, Pringwulung, Condongcatur, Sleman, DI Yogyakarta pada Sabtu malam (30/11/2019). Fesfikom yang pertama ini total diikuti oleh 11 peserta dari berbagai paroki di lingkup Keuskupan Agung Semarang.

Dalam sambutannya, romo Yustinus Slamet Witokaryono, Pr menyampaikan, dengan festival film ini, dapat mengangkat orang biasa menjadi luar biasa.  Seringkali keterlibatan dan perjuangan seseorang dalam memajukan sebuah komunitas, tidaklah bisa terlihat oleh banyak orang karena tidak ada yang menyebarluaskan. Banyak umat Katolik yang menjadi tokoh di lingkungan, wilayah atau paroki, juga menjadi tokoh penggerak di tengah masyarakat.

Namun kisah mereka tidak banyak yang mengetahuinya, untuk itu KOMSOS KAS mengadakan festival film dokumenter yang diharapkan dapat mengangkat kisah para inspirator tersebut sehingga mampu menginpirasi lebih banyak orang untuk mewujudkan kesejahteraan umum dalam masyarakat multikultural.

Romo Wito berharap kegiatan dalam membuat film dokumenter yang mengangkat tokoh-tokoh inspiratif tersebut tidak hanya berhenti pada festival film saja, namun dapat berkelanjutan untuk mengangkat narasi-narasi yang baik melalui media digital.

Setelah sambutan romo Wito, dilanjutkan dengan pemaparan singkat programasi dari setiap Komsos Kevikepan. Kembali romo Wito berharap, dalam programasi setiap kevikepan memikirkan kaderisasi dan SDM di masing-masing paroki, serta mengembangkan jejaring di segala sektor baik di tingkat paroki, kevikepan maupun keuskupan. Jejaring yang dikembangkan berdasarkan kesadaran yang sama, keprihatinan yang sama, bergerak bersama dan kata kuncinya adalah “INI URUSANKU”.

Tibalah saat yang dinanti-nanti oleh para peserta yang hadir, yaitu pengumuman pemenang, sebelumnya mas Borgia Edgar selaku panitia menyampaikan bahwa dalam lomba ini ada penilaian kriteria utama yaitu substansial dan tehnik, juga terdapat 4 (empat) kriteria penilaian, yaitu kesesuaian tema, originalitas cerita, kreatifitas dan sinematografi.

Berikut ini daftar para pemenang Festival Film Komsos 2019 yang pertama :

  1. Juara 1 dengan judul “Perjuangan Perempuan Tani – Karya @production Gereja Mater Dei Lampersari Semarang
  2. Juara 2 dengan judul “Salam Balungan Kere”, karya Komsos paroki Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran
  3. Juara 3 dengan judul “Karya dari Karyanya”, karya OMK Sylvester paroki Santa Perawan Maria Bunda Kristus, Wedi
  4. Juara 4 kategori Film Favorit Dewan Juri dengan judul “Memayu”, karya Komsos paroki Santa Perawan Maria Ratu Rosario Suci Randusari Semarang
  5. Juara 5 jategori Sinematografi terbaik , dengan judul “Salam Balungan Kere”, karya Komsos paroki Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran
  6. Juara 6 kategori Narasumber Inspiratif, dengan judul “Noviana Diprayanti, Kisah Muda Kaum Difabel”, karya Komsos paroki Petrus Krisologus Bukit Semarang Baru

Para Pemenang Fesfikom #1 (urutan posisi dari kiri ke kanan)

The Fruits of Hope Karya KOMSOS Paroki St. Albertus Agung Jetis (Fesfikom #1)

Film The Fruits of Hope merupakan film pertama yang dibuat oleh Komsos Paroki Jetis. Dengan genre dokumenter, film ini juga diikutsertakan dalam Festival Film Komsos #1 yang diadakan oleh Komsos Keuskupan Agung Semarang pada tanggal 30 September 2019 yang lalu. Besar harapan kami Komsos Paroki Jetis agar umat dan dewan pastoral paroki bekerjasama bahu membahu untuk memajukan gereja kita semua. Berkah Dalem.

Tonton FILM KAMI DISINI

Kami Komsos Paroki Jetis belum bisa mencicipi rasanya menjadi pemenang di Fesfikom #1 ini, namun kami memiliki cita-cita dan semangat yang besar untuk terus berkarya. Hati-hati para pemenang, kami mengincar posisi Anda di kesempatan berikutnya ! Salam Komsos ! 🙂

Penulis & Foto : Agustinus Suseno

Editor : Frans

Workshop Membuat Video Profesional Dengan Smartphone

Keterampilan dan keahlian Komisi Komsos dalam tugasnya mewartakan kabar di masing-masing paroki perlu selalu diasah serta ditingkatkan, namun tidak selalu bergantung kepada alat yang dimilikinya semisal seperti kamera.  Tim Komsos dituntut bisa menjalankan tugasnya dengan alat yang paling minim sekalipun, salah satunya dengan menggunakan smartphone yang selalu dibawa kemana-mana.

 

Pelatihan ini juga bertujuan untuk mengajak penggiat Komsos menggunakan smartphone sebagai media pewartaan, kemudian menularkannya kepada seluruh umat di masing-masing paroki, sehingga dalam skala yang lebih luas umat di liingkungan juga dapat menjadikan smartphone sebagai media untuk mewartakan.

Karena itu Komisi Komunikasi dan Sosial (Komsos) Kevikepan DI Yogyakarta mengadakan pelatihan pembuatan dan editing video dengan menggunakan smartphone.  Kali ini pelatihan diselenggarakan di gereja St. Petrus & Paulus, Minomartani. Bertindak sebagai pembawa materi yaitu mas Erman dari Komsos KAS.  Pelatihan yang diadakan pada hari Minggu, 24 November 2019 dihadiri oleh kurang lebih 40 peserta dari berbagai kalangan seperti anggota, penggiat Komsos, suster serta dihadiri juga oleh warga di sekitar gereja Minomartani.

Acara diawali dengan sambutan oleh Romo Antonius Gunardi, MSF. Beliau menyambut baik kehadiran para penggiat Komsos di paroki Minomartani, Romo Anton berharap kegiatan pelatihan ini dapat menumbuhkan semangat bagi Komsos Paroki Minomartani yang sedang bangkit lagi.

Kemudian menuju acara berikutnya adalah pelatihan, mas Erman pertama-tama mengawali pelatihan dengan memberikan aplikasi editing video kepada setiap peserta.  Setelahnya diberikan penjelasan singkat mengenai aplikasi editing video tersebut, dan setiap peserta pelatihan dipersilahkan untuk mengambil gambar video di seputar gereja Minomartani.

Para penggiat Komsos, baik tua dan muda dengan penuh semangat mengeksplore spot-spot yang ada di sekitar gereja.  Setelah mengambil gambar para peserta kembali memasuki ruangan lantai tiga tempat pelatihan diadakan, disini mas Erman kemudian memberikan penjelasan lebih lanjut bagaimana melakukan editing video dengan aplikasi yang telah diberikan.

Penjelasan demi penjelasan di berikan dengan gamblang, jika ada yang bertanya di tengah-tengah penjelasan dipersilahkan, agar tidak tertinggal.  Hasil editing video masing-masing peserta kemudian ditayangkan untuk dilihat dan dievaluasi bersama-sama. Walapun masih dalam tahap belajar, namun hasil editing video yang diperlihatkan cukup memuaskan, hanya perlu pembiasaan mempergunakannya agar semakin baik dalam mengedit video.

Akhirnya acara pelatihan ditutup dengan sambutan dari Ketua Komsos Kevikepan DIY, Romo Lukas Ivan Sanjaya, Pr, yang juga menyampaikan bahwa pada tanggal 15-16 Februari 2020 akan diselenggarakan Jambore Komsos Kevikepan DIY di Wisma Salam.  Jambore ini bertujuan untuk membekali para penggiat Komsos yang ada di paroki agar semakin memahami tugas dan kewajibannya sebagai Komsos.  Jambore dilaksanakan juga sebagai persiapan menuju pemekaran kevikepan DIY menjadi 2 (dua) kevikepan.

Galeri foto klik disini

 

Artikel Oleh : Agustinus Suseno

Foto Oleh : Monica Asih & Agustinus Suseno

Editor : Frans

Kamu Harus Memberi Mereka Makan, Peringatan Hari Paroki Ke-54 St. Albertus Agung Jetis

Sebagai puncak Hari Ulang Tahun ke-54 Paroki St. Albertus Agung Jetis – Yogyakarta, diadakanlah ekaristi untuk memperingati hari ulang tahun paroki pada hari Minggu (17/11/2019) yang dipimpin secara konselebran Romo Vikep Kevikepan DIY, Romo Adrianus Maradiyo Pr. Bersama dengan romo Paroki St. Albertus Agung Jetis, Romo Vincentius Suparman Pr. serta Romo Ambrosius Heri Krismawanto Pr.

Doa bersama sebelum perayaan ekaristi

Panitia Menyambut Kedatangan Umat

Para Petugas Vandel Paroki

Sebelumnya panitia telah menyelenggarakan berbagai macam kegiatan yang sudah berjalan dengan baik, diantaranya Workshop Photocaption yang digagas oleh panitia bersama dengan tim kerja Komsos paroki. Kegiatan ini diadakan untuk mengajak remaja millenial supaya ikut bagian dalam mewartakan sukacita, kabar gembira dan injil dengan menggunakan media sosial yang dimilikinya.

Baca Juga : https://staging2.christina.my.id/satu-foto-sejuta-makna-workshop-photo-caption-2019/

Misdinar Paroki Jetis (PAPIXTO)

Petugas Perayaan Ekaristi

Selain itu juga diselenggarakan festival dolanan tradisional, supaya anak-anak dan keluarga tidak disibukkan melulu oleh gadget dan game online, sehingga mereka dapat mengenal pula berbagai jenis permainan tradisional. Untuk sekedar sejenak melupakan dunia online, berbaur, bermain bersama serta bertegur sapa dengan teman-teman di dalam permainan tradisional.

Tidak ketinggalan sebagai salah satu wujud syukur, diadakan acara kenduri, dengan tujuan menyapa masyarakat yang bertempat tinggal di sekitar lingkungan gereja serta mengajak mereka untuk ikut kenduri bersama, karena gereja hidup dan berada di tengah-tengah masyarakat, sekaligus untuk menjalin lintas iman dengan saudara kita yang beragama lain.

Baca Juga : https://staging2.christina.my.id/kenduri-menjelang-hari-paroki/

Dalam homilinya, Romo Adrianus Maradiyo Pr. menyambut baik bentuk-bentuk kegiatan yang telah dilaksanakan dalam rangka memeringati HUT Paroki St. Albertus Agung Jetis yang ke-54. Romo Maradiyo mengatakan,

”Umat Paroki Jetis di usianya yang ke-54 semakin matang dan dewasa terlibat dalam kehidupan di gereja maupun di tengah masyarakat.  Salah satunya adalah mulai gumregah terlibat dalam kehidupan menggereja ikut serta kerja bakti membersihkan lingkungan gereja.”

Usia paroki 54 tahun merupakan usia yang matang. Umat perlu dilibatkan, bukan hanya sebagian orang. Hal ini dapat dilihat dari pesta yang melibatkan seluruh umat di paroki. Petugas koor diambil dari 4 wilayah dan 20 lingkungan.

Diharapkan tema hari paroki yang diambil sungguh menggerakkan seluruh umat, kerelaan berbagi apa yang kita miliki akan tumbuh ketika kita peduli satu sama lain terutama kepada orang-orang yang sungguh membutuhkan bantuan. Kerelaan untuk berbagi  diyakini akan memberikan dampak tidak akan terjadi kelaparan. Wujud konkrit kepedulian kita sebagai umat. Ketika para murid menghadapi tantangan 5000 orang, Tuhan Yesus berkata, kamu harus memberi mereka makan.

Bagaimana kepedulian dibangun? Romo Maradiyo berucap, saya berikan sebuah contoh cerita.

Ada seorang pemuda yang masuk ke sebuah kampung, mengetuk pintu rumah seorang janda.

Pemuda : Ibu tolong saya, saya sudah 3 hari tidak makan. Saya kelaparan.

Ibu : Anak muda maaf sekali disini tidak ada makanan.

Ibu jangan khawatir, saya membawa tas kresek yang berisi sebuah batu ajaib. Saya hanya minta kepada ibu untuk menyediakan Tungku, Api dan, Dandang.

Saya akan masak dengan batu ajaib yang saya miliki ini. Silahkan ibu memberikan kabar sukacita kepada warga di kampung ini untuk datang bersama-sama menikmati masakan yang akan saya masak ini.

Disaat ibu tersebut keliling dari rumah ke rumah kemudian pemuda ini mulai menyalakan api dalam tungku dan memasak air yang dimasukkan ke dalam panci dan batu ajaib tersebut dimasukkan sembari terus diaduk-aduk sambil sesekali diicipi.

Pemuda tersebut kemudian berkata, Bapak ibu dan saudara-saudari terkasih masakan ini akan semakin enak kalau ditambah sayur. Siapa yang di rumahnya ada sayur silahkan dibawa kemari.

Lalu penduduk kampung itu mengatakan, saya punya pete, saya punya kacang panjang, saya punya wortel. Kemudian mereka membawanya ke rumah janda tersebut. Dimasukkan ke dalam panci besar itu dan mulai diaduk-aduk lagi.

Pemuda itu pun kembali mencicipi masakan tersebut. Ia berkata kembali, masakan ini sudah lezat, namun akan lebih lezat lagi kalau ditambah daging.

Kemudian ada yang mengatakan, saya punya ayam, saya punya daging kambing, dan lain-lain. Lalu sebagian dari mereka pulang ke rumahnya dan kembali dengan membawa daging-daging tersebut. Dimasukkan ke dalam panci dan diaduk kembali.

Setelah dicicipi, ia pun berkata. Bapak, ibu dan saudara-saudari masakan ini sudah siap untuk disantap, mari kita makan bersama-sama. Tetapi maaf disini tidak ada piring, silahkan bapak dan ibu pulang dahulu untuk mengambil piring dan jangan lupa diisi dengan buah dan nasi.

Akhirnya semua dijadikan satu dan mereka pun mulai makan sampai kenyang. Mereka mengatakan, baru kali ini kita makan bersama dan begitu menggembirakan. Siapa yang mempunyai ide ini?

Janda tersebut kemudian berkata, ada seorang pemuda yang mempunyai ide ini. Mana orangnya? Tanya salah seorang penduduk kampung. Pemuda itu dicari kemana-mana tetapi tidak ketemu. Hanya pemuda itu meninggalkan sebuah surat berbunyi :

Bapak, ibu dan saudara-saudari terkasih. Mohon maaf saya tidak bisa ikut makan bersama-sama tetapi saya meninggalkan batu ajaib itu untuk kampung ini. Silahkan kalau ingin selalu bergembira, masak batu ajaib ini bersama-sama seperti yang saya lakukan. Salam.

Lalu salah satu dari mereka bertanya kepada janda tersebut, siapa nama pemuda itu? Pergi ke mana dia?

Lalu mereka mendapatkan sebuah jawaban yang mencengangkan, pemuda itu adalah umat Paroki Jetis.. 😀

Pemotongan Tumpeng Sebagai Simbol Peringatan Hari Paroki Ke-54

Selesai mengikuti perayaan ekaristi, umat Paroki Jetis diajak untuk makan bersama nasi kuning yang telah disediakan oleh setiap lingkungan dilanjutkan dengan “rayahan” dua buah gunungan sayur dan buah di halaman parkir gereja.

Makan Bersama

Para Suster Ikut Merayakan HUT Paroki Jetis Ke-54

Rayahan Gunungan Sayur & Buah

Bersamaan pula dengan Hari Orang Miskin Sedunia yang akan diperingati pada tanggal 19 November mendatang, panitia telah mengundang umat sederhana untuk berwawan hati bersama Romo Vikep dan Romo Paroki, juga diberikan sembako sebagai wujud kepedulian gereja terhadap umat sederhana.

Selamat Ulang Tahun Paroki St Albertus Agung Jetis Yogyakarta yang ke-54 !

Umat Paroki Jetis

Wawan Hati Dengan Romo Vikep

Galeri Foto Klik Disini

 

Artikel oleh : Agustinus Suseno & Frans

Foto oleh : Panitia Hari Paroki & Tim Komsos Jetis

You cannot copy content of this page