Pertemuan ke-3 APP 2019

Pertemuan III 
MEWUJUDKAN KOMUNITAS KASIH YANG MENYATUKAN DAN MENYEMPURNAKAN 

PEMBUKA
Kata Pengantar Pemandu
(Pemandu silakan mengingatkan kembali pertemuan yang lalu dan menggerakkan umat untuk saling menyapa satu sama lain) 

Bapak-Ibu, saudara-i yang dikasihi Tuhan, kita telah tiba pada pertemuan III. Dalam pertemuan sebelumnya, kita masing-masing diingatkan akan panggilan kita sebagai pengikut-pengikut Kristus untuk mengusahakan kekudusan dalam hidup harian kita. Pada pertemuan ini kita akan merenungkan, apakah komunitas atau paguyuban kita sungguh telah menampakkan diri sebagai komunitas atau paguyuban kasih, dimana kita dapat saling berbagi dan mengembangkan satu dengan yang lain.

Disadari atau tidak, dalam hidup berkomunitas, kita sebagai murid-murid Kristus pun terkadang telah menjadikan pribadi-pribadi tertentu menjadi tersingkir atau memang secara sengaja kita singkirkan. Akhirnya, pribadi-pribadi tersebut tidak terlibat dalam komunitas kita atau tidak muncul bahkan menghilang dari komunitas kita. Pribadi-pribadi macam inilah yang sebenarnya membutuhkan rengkuhan kita bersama. Kasih yang menjadi roh dari hidup kita sebagai murid-murid Kristus semestinya diterjemahkan dengan mau menyapa dan merangkul mereka yang tersingkirkan atau disingkirkan itu. Kalau bukan mulai dari komunitas kita, siapa lagi? Kalau tidak sekarang, kapan lagi? Jangan sampai kita menyesal kalau anggota komunitas kita hilang dan bahkan pergi meninggalkan kita.

Sebelum kita melanjutkan pertemuan, kita awali dengan menyanyikan lagu Kasih agar kita ingat bahwa kasihlah yang menjadi roh dalam komunitas kita.

(pemandu memimpin lagu kasih-bisa divariasi dengan gerakan). 

Kasih
Kasih pasti lemah lembut
Kasih pasti memaafkan
Kasih pasti murah hati
Kasih-Mu Kasih-Mu Tuhan
Reif.:
Ajarilah kami ini saling mengasihi
Ajarilah kami ini saling mengampuni
Ajarilah kami ini kasih-Mu ya Tuhan
Kasih-Mu Kudus tiada Batasnya

Tanda Salib dan Salam 
P : Dalam Nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus
U :Amin
P : Terpujilah nama Tuhan
U : Kini dan Selamanya

Doa Tobat 
P : Bapak-ibu, saudara-i yang terkasih, dalam kehidupan bersama seringkali mengalami berbagai ketidakmudahan dan situsi yang sulit, pada saat itulah kita jatuh dengan mengandalkan diri sendiri dan melupakan Tuhan yang setia memberi kekuatan kepada kita. Mari kita hening sejenak, kita sesali segala dosa dan kelemahan kita.

Saya Mengaku…
P : Semoga Allah yang mahakuasa mengasihani kita, mengampuni dosa kita, dan menghantar kita ke hidup yang kekal.
U : Amin.

Marilah Berdoa Bersama 
P+U: Allah Bapa di Surga, kami bersyukur Engkau satukan sebagai kawanan-Mu. Ajarlah kami hari ini untuk menjadi gembala satu sama lain sehingga mampu menggembalakan anggota komunitas kami dengan baik. Semoga pada kesempatan nan indah ini, kami semua mampu memupuk semangat untuk merengkuh siapapun anggota komunitas kami, terlebih mereka yang telah lama kami singkirkan atau tersingkir. Buatlah hati kami semakin rindu untuk terlibat menumbuhkan dan mengembangkan komunitas kami sebagai murid-murid-Mu. Ini semua kami mohon dengan perantaraan Kristus, Juru selamat kami. Amin.

Bacaan Lukas 15:1-7 
(Pemandu bisa menunjuk peserta yang paling muda untuk membacakan teks Kitab Suci sedangkan peserta yang lain mendengarkan dengan seksama) 

Perumpamaan tentang domba yang hilang 

15:1 – Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa biasanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia.
15:2 Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya: “Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka.
15:3 Lalu Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka:
15:4 “Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya?
15:5 Dan kalau ia telah menemukannya, ia meletakkannya di atas bahunya dengan gembira,
15:6 dan setibanya di rumah ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata kepada mereka: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dombaku yang hilang itu telah kutemukan.
15:7 Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan. “Demikianlah Injil Tuhan 

U : Terpujilah Kristus

Inspirasi Kitab Sui

  • Bacaan di atas menyentuh kita untuk menjadi gembala-gembala kecil dalam komunitas dimana kita hidup. Menjadi gembala berarti mau merengkuh siapapun anggota komunitas kita, tanpa pilih kasih. Bahkan gembala mesti mencari anggota komunitas yang tersingkir/disingkirkan oleh komunitas.
  • Sikap menjadi gembala kecil dalam komunitas ini akan menumbuhkan sukacita bagi komunitas itu sendiri. Mengapa demikian? Jelas, dengan rengkuhan dari gembala itu, bahkan mereka yang tersingkirkan akan merasa bersukacita. Sukacita orang-orang yang disingkirkan itu menjadi sukacita bersama. Mereka yang `ditemukan’ oleh gembala itu pun akhirnya mampu terlibat untuk pertumbuhan dan perkembangan komunitas kita.
  • Maka, orang-orang yang kemudian ‘dicap’ dalam komunitas jangan kemudian disingkirkan atau diacuhkan. Tindakan ini bukanlah tindakan seorang gembala. Mereka membutuhkan uluran tangan kok ditinggalkan? Gembala mesti membantu mereka yang ‘dicap’ itu untuk tetap mampu terlibat dalam komunitas.

Pendalaman (Permainan Kapal Laut) 
NB: Membutuhkan sarana Koran secukupnya. 

Pendalaman akan dilakukan dalam bentuk permainan bersama. Nama permainan ini: Kapal Laut. Permainan ini dilakukan dengan membentuk kelompok-kelompok, dengan anggota tiap kelompok 7 orang. Silakan pemandu membagi peserta pertemuan menjadi kelompok dengan anggota 7 orang. Setelah terbagi menjadi kelompok, pemandu membagikan satu koran pada masing-masing kelompok.

Nah, setelah itu semua anggota kelompok mesti masuk (menginjak) koran. Kemudian, pemandu memastikan semua kelompok telah menginjak koran. Setelah semua menginjak koran, pemandu bercerita dan ketika ada Iota lapal laut’ pemandu menyobek sedikit demi sedikit koran yang diinjak itu. Demikian seterusnya hingga ada kelompok yang benar-benar tetap menginjak koran meski koran semakin mengecil.

Atau Permainan Gembala yang Baik 
NB: Membutuhkan sarana satu slayer atau penutup mata.

Pendalaman mengenai gembala yang baik dalam bentuk permainan bersama. Pemandu menunjuk tiga orang dari kelompok umur yang berbeda. Pada tahap pertama, pemandu menutup mata orang pertama dan meminta orang pertama itu sebagai gembala. Sedangkan umat yang lain silakan berbicara atau memanggil sang gembala. Tugas gembala adalah mengenali siapa yang memanggilnya itu. Semakin banyak yang dikenali oleh sang gembala maka menunjukkan gembala yang baik, begitu sebaliknya. Cara kerja macam ini pun berlaku bagi orang kedua dan ketiga. Untuk permenungan bisa dipandu dengan sesi ‘sharing bersama.

Sharing Bersama 
Pertanyaan Sharing Bersama:

  1. Apa yang menarik dari permainan ini?
  2. Berkaitan dengan tema pertemuan `komunitas yang merengkuh dan terlibat’, apa saja yang membuat kelompokku sebagai komunitasku bisa saling merengkuh dan terlibat?

Peneguhan 

  • Hidup kita sebagai komunitas murid-murid Kristus itu bukanlah kebetulan tetapi anugerah yang istimewa. Berkat rahmat baptisan yang kita terima, secara cuma-cuma kita disatukan dalam komunitas murid Kristus. Kebersamaan sebagai komunitas murid-murid Tuhan itu mesti dipupuk setiap harinya.
  • Tantangan yang bisa jadi tidak kita sadari adalah komunitas kita ternyata menimbulkan pribadi-pribadi tertentu merasa disingkirkan atau tersingkir. Kalau tidak cepat kita tanggapi, hal ini pun merugikan kita bukan? Siapa yang mau kehilangan anggota komunitas? Permainan tadi, mau mengajak Anda semua ingat dengan komunitas yang Anda miliki. Kelompok Anda itu adalah komunitas milik Anda. Memang banyak tantangan dan cobaan tetapi rengkuhan satu sama lain itu akan menyelamatkan komunitas kita. Wujud merengkuh itu: tidak pilih-pilih, berkerja sama, sabar, lembah-lembut, murah hati dan berjalan dalam terang Tuhan Yesus (bdk. Kol 3:1-17).
  • Anda semua dipanggil menjadi gembala-gembal kecil dalam komunitas Anda. Gembala yang mau merengkuh dan mengobarkan anggota komunitas untuk terlibat. Dalam Kol 3:1-17, Anda sebagai gembala mesti mewujudkan kasih dalam komunitas murid-murid Kristus dengan semangat kerendahanhati, kemurahanhati, kesabaran, pengampunan, dan kelemahlembutan. Maukah Anda menjadi gembala-gembala kecil demi komunitas Anda, bahkan mencari yang tersingkir di dalamnya?
  • Akhirnya, seperti seruan Paus Fransiskus dalam Anjuran Apostolik Evangelii Gaudium art 114, sebagai anggota gereja kita ikut ambil bagian menjadi tempat di mana kemurahan hati didapatkan cuma-cuma, dimana setiap orang merasa diterima, dicintai, dimaafkan, dan dikuatkan untuk menghayati kehidupan yang baik dari Injil.

 

Doa Spontan 
 
Bapa Kami 
 
Pengumuman
(Pemandu menyampaikan pengumuman kepada umat yang hadir untuk membaca bahan suplemen pertemuan IV).
Doa Penutup-Bersama (doa Santo Fransiskus dari Asisi)
Tuhan, jadikanlah aku pembawa damai.
Bila terjadi kebencian,
jadikanlah aku pembawa cinta kasih.
Bila terjadi penghinaan,
 jadikanlah aku pembawa pengampunan.
Bila terjadi perselisihan,
jadikanlah aku pembawa kerukunan.
Bila terjadi kesesatan,
jadikanlah aku pembawa kebenaran.
Bila terjadi kebimbangan,
jadikanlah aku pembawa kepastian.
Bila terjadi keputus-asaan,
jadikanlah aku pembawa harapan.
Bila terjadi kegelapan,
jadikanlah aku pembawa terang.
Bila terjadi kesedihan,
jadikanlah aku pembawa sukacita.
Ya Tuhan Allah,
Ajarlah aku untuk lebih suka menghibur daripada dihibur,
Mengerti daripada dimengerti,
Mengasihi daripada dikasihi,
Sebab dengan memberi kita menerima,
Dengan mengampuni kita diampuni,
Dan dengan mati suci kita dilahirkan ke dalam Hidup Kekal.
Amin.
PENUTUP 
 
Berkat 
P : Tuhan beserta kita
U : Sekarang dan selama-lamanya
P : Semoga Allah Yang Mahakuasa memberkati kita dalam Nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus (masing-masing membuat tanda salib)
Nyanyian Penutup
Dalam Yesus Kita Bersaudara
Dalam Yesus kita bersaudara (3X)
Sekarang dan selamanya
Dalam Yesus kita bersaudara
***
Dalam Yesus ada cinta kasih (3X)
Sekarang dan selamanya
Dalam Yesus ada cinta kasih

Pertemuan APP 2 – 2019

BAHAN SUPLEMEN PERTEMUAN APP II 

 

LIMA JALAN MENUJU KEKUDUSAN MENURUT “GAUDETE ET EXSULTATE” 
Seruan Apostolik Paus Fransiskus 

MENGENAI KEKUDUSAN DALAM DUNIA MODERN

Pada tanggal 9 April 2018, Paus Fransiskus mengeluarkan seruan apostolik Gaudete et Exsultate yang berarti “Bersukacitalah dan Bergembiralah”.

Seruan tersebut didasarkan pada Sabda Yesus dalam Matius 5:12: “Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di surga.”Dalam seruan tersebut,Paus ingin menekankan terutama panggilan hidup kudus yang Tuhan alamatkan kepada setiap orang secara pribadi. Maka dari itu, Paus pun mengajak setiap orang agar, “Jangan takut akan kekudusan yang takkan menghilangkan energi, vitalitas, atau kegembiraan Anda, ”

Tulisan ini mengulas lima point penting dari seruan apostolik tersebut berdasarkan tulisan Romo James Martin SJ berjudul: “Top Five Takeaways from ‘Gaudete et Exsultate‘ – www.americamagazine.org.

1. KEKUDUSAN BERARTI MENJADI DIR1 ANDA SENDIRI.

Paus Fransiskus menawarkan kepada kita banyak contoh hidup suci dalam seluruh dokumen .ini: St. Theresia dari Lisieux, Karmelites Prancis yang menemukan kekudusan dalam melakukan tugas-tugas kecil; St. Ignatius dari Loyola, pendiri Yesuit yang mencari Tuhan dalam segala hal; St. Philipus Neri, pendiri Tarekat Oratorian, yang terkenal karena selera humornya.

‘Artikel diambil dari https://ofm.or.id/lima-jalan-menuju-kekudusan/ pada hari Sabtu, 14 Juli 2018 pukul 21.00 dengan revisi seperlunya.

Paus Fransiskus mengatakan, orang-orang kudus berdoa bagi kita dan memberi kita teladan cara hidup. Akan tetapi, kita tidak perlu menjadi “salinan” dari orang-orang kudus tersebut. Kita perlu menjadi diri kita sendiri. Setiap orang beriman perlu “membedakan jalannya sendiri” dan “memunculkan yang terbaik dari dirinya sendiri,” sebagaimana dikatakan oleh Thomas Merton: “Bagi saya menjadi orang suci berarti menjadi diri saya sendiri.”

2. KEHIDUPAN SEHARI-HARI DAPAT MEMBAWA KITA KEPADA KEKUDUSAN.

Bagi Paus Fransiskus, kita tidak perlu menjadi uskup, imam atau anggota ordo religius untuk menjadi suci. Setiap orang dipanggil untuk menjadi orang suci – sebagaimana dikatakan Konsili Vatikan II – entah sebagai seorang ibu atau ayah, seorang siswa atau seorang pengacara, seorang guru atau petugas kebersihan. Paus menyebut mereka ini sebagai “Saints nextdoor”.”Kita sering berpikir bahwa kekudusan hanya untuk mereka yang dapat mengundurkan diri dari urusan sehari-hari untuk menghabiskan banyak waktu dalam doa,” namun kata Paus “Bukan demikian halnya.” “Kita semua dipanggil untuk menjadi kudus dengan menjalani hidup kita dalam cinta kasih dan dengan memberikan kesaksian dalam semua yang kita lakukan, di mana pun kita berada, “ujarnya.

Tidak berarti bahwa kita harus melakukan tindakan besar dan dramatis. Paus Fransiskus menawarkan contoh kesucian dalam hidup sehari-hari, misalnya: orang tua yang penuh kasih membesarkan anak-anak mereka; serta “gerakan kecil” dan pengorbanan yang dapat dilakukan seseorang, seperti memutuskan untuk tidak meneruskan fitnah. Paus menegaskan bahwa apabila kita dapat melihat kehidupan sendiri sebagai “misi,” maka kita akan segera menyadari bahwa kita dapat dengan penuh cinta kasih dan baik hati bergerak menuju kekudusan.

Paus menegaskan juga tidak harus “berleha-leha sampai pingsan dalam mengusahakan hidup mistik”. Kita juga tak perlu mengundurkan diri dari orang lain. Di sisi lain, kita tidak perlu terjebak dalam “perlombaan” yang terburu-buru dari satu hal ke hal lainnya. Hal terpenting untuk mengusahakan kekudusan dalam hidup sehari-hari, menurut Paus Fransiskus, adalah keseimbangan antara tindakan dan kontemplasi.

3. MENGHINDARI DUA MUSUH UTAMA: GNOSTISISME DAN PELAGIANISME

Meskipun begitu, ada musuh yang harus dihadapi setiap orang dalam mencapai kekudusan. Kedua musuh tersebut adalah Gnostisisme dan Pelagianisme. Kedua musuh tersebut menyelinap bagaikan sebuah kekudusan, padahal bukan.

Gnostisime merupakan paham yang menganggap bahwa keselamatan hanya diperoleh melalui pengetahuan yang khusus tentang Allah.

Sedangkan Pelagianisme merupakan paham yang menekankan bahwa usaha manusia sudah cukup untuk mencapai keselamatan.

Dewasa ini, Gnostisisme menggoda orang untuk berpikir bahwa mereka dapat membuat iman “sepenuhnya bisa dipahami” dan memaksa orang lain mengadopsi cara berpikir mereka. “Ketika seseorang memiliki jawaban untuk setiap pertanyaan,” (ex. Awam ke romo-romoan) kata Paus, “itulah tanda bahwa mereka tidak berada di jalan yang benar.” Dengan kata lain, menjadi orang yang tahu segalanya tidak akan menyelamatkan Anda. Sedangkan Pelagianisme sering kali memiliki, “obsesi dengan hukum, keasyikan dengan peluang-peluang sosial dan politik, terlalu cemas dengan liturgi gereja, doktrin dan prestise.” Ini sungguh membahayakan kekudusan karena merampok kita dari kerendahan hati, menempatkan kita di atas orang lain, dan hampir tak memberikan ruang untuk peranan rahmat Allah.
4. BERSIKAP BAIK 

Dalam “Gaudete et Exsultate“, Paus memberikan nasihat praktis bagi umat zaman modern untuk menjalani hidup menuju kepada kekudusan. Paus mengatakan, misalnya, jangan bergosip, hentikan penilaian dan yang paling penting berhenti bersikap kejam. Nasihat berbuat baik ini juga berlaku untuk “kegiatan online”. Komentar Paus tentang topik ini penting diingat. la menulis: “Online fitnah dan umpatan bisa menjadi kebiasaan karena di sana dapat dikatakan apa yang tidak dapat diterima dalam wacana publik.  Orang berusaha mengimbangi ketidakpuasan mereka sendiri dengan menghantam orang lain. Sambil mengklaim bahwa menegakkan perintah-perintah lain, mereka benar-benar mengabaikan perintah kedelapan yang melarang bersaksi palsu atau berbohong dan dengan kejam memfitnah orang lain.”Bagi Paus, menjadi suci, berarti berbuat baik.
5. UCAPAN BAHAGIA ADALAH PENUNJUK JALAN MENUJU KEKUDUSAN. 
Kekudusan adalah fokus seruan apostolik ini. Kekudusan itu bukan sekedar apa yang dimaksudkan Yesus dengan pewartaan-Nya, melainkan kekudusan adalah potret Tuhan Yesus sendiri. Untuk menjadi kudus kita dipanggil untuk menjadi miskin dalam roh, takut akan Allah, menjadi pembawa damai, haus dan lapar akan kebenaran, dan seterusnya.Paus Fransiskus mengatakan: “Berbahagialah orang yang berbelas kasih.” Dan mengatakan, belas kasihan, salah satu tema sentral kepausannya, memiliki dua aspek: membantu dan melayani orang lain, tetapi juga memaafkan dan memahami. Yesus tidak mengatakan, “Berbahagialah orang yang merencanakan pembalasan!”
 
Pertemuan II 
MEMPERJUANGKAN KEKUDUSAN DALAM HIDUP HARIAN 
PEMBUKA 

Lagu Pembuka 

Tanda Salib dan salam
P : Dalam nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus
U : Amin
P : Rahmat Tuhan Kita Yesus Kristus, cinta kasih Allah dan persekutuan dengan Roh Kudus, beserta kita.
U : Sekarangdan selama-lamanya

Kata Pengantar 

Bapak-ibu, dan saudara-saudari yang terkasih, 
Salah satu maksud dari gerakan Aksi Puasa Pembangunan adalah untuk mengajak umat semakin dapat memanfaatkan masa prapaskah sebagai kesempatan untuk mengalami pertobatan sejati, dengan menyesali, membenci, dan meninggalkan kebiasaan-kebiasaan dosa dan bertumbuh dalam keutamaan-keutamaan hidup kristiani. Konstitusi tentang Liturgi Suci Sacrosanctum Concilium art. 110 mengajak kita semua agar membina pertobatan, terutama: “Pertobatan selama masa empat puluh hari hendaknya jangan hanya bersifat batin dan perorangan, melainkan hendaknya bersifat lahir dan sosial kemasyarakatan. Adapun praktek pertobatan, sesuai dengan kemungkinan-kemungkinan zaman kita sekarang dari pelbagai daerah pun juga dengan situasi Umat beriman, hendaknya makin digairahkan, dan dianjurkan oleh pimpinan gerejawi seperti disebut dalam artikel 22. Namun puasa Paska hendaknya dipandang keramat, dan dilaksanakan di mana-mana pada hari Jumat dengan Sengsara dan Wafat Tuhan, dun bila dipandang berfaedah, diteruskan sampai Sabtu suci, supaya dengan demikian hati kita terangkat dan terbuka, untuk menyambut kegembiraan hari Kebangkitan Tuhan.
“Oleh karena itu, dalam pertemuan kedua ini, seruan apostolik yang dikeluarkan oleh Paus Fransiskus pada 9 April 2018 yang berjudul “Gaudete et Exultate” (Bersukacitalah dan Bergembiralah) menjadi inspirasi pengolahan kita. Seruan “Gaudete et Exultate” sendiri bersumber dari Khotbah Yesus di Bukit yang berbunyi, “Bersukacitalah dan bergembiralah karena upahmu besar di surga” (Mat 5:12). Melalui seruan apostolik ini, Paus Fransiskus mengajak kita semua untuk mengusahakan kekudusan di zaman ini (atau Zaman Now). Menurut Paus Fransiskus, mengusahakan kekudusan tidaklah harus menjadi serupa dengan santo atau santa, menjadi kaum religius/biarawan-biarawati. Kekudusan hidup seorang kristiani dapat diupayakan dengan cara-cara yang sederhana dan dapat kita lakukan setiap hari. Cara yang sederhana ini dapat dilakukan oleh siapa saja, baik itu oleh mereka yang sudah berumur maupun oleh anak kecil sekalipun. Perwujudannya pun juga bisa dilakukan di mana saja: bisa di tempat kerja, di gereja, di rumah, maupun di tempat pendidikan.
Bapak-ibu dan saudara-saudariyang terkasih, 
Marilah kita hening sejenak, kita sadari segala kelemahan kita yang terkadang kurang menanggapi panggilan Tuhan dalam mencari kekudusan di tengah dunia yang semakin individual ini.
Doa Tobat
P : Tuhan Yesus Kristus, Engkaulah kabar baik dari Allah yang dapat menyelamatkan kami. Tuhan, kasihanilah kami.
U : Tuhan, kasihanilah kami.
P : Engkau menguatkan kami dan melindungi kami terhadap yang jahat. Kristus, kasihanilah kami.
U : Kristus, kasihanilah kami.
P : Engkau membimbing kami supaya kami dapat mengasihi Allah dan menjadi tabah hati seperti Engkau sendiri. Tuhan, kasihanilah kami.
U : Tuhan, kasihanilah kami. ‘
P : Semoga Allah yang mahakuasa mengasihani kita, mengampuni dosa kita, dan menghantar kita ke hidup yang kekal.
U : Amin
Doa Pembuka
P : Marilah berdoa, (hening sejenak)
Ya Allah Bapa yang penuh dengan belas kasih, dalam kesempatan ini, kami bersama-sama ingin merenungkan ajakan Yesus kepada setiap orang untuk bertekun mengusahakan kekudusan di dalam hidup sehari-hari. Bantulah kami putra-putriMu agar dapat mewujudnyatakan hidup yang kudus tersebut dengan cara sederhana yang dapat kami lakukan di tengah dunia yang semakin individual ini. Ini semua kami mohon dengan pengantaraan Kristus, Juru Selamat kami, yang bersama Dikau dan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, kini dan sepanjang masa. Amin.
Bacaan (Matius 5:1-12)
Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya. Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya:”Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akah dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu.
P : Demikianlah Injil Tuhan
U : Terpujilah Kristus
Renungan Singkat 
Dalam bacaan Kitab Suci yang telah kita dengarkan, Yesus mengajak para murid pada waktu itu untuk berani melibatkan diri dalam kehidupan sehari-hari sebagai masyarakat Israel. Keterlibatan menuju kepada kekudusan yang diinginkan Yesus kepada para murid adalah semangat miskin, lemah lembut, lapar dan haus akan kebenaran, bermurah hati, suci hati, membawa damai, dan menerima penganiayaan dengan tabah. Yesus sendiri menginginkan agar para murid dapat melaksanakan tindakan kekudusan tersebut di tengah situasi masyarakat Israel yang cenderung membanggakan bangsanya sendiri dan memusuhi bangsa yang lain serta munculnya semangat mementingkan kepentingan dirinya sendiri di tengah masyarakat tersebut. Para murid dengan kekhasannya masing-masing diajak oleh Yesus untuk mengusahakan kekudusan di dalam hidup sehari-hari dengan cara mereka sendiri. Di sini pun, Yesus tidak membatasi mereka dengan aturan-aturan yang ketat untuk menjadi kudus, melainkan mengajak mereka semua untuk melakukan hidup harian mereka dengan penuh kasih.
Pertanyaan Permenungan / Sharing 
(Sebelum masuk dalam bagian permenungan/sharing, pemandu dapat membagi umat dalam kelompok-kelompok kecil. Setiap kelompok terdiri dari 8-10 orang. Cara pembagiannya bisa dengan berhitung atau sesuai dengan kelompok usia. Tunjuklah ketua dalam masing-masing kelompok untuk memandu jalannya sharing kelompok serta mencatat hasil sharing.)
  1. Menurut Anda, seperti apakah orang yang disebut kudus itu?
  2. Dalam ekshortasi “Gaudete et exultate” Paus Fransiskus mengatakan bahwa Setiap orang beriman perlu “membedakan jalannya sendiri” dan “memunculkan yang terbaik dari dirinya sendiri”. Adakah cara/jalan istimewa/khas yang dapat anda temukan dari hidup anda setiap hari untuk mengusahakan kekudusan?
Pleno Hasil Permenungan / Sharing 
(Inti pesan yang ingin disampaikan adalah, “Bentuk dan cara untuk mencapai kekudusan berbeda-beda untuk setiap pribadi. Dan kita tidak perlu meniru kekudusan orang lain, kita harus punya cara sendiri menuju kekudusan. Syukur-syukur orang lain meniru cara kita dalam mencapai kekudusan’: Hal tersebut selaras dengan ajakan dari Paus Fransiskus, janganlah takut menjadi kudus!”)
  • Perikop Sabda Bahagia yang kita dengarkan dalam pertemuan ini juga menjadi dasar permenungan Paus Fransikus dalam ekshortasi “Gaudete et exultate” yang ditulisnya untuk mengingatkan kita akan panggilan setiap orang dalam mengusahakan kekudusan di tengah tengah situasi zaman yang semakin mementingkan diri sendiri dan sekuler ini.
  • Jalan menuju kekudusan bukanlah jalan sempit yang hanya diperuntukkan bagi para santo-santa. Panggilan menuju kekudusan adalah panggilan bagi semua orang, tanpa kecuali. Untuk menjadi seorang yang kudus, seseorang tidak harus menjadi seorang uskup, imam, atau religius atau yang memiliki kesempatan untuk melepaskan diri dari urusan sehari-hari agar dapat mendedikasikan diri secara eksklusif dalam doa. Kita semua dipanggil menjadi orang kudus. Caranya ialah dengan hidup dalam kasih dan menawarkan Wesaksian kita sebagai seorang Kristiani setiap hari.
  • Bapa Suci menawarkan suatu cara yang paling sederhana dan praktis yang dapat kita lakukan, yakni dengan menghidupi kehidupan sehari-hari dengan penuh kesungguhan dan dilandasi dengan rasa cinta (menjadi ibu yang baik, guru yang baik, murid yang baik, frater yang baik, pekerja yang baik, dan sebagainya) dan menghindari hal-hal yang menjauhkan pada kekudusan (sikap mementingkan diri sendiri maupun menjauhkan diri dari Tuhan). Sebab, pada dasarnya panggilan untuk sampai pada kekudusan adalah panggilan semua orang.
  • Dalam Konteks zaman ini bagi Paus Fransiskus, perlu bagi setiap orang untuk menjalani hidup dengan penuh ketekunan, kesabaran, kerendahan hati, sukacita, keberanian, dan penuh semangat. Selain itu setiap usaha yang kita lakukan juga perlu dilandasi dengan doa dan persekutuan dengan sesama terlebih dengan Tuhan.
Doa UmatSpontan (berdasarkan sharing)
Bapa Kami 
Doa Penutup 
P : Marilah berdoa, (hening sejenak)
Ya Allah Bapa yang penuh dengan belas kasih, kami menghaturkan terima kasih karena berkat rahmat kasih-Mu, kami memiliki kesempatan yang besar untuk menjadi kudus. Kami pun juga menyadari bahwa kekudusan ini dapat kami capai di dalam kehidupan kami sehari-hari. Bantulah kami agar kami pun mempunyai keberanian di dalam memperjuangkan kekudusan dalam kehidupan kami sehari-hari. Ini semua kami mohon dengan pengantaraan Kristus, Juru Selamat kami. Amin.
Berkat 
P : Tuhan sertamu
U : Dansertamujuga
P : Semoga Allah yang Mahakuasa senantiasa memberkati kita. Dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus
U : Amin
Lagu Penutup 

Pertemuan I APP 2019

“SYUKUR ATAS RAHMAT BELAS KASIH ALLAH” 
PEMBUKA 
Lagu Pembuka: “Ndherek Gusti” 

Yen atimu krasa ora tentrem 
awan bengi ora bisa merem 
aja nganti kowe njur salah dalan 
bingung pikiran lunga saparan-paran. 
Raja br.ana ra marakke ayem 
pangkat mulyo ra ndadekke tentrem 
ngelingana donyane kebak godha 
sapa lena uripe bakal cilaka. 

Reft: Ndherek Gusti Yesus ati ayem 
dalan padhang pikiran dadi tenang 
Ndherek Gusti Yesus ati tentrem 
sapa lena uripe bakal cilaka 

Ndherek Gusti atimu sing suci 
ndherek Gusti pasrah lan ngabekti 
elingana Gusti nate ngandika 
sing pracaya bakale mlebu swarga. 

Tanda Salib dan Salam 
P : Dalam nama Bapa, Putera, dan Roh Kudus
U : Amin
P : Rahmat Tuhan Kita Yesus Kristus, cinta kasih Allah dan persekutuan Roh Kudus, beserta kita
U : Sekarang dan selama-lamanya.

Pengantar 

Bapak-ibu dan saudara-saudari yang terkasih,
Semenjak perayaan Rabu Abu, 6 Maret 2019 yang lalu, kita telah memasuki masa Prapaskah. Masa prapaskah yang akan kita jalani selama 40 hari kedepan menjadi kesempatan istimewa bagi kita umat Kristiani untuk menyiapkan diri menyongsong Hari Raya Paskah. Agar kita semakin mengerti dan mampu menghayati masa prapaskah tahun ini, dalam pertemuan yang pertama ini, kita akan mengolah katekese tentang masa prapaskah. Oleh karena itu, marilah kita siapkah hati memasuki pertemuan ini, mensyukuri limpah berkat Tuhan dalam hidup kita, dan dengan rendah hati mengakui dan menyesali kerapuhan dan dosa-dosa kita.

Seruan Tobat 

Ulangan Berbahagialah orang bila dosanya diampuni.
P : Selama kusembunyikan dosaku, batinku tertekan, dan aku mengeluh sepanjang hari.
U : Berbahagialah orang bila dosanya diampuni.
P : Aku mengakui dosaku di hadapan-Mu, Tuhan dan kesalahanku tidak kusembunyikan.
U : Berbahagialah orang bila dosanya diampuni.
P : Nasib orang berdosa sengsara belaka, tetapi orang yang percaya kepada Tuhan dilimpahi kasih setia.
U : Berbahagialah orang bila dosanya diampuni.
P : Semoga Allah yang mahakuasa mengasihani kita, mengampuni dosa kita, dan menghantar kita ke hidup yang kekal.
U : Amin.

Doa Pembuka 
Allah Bapa yang penuh belas kasih, kami bersyukur boleh memasuki masa prapaskah masa yang penuh rahmat ini. Kami mohon kepada-Mu bimbinglah kami agar kami dapat memanfaatkan masa prapaskah tahun ini dengan kerelaan hati yang lebih sungguh untuk mensyukuri rahmat baptisan yang telah kami terima, mengusahakan pertobatan sejati dan amal kasih yang konkret agar pantas menyambut sukacita karya keselamatanMu dalam Perayaan Paskah nanti.

Hadirlah di tengah-tengah kami dan kobarkanlah hati kami masing-masing dengan rahmat belas kasihMu. Demi Yesus Kristus Putera-Mu, yang bersama Dikau dalam persekutuan dengan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, kini dan sepanjang masa. Amin.

Bacaan Kitab Suci 
Pemandu dapat membacakan atau menunjuk salah satu umatyang hadir atau mengajak umat untuk bergiliran membacakan perikop Kitab suci berikut. 

Pembacaan Kitab suci diambil dari Kitab Nubuat Yoel (Yoel 2:12-17) 

Demikianlah firman TUHAN, “Tetapi sekarang juga berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis, dan dengan mengaduh.” Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada TUHAN, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan Ia menyesal karena hukuman-Nya. Siapa tahu, mungkin Ia mau berbalik dan menyesal, dan ditinggalkan-Nya berkat, menjadi korban sajian dan korban curahan bagi TUHAN, Allahmu. Tiuplah sangkakala di Sion, adakanlah puasa yang kudus, maklumkanlah perkumpulan raya; kumpulkanlah bangsa ini, kuduskanlah jemaah, himpunkanlah orang-orang yang tua, kumpulkanlah anak-anak, bahkan anak-anak yang menyusu; baiklah pengantin laki-laki keluar dari kamarnya, dan penganten perempuan dari kamar tidurnya; baiklah para imam, pelayan-pelayan TUHAN, menangis di antara balai depan dan mezbah,dan berkata: “Sayangilah, ya TUHAN, umat-Mu, dan janganlah biarkan milik-Mu sendiri menjadi cela, sehingga bangsa-bangsa menyindir kepada mereka. Mengapa orang berkata di antara bangsa: Di mana Allah mereka?”

Pendalaman Katekese 
Pemandu menyampaikan beberapa pokak gagasan yang dapat digali dari inspirasi Kitab Suciyang baru saja dibacakan.
  • ➢ Yoel menjelaskan bahwa inti pertobatan sejati pertama-tama tidak terletak dalam upacara lahiriah atau kebiasaan-kebiasaan yang sudah menjadi tradisi, melainkan dalam pertobatan hati (ayat 13a: Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu).
  • ➢ Dalam tradisi Bangsa Israel kebiasaan untuk merobek atau mengoyakkan pakaian menandakan suatu perasaan dukacita atau penyesalan yang sangat mendalam. Memang tidak seluruh pakaian dirobek atau dikoyak, tetapi hanya sebagian kecil saja, supaya memperlihatkan bahwa seseorangsedang berduka atau menyesal. Tetapi kebiasaan inilah yang ditentang oleh Yoel. Simbol merobek atau mengoyakkan pakaian hanya sebagai simbol luaran yang tidak dilakukan dengan sungguh-sungguh. Menurut Yoel, kebiasaan untuk merobek pakaian adalah sia-sia saja, jikalau hal itu itidak mencerminkan kehendak hati yang mendalam (Mzm 51:19, “Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk redam tidak akan Kaupandang hina, ya Allah”)
  • ➢ Masa prapaskah menjadi moment teragung bagi kita umat Kristiani untuk menjalani Retret Agung. Selama masa prapaskah itu kita diajak untuk tidak hanya “merobek dan mengoyakkan pakaian kita, tetapi juga hati kita”. Itulah pertobatan sejati yang justru dikehendaki Allah. Maka, dalam semangat membangun pertobatan sejati itulah, kita diajak untuk melihat kembali beberapa katekese yang diajarkan oleh Gereja tentang masa prapaskah.
Pemandu mengajak umat yang hadir untuk bergiliran membacakan masing-masing pointkatekese mengenai masa prapaskah berikut: 
1. KAPANKAH MASA PRAPASKAH DIMULAI DAN DIAKHIRI? 
Masa Prapaskah adalah masa 40 hari sebelum Paskah, yang digunakan Gereja untuk mempersiapkan diri dalam merayakan Kebangkitan Tuhan kita Yesus Kristus pada hari Minggu Paskah. Masa Prapaskah dimulai pada hari Rabu Abu, yaitu hari di mana umat beriman menerima tanda Salib dari abu di dahinya. Masa Prapaskah berakhir pada siang hari Sabtu Suci. Lima hari Minggu Prapaskah tidak terhitung dalam masa 40 hari tersebut.
2. MENGAPA HARI MINGGU TIDAK TERHITUNG DALAM 40 HARI MASA PRAPASKAH? 
Sebab hari Minggu adalah hari Kebangkitan Kristus, jadi hari Minggu bukanlah saat yang tepat untuk berpuasa dan menyesali dosa-dosa kita. Pada hari Minggu kita wajib merayakan Kebangkitan Kristus demi keselamatan kita. Pada hari Jumat-lah kita mengenang wafat-Nya demi menebus dosa-dosa kita. Hari Minggu sepanjang tahun adalah hari-hari pesta dan hari Jumat sepanjangtahun adalah hari-hari tobat.
3. MENGAPA MASA PRAPASKAH BERLANGSUNG EMPAT PULUH HARI LAMANYA? 
Sebab 40 hari adalah angka yang diyakini dalam Kitab Suci sebagai waktu untuk pendisiplinan diri, penyembahan serta persiapan.
– Musa tinggal di gunung Allah selama 40 hari (Ke124:18; 34:28),
– Elia berkelana selama 40 hari sebelum ia tiba di gua di mana ia mendapat penglihatan (1Raj 19:8),
– Niniwe diberi waktu selama 40 hari untuk bertobat (Yun 3:4),
– dan yang terutama, sebelum memulai karya pewartaan-Nya, Yesus melewatkan 40 hari di padang gurun untuk berdoa dan berpuasa (Mat 4:2).
Karena Masa Prapaskah adalah masa untuk berdoa dan berpuasa, maka selayaknyalah umat Kristiani meneladani Tuhan mereka dengan masa 40 hari lamanya. Kristus menghabiskan 40 hari dengan berdoa dan berpuasa untuk mempersiapkan karya pewartaan-Nya, yang mencapai puncaknya pada hari Jumat Agung (Penyaliban-Nya) dan Minggu Paskah (Kebangkitan-Nya).
Katekismus Gereja Katolik menyatakan: “Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa” (Ibr 4:15). Oleh masa puasa selama empat puluh hari setiap tahun, Gereja mempersatukan diri dengan misteri Yesus di padang gurunf (Katekismus Gereja Katolik 540).
4. APA SAJAKAH CIRI KHAS DARI MASA PRAPASKAH? 
Masa Prapaskah mempunyai dua ciri khas yaitu mengenangkan atau mempersiapkan pembaptisan dan membina pertobatan. Tradisi Gereja mencatat bahwa masa Prapaskah merupakan saat yang penting bagi para katekumen untuk mempersiapkan diri secara lahir dan batin. Persiapan ini mencapai puncaknya ketika katekumen menerima Sakramen Baptis pada Malam Paskah Vigili. Bagi umat beriman lainnya masa ini adalah juga masa tobat. Dalam masa tobat ini, umat beriman melaksanakan “Retret Agung” merenungkan misteri sengsara dan wafat Tuhan Yesus. Tobat ditandai dengan pantang dan puasa. Karena itu sepanjang masa prapaskah, kegiatan pendalaman iman, puasa, pantang, dan amal amat dianjurkan.Warna Liturgi masa prapaskah secara Umum adalah Ungu sebagai lambang pertobatan, kecuali Tri Hari Suci atau Perayaan Wajib Selama Masa Prapaskah.
5. MENGAPA ORANG KATOLIK MEMBUBUHI DAHINYA DENGAN TANDA SALIB PADA HARI RABU ABU? 
Sebab menurut Injil tanda di dahi adalah lambang kepemilikan seseorang. Dengan tanda salib didahinya melambangkan bahwa orang tersebut adalah milik Yesus Kristus, yang wafat di Kayu Salib. Tanda itu serupa dengan tanda rohani atau meterai yang dimeteraikan dalam Baptisan Kristiani, yaitu ketika manusia dibebaskan dari perbudakan dosa, serta dijadikan hamba kebenaran. (Roma 6:3-18). Tanda itu juga serupa dengan gambaran, orang-orang benar dalam Kitab Wahyu: “Janganlah merusakkan bumi atau laut atau pohon-pohon sebelum kami memeteraikan hamba-hamba Allah kami pada dahi mereka!” (Why 7:3)
6. MENGAPA DALAM PERAYAAN RABU ABU, UMAT DIBERI TANDA ABU DI DAHI? 
Dengan menerima abu, setiap umat beriman diingatkan untuk kembali kepada Tuhan. “Kamu berasal dari abu dan akan kembali menjadi abu”. (Kej 2:7).Forma ini mengingatkan kita akan kematian dan/atau kedatangan Tuhan yang dapat terjadi sewaktu-waktu seumpama pencuri di waktu malam, oleh karena itu diperlukan sikap berjaga-jaga dan bertobat: “Bertobatlah dan percayalah pada Injil”
Abu merupakan tanda yang mengingatkan kepada kita bahwa kita berasal dari debu tanah dan akan kembali ke abu/ debu tanah. (bdk. Kej 3:19, Ayb 34:15; Mzm 90:3; Mzm 104:29; Pengkhotbah 3:20).Kita ketahui bahwa manusia pertama diciptakan Allah dari debu tanah dan semua manusia akan meninggal, dan tubuhnya akan kembali terurai menjadi debu tanah. Pada saat kita menerima tanda salib dari abu di dahi kita pada hari Rabu Abu, kita diingatkan bahwa suatu saat nanti kita akan kembali ke tanah, yaitu bahwa hidup kita di dunia ini adalah sementara. Maka kita diajak untuk mengarahkan hati kepada Allah yang menciptakan kita, sebab Dia berada di atas kita dan segala kesenangan dunia sifatnya sementara.
7. BERASAL DARI MANAKAH ABU YANG DIGUNAKAN PADA HARI RABU ABU? 
Abu tersebut dibuat dengan membakar daun-daun palma yang berasal dari hari Minggu Palma tahun sebelumnya. Daun-daun palma itu kemudian diberkati oleh imam-abu yang diberkati telah digunakan dalam ritual keagamaan sejak jaman Musa (Bi119:9-10,17).
8. MENGAPA DAUN-DAUN PALMA YANG BERASAL DARI HARI MINGGU PALMA TAHUN SEBELUMNYA YANG DIGUNAKAN? 
Sebab hari Minggu Palma adalah saat rakyat bersukacita menyambut Yesus yang memasuki Yerusalem dengan jaya. Mereka menyambut kedatangan-Nya dengan melambai-lambaikan daun-daun palma, sedikit di antara mereka yang menyadari bahwa Ia datang untuk wafat guna menebus dosa-dosa mereka.
Dengan menggunakan daun-daun Minggu Palma, Gereja-hendak mengingatkan bahwa kita selayaknya tidak hanya bersukacita atas kedatangan Yesus, tetapi juga menyesali kenyataan bahwa karena dosa-dosa kitalah maka Ia harus wafat bagi kita guna menyelamatkan kita dari api neraka.
9. APA ITU HARI PUASA DAN PANTANG? 
Sesuai dengan Kitab Hukum Kanonik dan Ketentuan Pastoral Keuskupan Regio Jawa 2017 pasal 138 no 2.b tentang hari tobat, hari puasa adalah hari di mana umat Katolik yang berumur 18 sampai awal tahun ke-60diwajibkan berpuasa.
Puasa berarti makan kenyang (normal) satu kali sehari dengan dua kali makanan kecil, selama porsi kedua makanan kecil tersebut jika dijumlahkan tidak menjadi satu porsi makanan normal. Anak-anak tidak diwajibkan berpuasa, namun demikian para orangtua wajib menjamin bahwa anak-anak mereka memperoleh pendidikan rohani yang selayaknya dalam hal berpuasa. Mereka yang mempunyai masalah kesehatan dan karenanya membutuhkan porsi makanan yang lebih besar atau makanan normal seperti biasanya, dapat dgan mudah memperoleh dispensansi dari imam. Hari pantang adalah hari di mana umat Katolik yang berumur genap 14 tahun keatas wajib berpantang daging, atau ikan atau garam, atau jajan atau rokok. Bila dikehendaki masih bisa menambah sendiri puasa dan pantang secara pribadi, tanpa dibebani dengan dosa bila melanggarnya. Sekali lagi, mereka yang mempunyai masalah kesehatan dan karenanya mempunyai kebutuhan makanan yang khusus dapat dengan mudah memperoleh dispensasi dari imam.
10. KEGIATAN APA SAJAKAH YANG COCOK DILAKUKAN PADA HARI-HARI BIASA SEPANJANG MASA PRAPASKAH? 
Sepanjang hari-hari biasa masa prapaskah umat Kristiani diharapkan mengupayakan pertumbuhan pribadi dan komunitas dalam keutamaan-keutamaan hidup kristiani, baik , dengan menyangkal diri dari sesuatu yang kita sukai, melakukan tindakan, amal kasih baik secara jasmani ataupun rohani bagi sesama, berdoa, berpuasa dan berpantang, mengikuti misa harian, Adorasi di hadapan Sakramen Mahakudus, meluangkan waktu membaca Kitab Suci.
Mengikuti pertemuan-pertemuan untuk sharing iman/ibadat/pendalaman iman bersama di lingkungan, memenuhi kewajiban-kewajiban kita secara lebih setia, menerima Sakramen Tobat dan tindakan-tindakan lain yang menyatakan tobat secara umum. Masa prapaskah menjadi moment yang tepat untuk mengadakan pembinaan dan penerimaan kembali ke dalam pangkuan Gereja bagi mereka yang berada dalam keadaan dosa berat. Penerimaan sakramen tobat bagi umat baik juga jika diadakan di lingkungan-lingkungan untuk melayani mereka yang sakit, lanjut usia dan berada dalam kondisi keterbatasan fisik yang tidak memungkinkan untuk menerima sakramen tobat di Gereja.
11. MENGAPA MENYANGKAL DIRI DARI HAL-HAL TERTENTU SELAMA MASA PRAPASKAH MERUPAKAN KEBIASAAN YANG BAIK SERTA BERMANFAAT?
Dengan menyangkal diri dari hal-hal yang kita sukai, kita mendisiplinkan kehendak kita sehingga kita tidak diperbudak oleh kesenangan-kesenangan kita itu. Seperti misalnya dengan selalu memperturutkan kata hati dalam menyantap makanan akan mengakibatkan kelemahan jasmani, jika keterikatan itu semakin besar, kita juga tidak akan mampu menghadapi situasi-situasi yang sulit lainnya. Terbiasa memperturutkan kata hati dalam segala kesenangan akan mengakibatkan kelemahan rohani, dan jika keterikatan itu semakin besar, kita juga tidak akan mampu menghadapi situasi-situasi rohani yang sulit. Dengan mendisiplinkan kehendak kita untuk menolak godaan pada saat godaan tersebut tidak menimbulkan dosa, maka kita membentuk kebiasaan untuk menolak godaan ketika godaan itu mengakibatkan dosa.
12. SELAIN HARI RABU ABU, YANG MENGAWALI MASA PRAPASKAH, ADAKAH PERAYAAN-PERAYAAN PENTING LAINNYA DALAM MASA PftAPASKAH?
Ada banyak pesta par’a kudus dalam Masa Prapaskah, dan beberapa di antaranya berubah dari tahun ke tahun karena tanggal berlangsungnya Masa Prapaskah sendiri juga berubah-ubah sesuai dengan tibanya Perayaan Paskab. Hari-hari Minggu dalam Masa Prapaskah kita mengenangkan peristiwa-peristiwa penting dalam hidup Tuhan Yesus, seperti Transfigurasi-Nya dan Yesus memasuki Yerusalem dengan jaya pada Hari Minggu Palma yang menjadi tanda dimulainya Pekan Suci.
Pekan Suci mencapai puncaknya pada hari Kamis Putih-di mana Kristus merayakan Misa pertama, Jumat Agung-di mana Yesus disalibkan, dan Sabtu Suci-hari terakhir dari Masa Prapaskah-di mana Tuhan Yesus terbaring di Makam sebelum Kebangkitan-Nya pada hari Minggu Paskah, yaitu hari pertama sesudah Masa Prapaskah.
13. DALAM HAL LITURGI, ADAKAH HAL-HAL KHUSUS YANG PATUT MENJADI PERHATIAN SELAMA MASA PRAPASKAH? 
Dalam perayaan liturgi selama masa Prapaskah, Kemuliaan dan Alleluia tidak dinyanyikan, kecuali pada hari raya wajib selama masa Prapaskah, yaitu HR St. Yusuf (tgl. 19 Maret) dan HR Kabar Sukacita (tgl. 25 Maret). Jika hari raya tersebut jatuh pada hari Minggu Prapaskah maka hari raya tersebut dipindahkan ke hari lain. Misalnya: tanggal 25 Maret 2018 itu bertepatan dengan minggu palma, maka hari raya kabar sukacita dipindahkan ke tanggal 9 April 2018. Ikon-ikon kudus ditutupi, menandakan masa umat di padang gurun, hiasan-hiasan sebaiknya tidak dibuat mewah, hiasan banga ditiadakan selama masa Prapaskah. Mulai Minggu prapaskah V, salib diselubungi kain ungu sampai akhir Jumat Agung, sedangkan patung (atau lukisan utama) sampai awal perayaan Malam Paskah. Khusus selama Kamis Putih selubung ungu diganti selubung putih. Alat-alat musik hanya boleh dimainkan secara sederhana untuk mengiringi nyanyian dan yang menggarisbawahi ciri tobat. Sejalan dengan itu, maka Perayaan-perayaan atau pesta-pesta dan resepsi tidak dianjurkan selama masa Prapaskah. Demikian biasanya penerimaan Sakramen Perkawinan dan Imamat ditiadakan selama masa Prapaskah. Tetapi pemberesan perkawinan bagi mereka yang terkena ekskomunikasi sangat dianjurkan selama Masa Prapaskah. Pastor paroki dimohon secara bijaksana mencermati dan mengambil kebijakan sebail: mungkin dalam situasi dan kebutuhan pelayanan umat ini.
14. BOLEHKAH ADA IRINGAN ORGAN DALAM MISA SELAMA MASA PRAPASKAH? 
Tentang penggunaan alat musik dalam masa prapaskah, Litterae • arculares De Festis Paschalibus Praeparandis et Celebrandis (Surat Edaran Tentang Perayaan Paskah & Persiapannya) Roma, thn 1988 dan PUMR thn 2002 menyebutkan bahwa: Dalam Masa Prapaskah tak diperkenankan menghias altar dengan bunga-bunga; bunyi alat-alat musik diperkenankan hanya untuk mengiringi nyanyian (FPPC 17).
Pada Minggu Prapaskah ke-4 (“Laetare”) dan pada Haii Raya dan Pesta, orgel dan alat-alat musik lain dapat dimainkan dan altar dapat dihias dengan bunga-bunga (FPPC 25). Selama Masa Prapaskah, organ dan alat musik lain hanya boleh dimainkan untuk menopang nyanyian, kecuali pada Minggu Laetare (Minggu Prapaskah IV) dan hari raya serta pesta yang terjadi dalam masa ini (PUMR 313).
15.MENGAPA DALAM MASA PRAPASKAH, UMAT DIANJURKAN UNTUK MENGIKUTI IBADAT JALAN SALIB? 
Jalan Salib disusun berdasarkan meditasi St. Bernard, St. Fransiskus Asisi dan St. Bonaventura di abad pertengahan, yang kemudian dituangkan dalam 14 pemberhentian seperti yang kita kenal sekarang dari komunitas Fransiskan di abad ke 17. Tujuan renungan/meditasi ini adalah supaya umat dapat merenungkan kisah sengsara Yesus dari saat sebelum wafat-Nya sampai Ia dikuburkan. Ibadat Jalan Salib diadakan setiap Hari Jumat selama Masa Prapaskah, Ibadat ini dapat dilaksanakan di Gereja atau dapat juga dilaksanakan di di setiap lingkungan di tempat yang sesuai. Doa jalan Salib pribadi atau bersama keluarga juga dianjurkan untuk dilaksanakan selama Masa Prapaskah. Doa Jalan Salib biasanya disesuaikan dengan tema APP di setiap Keuskupan.
16.PEKAN SUCI DIMULAI DENGAN PERAYAAN HARI MINGGU PALMA. APA MAKNA DARI PERAYAAN INI DAN APA SAJAKAH KETENTUAN-KETENTUAN LITURGIS YANG HARUS DIPERHATIKAN? 
Perayaan Minggu Palma dimaksudkan sebagai perayaan yang menghubungkan perayaan kejayaan Kristus Raja dengan pewartaan sengsara-Nya. Beberapa ketentuan liturgis mengenai perayaan Minggu Palma adalah sebagai berikut:
  1. Prosesi meriah Minggu Sengsara untuk mengenang perarakan Yesus masuk Yerusalem diadakan hanya satu kali dan hendaknya dilakukan pada misa yang paling utama pada hari Minggu, sedangkan cara sederhana dilaksanakan pada Misa yang lain pada hari ini.;
  2. Daun palma yang diberkati dalam perayaan ini dapat disimpan di rumah masing-masing kaum beriman sebagai tanda kejayaan Kristus.;
  3. Kisah Sengsara dibawakan dengan meriah tanpa lilin dan dupa. Peran Yesus dibawakan oleh imam. Tetapi kalau dinyanyikan, peran Yesus dapat dibawakan oleh orang lain.
17. TRI HARI SUCI DIMULAI DENGAN PERAYAAN EKARISTI KAMIS PUTIH, SAMPAI PUNCAKNYA DALAM PERAYAAN MALAM PASKAH DAN BERAKHIR MINGGU PASKAH. APA MAKNA DARI PERAYAAN KAMIS PUTIH DAN APA SAJAKAH KETENTUAN-KETENTUAN LITURGIS YANG HARUS DIPERHATIKAN? 
Perayaan Kamis Putih merupakan perayaan liturgi yang mengawali Trihari Paskah dan dimaksudkan untuk mengenang Perjamuan Malam terakhir yang dilakukan oleh Yesus bersama dengan murid-murid-Nya. Beberapa ketentuan liturgis mengenai perayaan Kamis Putih adalah sebagai berikut:
  1. Selama kemuliaan/gloria dinyanyikan klinthing dan (Ionceng) dibunyikan.;
  2. Dalam Perayaan Kamis Putih, diadakan upacara pembasuhan kaki untuk mengungkapkan semangat pelayanan dan kasih Kristus yang datang tidak untuk dilayani melainkan untuk melayani.;
  3. Setelah Misa Kamis Putih umat diajak mengadakan tuguran dengan adorasi dalam gereja di depan Sakramen Mahakudus. Dalam tuguran ini, dapat bisa dibacakan Injil Yoh bab 13-17 dan setelah tengah malam, tuguran/adorasi hendaknya dilaksanakan tanpa KEMERIAHAN KARENA SUDAH MULAI HARI SENGSARA TUHAN.
18. APA MAKNA DARI PERAYAAN JUMAT AGUNG DAN APA SAJAKAH KETENTUAN-KETENTUAN LITURGIS YANG HARUS DIPERHATIKAN? 
Perayaan Ibadat (bukan misa) Jumat Agung adalah perayaan ibadat untuk mengenangkan sengsara Tuhan dan menghormati salibNya. Beberapa ketentuan liturgis mengenai perayaan Jumat Agung adalah sebagai berikut:
  1. Ibadat Jumat Agung sebaiknya diadakan jam 15.00, namun karena alasan pastoral dapat juga ditentukan waktu yang lain yang lebih sesuai untuk umat, misalnya setelah tengah hari siang atau sore, tetapi tidak boleh setelah jam 21.00.;
  2. Ibadat Jumat Agung meliputi perayaan sabda (termasuk kisah sengsara dan doa umat meriah), penghormatan salib, dan penerimaan komuni.
19.APA MAKNA DARI PERAYAAN SABTU SUCI DAN APA SAJAKAH KETENTUAN-KETENTUAN LITURGIS YANG HARUS DIPERHATIKAN? 
Pada Sabtu Suci/Sabtu Paskah, Gereja berhenti di makam Tuhan, merenungkan penderitaan, wafat, dan masuk-Nya ke dunia kematian dan menantikan kebangkitan-Nya dengan puasa dan doa. Beberapa ketentuan liturgis mengenai Sabtu Suci adalah sebagai berikut:
  1. Pada Sabtu pagi – siang tidak ada perayaan Ekaristi.;
  2. Bila mungkin, hendaknya diadakan ibadat Sabda atau kebaktian yang sesuai dengan misteri yang dikenangkan pada hari ini.
20.APA MAKNA DARI PERAYAAN MALAM PASKAH DAN APA SAJAKAH KETENTUAN-KETENTUAN LITURGIS YANG HARUS DIPERHATIKAN? 
Malam Paskah adalah malam tirakatan bagi Tuhan, mengenangkan malam kudus waktu Tuhan bangkit dan karenanya dipandang sebagai induk segala tirakatan. Beberapa ketentuan liturgis mengenai Malam Paskah adalah sebagai berikut:
  1. Perayaan Malam Paskh terdiri atas upacara cahaya dan madah Paskah, perayaan sabda tentang karya-karya agung Allah, perayaan baptis, perayaan ekaristi.;
  2. Agar umat dapat mengikuti upacara cahaya, sebaiknya umat mengelilingi lilin paskah di halaman gereja. Bila keadaan tidak memungkinkan, upacara cahaya dilaksanakan di depan altar, lalu diadakan prosesi dari belakang gereja.
21.APA MAKNA DARI PERAYAAN MINGGU PASKAH DAN APA SAJAKAH KETENTUAN-KETENTUAN LITURGIS YANG HARUS DIPERHATIKAN?
Bila Perayaan Malam Paskah tidak dititik-beratkan pada peristiwa/keadaan Kristus setelah bangkit, tetapi pada peristiwa peralihan dari sengsara dan wafat ke kebangkitan dan pengharapan, maka perayaan Minggu Paskah akan lebih bermakna. Beberapa ketentuan liturgis mengenai Perayaan Minggu Paskah:
  1. Dapat diadakan pembaruan janji baptis dan pemercikan air suci mengingat adanya sebagian umat yang tidak mengikuti perayaan Malam Paskah, atau
  2. Di awal misa dilakukan pemercikan air suci yang diberkati pada Malam Paskah dan diiringi lagu `Vidi Aguam’ atau nyanyian baptis
Menggali Pengalaman: 
Semangat Menghidupi Masa Prapaskah
(Bahasa disesuaikan dengan situasi peserta yang hadir)
➢ Mendalami Pengalaman (Pemandu memberikan beberapa pertanyaan berikut kepada peserta)
a. Adakah hal yang paling menarik dari point-point katekese masa prapaskah tersebut? Mengapa?
b. Bagaimana perasaanku saat memulai masa prapaskah tahun ini?
(Apakah sedih, gembira, bersemangat, biasa-biasa saja atau mungkin ada harapan-harapan tertentu?). Mengapa?
c. Apa yang membuatku greget/bersemangat menjalani masa prapaskah tahun ini? (mungkin ada ujud-ujud tertentu yang ingin dimohon kepada Tuhan selama masa prapaskah ini) 
Membangun Niat (Iampiran) 
Apa niat konkretku selama 5 minggu ke depan untuk meningkatkan semangat mati raga, pantang dan puasa sebagai bentuk usahaku untuk membangun semangatpertobatanyang sejati di masa prapaskah ini?
Panduan untuk Pemandu 
➢ Pemandu mengajak peserta untuk membuat niat di dalam keluarga masing-masing dengan langkah 5 jari.
➢ Langkah pengisiannya sebagai berikut:
  • Jari Jempol: Minggu Prapaskah I -> Apa niat yang akan aku hidupi di dalam keluargaku selama minggu prapaskah I? (misalnya: misa harian)
  • Jari Telunjuk: Minggu Prapaskah II —> Apa niat yang akan aku hidupi di dalam keluargaku selama minggu prapaskah II? (misalnya: doa bersama setiap malam)
  • Jari Tengah: Minggu Prapaskah III -> Apa niat yang akan aku hidupi di dalam keluargaku selama minggu prapaskah III? (misalnya: membaca kitab suci setiap malam)
  • Jari Manis: Minggu Prapaskah IV Apa niat yang akan aku hidupi di dalam keluargaku selama minggu prapaskah IV? (misalnya: mendoakan saudari-saudara yang sudah meninggal)
  • Jari Kelingking: Minggu Prapaskah V -> Apa niat yang akan aku hidupi di dalam keluargaku selama minggu prapaskah V? (misalnya: mengunjungi saudara/tetanggayang sedang sakit)
➢ Masing-masing jari diisi dengan 1 (satu) niat saja yang ingin dihidupi dalam setiap minggu prapaskah
Doa Penutup
Allah Bapa yang maha kuasa, kami bersyukur kepada-Mu atas Masa Prapaskah yang Kau anugerahkan’ kepada kami. Lewat Masa Prapaskah ini. Engkau menginginkan kami untuk menyadari segala kebaikan-Mu. Selama Masa Prapaskah ini Engkau melimpahkan rahmat untuk menyegarkan iman kami. Engkau mengajak kami untuk bertobat, menyesali kekurangan dan dosa-dosa kami. Engkau mendorong kami melepaskan diri dari belenggu nafsu yang menyesatkan. Engkau mengajar kami untuk hidup sederhana, mensyukuri segala anugerah-Mu, dan membantu orang-orang yang menderitaSemoga karena rahmat-MU, yang Kau limpahkah selama Masa Prapaskah ini. kami semakin Suci, semakin bersatu dengan umat kesayangan-MU, dan berani meneladani Yesus Putra- MU, yang rela menderita sengsara, wafat dan bangkit untuk menyelamatkan kami. Sebab dialah Tuhan, pengantara kami, kini dan sepanjang masa (Amin)
Pengumuman
(Pemandu menyampaikan pengumuman kepada umat yang hadir untuk membaca bahansuplemen pertemuan II].
Lagu Penutup:
“Ku Mau Cinta Yesus”
Ku mau cinta YESUS selamanya
Ku mau cinta YESUS selamanya
Meskipun badai silih berganti dalam hidupku
Kutetap cinta YESUS selamanya
Ref: Ya ABBA BAPA ini aku anakM U
Layakkanlah seluruh hidupku
YaABBA BAPA ini aku anakMU
Pakailah sesuai dengan rencanaM U…

GAGASAN DASAR AKSI PUASA PEMBANGUNAN 2019

Pengantar 
Masa Prapaskah di tahun 2019 dimulai sejak Hari Rabu Abu, 6 Maret 2019. Selama empat puluh hari masa Prapaskah, seluruh umat kristiani mempersiapkan diri untuk menyambut perayaan Paskah Kebangkitan Tuhan. Dalam masa persiapan ini, umat diajak untuk secara pribadi dan bersama-sama mengolah diri dalam hidup rohani, membuka diri terhadap rahmat belas kasih Allah melalui pertobatan, dan membangun keutamaan kasih dalam wujud belarasa terhadap sesama. Selain itu, menurut Konstitusi Liturgi Suci, Sacrosanctum Concilium art. 109, masa Prapaskah menjadi kesempatan untuk mengenangkan kembali atau menyiapkan Baptis dan membina pertobatan.
Semenjak tahun 1970,Gereja Katolik Keuskupan Agung Semarang memulai gerakan Aksi Puasa Pembangunan selama masa Prapaskah. Melalui gerakan ini, seluruh umat diajak untuk bersyukur kepada Allah yang senantiasa berbelas kasih dan memberikan berkat, agar siapa pun dan apa pun dapat (dimampukan untuk) saling menjadi berkat. Selain itu, gerakan ini mengajak umat untuk mewujudkan diri sebagai “insan pembangunan” yang berkeadilan sosial sebagai wujud tanggung jawab menunaikan perutusan membangun Kerajaan Allah. Dalam semangat pertobatan, umat beriman diingatkan kembali untuk senantiasa bertumbuh dalam keutamaan hidup kristiani, mengasah kepekaan sosial dengan tergerak untuk berbelarasa dan memperjuangkan keadilan sosial, terutama bagi saudari-saudara yang menderita dan berkekurangan.
Agar semangat dasar dari gerakan APP semakin mendarah-daging di tengah umat, bagian awal dari bahan permenungan APP 2019 (dua pertemuan pertama) mengajak umat untuk menggali semangat yang semestinya dihayati selama masa prapaskah dan semangat dasar gerakan APP. Bahan ini disusun untuk mengingat kembali akan makna dan semangat masa Prapaskah sebagai kesempatan retret agung bagi seluruh umat beriman, sebagai kesempatan mempersiapkan Perayaan Paskah dengan membina pertobatan sejati dan amal kasih kepada sesama.
Berbagai informasi mengenai sejarah, tujuan, semangat dasar dari gerakan APP, serta pengelolaan dan pemanfaatan dana APP yang terkumpul semoga dapat menjadi sarana untuk menggerakkan semakin banyak orang untuk peduli dan berbela rasa, agar wajah Allah yang murah hati dan penuh belas kasih dapat dijumpai dan dialami oleh semakin banyak orang.
Masa Prapaskah sebagai Momentum Retret Agung Umat
Masa Prapaskah yang juga disebut dengan istilah tempus quadragesimale atau Quadragesima Paschae adalah masa empat puluh hari untuk mempersiapkan diri menyambut Perayaan Paskah. Dalam Konstitusi tentang Liturgi Suci Sacrosanctum Concilium art. 109, disebutkan bahwa “Hendaklah baik dalam Liturgi maupun dalam katekese liturgis ditampilkan lebih jelas dua ciri khas masa “empat puluh harl; yakni terutama mengenangkan atau menyiapkan Baptis dan membina pertobatan. Masa itu secara lebih intensif mengajak Umat beriman untuk mendengarkan sabda Allah dan berdoa, dan dengan demikian menyiapkan mereka untuk merayakan misteri Paska. Maka darl itu:
a) Unsur-unsur Liturgi empat puluh hari yang berkenaan dengan Baptis hendaknya dimanfaatkan secara lebih luas; bila dipandang bermanfaat, hendaknya beberapa unsur dari Tradisi zaman dahulu dikembalikan; 
b) Hal itu berlaku juga bagi unsur-unsur yang menyangkut pertobatan. Mengenai katekese hendaknya ditanamkan dalam hati kaum beriman baik dampak sosial dosa, maupun hakekat khas pertobatan, yakni menolak dosa sebagai penghinaan terhadap Allah; jangan pula diabaikan peran Gereja dalam tindak pertobatan, dan hendaknya doa-doa untuk para pendosa sangat dianjurkan.”
Oleh karena itu, dalam masa prapaskah tahun ini, katekese mengenai masa prapaskah disampaikan kembali agar seluruh umat semakin mengingat dan mensyukuri kesempatan masa prapaskah ini, terutama untuk mengenang dan mensyukuri karunia baptisan yang telah diterima, mempersiapkan diri lebih sungguh bagi mereka yang hendak menerimanya, dan membina pertobatan sebagai persiapan menyambut perayaan Paskah. Dalam usaha membina pertobatan, seluruh umat diajak untuk melatih diri berhenti melakukan berbagai kebiasaan buruk, melatih penguasaan diri dalam pantang dan puasa, melatih diri dalam kebiasan baik dengan membaca kitab suci, berdoa, mengikuti Sakramen Ekaristi lebih teratur, menyesali dosa dan menyambut sakramen pengakuan dosa, memperbaharui iman, serta mempersiapkan diri menyambut sukacita perayaan Paskah.
Konstitusi tentang Liturgi Suci Sacrosanctum Concilium art. 110 juga menyebutkan bahwa “Pertobatan selama masa empat puluh hari hendaknya jangan hanya bersifat batin dan perorangan, melainkan hendaknya bersifat lahir dan sosial kemasyarakatan. Adapun praktek pertobatan, sesuai dengan kemungkinan-kemungkinan zaman kita sekarang dari pelbagai daerah pun juga dengan situasi Umat beriman, hendaknya makin digairahkan, dan dianjurkan oleh pimpinan gerejawi seperti disebut dalam artikel 22, Namun puasa Paska hendaknya dipandang keramat, dan dilaksanakan di mana-mana pada hari Jumat dengan Sengsara dan Wafat Tuhan, dan bila dipandang berfaedah, diteruskan sampai Sabtu suci, supaya dengan demikian hati kita terangkat dan terbuka, untuk menyambut kegembiraan hari Kebangkitan Tuhan.” Selaras dengan semangat ini, pada tanggal 9 April 2018 yang lalu, Paus Fransiskus menulis sebuah ekshortasi yang berjudul “Gaudete et exultate“. Dalam ekshortasi tersebut, Paus Fransiskus ingin mengingatkan kembali semua orang beriman akan panggilan untuk mengusahakan kekudusan. Bapa Paus menegaskan bahwa dalam mengusahakan kekudusan, orang beriman tidak harus menjadi “penggalan” atau “salinan” dari santo-santa atau para orang kudus. Mengusahakan kekudusan pertama-tama adalah dengan menjadi diri sendiri. Setiap orang beriman perlu “membedakan jalannya sendiri” dan “memunculkan yang terbaik dari dirinya sendiri”.
Untuk menjadi kudus, setiap orang beriman tidak perlu menjadi seorang uskup, seorang imam, ‘atau anggota dari suatu ordo/kongregasi religius. Setiap orang dipanggil untuk menjadi kudus dalam dirinya sendiri – sebagaimana dikatakan Konsili Vatikan II – entah sebagai seorang ibu atau ayah, seorang siswa atau seorang pengacara, seorang guru atau petugas kebersihan. Cukuplah bagi seseorang untuk menjadi seorang yang baik dan berkeutamaan bagi yang lain, atau yang disebut oleh Bapa Paus sebagai “the saints next door” dengan “menjalani hidup kita dalam cinta” dan “memberi kesaksian” tentang Tuhan dalam semua yang kita lakukan setiap hari.
Kekudusan tidak selalu harus melalui tindakan-tindakan besar dan dramatis. Melalui kesederhanaan hidup harian yang dijalani, setiap orang beriman dapat mengusahakan kekudusannya. Ada beberapa contoh yang disampaikan oleh Bapa Paus: orang tua yang penuh kasih membesarkan anak-anak mereka, usaha dan pengorbanan sederhana seseorang untuk tidak meneruskan gosip, dll. Dengan menyadari bahwa setiap orang diutus setiap hari sebagai “murid Kristus yang diutus”, setiap orang beriman dapat berjuang dalam kebaikan dan keutamaan hidup, bergerak menuju kekudusan. Dalam mengemban perutusan tersebut, setiap orang perlu mengusahakan keseimbangan antara tindakan dan kontemplasi. Bagi Bapa Paus, mengusahakan kekudusan itu sederhana: dengan berbuat baik, menghayati kemiskinan dalam roh dan takut akan Allah, menjadi pembawa damai bagi siapa pun, senantiasa haus dan lapar akan kebenaran, dan seterusnya. Kekudusan yang diusahakan juga nampak dalam sikap penuh belas kasih yang terwujud dalam tindakan konkret membantu – melayani orang lain dan memaafkan – merengkuh kerapuhan sesama.
Revitalisasi Semangat Dasar Gerakan APP
Semangat dasar dalam mengusahakan kekudusan dalam keseharian hidup yang disampaikan oleh Paus Fransiskus tersebut di atas “ternyata sambung” dengan semangat dasar dari gerakan Aksi Puasa Pembangunan di Keuskupan Agung Semarang yang digagas dan dimulai semenjaktahun 1970.
Sejak pertama kali digagas oleh Rm. C. Carry SJ (Vikjen KAS waktu itu), gerakan Aksi Puasa Pembangunan mendasarkan diri dalam kesadaran akan Allah yang senantiasa berbelas kasih, melimpahkan berkatNya agar siapapun dan apapun dapat saling menjadi berkat. Belas kasih Allah merangkul semua orang supaya semua orang menikmati kembali Syalom (damai sejahtera) dalam kerajaan Allah. Puncak dari limpah berkat belas kasih Allah terwujud dalam pengorbanan dan solidaritas Yesus Kristus yang telah menderita, sengsara, wafat, dan bangkit untuk keselamatan semua orang. Kelimpahan berkat belas kasih Allah inilah yang patut disyukuri selama masa prapaskah dan dalam usaha membangun pertobatan sejati. Pertobatan yang diupayakan selama masa Prapaskah mengajak umat untuk mengalami metanoia – berpaling kembali kepada Allah, dan mewujudkan tanggung jawabnya sebagai “murid kristus yang diutus” untuk membangun Kerajaan Allah. Perutusan ini dapat secara konkret diwujudkan dalam keterbukaan orang untuk terlibat aktif dalam dalam usaha-usaha menegakkan keadilan, kedamaian, dan keutuhan ciptaan, terutama dengan mewujudkan pilihan dasar Gereja:preferential option for and with the poor, pilihan untuk mengutamakan mereka yang kecil, lemah, miskin, tersingkir, dan difabel.
Agar gerakan APP tidak sekedar hanya dipahami dan diterima sebagai kegiatan rutin dan ritual Gereja, kegiatan pendalaman Kitab Suci dan renungan, sharing, ibadat, atau pun hanya sekedar kegiatan pengumpulan kotak / amplop APP, perlulah seluruh umat diajak kembali untuk memahami dan menghayati semangat dasar dari gerakan ini. Gerakan APP yang sejak semula dimaksudkan sebagai gerakan untuk membangun kesalehan hidup dan pertobatan melalui olah rohani dan matiraga perlulah terus digali agar dapat menjadi momentum religius dan wahana iman untuk menumbuhkembangkan pribadi yang berkeutamaan hidup kristiani: menghidupi belas kasih dan kemurahan hati Allah, berbelarasa terhadap mereka yang menderita dan berkekurangan, berpartisipasi dalam aneka wujud perjuangan keadilan sosial dalam membangun Kerajaan Allah di dunia.
Gerak Pastoral Keuksupan Agung Semarang
Rencana Induk Keuskupan Agung Semarang (RIKAS) 2016- 2035 sebagai garis besar dan arah penggembalaan umat di Keuskupan Agung Semarang, mengajak seluruh umat untuk mewujudkan peradaban kasih dalam konteks masyarakat Indonesia yang ber-bhineka tunggal ika dan ber-Pancasila. Peradaban kasih menjadi roh dalam aneka upaya untuk mewujudkan kehidupan masyarakat yang sejahtera, bermartabat, dan beriman. Dalam Arah Dasar KAS 2016-2020, cita-cita mewujudkan peradaban kasih ini dimulai dengan mengupayakan terwujudnya Gereja yang inklusif (merangkul), inovatif (terus membaharui diri) dan transformatif (memiliki daya ubah) dalam kehidupan bersama. Dalam konteks inilah, semenjak tahun 2016, selama masa Prapaska, umat beriman di Keuskupan Agung Semarang diajak untuk mengolah tema-tema: “Akulah Garam dan Terang Dunia” (2016), “Aku Pelopor Peradaban Kasih” (2017), dan “Mengasihi dengan Kata dan Perbuatan” (2018).
Kita patut bersyukur atas aneka praktik baik yang kemudian muncul di tengah umat dan paroki-paroki di Keuskupan Agung Semarang sebagai wujud konkret penghayatan atas tema-tema pengolahan tersebut dan sebagai wujud dari panggilan dan perutusan Gereja sebagai Komunitas murid-murid yang diutus. Agar semangat dan praktik baik tidak semakin pudar dan terus berlanjut, gerakan APP Keuskupan Agung Semarang 2019 mengambil tema:
“Makin Tergerak untuk Berbagi berkat”
Tema tersebut di atas selanjutnya akan diolah, baik secara pribadi maupun secara bersama, dalam lima kali pertemuan dengan masing-masing fokus pertemuan sebagai berikut:
PERTEMUAN I : 
Syukur atas Rahmat Belas Kasih Allah 
Bahan dalam pertemuan pertama APP kali ini berupa katekese mengenai masa Prapaskah. Seluruh umat diajak untuk menyadari kembali semangat yang hendak dibangun selama masa Prapaskah. Selain itu, sejak awal masa prapaskah ini, seluruh umat telah diajak untuk berani membuat niat konkret pertobatan yang akan diperjuangkan dan dihayati selama mempersiapkan diri menyambut sukacita perayaan Paskah.
PERTEMUAN II :
Memperjuangkan Kekudusan dalam Hidup Harian 
Dalam pertemuan kedua, seluruh umat diajak untuk merenungkan tentang panggilan untuk mengusahakan keutamaan dan kesalehan hidup pribadi dalam hidup harian. Sumber inspirasi permenungan dalam pertemuan kedua adalah SC art. 110 dan Ekshortasi Paus Fransiskus “Gaudete et Exultate”.
PERTEMUAN III : 
Mewujudkan Komunitas Kasih yang menyatukan dan menyempurnakan 
Dalam pertemuan ketiga, seluruh umat diajak untuk merenungkan tentang panggilan Gereja dalam membangun komunitas kasih murid-murid Kristus. Keutamaan untuk merengkuh dan budaya untuk merawat yang dihayati dalam hidup bersama akan membawa komunitas untuk mengikis budaya membuang serta mau menerima siapa saja dalam kelebihan maupun kekurangannya untuk bersama-sama membangun komunitas kasih yang menyatukan dan menyempurnakan.
PERTEMUAN IV: 
Menjadi Berkat Melalui Gerakan Aksi Puasa Pembangunan 
Bahan dalam pertemuan keempat adalah katekese mengenai Gerakan APP, meliputi sejarah, semangat dasar/spiritualitas, serta berbagai informasi mengenai pemanfaatan dan pengelolaan dana APP. Dalam pertemuan ini, umat diajak untuk saling bertukar pikiran bagaimana dapat terlibat untuk mewujudkan berkat melalui pemanfaatan dan dana APP dalam suatu study kasus.
PERTEMUAN V: 
Mensyukuri Perutusan: Sanggup Menjadi Berkat untuk Siapa dan Apa Saja 
Dalam pertemuan terakhir, seluruh umat diajak duduk bersama, menggagas dan merancang gerakan bersama yang dapat dilakukan sebagai wujud konkret semangat belarasa, wujud menjadi berkat untuk siapa saja dan apa saja.
Semarang, 27 September 2018
Yohanes Krismanto, Pr
Ketua Panitia APP KAS

Satu Langkah Nyata Peduli Sesama di Bantul

“Di sini pas tanggal 17 Maret itu seharian hujan deras dari pagi hingga malam hari lalu tiba-tiba sekitar waktu subuh banjir bandang melanda pemukiman termasuk rumah saya” kata salah seorang Bapak yang kami temui di posko bantuan bencana banjir dan tanah longsor Kecamatan Imogiri, Bantul beberapa waktu lalu. Kabupaten Bantul memang menjadi wilayah terparah yang dilanda banjir. Tercatat 35 desa dan 14 kecamatan terdampak banjir akibat hujan deras yang mengguyur dari pagi hingga malam hari. Selain Bantul, tiga daerah lainnya yaitu Kulon Progo, Sleman dan Gunungkidul juga terdampak hujan lebat dibuktikan dengan temuan genangan air di beberapa lokasi.

Sebagai wujud kepedulian warga gereja Santo Albertus Agung Jetis, umat melalui TIM APP (Aksi Puasa Pembangunan) menyalurkan bantuan untuk meringankan beban para korban banjir dan tanah longsor. Sebelum penyaluran bantuan, pengumpulan informasi dilakukan guna mengetahui kebutuhan apa saja yang saat itu diperlukan para korban.

Romo Paroki dan para ketua lingkungan membantu tim mempercepat pengumpulan bantuan dari 19 lingkungan di wilayah paroki. Pengumpulan bantuan  hanya dilakukan dalam waktu 2 hari saja mengingat situasi dan keperluan yang mendesak. Bantuan yang diberikan berupa kebutuhan sembako, obat – obatan, kebutuhan bayi, peralatan masak dan peralatan kebersihan.

Lima hari setelah bencana, kami Tim APP datang ke posko bantuan yang dipusatkan di Stasi St. Mater Dei, Bantul. Kami datang menggunakan mobil pick up dan disambut oleh Bapak Wahyu sebagai penanggung jawab bantuan di posko tersebut. Beliau menjamu kami dengan teh dan pisang rebus hangat yang cocok sekali dengan hawa dingin dan hujan rintik saat itu. Kemudian kami banyak bertukar cerita tentang dampak banjir bandang yang dirasakan warga Bantul.

Kata Pak Wahyu “Satu hari setelah bencana banjir, air sudah surut Mbak namun warga harus membersihkan rumahnya selama berhari-hari. Anak – anak juga belum bisa kembali sekolah karena harus membantu orang tua membersihkan rumah lagipula kondisi sekolah belum memungkinkan untuk kembali digunakan”. Akibat bencana ini, ada 5.046 warga DIY yang terdampak dengan 4.427 di antaranya adalah warga Bantul. Selain itu, peristiwa ini memakan korban jiwa sebanyak lima orang.

Dukungan layanan kesehatan dan logistik dari pihak lain masih terus berdatangan saat tim kami berkunjung ke sana. Tampaknya semangat peduli dan perhatian masih mengakar di kalangan masyarakat. Kami berharap kondisi di Bantul segera pulih sehingga warga dapat kembali beraktifitas dan kondisi di Yogyakarta selalu aman dan kondusif.

 

Ditulis Oleh : Christina Adiratna R

You cannot copy content of this page