Barang Bekas Bukan Berarti Tidak Berkelas, Lomba Pohon Natal Lingkungan

Dalam rangka menyambut datangnya hari raya Natal yang sudah sangat dekat, serta sebagai lanjutan peringatan dari Hari Paroki yang baru saja diperingati oleh Paroki kami St. Albertus Agung – Jetis, di paroki kami diadakan lomba membuat pohon natal dari barang-barang bekas.

 

Setiap lingkungan yang berada dalam lingkup paroki kami diwajibkan untuk membuat satu pohon natal. Meskipun ide kreasi bebas namun panitia hari Natal mensyaratkan beberapa ketentuan sebagai dasar penilaian.

 

Pembuatan pohon natal dari barang bekas ini berlangsung selama kurang lebih 30 hari. Jadi masing-masing lingkungan bisa menuangkan ide sebanyak-banyaknya.

Total di paroki kami berjumlah 20 lingkungan. Dengan segala jerih payah dan kerja keras tiap lingkungan kami persembahkan hasil karya kami :

1 – St. Yohanes Bangunrejo
2 – Jogoyudan Lor
3 – St. Alfonsus Jatimulyo
4 – Gowongan
5 – St. Andreas Blunyahrejo
6 – Cokrokusuman
7 – St. Yusuf Karangwaru
8 – Kricak
9 – Poncowinatan
10 – St. Rafael Penumping
11 – St. Ignatius Penumping
12 – Mater Dei Karangwaru
13 – Cokrodiningratan
14 – Bangirejo
15 – Jogoyudan Kidul
16 – St. Paulus Jatimulyo
17 – Jetisharjo
18 – Bumijo
19a – St. Thomas Jatimulyo
19b – St. Thomas Jatimulyo

 

Download Foto-Foto Disini (KLIK)

 

 

Renungan Mingguan 22 Desember 2019

Sabda Tuhan Hari Ini 22 Desember 2019, Matius 1:18‐24

Doa: Tuhan Yesus, bukalah pintu hatiku. Bersabdalah, ya Tuhan, hamba-Mu mendengarkan.

Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu Yesus, bertunangan dengan Yusuf, ternyata Maria mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri. Karena Yusuf, suaminya, seorang yang tulus hati, dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam‐diam.

Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi, dan berkata, “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Maria akan melahirkan anak laki‐laki, dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat‐Nya dari dosa mereka. Hal itu terjadi supaya genaplah yang firman Tuhan yang disampaikan oleh nabi: Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki‐laki, dan mereka akan menamai Dia Imanuel, yang berarti: Allah menyertai kita.”

Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat  seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya.
Demikianlah Injil Tuhan.

Renungan

Akhirnya kita sampai di penghujung masa Adven. Empat lilin dalam lingkaran Adven pun kita nyalakan semua. Sebuah gambaran bahwa dunia ini sudah temaram dengan cahaya. Tidak ada lagi sisi‐sisi atau sudut‐sudut yang gelap. Sang terang secara perlahan, namun meyakinkan mampu mengalahkan kegelapan.

Demikianlah halnya dengan misteri keselamatan Allah. Dengan amat meyakinkan Sang Terang, yakni Yesus Kristus itu akan datang. Perawan Maria menjadi perantara kedatangan‐Nya di dunia. Melalui Yesus Kristus inilah kegelapan dosa umat manusia akan dihalau. Kerahiman‐Nya menghapuskan dosa‐dosa dunia.
Nah, masihkah asa kita akan kedatangan Sang Terang itu tetap terjaga? Sejauh manakah tekad untuk mencintai Tuhan dan sesama bisa tetap terwujud? Makin besarkah kesadaran akan dosa kita sehingga makin meningkatkan upaya menyucikan diri?

Jika jawabannya adalah ”iya” bahkan trend‐nya semakin membaik, maka hal itu menjadi petunjuk bahwa Sang Terang itu selalu dihadirkan dalam diri kita. Kita tidak membiarkan ada sisi‐sisi atau sudut‐sudut kehidupan kita yang gelap. Kehadiran Tuhan selalu menjadi prioritas.

Ya Bapa, jaga dan peliharalah harapanku akan penebusan‐Mu. Jangan biarkan aku jatuh dan jatuh lagi dalam kesalahan dan dosa karena Engkaulah Emanuel, Allah yang selalu menyertaiku. Amin.

Sumber renungan: Ziarah Batin 2019, OBOR Indonesia

Panduan Pertemuan 4 ADVEN 2019 – “Kamu Telah Dipanggil Menjadi Milik Kristus”

Tujuan
Umat semakin sadar menjadi promotor utama Gereja yang hadir di tengah-tengah masyarakat, berdialog dengan semua golongan, semakin berani bermisi keluar dengan iman yang mendalam dalam bentuk gerakan-gerakan konkret, baik sebagai pribadi maupun komunitas atau paguyuban.

Pra Wacana Pertemuan
Kita telah dipanggil oleh Allah untuk menunaikan tugas perutusan untuk ikut menata kehidupan bersama dalam masyarakat seturut kehendak Allah dengan dijiwai semangat Injil. Semua warga paguyuban tentunya mempunyai pengalaman yang beragam sebagai pribadi yang dipanggil menjadi milik Kristus melaksanakan tugas perutusan yang diembannya di tengah-tengah situasi masyarakat yang kompleks dan majemuk dengan tantangan yang ada.

Dekrit tentang Kerasulan Awam (Apostolicam Actuositatem) artikel 2 Konsili Vatikan II menegaskan, “menyebarluaskan kerajaan Kristus di mana-mana demi kemuliaan Allah Bapa, dan dengan demikian mengikut-sertakan semua orang dalam penebusan yang membawa keselamatan, dan supaya melalui mereka seluruh dunia sungguh-sungguh diarahkan kepada Kristus. Semua kegiatan Tubuh Mistik, yang mengarah kepada tujuan itu, disebut kerasulan. Kerasulan itu dilaksanakan oleh Gereja melalui semua anggotanya, dengan pelbagai cara.” (AA. 2). Ungkapan ini menjelaskan dan meneguhkan kita, bahwa sesungguhnya tantangan kerasulan awam dewasa ini bukanlah ketakutan terhadap isu kristenisasi, pengucilan diri dari masyarakat melainkan kurangnya kesadaran dan definisi diri sebagai pribadi yang telah dipanggil menjadi milik Kristus. Maka, dalam konteks Masa Adven ini, umat diajak menyadari dengan menyongsong kehadiran Juru Selamat dalam keteguhan dan kesabaran, walaupun tantangan semakin sulit. Menjadi komunitas atau paguyuban yang mampu berdaya ubah, tidaklah mudah, apalagi bagi kepentingan masyarakat sekitar.

Langkah Proses Pertemuan

A.Pembuka
1.Nyanyian Pembuka
Pemandu dapat mengajak peserta membuka dengan lagu-lagu yang memberikan kesadaran menjadi promotor utama Gereja yang hadir di tengah-tengah masyarakat.

2.Doa Pembuka
Doa ini hanya salah satu alternatif, pemandu dapat menyesuaikannya dengan situasi umat.

Bapa Maharahim, Allah yang menyertai peziarahan kami, Engkau mengaruniakan masa Adven kepada kami untuk mempersiapkan diri menyambut kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kami di tengah dunia. Semoga kami dapat menggunakan kesempatan ini, untuk menyadari identitas diri kami sebagai pribadi yang telah Engkau panggil dalam nama Yesus Kristus, Putra-Mu. Kami mohon penyertaan dan berkat-Mu agar dalam pertemuan ini kami bisa menemukan butir-butir yang mendorong dan meneguhkan kami untuk hadir, srawung dan terlibat di tengah masyarakat serta menjadi promotor utama Gereja yang mampu berdialog dengan semua golongan dan lapisan masyarakat melalui gerakan-gerakan konkret, baik sebagai pribadi maupun komunitas atau paguyuban masyarakat demi Indonesia yang lebih baik. Doa ini kami panjatkan, dalam Tuhan kami Yesus Kristus, Putra-Mu, yang hidup dan bertahta bersama Engkau dalam persekutuan dengan Roh Kudus, kini dan sepanjang segala masa. Amin.

3.Penyalaan lilin Korona
Setelah doa pembuka, pemandu mengajak umat untuk melanjutkan dengan Penyalaan Lilin Korona Adven yang keempat.

P:Tuhan, terangilah umat-Mu dengan cahaya kasih-Mu.

U:Agar kami semua dapat menjadi cahaya bagi sesama.

P:Ya Bapa, berbelaskasihlah kepada kami, para hamba-Mu yang merindukan Putera-Mu, cahaya kehidupan sejati. Nyalakanlah harapan kami yang gelap ini akan kehadiran Putera-Mu yang menjadi penerang bagi hidup kami. Bagaikan nyala lilin yang semakin terang, demikianlah kami mohon agar hidup kami semakin diterangi oleh kehadiran Kristus. Semoga kami semua mampu menjadi pribadi-pribadi yang guyub-rukun serta memiliki daya ubah untuk menyalakan sukacita bagi sesama dalam kesaksian hidup kami setiap hari. Demi Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami, sepanjang segala masa.

U:Amin

4.Pengantar Pertemuan
Pemandu dapat mengantar pertemuan dengan memberikan beberapa catatan sebagai berikut:

Pemandu diusahakan membuat dialog singkat untuk meneguhkan pesan dalam pertemuan adven ketiga.

Dalam pertemuan Adven keempat ini, setelah bersama-sama kita mengevaluasi diri dan komunitas kita, sejuh mana daya ubah kita bagi diri dan masyarakat. Kita diajak menghubungan makna Adven dengan konteks Arah Dasar dan Fokus Pastoral KAS yaitu menjadi Gereja yang transformatif (berdaya ubah). Sekarang dalam pertemuan keempat ini, kita diajak untuk menjadi promotor utama memajukan pemahaman dan semangat bermisi di tengah masyarakat. Gereja KAS harus hadir di tengah bangsa Indonesia, berdialog dengan semua golongan dan lapisan masyarakat, dan hadir dalam gerak afirmatif melalui aksi sosial yang nyata untuk menjadi Gereja yang semakin mendalam dan misioner.

B.Inspirasi
1.Cerita Pengalaman
Pemandu dapat mengawali refleksi dengan membaca cerita pengalaman sebagai berikut:

Nek Mboten Panjenengan, Terus Sinten, Pak?

Saya seorang Katolik yang tinggal di Paroki desa yang mayoritas daerahnya beragama Islam. Pekerjaan saya adalah guru di Sekolah Dasar dan tani selepas pulang dari sekolah.

Saya menyadari, panggilan sebagai orang Katolik tidak sekadar aktif untuk lingkungan gereja semata. Kadang, bahkan, setiap saat dibutuhkan bagi lingkungan di luar gereja.

Saya merasa kekuatan baptisan saya menghantar saya untuk mewujudkan kepedulian yang lebih luas, menegaskansikapdanmenguatkanmenghadapitantangan. Semua mengalir begitu saja, dan memang rencana Allah itu indah, semua akan terjadi pada waktunya.

Saya merasa, sebagai penggiat desa dianggap “hangabehi”. Cara bicara dan tingkah saya menjadi sorotan orang lain. Anggapan dari masyarakat itulah, yang menjadikan diri saya merasa terpanggil dan juga menyelaraskan senantiasa untuk mewujud nyatakan panggilan itu: aktif bagi gereja maupun masyarakat sekitar.

Menurut pengalaman saya, masyarakat sangat percaya dan menghargai saya. Tak heran, mereka (terutama warga tingkat RT dan RW) selalu melibatkan saya dalam perkumpulan ataupun paguyuban. “Nek mboten panjenengan terus sinten Mas,” ungkap warga kepada saya.

Atas permintaan warga, saya pun menjadi menjadi pengurus keuangan (bendahara) tingkat RT dan RW. Saya juga diberi amanah untuk menjabat sebagai ketua paguyuban kelompok tani. Sebetulnya, saya pernah berkelit untuk memangku jabatan itu dengan alasan kesibukan saya sebagai guru. Mereka pun tetap menginginkan saya. “Sik penting jenengan dados ketua mangke nek wonten acara/undangan kagem kelompok tani saget pun wakilaken,” sanggah mereka. Saya menerima kepercayaan yang diberikan kepada saya secara bertanggung jawab.

Undangan untuk terlibat dalam karya kemasyarakatan tidak membebani diri saya. Hal lain, saya justru dapat merasakan diterima dan diperhatikan untuk srawung. Dalam wadah paguyuban masyarakat yang beragam ini, saya semakin ditempa untuk berkembang sebagai seorang seorang Katolik yang bertanggungjawab.

2.Pendalaman Bersama
Pemandu dapat mengajak umat berefleksi mendalami cerita sebagai berikut:

  • Berdasarkan kisah yang ada, Bagaimana tanggapan Anda, mengenai maksud menjadi pribadi yang menghayati panggilan sebagai milik Kristus?
  • Teladan apa yang dapat kita kembangkan sebagai umat Katolik dan sekaligus warga masyarakat dalam konteks sekarang ini?

C.Refleksi Kateketis dan Simpul Pertemuan
Pemandu dapat mengajak umat memperkaya dan meneguhkan refleksi pengalaman hidup dengan melihat kembali Renungan bacaan masa Adven Pertama.

1.Kutipan Kitab Suci
Pemandu mengajak umat menyimak bacaan Kitab Suci Roma 1:1-7

Dari Paulus, hamba Kristus Yesus, yang dipanggil menjadi rasul dan dikuduskan untuk memberitakan Injil Allah. Injil itu telah dijanjikan-Nya sebelumnya dengan perantaraan nabi-nabi-Nya dalam kitab-kitab suci, tentang Anak-Nya, yang menurut daging diperanakkan dari keturunan Daud, dan menurut Roh kekudusan dinyatakan oleh kebangkitan-Nya dari antara orang mati, bahwa Ia adalah Anak Allah yang berkuasa, Yesus Kristus Tuhan kita. Dengan perantaraan-Nya kami menerima kasih karunia dan jabatan rasul untuk menuntun semua bangsa, supaya mereka percaya dan taat kepada nama-Nya. Kamu juga termasuk di antara mereka, kamu yang telah dipanggil menjadi milik Kristus. Kepada kamu sekalian yang tinggal di Roma, yang dikasihi Allah, yang dipanggil dan dijadikan orang-orang kudus: Kasih karunia menyertai kamu dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, dan dari Tuhan Yesus Kristus.

2.Renungan dan Simpul
Pendamping dapat menyampaikan point-point reflektif untuk memperkaya/melengkapi pertemuan.

  • Bacaan Roma 1:1-7, mengajak kita pada seruan Paulus bahwa “kamu yang telah dipanggil menjadi milik Kristus”. Bagi kita yang percaya kepada Yesus Kristus mutlak menjadi “milik Kristus”. Sebab kita telah diselamatkan oleh Allah yang ditebus dengan harga yang mahal, yaitu melalui darah-Nya.
  • Dalam pertemuan Adven pertama, kita disadarkan pada situasi untuk bangun dari “keterkungkungan” menjalin relasi, kontak dan berkumpul dengan orang-orang yang seiman semata. Kita lebih merasa nyaman. Kita cenderung menghindar atau berjumpa dengan sesama yang berbeda iman, suku dan daerah dengan kita. Barangkali kita enggan srawung karena kita merasa sendirian, minority syndrome, atau malah malas. Namun demikian, sejatinya, ketika kita terlibat dengan situasi beragam, kita semakin mendapat kekayaan wawasan, pandangan, pengetahuan dan pengalaman. Kita juga akan terlatih untuk mengolah diri kita sebagai pribadi yang toleran, dewasa dan menghargai perbedaan.
  • Kaum awam Katolik dewasa ini perlu semakin menyadari panggilannya untuk menggarami dunia dalam segala aspek. Konsili Vatikan II dengan tegas dan jelas telah memberikan keluhuran, panggilan, tugas perutusan, dan martabat kaum awam dalam dekrit Kerasulan Awam (Apostolicam Actuositatem).
  • Selaras dengan semangat konsili Vatikan II dalam pembaruan kehidupan Gereja dan dunia, kita diundang untuk merefleksikan pengalaman kita sebagai orang beriman Katolik dan sekaligus sebagai bagian dalam kehidupan di masyarakat.
  • Panggilan kita sebagai milik Kristus menuntut konsekuensi untuk terlibat dalam karya Gereja dan Masyarakat. Keterlibatan dalam karya Gereja menjadi medan pengayaan dan peneguhan iman. Keterlibatan dalam karya masyarakat menjadi medan perjumpaan untuk pewartaan diri sebagai milik Kristus.

D.Penegasan Bersama dan Penutup
Pemandu mengajak pribadi, keluarga atau lingkungan untuk membuat niat dan aksi-aksi nyata yang bisa dilaksanakan secara konkret oleh pribadi atau lingkungan!

1.Pengendapan
Pemandu mengajak umat membuat pengendapan dengan hening sejenak dalam batin selama kurang lebih 5-10 menit.

Ajakan untuk meresapkan secara batin pribadi: Mari kita bertanya kepada diri kita sendiri, sejauhmana kita benar-benar “Milik Kristus”?

Sudahkah kita belajar dan terus berproses untuk menjadi pribadi yang transformatif (memiliki daya ubah)? Dalam hal apa?

Ajakan untuk berdoa:

Berdoalah agar Roh Kudus membantu kita dalam masa Adven ini, untuk terpanggil menjadi “milik Kristus”. Kita harus semakin berani bermisi keluar, agar nantinya siap senantiasa hadir dan mempunyai daya ubah di masyarakat. Berdoalah agar rahmat perutusan yang berdaya ubah terwujud dalam kehidupan kita.

Kita satukan dalam doa yang diajarkan Kristus sendiri yakni doa “Bapa Kami”.

2.Doa Penutup
Allah Bapa Mahakuasa, kami sedang bersiap untuk menyambut kelahiran Putra-Mu terkasih, Tuhan kami Yesus Kristus. Maka kami mohon, semoga kami senantiasa diterima sebagai murid Kristus, Putra-Mu. Kami juga mohon, agar Roh KudusMu turun menerangi dan menuntun agar kami semakin menghayati sebagai “Milik Kristus” dalam hidup keseharian kami. Doa ini kami panjatkan, dalam Tuhan kami Yesus Kristus, Putra-Mu, yang hidup dan bertahta bersama Engkau dalam persekutuan dengan Roh Kudus, sekarang dan sepanjang segala masa. Amin.

3.Nyanyian Penutup
Pemandu dapat mengajak peserta menutup pertemuan dengan lagu-lagu yang memberikan semangat terbuka bagi masyarakat sekitarnya.

 

Download Panduan Adven 2019

 

Renungan Mingguan 15 Desember 2019

Sabda Tuhan Hari Ini 15 Desember 2019, Matius 11:2‐11

Doa: Tuhan Yesus, bukalah pintu hatiku. Bersabdalah, ya Tuhan, hamba-Mu mendengarkan.

Sekali peristiwa Yohanes Pembaptis yang berada di penjara mendengar tentang pekerjaan Kristus.Lalu ia menyuruh murid‐muridnya bertanya kepada Yesus, “Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?” Yesus menjawab mereka, “Pergilah dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu dengar dan kamu lihat: Orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik. Berbahagialah orang yang tidak sangsi dan tidak menolak Aku.” Setelah murid‐murid Yohanes pergi, mulailah Yesus berbicara kepada orang banyak tentang Yohanes, “Untuk apakah kamu pergi ke padang gurun? Melihat buluh yang digoyangkan angin kian ke mari? Atau untuk apakah kamu pergi? Melihat orang yang berpakaian halus? Orang yang berpakaian halus itu tempatnya di istana raja. Jadi untuk apakah kamu pergi? Melihat nabi? Benar, dan Aku berkata kepadamu, bahkan lebih dari pada nabi. Karena tentang dia ada tertulis: Lihatlah, Aku menyuruh utusan‐Ku mendahului Engkau! ia akan mempersiapkan jalan di hadapan‐Mu. Aku berkata kepadamu: Camkanlah, di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar dari pada Yohanes Pembaptis. Namun demikian, yang terkecil dalam Kerajaan Surga lebih besar daripada Yohanes.”

Demikianlah Injil Tuhan.

Renungan

Tanpa terasa kita sudah ada pada Minggu ketiga masa Adven. Pada hari ini secara simbolik lilin dalam lingkaran Adven pun sudah bernyala tiga. Hal ini memberi gambaran bahwa sudah ada tiga penjuru bumi memancarkan terang. Harapan dunia yang benar‐benar diliputi cahaya sudah sangat mendekati kenyataan. Hal ini terjadi karena terang pertama dan kedua selalu dijaga nyalanya hingga terang berikutnya.

Bacaan‐bacaan hari ini mengingatkan kita akan kesulitan dan kesedihan yang bisa membuat kita lalai menjaga “terang”. Permasalahannya hidup bisa membuat kita menjauh dari Allah. Semakin berat persoalan hidup kita, semakin menggoda kita untuk semakin menjauh dari Allah.

Padahal sesungguhnya Allah tak pernah meninggalkan kita dalam keadaan apa pun. Allah ada dalam berbagai kondisi kita. Allah sendiri yang akan datang untuk menyelamatkan kita.

Nah, siapakah di antara kita yang tidak memiliki kesulitan? Pasti setiap kita memilikinya dalam rupa dan kadar yang berbeda. Akankah problem hidup itu menjadikan kita menjauh dari Allah? Semoga kesulitan hidup ini justru menjadi peluang untuk semakin menyandarkan diri pada kekuasaan‐Nya.

Ya Bapa, terima kasih untuk semua kesulitan hidup yang ada dalam diriku. Mampukanlah aku untuk menjaga harapan akan kekuasaan‐Mu yang menyelamatkan. Amin.

Sumber renungan: Ziarah Batin 2019, OBOR Indonesia

Panduan Pertemuan 3 ADVEN 2019 – “Bersabarlah dan Teguhkanlah Hatimu”

Tujuan 
Umat semakin teguh dalam hidup berkomunitas atau paguyuban, sehingga mampu bersabar untuk membuat gerakan yang berdaya ubah (transformatif) dalam kehidupan bersama, baik lingkup keluarga, lingkungan, dan masyarakat.

Pra Wacana Pertemuan
Ciri transformatif Gereja diwujudkan dalam berbagai gerakan-gerakan paguyuban yang membawa seluruh anggotanya berani bertindak sebagai nabi di tengah masyarakat. Persekutuan umat beriman hendaknya dijiwai dengan semangat persaudaraan Injil dan secara penuh melibatkan diri dalam masyarakat. Paguyuban kita dipanggil ambil bagian dalam tugas perutusan Yesus sendiri, mewartakan Kerajaan Allah.

Di era keterbukaan informasi, dengan berbagai maraknya intoleransi, disintegrasi, materialisme dan tantangan-tantangan lainnya, umat dipanggil dengan penuh kesabaran dan keteguhan hati mampu mewartakan Kerajaan Allah sehingga membawa pada perubahan hidup. Bukan sikap putus asa dan berdiam diri saja yang diminta oleh Allah tetapi sikap kesabaran, keteguhan dan penuh tanggung jawab dalam setiap karya dan pelayanan untuk memuliakan Allah.

Langkah Proses Pertemuan

A. Pembuka 

  1. 1. Nyanyian Pembuka

Pemandu  dapat  mengajak  peserta  membuka  dengan  lagu-lagu yang memberikan semangat teguh dan bersabar dalam tantangan. 

  1. 2. Doa Pembuka

Doa ini hanya salah satu alternatif, pemandu dapat menyesuaikannya dengan situasi umat.

Tuhan dan Allah kami, kami bersyukur atas rahmat pendampingan-Mu kepada kami. Kami juga bersyukur atas rahmat-Mu yang telah mempercayakan kehadiran Roh Kudus kepada Gereja melalui peristiwa kelahiran Yesus Kristus. Kami mohon, semoga Roh Kudus-Mu hidup dalam diri kami, menguatkan kami untuk mengubah dunia menjadi sarana keselamatan bagi seluruh ciptaan. Semoga berkat daya Roh-Mu, kami semua mampu setia hidup dan bertindak penuh semangat kasih dalam setiap pikiran, perkataan dan perbuatan. Doa ini kami panjatkan, dalam Tuhan kami Yesus Kristus, Putra-Mu, yang hidup dan bertahta bersama Engkau dalam persekutuan dengan Roh Kudus, kini dan sepanjang segala masa. Amin.

  1. 3. Penyalaan lilin Korona

Setelah doa pembuka, pemandu mengajak umat untuk melanjutkan dengan Penyalaan Lilin Korona Adven yang ketiga.

P: Tuhan, terangilah umat-Mu dengan cahaya kasih-Mu.

U : Agar kami semua dapat menjadi cahaya bagi sesama.

P: Ya Bapa, berbelaskasihlah kepada kami, para hamba-Mu yang merindukan Putera-Mu, cahaya kehidupan sejati. Nyalakanlah harapan kami yang gelap ini akan kehadiran Putera-Mu yang menjadi penerang bagi hidup kami. Bagaikan nyala lilin yang semakin terang, demikianlah kami mohon agar hidup kami semakin diterangi oleh kehadiran Kristus. Semoga kami semua mampu menjadi pribadi-pribadi yang guyub-rukun serta memiliki daya ubah untuk menyalakan sukacita bagi sesama dalam kesaksian hidup kami setiap hari. Demi Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami, sepanjang segala masa.

U: Amin

  1. 4. Pengantar Pertemuan 

Pemandu dapat mengantar pertemuan dengan memberikan beberapa catatan sebagai berikut:

Pemandu diusahakan membuat dialog singkat untuk meneguhkan pesan dalam pertemuan Adven pertama dan kedua.

Sekarang kita memasuki pertemuan adven yang ketiga. Tema pada pertemuan adven ketiga adalah “Bersabarlah dan Teguhkanlah hatimu”.

Kita bersama terpanggil untuk mengubah dunia menjadi tempat yang lebih baik, apapun suku-agama-ras-golongan-status sosial yang dimilikinya. Seperti halnya yang dilakukan oleh Yesus mewartakan kerajaan Allah. Kita dipanggil untuk membuat dunia ini lebih baik dengan segala potensi yang kita punya. Apa pun yang kita miliki, mari kita berikan sepenuh tenaga demi lingkungan dan sesama di sekitar kita. Namun, kita sekarang perlu menyadari, bahwa semua itu tidaklah mudah. Butuh kesabaran dan keteguhan hati, apalagi tantangan yang begitu berat dewasa ini. Kita mampu berdaya ubah, jika kita mempunyai keteguhan dan kesabaran menghadapi segala tantangan yang terjadi.

Maka, marilah dengan semangat Adven ini, kita balut keteguhan dan kesabaran perjuangan lingkungan atau komunitas kita, agar semakin berdaya ubah bagi sesama. Kita kuatkan budi dan kerjasama, agar semakin tahan walaupun tantangan semakin berat.

B. Inspirasi 

  1. 1. Cerita Pengalaman

Pemandu dapat mengawali refleksi dengan membaca cerita pengalaman sebagai berikut:

“Teguhlah dan Bersabarlah Berbuat Baik”

Saya aktivis pewartaan di sebuah paroki pinggiran Semarang. Pada tahun 1980, saya pernah mempunyai pengalam kelam. Saya terjebak di tengah kerusuhan etnis. Pada waktu itu, ada kerusuhan rasial di Jawa Tengah antara etnis Jawa dan Tionghoa yang meluas hingga kota-kota dan kabupaten di seluruh Jawa Tengah.

Konon kabarnya, kerusuhan itu, dipicu dari sebuah perselisihan kecil di Solo. Waktu itu, saya berada tepat di tengah ratusan orang yang sedang bertikai. Saya bahkan sempat kena pukulan dan tendangan. Untungnya, dan berkat Tuhan, saya ditolong oleh seorang Haji. Saya dimasukkan di rumahnya dari pagi hingga malam. Pertolongan Tuhan memang misteri. Saya percaya, iman saya pada Tuhan menyelamatkan saya di dalam situasi kacau waktu itu. Uniknya lagi yang menyelamatkan saya adalah seorang Haji etnis Jawa. Beliau adalah seorang Muslim yang menghargai iman saya yang berbeda dengannya.

Sampai sekarang pun, kami masih berhubungan baik dan menghargai keyakinan masing-masing, bahkan kami seperti saudara. Peristiwa itu, membuat saya belajar, apa artinya teguh dan bersabar untuk senantiasa berbuat baik kepada yang lain, walapun kadang tantangan dan himpitan terus menerus terjadi.

Maka, saya senatiasa percaya, walaupun hari-hari ini banyak sekali peritiwa kekerasan etnis, cemoohan dan ujaran kebencian bagi kelompok minoritas, saya tetap bersabar dan teguh untuk senantiasa berbuat baik pada yang lain dan berbeda. Saya tetap terus akan bersabar dan teguh, walaupun berat di hati, karena selalu ada buah di seberang sana. Apa yang saya tanam, pastinya juga saya tuai, pengalamn kelam waktu itu telah membuktikannya.

  1. 2. Pendalaman Bersama

Pemandu dapat mengajak umat mengevaluasi sebagai berikut:

  1. 1) Menurut Bapak Ibu, apa artinya “SABAR” menjadi murid Yesus?
  2. 2) Menurut Bapak Ibu, apa artinya “TEGUH HATI” menjadi murid Yesus?
  3. 3) Menurut Anda, bagaimana orang Katolik mampu konsisten sabar dan teguh hati menjadi murid Yesus, menyangkal diri, memikul salib, sebelum mendapat anugerah Kemuliaan

C. Refleksi Kateketis dan Simpul Pertemuan

Pemandu dapat mengajak umat memperkaya dan meneguhkan refleksi pengalaman hidup dengan melihat kembali Renungan bacaan masa Adven Pertama.

  1. 1. Kutipan Kitab Suci

Pemandu mengajak umat menyimak bacaan Kitab Suci Yakobus 5: 7-11

Karena itu, Saudara-saudara, bersabarlah sampai kepada kedatangan Tuhan. Sesungguhnya petani menantikan hasil yang berharga dari tanahnya dan ia sabar sampai telah turun hujan musim gugur dan hujan musim semi. Kamu juga harus bersabar dan harus meneguhkan hatimu, karena kedatangan Tuhan sudah dekat! Saudara-saudara, janganlah kamu bersungut-sungut dan saling mempersalahkan, supaya kamu jangan dihukum. Sesungguhnya Hakim telah berdiri di ambang pintu. Saudara-saudara, turutilah teladan penderitaan dan kesabaran para nabi yang telah berbicara demi nama Tuhan. Sesungguhnya kami menyebut mereka berbahagia, yaitu mereka yang telah bertekun; kamu telah mendengar tentang ketekunan Ayub dan kamu telah tahu apa yang pada akhirnya disediakan Tuhan baginya, karena Tuhan Mahapenyayang dan penuh belas kasihan.

  1. 2. Renungan dan Simpul

Pendamping dapat menyampaikan point-point reflektif untuk memperkaya/melengkapi pertemuan.

  • Bacaan Yakobus 5: 7-11, mengajak kita melihat dari hidup petani, para nabi, dan Ayub yang telah berjuang sampai akhir. Mereka semua bergantung hanya kepada Tuhan dan mengarahkan pandangan mereka kepada tujuan akhir dari semua yang mereka kerjakan, yaitu demi kemuliaan Tuhan.
  • Demikian juga hendaknya, dalam setiap karya dan pelayanan yang kita kembangkan bersama. Jika kita tidak memiliki tujuan yang benar untuk memuliakan Tuhan, maka kita akan mudah sekali mengeluh dan rentan. Kita diajak untuk mempunyai tanggungjawab mengerjakan apa yang Tuhan panggil untuk kita. Jikalau kita mengerjakan sesuatu dengan motivasi hati yang murni untuk kebesaran Kristus, dari itulah kita akan teruji untuk mempunyai daya ubah yang lebih besar.
  • Menjadi seorang Kristiani itu perlu berkontribusi terhadap dunia, artinya berdaya ubah bagi sekitarnya. Meskipun kita tidak sempurna tetapi kita sudah dipilih Tuhan menjadi garam dan terang dunia.
  • Kita diajak mendengar sharing singkat dari salah seorang saksi kerusuhan etnis dan agama mengenai contoh proses kesabaran dan ketangguhan menjadi murid Yesus. Ia menyadari masa lalunya adalah fakta rahmat Tuhan bekerja melalui kerukunan dan penghormatan kepada mereka yang berbeda dari kita. Ia tetap berusaha berkontribusi terhadap lingkungannya, dengan iman yang dipunyai, sejauh yang ia bisa, untuk mengubah dunia menjadi lebih baik.
  • Kalau kita tidak berkontribusi, percuma kita menjadi murid Yesus. Selain nabi Ayub, yang disebut dalam bacaan, Kita tahu para pengikut Yesus juga jatuh bangun dalam berusaha berkontribusi terhadap dunia. Semua murid Yesus mempunyai dinamika naik turun dalam beriman dan berkontribusi mengubah Gereja dan dunia menjadi sarana keselamatan Ilahi.
  • Dalam masa penantian kedatangan Tuhan, marilah kita bersama-sama belajar untuk tidak mudah putus asa, namun kita harus rela menyangkal diri untuk mengerjakan apa yang Tuhan inginkan, sehingga kita bisa terus bertumbuh dan memberi buah dan bersabar, dengan satu tujuan agar kita menjadi serupa dengan Kristus.

C. Penegasan Bersama dan Penutup

Pemandu mengajak pribadi, keluarga atau lingkungan untuk membuat niat dan aksi-aksi nyata yang bisa dilaksanakan secara konkret oleh pribadi atau lingkungan!

  1. 1. Pengendapan 

Pemandu mengajak umat membuat pengendapan dengan hening sejenak dalam batin selama kurang lebih 5-10 menit.

Ajakan untuk meresapkan secara batin pribadi:

Keteguhan dan kesabaran macam apa yang akan dapat kita kembangkan dalam hidup di tengah lingkungan dan masyarakat kita, khususnya pribadi kita?

Ajakan untuk berdoa:

Berdoalah agar Roh Kudus membantu kita dalam masa Adven ini, bersabar dan teguh walaupun ada banyak tantangan di luar dan sekeliling kita. Kita harus mulai bertekun dan berteguh sebagai pribadi dan komunitas, agar nantinya siap senantiasa hadir dan mempunyai daya ubah di masyarakat. Berdoalah agar rahmat perutusan yang berdaya ubah terwujud dalam kehidupan kita.

Kita satukan dalam doa yang diajarkan Kristus sendiri yakni doa “Bapa Kami”.

  1. 2. Doa Penutup 

Allah Bapa Mahakuasa, kami sedang bersiap untuk menyambut kelahiran Putra-Mu terkasih, Tuhan kami Yesus Kristus. Maka kami mohon, semoga kami senantiasa diterima sebagai murid Kristus, Putra-Mu. Kami juga mohon, agar Roh Kudus–Mu turun menerangi dan menuntun agar kami semakin sabar dan tangguh menghayati semangat solidaritas sukacitaMu dalam hidup keseharian kami. Doa ini kami panjatkan, dalam Tuhan kami Yesus Kristus, Putra-Mu, yang hidup dan bertahta bersama Engkau dalam persekutuan dengan Roh Kudus, Allah Tritunggal, sekarang dan sepanjang segala masa. Amin.

  1. 3. Nyanyian Penutup 

Pemandu dapat mengajak peserta menutup pertemuan dengan lagu-lagu yang memberikan semangat terbuka bagi masyarakat sekitarnya.

Download Panduan Adven 2019

Renungan Mingguan 8 Desember 2019

Sabda Tuhan Hari Ini 8 Desember 2019, Matius 3:1‐12

Doa: Tuhan Yesus, bukalah pintu hatiku. Bersabdalah, ya Tuhan, hamba-Mu mendengarkan.

Sekali peristiwa tampillah Yohanes Pembaptis di padang gurun Yudea dan berseru, “Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat!” Sesungguhnya, dialah yang dimaksudkan nabi Yesaya ketika nabi itu berkata, “Ada suara orang yang berseru‐seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi‐Nya.”Yohanes itu memakai jubah bulu unta dan ikat pinggang kulit, makanannya belalang dan madu hutan. Maka datanglah kepadanya penduduk dari Yerusalem, dari seluruh Yudea dan dari seluruh daerah sekitar Yordan. Dan sambil mengakui dosanya mereka dibaptis oleh Yohanes di sungai Yordan. Tetapi waktu melihat banyak orang Farisi dan orang Saduki datang untuk dibaptis, berkatalah Yohanes Pembaptis kepada mereka, “Hai kamu keturunan ular beludak! Siapakah yang mengatakan kepada kamu, bahwa kamu dapat lolos dari murka yang akan datang? Maka hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan. Dan janganlah mengira, bahwa kamu dapat berkata dalam hatimu: Kami adalah anak Abraham. Sebab aku berkata kepadamu: Dari batu‐batu ini pun Allah dapat menjadikan anak‐anak bagi Abraham. Kapak sudah tersedia pada akar pohon, dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. Aku membaptis kamu dengan air sebagai tanda pertobatan, tetapi Ia yang datang kemudian daripadaku lebih berkuasa daripadaku, dan aku tidak layak melepaskan kasut‐Nya. Ia akan membaptiskan kamu dengan Roh Kudus dan dengan api. Alat penampi sudah ditangan‐Nya. Ia akan membersihkan tempat pengirikan‐Nya dan mengumpulkan gandum‐Nya ke dalam lumbung, tetapi debu jerami akan dibakar‐Nya dalam api yang tidak terpadamkan.”

Demikianlah Injil Tuhan.

Renungan

Hari ini adalah Minggu Adven kedua. Lilin dalam korona pun bernyala dua. Lingkaran Adven sebagai gambaran dunia yang gelap, kini sudah terang setengahnya. Dua penjuru bumi memancarkan cahayanya. Harapan akan dunia yang temaram kian hari kian terbuka prospeknya.

Bagaimana dengan api pertobatan dan pengharapan kita? Apakah semakin temaram? Semoga jawabannya adalah “ya”. Inilah harapan kita semua, yakni langkah awal pertobatan kita tidak berhenti. Sebaliknya, kita semakin peka menilik kekurangan diri yang menggairahkan kita untuk hidup makin selaras dengan kehendak Allah.

Yesaya mengingatkan kita bahwa Allah adalah hakim yang adil. Ia akan mengadili manusia sesuai amal perbuatannya. Yang salah akan dihukum, yang benar akan menerima ganjaran keselamatan. Dalam pengadilannya tidak ada suap, main mata, atau negosiasi. Dan Yohanes pun tegas menyuarakan: “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!” Karena itu, marilah kita jaga nyala api pertobatan dan harapan kita dengan terus melakukan kebaikan. Hidup yang semakin baik di mata Allah dan sesama adalah credit point bagi ganjaran keselamatan kita.

Ya Bapa, jagalah api harapan dan kasih‐Mu dalam hatiku. Jangan biarkan aku berjalan dalam kegelapan dan dosa. Tuntunlah aku pada kebenaran‐Mu, agar kelak aku boleh berharap akan rahmat keselamatan‐Mu. Amin.

Sumber renungan: ZiarahBatin 2019, OBOR Indonesia

Panduan Pertemuan 2 ADVEN 2019 – “Satu Hati dan Satu Suara Memuliakan ALLAH”

Tujuan
Umat mampu melihat bersama sejauh mana daya ubah (transformasi) hidup beriman ke dalam sudah terjadi dan telah digiatkan dalam komunitas.

Pra Wacana Pertemuan
Gereja harus bersifat transformatif (Gereja yang berdaya ubah)! Berdaya ubah bagi seluruh anggota-anggota maupun bagi masyarakat. Gereja menjadikan anggota-anggotanya hidup dalam kesatuan kasih dengan Allah yang akan berakibat dalam relasi baru dengan sesama. Berkat kehadiran Roh Kudus, Gereja membawa seluruh anggotanya menjadi anak-anak Allah. Roh Kudus yang bekerja dalam Gereja berdaya ubah menyatukan seluruh hati anggotanya.

Paguyuban atau lingkungan kita menjadi bagian gereja yang disatukan oleh Roh Kudus. Kita disatukan hati kita oleh Roh Kudus dalam komunitas murid-murid Kristus. Gereja bukan lah segerombolan pribadi-pribadi yang tanpa bentuk tetapi sebuah persekutuan murid-murid Kristus. Persekutuan yang berkembang secara jiwa dan semangat yang sama (organis) dan cara pengaturan yang menjamin pertumbuhan dan perkembangan kominitas (organisatoris). Apakah kita mempunyai kesadaran sebagai anggota paguyuban sudah berdaya ubah (transformatif)? Segi daya ubah ini juga apakah sudah dirasakan oleh seluruh warga paguyuban? Mencari dan mengevaluasi “daya ubah” paguyuban menjadi sangat penting supaya kita semakin memuliakan Allah.

Langkah Proses Pertemuan
A. Pembuka
1. Nyanyian Pembuka
Pemandu dapat mengajak peserta membuka dengan lagu-lagu yang memberikan semangat satu kesatuan hati.

  1. Doa Pembuka
    Doa ini hanya salah satu alternatif, pemandu dapat menyesuaikannya dengan situasi umat.

Bapa yang Maha Kasih, Allah segala penghiburan, dalam Masa Adven kedua ini, utuslah terang Roh Kudus Mu, agar kami dapat bersama-sama melihat kembali, sejauh mana kesadaran sebagai komunitas atau paguyuban lingkungan mampu berdaya ubah (transformatif). Berikanlah kesadaran dalam diri kami, agar masa Adven ini dapat membuat kami semakin satu hati dalam panggilan perutusan kami, terutama panggilan menjadi lingkungan yang berdaya ubah. Doa ini kami panjatkan, dalam Tuhan kami Yesus Kristus, Putra-Mu, yang hidup dan bertahta bersama Engkau dalam persekutuan dengan Roh Kudus, kini dan sepanjang segala masa. Amin.

  1. Penyalaan lilin Korona
    Setelah doa pembuka, pemandu mengajak umat untuk melanjutkan dengan Penyalaan Lilin Korona Adven yang kedua.

P: Tuhan, terangilah umat-Mu dengan cahaya kasih-Mu.

U: Agar kami semua dapat menjadi cahaya bagi sesama.

P: Ya Bapa, berbelaskasihlah kepada kami, para hamba-Mu yang merindukan Putera-Mu, cahaya kehidupan sejati. Nyalakanlah harapan kami yang gelap ini akan kehadiran Putera-Mu yang menjadi penerang bagi hidup kami. Bagaikan nyala lilin yang semakin terang, demikianlah kami mohon agar hidup kami semakin diterangi oleh kehadiran Kristus. Semoga kami semua mampu menjadi pribadi-pribadi yang guyub-rukun serta memiliki daya ubah untuk menyalakan sukacita bagi sesama dalam kesaksian hidup kami setiap hari. Demi Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami, sepanjang segala masa.

U: Amin

  1. Pengantar Pertemuan
    Pemandu dapat mengantar pertemuan dengan memberikan beberapa catatan sebagai berikut:

Bapak dan Ibu yang terkasih, dalam Pertemuan Sarasehan Adven kedua ini, kita akan diajak melihat, apakah segi daya ubah (transformatif) iman, sudah dirasakan bagi seluruh komunitas atau paguyuban. Apakah kita sudah satu hati, bersama-sama sebagai pribadi dan paguyuban memberikan yang terbaik bagi lingkungan kita.

Maka, marilah dengan semangat Advent ini, kita balut kebersamaan sebagai lingkungan atau komunitas. Kita satukan hati dan satukan suara memuliakan Allah, agar kita sebagai pribadi-pribadi mampu mendukung lingkungan kita mempunyai daya ubah bagi masyarakat sekitar.

  1. Inspirasi
    1. Mengapresiasi Daya Ikat dan Keguyuban Lingkungan
    Pemandu dapat mengawali refleksi dengan membaca ungkapan Paus Fransiskus tentang hidup komunitas.

Paus Fransiskus memberi pesan pada sebuah akhir wawancara yang dilakukan oleh Antonio Spadaro, S.J., seorang imam, pemimpin redaksi La Civiltà Cattolica. La Civiltà Cattolica merupakan jurnal Jesuit Italia. Dikutip kembali dalam A Papal Perspective on Community, dikatakan demikian

“Dalam hidup saya, saya telah belajar bahwa satusatunya cara untuk tumbuh dalam keyakinan saya adalah dengan orang lain — dalam kata-kata John Donne, tidak ada manusia yang cukup untuk dirinya sendiri”. Komunitas adalah cara kami mencapai pertumbuhan nilai-nilai yang kami rasa mungkin penting bagi kami — apa pun itu. Perubahan tidak akan berakar sampai kita merendahkan diri, menemukan cara untuk memberikan layanan kepada komunitas dan kepercayaannya, dan berusaha untuk menjaga komunitas tetap bersatu.”

Pesan itu, dalam Masa Adven kedua kita menjadi penting untuk disadari. Kita diajak menyongsong kehadiran Juru Selamat dalam kesatuan hati sebagai komunitas atau paguyuban di lingkungan. Dalam satu hati, sebagai Orang Katolik yang transformatif.

No Pernyataan dan Refleksi Penilaian komunitas*
Ada Teratur (Intensselalu) Tidak Teratur (kadangkadang) Tidak Ada
1. Apakah sejauh ini, lingkungan teratur dalam berkomunikasi, baik secara langsung maupun melalui alat komunikasi lainnya.
2. Apakah sejauh ini, lingkungan teratur dalam bergiat dengan acara-acara moment Gerejawi dan Kebersamaan lainnya.
3. Apakah sejauh ini, lingkungan teratur memperhatikan para anggotannya yang sedang mengalami kesusahan, sakit dan permasalahan.
4. Apakah sejauh ini, lingkungan teratur dalam mendukung keluarga-keluarga dalam pendidikan iman menggerejanya, baik bersifat Liturgis maupun NonLiturgis.
5. Apakah sejauh ini, lingkungan teratur mendukung kegiatan-kegiatan yang semakin mengakrabkan dan meningkatkan kebersamaan dari rekoleksi hingga rekreasi.
6. Apakah sejauh ini, lingkungan teratur berusaha memberdayakan pribadi dan perkembangan bersama dengan berbagai macam cara.

Maka, marilah kita evaluasi komunitas kita, apakah sudah berdaya ubah ke dalam:

Penilaian komunitas* Pemandu dapat mengajak umat mengevaluasi sejauh mana lingkungan mempunyai daya ubah (transformatif) dalam lingkup internal.Penilaian ini, dapat diberi tanda centang (V) pada kolom yang dimaksud. Pemandu diharapkan dapat merekap hasilnya lalu dimasukkan dalam Scan QR Code berikut ini, untuk masukan ke Keuskupan.

Untuk memperkaya pertemuan, hasil rekap juga dapat dinilai dengan ketentuan sebagai berikut:

  1. Teratur, mempunyai skor 6
  2. Tidak Teratur, mempunyai skor 3
  3. Tidak Ada, mempunyai skor 0

Jika dijumlahkan, skor tertinggi yaitu 36, maka rentangnya sebagai berikut:

  1. Skor 30 – 36, lingkungan menampakkan tanda-tanda GUYUB
  2. Skor 18 – 29, lingkungan menampakkan tanda-tanda BIASA SAJA
  3. Skor 0 – 17, lingkungan menampakkan tanda-tanda LEMAH, KURANG GUYUB.
  1. Pendalaman Bersama
    Pemandu dapat mengajak umat mengevaluasi sebagai berikut:
  1. Berdasarkan hasil penilaian lingkungan Anda? Bagaimanakah tanggapan Anda, Berikanlah pandangan Anda !
  2. Dalam wujud apa saja kesatuan hati yang sudah terjadi di lingkungan Anda untuk mewujudkan daya ubah iman baik ke dalam maupun keluar?
  1. Refleksi Kateketis dan Simpul Pertemuan
    Pemandu dapat mengajak umat memperkaya dan meneguhkan refleksi pengalaman hidup dengan melihat kembali renungan bacaan masa Adven Pertama.
  2. Kutipan Kitab Suci
    Pemandu mengajak umat menyimak bacaan Kitab Suci Roma 15: 4-9

Sebab segala sesuatu yang ditulis dahulu, telah ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita, supaya kita teguh berpegang pada pengharapan oleh ketekunan dan penghiburan dari Kitab Suci. Semoga Allah, yang adalah sumber ketekunan dan penghiburan, mengaruniakan kerukunan kepada kamu, sesuai dengan kehendak Kristus Yesus, sehingga dengan satu hati dan satu suara kamu memuliakan Allah dan Bapa Tuhan kita, Yesus Kristus. Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah. Yang aku maksudkan ialah, bahwa oleh karena kebenaran Allah Kristus telah menjadi pelayan orang-orang bersunat untuk mengokohkan janji yang telah diberikanNya kepada nenek moyang kita, dan untuk memungkinkan bangsabangsa, supaya mereka memuliakan Allah karena rahmat-Nya, seperti ada tertulis: “Sebab itu aku akan memuliakan Engkau di antara bangsa-bangsa dan menyanyikan mazmur bagi nama-Mu.”

  1. Renungan dan Simpul
    Pendamping dapat menyampaikan point-point reflektif untuk memperkaya/melengkapi pertemuan.
  • Dalam bacaan Roma 15: 4-9, Paulus menegaskan hendaklah kita menerima satu dengan yang lain, demi kemuliaan Allah. Bukan hanya demi orang itu sendiri, tetapi tujuan bersamanya. Maka, kebersamaan visi dalam komunitas atau paguyuban menjadi daya dorong agar kita mampu mempunyai daya ubah, baik keluar maupun ke dalam.
  • Melalui bacaan itu, Paulus juga mendorong kita untuk saling memberikan motivasi satu sama lainnya. Paulus mengajak bertekun dalam kebersamaan. Rasul Paulus juga mengharapkan dan menghimbau agar komunitas atau paguyuban hidup dalam kerukunan. Keberagaman latar belakang, tingkat ekonomi, suku, pandangan, bahkan agama tidaklah menjadi penghalang kesatuan untuk memuji dan memuliakan Allah.
  • Keragaman dalam satu komunitas atau paguyuban adalah kekayaan yang patut disyukuri. Keragaman dalam satu komunitas atau paguyuban, tentunya akan memberikan nilai tambah pada komunitas atau paguyuban itu sendiri untuk semakin menjadi komunitas yang berdaya ubah .
  • Demikian halnya aneka macam pribadi dalam komunitas atau paguyuban, membuat komunitas menjadi lebih beragam dan berdaya. Maka, pertumbuhan komunitas atau paguyuban dalam Gereja kita, selalu dua arah sekaligus, baik internal maupun eksternal. Secara internal, kita harus bertumbuh dan berdaya ubah dalam pribadi-pribadi yang ada, mengalami perkembangan baik secara perseorangan maupun kebersamaan. Begitu juga secara eksternal, keada-an dan ke-berada-an suatu komunitas kita sebagai umat beriman haruslah memiliki dampak dalam hidup kemasyarakatan.
  1. Penegasan Bersama dan Penutup
    Pemandu mengajak pribadi, keluarga atau lingkungan untuk membuat niat dan aksi-aksi nyata yang bisa dilaksanakan secara konkret oleh pribadi atau lingkungan!
  2. Pengendapan
    Pemandu mengajak umat membuat pengendapan dengan hening sejenak dalam batin selama kurang lebih 5-10 menit.
    Ajakan untuk meresapkan secara batin pribadi:
    Daya ubah macam apa yang akan dapat kita kembangkan dalam hidup di tengah lingkungan kita, khususnya pribadi kita?
    Ajakan untuk berdoa:
    Berdoalah agar Roh Kudus membantu kita dalam masa Adven ini, satu hati, satu keyakinan untuk semakin memuliakan Allah. Kita harus mulai membangun juga para pribadi dan komunitas Gereja kita, agar nantinya siap senantiasa hadir di masyarakat. Berdoalah agar rahmat perutusan yang berdaya Ubah terwujud dalam kehidupan kita.
    Kita satukan dalam doa yang diajarkan Kristus sendiri yakni doa “Bapa Kami”.
  3. Doa Penutup
    Bapa Mahakarya, kami bersyukur karena hari ini Engkau telah membawa kami satu hati menjadi orang dan komunitas beriman yang berani hadir dan berdampak baik bagi kami semua satu komunitas dan masyarakat. Terima kasih Tuhan, Engkau telah mengembangkan hidup kami dengan Roh Kudus-Mu untuk semakin memuliakan-Mu. Semoga untuk hari-hari mendatang kami semakin berani membangun dan mewujudkan komunitas atau paguyuban yang berdaya ubah, baik ke dalam maupun keluar. Doa ini kami panjatkan, dalam Tuhan kami Yesus Kristus, PutraMu, yang hidup dan bertahta bersama Engkau dalam persekutuan dengan Roh Kudus, sekarang dan sepanjang segala masa. Amin.
  4. Nyanyian Penutup
    Pemandu dapat mengajak peserta menutup pertemuan dengan lagu-lagu yang memberikan semangat terbuka bagi masyarakat sekitarnya.

Download Panduan Adven 2019

Renungan Mingguan 1 Desember 2019

pengakuan dosa

Sabda Tuhan Hari Ini 1 Desember 2019, Matius 24:37‐44

Doa: Tuhan Yesus, bukalah pintu hatiku. Bersabdalah, ya Tuhan, hamba-Mu mendengarkan.

Sekali peristiwa Yesus bersabda kepada murid‐murid‐Nya, “Seperti halnya pada zaman Nuh, demikianlah kelak pada kedatangan Anak Manusia. Pada zaman sebelum air bah itu orang makan dan minum, kawin dan mengawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera; mereka tidak menyadari apa yang terjadi sampai air bah itu datang dan melenyapkan mereka semua. Demikian pulalah halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia. Pada waktu itu kalau ada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan. Kalau ada dua orang perempuan sedang menggiling gandum, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan. Oleh karena itu berjaga‐jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang. Tetapi ketahuilah ini: Jika tuan rumah tahu pada waktu mana pencuri datang waktu malam, pastilah ia berjaga‐jaga, dan tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar. Sebab itu, hendaklah kamu selalu siap siaga, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga.”

Demikianlah Injil Tuhan.

Renungan

Hari ini umat beriman memasuki masa Adven. Lilin pertama dalam lingkaran Adven pun mulai dinyalakan. Jika kita ibaratkan korona Adven sebagai gambaran dunia yang gelap, maka kegelapan dunia itu mulai diusir. Salah satu penjuru bumi itu sudah memiliki cahaya. Harapan akan dunia yang temaran dengan cahaya sudah diawali.

Orang beriman adalah mereka yang selalu berupaya menyalakan terang dalam kegelapan jalan hidupnya. Mereka menyadari diri sebagai sosok yang kurang dan lemah, namun ia terus berupaya untuk hidup dalam kelimpahan dan kekuatan rahmat Allah. Selalu berharap adalah kata kunci mereka.

Terang dan harapan bagi umat beriman itu adalah Yesus Sang Mesias. Yesaya meyakinkan kita bahwa Dia‐lah jalan keselamatan hidup kita. Berjalan bersama Dia menjadi panggilan kita. Berkat Dia keselamatan kita semakin mendekat.

Karena itu, marilah kita senantiasa waspada dan berjaga‐jaga. Kita tidak terlena dalam perbuatan salah dan dosa. Mari berlomba berbuat kasih dan hidup dalam doa dan Sabda. Kesiapsiagaan kita menyongsong kelahiran‐Nya adalah peluang bagi keselamatan kita.

Ya Bapa, nyalakanlah api harapan dalam diriku. Biarkan cahayanya menghalau kegelapan dosa dan menuntutku kepada Yesus, Sang Imanuel yang aku nantikan. Amin.

Sumber renungan : Ziarah Batin 2019, OBOR Indonesia

Panduan Pertemuan 1 ADVEN 2019 – “Bangunlah Dari Tidurmu !”

Tujuan

Umat mampu mencari dan mengevaluasi, sejauh mana daya ubah (transformatif) iman mereka bagi diri dan masyarakat di sekitarnya.

Pra Wacana Pertemuan

Zona nyaman atau situasi kemapanan merupakan situasi yang selalu didambakan setiap orang, seperti ketika kita tidur pulas yang nyaman menyegarkan badan. Situasi nyaman ini dapat membuat kita menjadi terlena dan membawa kita pada sikap enggan untuk berubah, tidak mau bergerak dan meningkatkan diri kepada situasi yang lebih baik lagi. Sebagai orang katolik, apakah kita juga sudah nyaman dengan iman kita? Merasa cukup pengetahuan dan kedalaman iman kita?

Gereja sebagai komunitas orang beriman senantiasa membarui diri agar selalu tanggap terhadap perubahan zaman, sehingga selalu relevan bagi setiap orang di segala zaman. Iman akan Kristus hendaknya selalu berkembang dan berkualitas baik ke dalam (ad intra) maupun ke luar (ad extra) karena kita menyadari diri iman yang kita hayati ini dihadapkan pada era teknologi informasi yang mengubah cara pikir dan cara mengungkapkan diri bagi orang-orang zaman sekarang.

Mari kita keluar dari zona nyaman egosentrisme, bangur dari tidur dan keluar dari segala kungkungan “keterlenaan” diri untuk semakin mengembangkan iman dengan mengapresiasi (mencari dan mengevaluasi) diri dan komunitas kita agar semakin berdaya ubah (transformatif) bagi diri pribadi dan masyarakat di sekitar kita.

Langkah Proses Pertemuan

  1. Pembuka
    1. Nyanyian Pembuka
    Pemandu dapat mengajak peserta membuka dengan lagu-lagu yang memberikan semangat terbuka bagi masyarakat sekitarnya.
  2. Doa Pembuka

Doa ini hanya salah satu alternatif, pemandu dapat menyesuaikannya dengan situasi umat.

Bapa Maharahim, Allah segala penghiburan, dalam Masa Adven tahun ini, di samping kami menyambut momen penting Perayaan 80 Tahun Keuskupan Agung Semarang (KAS), Refleksi Rencana Induk (RIKAS) dalam Roadmap I (2016-2020), kami juga diajak menyemai peringatan 100 tahun diterbitkannya Surat Apostolik Maximum Illud. Segala gerak yang telah kami jalin dan bangun, semoga memberikan semangat untuk membangun iman yang berdaya ubah. Ajarilah kami, untuk semakin mampu menyadari dan menemukan nilai, karya, dan semangat yang telah kami kembangkan dalam paguyuban, terutama dalam keterlibatan iman yang memasyarakat. Doa ini kami panjatkan, dalam Tuhan kami Yesus Kristus, Putra-Mu, yang hidup dan bertahta bersama Engkau dalam persekutuan dengan Roh Kudus, kini dan sepanjang segala masa. Amin.

  1. Penyalaan lilin Korona

Setelah doa pembuka, pemandu mengajak umat untuk melanjutkan dengan Penyalaan Lilin Korona Adven yang pertama.

P: Tuhan, terangilah umat-Mu dengan cahaya kasih-Mu.

U: Agar kami semua dapat menjadi cahaya bagi sesama.

P: Ya Bapa, berbelaskasihlah kepada kami, para hamba-Mu yang merindukan Putera-Mu, cahaya kehidupan sejati. Nyalakanlah harapan kami yang gelap ini akan kehadiran Putera-Mu yang menjadi penerang bagi hidup kami. Bagaikan nyala lilin yang semakin terang, demikianlah kami mohon agar hidup kami semakin diterangi oleh kehadiran Kristus. Semoga kami semua mampu menjadi pribadi-pribadi yang guyub-rukun serta memiliki daya ubah untuk menyalakan sukacita bagi sesama dalam kesaksian hidup kami setiap hari. Demi Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami, sepanjang segala masa.

U: Amin

  1. Pengantar Pertemuan

Pemandu dapat mengantar pertemuan dengan memberikan beberapa catatan sebagai berikut:

Bapak dan Ibu yang terkasih, dalam Pertemuan Sarasehan Adven pertama ini, kita akan diajak mencari dan mengevaluasi, sejauh mana iman kita memberikan daya ubah (transformatif) bagi diri kita sendiri dan masyarakat di sekitar kita. Kita berkumpul bersama, untuk menyadari sejauh mana kita masih terkungkung dengan egosentrisme iman dan keterlenaan diri selama ini. Bisakah kita melalui moment Adven ini menjadi komunitas dan diri yang berdaya ubah bagi orang lain. Perubahan itu sangat penting bagi kita, terutama kita di tahun 2020 merayakan 80 Tahun Keuskupan kita, Refleksi bersama tentang Rencana Induk (RIKAS) dalam Roadmap I (2016-2020) dan Tahun Misi peringatan 100 tahun diterbitkannya Surat Apostolik Maximum Illud.

Maka, marilah dengan semangat Advent ini, kita bangun dari tidur, bangun dari keterlenaan kita untuk bersedia bangkit menjadi Orang Katolik yang transforamtif bagi kita sendiri dan masyarakat sekitar.

  1. Inspirasi
  2. Mengapresiasi diri dan Lingkungan

Pemandu dapat mengawali refleksi untuk mencari dan mengevaluasi diri sejauh mana diri dan lingkungan mempunyai daya ubah (transformatif) iman.

Paus Fransiskus memberi pesan untuk Kongres Nasional tentang Misi yang diselenggarakan oleh KKM-KWI melalui Uskup Mgr. A. M. Sutrisnaatmaka MSF,

“Jangan pernah lupa, kita selalu berjalan ke depan. Jadilah Ragi yang baik dalam kehidupan sosial. Dalam Kitab Suci dikatakan, kita bukan orang-orang yang berjalan ke belakang. Kita semua orang-orang yang berjalan ke depan. Jika seorang berjalan ke belakang, ia bukanlah seorang Kristiani. Kristiani berarti mengarahkan ke depan. Itu artinya diutus. Dengan demikian kita tetap semangat, selalu menatap ke depan dengan penuh harapan. Roh Kudus mendorong kita untuk maju. Ada dua hal yang harus menjadi rantai penghubung bagi kita semua sebagai orang Kristiani. Bagaimana kita menghidupi baptisan, dalam kehidupan pribadi, juga dalam masyarakat sosial, dan membawa pesan Yesus itu kepada orang lain di sekitar kita. ”

Pesan itu, dalam masa Adven kita yang pertama ini menjadi sangat relevan. Kita diajak “Bangun dari Tidur kita, Bangun dari keterlenaan kita” untuk bersedia bangkit menjadi Orang Katolik yang transformatif bagi kita sendiri dan masyarakat sekitar kita.

No Pernyataan dan Refleksi Penilaian komunitas*
Aktif Biasa Saja Kurang
1 Apakah sejauh ini, lingkungan aktif dalam kegiatan baik internal Menggereja maupun Sosial Kemasyarakatan
2 Apakah sejauh ini, lingkungan aktif dalam kegiatan internal mengembangkan iman yang cerdas dan tangguh dalam rupa dan cara apapun
3 Apakah sejauh ini, lingkungan aktif dalam menggiatkan dan membantu perkembangan rasa saling memiliki, rasa guyub dan rasa kebersamaan (handarbeni)
4 Apakah sejauh ini, lingkungan aktif dalam kegiatan membantu orang yang membutuhkan bantuan material, baik warga lingkungan maupun masyarakat umum sekitar.
5 Apakah sejauh ini, lingkungan aktif dalam kegiatan menjaga rasa kebangsaan, rasa persaudaraan, dan toleransi dengan masyarakat sekitar.
6 Apakah sejauh ini, lingkungan aktif dalam kegiatan sosial pemberdayaan, baik ekonomi atau budaya yang berdampak bagi masyarakat umum sekitar.

Maka, marilah kita evaluasi diri dan komunitas kita:

Penilaian komunitas* Pemandu dapat mengajak umat mengevaluasi sejauh mana lingkungan mempunyai daya ubah (transformatif) iman.Penilaian ini, dapat diberi tanda centang (V) pada kolom yang dimaksud. Pemandu diharapkan dapat merekap hasilnya lalu dimasukkan dalam Scan QR Code berikut ini, untuk masukan ke Keuskupan.

Untuk memperkaya pertemuan, hasil rekap juga dapat dinilai dengan ketentuan sebagai berikut:

  1. Aktif, mempunyai skor 6
    b. Biasa saja, mempunyai skor 3
    c. Kurang, mempunyai skor 0

 

Maka jika dijumlahkan, skor tertinggi yaitu 36, rentangnya dapat sebagai berikut:

  1. Skor 30 – 36, lingkungan menampakkan tanda-tanda BERDAYA
  2. Skor 18 – 29, lingkungan menampakkan tanda-tanda BIASA SAJA
  3. Skor 0 – 17, lingkungan menampakkan tanda-tanda LEMAH, KURANG BERSEMANGAT.
  1. Pendalaman Bersama

Pemandu dapat mengajak umat mengevaluasi sebagai berikut:

  1. Berdasarkan hasil penilaian lingkungan Anda? Bagaimanakah tanggapan Anda Bagikanlah pendapat Anda !
    b. Apa saja bentuk peran serta Anda dalam memperkembangkan lingkungan Anda ?
  2. Refleksi Kateketis dan Simpul Pertemuan

Pemandu dapat mengajak umat memperkaya dan meneguhkan refleksi pengalaman, hidup dengan melihat kembali Renungan bacaan masa Adven Pertama.

  1. Kutipan Kitab Suci

Pemandu mengajak umat menyimak bacaan Kitab Suci Roma 13: 11-14a

Hal ini harus kamu lakukan, karena kamu mengetahui keadaan waktu sekarang, yaitu bahwa saatnya telah tiba bagi kamu untuk bangun dari tidur. Sebab sekarang keselamatan sudah lebih dekat bagi kita dari pada waktu kita menjadi percaya. Hari sudah jauh malam, telah hampir siang. Sebab itu marilah kita menanggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan dan mengenakan perlengkapan senjata terang! Marilah kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati. Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus

  1. Renungan dan Simpul

Pendamping dapat menyampaikan point-point reflektif untuk memperkaya/ melengkapi pertemuan.

  • Bacaan Roma 13: 11-14a mengajak untuk mewujudkan dan menghidupi semangat baru dalam hidup kita. Sebuah semangat untuk memiliki daya ubah demi kemajuan diri dan komunitas di sekitar kita. Tentu, semua itu harus dimulai dengan “bangun dari segala keterkungkungan diri.”
  • Bagaimana kalau kita memang tertidur selama ini. Kita menjadi biasa saja, hanya sekedar begitu-begitu saja. Dalam arti ini, kita seperti yang diungkapkan Paulus, hanya “mengenakan pakaian yang biasa dan tertidur.”
  • Seorang penulis Lauren Winner, mengatakan bahwa secara diam-diam pakaian yang kita kenakan dapat mengungkapkan jati diri kita kepada orang lain. Apa yang kita kenakan dapat saja menunjukkan “semangat dan daya juang kita.” Pikirkanlah jika baju, seragam, atau celana yang kita kenakan untuk menyambut kedatangan Sang Raja Penyelamat, hanya biasa saja. Maka, Paulus mengajak untuk mengenakan baju “terang” dan “saatnya bangun dari tidur”
  • Hal itulah yang diingatkan oleh Paulus kepada jemaat di Roma. Paulus mengatakanbahwa jemaat harus bangun dari tidur, “hal ini harus kamu lakukan, karena kamu mengetahui keadaan waktu sekarang, yaitu bahwa saatnya telah tiba bagi kamu untuk bangun dari tidur”.
  • Pertumbuhan suatu komunitas atau lingkungan, sebenarnya tidak tergantung pada seberapa banyak sosok-sosok dominan yang ada dalam lingkungan tersebut. Namun kesediaan untuk belajar bersama, `Gereja yang belajar’ (ecclesia discens) itulah yang membuat suatu lingkungan itu bertumbuh dan berdaya ubah.
  • Hidupnya sebuah lingkungan akan ditandai dengan adanya “semangat” untuk selalu membarui diri yang didukung dengan adanya “kegiatan” yang selalu dilakukan sehingga menumbuhkan sebuah “gerakan” bersama sebagai perjuwudan iman. Tantangan beratnya, mampukah kita bangun dari tidur, bangun dari kemapanan demi pertumbuhan komunitas yang tidak hanya mendorong arah pertumbuhannya saja, namun menjadi wujud Gereja yang senantiasa berbenah. Meskipun perubahan itu begitu lambat dan pelan, Gereja senantiasa memiliki daya ubah yang dengannya semakin menjadi berkat untuk semua.
  • Panggilan kita sebagai umat di lingkungan-lingkungan merupakan panggilan yang khas (ex vocatione propria). Saatnya, mulai mengembangkan hidup menggereja yang berdialog dengan segala keprihatinan dunia dan masyarakat dewasa ini. Iman yang senantiasa terlibat untuk semakin menghadirkan sakramen keselamatan di tengah-tengah dunia dan keprihatinannya.
  1. Penegasan Bersama dan Penutup 
    Pemandu mengajak pribadi, keluarga atau lingkungan untuk membuat niat dan aksi-aksi nyata yang bisa dilaksanakan secara konkret oleh pribadi atau lingkungan!
  2. Pengendapan

Pemandu mengajak umat membuat pengendapan dengan hening sejenak dalam batin selama kurang lebih 5-10 menit. .

Ajakan untuk meresapkan secara batin pribadi:

Daya ubah macam apa yang akan kita lakukan dalam hidup di tengah lingkungan kita dan masyarakat?

Ajakan untuk berdoa:

Berdoalah agar Roh Kudus membantu kita dalam masa Adven ini, bangun dari keterlenaan diri kita. Kita harus bangun untuk menjadi Gereja yang senantiasa hadir di masyarakat. Berdoalah agar rahmat perutusan yang berdaya ubah terwujud dalam kehidupan kita.

Kita satukan dalam doa yang diajarkan Kristus sendiri yakni doa “Bapa Kami”.

  1. Doa Penutup

Bapa Mahkarya, kami bersyukur karena hari ini Engkau telah membawa kami bangun menjadi orang katolik yang berani hadir dan berdampak di tengah masyarakat. Terima kasih Bapa, Engkau telah membarui hidup kami dengan Roh Kudus-Mu sendiri melalui panggilan keselamatan yang telah kami terima. Semoga untuk hari-hari mendatang kami semakin berani membangun dan mewujudkan peradaban kasih di tengah masyarakat. Doa ini kami panjatkan, dalam Tuhan kami Yesus Kristus, Putra-Mu, yang hidup dan bertahta bersama Engkau dalam persekutuan dengan Roh Kudus, sekarang dan sepanjang segala masa. Amin.

  1. Nyanyian Penutup

Pemandu dapat mengajak peserta menutup pertemuan dengan lagu-lagu yang memberikan semangat terbuka bagi masyarakat sekitarnya.

 

Download Panduan Adven 2019 Disini

You cannot copy content of this page