Panduan ADVEN 2022, Berjalan Bersama: Semakin KATOLIK, Semakin APOSTOLIK

panduan adven 2022

Panduan Adven 2022 – Masa Adven senantiasa mengajak kita mempersiapkan dan menantikan kedatangan Kristus. Perayaan Adven 2022 saat ini kita rayakan dalam suasana pemulihan atas Pandemi COVID 19 dan masa untuk bergiat kembali membangun segala harapan di tengah keterpurukan yang telah terjadi. Pengalaman tersebut, hendaknya membawa hidup beriman kita semakin tangguh dan berdaya bahkan semakin kuat dalam pengharapan.

Kita, sebagai umat Keuskupan Agung Semarang yang saat ini berdinamika dalam pemulihan Pandemi COVID 19 ini, diajak tetap setia mewujudkan cita-cita RIKAS dan menyambut semangat Sinode dengan iman yang semakin partisipatif dan transformatif. Harapannya, iman kita tidak semakin terpuruk, namun semakin berharap dan pulih untuk semakin menjadi Katolik dan apostolik atau terlibat dalam karya kerasulan.

Keuskupan Agung Semarang pada tahun 2022 masih melanjutkan mengemban semangat Gereja yang diwarnai dengan pelaksanaan lima bidang garapan yaitu kekatolikan, kerasulan, kebangsaan, kerjasama dan sinergi serta profesionalitas. Pada prinsipnya, kita sebagai warga Keuskupan Agung Semarang (KAS) mengemban tugas pemulihan hidup beriman dan mengembangkan visi agar Gereja semakin mampu menampakkan maknanya di tengah bangsa dan masyarakat.

Melalui Pendalaman Adven 2022 ini, Komisi Kateketik Keuskupan Agung Semarang mengajak menggemakan Sinode dalam terang pemulihan atas COVID 19 dan pelaksanaan RIKAS dalam segala gerak menggereja dan beriman umat. Komisi Kateketik KAS melalui Adven 2022 ingin mengajak memaknai “berjalan bersama” bergiat melaksanakan RIKAS dan ambil bagian agar tumbuh sebagai Gereja sinodal. Komisi Kateketik Keuskupan Agung Semarang mengajak semua umat Katolik Keuskupan Agung Semarang mengisi Adventus (masa penantian) ini dengan merefleksikan sinodalitas dalam menghayati iman di masa pemulihan ini.

Umat diajak melihat kembali renungan masa Adven dalam sudut pandang Sinode yang menunjuk pada Gereja yang berkumpul untuk “berjalan bersama” semakin mewartakan iman. Gereja adalah semua umat Allah yang berkumpul bersama karena rahmat untuk menjadi tanda dan sarana keselamatan bagi semua orang (bdk. Lumen Gentium, 9). Gereja adalah umat yang berziarah menuju ‘langit yang baru dan bumi yang baru’ (Wahyu 21:1). Maka, untuk memperdalam sinodalitas dalam menghayati iman di masa pemulihan ini akan diolah melalui empat (4) pertemuan sebagai berikut:

1. Panduan Pertemuan Adven I: Berjalan Bersama menyongsong kedatangan Tuhan.

Pada pertemuan Adven I ini, umat diajak untuk berjaga-jaga, tanggap, kuat dan senantiasa berharap di masa pemulihan COVID 19. Umat diajak menyadari gerak sinodalitas dalam konteks memahami mengenai harapan dan kekuatan di kehidupan zaman sekarang yang penuh tantangan dan resiko ini. Umat diajak menimba kekuatan harapan di masa pemulihan hidup beriman yang semakin berat namun menantang. Bacaan yang diperdalam sebagai peneguhan dan renungan dari Mat 24: 37-44 mengenai “Kedatangan Anak Manusia” yang tiba-tiba dan tidak dapat diduga (Adven Eskatologis).

2. Pertemuan Adven II: Berjalan Bersama membangun pertobatan.

Pada pertemuan Adven II ini, umat diajak pada suasana dan dorongan rohani pertobatan dan pemulihan atas segala kekurangan dan keterpurukan yang pernah terjadi. Pada Adven II ini umat diajak untuk memperdalam berbagai pengalaman sinodalitas dengan pertobatan dan semangat berbenah diri agar mampu bersama-sama melakukan upaya pemulihan hidup beriman yang lebih baik. Bacaan untuk pertemuan Adven II ini diambil dari Mat 3: 1-12 mengenai Kisah Yohanes Pembaptis yang mempersiapkan jalan bagi Mesias dengan menyerukan pertobatan.

3. Pertemuan Adven III: Berjalan Bersama dengan Sukacita.

Pada pertemuan Adven III, setelah memperdalam semangat pertobatan dan pemulihan hidup beriman, umat diajak melihat sinodalitas atau semangat “berjalan bersama” dengan sukacita dan komitmen. Pertemuan Adven III ini menjadi refleksi seberapa jauh umat selama ini saling mengenal umat dari keluarga, lingkungan hingga paroki. Seberapa jauh umat mampu berjalan bersama dalam masa pemulihan COVID 19 untuk semakin tangguh dan bertanggungjawab menghidupi semangat kerasulan dengan mendengarkan, berbicara dan saling bertanggungjawab dalam misi. Bacaan diinspirasi dari Mat. 11: 2-11 mengenai komitmen seorang Yohanes Pembabtis yang diutus untuk mempersiapkan sesuatu yang lebih besar daripada dirinya.

4. Pertemuan Adven IV: Berjalan Bersama Melaksanakan Warta Keselamatan.

Pada pertemuan Adven IV, umat diajak memuncaki pertemuan dengan kesadaran akan sinodalitas berkarya dan merasul bersama. Umat dalam pertemuan Adven IV ini diajak semakin meningkatkan pelaksanaan lima bidang garapan yaitu kekatolikan, kerasulan, kebangsaan, kerjasama dan sinergi serta profesionalitas dalam gerak kesadaran “berjalan bersama.” Harapannya, umat semakin menyadari tentang Gereja yang dipanggil, untuk membuat harapan orang-orang semakin pulih dan berkembang, mendorong kepercayaan, untuk membalut luka-luka, untuk menjalin hubungan-hubungan baru dan lebih dalam, untuk belajar dari satu sama lain, membangun jembatan-jembatan, mencerahkan pikiran, menghangatkan hati, dan untuk memulihkan kekuatan ke dalam tangan misi bersama.

Bacaan yang menjadi inspirasi dari pertemuan Adven IV ini adalah Mat 1: 18-24 mengenai daya juang Yusup demi karya dan jalan keselamatan Allah terlaksana. Melalui empat (4) pertemuan ini, kita diharapkan dapat melihat kembali sejauh mana “berjalan bersama” telah dirajut di masa pemulihan Pandemi COVID 19 dalam komitmen kita menjalankan amanat RIKAS. Pertemuan Adven 2022 ini harapannya juga menjadi refleksi kita menantikan Sang Juru Selamat agar kita semua semakin menyadari dan memahami gerak bersama dalam upaya mewujudkan diri menghadirkan peradaban kasih di tengah-tengah masyarakat kita yang sedang berproses untuk pulih kembali dari keterpurukan akibat Pandemi COVID 19 ini.

Berkah Dalem.
Rm. Stepanus Istoto Raharjo, Pr.
Ketua Umum Komkat KAS

.

>> Download Panduan Adven 2022 Disini <<

>> Download Panduan Adven B. Jawa 2022 Disini <<

>> Download Panduan Adven Kategorial PIA/PIR 2022 Disini <<

.

.

Panduan Peraturan Pantang dan Puasa Prapaskah 2022

PERATURAN PUASA DAN PANTANG GEREJA KATOLIK TAHUN 2022

Mengacu pada Ketentuan Pastoral Keuskupan Regio Jawa (KPKRJ) Tahun 2016 pasal 138 no. 2.b dalam kaitannya dengan kanon 1249-1253 KHK 1983 tentang hari tobat, peraturan puasa dan pantang, ditetapkan sebagai berikut:

  1. Hari puasa tahun 2022 ini dilangsungkan pada hari Rabu Abu tanggal 2 Maret 2022 dan Jumat Agung tanggal 15 April 2022. Hari pantang dilangsungkan pada hari Rabu Abu dan tujuh Jumat selama masa Prapaska sampai dengan Jumat Agung.
  2. Yang dimaksud dengan berpuasa adalah makan hanya sekali saja dalam sehari pada hari Rabu Abu dan hari Jumat Sengsara dan Wafat Tuhan. Umat beriman yang wajib berpuasa adalah yang berumur antara delapan belas (18) tahun sampai dengan awal tahun keenampuluh (60).
  3. Yang dimaksud dengan berpantang adalah tidak makan daging atau makanan lain yang disukai pada hari Rabu Abu dan tujuh Jumat selama masa Prapaska sampai dengan Jumat Agung. Namun sesuai dengan tradisi Gereja universal, berpantang ini dapat dilakukan juga setiap hari Jumat sepanjang tahun, kecuali hari Jumat itu merupakan hari pesta wajib. Umat beriman yang wajib berpantang adalah yang sudah genap berumur empat belas (14) tahun.

Karena peraturan puasa dan pantang tersebut cukup ringan, serta agar setiap pribadi dan komunitas dapat memanfaatkan 40 hari masa Prapaskah sebagai kesempatan istimewa untuk membina pertobatan dengan tobat dan matiraga, kami anjurkan beberapa hal berikut:

  1. Masing-masing pribadi, keluarga, dan komunitas mencari wujud matiraga (puasa dan pantang) yang sesuai dengan jenjang usia.
  2. Pada hari pantang dan/atau hari-hari lain yang ditentukan, setiap keluarga/komunitas dapat berpantang makan nasi atau menggantinya dengan bahan makanan pokok lokal dengan satu macam lauk (sebagaimana telah menjadi gerakan di beberapa paroki atau komunitas selama masa Prapaska dan peringatan Hari Pangan Sedunia).
  3. Selama empat puluh (40) hari dalam masa Prapaskah, secara pribadi atau secara bersama dalam keluarga atau komunitas biara/pastoran/seminari memilih wujud pertobatan dan silih yang lebih berdaya ubah.
  4. Setiap pribadi, keluarga, atau komunitas dapat mewujudkan karya amal kasih bagi mereka yang membutuhkan.
  5. Setiap pribadi, keluarga, atau komunitas dapat melatih diri lebih tekun dalam olah rohani, antara lain melalui ketekunan membaca dan merenungkan Kitab Suci, mengikuti renungan APP, rekoleksi/retret, latihan rohani, ibadat jalan salib, pengakuan dosa, meditasi, dan adorasi dengan tetap mengindahkan protokol kesehatan di masa pandemi covid-19.

.

Tema APP tahun 2022 ini adalah:

“Tinggal dalam Kristus, Berbelarasa dan Berpengharapan” sebagaimana diuraikan dalam Buku Renungan Bersama APP KAS 2022 yang diterbitkan oleh Panitia APP Keuskupan Agung Semarang.

.

Sumber: SG Prapaskah 2022

.

.

Panduan APP 2022, Tinggal Dalam Kristus, Berbelarasa dan Berpengharapan

panduan app 2022

Panduan APP 2022, Tinggal Dalam Kristus, Berbelarasa dan Berpengharapan – Syukur kepada Allah kita Kembali diperkenankan memasuki masa Prapaskah, untuk secara khusus mempersiapkan diri merayakan puncak karya keselamatan Tuhan dalam perayaan Paskah.

Sekitar 2 tahun terakhir ini kita hidup di tengah Pandemi Covid-19, yang dampaknya mungkin masih kita rasakan hingga saat ini.

Situasi pandemi selama ini, juga menyadarkan bagi kita umat beriman akan kerapuhan diri kita sebagai manusia. Namun dengan semangat solidaritas dan terus membangun pengharapan bersama, kita dapat melewati masa-masa sulit pandemi ini.

Kita mengawali Masa Prapaskah dengan Rabu Abu. Dengan menerima abu, kita diingatkan kembali akan kerapuhan kita di hadapan Tuhan.

Hidup di dunia ini hanyalah sementara. Pada saatnya nanti kita semua akan kembali menjadi debu tanah, tempat asal kita diciptakan. “sebab, engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu.” (Kej 3:19).

Masa Prapaskah menjadi masa pertobatan bagi kita yakni meninggalkan segala dosa dan kembali kepada Tuhan.

Selama 40 hari kita bersama mengolah diri, yakni menyesali segala dosa kita dan bertobat memperbaharui diri dengan berbelarasa dan berpengharapan di dalam kasih Tuhan.

Masa Prapaskah sekaligus sebagai retret agung bagi kita agar kita menjadi semakin dekat dengan Tuhan dan mengasihi sesama.

Pada masa Prapaskah kali ini, Panitia APP KAS telah menyusun Buku Pertemuan APP Lingkungan. Buku panduan ini diharapkan bisa membantu umat untuk mengolah hidup selama masa Prapaskah.

Pengolahan hidup selama masa Prapaskah dapat dilaksanakan dalam kelompok-kelompok kecil dengan tetap menjaga kesehatan dan keselamatan kita bersama sesuai situasi dan kondisi di tempat kita masing-masing.

Seiring dengan Gerak Pastoral KAS yang tertuang dalam ARDAS KAS dan mempertimbangkan dampak Pandemi Covid19 yang mungkin masih kita alami, pada tahun 2022 ini,

Panitia APP KAS mengajak seluruh umat untuk mengolah tema APP: Tinggal Dalam Kristus, Berbelarasa dan Berpengharapan.

Semoga dengan bahan dan tema APP kali ini, kita semua terbantu dalam mengolah hidup kita selama retret agung masa Prapaskah tahun ini.

Semoga kita semakin tinggal dalam Kristus, turut bangkit bersama-Nya dan hidup kita pun berbuahkan belarasa dan pengharapan.

.

Semarang, 14 Desember 2021
Pada Peringatan St. Yohanes dari Salib
Herman Yoseph Singgih Sutoro, Pr
Ketua Panitia APP KAS

.

>> Download Panduan APP 2022 Disini <<

.

.

Panduan ADVEN 2021, Keluarga Tangguh & Berbuah Dalam Kristus

panduan adven 2021

Panduan Adven 2021, KELUARGA TANGGUH DAN BERBUAH DALAM KRISTUS – Setiap Masa Adven, kita diajak untuk mempersiapkan diri menyambut dan menantikan kedatangan Yesus Kristus.

Perayaan Adven 2021 saat ini masih kita rayakan dalam keprihatinan Pandemi Covid 19 yang memerlukan ketangguhan dan perjuangan untuk saling memperkuat dan bergotong royong.

Pandemi Covid 19 yang hampir dua tahun kita alami, membuat kita semua disadarkan akan ketangguhan dan kepedulian di segala sektor kehidupan, terutama di dalam keluarga kita.

Sebagai umat Keuskupan Agung Semarang yang masih berdinamika di tengah Pandemi Covid 19, kita tetap setia diajak tetap mengimplementasikan cita-cita RIKAS untuk semakin relevan di tengah masyarakat luas.

Keuskupan Agung Semarang pada tahun 2022 masih melanjutkan lima bidang garap yaitu kekatolikan, kerasulan, kebangsaan, kerjasama dan sinergi serta profesionalitas.

Pada prinsipnya, kita sebagai warga Keuskupan Agung Semarang (KAS) tetap mempunyai tanggungjawab yang tidak hanya sekedar peribadatan semata, melainkan sampai pada kesejahteraan dan tindakan bersama di masyarakat secara nyata.

Dalam arti itu, kita diajak untuk tetap tangguh dan senantiasa bertumbuh dalam sukacita Injili walaupun Pandemi Covid 19 masih menyelimuti hidup kita ini.

Pandemi Covid 19 yang menghantam lingkup luas negara dan Gereja akhirnya puncak dan ujungnya ada pada keluarga.

Melalui Adven 2021 ini, Komisi Kateketik Keuskupan Agung Semarang mengajak umat melihat kembali keluarga sebagai pusat dari gerak iman.

Dalam masa Pandemi Covid 19 diharapkan keluarga menjadi tempat bertumbuh, mengalami sukacita dan tangguh agar kita semua semakin menyadari gerak bersama dalam upaya mewujudkan diri menghadirkan kasih di tengah-tengah bangsa Indonesia ini.

Keluarga merupakan tempat pertama “latihan” hidup menjemaat dan bermasyarakat. Di dalam keluarga ini ada pendidikan awal mengenai “kesetiaan”, “kepercayaan” dan kasih.

Komisi Kateketik Keuskupan Agung Semarang mengajak semua umat Katolik Keuskupan Agung Semarang mempersiapkan Adventus (masa penantian) ini dengan merefleksikan dinamika hidup keluarga.

Umat diajak melihat kembali sejauh mana komunikasi, hubungan kasih sayang dan keterbukaan emosional terjadi untuk kemajuan kualitas iman dan hidup berkeluarga.

Begitu juga, umat diajak merefleksikan sejauh mana upaya dalam menghadapi tantangan dan komitmen untuk menyelesaikan masalah bersama, dan mengambil keputusan secara bersama, khususnya tantangan yang berat di tengah Pandemi Covid 19.

Akhirnya keluarga membangun hubungan dengan masyarakat-relasi sosial dengan lingkungan, gereja, dan orang lain dalam masyarakat.

Sejauh mana keluarga berpartisipasi dalam memperkaya berbagai kemajuan di tengah masyarakat, khususnya upaya tanggap pandemi ini.

Proses refleksi akan diperdalam melalui empat (4) pertemuan sebagai berikut:

1. Pertemuan Adven I: Keluarga Tangguh.

Pada pertemuan Adven I ini, umat diajak untuk berjaga-jaga, tanggap, tabah, dan kuat menghadapi tantangan, terutama dalam situasi yang masih diliputi Pandemi Covid 19.

Umat diajak berbagi pengalaman atas situasi yang dialami terutama dari segi pengalaman iman dan daya ketangguhan keluarga.

Dalam perspektif iman khususnya penantian Sang Juru Selamat, para keluarga diajak melihat kembali hidup iman mereka dalam keluarga, bagaimana pendidikan Kekatolikan selama ini dikembangkan, khususnya ketika mengalami kesulitan dan beratnya situasi Pandemi Covid 19 ini.

Bacaan yang diperdalam sebagai peneguhan dan renungan dari Luk 21: 25-28.34-36 mengenai “Kedatangan Anak Manusia” (Adven Eskatologis).

2. Pertemuan Adven II: Keluarga yang Berbenah dan Berubah.

Pada pertemuan Adven II ini, umat diajak pada suasana dan dorongan rohani untuk pertobatan dan berbenah.

Maka, pada Adven II ini umat diajak untuk memperdalam berbagai pengalaman rekonsiliasi dan upaya berbenah dari berbagai terpaan dan kesulitan yang dihadapi keluarga selama Pandemi Covid 19.

Dalam situasi krisis Pandemi Covid 19 seringkali terjadi berbagai macam konflik di keluarga karena kesulitan ekonomi, krisis iman
hingga relasi.

Melalui pertemuan Adven II, keluarga diajak mempersiapkan Adventus dalam bingkai pertobatan dan semangat berbenah diri untuk masa depan yang lebih baik.

Bacaan yang diperdalam sebagai peneguhan dan renungan dari Luk 3: 1-6 tentang mempersiapkan jalan bagi kedatangan Sang Juru Selamat.

3. Pertemuan Adven III: Keluarga sebagai Ecclesia Domestica.

Pada pertemuan Adven III, setelah umat memperdalam pertobatan dan berbenah diri, umat diajak melihat kembali tanggung jawabnya sebagai keluarga dalam mempersiapkan tempat pendidikan dasar dan tempat iman bertumbuh.

Umat diajak merefleksikan mengenai sejauh mana tanggung jawabnya sebagai keluarga dalam mempersiapkan masa depan anak-anak mereka baik dari segi pendidikan iman maupun akademisnya.

Keluarga diajak menghayati panggilan sebagai keluarga Kristiani sejati dalam ambil bagian dalam Tri Tugas Kristus sebagai pewaris, penjamin dan penyaksi iman bagi anak-anak dan masyarakat sekitar.

Situasi Pandemi Covid 19 menyebabkan keluarga memiliki beban yang lebih berat, khususnya mengenai pendidikan anak-anak mereka.

Untuk itu, dalam pertemuan Adven III, keluarga dapat merefleksikan kembali sejauh mana wujud tanggung jawab pendidikan dan menjadikan keluarga sebagai persemaian bagi tumbuh kembang iman, kerasulan dan kemasyarakatan.

Bacaan yang diperdalam sebagai peneguhan dan renungan dari Luk 3:10-18 mengenai Yohanes Pembaptis yang mempersiapkan kedatangan Sang Mesias.

4. Pertemuan Adven IV: Keluarga yang Bersukacita dan Berbuah.

Pada pertemuan Adven IV, umat diajak memuncaki pertemuan dengan kesadaran seperti apa yang sudah dicita-citakan dalam amanat Rencana Induk Keuskupan Agung Semarang, bahwa keluarga diharapkan menjadi bentara bagi kader-kader kerasulan dan kemasyarakatan.

Keluarga diajak membuat komitmen nyata bahwa di tangan merekalah persemaian ini tumbuh, baik panggilan hidup bhakti, menggereja maupun memasyarakat.

Keluarga diharapkan menjadi pusat sukacita, mampu memberikan harapan dan kekuatan bagi seluruh anggotanya dalam mengatasi krisis, bahkan menjadi tempat pertolongan bagi orang lain yang membutuhkan.

Bacaan yang diperdalam sebagai peneguhan dan renungan dari Luk 1: 39-45 mengenai perjumpaan Maria dan Elisabeth. Perjumpaan dua keluarga dan dua perempuan yang menggenapi janji keselamatan dari Allah supaya terwujud.

Melalui empat (4) pertemuan ini, kita diharapkan dapat melihat kembali sejauh mana keluarga-keluarga kita mampu mewartakan sukacita dan buah Kasih Kritus.

Dalam menyongsong Adven ini, walaupun kita masih di masa Pandemi Covid 19, namun yang terpenting kita bersama keluarga diharapkan menjadi bentara yang tumbuh dengan sukacita.

Akhirnya selamat memasuki masa Adven. Semoga pendalaman dan refleksi yang dikembangkan membuat kita semakin menjadi keluarga yang tangguh dan senantiasa berbuah dalam Kristus.

Berkah Dalem.
Rm. Antonius Dodit Haryono, Pr.
Ketua Komkat KAS

.

>> Download Panduan Adven 2021 Disini <<

.

.

Panduan Pertemuan 4 ADVEN 2019 – “Kamu Telah Dipanggil Menjadi Milik Kristus”

Tujuan
Umat semakin sadar menjadi promotor utama Gereja yang hadir di tengah-tengah masyarakat, berdialog dengan semua golongan, semakin berani bermisi keluar dengan iman yang mendalam dalam bentuk gerakan-gerakan konkret, baik sebagai pribadi maupun komunitas atau paguyuban.

Pra Wacana Pertemuan
Kita telah dipanggil oleh Allah untuk menunaikan tugas perutusan untuk ikut menata kehidupan bersama dalam masyarakat seturut kehendak Allah dengan dijiwai semangat Injil. Semua warga paguyuban tentunya mempunyai pengalaman yang beragam sebagai pribadi yang dipanggil menjadi milik Kristus melaksanakan tugas perutusan yang diembannya di tengah-tengah situasi masyarakat yang kompleks dan majemuk dengan tantangan yang ada.

Dekrit tentang Kerasulan Awam (Apostolicam Actuositatem) artikel 2 Konsili Vatikan II menegaskan, “menyebarluaskan kerajaan Kristus di mana-mana demi kemuliaan Allah Bapa, dan dengan demikian mengikut-sertakan semua orang dalam penebusan yang membawa keselamatan, dan supaya melalui mereka seluruh dunia sungguh-sungguh diarahkan kepada Kristus. Semua kegiatan Tubuh Mistik, yang mengarah kepada tujuan itu, disebut kerasulan. Kerasulan itu dilaksanakan oleh Gereja melalui semua anggotanya, dengan pelbagai cara.” (AA. 2). Ungkapan ini menjelaskan dan meneguhkan kita, bahwa sesungguhnya tantangan kerasulan awam dewasa ini bukanlah ketakutan terhadap isu kristenisasi, pengucilan diri dari masyarakat melainkan kurangnya kesadaran dan definisi diri sebagai pribadi yang telah dipanggil menjadi milik Kristus. Maka, dalam konteks Masa Adven ini, umat diajak menyadari dengan menyongsong kehadiran Juru Selamat dalam keteguhan dan kesabaran, walaupun tantangan semakin sulit. Menjadi komunitas atau paguyuban yang mampu berdaya ubah, tidaklah mudah, apalagi bagi kepentingan masyarakat sekitar.

Langkah Proses Pertemuan

A.Pembuka
1.Nyanyian Pembuka
Pemandu dapat mengajak peserta membuka dengan lagu-lagu yang memberikan kesadaran menjadi promotor utama Gereja yang hadir di tengah-tengah masyarakat.

2.Doa Pembuka
Doa ini hanya salah satu alternatif, pemandu dapat menyesuaikannya dengan situasi umat.

Bapa Maharahim, Allah yang menyertai peziarahan kami, Engkau mengaruniakan masa Adven kepada kami untuk mempersiapkan diri menyambut kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kami di tengah dunia. Semoga kami dapat menggunakan kesempatan ini, untuk menyadari identitas diri kami sebagai pribadi yang telah Engkau panggil dalam nama Yesus Kristus, Putra-Mu. Kami mohon penyertaan dan berkat-Mu agar dalam pertemuan ini kami bisa menemukan butir-butir yang mendorong dan meneguhkan kami untuk hadir, srawung dan terlibat di tengah masyarakat serta menjadi promotor utama Gereja yang mampu berdialog dengan semua golongan dan lapisan masyarakat melalui gerakan-gerakan konkret, baik sebagai pribadi maupun komunitas atau paguyuban masyarakat demi Indonesia yang lebih baik. Doa ini kami panjatkan, dalam Tuhan kami Yesus Kristus, Putra-Mu, yang hidup dan bertahta bersama Engkau dalam persekutuan dengan Roh Kudus, kini dan sepanjang segala masa. Amin.

3.Penyalaan lilin Korona
Setelah doa pembuka, pemandu mengajak umat untuk melanjutkan dengan Penyalaan Lilin Korona Adven yang keempat.

P:Tuhan, terangilah umat-Mu dengan cahaya kasih-Mu.

U:Agar kami semua dapat menjadi cahaya bagi sesama.

P:Ya Bapa, berbelaskasihlah kepada kami, para hamba-Mu yang merindukan Putera-Mu, cahaya kehidupan sejati. Nyalakanlah harapan kami yang gelap ini akan kehadiran Putera-Mu yang menjadi penerang bagi hidup kami. Bagaikan nyala lilin yang semakin terang, demikianlah kami mohon agar hidup kami semakin diterangi oleh kehadiran Kristus. Semoga kami semua mampu menjadi pribadi-pribadi yang guyub-rukun serta memiliki daya ubah untuk menyalakan sukacita bagi sesama dalam kesaksian hidup kami setiap hari. Demi Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami, sepanjang segala masa.

U:Amin

4.Pengantar Pertemuan
Pemandu dapat mengantar pertemuan dengan memberikan beberapa catatan sebagai berikut:

Pemandu diusahakan membuat dialog singkat untuk meneguhkan pesan dalam pertemuan adven ketiga.

Dalam pertemuan Adven keempat ini, setelah bersama-sama kita mengevaluasi diri dan komunitas kita, sejuh mana daya ubah kita bagi diri dan masyarakat. Kita diajak menghubungan makna Adven dengan konteks Arah Dasar dan Fokus Pastoral KAS yaitu menjadi Gereja yang transformatif (berdaya ubah). Sekarang dalam pertemuan keempat ini, kita diajak untuk menjadi promotor utama memajukan pemahaman dan semangat bermisi di tengah masyarakat. Gereja KAS harus hadir di tengah bangsa Indonesia, berdialog dengan semua golongan dan lapisan masyarakat, dan hadir dalam gerak afirmatif melalui aksi sosial yang nyata untuk menjadi Gereja yang semakin mendalam dan misioner.

B.Inspirasi
1.Cerita Pengalaman
Pemandu dapat mengawali refleksi dengan membaca cerita pengalaman sebagai berikut:

Nek Mboten Panjenengan, Terus Sinten, Pak?

Saya seorang Katolik yang tinggal di Paroki desa yang mayoritas daerahnya beragama Islam. Pekerjaan saya adalah guru di Sekolah Dasar dan tani selepas pulang dari sekolah.

Saya menyadari, panggilan sebagai orang Katolik tidak sekadar aktif untuk lingkungan gereja semata. Kadang, bahkan, setiap saat dibutuhkan bagi lingkungan di luar gereja.

Saya merasa kekuatan baptisan saya menghantar saya untuk mewujudkan kepedulian yang lebih luas, menegaskansikapdanmenguatkanmenghadapitantangan. Semua mengalir begitu saja, dan memang rencana Allah itu indah, semua akan terjadi pada waktunya.

Saya merasa, sebagai penggiat desa dianggap “hangabehi”. Cara bicara dan tingkah saya menjadi sorotan orang lain. Anggapan dari masyarakat itulah, yang menjadikan diri saya merasa terpanggil dan juga menyelaraskan senantiasa untuk mewujud nyatakan panggilan itu: aktif bagi gereja maupun masyarakat sekitar.

Menurut pengalaman saya, masyarakat sangat percaya dan menghargai saya. Tak heran, mereka (terutama warga tingkat RT dan RW) selalu melibatkan saya dalam perkumpulan ataupun paguyuban. “Nek mboten panjenengan terus sinten Mas,” ungkap warga kepada saya.

Atas permintaan warga, saya pun menjadi menjadi pengurus keuangan (bendahara) tingkat RT dan RW. Saya juga diberi amanah untuk menjabat sebagai ketua paguyuban kelompok tani. Sebetulnya, saya pernah berkelit untuk memangku jabatan itu dengan alasan kesibukan saya sebagai guru. Mereka pun tetap menginginkan saya. “Sik penting jenengan dados ketua mangke nek wonten acara/undangan kagem kelompok tani saget pun wakilaken,” sanggah mereka. Saya menerima kepercayaan yang diberikan kepada saya secara bertanggung jawab.

Undangan untuk terlibat dalam karya kemasyarakatan tidak membebani diri saya. Hal lain, saya justru dapat merasakan diterima dan diperhatikan untuk srawung. Dalam wadah paguyuban masyarakat yang beragam ini, saya semakin ditempa untuk berkembang sebagai seorang seorang Katolik yang bertanggungjawab.

2.Pendalaman Bersama
Pemandu dapat mengajak umat berefleksi mendalami cerita sebagai berikut:

  • Berdasarkan kisah yang ada, Bagaimana tanggapan Anda, mengenai maksud menjadi pribadi yang menghayati panggilan sebagai milik Kristus?
  • Teladan apa yang dapat kita kembangkan sebagai umat Katolik dan sekaligus warga masyarakat dalam konteks sekarang ini?

C.Refleksi Kateketis dan Simpul Pertemuan
Pemandu dapat mengajak umat memperkaya dan meneguhkan refleksi pengalaman hidup dengan melihat kembali Renungan bacaan masa Adven Pertama.

1.Kutipan Kitab Suci
Pemandu mengajak umat menyimak bacaan Kitab Suci Roma 1:1-7

Dari Paulus, hamba Kristus Yesus, yang dipanggil menjadi rasul dan dikuduskan untuk memberitakan Injil Allah. Injil itu telah dijanjikan-Nya sebelumnya dengan perantaraan nabi-nabi-Nya dalam kitab-kitab suci, tentang Anak-Nya, yang menurut daging diperanakkan dari keturunan Daud, dan menurut Roh kekudusan dinyatakan oleh kebangkitan-Nya dari antara orang mati, bahwa Ia adalah Anak Allah yang berkuasa, Yesus Kristus Tuhan kita. Dengan perantaraan-Nya kami menerima kasih karunia dan jabatan rasul untuk menuntun semua bangsa, supaya mereka percaya dan taat kepada nama-Nya. Kamu juga termasuk di antara mereka, kamu yang telah dipanggil menjadi milik Kristus. Kepada kamu sekalian yang tinggal di Roma, yang dikasihi Allah, yang dipanggil dan dijadikan orang-orang kudus: Kasih karunia menyertai kamu dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, dan dari Tuhan Yesus Kristus.

2.Renungan dan Simpul
Pendamping dapat menyampaikan point-point reflektif untuk memperkaya/melengkapi pertemuan.

  • Bacaan Roma 1:1-7, mengajak kita pada seruan Paulus bahwa “kamu yang telah dipanggil menjadi milik Kristus”. Bagi kita yang percaya kepada Yesus Kristus mutlak menjadi “milik Kristus”. Sebab kita telah diselamatkan oleh Allah yang ditebus dengan harga yang mahal, yaitu melalui darah-Nya.
  • Dalam pertemuan Adven pertama, kita disadarkan pada situasi untuk bangun dari “keterkungkungan” menjalin relasi, kontak dan berkumpul dengan orang-orang yang seiman semata. Kita lebih merasa nyaman. Kita cenderung menghindar atau berjumpa dengan sesama yang berbeda iman, suku dan daerah dengan kita. Barangkali kita enggan srawung karena kita merasa sendirian, minority syndrome, atau malah malas. Namun demikian, sejatinya, ketika kita terlibat dengan situasi beragam, kita semakin mendapat kekayaan wawasan, pandangan, pengetahuan dan pengalaman. Kita juga akan terlatih untuk mengolah diri kita sebagai pribadi yang toleran, dewasa dan menghargai perbedaan.
  • Kaum awam Katolik dewasa ini perlu semakin menyadari panggilannya untuk menggarami dunia dalam segala aspek. Konsili Vatikan II dengan tegas dan jelas telah memberikan keluhuran, panggilan, tugas perutusan, dan martabat kaum awam dalam dekrit Kerasulan Awam (Apostolicam Actuositatem).
  • Selaras dengan semangat konsili Vatikan II dalam pembaruan kehidupan Gereja dan dunia, kita diundang untuk merefleksikan pengalaman kita sebagai orang beriman Katolik dan sekaligus sebagai bagian dalam kehidupan di masyarakat.
  • Panggilan kita sebagai milik Kristus menuntut konsekuensi untuk terlibat dalam karya Gereja dan Masyarakat. Keterlibatan dalam karya Gereja menjadi medan pengayaan dan peneguhan iman. Keterlibatan dalam karya masyarakat menjadi medan perjumpaan untuk pewartaan diri sebagai milik Kristus.

D.Penegasan Bersama dan Penutup
Pemandu mengajak pribadi, keluarga atau lingkungan untuk membuat niat dan aksi-aksi nyata yang bisa dilaksanakan secara konkret oleh pribadi atau lingkungan!

1.Pengendapan
Pemandu mengajak umat membuat pengendapan dengan hening sejenak dalam batin selama kurang lebih 5-10 menit.

Ajakan untuk meresapkan secara batin pribadi: Mari kita bertanya kepada diri kita sendiri, sejauhmana kita benar-benar “Milik Kristus”?

Sudahkah kita belajar dan terus berproses untuk menjadi pribadi yang transformatif (memiliki daya ubah)? Dalam hal apa?

Ajakan untuk berdoa:

Berdoalah agar Roh Kudus membantu kita dalam masa Adven ini, untuk terpanggil menjadi “milik Kristus”. Kita harus semakin berani bermisi keluar, agar nantinya siap senantiasa hadir dan mempunyai daya ubah di masyarakat. Berdoalah agar rahmat perutusan yang berdaya ubah terwujud dalam kehidupan kita.

Kita satukan dalam doa yang diajarkan Kristus sendiri yakni doa “Bapa Kami”.

2.Doa Penutup
Allah Bapa Mahakuasa, kami sedang bersiap untuk menyambut kelahiran Putra-Mu terkasih, Tuhan kami Yesus Kristus. Maka kami mohon, semoga kami senantiasa diterima sebagai murid Kristus, Putra-Mu. Kami juga mohon, agar Roh KudusMu turun menerangi dan menuntun agar kami semakin menghayati sebagai “Milik Kristus” dalam hidup keseharian kami. Doa ini kami panjatkan, dalam Tuhan kami Yesus Kristus, Putra-Mu, yang hidup dan bertahta bersama Engkau dalam persekutuan dengan Roh Kudus, sekarang dan sepanjang segala masa. Amin.

3.Nyanyian Penutup
Pemandu dapat mengajak peserta menutup pertemuan dengan lagu-lagu yang memberikan semangat terbuka bagi masyarakat sekitarnya.

 

Download Panduan Adven 2019

 

Panduan Pertemuan 3 ADVEN 2019 – “Bersabarlah dan Teguhkanlah Hatimu”

Tujuan 
Umat semakin teguh dalam hidup berkomunitas atau paguyuban, sehingga mampu bersabar untuk membuat gerakan yang berdaya ubah (transformatif) dalam kehidupan bersama, baik lingkup keluarga, lingkungan, dan masyarakat.

Pra Wacana Pertemuan
Ciri transformatif Gereja diwujudkan dalam berbagai gerakan-gerakan paguyuban yang membawa seluruh anggotanya berani bertindak sebagai nabi di tengah masyarakat. Persekutuan umat beriman hendaknya dijiwai dengan semangat persaudaraan Injil dan secara penuh melibatkan diri dalam masyarakat. Paguyuban kita dipanggil ambil bagian dalam tugas perutusan Yesus sendiri, mewartakan Kerajaan Allah.

Di era keterbukaan informasi, dengan berbagai maraknya intoleransi, disintegrasi, materialisme dan tantangan-tantangan lainnya, umat dipanggil dengan penuh kesabaran dan keteguhan hati mampu mewartakan Kerajaan Allah sehingga membawa pada perubahan hidup. Bukan sikap putus asa dan berdiam diri saja yang diminta oleh Allah tetapi sikap kesabaran, keteguhan dan penuh tanggung jawab dalam setiap karya dan pelayanan untuk memuliakan Allah.

Langkah Proses Pertemuan

A. Pembuka 

  1. 1. Nyanyian Pembuka

Pemandu  dapat  mengajak  peserta  membuka  dengan  lagu-lagu yang memberikan semangat teguh dan bersabar dalam tantangan. 

  1. 2. Doa Pembuka

Doa ini hanya salah satu alternatif, pemandu dapat menyesuaikannya dengan situasi umat.

Tuhan dan Allah kami, kami bersyukur atas rahmat pendampingan-Mu kepada kami. Kami juga bersyukur atas rahmat-Mu yang telah mempercayakan kehadiran Roh Kudus kepada Gereja melalui peristiwa kelahiran Yesus Kristus. Kami mohon, semoga Roh Kudus-Mu hidup dalam diri kami, menguatkan kami untuk mengubah dunia menjadi sarana keselamatan bagi seluruh ciptaan. Semoga berkat daya Roh-Mu, kami semua mampu setia hidup dan bertindak penuh semangat kasih dalam setiap pikiran, perkataan dan perbuatan. Doa ini kami panjatkan, dalam Tuhan kami Yesus Kristus, Putra-Mu, yang hidup dan bertahta bersama Engkau dalam persekutuan dengan Roh Kudus, kini dan sepanjang segala masa. Amin.

  1. 3. Penyalaan lilin Korona

Setelah doa pembuka, pemandu mengajak umat untuk melanjutkan dengan Penyalaan Lilin Korona Adven yang ketiga.

P: Tuhan, terangilah umat-Mu dengan cahaya kasih-Mu.

U : Agar kami semua dapat menjadi cahaya bagi sesama.

P: Ya Bapa, berbelaskasihlah kepada kami, para hamba-Mu yang merindukan Putera-Mu, cahaya kehidupan sejati. Nyalakanlah harapan kami yang gelap ini akan kehadiran Putera-Mu yang menjadi penerang bagi hidup kami. Bagaikan nyala lilin yang semakin terang, demikianlah kami mohon agar hidup kami semakin diterangi oleh kehadiran Kristus. Semoga kami semua mampu menjadi pribadi-pribadi yang guyub-rukun serta memiliki daya ubah untuk menyalakan sukacita bagi sesama dalam kesaksian hidup kami setiap hari. Demi Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami, sepanjang segala masa.

U: Amin

  1. 4. Pengantar Pertemuan 

Pemandu dapat mengantar pertemuan dengan memberikan beberapa catatan sebagai berikut:

Pemandu diusahakan membuat dialog singkat untuk meneguhkan pesan dalam pertemuan Adven pertama dan kedua.

Sekarang kita memasuki pertemuan adven yang ketiga. Tema pada pertemuan adven ketiga adalah “Bersabarlah dan Teguhkanlah hatimu”.

Kita bersama terpanggil untuk mengubah dunia menjadi tempat yang lebih baik, apapun suku-agama-ras-golongan-status sosial yang dimilikinya. Seperti halnya yang dilakukan oleh Yesus mewartakan kerajaan Allah. Kita dipanggil untuk membuat dunia ini lebih baik dengan segala potensi yang kita punya. Apa pun yang kita miliki, mari kita berikan sepenuh tenaga demi lingkungan dan sesama di sekitar kita. Namun, kita sekarang perlu menyadari, bahwa semua itu tidaklah mudah. Butuh kesabaran dan keteguhan hati, apalagi tantangan yang begitu berat dewasa ini. Kita mampu berdaya ubah, jika kita mempunyai keteguhan dan kesabaran menghadapi segala tantangan yang terjadi.

Maka, marilah dengan semangat Adven ini, kita balut keteguhan dan kesabaran perjuangan lingkungan atau komunitas kita, agar semakin berdaya ubah bagi sesama. Kita kuatkan budi dan kerjasama, agar semakin tahan walaupun tantangan semakin berat.

B. Inspirasi 

  1. 1. Cerita Pengalaman

Pemandu dapat mengawali refleksi dengan membaca cerita pengalaman sebagai berikut:

“Teguhlah dan Bersabarlah Berbuat Baik”

Saya aktivis pewartaan di sebuah paroki pinggiran Semarang. Pada tahun 1980, saya pernah mempunyai pengalam kelam. Saya terjebak di tengah kerusuhan etnis. Pada waktu itu, ada kerusuhan rasial di Jawa Tengah antara etnis Jawa dan Tionghoa yang meluas hingga kota-kota dan kabupaten di seluruh Jawa Tengah.

Konon kabarnya, kerusuhan itu, dipicu dari sebuah perselisihan kecil di Solo. Waktu itu, saya berada tepat di tengah ratusan orang yang sedang bertikai. Saya bahkan sempat kena pukulan dan tendangan. Untungnya, dan berkat Tuhan, saya ditolong oleh seorang Haji. Saya dimasukkan di rumahnya dari pagi hingga malam. Pertolongan Tuhan memang misteri. Saya percaya, iman saya pada Tuhan menyelamatkan saya di dalam situasi kacau waktu itu. Uniknya lagi yang menyelamatkan saya adalah seorang Haji etnis Jawa. Beliau adalah seorang Muslim yang menghargai iman saya yang berbeda dengannya.

Sampai sekarang pun, kami masih berhubungan baik dan menghargai keyakinan masing-masing, bahkan kami seperti saudara. Peristiwa itu, membuat saya belajar, apa artinya teguh dan bersabar untuk senantiasa berbuat baik kepada yang lain, walapun kadang tantangan dan himpitan terus menerus terjadi.

Maka, saya senatiasa percaya, walaupun hari-hari ini banyak sekali peritiwa kekerasan etnis, cemoohan dan ujaran kebencian bagi kelompok minoritas, saya tetap bersabar dan teguh untuk senantiasa berbuat baik pada yang lain dan berbeda. Saya tetap terus akan bersabar dan teguh, walaupun berat di hati, karena selalu ada buah di seberang sana. Apa yang saya tanam, pastinya juga saya tuai, pengalamn kelam waktu itu telah membuktikannya.

  1. 2. Pendalaman Bersama

Pemandu dapat mengajak umat mengevaluasi sebagai berikut:

  1. 1) Menurut Bapak Ibu, apa artinya “SABAR” menjadi murid Yesus?
  2. 2) Menurut Bapak Ibu, apa artinya “TEGUH HATI” menjadi murid Yesus?
  3. 3) Menurut Anda, bagaimana orang Katolik mampu konsisten sabar dan teguh hati menjadi murid Yesus, menyangkal diri, memikul salib, sebelum mendapat anugerah Kemuliaan

C. Refleksi Kateketis dan Simpul Pertemuan

Pemandu dapat mengajak umat memperkaya dan meneguhkan refleksi pengalaman hidup dengan melihat kembali Renungan bacaan masa Adven Pertama.

  1. 1. Kutipan Kitab Suci

Pemandu mengajak umat menyimak bacaan Kitab Suci Yakobus 5: 7-11

Karena itu, Saudara-saudara, bersabarlah sampai kepada kedatangan Tuhan. Sesungguhnya petani menantikan hasil yang berharga dari tanahnya dan ia sabar sampai telah turun hujan musim gugur dan hujan musim semi. Kamu juga harus bersabar dan harus meneguhkan hatimu, karena kedatangan Tuhan sudah dekat! Saudara-saudara, janganlah kamu bersungut-sungut dan saling mempersalahkan, supaya kamu jangan dihukum. Sesungguhnya Hakim telah berdiri di ambang pintu. Saudara-saudara, turutilah teladan penderitaan dan kesabaran para nabi yang telah berbicara demi nama Tuhan. Sesungguhnya kami menyebut mereka berbahagia, yaitu mereka yang telah bertekun; kamu telah mendengar tentang ketekunan Ayub dan kamu telah tahu apa yang pada akhirnya disediakan Tuhan baginya, karena Tuhan Mahapenyayang dan penuh belas kasihan.

  1. 2. Renungan dan Simpul

Pendamping dapat menyampaikan point-point reflektif untuk memperkaya/melengkapi pertemuan.

  • Bacaan Yakobus 5: 7-11, mengajak kita melihat dari hidup petani, para nabi, dan Ayub yang telah berjuang sampai akhir. Mereka semua bergantung hanya kepada Tuhan dan mengarahkan pandangan mereka kepada tujuan akhir dari semua yang mereka kerjakan, yaitu demi kemuliaan Tuhan.
  • Demikian juga hendaknya, dalam setiap karya dan pelayanan yang kita kembangkan bersama. Jika kita tidak memiliki tujuan yang benar untuk memuliakan Tuhan, maka kita akan mudah sekali mengeluh dan rentan. Kita diajak untuk mempunyai tanggungjawab mengerjakan apa yang Tuhan panggil untuk kita. Jikalau kita mengerjakan sesuatu dengan motivasi hati yang murni untuk kebesaran Kristus, dari itulah kita akan teruji untuk mempunyai daya ubah yang lebih besar.
  • Menjadi seorang Kristiani itu perlu berkontribusi terhadap dunia, artinya berdaya ubah bagi sekitarnya. Meskipun kita tidak sempurna tetapi kita sudah dipilih Tuhan menjadi garam dan terang dunia.
  • Kita diajak mendengar sharing singkat dari salah seorang saksi kerusuhan etnis dan agama mengenai contoh proses kesabaran dan ketangguhan menjadi murid Yesus. Ia menyadari masa lalunya adalah fakta rahmat Tuhan bekerja melalui kerukunan dan penghormatan kepada mereka yang berbeda dari kita. Ia tetap berusaha berkontribusi terhadap lingkungannya, dengan iman yang dipunyai, sejauh yang ia bisa, untuk mengubah dunia menjadi lebih baik.
  • Kalau kita tidak berkontribusi, percuma kita menjadi murid Yesus. Selain nabi Ayub, yang disebut dalam bacaan, Kita tahu para pengikut Yesus juga jatuh bangun dalam berusaha berkontribusi terhadap dunia. Semua murid Yesus mempunyai dinamika naik turun dalam beriman dan berkontribusi mengubah Gereja dan dunia menjadi sarana keselamatan Ilahi.
  • Dalam masa penantian kedatangan Tuhan, marilah kita bersama-sama belajar untuk tidak mudah putus asa, namun kita harus rela menyangkal diri untuk mengerjakan apa yang Tuhan inginkan, sehingga kita bisa terus bertumbuh dan memberi buah dan bersabar, dengan satu tujuan agar kita menjadi serupa dengan Kristus.

C. Penegasan Bersama dan Penutup

Pemandu mengajak pribadi, keluarga atau lingkungan untuk membuat niat dan aksi-aksi nyata yang bisa dilaksanakan secara konkret oleh pribadi atau lingkungan!

  1. 1. Pengendapan 

Pemandu mengajak umat membuat pengendapan dengan hening sejenak dalam batin selama kurang lebih 5-10 menit.

Ajakan untuk meresapkan secara batin pribadi:

Keteguhan dan kesabaran macam apa yang akan dapat kita kembangkan dalam hidup di tengah lingkungan dan masyarakat kita, khususnya pribadi kita?

Ajakan untuk berdoa:

Berdoalah agar Roh Kudus membantu kita dalam masa Adven ini, bersabar dan teguh walaupun ada banyak tantangan di luar dan sekeliling kita. Kita harus mulai bertekun dan berteguh sebagai pribadi dan komunitas, agar nantinya siap senantiasa hadir dan mempunyai daya ubah di masyarakat. Berdoalah agar rahmat perutusan yang berdaya ubah terwujud dalam kehidupan kita.

Kita satukan dalam doa yang diajarkan Kristus sendiri yakni doa “Bapa Kami”.

  1. 2. Doa Penutup 

Allah Bapa Mahakuasa, kami sedang bersiap untuk menyambut kelahiran Putra-Mu terkasih, Tuhan kami Yesus Kristus. Maka kami mohon, semoga kami senantiasa diterima sebagai murid Kristus, Putra-Mu. Kami juga mohon, agar Roh Kudus–Mu turun menerangi dan menuntun agar kami semakin sabar dan tangguh menghayati semangat solidaritas sukacitaMu dalam hidup keseharian kami. Doa ini kami panjatkan, dalam Tuhan kami Yesus Kristus, Putra-Mu, yang hidup dan bertahta bersama Engkau dalam persekutuan dengan Roh Kudus, Allah Tritunggal, sekarang dan sepanjang segala masa. Amin.

  1. 3. Nyanyian Penutup 

Pemandu dapat mengajak peserta menutup pertemuan dengan lagu-lagu yang memberikan semangat terbuka bagi masyarakat sekitarnya.

Download Panduan Adven 2019

Panduan Pertemuan 2 ADVEN 2019 – “Satu Hati dan Satu Suara Memuliakan ALLAH”

Tujuan
Umat mampu melihat bersama sejauh mana daya ubah (transformasi) hidup beriman ke dalam sudah terjadi dan telah digiatkan dalam komunitas.

Pra Wacana Pertemuan
Gereja harus bersifat transformatif (Gereja yang berdaya ubah)! Berdaya ubah bagi seluruh anggota-anggota maupun bagi masyarakat. Gereja menjadikan anggota-anggotanya hidup dalam kesatuan kasih dengan Allah yang akan berakibat dalam relasi baru dengan sesama. Berkat kehadiran Roh Kudus, Gereja membawa seluruh anggotanya menjadi anak-anak Allah. Roh Kudus yang bekerja dalam Gereja berdaya ubah menyatukan seluruh hati anggotanya.

Paguyuban atau lingkungan kita menjadi bagian gereja yang disatukan oleh Roh Kudus. Kita disatukan hati kita oleh Roh Kudus dalam komunitas murid-murid Kristus. Gereja bukan lah segerombolan pribadi-pribadi yang tanpa bentuk tetapi sebuah persekutuan murid-murid Kristus. Persekutuan yang berkembang secara jiwa dan semangat yang sama (organis) dan cara pengaturan yang menjamin pertumbuhan dan perkembangan kominitas (organisatoris). Apakah kita mempunyai kesadaran sebagai anggota paguyuban sudah berdaya ubah (transformatif)? Segi daya ubah ini juga apakah sudah dirasakan oleh seluruh warga paguyuban? Mencari dan mengevaluasi “daya ubah” paguyuban menjadi sangat penting supaya kita semakin memuliakan Allah.

Langkah Proses Pertemuan
A. Pembuka
1. Nyanyian Pembuka
Pemandu dapat mengajak peserta membuka dengan lagu-lagu yang memberikan semangat satu kesatuan hati.

  1. Doa Pembuka
    Doa ini hanya salah satu alternatif, pemandu dapat menyesuaikannya dengan situasi umat.

Bapa yang Maha Kasih, Allah segala penghiburan, dalam Masa Adven kedua ini, utuslah terang Roh Kudus Mu, agar kami dapat bersama-sama melihat kembali, sejauh mana kesadaran sebagai komunitas atau paguyuban lingkungan mampu berdaya ubah (transformatif). Berikanlah kesadaran dalam diri kami, agar masa Adven ini dapat membuat kami semakin satu hati dalam panggilan perutusan kami, terutama panggilan menjadi lingkungan yang berdaya ubah. Doa ini kami panjatkan, dalam Tuhan kami Yesus Kristus, Putra-Mu, yang hidup dan bertahta bersama Engkau dalam persekutuan dengan Roh Kudus, kini dan sepanjang segala masa. Amin.

  1. Penyalaan lilin Korona
    Setelah doa pembuka, pemandu mengajak umat untuk melanjutkan dengan Penyalaan Lilin Korona Adven yang kedua.

P: Tuhan, terangilah umat-Mu dengan cahaya kasih-Mu.

U: Agar kami semua dapat menjadi cahaya bagi sesama.

P: Ya Bapa, berbelaskasihlah kepada kami, para hamba-Mu yang merindukan Putera-Mu, cahaya kehidupan sejati. Nyalakanlah harapan kami yang gelap ini akan kehadiran Putera-Mu yang menjadi penerang bagi hidup kami. Bagaikan nyala lilin yang semakin terang, demikianlah kami mohon agar hidup kami semakin diterangi oleh kehadiran Kristus. Semoga kami semua mampu menjadi pribadi-pribadi yang guyub-rukun serta memiliki daya ubah untuk menyalakan sukacita bagi sesama dalam kesaksian hidup kami setiap hari. Demi Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami, sepanjang segala masa.

U: Amin

  1. Pengantar Pertemuan
    Pemandu dapat mengantar pertemuan dengan memberikan beberapa catatan sebagai berikut:

Bapak dan Ibu yang terkasih, dalam Pertemuan Sarasehan Adven kedua ini, kita akan diajak melihat, apakah segi daya ubah (transformatif) iman, sudah dirasakan bagi seluruh komunitas atau paguyuban. Apakah kita sudah satu hati, bersama-sama sebagai pribadi dan paguyuban memberikan yang terbaik bagi lingkungan kita.

Maka, marilah dengan semangat Advent ini, kita balut kebersamaan sebagai lingkungan atau komunitas. Kita satukan hati dan satukan suara memuliakan Allah, agar kita sebagai pribadi-pribadi mampu mendukung lingkungan kita mempunyai daya ubah bagi masyarakat sekitar.

  1. Inspirasi
    1. Mengapresiasi Daya Ikat dan Keguyuban Lingkungan
    Pemandu dapat mengawali refleksi dengan membaca ungkapan Paus Fransiskus tentang hidup komunitas.

Paus Fransiskus memberi pesan pada sebuah akhir wawancara yang dilakukan oleh Antonio Spadaro, S.J., seorang imam, pemimpin redaksi La Civiltà Cattolica. La Civiltà Cattolica merupakan jurnal Jesuit Italia. Dikutip kembali dalam A Papal Perspective on Community, dikatakan demikian

“Dalam hidup saya, saya telah belajar bahwa satusatunya cara untuk tumbuh dalam keyakinan saya adalah dengan orang lain — dalam kata-kata John Donne, tidak ada manusia yang cukup untuk dirinya sendiri”. Komunitas adalah cara kami mencapai pertumbuhan nilai-nilai yang kami rasa mungkin penting bagi kami — apa pun itu. Perubahan tidak akan berakar sampai kita merendahkan diri, menemukan cara untuk memberikan layanan kepada komunitas dan kepercayaannya, dan berusaha untuk menjaga komunitas tetap bersatu.”

Pesan itu, dalam Masa Adven kedua kita menjadi penting untuk disadari. Kita diajak menyongsong kehadiran Juru Selamat dalam kesatuan hati sebagai komunitas atau paguyuban di lingkungan. Dalam satu hati, sebagai Orang Katolik yang transformatif.

No Pernyataan dan Refleksi Penilaian komunitas*
Ada Teratur (Intensselalu) Tidak Teratur (kadangkadang) Tidak Ada
1. Apakah sejauh ini, lingkungan teratur dalam berkomunikasi, baik secara langsung maupun melalui alat komunikasi lainnya.
2. Apakah sejauh ini, lingkungan teratur dalam bergiat dengan acara-acara moment Gerejawi dan Kebersamaan lainnya.
3. Apakah sejauh ini, lingkungan teratur memperhatikan para anggotannya yang sedang mengalami kesusahan, sakit dan permasalahan.
4. Apakah sejauh ini, lingkungan teratur dalam mendukung keluarga-keluarga dalam pendidikan iman menggerejanya, baik bersifat Liturgis maupun NonLiturgis.
5. Apakah sejauh ini, lingkungan teratur mendukung kegiatan-kegiatan yang semakin mengakrabkan dan meningkatkan kebersamaan dari rekoleksi hingga rekreasi.
6. Apakah sejauh ini, lingkungan teratur berusaha memberdayakan pribadi dan perkembangan bersama dengan berbagai macam cara.

Maka, marilah kita evaluasi komunitas kita, apakah sudah berdaya ubah ke dalam:

Penilaian komunitas* Pemandu dapat mengajak umat mengevaluasi sejauh mana lingkungan mempunyai daya ubah (transformatif) dalam lingkup internal.Penilaian ini, dapat diberi tanda centang (V) pada kolom yang dimaksud. Pemandu diharapkan dapat merekap hasilnya lalu dimasukkan dalam Scan QR Code berikut ini, untuk masukan ke Keuskupan.

Untuk memperkaya pertemuan, hasil rekap juga dapat dinilai dengan ketentuan sebagai berikut:

  1. Teratur, mempunyai skor 6
  2. Tidak Teratur, mempunyai skor 3
  3. Tidak Ada, mempunyai skor 0

Jika dijumlahkan, skor tertinggi yaitu 36, maka rentangnya sebagai berikut:

  1. Skor 30 – 36, lingkungan menampakkan tanda-tanda GUYUB
  2. Skor 18 – 29, lingkungan menampakkan tanda-tanda BIASA SAJA
  3. Skor 0 – 17, lingkungan menampakkan tanda-tanda LEMAH, KURANG GUYUB.
  1. Pendalaman Bersama
    Pemandu dapat mengajak umat mengevaluasi sebagai berikut:
  1. Berdasarkan hasil penilaian lingkungan Anda? Bagaimanakah tanggapan Anda, Berikanlah pandangan Anda !
  2. Dalam wujud apa saja kesatuan hati yang sudah terjadi di lingkungan Anda untuk mewujudkan daya ubah iman baik ke dalam maupun keluar?
  1. Refleksi Kateketis dan Simpul Pertemuan
    Pemandu dapat mengajak umat memperkaya dan meneguhkan refleksi pengalaman hidup dengan melihat kembali renungan bacaan masa Adven Pertama.
  2. Kutipan Kitab Suci
    Pemandu mengajak umat menyimak bacaan Kitab Suci Roma 15: 4-9

Sebab segala sesuatu yang ditulis dahulu, telah ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita, supaya kita teguh berpegang pada pengharapan oleh ketekunan dan penghiburan dari Kitab Suci. Semoga Allah, yang adalah sumber ketekunan dan penghiburan, mengaruniakan kerukunan kepada kamu, sesuai dengan kehendak Kristus Yesus, sehingga dengan satu hati dan satu suara kamu memuliakan Allah dan Bapa Tuhan kita, Yesus Kristus. Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah. Yang aku maksudkan ialah, bahwa oleh karena kebenaran Allah Kristus telah menjadi pelayan orang-orang bersunat untuk mengokohkan janji yang telah diberikanNya kepada nenek moyang kita, dan untuk memungkinkan bangsabangsa, supaya mereka memuliakan Allah karena rahmat-Nya, seperti ada tertulis: “Sebab itu aku akan memuliakan Engkau di antara bangsa-bangsa dan menyanyikan mazmur bagi nama-Mu.”

  1. Renungan dan Simpul
    Pendamping dapat menyampaikan point-point reflektif untuk memperkaya/melengkapi pertemuan.
  • Dalam bacaan Roma 15: 4-9, Paulus menegaskan hendaklah kita menerima satu dengan yang lain, demi kemuliaan Allah. Bukan hanya demi orang itu sendiri, tetapi tujuan bersamanya. Maka, kebersamaan visi dalam komunitas atau paguyuban menjadi daya dorong agar kita mampu mempunyai daya ubah, baik keluar maupun ke dalam.
  • Melalui bacaan itu, Paulus juga mendorong kita untuk saling memberikan motivasi satu sama lainnya. Paulus mengajak bertekun dalam kebersamaan. Rasul Paulus juga mengharapkan dan menghimbau agar komunitas atau paguyuban hidup dalam kerukunan. Keberagaman latar belakang, tingkat ekonomi, suku, pandangan, bahkan agama tidaklah menjadi penghalang kesatuan untuk memuji dan memuliakan Allah.
  • Keragaman dalam satu komunitas atau paguyuban adalah kekayaan yang patut disyukuri. Keragaman dalam satu komunitas atau paguyuban, tentunya akan memberikan nilai tambah pada komunitas atau paguyuban itu sendiri untuk semakin menjadi komunitas yang berdaya ubah .
  • Demikian halnya aneka macam pribadi dalam komunitas atau paguyuban, membuat komunitas menjadi lebih beragam dan berdaya. Maka, pertumbuhan komunitas atau paguyuban dalam Gereja kita, selalu dua arah sekaligus, baik internal maupun eksternal. Secara internal, kita harus bertumbuh dan berdaya ubah dalam pribadi-pribadi yang ada, mengalami perkembangan baik secara perseorangan maupun kebersamaan. Begitu juga secara eksternal, keada-an dan ke-berada-an suatu komunitas kita sebagai umat beriman haruslah memiliki dampak dalam hidup kemasyarakatan.
  1. Penegasan Bersama dan Penutup
    Pemandu mengajak pribadi, keluarga atau lingkungan untuk membuat niat dan aksi-aksi nyata yang bisa dilaksanakan secara konkret oleh pribadi atau lingkungan!
  2. Pengendapan
    Pemandu mengajak umat membuat pengendapan dengan hening sejenak dalam batin selama kurang lebih 5-10 menit.
    Ajakan untuk meresapkan secara batin pribadi:
    Daya ubah macam apa yang akan dapat kita kembangkan dalam hidup di tengah lingkungan kita, khususnya pribadi kita?
    Ajakan untuk berdoa:
    Berdoalah agar Roh Kudus membantu kita dalam masa Adven ini, satu hati, satu keyakinan untuk semakin memuliakan Allah. Kita harus mulai membangun juga para pribadi dan komunitas Gereja kita, agar nantinya siap senantiasa hadir di masyarakat. Berdoalah agar rahmat perutusan yang berdaya Ubah terwujud dalam kehidupan kita.
    Kita satukan dalam doa yang diajarkan Kristus sendiri yakni doa “Bapa Kami”.
  3. Doa Penutup
    Bapa Mahakarya, kami bersyukur karena hari ini Engkau telah membawa kami satu hati menjadi orang dan komunitas beriman yang berani hadir dan berdampak baik bagi kami semua satu komunitas dan masyarakat. Terima kasih Tuhan, Engkau telah mengembangkan hidup kami dengan Roh Kudus-Mu untuk semakin memuliakan-Mu. Semoga untuk hari-hari mendatang kami semakin berani membangun dan mewujudkan komunitas atau paguyuban yang berdaya ubah, baik ke dalam maupun keluar. Doa ini kami panjatkan, dalam Tuhan kami Yesus Kristus, PutraMu, yang hidup dan bertahta bersama Engkau dalam persekutuan dengan Roh Kudus, sekarang dan sepanjang segala masa. Amin.
  4. Nyanyian Penutup
    Pemandu dapat mengajak peserta menutup pertemuan dengan lagu-lagu yang memberikan semangat terbuka bagi masyarakat sekitarnya.

Download Panduan Adven 2019

Panduan Pertemuan 1 ADVEN 2019 – “Bangunlah Dari Tidurmu !”

Tujuan

Umat mampu mencari dan mengevaluasi, sejauh mana daya ubah (transformatif) iman mereka bagi diri dan masyarakat di sekitarnya.

Pra Wacana Pertemuan

Zona nyaman atau situasi kemapanan merupakan situasi yang selalu didambakan setiap orang, seperti ketika kita tidur pulas yang nyaman menyegarkan badan. Situasi nyaman ini dapat membuat kita menjadi terlena dan membawa kita pada sikap enggan untuk berubah, tidak mau bergerak dan meningkatkan diri kepada situasi yang lebih baik lagi. Sebagai orang katolik, apakah kita juga sudah nyaman dengan iman kita? Merasa cukup pengetahuan dan kedalaman iman kita?

Gereja sebagai komunitas orang beriman senantiasa membarui diri agar selalu tanggap terhadap perubahan zaman, sehingga selalu relevan bagi setiap orang di segala zaman. Iman akan Kristus hendaknya selalu berkembang dan berkualitas baik ke dalam (ad intra) maupun ke luar (ad extra) karena kita menyadari diri iman yang kita hayati ini dihadapkan pada era teknologi informasi yang mengubah cara pikir dan cara mengungkapkan diri bagi orang-orang zaman sekarang.

Mari kita keluar dari zona nyaman egosentrisme, bangur dari tidur dan keluar dari segala kungkungan “keterlenaan” diri untuk semakin mengembangkan iman dengan mengapresiasi (mencari dan mengevaluasi) diri dan komunitas kita agar semakin berdaya ubah (transformatif) bagi diri pribadi dan masyarakat di sekitar kita.

Langkah Proses Pertemuan

  1. Pembuka
    1. Nyanyian Pembuka
    Pemandu dapat mengajak peserta membuka dengan lagu-lagu yang memberikan semangat terbuka bagi masyarakat sekitarnya.
  2. Doa Pembuka

Doa ini hanya salah satu alternatif, pemandu dapat menyesuaikannya dengan situasi umat.

Bapa Maharahim, Allah segala penghiburan, dalam Masa Adven tahun ini, di samping kami menyambut momen penting Perayaan 80 Tahun Keuskupan Agung Semarang (KAS), Refleksi Rencana Induk (RIKAS) dalam Roadmap I (2016-2020), kami juga diajak menyemai peringatan 100 tahun diterbitkannya Surat Apostolik Maximum Illud. Segala gerak yang telah kami jalin dan bangun, semoga memberikan semangat untuk membangun iman yang berdaya ubah. Ajarilah kami, untuk semakin mampu menyadari dan menemukan nilai, karya, dan semangat yang telah kami kembangkan dalam paguyuban, terutama dalam keterlibatan iman yang memasyarakat. Doa ini kami panjatkan, dalam Tuhan kami Yesus Kristus, Putra-Mu, yang hidup dan bertahta bersama Engkau dalam persekutuan dengan Roh Kudus, kini dan sepanjang segala masa. Amin.

  1. Penyalaan lilin Korona

Setelah doa pembuka, pemandu mengajak umat untuk melanjutkan dengan Penyalaan Lilin Korona Adven yang pertama.

P: Tuhan, terangilah umat-Mu dengan cahaya kasih-Mu.

U: Agar kami semua dapat menjadi cahaya bagi sesama.

P: Ya Bapa, berbelaskasihlah kepada kami, para hamba-Mu yang merindukan Putera-Mu, cahaya kehidupan sejati. Nyalakanlah harapan kami yang gelap ini akan kehadiran Putera-Mu yang menjadi penerang bagi hidup kami. Bagaikan nyala lilin yang semakin terang, demikianlah kami mohon agar hidup kami semakin diterangi oleh kehadiran Kristus. Semoga kami semua mampu menjadi pribadi-pribadi yang guyub-rukun serta memiliki daya ubah untuk menyalakan sukacita bagi sesama dalam kesaksian hidup kami setiap hari. Demi Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami, sepanjang segala masa.

U: Amin

  1. Pengantar Pertemuan

Pemandu dapat mengantar pertemuan dengan memberikan beberapa catatan sebagai berikut:

Bapak dan Ibu yang terkasih, dalam Pertemuan Sarasehan Adven pertama ini, kita akan diajak mencari dan mengevaluasi, sejauh mana iman kita memberikan daya ubah (transformatif) bagi diri kita sendiri dan masyarakat di sekitar kita. Kita berkumpul bersama, untuk menyadari sejauh mana kita masih terkungkung dengan egosentrisme iman dan keterlenaan diri selama ini. Bisakah kita melalui moment Adven ini menjadi komunitas dan diri yang berdaya ubah bagi orang lain. Perubahan itu sangat penting bagi kita, terutama kita di tahun 2020 merayakan 80 Tahun Keuskupan kita, Refleksi bersama tentang Rencana Induk (RIKAS) dalam Roadmap I (2016-2020) dan Tahun Misi peringatan 100 tahun diterbitkannya Surat Apostolik Maximum Illud.

Maka, marilah dengan semangat Advent ini, kita bangun dari tidur, bangun dari keterlenaan kita untuk bersedia bangkit menjadi Orang Katolik yang transforamtif bagi kita sendiri dan masyarakat sekitar.

  1. Inspirasi
  2. Mengapresiasi diri dan Lingkungan

Pemandu dapat mengawali refleksi untuk mencari dan mengevaluasi diri sejauh mana diri dan lingkungan mempunyai daya ubah (transformatif) iman.

Paus Fransiskus memberi pesan untuk Kongres Nasional tentang Misi yang diselenggarakan oleh KKM-KWI melalui Uskup Mgr. A. M. Sutrisnaatmaka MSF,

“Jangan pernah lupa, kita selalu berjalan ke depan. Jadilah Ragi yang baik dalam kehidupan sosial. Dalam Kitab Suci dikatakan, kita bukan orang-orang yang berjalan ke belakang. Kita semua orang-orang yang berjalan ke depan. Jika seorang berjalan ke belakang, ia bukanlah seorang Kristiani. Kristiani berarti mengarahkan ke depan. Itu artinya diutus. Dengan demikian kita tetap semangat, selalu menatap ke depan dengan penuh harapan. Roh Kudus mendorong kita untuk maju. Ada dua hal yang harus menjadi rantai penghubung bagi kita semua sebagai orang Kristiani. Bagaimana kita menghidupi baptisan, dalam kehidupan pribadi, juga dalam masyarakat sosial, dan membawa pesan Yesus itu kepada orang lain di sekitar kita. ”

Pesan itu, dalam masa Adven kita yang pertama ini menjadi sangat relevan. Kita diajak “Bangun dari Tidur kita, Bangun dari keterlenaan kita” untuk bersedia bangkit menjadi Orang Katolik yang transformatif bagi kita sendiri dan masyarakat sekitar kita.

No Pernyataan dan Refleksi Penilaian komunitas*
Aktif Biasa Saja Kurang
1 Apakah sejauh ini, lingkungan aktif dalam kegiatan baik internal Menggereja maupun Sosial Kemasyarakatan
2 Apakah sejauh ini, lingkungan aktif dalam kegiatan internal mengembangkan iman yang cerdas dan tangguh dalam rupa dan cara apapun
3 Apakah sejauh ini, lingkungan aktif dalam menggiatkan dan membantu perkembangan rasa saling memiliki, rasa guyub dan rasa kebersamaan (handarbeni)
4 Apakah sejauh ini, lingkungan aktif dalam kegiatan membantu orang yang membutuhkan bantuan material, baik warga lingkungan maupun masyarakat umum sekitar.
5 Apakah sejauh ini, lingkungan aktif dalam kegiatan menjaga rasa kebangsaan, rasa persaudaraan, dan toleransi dengan masyarakat sekitar.
6 Apakah sejauh ini, lingkungan aktif dalam kegiatan sosial pemberdayaan, baik ekonomi atau budaya yang berdampak bagi masyarakat umum sekitar.

Maka, marilah kita evaluasi diri dan komunitas kita:

Penilaian komunitas* Pemandu dapat mengajak umat mengevaluasi sejauh mana lingkungan mempunyai daya ubah (transformatif) iman.Penilaian ini, dapat diberi tanda centang (V) pada kolom yang dimaksud. Pemandu diharapkan dapat merekap hasilnya lalu dimasukkan dalam Scan QR Code berikut ini, untuk masukan ke Keuskupan.

Untuk memperkaya pertemuan, hasil rekap juga dapat dinilai dengan ketentuan sebagai berikut:

  1. Aktif, mempunyai skor 6
    b. Biasa saja, mempunyai skor 3
    c. Kurang, mempunyai skor 0

 

Maka jika dijumlahkan, skor tertinggi yaitu 36, rentangnya dapat sebagai berikut:

  1. Skor 30 – 36, lingkungan menampakkan tanda-tanda BERDAYA
  2. Skor 18 – 29, lingkungan menampakkan tanda-tanda BIASA SAJA
  3. Skor 0 – 17, lingkungan menampakkan tanda-tanda LEMAH, KURANG BERSEMANGAT.
  1. Pendalaman Bersama

Pemandu dapat mengajak umat mengevaluasi sebagai berikut:

  1. Berdasarkan hasil penilaian lingkungan Anda? Bagaimanakah tanggapan Anda Bagikanlah pendapat Anda !
    b. Apa saja bentuk peran serta Anda dalam memperkembangkan lingkungan Anda ?
  2. Refleksi Kateketis dan Simpul Pertemuan

Pemandu dapat mengajak umat memperkaya dan meneguhkan refleksi pengalaman, hidup dengan melihat kembali Renungan bacaan masa Adven Pertama.

  1. Kutipan Kitab Suci

Pemandu mengajak umat menyimak bacaan Kitab Suci Roma 13: 11-14a

Hal ini harus kamu lakukan, karena kamu mengetahui keadaan waktu sekarang, yaitu bahwa saatnya telah tiba bagi kamu untuk bangun dari tidur. Sebab sekarang keselamatan sudah lebih dekat bagi kita dari pada waktu kita menjadi percaya. Hari sudah jauh malam, telah hampir siang. Sebab itu marilah kita menanggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan dan mengenakan perlengkapan senjata terang! Marilah kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati. Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus

  1. Renungan dan Simpul

Pendamping dapat menyampaikan point-point reflektif untuk memperkaya/ melengkapi pertemuan.

  • Bacaan Roma 13: 11-14a mengajak untuk mewujudkan dan menghidupi semangat baru dalam hidup kita. Sebuah semangat untuk memiliki daya ubah demi kemajuan diri dan komunitas di sekitar kita. Tentu, semua itu harus dimulai dengan “bangun dari segala keterkungkungan diri.”
  • Bagaimana kalau kita memang tertidur selama ini. Kita menjadi biasa saja, hanya sekedar begitu-begitu saja. Dalam arti ini, kita seperti yang diungkapkan Paulus, hanya “mengenakan pakaian yang biasa dan tertidur.”
  • Seorang penulis Lauren Winner, mengatakan bahwa secara diam-diam pakaian yang kita kenakan dapat mengungkapkan jati diri kita kepada orang lain. Apa yang kita kenakan dapat saja menunjukkan “semangat dan daya juang kita.” Pikirkanlah jika baju, seragam, atau celana yang kita kenakan untuk menyambut kedatangan Sang Raja Penyelamat, hanya biasa saja. Maka, Paulus mengajak untuk mengenakan baju “terang” dan “saatnya bangun dari tidur”
  • Hal itulah yang diingatkan oleh Paulus kepada jemaat di Roma. Paulus mengatakanbahwa jemaat harus bangun dari tidur, “hal ini harus kamu lakukan, karena kamu mengetahui keadaan waktu sekarang, yaitu bahwa saatnya telah tiba bagi kamu untuk bangun dari tidur”.
  • Pertumbuhan suatu komunitas atau lingkungan, sebenarnya tidak tergantung pada seberapa banyak sosok-sosok dominan yang ada dalam lingkungan tersebut. Namun kesediaan untuk belajar bersama, `Gereja yang belajar’ (ecclesia discens) itulah yang membuat suatu lingkungan itu bertumbuh dan berdaya ubah.
  • Hidupnya sebuah lingkungan akan ditandai dengan adanya “semangat” untuk selalu membarui diri yang didukung dengan adanya “kegiatan” yang selalu dilakukan sehingga menumbuhkan sebuah “gerakan” bersama sebagai perjuwudan iman. Tantangan beratnya, mampukah kita bangun dari tidur, bangun dari kemapanan demi pertumbuhan komunitas yang tidak hanya mendorong arah pertumbuhannya saja, namun menjadi wujud Gereja yang senantiasa berbenah. Meskipun perubahan itu begitu lambat dan pelan, Gereja senantiasa memiliki daya ubah yang dengannya semakin menjadi berkat untuk semua.
  • Panggilan kita sebagai umat di lingkungan-lingkungan merupakan panggilan yang khas (ex vocatione propria). Saatnya, mulai mengembangkan hidup menggereja yang berdialog dengan segala keprihatinan dunia dan masyarakat dewasa ini. Iman yang senantiasa terlibat untuk semakin menghadirkan sakramen keselamatan di tengah-tengah dunia dan keprihatinannya.
  1. Penegasan Bersama dan Penutup 
    Pemandu mengajak pribadi, keluarga atau lingkungan untuk membuat niat dan aksi-aksi nyata yang bisa dilaksanakan secara konkret oleh pribadi atau lingkungan!
  2. Pengendapan

Pemandu mengajak umat membuat pengendapan dengan hening sejenak dalam batin selama kurang lebih 5-10 menit. .

Ajakan untuk meresapkan secara batin pribadi:

Daya ubah macam apa yang akan kita lakukan dalam hidup di tengah lingkungan kita dan masyarakat?

Ajakan untuk berdoa:

Berdoalah agar Roh Kudus membantu kita dalam masa Adven ini, bangun dari keterlenaan diri kita. Kita harus bangun untuk menjadi Gereja yang senantiasa hadir di masyarakat. Berdoalah agar rahmat perutusan yang berdaya ubah terwujud dalam kehidupan kita.

Kita satukan dalam doa yang diajarkan Kristus sendiri yakni doa “Bapa Kami”.

  1. Doa Penutup

Bapa Mahkarya, kami bersyukur karena hari ini Engkau telah membawa kami bangun menjadi orang katolik yang berani hadir dan berdampak di tengah masyarakat. Terima kasih Bapa, Engkau telah membarui hidup kami dengan Roh Kudus-Mu sendiri melalui panggilan keselamatan yang telah kami terima. Semoga untuk hari-hari mendatang kami semakin berani membangun dan mewujudkan peradaban kasih di tengah masyarakat. Doa ini kami panjatkan, dalam Tuhan kami Yesus Kristus, Putra-Mu, yang hidup dan bertahta bersama Engkau dalam persekutuan dengan Roh Kudus, sekarang dan sepanjang segala masa. Amin.

  1. Nyanyian Penutup

Pemandu dapat mengajak peserta menutup pertemuan dengan lagu-lagu yang memberikan semangat terbuka bagi masyarakat sekitarnya.

 

Download Panduan Adven 2019 Disini

Kamu Harus Memberi Mereka Makan, Peringatan Hari Paroki Ke-54 St. Albertus Agung Jetis

Sebagai puncak Hari Ulang Tahun ke-54 Paroki St. Albertus Agung Jetis – Yogyakarta, diadakanlah ekaristi untuk memperingati hari ulang tahun paroki pada hari Minggu (17/11/2019) yang dipimpin secara konselebran Romo Vikep Kevikepan DIY, Romo Adrianus Maradiyo Pr. Bersama dengan romo Paroki St. Albertus Agung Jetis, Romo Vincentius Suparman Pr. serta Romo Ambrosius Heri Krismawanto Pr.

Doa bersama sebelum perayaan ekaristi

Panitia Menyambut Kedatangan Umat

Para Petugas Vandel Paroki

Sebelumnya panitia telah menyelenggarakan berbagai macam kegiatan yang sudah berjalan dengan baik, diantaranya Workshop Photocaption yang digagas oleh panitia bersama dengan tim kerja Komsos paroki. Kegiatan ini diadakan untuk mengajak remaja millenial supaya ikut bagian dalam mewartakan sukacita, kabar gembira dan injil dengan menggunakan media sosial yang dimilikinya.

Baca Juga : https://staging2.christina.my.id/satu-foto-sejuta-makna-workshop-photo-caption-2019/

Misdinar Paroki Jetis (PAPIXTO)

Petugas Perayaan Ekaristi

Selain itu juga diselenggarakan festival dolanan tradisional, supaya anak-anak dan keluarga tidak disibukkan melulu oleh gadget dan game online, sehingga mereka dapat mengenal pula berbagai jenis permainan tradisional. Untuk sekedar sejenak melupakan dunia online, berbaur, bermain bersama serta bertegur sapa dengan teman-teman di dalam permainan tradisional.

Tidak ketinggalan sebagai salah satu wujud syukur, diadakan acara kenduri, dengan tujuan menyapa masyarakat yang bertempat tinggal di sekitar lingkungan gereja serta mengajak mereka untuk ikut kenduri bersama, karena gereja hidup dan berada di tengah-tengah masyarakat, sekaligus untuk menjalin lintas iman dengan saudara kita yang beragama lain.

Baca Juga : https://staging2.christina.my.id/kenduri-menjelang-hari-paroki/

Dalam homilinya, Romo Adrianus Maradiyo Pr. menyambut baik bentuk-bentuk kegiatan yang telah dilaksanakan dalam rangka memeringati HUT Paroki St. Albertus Agung Jetis yang ke-54. Romo Maradiyo mengatakan,

”Umat Paroki Jetis di usianya yang ke-54 semakin matang dan dewasa terlibat dalam kehidupan di gereja maupun di tengah masyarakat.  Salah satunya adalah mulai gumregah terlibat dalam kehidupan menggereja ikut serta kerja bakti membersihkan lingkungan gereja.”

Usia paroki 54 tahun merupakan usia yang matang. Umat perlu dilibatkan, bukan hanya sebagian orang. Hal ini dapat dilihat dari pesta yang melibatkan seluruh umat di paroki. Petugas koor diambil dari 4 wilayah dan 20 lingkungan.

Diharapkan tema hari paroki yang diambil sungguh menggerakkan seluruh umat, kerelaan berbagi apa yang kita miliki akan tumbuh ketika kita peduli satu sama lain terutama kepada orang-orang yang sungguh membutuhkan bantuan. Kerelaan untuk berbagi  diyakini akan memberikan dampak tidak akan terjadi kelaparan. Wujud konkrit kepedulian kita sebagai umat. Ketika para murid menghadapi tantangan 5000 orang, Tuhan Yesus berkata, kamu harus memberi mereka makan.

Bagaimana kepedulian dibangun? Romo Maradiyo berucap, saya berikan sebuah contoh cerita.

Ada seorang pemuda yang masuk ke sebuah kampung, mengetuk pintu rumah seorang janda.

Pemuda : Ibu tolong saya, saya sudah 3 hari tidak makan. Saya kelaparan.

Ibu : Anak muda maaf sekali disini tidak ada makanan.

Ibu jangan khawatir, saya membawa tas kresek yang berisi sebuah batu ajaib. Saya hanya minta kepada ibu untuk menyediakan Tungku, Api dan, Dandang.

Saya akan masak dengan batu ajaib yang saya miliki ini. Silahkan ibu memberikan kabar sukacita kepada warga di kampung ini untuk datang bersama-sama menikmati masakan yang akan saya masak ini.

Disaat ibu tersebut keliling dari rumah ke rumah kemudian pemuda ini mulai menyalakan api dalam tungku dan memasak air yang dimasukkan ke dalam panci dan batu ajaib tersebut dimasukkan sembari terus diaduk-aduk sambil sesekali diicipi.

Pemuda tersebut kemudian berkata, Bapak ibu dan saudara-saudari terkasih masakan ini akan semakin enak kalau ditambah sayur. Siapa yang di rumahnya ada sayur silahkan dibawa kemari.

Lalu penduduk kampung itu mengatakan, saya punya pete, saya punya kacang panjang, saya punya wortel. Kemudian mereka membawanya ke rumah janda tersebut. Dimasukkan ke dalam panci besar itu dan mulai diaduk-aduk lagi.

Pemuda itu pun kembali mencicipi masakan tersebut. Ia berkata kembali, masakan ini sudah lezat, namun akan lebih lezat lagi kalau ditambah daging.

Kemudian ada yang mengatakan, saya punya ayam, saya punya daging kambing, dan lain-lain. Lalu sebagian dari mereka pulang ke rumahnya dan kembali dengan membawa daging-daging tersebut. Dimasukkan ke dalam panci dan diaduk kembali.

Setelah dicicipi, ia pun berkata. Bapak, ibu dan saudara-saudari masakan ini sudah siap untuk disantap, mari kita makan bersama-sama. Tetapi maaf disini tidak ada piring, silahkan bapak dan ibu pulang dahulu untuk mengambil piring dan jangan lupa diisi dengan buah dan nasi.

Akhirnya semua dijadikan satu dan mereka pun mulai makan sampai kenyang. Mereka mengatakan, baru kali ini kita makan bersama dan begitu menggembirakan. Siapa yang mempunyai ide ini?

Janda tersebut kemudian berkata, ada seorang pemuda yang mempunyai ide ini. Mana orangnya? Tanya salah seorang penduduk kampung. Pemuda itu dicari kemana-mana tetapi tidak ketemu. Hanya pemuda itu meninggalkan sebuah surat berbunyi :

Bapak, ibu dan saudara-saudari terkasih. Mohon maaf saya tidak bisa ikut makan bersama-sama tetapi saya meninggalkan batu ajaib itu untuk kampung ini. Silahkan kalau ingin selalu bergembira, masak batu ajaib ini bersama-sama seperti yang saya lakukan. Salam.

Lalu salah satu dari mereka bertanya kepada janda tersebut, siapa nama pemuda itu? Pergi ke mana dia?

Lalu mereka mendapatkan sebuah jawaban yang mencengangkan, pemuda itu adalah umat Paroki Jetis.. 😀

Pemotongan Tumpeng Sebagai Simbol Peringatan Hari Paroki Ke-54

Selesai mengikuti perayaan ekaristi, umat Paroki Jetis diajak untuk makan bersama nasi kuning yang telah disediakan oleh setiap lingkungan dilanjutkan dengan “rayahan” dua buah gunungan sayur dan buah di halaman parkir gereja.

Makan Bersama

Para Suster Ikut Merayakan HUT Paroki Jetis Ke-54

Rayahan Gunungan Sayur & Buah

Bersamaan pula dengan Hari Orang Miskin Sedunia yang akan diperingati pada tanggal 19 November mendatang, panitia telah mengundang umat sederhana untuk berwawan hati bersama Romo Vikep dan Romo Paroki, juga diberikan sembako sebagai wujud kepedulian gereja terhadap umat sederhana.

Selamat Ulang Tahun Paroki St Albertus Agung Jetis Yogyakarta yang ke-54 !

Umat Paroki Jetis

Wawan Hati Dengan Romo Vikep

Galeri Foto Klik Disini

 

Artikel oleh : Agustinus Suseno & Frans

Foto oleh : Panitia Hari Paroki & Tim Komsos Jetis

Kenduri Menjelang Hari Paroki Ke-54 St. Albertus Agung Jetis

Menjelang Hari Paroki yang menandakan bertambahnya usia gereja pada tanggal 15 November 2019, Paroki St. Albertus Agung – Jetis, Yogyakarta menyelenggarakan acara kenduri untuk mengucap syukur atas bertambahnya usia gereja menjadi 54 tahun. Acara kenduri dihadiri oleh tidak kurang dari 50 orang, dari berbagai kalangan usia yang didominasi oleh para pini sepuh dan pemuda-pemudi.

Dalam acara kenduri, panitia Hari Paroki mengundang warga yang bertempat tinggal di sekitar Gereja St. Albertus Agung – Jetis untuk hadir dan turut merasakan kebahagiaan gereja. Bertindak sebagai pembicara dan pemimpin doa yaitu Bapak Muh. Burhanuddin.

Bapak Muh. Burhanuddin juga menyampaikan dalam sambutannya bahwa dalam hidup kita perlu banyak bersyukur karena Allah Sang Maha Pemberi selalu mencukupkan umatnya. Dengan bersyukur dan memberi, rejeki yang berlimpah juga akan diberikan oleh Tuhan Sang maha Pengasih.

Tema Hari Paroki St. Albertus Agung yang ke-54 adalah “Kamu Harus Memberi Mereka Makan”, dan ini diwujudkan dengan memberikan sembako kepada warga yang diundang.  Kenduri ini juga menjadi jalinan Silaturahmi antara gereja dengan warga di sekitar gereja.

Setelah kenduri pada hari ini, selanjutnya pada hari Minggu nanti tanggal, 17 November 2019, akan diselenggarakan puncak perayaan ekaristi Hari Paroki yang akan dipimpin secara konselebran bersama romo Vikep Kevikepan DIY, Romo  Andrianus Maradiyo Pr., romo Paroki St. Albertus Agung Jetis, Romo Vincentius Suparman Pr., dan Romo Ambrosius Heri Krismawanto Pr.

 

Foto oleh : Komsos Paroki Jetis

Artikel oleh : Agustinus Suseno & Frans

You cannot copy content of this page