Panduan APP 2025 Keuskupan Agung Semarang (KAS)

PANDUAN & TEMA APP 2025 – Bersekutu dalam Doa, Pertobatan dan Pengharapan

Setiap tahun kita mempersiapkan diri untuk merayakan Hari Raya Kebangkitan Kristus dengan menjalani dan menghidupi masa Prapaskah. Masa Prapaskah menjadi masa persiapan diri untuk mensyukuri rahmat penebusan Kristus. Dia yang setia melaksanakan misi Allah melalui sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya dari kematian. Masa Prapaskah juga menjadi kesempatan baik bagi umat beriman untuk merenungkan pertobatan, mengembangkan olah rohani dan melaksanakan amal kasih bagi sesama, terutama bagi KLMTD. Maka, masa Prapaskah sering kali disebut sebagai masa retret agung bagi seluruh umat beriman.

Gerakan Aksi Puasa Pembangunan (APP) selama masa Prapaskah adalah gerakan solidaritas khas Gereja Katolik di Indonesia. Tujuannya untuk mengajak umat beriman terlibat aktif dalam upaya pembangunan kesejahteraan bersama di bidang sosial-ekonomi, sebagai buah dari olah rohani yang dihayati melalui praktik puasa dan pantang. Gerakan ini selaras dengan situasi zaman sekarang dimana masih banyak ketidakadilan sosial dan kemiskinan di tengah masyarakat.

Selaras dengan semangat tahun Yubelium yang kita rayakan pada tahun 2025 ini, kita diajak untuk semakin menghayati masa Prapaskah dengan sepenuh hati. Kita diajak untuk tidak hanya meningkatkan kesalehan diri melainkan harus lebih peka terhadap penderitaan sesama. Kita didorong untuk semakin bijak dan bertanggung jawab dalam menggunakan sumber daya yang kita miliki guna mengambil bagian dalam memerangi kemiskinan, ketidakadilan, dan ketimpangan sosial di masyarakat.

Gerakan APP hendaknya menjadi salah satu sarana mengembangkan kesadaran umat beriman akan pentingnya pertobatan bersama untuk membangun dunia yang lebih sejahtera dan berkeadilan sosial bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Semarang, 24 Desember 2024

R. Subyantara Putra Perdana, Pr
Ketua Panitia APP KAS

Buku Panduan APP 2025 – Download PDF (KLIK)


Gagasan Utama Pertemuan Prapaskah
Panduan APP 2025 & Renungan

Fokus Pastoral Keuskupan Agung Semarang tahun 2025 adalah “Tinggal dalam Kristus dan Berbuah: Semakin Katolik dan Semakin Apostolik di Tengah Perubahan Masyarakat. Tidak jauh berbeda dengan fokus pastoral sebelumnya, Gereja KAS mencita-citakan agar umat beriman semakin Cerdas, Tangguh, Misioner dan Dialogis (CTMD). Tolok ukur iman yang CTMD tidak hanya dilihat dari pengetahuan iman yang dimiliki, namun juga dampak iman bagi kehidupan sehari-harinya. Iman harus berdampak dan berdaya ubah.

Data umat KAS saat ini menunjukkan bahwa sebagian besar umat telah dibaptis sejak bayi. Oleh karenanya, proses pembelajaran iman secara khusus hanya didapat saat mereka mempersiapkan diri untuk menerima komuni pertama, penguatan dan sedikit saat mempersiapkan perkawinan. Selebihnya, pengetahuan dan pemahaman iman, diandaikan dibangun melalui pembiasaan di dalam keluarga yang diberikan oleh orang tua.

Beruntunglah mereka yang imannya tumbuh dan berkembang di tengah keluarga yang sejak awal, selalu setia mengajak anak-anaknya mengikuti kegiatan-kegiatan pendampingan iman baik di lingkungan maupun paroki. Setiap kali mengikuti kegiatan bersama, umat beriman dapat menambah dan menyegarkan kembali pemahaman iman bersama saudara-saudara seiman lainnya. Apalagi jika kegiatan-kegiatan pendampingan iman itu dipersiapkan dengan baik tentu akan lebih bermanfaat.

Namun perlu kita sadari juga bahwa tidak jarang muncul kecenderungan di kalangan umat Katolik yang menghidupi iman menurut “biasanya” atau “mengalir begitu saja”. Iman hanya dipandang sekedar identitas (tanda), bukan sebagai roh penyemangat dan sumber yang memberi daya hidup bagi umat.

Iman harus tampak dalam tindakan nyata. Untuk itulah semangat apostolisitas (kerasulan) perlu didengungkan kembali. Dalam menghayati iman, selayaknya kita perlu meneladani para rasul, yang terus-menerus mewartakan iman melalui kesaksian hidup mereka sehari-hari.

Renungan APP tahun ini disusun untuk mengajak umat beriman menyegarkan kembali pemahaman tentang gerakan APP yang diselaraskan dengan situasi zaman dan situasi hidup beriman Gereja KAS saat ini. Tema APP tahun 2025 adalah: BERSEKUTU DALAM DOA, PERTOBATAN DAN PENGHARAPAN.

Selain merenungkan soal semangat doa, puasa dan derma, melalui bahan APP 2025 ini, umat akan diajak untuk menyegarkan kembali semangat dasar gerakan APP. Pada pertemuan awal, umat diajak menyegarkan kembali gagasan tentang pelaksanaan gerakan APP (pertemuan 1). Merenungkan bacaan lnjil yang dibacakan pada Rabu Abu (Matius 6:1-6, 16-18), umat akan diajak untuk mendalami olah rohani dan relasinya dengan Allah dalam doa (pertemuan 2).

Kemudian umat diajak untuk olah rohani bagi dirinya sendiri dalam puasa dan pantang (pertemuan 3) dan olah rohani dalam relasinya dengan sesama melalui derma (pertemuan 4). Pada bagian akhir, umat akan diajak mengenal keluasan jejaring solidaritas dan dana-dana sosial yang dikelola oleh Gereja (pertemuan 5).

Seluruh renungan selama masa Prapaskah tahun ini ditempatkan dalam semangat tahun Yubelium 2025, yaitu membangun dunia penuh harapan bagi semua dan bagi kesejahteraan masyarakat Indonesia. Untuk itu, Tema APP dipilih: “Bersekutu dalam Doa, Pertobatan dan Pengharapan” yang didalamnya tersirat beberapa gagasan, yakni:

1) “Bersekutu dalam doa” menunjuk pada pertemuan di tiap lingkungan selama 5 kali dalam masa Prapaskah;
2) “Pertobatan” menunjuk pada sub tema pertemuan 2, 3 dan 4 yang merenungkan tentang pertobatan, membangun relasi yang harmonis dengan Allah dalam doa, dengan diri sendiri dalam puasa dan pantang serta dengan sesama dengan bersedekah / berderma.
3) “Pengharapan” menunjuk pada sub-tema pertemuan 1 dan 5 yakni: dengan memahami makna dana sosial dalam Gereja serta berbagai macam jejaring pengelolaannya, umat diajak terlibat dalam pengumpulan, pengelolaan, penyalurannya. Pemanfaatan dana sosial Gereja perlu dikawal sehingga semakin berbuah dalam berbagai macam tindakan sosial yang menumbuhkan pengharapan bagi seluruh masyarakat.

Tahun Yubelium, Tahun Pengharapan

lstilah Yubileum diambil dari bahasa lbrani yang artinya domba jantan. Dalam tradisi Yahudi, tanduk domba jantan adalah bahan untuk membuat sangkakala, terompet yang dibunyikan sebagai tanda akan adanya peristiwa penting bagi masyarakat. Salah satunya adalah tanda dimulainya perayaan Yubelium.

Tahun Suci ini biasa dirayakan setiap 25 tahun sekali [Im 25:10]. Meskipun demikian, Paus memiliki hak untuk menyelenggarakan Tahun Suci Luar Biasa sesuai dengan kebutuhan seperti Tahun Suci Iman 2013 dan Tahun Suci Kerahiman Allah 2016 yang lalu.

Secara sosial-ekonomi perayaan Yubelium memiliki makna: pengampunan dari kesalahan, pembebasan dari ikatan perbudakan dan pengembalian warisan yang telah dijual [Im 25:8-55]. Secara teologis, tahun Yubelium memiliki makna: hadirnya kesempatan bagi seluruh ciptaan: manusia, tanah, hewan, tumbuhan lepas dari segala macam belenggu untuk hidup dalam situasi yang lebih bermartabat. Manusia diajak untuk membangun hidup yang mencerminkan hubungan baik dengan Allah, sesama, dan seluruh alam ciptaan.

Pada tanggal 9 Mei 2024 lalu, Paus Fransiskus secara resmi mengumumkan Tahun Yubileum 2025. Tahun Yubileum telah kita mulai pada tanggal 24 Desember 2024 yang lalu dan akan berakhir pada tanggal 6 Januari 2026 yang akan datang. Tema yang diangkat untuk tahun Yubelium 2025 ini adalah “Peziarah Pengharapan”. Dengan tema ini, Bapa Suci mengajak umat beriman untuk menemukan kembali spiritualitas sebagai ciptaan Allah, manusia yang hadir sebagai “peziarah di bumi”
bukan sebagai “penguasa dunia”.

Di tahun suci ini, selain diajak untuk hidup dengan penuh harapan, kita juga diajak untuk dapat menghayati hidup yang menghadirkan harapan bagi seluruh alam ciptaan. Artinya, kita diajak untuk menjaga kelestarian alam dan membangun kehidupan yang sejahtera dan bermartabat bagi sesama manusia. Seperti tahun-tahun sebelumnya, pertemuan APP dilaksanakan dalam bentuk sarasehan. Pola setiap pertemuan prapaskah di tiap lingkungan adalah sbb:

  1. Tujuan Pertemuan
  2. Nyanyian Pembuka (pilihlah lagu yang sesuai)
  3. Tanda Salib dan Salam
  4. Pengantar
  5. Seruan Tobat
  6. Doa Pembuka
  7. Bacaan Kitab Suci

Panduan Adven 2024 Keuskupan Agung Semarang, Unduh PDF

Panduan Adven 2024

Panduan Adven 2024 Keuskupan Agung Semarang, Download PDF

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus. Pada tanggal 1 Desember 2024 ini kita resmi memasuki masa Adven, sebuah periode yang penuh makna dan kaya akan ajaran spiritual bagi setiap umat beriman.

Adven bukan sekadar waktu yang mengantarkan kita menuju perayaan Natal, tetapi lebih dari itu, Adven adalah masa penantian yang penuh harapan, pertobatan, dan persiapan batin untuk menyambut kehadiran Tuhan kita, Yesus Kristus.

Adven: Penantian yang Penuh Harapan

Kata Adven sendiri berasal dari bahasa Latin adventus, yang berarti “kedatangan” atau “penantian”. Dalam konteks iman kita, ada dua kedatangan yang kita nantikan selama masa Adven:

  1. Kedatangan Kristus yang Pertama: Kita merenungkan peristiwa luar biasa di Betlehem, ketika Allah yang Mahakuasa rela lahir sebagai manusia, sebagai bayi yang sederhana di palungan. Adven mengajak kita untuk menyadari kembali betapa besar kasih Allah yang mengutus Putra-Nya untuk menyelamatkan dunia.
  2. Kedatangan Kristus yang Kedua: Adven juga mengarahkan hati kita kepada kedatangan Kristus yang kedua pada akhir zaman. Sebagai umat beriman, kita dipanggil untuk senantiasa berjaga-jaga, hidup dalam iman yang teguh, dan siap menyambut-Nya kapan pun Ia datang.

Kekhasan-kekhasan yang gereja berikan kepada masa adven. Pertama: selama masa ini warna liturgi yang digunakan adalah warna ungu sebagai lambang pertobatan dan penyesalan. Kedua tema ini mengisi hampir semua bacaan-bacaan suci sepanjang masa adven.

Kemudian kekhasan yang kedua yaitu, selama masa ini kidung Kemuliaan tidak dinyanyikan dalam perayaan Ekaristi. Lagu Kemuliaan baru akan dinyanyikan kembali saat masa Natal.

Selain itu ciri khas yang paling menonjol adalah kehadiran corona atau lingkaran adven. Di dalam gereja maupun dalam doa-doa di lingkungan atau wilayah, biasanya ditempatkan lingkaran Adven atau corona Adven.

.

Panduan Adven 2024

Secara berurutan, masa Adven berlangsung selama empat minggu sebelum Hari Raya Natal, masa ini dimulai pada hari Minggu yang terdekat dengan tanggal 30 November setiap tahunnya. Kita juga mengetahui bahwa pada setiap minggunya ada pesan dan makna yang mendalam, yaitu:

  • Minggu Pertama: Kita diajak untuk merenungkan harapan. Harapan akan kedatangan Sang Juru Selamat yang membawa terang ke dalam kegelapan dunia.
  • Minggu Kedua: Kita merenungkan panggilan untuk bertobat. Yohanes Pembaptis mengingatkan kita untuk mempersiapkan jalan bagi Tuhan dengan memperbarui hidup dan membersihkan hati kita.
  • Minggu Ketiga: Minggu ini dikenal sebagai Gaudete Sunday atau Minggu Sukacita. Warna liturgi berubah menjadi merah muda, melambangkan sukacita yang mulai terasa karena kedatangan Tuhan sudah dekat.
  • Minggu Keempat: Kita diajak untuk merenungkan cinta kasih Allah yang begitu besar, yang dinyatakan melalui inkarnasi Yesus Kristus.

Lingkaran (Corona) dan Lilin Adven

Beberapa elemen penyusun korona yaitu, rangkaian daun cemara segar (atau daun lain berwarna hijau) dalam bentuk lingkaran dan empat buah lilin. Kemudian apa makna simbol itu? Rangkaian daun cemara tersebut melambangkan hidup yang saling berjalinan. Kita hidup dalam satu persekutuan jemaat yang saling berkaitan, berhubungan, serta saling membutuhkan.

Bentuk lingkaran juga melambangkan simbol keabadian dan belas kasihan Tuhan Yesus Kristus yang tanpa akhir. Lalu mengapa lilin yang ada dalam rangkaian corona adven berjumlah empat? Lilin ini melambangkan empat minggu lamanya kita mempersiapkan diri menyambut kedatangan Kristus sampai pada Hari Raya Natal.

Setiap minggunya satu lilin akan dinyalakan hingga keempatnya menyala bersama-sama sampai pada minggu keempat. Penyalaan lilin melambangkan perpindahan kita dari kegelapan dunia menuju terang dunia. Satu persatu lilin yang menyala setiap minggu, melambangkan cahaya sejati yang semakin hari semakin terang, dan juga lambang kedatangan Kristus, Cahaya Sejati, yang semakin dekat.

Keempat lilin itu terdiri dari 3 lilin berwarna ungu dan 1 lilin berwarna merah muda. Lilin-lilin berwarna ungu akan melambangkan tobat, keprihatinan, matiraga atau berkabung, persiapan dan kurban. Sedangkan lilin berwarna merah muda yang dinyalakan pada Minggu Adven ketiga, melambangkan Minggu Gaudete–sebagai lambang Sukacita, pertanda persiapan kita telah memasuki masa akhir.

.

Seperti yang kita ketahui bersama, masa Adven adalah undangan bagi kita semua untuk memperbarui diri. Gereja mengajak kita untuk memperbanyak doa, melakukan pertobatan, dan berbagi kasih dengan sesama, terutama mereka yang membutuhkan. Tindakan-tindakan ini adalah cara kita mempersiapkan hati sebagai tempat kelahiran Kristus.

Kita juga diajak untuk merenungkan Sabda Tuhan dengan lebih tekun. Bacaan-bacaan Kitab Suci selama masa Adven penuh dengan nubuat dan janji-janji Allah yang digenapi dalam diri Yesus. Setiap bacaan membawa pesan harapan, penghiburan, dan panggilan untuk hidup kudus.

Adven adalah masa yang penuh kedamaian. Di tengah kesibukan dunia, kita diundang untuk berhenti sejenak, merenung, dan merasakan kehadiran Allah dalam hidup kita. Marilah kita menggunakan waktu ini untuk menyiapkan hati kita dengan sebaik-baiknya.

Semoga dalam masa Adven ini, kita semua semakin dekat dengan Tuhan dan siap menyambut kelahiran Yesus dengan hati yang penuh iman, harapan, dan kasih. Tuhan memberkati.

.

Download Bahan PDF melalui tautan berikut:

  1. Bahan Sosialisasi (klik)

  2. Panduan Adven 2024 Bahasa Indonesia (klik)

  3. Panduan Adven 2024 Bahasa Jawa (klik)

  4. Panduan Adven 2024 Kategorial (klik)

.

Umat Paroki Jetis Bersama Warga Kricak Gotong Royong Merti Sungai Winongo

Kota Yogyakarta. Umat Katolik dari Paroki St.Albertus Agung Jetis bersama warga RT 14 RW 03 Jatimulyo Kricak, mengadakan kegiatan Merti Sungai Winongo, Minggu (14/07/2024).

Kegiatan dipusatkan pada area sempadan dan aliran sungai yang melewati wilayah mereka, yang bersebelahan dengan Kampung Kricak Kidul dan Kampung Bener.

Kegiatan Merti Sungai yang diprakarsai oleh Tim Pelayanan Kemasyarakatan Gereja St. Albertus Agung Jetis ini juga melibatkan komunitas Tagana Kricak, dan perangkat pemerintahan setempat. Yakni Pemerintah Kalurahan Kircak, Polsek Tegalrejo dan Koramil Tegalrejo.

Kegiatan diawali dengan penyerahan alat kebersihan dan tanaman hias secara simbolis oleh Pastor Paroki Jetis, Romo Vincentius Suparman Pr., kepada ketua RT 14 Joko Hariyanta.

Romo Vincentius Suparman Pr., menyerahkan bantuan alat kebersihan kepada ketua RT 14 Joko Haryanta

Romo Parman mengingatkan agar semua manusia beriman memiliki tanggung jawab melestarikan dan menjaga keutuhan ciptaan Tuhan.

Karena itu, gotong royong yang dilakukan warga bersama umat Paroki Jetis menjadi hal baik  agar manusia  ikut mencintai lingkungan dan bersama-sama menjaga serta merawat lingkungan.

“Membangun paseduluran dengan bersama-ama merawat dan menjaga keutuhan cipataan adalah tugas umat beriman.

Maka, kegiatan Merti Sungai ini perlu kita dukung sebagai upaya membangun paseduluran agar kita manusia ikut mencintai, bersama-sama menjaga dan merawat lingkungan”, kata romo Parman.

Ketua RT 14 Joko Hariyanta, menyampaikan terima kasih atas dukungan umat Katolik Paroki Jetis yang peduli pada lingkungan di wilayahnya. Terutama dalam mendukung upaya warga memanfaatkan area pinggiran sungai menjadi produktif.

“Dulu tempat ini hanya tanah kosong yang kotor. Sejak dua tahun terakhir, kami mulai membenahi. Harapan kedepan, tempat ini bisa menjadi ruang interaksi sosial sekaligus untuk meningkatkan perekonomian warga”, terang Joko.

Kegiatan Merti Sungai dimulai sekitar pukul 06.30 WIB. Diawali dengan bersih-bersih lingkungan dan pemilahan sampah.

Suasana Gotong Royong Warga bersama Umat katolik Paroki Jetis

Sejak dua tahun terakhir, warga di RT 14 telah melaksanakan pengelolaan sampah mandiri dengan koordinator pengurus RT. Setiap hari, petugas akan mengambil sampah kemudian dibawa ke tempat pembuangan sampah mandiri.

Joko Hariyanta mengakui pengelolaan sampah yang dilakukan warganya masih sangat sederhana. “Iya masih sangat sederhana, apa yang bisa dilakukan warga saja. Namun, lebih baik daripada harus menunggu pemerintah”, jelas Joko.

Sebagaimana diketahui, saat ini Yogyakarta berada dalam fase darurat sampah, setelah Tempat Pembuangan Sampah terpadu (TPST) Piyungan ditutup sejak Maret 2024.

Dampak dari penutupan TPST Piyungan membuat warga membuang sampah seenaknya, termasuk ke Sungai. Maka dengan kegiatan Merti Sungai ini, menjadi momentum untuk menyadarkan dan mengingatkan warga dan pemerintah untuk sama-sama peduli pada lingkungan.

Termasuk mengelola sampah di lingkungannya. Jika perlu meningkatkan nilai ekonomi sampah melalui daur ulang.

Sementara itu Umat paroki jetis Bersama Komunitas Tagana Kricak juga turun ke Sungai untuk membersihkan sungai dari tumpukan sampah.

Komunitas Tagana Kricak bersama Umat Katolik Paroki Jetis melakukan aksi bersih sampah di pinggiran Sungai Winongo

Dari pantauan di lapangan, di sepanjang Sungai Winongo ini masih banyak ditemukan tumpukan sampah plastik yang tersangkut dipinggiran talud. Dampaknya selain membuat pemandangan tidak sedap, juga menimbulkan pencemaran air dan dapat menyebabkan banjir.

Mendapat Dukungan Lurah

Lurah Kricak, May Christianti, yang hadir juga menyampaikan apresiasi atas insiaitif dan peran serta warga RT 14 bersama umat katolik Paroki Jetis yang mengadakan kegiatan Merti Sungai.

Ia berharap kegiatan ini bisa terus berlanjut dan dilakukan oleh warga di RT lain, agar pinggiran Sungai Winongo di wilayah Kricak menjadi bersih dan asri.

Lurah Kricak May Christianti, SH. (hijab hijau), melakukan penanaman tanaman hias di pinggir jalan setapak di area sempadan Sungai Winongo

Christianti juga menyatakan dukungan agar area sempadan sungai di RT 14  ini bisa dikembangkan menjadi ruang interaksi sosial yang produktif untuk meningkatkan perekonomian masyarakat.

“Kami terus mendorong agar tanah yang ada ini bisa bisa dimanfaatkan secara luas. Namun, saat ini masih terkendala status kepemilikan yang tidak jelas.

Foto Bersama warga RT 14 dan umat katolik Paroki Jetis

Harapannya bila area ini menjadi Ruang Terbuka Hijau Publik maka  untuk pembangunan fasilitas-fasilitas yang ada diatasnya bisa dianggarkan oleh pemerintah kota Yogyakarta”, terang Christianti.

Acara Merti Sungai diakhiri dengan dahar kembul dan hiburan dari masyarakat setempat.

.

.

Penulis & Foto: Wempi Gunarto
Editor: Frans

.

.

Sarasehan Katekese Pendidikan: Menjadi Ortu EMAS, Cara Menjalin Hubungan dengan Gen Z

Salah satu ciri khas Generasi Z (Gen Z) adalah kemelekatan pada internet sehingga mereka tidak bisa dipisahkan dengan gawai. Salah satu dampaknya, anak-anak Gen Z dikenal sebagai generasi mager (males gerak) dan lebih memilih mengutarakan permasalahannya melalui media sosial, dibanding ke orang terdekat, dalam hal ini orangtua. Karena itu orangtua diharapkan lebih dapat memahami kebutuhan anak-anaknya yang tergolong sebagai Gen Z.

Hal tersebut menjadi diskusi dalam sarasehan katekese Pendidikan dengan tema “Mengenali Karakteristik Anak-anak Generasi Z dan Model Pendampingannya”. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Dewan Pastoral Paroki Gereja Santo Albertus Agung Jetis Yogyakarta, Jumat (24/05/24) menghadirkan Psikolog Stella Vania Puspitasari M.Psi.

Saat membuka kegiatan sarasehan, pastor Paroki St. Albertus Agung Yogyakarta, Romo Vincentius Suparman Pr., mengatakan sekolah-sekolah Kristiani, khususnya yang dikeloloa Yayasan Katolik saat ini menghadapi tantangan besar mengupayakan sistem Pendidikan yang mampu menyikapi perkembangan zaman. Oleh karena itu melalui sarasehan ini diharapkan, para orang tua, guru dan pemangku kepentingan pendidikan lainnya bisa mendapatkan masukan dalam mendidik Gen Z.

Romo Vincentius Suparman, Pr.

“Kedepan sekolah-sekolah Katolik harus memikirkan berbuat apa agar dapat berperan serta membimbing generasi-generasi yang mampu menghadapi perkembangan zaman yang berubah dengan cepat” ujar Romo Parman.

Oleh karena itu, Romo Parman mengapresiasi kegiatan katekese Pendidikan yang diadakan ditingkat paroki ini, selain katekese Pendidikan yang juga diadakan di lingkungan-lingkungan selama bulan Maria ini.

.

Gen Z: Generasi Instan yang Rapuh

Psikolog Stella Vania membuka pemaparan dengan latar belakang munculnya banyak sebutan generasi, yakni Generasi Baby Boomer (1940-1959), Generasi X (1960-1979), Generasi Y/Millenial  (1980-1994) dan Generasi Z (1995-2010) yang erat kaitannya dengan bidang ekonomi marketing.  “Pada awalnya pembagian generasi ini digunakan untuk memudahkan segmentasi pemasaran produk agar tepat sasaran. Namun, saat ini penggolongan generasi ini juga digunakan di bidang-bidang lain”, terang Vania. Bahkan saat ini juga telah ada Generasi Alpha (Gen Alpha) untuk anak-anak yang lahir setelah tahun 2010, dan akan diikuti sebutan untuk generasi-generasi berikutnya, tambah Vania.

Menurut Vania Generasi Z  menjadi generasi yang mendominasi kehidupan di bumi saat ini. Mereka yang tergolong sebagai Gen Z rata-rata saat ini sudah menginjak remaja atau sedang duduk di bangku kuliah. Gen Z sendiri berasal dari kata Zoomer karena mereka lahir dan tumbuh bersamaan dengan perkembangan teknologi yang sangat pesat, sehingga mereka memiliki kesempatan untuk bisa mengikuti perkembangan teknologi dan internet secara dekat.

Bapak Rosario Guntur dan Psikolog Stella Vania

Sebagai generasi yang tumbuh erat dengan perkembangan teknologi membuat Gen Z terbiasa hidup di lingkungan yang serba cepat, dan dimudahkan dalam berbagai hal karena semua dapat diakses melalui gawai, diantaranya telepon genggam. Selain itu, Gen Z merupakan generasi yang tumbuh di era ekonomi keluarga yang rata-rata lebih stabil, sehingga Gen Z terbiasa dengan lingkungan yang nyaman dan terpenuhi baik secara materi.

Ciri khas lain yang menjadi keunikan pada Gen Z adalah mereka cukup kritis dalam menyikapi informasi, yang juga terbawa pada keseharian mereka. Oleh karena itu, terkadang orangtua merasa Gen Z ini sulit dinasehati, bisa saja hal ini disebabkan karena Gen Z tumbuh di era dimana semua informasi berdatangan dari berbagai sisi dan memang dibutuhkan kemampuan untuk memilah informasi yang dapat diterima, sehingga Gen Z akan mempertanyakan informasi yang diterima jika tanpa adanya dasar atau bukti yang valid.

Di sisi lain, karena Gen Z hidup di zaman yang serba cepat, Gen Z menjadi kreatif, kurang sabar dan kerap mengharapkan hasil yang instan. Karena kurang sabar dalam menjalani prosesnya, sehingga terkadang mereka mudah menyerah ketika dihadapkan pada kesulitan.

“Ibarat buah strawberry, Gen Z terlihat menarik, kuat, namun ternyata rapuh di dalam” jelas Vania.

.

Menghadapi Gen Z dengan Menjadi Orang tua EMAS

Menyikapi keunikan yang menjadi perbedaan tajam antara orang tua di generasi X, Y dengan Gen Z, Vania memberikan tips agar orangtua bisa nyambung dengan anak-anak Gen Z, yakni dengan menjadi orangtua EMAS, yang merupakan akronim dari Empati, Minat, Apresiasi, dan Seimbang.

Salah seorang peserta sedang mengajukan pertanyaan pada sesi tanya jawab

Empati artinya orangtua perlu mencoba memahami sudut pandang anak dengan percaya bahwa anak memiliki sudut pandang sendiri yang berharga. Minat, artinya orangtua perlu memahami apa yang menjadi minat anak dan memberi kesempatan mereka untuk melakukan eksplorasi. Apresiasi, artinya orangtua perlu terus mendorong anak Gen Z untuk mencoba hal-hal yang ditekuni dengan memberi apresiasi dan motivasi karena Gen Z sebenarnya adalah anak yang haus akan prestasi. Tips terakhir Seimbang, artinya orang tua perlu menyeimbangkan antara aturan kedisiplinan dengan kehangatan dan kasih sayang.

“Jangan stress bapak ibu, Gen Z seperti halnya generasi-generasi lain adalah adalah generasi yang perlu didengar. Karena mereka terbiasa hidup dengan teknologi maka orangtua juga perlu menyesuaikan diri dengan dunia anak Gen Z”, saran Vania.

Kegiatan sarasehan katekese Pendidikan ini diikuti oleh sekitar 60 orang tua calon penerima sakramen Krisma, dan dimoderatori oleh bapak Rosario Guntur Harimawan, selaku wakil ketua Dewan Pastoral Paroki St. Albertus Agung Jetis.

.

(Penulis: Wempi/Fotografer: Ryan)

.

.

Menyongsong Kelahiran Kristus, Juru Selamat Dunia : Homili Misa Minggu Adven III (Minggu, 17 Desember 2023)

Minggu Adven Ketiga (III) dalam liturgi merupakan minggu bahagia karena umat diajak untuk menantikan kelahiran Sang Raja Damai dengan penuh suka cita. Melalui bacaan-bacaan sabda Tuhan kita diajak untuk merenungkan dan semakin meneguhkan dalam menyongsong kehadiran Tuhan kita Yesus Kristus.

Sebentar lagi kita akan merayakan hari raya Natal ditandai dengan sudah dinyalakannya lilin berwarna pink (merah muda) yang menjadi tanda sebagai minggu gembira, minggu di mana setelah kita melakukan pertobatan melalui penerimaan Sakramen Tobat kita di ajak untuk mulai memikirkan bagaimana menyongsong Dia yang datang ke dunia dengan lebih bergembira. Allah telah berkenan peduli kepada manusia yang hidup di dalam kesusahan, penderitaan, kesedihan, ketakutan, dan malu karena dosa. Allah bersedia untuk mengampuni segala kelemahan dan dosa-dosa kita. Dalam Injil hari ini (Yohanes 1:6-8.19-28) Yohanes membuka pintu untuk kehadiran Mesias dan menyiapkan jalan bagi orang-orang yang mau menyambut kedatangan Tuhan. Di era modern ini, kita semua dipanggil menjadi Yohanes-Yohanes baru untuk mempersiapkan diri dan sesama untuk mulai melakukan pertobatan dengan kerendahan hati di hadapan Allah dan Gereja. Pada bacaan pertama (Yesaya 61:1-2A.10-11) kita menyiapkan hati untuk Tuhan karena ada roh yang tinggal dan menetap dalam hati kita untuk mengurapi dan menyampaikan kabar baik bahwa ada belas kasih Allah yang membukakan pintu kerahiman-Nya untuk setiap orang yang datang dalam keadaan apa pun. Di mana ketika orang menantikan kehadiran Tuhan lalu dihidupi dengan roh Tuhan yang ada dalam diri kita masing-masing, maka buahnya adalah suka cita. Tetaplah berdoa dan mengucap syukur dalam segala hal sebab itulah yang dikehendaki Allah bagi kamu di dalam Kristus Yesus jangan padamkan roh-roh baik ini. Kita juga diajak untuk hidup bijaksana dengan membiasakan diri berbuat baik dan menjauhkan diri dari segala jenis kejahatan serta berwaspada karena hal kecil pun juga bisa menjadi awal mula kejahatan.

Semoga Allah dalam damai sejahtera menguduskan kita seluruhnya terlebih roh, jiwa, dan tubuhmu terpelihara sempurna serta tidak bercacat pada saat kedatangan Yesus Kristus. Mari kita sucikan dan pulihkan diri dengan menerima Sakramen Tobat. Semoga kita semakin setia untuk mencari kehendak Allah dan mengikuti jalan Allah yakni berbuat baik kepada semua orang tanpa terkecuali.

.

.

Sumber :

Misa Online 17 DESEMBER 2023, Pk 08.00 WIB | HARI MINGGU ADVEN III | MINGGU GAUDETE (https://www.youtube.com/watch?v=7s-lzwVCmuE&t=1279s)

Bahan Panduan Adven Lingkungan Bahasa Indonesia (https://kas.or.id/panduan-adven-2023-keuskupan-agung-semarang/)

.

.

Penulis : Katharina Tri Wahyuni A.

Editor : Frans

Antara Keselamatan dan Pertobatan : Homili Misa Minggu Adven II (Minggu, 10 Desember 2023)

Pada Minggu Adven Kedua (II) ini kita bersama-sama diajak membuka hati untuk mempersiapkan diri supaya lebih pantas menyambut kedatangan Tuhan yang telah menebus dosa-dosa kita sehingga dapat semakin setia dan mampu menghadirkan kasih dalam semangat pertobatan.

Dalam sabda Tuhan yang bisa kita renungkan pada minggu kedua Adven ini, merujuk pada pertanyaan : apakah panjenengan memilih untuk diselamatkan dulu baru bertobat atau bertobat dulu baru diselamatkan? Hal ini bisa direnungkan sendiri karena setiap orang memiliki makna pemikiran yang panjang. Namun kesadaran akan kasih karunia Tuhan itu menjadi dasar pijakan kita bersama bahwa Allah yang lebih dahulu memanggil kita untuk menerima keselamatan. Lalu untuk menerima atau tidaknya keselamatan itu menjadi sebuah keputusan yang membutuhkan satu sikap mau berupaya untuk menerima dengan sungguh-sungguh dengan ambil bagian untuk menanggapi ketika Allah mau datang ke dalam diri kita dengan wujud keseriusan pertobatan. Maka pada minggu-minggu ini, Gereja memberikan kesempatan kepada umat Sakramen Tobat agar bisa menjadi sarana pemulihan, melayakkan, dan memantaskan diri kita menyambut kedatangan Tuhan secara nyata. Keseriusan hati dan kesungguhan iman kita akan tampak apabila kita menggunakan hak dan kewajiban sebagai umat Allah dalam kehidupan.

Mari kita menggunakan masa-masa baik yang penuh rahmat ini untuk mempersiapkan hati datang kepada-Nya, seperti pada bacaan pertama (Yesaya 40:1-5.9-11) Allah datang memanggil kita untuk datang kepada-Nya dengan kekuatan dan kuasa yang sempurna menyelamatkan manusia. Seperti seorang gembala, Ia akan menggembalakan kawanan ternak dan menghimpunnya dengan tangan-Nya. Anak-anak domba dipangku-Nya dan induk-induk domba dituntun dengan hati-hati. Semua ternak diperlakukan dengan baik, tidak ada kekerasan dalam merawatnya. Sebab Tuhan tau apabila ternak diperlakukan dengan keras maka ternak akan memberontak. Gambaran ini juga terjadi dalam diri kita, setiap kali kita melakukan sesuatu dengan paksaan maka kita akan menolak atau berimbas pada hasilnya yang kurang baik. Tapi ketika dengan kesadaran sendiri karena merasa membutuhkan bahkan dengan biaya yang besar pun berangkat dengan sukacita. Ketika seseorang telah berani untuk bertobat dan memperbarui diri sendiri dari dalam hati, disanalah peranan Roh Kudus. Namun kita sebagai manusia juga memiliki peranan untuk saling mengingatkan dan mengajak mereka yang menjauh dari Tuhan serta menemukan mereka yang “hilang” untuk kembali bersama-sama ke jalan keselamatan Tuhan. Tapi jika tugas ini terlalu berat, kita bisa mulai dari diri sendiri : adakah sesuatu yang hilang dalam diri kita yang harus kita temukan? Apa mungkin hilang relasi kita dengan Tuhan sehingga kita sendiri pun semakin menjauh?

Ketika melihat orang-orang yang pergi meninggalkan Tuhan Yesus, rasa-rasanya banyak yang belum memahami betul siapakah Tuhan Yesus itu. Maka dalam masa persiapan ini kita diajak untuk menemukan Tuhan. Kita juga menantikan langit dan bumi yang baru yang diberkati oleh Tuhan dengan keselamatan-Nya. Bacaan Injil (Markus 1:1-8) juga mengajak kita untuk menyiapkan semuanya itu dengan sungguh-sungguh. Semoga kita yang mencari dapat menemukan, yang mengetuk akan dibukakan pintu, dan akhirnya rahmat Tuhan itu dicurahkan. Semoga dua minggu ke depan kita semakin menyadari Tuhan semakin dekat untuk kita.

.

.

Sumber :

Misa Online 10 DESEMBER 2023, Pk 08.00 WIB | HARI MINGGU ADVEN II (https://www.youtube.com/watch?v=m8-10Kt7RbA&t=135s)

Bahan Panduan Adven Lingkungan Bahasa Indonesia (https://kas.or.id/panduan-adven-2023-keuskupan-agung-semarang/)

.

.

Penulis : Katharina Tri Wahyuni A.

Editor : Frans

Berjaga-jagalah untuk Kedatangan Tuhan : Homili Misa Minggu Adven I (Minggu, 3 Desember 2023)

Memasuki masa Adven, masa di mana kita mempersiapkan jiwa dan merefleksi diri untuk menyambut kelahiran Sang Juru Selamat di tengah-tengah situasi kehidupan. Terlebih pada Minggu Adven Pertama (I) ini kita bersama-sama diajak untuk berjaga-jaga menantikan kedatangan Tuhan kita Yesus Kristus untuk merayakan kelahiran-Nya yang menjadi cahaya untuk menuntun kita dalam kehidupan sehari-hari. Serta kita juga diajak untuk selalu berjaga-jaga karena kedatangan Tuhan dalam hidup ini tidak pernah kita ketahui saat dan waktunya, hanya dengan bersiap-siaga kita mampu menyambut kedatangan Tuhan untuk menerima rahmat karunia keselamatan bagi kita semua.

Dalam Injil yang kita renungkan hari ini (Markus 13:33-37), berkali-kali kita diingatkan untuk berjaga-jaga, bersiap-siaga, dan bersiap-sedia ketika Tuhan hadir di tengah-tengah kita untuk memberikan rahmat kehidupan yang paling agung, yaitu kehidupan bersama dengan Tuhan. Namun hal ini dapat dikatakan juga bahwa Tuhan menyampaikan kepada kita untuk senantiasa berjaga, kalau sewaktu-waktu kita dipanggil Tuhan untuk dibawa kepada kesatuan dengan para kudus-Nya di surga, sehingga kembali kepada asal mula umat manusia diciptakan dan ambil bagian dalam kebahagiaan abadi bersama Tuhan.

Dalam berjaga-jaga ini kita dituntun dalam cahaya Kristus yang disimbolkan dengan upacara pemberian lilin bernyala dengan kata-kata “Terimalah cahaya Kristus dan jagalah cahaya Kristus itu sampai nanti masuk ke dalam kehidupan yang kekal.” pada saat ibadat Baptis. Yang berarti kita menjaga cahaya Kristus yang ada di dalam diri kita yang telah menerangi dan menuntun dalam kehidupan dengan melaksanakan dan meneladani kebaikan-kebaikan yang diajarkan oleh Yesus. Kebaikan ini dapat tertanam dalam diri untuk menjaga perilaku dan tutur kata supaya tidak mudah menyakiti orang lain. Menjaga perasaan hati kita supaya tidak mudah baper (bawa perasaan) dan tersinggung karena apa-apa dirasakan menyakiti. Selain itu kita juga harus menjaga keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat, khususnya dalam keluarga dengan saling menjaga kerukunan dan kebersamaan antar anggota keluarga.

Semoga dengan berjaga-jaga dan dengan dituntun cahaya Kristus, kita dapat senantiasa meneladani kebaikan Tuhan Yesus sampai kepada keselamatan yang sediakan oleh Tuhan sendiri pada saatnya nanti ketika Tuhan telah hadir dalam kehidupan kita masing-masing.

.

.

Sumber :

Misa Online 3 DESEMBER 2023, Pk 08.00 WIB | HARI MINGGU ADVEN I (https://www.youtube.com/watch?v=QTJNaclgGXw&t=422s)

Bahan Panduan Adven Lingkungan Bahasa Indonesia (https://kas.or.id/panduan-adven-2023-keuskupan-agung-semarang/)

.

.

Penulis : Katharina Tri Wahyuni A.

Editor : Frans

Panduan Adven 2023 Minggu Ke-1 : BERJAGA MENYONGSONG RAJA DAMAI

panduan adven 2023

Pengantar
Pertemuan pertama – Minggu Harapan – dengan tema BERJAGA UNTUK HADIRNYA SANG RAJA DAMAI. Pada pertemuan ini, umat diajak untuk berjaga – jaga menantikan kedatangan Sang Raja Damai. Dinamika pertemuan pertama ini akan dilakukan dengan merenungkan bacaan dari Injil Markus (Mrk 13:13-37) dan memetik inspirasi dari tokoh IJ Kasimo. Gagasan utama pertemuan ini adalah umat senantiasa berhadap, berjaga, dan bersiap melalui semakin terlibat untuk membawa damai di masyarakat. Gagasan utama ini dilengkapi dengan petikan inspirasi dari tokoh nasional yang menjunjung nilai – nilai kebangsaan dan Kekatolikan dalam kehidupan berbangsa dan bertanah air.

Tujuan
1. Umat mampu membangun kesadaran bahwa kelahiran Yesus Kristus sungguh membawa damai untuk semua manusia.
2. Umat diharapkan mampu mengambil inspirasi dari tokoh IJ.Kasimo sebagai teladan keterlibatan dalam hidup berbangsa dan bernegara, khususnya dalam konteks menjelang pesta demokrasi di tahun 2024 mendatang.

Proses Pertemuan
A. Pembuka
1. Nyanyian Pembuka
Pertemuan dapat dibuka dengan lagu-lagu yang memberikan nuansa berjaga-jaga. (Misalnya PS 442: O datanglah Imanuel atau MB 324: O Tuhan Datanglah); atau memilih sendiri lagu yang sesuai dengan tema Adven Pertama

2. Pengantar Singkat Pertemuan
Dalam pertemuan Adven pertama ini, kita diajak menyongsong kedatangan Sang Raja Damai, yaitu Kristus dalam konteks mempersiapkan perhelatan besar bangsa kita dalam menghadapi Pemilu mendatang di tahun 2024. Dalam pertemuan pertama ini kita diajak senantiasa berjaga dan bersiap agar semakin terlibat untuk membawa damai di masyarakat terutama di tengah hiruk pikuk perpolitikan bangsa kita ini. Melalui Adven ini, kita juga akan diperkaya dengan petikan inspirasi dari tokoh nasional yang menjunjung nilai – nilai kebangsaan dan Kekatolikan dalam kehidupan berbangsa dan bertanah air, yaitu IJ. Kasimo.

3. Doa Pembuka
Pertemuan pertama dapat dibuka dengan doa oleh pemandu atau umat yang dipilih
Allah Bapa yang Mahabaik, kami umat-Mu berkumpul di sini untuk bersama-sama mendalami pertemuan Adven yang ke I dengan tema Berjaga Menyongsong Raja Damai. Kami mohon hadirlah di tengah-tengah kami dan bantulah kami untuk mampu membangun kesadaran bahwa kelahiran Yesus Kristus sungguh membawa damai untuk semua manusia. Begitu juga kami mampu berjaga dalam konteks kami saat ini. Di masa kini, kami pun harus berjaga-jaga untuk melakukan sesuatu yang terbaik demi Indonesia Damai khususnya di masa persiapan menghadapi Pemilu ini. Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara Kami. Amin.

B. Pengalaman dan Inspirasi Iman
1. Menimba Inspirasi dari Kisah IJ Kasimo.
Kasimo adalah salah satu pendiri partai politik “Katholiek Djawi” yang lalu diubah namanya menjadi “Perkoempoelan Politiek Katholiek di Djawa” dan lalu menjadi “Partai Politik Katolik Indonesia (PPKI)”, yang kelak pada tahun 1949 Kasimo akan menjadi ketua umumnya. Kasimo yang dilahirkan di Yogyakarta pada tanggal 10 April 1900 juga dikenal sebagai salah satu peletak dasar dari rencana-rencana pembangunan berkelanjutan di Indonesia. Karena perjuangannya, Kasimo mendapat anugerah Bintang Ordo Gregorius Agung dari Paus Yohanes Paulus II dan diangkat menjadi Kesatria Komandator Golongan Sipil dari Ordo Gregorius Agung. Sementara oleh Pemerintah Indonesia, ia diangkat menjadi Pahlawan Nasional. Sebelumnya, ketika Kasimo menempuh pendidikan di sekolah keguruan di Muntilan, ia bertemu Romo Fransiscus Georgius Josephus Van Lith, SJ yang mengenalkan pada nilai caritas, yaitu cinta kasih yang tidak dipahami sebagai sikap manis, tetapi kasih yang terwujud dalam sikap berani berpihak pada mereka yang tertindas. Kasih yang membela keadilan. Kasih yang membela keadilan itu juga terangkum pada permenungan Monseigneur Albertus Soegijapranata untuk menjadi “100% Katolik-100% Indonesia” yang juga menjadi inspirasinya.*

2. Pendalaman dan Berbagi Pengalaman
Pemandu mengajak umat untuk mendalami kisah IJ Kasimo dan berbagi pengalaman hidup atas inspirasi itu.
a. Apa yang paling menarik dari kisah singkat hidup IJ Kasimo tersebut?
b. Menurut Anda apa yang diperjuangkan oleh IJ Kasimo dan apa tantangan yang dihadapinya pada zaman itu?
c. Inspirasi apa atau nilai-nilai hidup apa yang masih relevan atau pantas diperjuangkan pada zaman kita sekarang demi Indonesia Damai.

C. Renungan Kitab Suci dan Peneguhan
1. Bacaan Kitab Suci Markus 13 : 33 – 37
“Hati-hatilah dan berjaga-jagalah! Sebab kamu tidak tahu bilamanakah waktunya tiba. Dan halnya sama seperti seorang yang bepergian, yang meninggalkan rumahnya dan menyerahkan tanggung jawab kepada hamba-hambanya, masing-masing dengan tugasnya, dan memerintahkan penunggu pintu supaya berjaga-jaga. Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu bilamanakah tuan rumah itu pulang, menjelang malam, atau tengah malam, atau larut malam, atau pagi-pagi buta, supaya kalau ia tiba-tiba datang jangan kamu didapatinya sedang tidur. Apa yang Kukatakan kepada kamu, Kukatakan kepada semua orang: berjaga-jagalah!”

2. Peneguhan
a. Gagasan dari Bacaan Injil yang kita baca hari ini adalah pentingnya berjaga-jaga (bahkan dikatakan sampai empat kali). Kita diharapkan untuk menyadari pentingnya bersiap sedia dan berjaga-jaga. Artinya, kesiapan kita dalam menantikan kedatangan karya keselamatan dari Sang Mesias tidak pandang bulu, kapan dan seperti apa kedatangannya. Ada segi tanggung jawab yang diberikan dan dipercayakan dalam nuansa berjaga-jaga ini, agar tugas yang diberikan dapat ditunaikan saat waktunya tiba. Berjaga adalah menunggu kedatangan akhir zaman yang tidak seorangpun tahu kapan saatnya.

b. Begitu pun dengan berjaga dalam situasi kita saat ini. Di masa kini, kita pun harus berjaga-jaga untuk melakukan sesuatu yang terbaik demi Indonesia Damai khususnya di masa persiapan menghadapi Pemilu ini. Kita hidup di masyarakat Indonesia yang plural, pandangan politik yang berbeda-beda, dan kita telah dihadapkan pada pengalaman hidup yang mengancam kesatuan bangsa (tantangan disintegrasi bangsa: Politik Identitas, Terorisme dan lain-lain). Oleh karena itu hendaknya kita sebagai umat Katolik diharapkan untuk tetap memiliki tanggung jawab dalam menjaga perdamaian di tengah masyarakat.

c. Dalam semangat Adven pertama ini, hendaknya kita tetap memiliki prinsip untuk selalu menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran dan perdamaian yang hakiki. Selaras dengan pandangan IJ Kasimo, berpolitik itu haruslah berprinsip dan dijalankan dengan etika. Sosok IJ.Kasimo menjadi pribadi yang berani dalam menghadapi tantangan-tantangan yang ada di zaman itu, meskipun begitu IJ Kasimo juga melihat perbedaan-perbedaan dalam pemikiran bukanlah menjadi alasan untuk memulai konflik. Hal itulah yang juga membuat pribadi IJ.Kasimo menjadi sosok yang dapat diterima oleh semua pihak. Begitu juga, tanpa merisaukan keberadaannya sebagai orang Katolik yang cenderung dianggap minoritas, Kasimo secara konsisten bersuara dan bersikap untuk kepentingan segenap bangsa dan kesejahteraan bersama. Dalam berpolitik pun Kasimo terbilang dan dikenal teguh dalam memegang prinsip serta tidak mudah menyerah pada kepentingan tertentu.

d. Dalam Ensiklik Fratelli Tutti artikel no 30, Paus Fransiskus mengajak agar dalam ruang bersama di masyarakat, kita senantiasa terbuka dan menjaga budaya perjumpaan dan kedamaian. “Pengasingan dan ketertutupan diri ke dalam kepentingannya sendiri tidak pernah menjadi jalan untuk memulihkan harapan dan membawa pembaruan. Sebaliknya, itu dibawa oleh kedekatan, oleh budaya perjumpaan. Pengasingan, tidak; kedekatan, ya! Budaya konfrontasi, tidak; budaya perjumpaan, ya!”

D. Penutup
1. Doa Umat ( Pokok pokok dapat dikembangkan dari konteks situasi setempat )
Silahkan melakukan pengendapan dengan hening sejenak dalam batin selama kurang lebih 3-5 menit.
2. Bapa Kami
3. Doa Penutup
Pertemuan dapat ditutup dengan doa oleh pemandu atau umat yang dipilih
Allah Bapa Sumber Kedamaian Sejati, kami umat-Mu bersyukur telah mendalami pertemuan Adven yang ke I dengan tema Berjaga Menyongsong Raja Damai. Kami mohon sertailah kami dan bantulah kami untuk mampu berjaga melakukan sesuatu yang terbaik demi Indonesia Damai khususnya di masa persipan menghadapi Pemilu ini. Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara Kami. Amin.
4. Lagu Penutup
Pendalaman dapat ditutup dengan lagu-lagu kebangsaan yang memberikan semangat senantiasa terlibat dalam masyarakat.

Menjadi Oase di Tengah Hiruk-Pikuk Kota Jogja : Misa Syukur HUT ke-58th Paroki Santo Albertus Agung Jetis Yogyakarta

Semarak sukacita dapat dirasakan dalam perayaan Misa Syukur HUT ke-58th Paroki Santo Albertus Agung Jetis Yogyakarta, yang dilaksanakan pada hari Minggu, 19 November 2023. Perayaan ekaristi diselenggarakan secara konselebrasi dengan dipimpin oleh Romo Yohanes Dwi Harsanto, Pr selaku Vikaris Episkopalis (Vikep) Kategorial Keuskupan Agung Semarang serta didampingi oleh Romo Vincentius Suparman, Pr selaku Pastor Paroki Jetis dan Romo Yustinus Winaryanto, Pr. Ratusan umat dengan antusias juga turut hadir dalam perayaan ekaristi ini baik secara langsung datang ke gereja maupun melalui live streaming Youtube Komsos Jetis.

Ekaristi dimulai dengan perarakan petugas liturgi beserta romo yang diawali dengan barisan pembawa vandel dari 20 lingkungan yang ada di Paroki Jetis. Dalam sambutan yang diberikan, Romo Vincentius Suparman, Pr selaku Pastor Paroki Jetis mengucapkan terima kasih kepada para umat yang telah hadir dalam perayaan ekaristi HUT Paroki ke-58th ini. Di usia yang bukan tua namun tidak lagi muda ini, diharapkan umat dapat semakin bergairah dalam memuji dan memuliakan Tuhan, serta mengajak untuk bersama-sama melangkah mengembangkan gereja yang kita cintai.

Perayaan ekaristi dipimpin Romo Yohanes Dwi Harsanto, Pr selaku Vikep Kategorial Keuskupan Agung Semarang yang berjalan dengan hikmat namun penuh sukacita. Secara khusus juga, selama misa berlangsung semua lagu yang dibawakan oleh koor akan diiringi dengan musik keroncong yang menambah suasana semakin istimewa.

Sementara itu dalam homilinya, Romo Yohanes Dwi Harsanto, Pr menyampaikan bahwa Tuhan tidak asal-asalan ketika menciptakan Paroki Jetis. Melalui rencana yang panjang maka dianugerahkan kepada para romo, suster, bruder, dan seluruh umat talenta-talenta yang dibutuhkan untuk membangun gereja. Berkat talenta semangat dan gigih itu akhirnya berhasil memperoleh SK melalui Bapak Uskup sehingga mempunyai badan hukum yang jelas.

Anugerah lainnya yang membuat Paroki Jetis semakin istimewa adalah tempat yang strategis di pusat Kota Yogyakarta. Berada di jalan utama (Jl. A.M. Sangaji)  dan dekat dengan destinasi utama wisata Jogja (Tugu Pal Putih dan kawasan Malioboro), sehingga wisatawan yang berkunjung ataupun menginap di hotel sekitar dan tentunya umat Katholik setempat akan datang ke Gereja Santo Albertus Agung Jetis untuk menyambut dan bertemu Tuhan Yesus.

Gereja Jetis bagaikan oase di tengah riuh kesibukan duniawi masyarakat Kota Yogyakarta sehingga dapat menjadi tempat berteduh yang paling nyaman untuk menemukan kedamaian dan ketenangan untuk berdialog dengan Tuhan. Selain itu, umat Paroki Jetis selalu dengan tangan terbuka menerima siapa pun orang yang datang ke gereja dengan ramah dan saling peduli dengan satu sama lain.

Dalam usaha pembangunan kawasan gereja pun umat Paroki Jetis melibatkan inspirasi dan campur tangan kuasa Roh Kudus, hal ini dapat dilihat dalam Doa Novena Pembangunan. Umat rindu akan rumah Tuhan yang lebih layak dan mewadahi segala aktivitas dalam pelayanan. Namun yang paling pokok menyemangati kita adalah rindu akan rumah Tuhan dimana Tuhan sendiri yang hadir bertahta dan tinggal di Gereja Jetis, yang menjadi kekuatan untuk membangun gereja di dalam Kristus.

Kita juga patut mensyukuri buah-buah rohani Gereja Jetis yang menghasilkan suster, bruder, romo, dewan pastoral paroki, dan umat yang berkarya dalam pelayanan gereja sejak awal hingga saat ini, mereka adalah buah-buah yang nyata. Serta mereka para warga (alm) yang telah mengalami keselamatan kekal abadi bahagia di surga. Karena ketika dibaptis di Gereja Jetis dan menerima sakramen-sakramen lainnya, mereka memetik buahnya yaitu penebusan. Syukur yang utama buah penebusan Kristus yaitu keselamatan.

58th sudah Paroki Jetis hadir memberikan pelayanan dan menjadi saluran cinta kasih Allah bagi umat paroki maupun kepada masyarakat sekitar gereja, serta menjadi saksi perkembangan iman. Oleh karena itu sebagai ungkapan syukur, dalam misa ini dilakukan pemotongan tumpeng sebagai simbol “Manunggalin Kawula lan Gusti, Gusti lan Kawula”; bersatunya Tuhan dan Manusia, Manusia dan Tuhan. Allah yang menjadi manusia melalui Yesus Kristus. Sekaligus sebagai wujud syukur tanda persatuan umat dalam memajukan Paroki Jetis. Pemotongan tumpeng dilakukan oleh Romo Yohanes Dwi Harsanto, Pr didampingi oleh Romo Vincentius Suparman, Pr dan Romo Yustinus Winaryanto, Pr. Kemudian tumpeng diberikan kepada perwakilan-perwakilan umat.

Setelah itu dilanjutkan dengan pengumuman lomba-lomba yang telah dilaksanakan pada hari-hari sebelumnya yang diikuti oleh seluruh lingkungan Paroki Jetis. Berikut hasilnya.

  • Lomba Masak Nasi Goreng oleh Bapak-Bapak

Juara 1 : Lingkungan Santo Paulus Jatimulyo

Juara 2 : Lingkungan Santo Yusuf Bangirejo

Juara 3 : Lingkungan Santo Antonius Padua Gowongan

  • Lomba Menghias Tumpeng

Juara 1 : Lingkungan Santo Yohanes Bangunrejo

Juara 2 : Lingkungan Rafael Penumping

Juara 3 : Lingkungan Santo Antonius Padua Gowongan

  • Lomba Pengelolaan Administrasi, Harta Benda, dan Pengembalaan Lingkungan

Juara 1 : Lingkungan Santo Paulus Jatimulyo

Juara 2 : Lingkungan Santa Maria Assumpta Jogoyudan Lor

Juara 3 : Lingkungan Santa Maria Immaculata Kricak

Romo Parman (panggilan akrab Romo Vincentius Suparman, Pr) berpesan bahwa melalui lomba-lomba yang telah diadakan, khususnya Lomba Administrasi Lingkungan, kita dapat melihat ada lingkungan yang sungguh sangat bagus dalam administrasi, pengelolaan harta benda, pengembalaan di lingkungan sebagai contoh bahwa kita pun ingin bergerak maju. Piala menjadi tanggung jawab di lingkungan yang kian berat, karena dapat menjadi referensi yang sangat baik untuk lingkungan lain dalam mengelola lingkungannya. Semoga tetap dipertahankan keguyubannya. Dan untuk lingkungan lain yang belum menjadi juara, agar terus ditingkatkan yang sudah baik menjadi lebih baik.

Tak lupa juga Dewan Pastoral Paroki Harian secara khusus mengucapkan terimakasih atas terselenggaranya rangkaian HUT ke-58th Paroki Jetis kepada Panitia Wilayah 3 terlebih kepada semua umat yang sudah turut berpartisipasi dalam rangkaian acara. Sesuai dengan tema “Paroki Jetis Bersemangatkan Sinodal Membangun Paguyuban Umat”, Dewan Pastoral Paroki berharap bahwa bersama-sama dengan umat dapat berjalan bersama atau bersinodal untuk menghidupkan paroki ini sehingga tercipta umat yang semakin satu dan guyub rukun terlebih dalam mempersiapkan mimpi kita untuk membangun Gedung Kawasan Gereja Santo Albertus Agung Jetis ini.

Bersamaan dengan hari orang miskin pada hari ini, Paroki Jetis juga peduli pada kaum miskin disekitar kita dengan aksi membagikan sembako kepada umat yang membutuhkan.

Pesan dari Mgr. Dr. Robertus Rubiyatmoko, Uskup Agung di Keuskupan Agung Semarang, yang disampaikan melalui Romo Yohanes Dwi Harsanto, Pr selaku Vikep Kategorial Keuskupan Agung Semarang, adalah tetap rukun dan bersatu berjalan bersama untuk membangun gedung gereja dan kawasan Paroki Jetis agar terwujudnya rumah Tuhan yang nyaman untuk semua orang.

Demikian Misa Syukur dalam rangka HUT ke-58th Paroki Santo Albertus Agung Jetis Yogyakarta berjalan dengan baik dan lancar yang sekaligus menjadi tanda berakhirnya rangkaian acara kemeriahan HUT Paroki Jetis. Ditutup dengan berkat Tuhan oleh romo dan pembagian nasi kuning untuk umat yang dilaksanakan setiap akhir misa pada hari Sabtu dan Minggu (tanggal 18 dan 19 November 2023).

Sekali lagi Selamat Ulang Tahun ke-58th untuk Paroki Santo Albertus Agung Jetis Yogyakarta! Sebuah paroki dimana tempat kita bersama membangun paguyuban umat yang guyub rukun dan saling melayani. Semoga kita semua dapat kembali merasakan perayaan HUT Paroki Jetis di tahun-tahun berikutnya! Berkah Dalem.

.

.

Penulis : Khatarina Tri Wahyuni A.

Editor : Frans

.

.

Mempererat Paguyuban Umat Beriman dalam Kenduri Lintas Agama HUT ke- 58th Paroki Santo Albertus Agung Jetis Yogyakarta

Gereja Santo Albertus Agung Jetis Yogyakarta mengadakan acara kenduri lintas agama pada hari Selasa, 15 November 2023 dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Paroki ke – 58th dan pesta pelindung Santo Albertus Agung. Acara ini dihadiri oleh para tokoh agama, perwakilan pengurus wilayah yang berada di seputaran Kemantren Jetis, Dewan Pastoral Paroki, dan perwakilan warga masyarakat dari RT dan RW setempat.

Kenduri merupakan bentuk upacara adat khas Jawa dengan cara berkumpul bersama untuk mengutarakan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Selain itu, kenduri juga bisa menjadi sarana dalam merekatkan kerukunan dan persaudaraan antar umat beragama yang tergambar langsung melalui interaksi semua orang yang hadir dalam acara kenduri yang tidak memandang latar belakang agama. Semuanya guyub rukun menjadi satu saling menghormati. Selaras dengan tema yang diusung pada HUT kali ini, yaitu “Paroki Jetis Bersemangatkan Sinodal Membangun Paguyuban Umat”.

Dalam sambutannya, Romo Vincentius Suparman, Pr. selaku Romo Paroki Santo Albertus Agung Jetis mengatakan bahwa kini sudah menginjak 58 tahun pelayanan keagamaan yang dilakukan oleh Paroki Jetis untuk masyarakat, tentunya semua ini tidak akan bisa sampai sejauh ini apabila tidak ada dukungan dan bantuan dari semua masyarakat. Oleh karena itu, kenduri ini dilaksanakan sebagai salah satu upaya kita untuk selalu bersama-sama dalam mewujudkan masyarakat yang hidup dalam toleransi sebagai saudara sebangsa dan Tanah Air.

Hal tersebut sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Lurah Cokrodiningratan, Andityo Bagus Baskoro, S.T., M.Eng., bahwa kenduri ini merupakan wujud nyata dari Bhinneka Tunggal Ika yang dapat mempererat hubungan yang makin harmonis antar umat beragama di Kelurahan Cokrodiningratan. Selain itu beliau juga menyampaikan ucapan selamat merayakan HUT untuk Paroki Jetis dan mengajak untuk terus menjaga perdamaian.

Dalam acara inti, dipanjatkan doa yang dipimpin oleh Kyai Haji Burhanuddin. Menghaturkan syukur kepada Yang Maha Kuasa dan meminta berkah kelancaran dalam serangkaian acara HUT ke – 58th Paroki Jetis, terciptanya masyarakat yang selalu rukun, serta menjadi tempat ibadah yang bermanfaat bagi masyarakat dan umat beriman-Nya.

Di penghujung acara, disampaikan dialog pembangunan oleh Bapak Wahyu selaku perwakilan dari Panitia Pembangunan guna meminta doa restu dan ucapan terima kasih atas segala bantuan yang sudah banyak diberikan oleh masyarakat untuk kelancaran proses pembangunan kawasan gereja.

.
Penulis: Katharina Tri Wahyuni A.
Editor: Frans
.
.

You cannot copy content of this page