Sukacita Atas Pemekaran Lingkungan St. Ignatius – Penumping

14 Juli 2019

Gereja Paroki St. Albertus Agung Jetis

Hangatnya mentari dan udara pagi ini tercium sangat segar, sesegar wajah-wajah baru pengurus Lingkungan St. Rafael Penumping yang dalam beberapa menit ke depan akan diangkat dan diresmikan oleh Romo Rafael Tri Wijayanto Pr.

Dalam pidato pembukaannya Romo Tri (panggilan akrab Romo Rafael Tri Wijayanto Pr.) sendiri menyampaikan bahwa dalam perayaan ekaristi hari Minggu 14 Juli 2019 di misa ke dua ini akan diadakan pengangkatan pengurus lingkungan baru, bersama-sama dengan peresmian Lingkungan St. Rafael Penumping yang merupakan pemekaran dari Lingkungan St. Ignatius Loyola Penumping.

Pemekaran wilayah Penumping ini sudah di rencanakan oleh Romo Paroki sejak tahun 2014, berawal karena jumlah KK yang ada di wilayah penumping melebihi batas standart operasional yang tercantum di PPDP (Pedoman dasar Pelaksanaan Dewan Paroki). PPDP merupakan pedoman dasar Dewan Paroki yang telah disahkan oleh Keuskupan Agung Semarang. PPDP ini menyangkut tentang seputar pengelolaan kebutuhan pastoral yang lebih efektif dan bertujuan untuk ‘menyapa umat’.

“Dalam pedoman ini memiliki ketentuan yakni membatasi jumlah KK yang ada di setiap satu Lingkungan. PPDP membatasi 10-50 KK per lingkungannya, sedangkan di lingkungan Penumping memiliki 86 KK sehingga perlu dimekarkan agar umat dapat terlayani dengan batas wilayah yang lebih kecil serta untuk memunculkan tokoh-tokoh keterlibatan baru didalam hidup menggereja khususnya di lingkungan.” Ujar Romo Rafael Tri Wijayanto selaku Romo Paroki St. Albertus Agung Jetis.

Ini merupakan kali kedua Paroki St. Albertus Agung Jetis menjalankan Program Pemekaran Lingkungan ini yang sebelumnya telah di terapkan di Lingkungan Karangwaru yang di namakan Lingkungan Materdei, tujuan dari Pemekaran Lingkungan ini yaitu agar dapat memudahkan umat untuk dilayani. “Hingga saat ini Lingkungan Materdei berjalan sangat baik dengan adanya bukti yaitu kehadiran dan keterlibatan umat yang lebih banyak dari sebelumnya saat lingkungan Karangwaru belum di mekarkan.” Lanjut Romo Tri.

Homili pada misa ke dua ini dibawakan oleh Romo Bernardus Singgih Guritno Pr., dalam homilinya pertama-tama Romo Singgih membawakan sebuah cerita mengenai seorang Raja yang ingin melihat hubungan/interaksi antar rakyatnya.

Sang Raja tersebut dengan sengaja menaruh sebuah batu besar di tengah-tengah jalan yang sering dilalui rakyatnya. Ia pun mengamati dari kejauhan.

Beberapa waktu berlalu ada seorang rakyatnya yang melintasi jalan tersebut. Ketika diamati, rakyatnya tersebut hanya menggerutu sembari mengucap “kenapa sih ada batu sebesar ini di tengah jalan?!” kemudian berlalu mencari jalan lain.

Begitu pun yang terjadi dengan dua orang rakyatnya yang lain. Mereka cuek & tidak peduli, hanya menggerutu saja. Tetapi tidak melakukan perubahan. Tidak ada yang berusaha menyingkirkan batu besar tersebut dari tengah-tengah jalan.

Sang Raja pun sedih, ternyata rakyatnya tidak sesuai harapannya. Mereka tidak tumbuh menjadi dewasa ketika menghadapi persoalan yang terjadi.

Romo Singgih kemudian mengkaitkan dengan kondisi gereja Katolik, keadaannya mungkin hampir-hampir mirip dengan rakyat di atas jika umat bersikap apatis, cuek dan tidak peduli.

Gereja Katolik bisa bertumbuh karena ada orang-orang yang peduli, ada banyak umat yang haus akan perubahan dan peduli terhadapnya. Gereja Katolik tidak bertumbuh secara otomatis.

Romo Singgih juga mengajak seluruh umat Paroki Jetis untuk bergerak, melakukan perubahan secara konkret. Tidak hanya mengkritik setiap ada misa atau mengkritik pelayan-pelayan misa di gereja, namun untuk terlibat dan berpikir untuk menjadi bagian dari pelayan misa.

Sangatlah mudah untuk mengkritik sound system gereja yang tidak bagus, atau mungkin mengeluh bahwa petugas parkir gereja tidak profesional. Padahal Gereja Katolik akan berkembang karena adanya orang-orang yang peduli dan mau terlibat.

Pada hari ini umat Paroki Jetis mensyukuri adanya pelantikan ketua lingkungan & pengurus lingkungan baru. Syarat utama untuk menjadi pengurus hanya satu, yaitu PEDULI.

Bagaimana cara kita peduli?

  1. Dengan mengingat pengalaman kita saat kecil, saat mencium tangan (salim) si Mbah kita masing-masing atau orang yang di-tua-kan.
  2. Mengucapkan “Nderek langkung/permisi” ketika melewati orang di jalan/gang
  3. Saling menyapa orang yang dirasa kenal atau tetangga sebelah rumah
  4. Ketika mengadakan acara besar, kita juga bisa berbagi dengan orang lain

Sikap peduli perlu dilatih, tidak muncul secara instant, ia perlu dipelajari & terus dilatih. Sudah menjadi tanggung jawab kita semua untuk meneruskannya pada generasi muda (adik-adik atau yang berusia lebih muda dari kita).

Kesimpulan homili hari ini :

Kita diajak merenungkan kepedulian terhadap sesama kita, dan peduli perlu dilatih dalam kehidupan sehari-hari kita.

Setelah homili berakhir, dilanjutkan dengan pemercikan air suci sebagai tanda pelantikan pengurus lingkungan baru dan peresmian Lingkungan St. Rafael Penumping.

Tentu perjalanan umat Lingkungan Penumping dalam proses Pemekaran Lingkungan ini tidaklah mudah. Program Pemekaran ini juga mendapat dukungan Pro dan Kontra dari umat Lingkungan Penumping ini, ada beberapa umat yang mendukung Pemekaran ini karena dapat mengembangkan lingkungannya masing-masing, dan ada pula beberapa umat yang keberatan karena khawatir kekurangan anggota dan kegiatan harian pun jadi tidak hidup lagi. “Maka dari itu saya katakana jangan pesimis, kita harus optimis. Kita harus berani untuk maju. Apa adanya kita, kita coba untuk berlatih dengan segala kekurangan kita.” Ujar Bapak Agustinus Budi Eko Priyanto selaku Ketua Lingkungan Rafael Penumping

Akhirnya setelah disosialisasikan saat Misa Lingkungan yang di pimpin langsung oleh Romo Paroki, maka segenap Umat Lingkungan Penumping menyepakati bersama untuk menjalankan Program Pemekaran Lingkungan Penumping. “Sangat bermanfaat sekali karena membuat umat yang tadinya ‘tidur’ dapat ‘bangun’ kembali. Dengan adanya Program Pemekaran ini kita bisa menggugah hati umat untuk mengambil bagian dan berperan dalam kepengurusan gereja.” Lanjut Bapak Agustinus Budi Eko Priyanto

Peresmian Program Pemekaran ini dirayakan bersamaan dengan Misa Mingguan di Paroki St. Albertus Agung Jetis dan dilanjut dengan perayaan pemotongan tumpeng untuk mengungkapkan wujud syukur atas terlaksananya Program Pemekaran Lingkungan Penumping.

Pemekaran Lingkungan tidaklah bertujuan untuk memecahkan atau memisahkan umat, justru Pemekaran ini memiliki tujuan untuk menggugah hati umat agar dapat merekah dan mau melibatkan diri untuk saling melayani satu sama lain.

“Lahirnya lingkungan baru diibaratkan seperti lahirnya Kristus yang baru yang dapat menyelamatkan banyak orang. Harapan untuk kedepannya, teruskan semangat yang ada dengan mengambil inspirasi dari Roh Allah sendiri yang akan membuat kita mampu. Yang kita butuhkan adalah kesediaan. Kalo soal kesulitan pasti ada, tapi itu Tuhan yang akan mendandani semuanya, dan itu akan terjadi. Saya Yakin.” Ujar Romo Tri sambil tersenyum simpul.

 

Penulis : Veda & Frans

Foto : Frans & Angie

Penerimaan Komuni Pertama di Paroki St. Albertus Agung Jetis – Yogyakarta

Pada Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus, Minggu, 23  Juni 2019, sebanyak 15 putra & 9 putri, telah menerima komuni pertama dari tangan Romo Rafael Tri Wijayanto, Pr selaku Pastor Paroki.

Dalam homilinya, Romo Tri menekankan perbedaan makanan jasmani dan rohani. Makanan jasmani contohnya  roti, tahu, tempe,bakwan dll  yg akan menjadi daging, sedangkan makanan rohani adalah  sabda Tuhan & Ekaristi kudus, yg akan menyelamatkan manusia. Keseluruhan 24 anak menerima komuni pertama tersebut dengan dua rupa.

Setelah misa, dilanjutkan dengan perayaan ucap syukur, atas diterimakannya komuni pertama di aula gereja.

Perayaan ini dihadiri oleh Pastor Paroki, Suster-Suster komunitas ADM, Wakil Ketua Dewan Bapak Ludovicus Joko Sunarno, Para katekis serta orang tua anak-anak yang berbahagia.

Bapak Gabriel Unggul Kristiawan sebagai ketua panitia dan atas nama orang tua, mengucapkan terima kasih kepada Sr. Valeria, Sr. Sofiana, Sr. Odilia, Sr.Lisa, Sr. Aquila dari komunitas Suster ADM, yang dengan sabar membimbing dan memberikan pendalaman iman kepada anak-anak selama 10 bulan.

Lucia Jessica Widodo selaku wakil anak-anak komuni pertama menyampaikan ucapan terimakasih kepada romo, suster dan orang tua, atas support kepada anak-anak. Selain itu mereka juga berkomitmen sepakat mendaftarkan diri menjadi anggota Putra Altar St. Christopher Jetis.

Acara semakin meriah dengan tampilnya kakak2 Putra Altar St. Christopher dan ditutup dengan doa penutup oleh Sr. Sofiana.

Berkah Dalem Gusti…🙏✝

Mengintip Aktivitas Renewal WEA XXII #1

Dalam rangka follow up peserta Weekend XXII yang diadakan Juni tahun lalu, Antiokhia Jetis mengadakan kegiatan Renewal WEA XXII #1 pada Minggu 16 Juni 2019 di wisma Estu wening, Palagan Yogyakarta.

Acara yang bertema “Love Unites Us Back” ini diikuti oleh 40 orang Antiokhers dari WEA XI – XXII.

Acara berlangsung dengan santai namun padat, diisi dengan gerak dan lagu, games, outbond, serta sharing pengalaman iman.

Renewal adalah salah satu program Antiokhia untuk merangkul kembali para Antiokhers (sebutan bagi para anggota Antiokhia Jetis-red.) yang pernah mengikuti Weekend Antiokhia agar tetap solid dan memiliki jiwa Antiokhia.

Dalam sharingnya, Edo peserta Weekend Antiokhia XXII menyampaikan bahwa Antiokhia adalah batu loncatan untuk terlibat aktif dalam kegiatan menggereja.

“Menurutku acara kemarin itu udah bagus banget, hanya perlu ditingkatkan lagi agar lebih baik ke depannya” jawab Edo ketika ditanya harapannya untuk Antiokhia.

-Kontributor Renewal WEA XXII-

Liburan Sekolah Ala PIA St. Paulus Jatimulyo

(16/06/2019) Seorang anak dengan baju basah kuyub lari dari kolam ikan di Jogja Exotarium dan teriak “aku senaaaaaannngggg….”. Itu salah satu ekspresi anak PIA St. Paulus Jatimulyo Paroki Jetis pada rangkaian liburan bareng. Liburan kali ini PIA St Paulus mengadakan out bound di Jogja Eksotarium pada Minggu, 16 Juni 2019. Out bound yang diikuti oleh 14 anak ini dipilih untuk membuat anak-anak PIA semakin bersemangat dalam kegiatan PIA.

Ada beberapa permainan yang diadakan disana yaitu Ball Phyton, Piring Terbang, Pertamini, Spon Sitdown, haral rintang, dan diakhiri dengan kunjungan ke kebun binatang mini. Dalam permainan Ball Phyton, menuntut peserta untuk selalu berkonsentrasi terus di dalam kompetisi dan di butuhkan kecepatan respon perintah yang di berikan oleh pemandu. Permainan bertujuan untuk membangun konsentrasi peserta dalam melakukan permainan agar pikiran lebih fokus ke permainan, dan melatih peserta untuk mengikuti perintah atau pengarahan dari pemandu.

Permainan piring terbang dilakukan untuk membentuk kerjasama tim yang kompak dan solid. Peserta dituntut untuk selalu percaya kepada teman, karena di permainan ini piring yang di bawa melewati atas kepala peserta tidak menengok ke belakang yang di lakukan hanya komunikasi yang baik dan percaya bahwa teman yang di belakangnya mampu dan bisa menerima piring dengan baik. Apabila komunikasi kurang baik maka kelompok akan dirugikan dengan bola dari piring yang jatuh atau air yang tumpah.

Permainan Pertamini adalah memindahkan air dari bak ember ke dalam botol menggunakan gelas yang berlubang. Supaya air yang dibawa tetap terkumpul banyak maka peserta dituntut untuk cepat lari menuju botol permainan. Hal ini dilakukan secara bergantian  antar anggota kelompok dengan bertujuan peserta untuk terbiasa antri dan melatih peserta untuk bersama-sama maju menuju ke satu tujuan. Dalam hal ini mengumpulkan air sebanyak mungkin supaya kelompoknya bisa menang karena setiap anggota kelompok sekecil apapun tetap berkontribusi dalam kelompok.

Bentuk permainan spon sitdown hampir sama seperti pertamini di atas. Tetapi untuk yang ini peserta menggunakan spon untuk memindahkan air dan dipindah ke dalam ember kecil yang ada di bawah kursi. Spon tersebut yang sudah dicelup ke dalam air harus diperas dengan cara diduduki di kursi supaya airnya bisa terkumpul di ember yang ada di bawahnya. Permainan ini dimaksudkan untuk belajar antri dan sabar, peserta dituntut untuk rela berkorban karena pakaiannya basah dalam upaya kelompoknya bisa mengumpulkan air yang banyak.

Permainan ditutup dengan haral rintang untuk meningkatkan keberanian peserta. Ada peserta yang dengan berani mengikuti semua tantangan, ada juga peserta yang takut dan lari ke pendamping. Tidak mudah menanamkan keberanian pada anak. Dalam pendampingan PIA pun tidak mudah mengajak anak untuk berani mempimpin doa.

Serangkaian outbound ditutup dengan keliling ke kebun binatang mini untuk mengenal satwa. Dalam hal ini semua peserta dikenalkan dengan nama hewan, sifat-sifatnya, makanannya.

Anak-anak pun diajari untuk berani berinteraksi dengan beberapa hewan jinak dan memberi makan mereka. Anak PIA diajari untuk mencintai binatang sebagai bagian dari ciptaan Tuhan. (LJS)

Keseruan Workshop Photo Caption 2019 Bersama Tim Komsos KAS

Paroki Pugeran, Yogya 01 Juni 2019

Satu hari menjelang Hari Komunikasi Sedunia (Diperingati setiap tahun pada tanggal 2 Juni) sejumlah pemerhati komunikasi sosial yang tergabung dalam Komisi KOMSOS Kevikepan DIY menghadiri acara Workshop Photo Caption 2019.

Workshop berdurasi 1 hari ini dihadiri oleh sekitar 30 peserta dari berbagai kalangan usia, dengan dominasi usia OMK. Para peserta ini berasal dari berbagai paroki dalam lingkup Kevikepan DIY.

Acara ini merupakan salah satu rangkaian dari kegiatan Komsos Kevikepan DIY selama tahun 2019. Workshop ini terselenggara berkat bantuan dari rekan-rekan Komisi KOMSOS KAS.

Penyelenggaraan acara dilakukan di Lantai 2 Wisma Rosari, Paroki Pugeran Yogyakarta. Workshop satu hari ini juga dihadiri oleh Romo Wicak selaku Romo pembimbing KOMSOS Kevikepan DIY.

Workshop photo caption yang dibawakan oleh mas Bhio dari tim KOMSOS KAS memberikan banyak pengalaman baru bagi peserta dalam mengambil foto dan membuat caption yang dapat dinikmati berbagai kalangan usia.

Pada sesi pertama mas Bhio memberi pengantar dan mengajarkan bagaimana cara mengabadikan momen menggunakan kamera smartphone maupun kamera digital dan DSLR. Metode EDFAT untuk mengambil foto merupakan dasar-dasar untuk mendapatkan foto yang bagus dan penuh makna.

Kemudian Workshop diistirahatkan selama 1 jam untuk makan siang bersama.

Sedangkan pada sesi selanjutnya yang juga menjadi sesi terakhir kami belajar bagaimana menulis cerita dalam bentuk caption yang lebih panjang. Menyusun kata demi kata menjadi kalimat yang menarik untuk dibaca. Workshop diakhiri sekitar pukul 14.30 WIB dengan doa bersama.

Lihat keseruan kami selama workshop di Akun Instagram (IG) @photocaptiondiy (klik)

Apabila Anda tertarik mempelajari cara menulis caption dan mengambil foto yang benar silahkan download materi workshop disini : Materi Photo Caption Workshop 2019 (klik)

Temu Kangen “Outbound” Alumni Kursus Penginjilan Pribadi (KPP) Paroki St. Albertus Agung Jetis Yogyakarta

(26/05/2019) Gereja St. Albertus Agung Jetis telah mengadakan Kursus Penginjilan Pribadi (KPP) sampai angkatan II. Di beberapa paroki KPP sama dengan Kursus Evangelisasi Pribadi (KEP), atau Sekolah Evangelisasi Pribadi (SEP). Pada KPP Paroki Jetis angkatan I peserta dikhususkan untuk para prodiakon dan perwakilan pengurus lingkungan, peserta awalnya mencapai 74 orang.

Sementara pada KPP angkatan II pesertanya bebas terbuka untuk semua umat, pesertanya mencapai 49 orang. Dari peserta yang ikut tidak semua dapat menyelesaikan pembelajaran dan retret perutusan. Ada sebagian yang muntaber (mundur tanpa berita) sehingga dinyatakan tidak lulus.

Dari semua peserta yang lulus dan sudah dinyatakan sebagai alumni KPP perlu terus membina iman dan saling menguatkan dalam perutusan. Oleh karena itu diadakan kegiatan temu kangen alumni KPP secara berkala. Temu kangen pada bulan Mei 2019 ini diisi dengan kegiatan out bound.

Pemilihan bentuk kegiatan out bound ini bertujuan untuk memberikan kegiatan yang sifatnya refreshing dan peneguhan pada panitia KPP angkatan III. Kegiatan ini dimaksudkan agar panitia KPP angkatan III punya kesatuan gerak langkah, dapat bekerja sama dengan baik sehingga penyelenggaraan KPP angkatan III dapat berjalan semakin baik dari angkatan sebelumnya.

Kegiatan outbound diselenggarakan pada hari Minggu, 26 Mei 2019 di Melcosh – Kaliurang. Kegiatan diawali dengan ibadat pembuka oleh peserta dan dilanjutkan dengan pemilihan pengurus alumni KPP. Pengurus alumni ini perlu dibentuk untuk mewadahi kegiatan-kegiatan alumni KPP dibawah Bidang Paguyuban dan Tata Organisasi.

Sementara untuk panitia KPP bekerja sama dengan tim kerja evangelisasi di bawah koordinasi bidang pewartaan. Pada kesempatan pemilihan ini, terpilih secara aklamasi pengurus alumni KPP Paroki Jetis untuk jangka waktu tahun 2019-2021, yaitu :

Ketua              : Regina Nevi Indradjatun

Wakil Ketua      : Lucia Chriswati Ervitarini Carvallo

Sekretaris I      : Rosalia Wisudaningrum

Sekretaris II     : Hieronemus Seno Beruci

Bendahara I     : Alexandria Betty Noviasti Lipuro

Bendahara II    : Brigitta Sugiyanti

Humas I          : Agustinus Budi Eko P

Humas II         : Angelus Iwan Gunawan

Pengurus ini merupakan gabungan dari alumni KPP angkatan I dan angkatan II. Untuk tahun 2019 ini panitia akan fokus pada penyelenggaraan KPP angkatan III yang dimulai tanggal 14 Juni 2019.

Setelah pengurus alumni KPP Paroki Jetis terbentuk, acara dilanjutkan dengan out bound bersama tim dari Melcosh. Sehubungan dengan umur peserta yang variatif bahkan ada yang lebih dari 70 tahun, acara kegiatan out bound berbentuk permainan-permainan ringan, permainan-permainan masa kecil tetapi akan dimaknai secara dewasa.

Bentuk permainannya antara lain kereta api, kata bersambung, perintah benar-salah, hijau-hitam, mobil-mobilan. Permainan kereta api bertujuan untuk mengingatkan peserta akan tujuan bersama, tujuan organisasi akan tercapai dengan saling menopang dan ditopang, semua anggota organisasi mempunyai peran yang sama untuk mencapai tujuan organisasi.

Pada permainan kata bersambung, masing-masing peserta harus membentuk kata berupa nama buah atau nama hewan, masing-masing peserta hanya menyebutkan satu suku kata dan yang lain melanjutkan hingga terbentuk kata yang dimaksudkan. Permainan ini bermakna untuk saling memahami, mengerti apa yang anggota lain maksudkan dan anggota yang lain dapat melengkapi hingga tercapai tujuan yang diharapkan.

Pada permainan benar-salah, peserta harus melakukan sesuai kesepakatan bersama, jika perintahnya benar, semua peserta harus melakukan kegiatan sesuai perintahnya, jika perintahnya salah, semua peserta harus melakukan aksi yang berlawanan dengan perintahnya. Permainan ini membutuhkan konsentrasi agar dapat melakukan aksi sesuai dengan perintahnya. Kesalahan yang dilakukan salah satu anggota kelompok menjadi beban bagi anggota yang lain. Sebaliknya kesuksesan anggota kelompok menjadi kesuksesan bersama dan patut dirayakan.

Pada permainan hitam-hijau, peserta secara berpasangan menjadi si-hitam atau si-hijau yang saling bertanding untuk menepuk tangan pasangannya atau menghindar dari tepukan sesuai perintah. Permainan ini menuntut konsentrasi dan peka terhadap perintah inti.

Permainan mobil-mobilan, peserta jadi satu kelompok besar dan melakukan gerakan-gerakan sesuai perintah sebagaimana penumpang dalam suatu kendaraan. Permainan ini menuntut kebersamaan, keserasian, keselarasan yang akan menjadi bekal bagi suatu organisasi atau kepanitiaan dalam menyelenggarakan kegiatan. Sehingga kegiatan dapat terlaksana secara serasi, selaras, seimbang untuk mencapai tujuan bersama.

Acara penutup dari rangkaian out bound ini adalah perayaan ekaristi. Perayaan ekaristi dipimpin oleh Rm. Yohanes Sigit Heriyanto, Pr yang berkarya di Paroki Babatan dan mendapat tugas tambahan untuk mengelola Melcosh. Di awal homilinya Rm. Sigit mengajak peserta untuk memberi salam kabar hari ini, apa kabar? luar biasa, aku diberkati, kamu diberkati, semua diberkati, cup cup muaaaahh….

Rm. Sigit berpesan yang menyatukan kita sebagai pengikut Kristus adalah KASIH, kalau ada kasih pasti ada sukacita. Dalam hal apapun, dalam kondisi apapun kalau ada kasih pasti ada kebahagiaan. Kenapa kita bertemu kalau kita kangen, itu semua karena kasih. Kita mohon rahmat Tuhan agar dalam hati kita masing-masing dan dalam keluarga besar alumni KPP Jetis ini semakin mampu memiliki kasih dan saling mengasihi dan dapat berbagi kasih kepada sesama. Acara ditutup dengan makan siang. (LJS).

Pertemuan Paguyuban Ketua Lingkungan Mei 2019

Warta Paroki (16/05/2019). Pada pertemuan paguyuban ketua lingkungan di Paroki St Albertus Agung Jetis kali ini membahas beberapa hal, diantaranya KPP dan persiapan launching website paroki Jetis.

Pertemuan diawali dengan laporan dari bapak Antonius Sudarsono selaku pengurus P2J, diharapkan bagi lingkungan yang belum membayar iuran P2J tahun 2019, untuk segera membayar atau melunasinya.

Dilanjutkan dengan laporan dari bapak Fx. Sarwono, bendahara paroki, melaporkan hasil  :

  1. Penghitungan amplop persembahan Paskah
  2. Penghitungan kotak APP 2019
  3. Penerimaan amplop Unio, untuk pembangunan wisma romo-romo sepuh.

Panitia pelaksanan KPP angkatan ke-3, ibu Nevi dan ibu Rosa memberikan laporan bahwa pendaftaran KPP baru ada 20 peserta, sedangkan targetnya adalah 50 peserta.  Untuk itu diharapkan para ketua lingkungan untuk mendorong umatnya agar bersedia mengikuti Kursus Penginjilan Pribadi (KPP).

Selanjutnya acara diteruskan dengan pemaparan persiapan launching website paroki Jetis oleh bapak Emanuel Wahyu Herman selaku kabid Paguyuban dan Tata Organisasi yang membawahi tim kerja Komsos.  Dalam penjelasannya bapak Wahyu mengatakan bahwa, sampai saat ini website sudah ada beberapa artikel yang diupload, namun agar layak tayang saat launching, maka perlu adanya kontribusi artikel dari semua pihak.  Untuk itu Komsos paroki membuka kesempatan bagi orang muda yang ada di lingkungan untuk bergabung menjadi tim Komsos, bagi yang berminat dapat mengisi form pendaftaran di link berikut https://staging2.christina.my.id/pendaftaran-anggota-komsos/.

Romo Tri memberikan masukan untuk website paroki, beliau mengharapkan agar di dalam website paroki ada beberapa label, diantaranya :

  1. Warta Paroki
  2. Warta Lingkungan
  3. Renungan Harian
  4. Warta Komunitas
  5. Berita Foto
  6. Info Publik

Untuk jangka panjang diharapkan website dapat menjadi media informasi bagi umat paroki Jetis sehingga dapat menghemat kertas atau paperless.

Terakhir kabid Sarana dan Prasarana bapak Felix Pamungkas memberikan jadwal jaga Gereja

NO TANGGAL LINGKUNGAN
1 18 Mei 2019 St Yusup Karangwaru
2 19 Mei 2019 Maria Mater Dei Karangwaru
3 20 Mei 2019 Kricak
4 21 Mei 2019 Bangunrejo
5 22 Mei 2019 Bumijo
6 23 Mei 2019 Poncowinatan
7 24 Mei 2019 Cokrodiningratan
8 25 Mei 2019 Bangirejo
9 26 Mei 2019 Blunyahrejo
10 27 Mei 2019 Blunyah Gede
11 28 Mei 2019 St Alfonsus Jatimulyo
12 29 Mei 2019 Cokrokusuman
13 30 Mei 2019 Jetis Harjo
14 31 Mei 2019 Jogoyudan Lor
15 01 Juni 2019 Jogoyudan Kidul
16 02 Juni 2019 St Thomas Jatimulyo
17 03 Juni 2019 Gowongan
18 04 Juni 2019 St Paulus Jatimulyo
19 05 Juni 2019 Penumping

CATATAN :

  1. Setiap lingkungan yang terjadwal wajib mengirimkan minimal 2 orang wakilnya
  2. Perondaan dimulai pukul 21.00 hingga 24.00
  3. Apabila akan meninggalkan Gereja (pulang) wajib mengunci gerbang
  4. Petugas ronda wajib mengisi daftar hadir dan menjaga ketertiban dan kebersihan lokasi
  5. Petugas ronda diwajibkan berkoordinasi dengan petugas ronda dari PAMJA dan karyawan Gereja

Perayaan Paskah & Hari Kartini 2019 Paguyuban Ibu-Ibu Paroki Bersama WKRI Ranting Jetis

“Semangat kebangkitan Kristus menghalau kegelapan menuju terang”

Warta Paroki (24/4/2019). Ada yang istimewa di perayaan Paskah ini, yaitu bertepatan dengan peringatan hari Kartini, untuk itu paguyuban ibu-ibu paroki bersama wanita Katolik RI ranting Jetis menyelenggarakan perayaan Paskah dan Hari Kartini pada Rabu sore, bertempat di gedung sayap timur gereja Santo Albertus Agung Jetis Yogyakarta.

Hadir pada perayaan ini romo Paroki, romo Rafael Tri Wijayanto, Pr, wakil ketua dewan paroki bapak Ludovicus Joko Sunarno, sekretaris dewan paroki, bapak Ferdinand Dody Darmawan, para ketua lingkungan, suster serta tamu undangan.

Acara diawali dengan doa dan lagu pembukaan, dilanjutkan dengan sambutan dari ketua panitia, ibu Yoanita. Selain sambutan dari ketua PIIP serta romo Paroki, acara juga di selingi dengan persembahan tarian perwakilan dari lingkungan.

Renungan Hari Paskah dan Kartini WKRI Jetis dibawakan oleh suster Luisa Anin, PI, dengan tema ” Merayakan Peran Wanita”.

Mengambil cuplikan bacaan dari injil Yoh 20:11-18, suster Luisa menyampaikan bahwa Paskah dan hari Kartini adalah saat untuk kembali bersyukur bahwa kita diciptakan sebagai wanita. Pertanyaan mendasar bagi kita adalah seberapa besar kita mensyukuri Rahmat ini. Apakah kita bahagia sebagai ibu, Mami, eyang Puteri, Mbah, emak, mbok dan mbak? Bercermin dari Injil Yohanes, kita belajar mengenal lebih jauh panggilan ini. Maria Magdalena menangis karena kehilangan orang terkasih, hati berduka karena Yesus wafat dan bahwa jenasah-Nya tidak ia temukan. Apakah Maria Magdalena berhenti pada tangisan duka itu? Tidak…sambil menangis ia menjenguk ke dalam kubur; sebuah sikap yang sangat simbolik. Ada aksi lanjutan yang lebih penting dari sekedar menangis. Lebih jauh lagi, kita mengetahui bahwa ada dialog, lagi- lagi sebuah tindakan konkret. Dialog dengan penjaga makam dan Yesus yang sempat tidak dikenali oleh Maria karena duka yang terlampau berat. Sebuah tindakan yang personal dan mendalam. Dialog ini berpuncak pada sapaan pribadi Tuhan yang juga dibalas dengan sapaan pribadi Maria Magdalena kepada Gurunya itu. Perjumpaan pribadi yang mengubah duka menjadi semangat dan semangat kebangkitan inilah yang kemudian menggerakkan Maria Magdalena untuk pergi dan bersaksi ” aku telah melihat Tuhan” kepada para murid yang notabene adalah kaum pria yang tidak atau belum percaya akan kebangkitan.
Peran wanita juga menjadi warna tersendiri dalam sejarah keselamatan misalnya Bunda Maria, Maria dan Marta, Wanita Kanaan, Wanita Samaria dan Lydia. Yesus melibatkan secara penuh para wanita agar keselamatan dapat terlaksana. Perempuan dipanggil untuk membawa kehidupan, sebagai pendidik utama dalam keluarga. Perempuan menjadi mitra kerja Allah. Paskah dan peringatan Kartini adalah masa kebangkitan dan pembaruan. Maka semoga kita makin bersyukur dan makin terlibat dalam berbagi berkat. #den blangkon

“Semangat kebangkitan Kristus menghalau kegelapan menuju terang”

Warta Paroki (24/4/2019). Ada yang istimewa di perayaan Paskah ini, yaitu bertepatan dengan peringatan hari Kartini, untuk itu paguyuban ibu-ibu paroki bersama wanita Katolik RI ranting Jetis menyelenggarakan perayaan Paskah dan Hari Kartini pada Rabu sore, bertempat di gedung sayap timur gereja Santo Albertus Agung Jetis Yogyakarta.

Hadir pada perayaan ini romo Paroki, romo Rafael Tri Wijayanto, Pr, wakil ketua dewan paroki bapak Ludovicus Joko Sunarno, sekretaris dewan paroki, bapak Ferdinand Dody Darmawan, para ketua lingkungan, suster serta tamu undangan.

Acara diawali dengan doa dan lagu pembukaan, dilanjutkan dengan sambutan dari ketua panitia, ibu Yoanita. Selain sambutan dari ketua PIIP serta romo Paroki, acara juga di selingi dengan persembahan tarian perwakilan dari lingkungan.

Renungan Hari Paskah dan Kartini WKRI Jetis dibawakan oleh suster Luisa Anin, PI, dengan tema ” Merayakan Peran Wanita”.

Mengambil cuplikan bacaan dari injil Yoh 20:11-18, suster Luisa menyampaikan bahwa Paskah dan hari Kartini adalah saat untuk kembali bersyukur bahwa kita diciptakan sebagai wanita. Pertanyaan mendasar bagi kita adalah seberapa besar kita mensyukuri Rahmat ini. Apakah kita bahagia sebagai ibu, Mami, eyang Puteri, Mbah, emak, mbok dan mbak? Bercermin dari Injil Yohanes, kita belajar mengenal lebih jauh panggilan ini. Maria Magdalena menangis karena kehilangan orang terkasih, hati berduka karena Yesus wafat dan bahwa jenasah-Nya tidak ia temukan. Apakah Maria Magdalena berhenti pada tangisan duka itu? Tidak…sambil menangis ia menjenguk ke dalam kubur; sebuah sikap yang sangat simbolik. Ada aksi lanjutan yang lebih penting dari sekedar menangis. Lebih jauh lagi, kita mengetahui bahwa ada dialog, lagi- lagi sebuah tindakan konkret. Dialog dengan penjaga makam dan Yesus yang sempat tidak dikenali oleh Maria karena duka yang terlampau berat. Sebuah tindakan yang personal dan mendalam. Dialog ini berpuncak pada sapaan pribadi Tuhan yang juga dibalas dengan sapaan pribadi Maria Magdalena kepada Gurunya itu. Perjumpaan pribadi yang mengubah duka menjadi semangat dan semangat kebangkitan inilah yang kemudian menggerakkan Maria Magdalena untuk pergi dan bersaksi ” aku telah melihat Tuhan” kepada para murid yang notabene adalah kaum pria yang tidak atau belum percaya akan kebangkitan.
Peran wanita juga menjadi warna tersendiri dalam sejarah keselamatan misalnya Bunda Maria, Maria dan Marta, Wanita Kanaan, Wanita Samaria dan Lydia. Yesus melibatkan secara penuh para wanita agar keselamatan dapat terlaksana. Perempuan dipanggil untuk membawa kehidupan, sebagai pendidik utama dalam keluarga. Perempuan menjadi mitra kerja Allah. Paskah dan peringatan Kartini adalah masa kebangkitan dan pembaruan. Maka semoga kita makin bersyukur dan makin terlibat dalam berbagi berkat.

#den blangkon

 

Satu Langkah Nyata Peduli Sesama di Bantul

“Di sini pas tanggal 17 Maret itu seharian hujan deras dari pagi hingga malam hari lalu tiba-tiba sekitar waktu subuh banjir bandang melanda pemukiman termasuk rumah saya” kata salah seorang Bapak yang kami temui di posko bantuan bencana banjir dan tanah longsor Kecamatan Imogiri, Bantul beberapa waktu lalu. Kabupaten Bantul memang menjadi wilayah terparah yang dilanda banjir. Tercatat 35 desa dan 14 kecamatan terdampak banjir akibat hujan deras yang mengguyur dari pagi hingga malam hari. Selain Bantul, tiga daerah lainnya yaitu Kulon Progo, Sleman dan Gunungkidul juga terdampak hujan lebat dibuktikan dengan temuan genangan air di beberapa lokasi.

Sebagai wujud kepedulian warga gereja Santo Albertus Agung Jetis, umat melalui TIM APP (Aksi Puasa Pembangunan) menyalurkan bantuan untuk meringankan beban para korban banjir dan tanah longsor. Sebelum penyaluran bantuan, pengumpulan informasi dilakukan guna mengetahui kebutuhan apa saja yang saat itu diperlukan para korban.

Romo Paroki dan para ketua lingkungan membantu tim mempercepat pengumpulan bantuan dari 19 lingkungan di wilayah paroki. Pengumpulan bantuan  hanya dilakukan dalam waktu 2 hari saja mengingat situasi dan keperluan yang mendesak. Bantuan yang diberikan berupa kebutuhan sembako, obat – obatan, kebutuhan bayi, peralatan masak dan peralatan kebersihan.

Lima hari setelah bencana, kami Tim APP datang ke posko bantuan yang dipusatkan di Stasi St. Mater Dei, Bantul. Kami datang menggunakan mobil pick up dan disambut oleh Bapak Wahyu sebagai penanggung jawab bantuan di posko tersebut. Beliau menjamu kami dengan teh dan pisang rebus hangat yang cocok sekali dengan hawa dingin dan hujan rintik saat itu. Kemudian kami banyak bertukar cerita tentang dampak banjir bandang yang dirasakan warga Bantul.

Kata Pak Wahyu “Satu hari setelah bencana banjir, air sudah surut Mbak namun warga harus membersihkan rumahnya selama berhari-hari. Anak – anak juga belum bisa kembali sekolah karena harus membantu orang tua membersihkan rumah lagipula kondisi sekolah belum memungkinkan untuk kembali digunakan”. Akibat bencana ini, ada 5.046 warga DIY yang terdampak dengan 4.427 di antaranya adalah warga Bantul. Selain itu, peristiwa ini memakan korban jiwa sebanyak lima orang.

Dukungan layanan kesehatan dan logistik dari pihak lain masih terus berdatangan saat tim kami berkunjung ke sana. Tampaknya semangat peduli dan perhatian masih mengakar di kalangan masyarakat. Kami berharap kondisi di Bantul segera pulih sehingga warga dapat kembali beraktifitas dan kondisi di Yogyakarta selalu aman dan kondusif.

 

Ditulis Oleh : Christina Adiratna R

You cannot copy content of this page