Umat Paroki Jetis Bersama Warga Kricak Gotong Royong Merti Sungai Winongo

Kota Yogyakarta. Umat Katolik dari Paroki St.Albertus Agung Jetis bersama warga RT 14 RW 03 Jatimulyo Kricak, mengadakan kegiatan Merti Sungai Winongo, Minggu (14/07/2024).

Kegiatan dipusatkan pada area sempadan dan aliran sungai yang melewati wilayah mereka, yang bersebelahan dengan Kampung Kricak Kidul dan Kampung Bener.

Kegiatan Merti Sungai yang diprakarsai oleh Tim Pelayanan Kemasyarakatan Gereja St. Albertus Agung Jetis ini juga melibatkan komunitas Tagana Kricak, dan perangkat pemerintahan setempat. Yakni Pemerintah Kalurahan Kircak, Polsek Tegalrejo dan Koramil Tegalrejo.

Kegiatan diawali dengan penyerahan alat kebersihan dan tanaman hias secara simbolis oleh Pastor Paroki Jetis, Romo Vincentius Suparman Pr., kepada ketua RT 14 Joko Hariyanta.

Romo Vincentius Suparman Pr., menyerahkan bantuan alat kebersihan kepada ketua RT 14 Joko Haryanta

Romo Parman mengingatkan agar semua manusia beriman memiliki tanggung jawab melestarikan dan menjaga keutuhan ciptaan Tuhan.

Karena itu, gotong royong yang dilakukan warga bersama umat Paroki Jetis menjadi hal baik  agar manusia  ikut mencintai lingkungan dan bersama-sama menjaga serta merawat lingkungan.

“Membangun paseduluran dengan bersama-ama merawat dan menjaga keutuhan cipataan adalah tugas umat beriman.

Maka, kegiatan Merti Sungai ini perlu kita dukung sebagai upaya membangun paseduluran agar kita manusia ikut mencintai, bersama-sama menjaga dan merawat lingkungan”, kata romo Parman.

Ketua RT 14 Joko Hariyanta, menyampaikan terima kasih atas dukungan umat Katolik Paroki Jetis yang peduli pada lingkungan di wilayahnya. Terutama dalam mendukung upaya warga memanfaatkan area pinggiran sungai menjadi produktif.

“Dulu tempat ini hanya tanah kosong yang kotor. Sejak dua tahun terakhir, kami mulai membenahi. Harapan kedepan, tempat ini bisa menjadi ruang interaksi sosial sekaligus untuk meningkatkan perekonomian warga”, terang Joko.

Kegiatan Merti Sungai dimulai sekitar pukul 06.30 WIB. Diawali dengan bersih-bersih lingkungan dan pemilahan sampah.

Suasana Gotong Royong Warga bersama Umat katolik Paroki Jetis

Sejak dua tahun terakhir, warga di RT 14 telah melaksanakan pengelolaan sampah mandiri dengan koordinator pengurus RT. Setiap hari, petugas akan mengambil sampah kemudian dibawa ke tempat pembuangan sampah mandiri.

Joko Hariyanta mengakui pengelolaan sampah yang dilakukan warganya masih sangat sederhana. “Iya masih sangat sederhana, apa yang bisa dilakukan warga saja. Namun, lebih baik daripada harus menunggu pemerintah”, jelas Joko.

Sebagaimana diketahui, saat ini Yogyakarta berada dalam fase darurat sampah, setelah Tempat Pembuangan Sampah terpadu (TPST) Piyungan ditutup sejak Maret 2024.

Dampak dari penutupan TPST Piyungan membuat warga membuang sampah seenaknya, termasuk ke Sungai. Maka dengan kegiatan Merti Sungai ini, menjadi momentum untuk menyadarkan dan mengingatkan warga dan pemerintah untuk sama-sama peduli pada lingkungan.

Termasuk mengelola sampah di lingkungannya. Jika perlu meningkatkan nilai ekonomi sampah melalui daur ulang.

Sementara itu Umat paroki jetis Bersama Komunitas Tagana Kricak juga turun ke Sungai untuk membersihkan sungai dari tumpukan sampah.

Komunitas Tagana Kricak bersama Umat Katolik Paroki Jetis melakukan aksi bersih sampah di pinggiran Sungai Winongo

Dari pantauan di lapangan, di sepanjang Sungai Winongo ini masih banyak ditemukan tumpukan sampah plastik yang tersangkut dipinggiran talud. Dampaknya selain membuat pemandangan tidak sedap, juga menimbulkan pencemaran air dan dapat menyebabkan banjir.

Mendapat Dukungan Lurah

Lurah Kricak, May Christianti, yang hadir juga menyampaikan apresiasi atas insiaitif dan peran serta warga RT 14 bersama umat katolik Paroki Jetis yang mengadakan kegiatan Merti Sungai.

Ia berharap kegiatan ini bisa terus berlanjut dan dilakukan oleh warga di RT lain, agar pinggiran Sungai Winongo di wilayah Kricak menjadi bersih dan asri.

Lurah Kricak May Christianti, SH. (hijab hijau), melakukan penanaman tanaman hias di pinggir jalan setapak di area sempadan Sungai Winongo

Christianti juga menyatakan dukungan agar area sempadan sungai di RT 14  ini bisa dikembangkan menjadi ruang interaksi sosial yang produktif untuk meningkatkan perekonomian masyarakat.

“Kami terus mendorong agar tanah yang ada ini bisa bisa dimanfaatkan secara luas. Namun, saat ini masih terkendala status kepemilikan yang tidak jelas.

Foto Bersama warga RT 14 dan umat katolik Paroki Jetis

Harapannya bila area ini menjadi Ruang Terbuka Hijau Publik maka  untuk pembangunan fasilitas-fasilitas yang ada diatasnya bisa dianggarkan oleh pemerintah kota Yogyakarta”, terang Christianti.

Acara Merti Sungai diakhiri dengan dahar kembul dan hiburan dari masyarakat setempat.

.

.

Penulis & Foto: Wempi Gunarto
Editor: Frans

.

.

Mencari Jalan Tengah Sekolah Katolik yang Unggul dan Terjangkau untuk Semua

Ajakan uskup Keuskupan Agung Semarang (KAS) Mgr. Robertus Rubiyatmoko agar umat katolik  di setiap lingkungan proki KAS memulai Sinode Pendidikan terkait tema “Merawat serta Mengembangkan Pendidikan dan Sekolah Katolik”, umat di Lingkungan St. Paulus Jatimulyo menanggapi dengan mengadakan sarasehan pada Senin malam (17/07/23). Sarasehan diadakan di rumah keluarga AM Totok Nusantoro.

Meski umat yang datang tidak banyak, hal itu tidak menyurutkan antusiasme sarasehan yang berjalan hingga 2 jam lebih tersebut. Ada 5 hal yang menjadi bahan diskusi terkait tentang Sinode Pendidikan ini, yaitu:  apa  keunggulan sekolah katolik yang ada di wilayah terdekat; apa yang diharapkan dari sekolah katolik tersebut; apa yang masih kurang dan perlu ditingkatkan dari sekolah katolik; bagaimana sekolah katolik yang ideal; serta bagaimana peran keluarga dalam pendidikan katolik.

Peserta sarasehan  umumnya setuju bahwa sekolah katolik yang ada di DIY telah memiliki keutamaan, yakni mengajarkan karakter disiplin, jujur, dan cinta kasih. Namun setiap sekolah memiliki caranya masing-masing dalam menerapkan hal tersebut sesuai tradisi pendidikan dan kurikulum di sekolah. Selain itu meski sekolah katolik masih menjadi sekolah unggulan di Jogja, persoalan biaya menjadi persoalan yang sering dikeluhkan oleh orang tua/wali murid. Sedangkan banyak operasional sekolah katolik tergantung dari siswa yang masuk di sekolah tersebut. Sehingga bila sekolah kekurangan murid dampaknya bisa mengakibatkan sekolah harus menutup kegiatannya.

Hal lain yang mengemuka dalam sarasehan Pendidikan ini, yaitu semua perlu menyadari dan sepakat untuk menjadi sekolah yang ideal memerlukan bantuan dan kerjasama banyak pihak, mulai dari keluarga, guru, institusi/lembaga penyelenggara pendidikan, alumni, dunia usaha, hingga pemerintah karena tujuan besar pendidikan salah satunya adalah  menyiapkan masa depan generasi bangsa yang unggul. Salah satu hal yang bisa dilakukan adalah senantiasa menanamkan nilai-nilai ajaran kristiani di dalam keluarga dan sebisa mungkin memprioritaskan pendidikan anak-anaknya di Lembaga Pendidikan Katolik. Sedangkan untuk persoalan biaya sekolah yang mahal, pihak sekolah bisa mengupayakan adanya bantuan beasiswa dari donator/pemerintah.

Sarasehan yang berjalan serius tapi santai itu ditutup dengan doa dan berkat dari prodiakon lingkungan agar umat dan institusi pendidikan katolik terus bersemangat mewujudkan cita-cita baik di masyarakat.

.

Wempi G / Komsos Jetis

.

.

Pelatihan Merawat Jenazah Tim Pangruktilaya

Tanggal 9 Juli 2023 yang lalu ada kegiatan baru yang dilakukan di Paroki Jetis, terlihat beberapa orang berkumpul untuk bersama-sama mengikuti pelatihan merawat jenazah. Mengapa kegiatan merawat jenazah penting? Karena Gereja Katolik ingin mendampingi setiap warganya sejak dalam kandungan, lahir, tumbuh dewasa, hingga menjelang kematian, dan bahkan ketika sudah meninggal hingga proses pemakaman dan peringatan arwah mereka.

Dalam pelaksanaannya, tim pangruktilaya bekerja sama dengan Sub Instalasi Pelayanan Pastoral dan Perawatan Jenazah dari RS Panti Rapih. Detail mengenai pelatihan merawat jenazah, alur dan tata laksana perawatan jenazah sampai dengan upacara penghormatan terakhir dapat Anda unduh pada tautan berikut ini:

Tata Cara Merawat Jenazah (file ppt ukuran 2MB)

Kegiatan pelatihan ini berlangsung dari pukul 10.00 – 12.30 WIB. Peserta yang diharapkan hadir yaitu setiap lingkungan mengirimkan 3 orang sebagai perwakilan, harapannya agar para perwakilan dari lingkungan ini dapat merawat jenazah dengan baik dan layak untuk berpulang menghadap Bapa di surga. Tujuan utamanya adalah memberi pedoman kepada umat tentang tata laksana dalam proses merawat jenazah mulai dari memandikan hingga proses upacara penghormatan terakhir.

Tim pangruktilaya Paroki Jetis menjadikan kegiatan ini sebagai program dari bidang Kemasyarakatan Dewan Paroki yang dilaksanakan pada tahun ini.

Bidang Kemasyarakatan dan Tim Pangruktilaya Paroki

.

.

Pembekalan Sinode Pendidikan Bagi Para Ketua Lingkungan

Bapak Ludovicus Joko Sunarno pada Rabu malam (05/07/23) menyampaikan materi pembekalan, sebagai perwakilan dari bidang Tim Pelayanan Kemasyarakatan. Kegiatan pembekalan malam hari ini berlangsung di aula paroki.

Menitikberatkan serta mengutip surat gembala dari uskup KAS yang disampaikan dalam misa pada tanggal 6 dan 7 Mei  2023 yang lalu, Bapak Joko menyampaikan latar belakang dan tujuan diadakannya Sinode Pendidikan.

“Gereja Katolik khususnya KAS memberi perhatian serius dalam menangani pendidikan generasi muda agar generasi muda menjadi pribadai yang dewasa-utuh-otentik-seimbang, baik secara fisik, intelektual, moral, spiritual maupun sosial”, terangnya.

Malam hari ini terlihat belasan Ketua Lingkungan dari berbagai wilayah di Paroki Santo Albertus Agung Jetis Yogyakarta, sangat antusias mengikuti pembekalan  Sinode Pendidikan.

Sinode Pendidikan bertujuan menjadi langkah nyata seluruh umat, harapannya bersama-sama Gereja se-Keuskupan Agung Semarang dapat merawat serta mengembangkan pendidikan dan sekolah Katolik.

Acara ini diadakan sebagai bentuk tanggung jawab dan tindak lanjut dari Surat Gembala Uskup Mgr.Robertus Rubiyatmoko yang mengajak seluruh umat di Keuskupan Agung  Semarang (KAS) untuk segera memulai sinode Pendidikan.

Pembicaraan utama dalam Sinode Pendidikan ini mengenai Pendidikan Katolik, baik yang diselenggarakan di sekolah Katolik maupun di sekolah negeri dan swasta non Katolik, sehingga bisa mendapatkan masukan lebih luas yang kemudian akan digunakan untuk menentukan arah gerak pastoral pendidikan ke depannya.

Hal ini dilakukan karena belakangan ini usaha penyelenggaraan Pendidikan formal di lingkup Keuskupan Agung Semarang dihadapkan pada tantangan-tantangan luar biasa yang harus dihadapi bersama, diantaranya:

persoalan bagaimana jumlah siswa yang dilayani dapat ditingkatkan, bagaimana menjamin ketercukupan dana yang dibutuhkan untuk menyelenggarakan sekolah yang semakin maju, dan bagaimana meningkatkan kualitas pendidikan yang ditopang oleh metode pelajaran yang selalu “njamani”.

Para ketua lingkungan diharapkan agar segera menindaklanjuti dengan mengadakan sarasehan Sinode Pendidikan di  masing-masing lingkungan sebelum tanggal 18 Juli 2023. Untuk selanjutnya hasil sarasehan di lingkungan tersebut di atas bisa disampaikan dalam  forum Diskusi Kelompok Terpumpun (Focus Group Discussion/FGD) Paroki Jetis yang rencananya akan dilaksanakan pada tanggal 20 Juli 2023 mendatang.

Melalui Sinode Pendidikan ini diharapkan menjadi kesempatan efektif untuk lungguh bareng (duduk bersama), rembugan bareng (berdikusi bersama), mutuske bareng (memutuskan bersama), dan nandangi bareng (melaksanakan keputusan secara bersama) persoalan pendidikan dan sekolah Katolik.

Antusiasme para ketua lingkungan yang aktif mengajukan pertanyaan dan memberi masukan mewarnai kegiatan pembekalan ini, mari kita dukung dan doakan Bersama agar kegiatan Sinode Pendidikan di Paroki Jetis bisa berjalan lancar.

Mereka yang diundang terlibat dalam Sinode Pendidikan adalah perwakilan dari unsur siswa, mahasiswa, guru, dosen, orang tua, penyelenggara sekolah, pengguna lulusan, pemerhati pendidikan dan penentu kebijakan pendidikan.

.

(Wempi Gunarto/Komsos Jetis)

.

.

Pendalaman Iman MINGGU ADVEN IV: St. Yusuf Bangirejo – “Berjalan Bersama Melaksanakan Warta Keselamatan”

Sudah tiga kali pendalaman iman adven berjalan dan kini tiba waktunya memasuki pertemuan keempat sebagai puncak dari seluruh rangkaian pendalaman iman adven 2022. Dengan menyongsong tema keempat dari Buku Panduan Adven Lingkungan 2022 “Berjalan Bersama: Semakin Katolik, Semakin Apostolik”, Lingkungan St. Yusuf Bangirejo bersemangat melaksanakan pendalaman iman adven. Pendalaman iman adven keempat dilaksanakan pada Rabu, 21 Desember 2022, pukul 19.00, dan bertempat di kediaman Bu Wiyono.

Suasana pendalaman iman adven keempat ini cukup seksama dan ramai partisipan yang hadir. Ada sekitar 20 umat Lingkungan Bangirejo ditambah 3 mahasiswa/i PENDIKKAT USD yang magang di Paroki Jetis. Pendalaman iman dipandu oleh 2 orang, yakni Bu Tari dan Bu Susi. Kedua pemandu secara bergantian mengisi pendalaman iman adven ini. Seperti biasa, pendalaman iman diawali dengan nyanyian pembuka, doa, dan penyalaan lilin korona yang keempat. Kemudian dilanjutkan dengan pembacaan kitab suci dari Mat 1:18-24 (Kelahiran Yesus Kristus) dan sharing bersama. Bagian ini terbilang unik karena sharing bersama dilandasi oleh bacaan kitab suci & tema adven keempat “Berjalan Bersama Melaksanakan Warta Keselamatan”. Dari bagian ini, pemandu meminta umat untuk sukarela men-sharing-kan pengalaman imannya supaya saling menguatkan. Tanpa memaksa, ada sekitar 5 orang yang ber-sharing dengan masing-masing pengalamannya. Ada yang mengaitkan pengalamannya dengan tokoh Yusuf sebagai pelindung lingkungan dan sekaligus tokoh kesetiaan. Ada juga yang ber-sharing tentang pengalaman mewartakan warta keselamatan dengan pengalaman dimintai tolong menjadi pemimpin. Macam-macam pengalaman umat yang membuat mereka semakin diperkaya satu dengan yang lainnya.

Sesudah bagian sharing bersama selesai, dilanjutkan dengan penulisan komitmen secara pribadi sebagai puncak dari segala pendalaman iman adven 2022. Umat diajak untuk menuliskan komitmennya dikertas yang telah dibagikan oleh pemandu. Komitmen pribadi ini menyesuaikan dengan kemampuan diri kita untuk tekun dan setia semakin meningkatkan pelaksanaan lima bidang garapan yaitu kekatolikan, kerasulan, kebangsaan, kerjasama dan sinergi serta profesionalitas dalam gerak kesadaran “berjalan bersama.” Sesuai dengan Buku Panduan Adven Lingkungan 2022, Umat KAS harapannya, umat semakin menyadari tentang Gereja yang dipanggil, untuk membuat harapan orang-orang semakin pulih dan berkembang, mendorong kepercayaan, untuk membalut luka-luka, untuk menjalin hubungan-hubungan baru dan lebih dalam, untuk belajar dari satu sama lain, membangun jembatan-jembatan, mencerahkan pikiran, menghangatkan hati, dan untuk memulihkan kekuatan ke dalam tangan misi bersama.


(Pembagian kertas untuk menulis komitmen pribadi)


(Umat sedang menulis komitmen di kertas masing-masing)


(Umat sedang menulis komitmen di kertas masing-masing)

Terakhir, pendalaman iman ini ditutup dengan doa umat dan doa penutup serta lagu “Sakjekke Aku Nderek Gusti.” Tak lupa ada pengumuman dari pengurus lingkungan terkait dengan perayaan Natal di Paroki serta Lingkungan St. Yusuf Bangirejo.


(Pengumuman dari pengurus Lingkungan Bangirejo seputar Perayaan Natal)

.

Penulis: Chris Cerly Rika Saraswati (Mahasiswi PENDIKKAT USD)

.
.

Puluhan Anak Antusias Mengikuti Pembelajaran – Persiapan Komuni Pertama Paroki Jetis

Sakramen Ekaristi merupakan sakramen yang terpenting yang menjadi pucak dan sumber hidup bagi umat kristiani. Menurut KHK Kanon 913 – §1 – Agar Ekaristi mahakudus dapat diterimakan kepada anak-anak, dituntut bahwa mereka memiliki pemahaman cukup dan telah dipersiapkan dengan seksama, sehingga dapat memahami misteri Kristus sesuai dengan daya-tangkap mereka dan mampu menyambut Tubuh Tuhan dengan iman dan khidmat. Maka sesuai bunyi kanon tersebut, Paroki St. Albertus Agung Jetis juga mempersiapkan anak-anak calon penerima komuni pertama dengan mengadakan pertemuan rutin setiap hari Minggu, pukul 09.00-10.00 WIB. Persiapan ini sudah dimulai sejak bulan September dan rencana penerimaan komuni pertama pada tahun 2023 bertepatan dengan Hari Raya Tubuh & Darah Kristus.

Kegiatan pertemuan persiapan komuni pertama ini bertempat di Aula Paroki Santo Albertus Agung Jetis, Yogyakarta. Secara khusus Minggu, 11 Desember 2022, pertemuan membahas informasi seputar: Sakramen Tobat & Pengakuan Dosa. Dari 26 orang anak-anak calon komuni pertama yang terdaftar hari ini yang hadir sekitar 24 orang, dengan didampingi oleh 2 suster (Suster Meadeline & Suster Odi), serta kakak-kakak mahasiswa/i PENDIKKAT USD.


(Tampak depan pertemuan persiapan komuni pertama)

Informasi yang diberikan harapannya sebagai bekal bagi anak-anak calon penerima komuni pertama untuk mampu mengakui dosa-dosanya di depan Tuhan lewat perantara Imam. Informasi ini juga sangat penting, karena sebelum mereka menerima komuni pertama, pasti didahului dengan penerimaan sakramen tobat yang pertama pula. Selain itu, informasi ini sangat relate dengan masa Adven saat ini sebagai Minggu Pertobatan. Meskipun anak-anak calon komuni pertama belum menerima sakramen pengakuan dosa tahun ini, setidaknya mereka belajar dari orang-orang dewasa di sekitarnya yang akan menerima sakramen tobat saat masa Adven ini.

Berjalannya pertemuan ini sangat lancar dari awal hingga akhir. Suasana yang terbangun sangat interaktif & ada beberapa anak yang bertanya seputar informasi yang disampaikan. Tentunya pertemuan ini diawali dengan Doa Pembuka oleh suster pendamping, lalu dilanjutkan dengan perkenalan kakak-kakak mahasiswa/i PENDIKKAT USD. Tujuan perkenalan ini untuk membangun kedekatan dengan anak-anak calon penerima komuni pertama. Supaya pertemuan berjalan dengan semangat, suster pendamping mengajak anak-anak bernyanyi & mengerakkan badannya.


(Proses bernyanyi bersama)

Setelah bernyanyi bersama, masuklah pada   penyampaian informasi “Sakramen Tobat” oleh suster pendamping. Informasi yang disampaikan mencakup: apa itu sakramen tobat, tujuannya, macam-macam sakramen tobat, hal-hal penting dalam pengakuan dosa, dan tata cara pengakuan dosa sesuai Puji Syukur.

Penyampaian informasi juga dibarengi dengan saling diskusi & tanya jawab. Salah satu anak ada yang bertanya, “berarti kalau pengakuan dosa itu harus ada kesadaran dari hati, perkataan, dan perbuatan ya suster?” Suster menjawab, “ya benar sekali.” Suster juga menegaskan: hendaknya kita mengambit saat hening sebelum mengaku dosa secara pribadi & mengingat apa saja dosa-dosa yang diperbuat. Suster memberikan langkah praktis pada anak-anak dengan meng-list dosa-dosa yang diperbuat, jika dirasa kita mudah lupa. Tetapi, kertas list dosa sesudah pengakuan dapat langsung dimusnahkan/dibakar supaya dosa kita tidak diketahui oleh orang lain.


(Proses diskusi tanya jawab antara suster pendamping & anak-anak calon komuni pertama)

Seluruh rangkaian kegiatan ini ditutup dengan Pengumuman yang mengingatkan anak-anak calon penerima komuni pertama untuk mengikuti pertemuan minggu depan. Tak lupa ditutup dengan Doa Penutup.


(Kakak-kakak mahasiswa/i PENDIKKAT USD mendampingi salah seorang calon komuni pertama)

.

Penulis: Chris Cerly Rika Saraswati (Mahasiswi PENDIKKAT USD)

.
.

Perayaan Ekaristi Minggu ADVEN III: “Sukacita bagi kaum miskin”

Minggu ketiga atau biasa dikenal dengan Minggu Gaudette dalam masa adven memiliki makna yang spesial karena dekat dengan perasaan sukacita. Seperti perlambang lilin ketiga dalam lingkaran korona adven yang berwarna pink. Warna pink yang cerah untuk sukacita menyambut Juru Selamat yang semakin dekat. Untuk itu, ratusan umat Paroki Santo Albertus Agung Jetis Yogyakarta menghadiri Perayaan Ekaristi Minggu Adven III dengan tema “Sukacita bagi kaum miskin” yang dipimpin oleh Romo Vincentius Suparman, Pr. Perayaan Ekaristi ini dilaksanakan pada hari Minggu, 11 Desember 2022, pukul 08.00 WIB.

Perayaan Ekaristi Minggu Adven III berjalan dengan lancar dan khidmat. Seperti biasa yang menjadikan peneguhan dalam menghayati makna minggu adven ketiga ialah pada sesi homili. Homili yang berkaitan dengan bacaan-bacaan yang ada semakin menggugah makna minggu adven ketiga.


(Romo Vincentius Suparman, Pr menyampaikan Homili pada Perayaan Ekaristi Minggu Adven III)

Romo Parman memulai homilinya dengan menyoroti Bacaan Injil yang menampilkan figur Yesus Sang Juru Selamat yang kita nantikan sama sekali tidak memegahkan dirinya. Yesus menjawab dirinya sebagai Juru Selamat lewat bukti-bukti karya yang sudah Ia lakukan. Bukti-bukti karya yang dimaksudkan ialah: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang tuli mendengar, orang kusta sembuh, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan, dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik. Banyaknya bukti karya Yesus ini menjadi tanda bahwa Yesus dinanti-nantikan oleh orang banyak. Untuk menantikan penyelamatan Tuhan ini, hanya ada 1 syarat yang mudah yakni tidak menolak Tuhan Yesus. Pernyataan inilah dikaitkan oleh Romo Parman pada masa sekarang ini dengan penyakit orang beriman, yakni “rasa keraguan”. Kebanyakan orang sekarang ini jika mengalami keraguan, langsung dicari di-mbah google. Padahal sebenarnya, tidak semua dapat dijawab oleh google. Keraguan akan Tuhan, dapat disembuhkan dengan bertobat dan mendekatkan diri kepada-Nya secara langsung. Mencari Dia secara terus menerus dalam hidup kita.

Setelah menyinggung Bacaan Injil, homili Romo Parman juga menyinggung bacaan pertama dan kedua. Bacaan pertama dari Kitab Yesaya, yang mengajak kita untuk lebih berteguh dan menguatkan diri akan penderitaaan, sebab dalam penderitaan itu Tuhan memberikan kesegaran. Bacaan kedua yang disampaikan oleh Rasul Yakobus, untuk senantiasa bertindak seperti petani. Bertindak seperti petani yang menantikan hasil tanah yang berharga, petani yang senantiasa merawat dengan sabar tanaman-tanamannya. Maka, diakhir homili Romo Parman memberikan penegasan kepada umat untuk menyiapkan hati dengan sungguh-sungguh dalam masa adven ini supaya memetik hasil yang baik & sempurna, terutama pada peristiwa agung perayaan Natal mendatang.

.

Selengkapnya: https://www.youtube.com/watch?v=ju7vPzZs3Vs&t=2228s&ab_channel=KomsosJetis Misa Online 11 – 12 – 2022, Pk 08.00 WIB | MINGGU ADVEN III | GEREJA ST. ALBERTUS AGUNG JETIS

.

Penulis: Chris Cerly Rika Saraswati (Mahasiswi PENDIKKAT USD)

.
.

Pendalaman Iman MINGGU ADVEN III: St.Maria Assumpta Jogoyudan Kidul – Berjalan Bersama Dengan Sukacita

Kegiatan Pendalaman Iman Minggu Adven III dilaksanakan oleh umat di Lingkungan St.Maria Assumpta Jogoyudan Kidul pada hari Selasa, 13 Desember 2022, pukul 19.00 WIB. Bertempat di kediaman Bu Sari sebagai Ketua Lingkungan dan dihadiri oleh 12 umat beserta 7 orang mahasiswa/i PENDIKKAT USD. Pendalaman iman adven ini dipimpin oleh Bu Wiwik sebagai calon prodiakon dari Lingkungan St. Maria Assumpta Jogoyudan Kidul. Kegiatan Pendalaman Iman Minggu Adven III ini dilangsungkan dengan tujuan supaya dalam masa adven ini, umat semakin menghayati makna minggu adven ketiga untuk semakin menyambut kedatangan Tuhan dengan sukacita.


(Para mahasiswa/i PENDIKKAT USD yang mengikuti pendalaman iman)

Suasana pendalaman iman berlangsung lancar & menggugah antusias umat yang hadir. Walaupun umat yang hadir hanya belasan, tetapi semangatnya seperti ribuan umat. prosesnya, kegiatan diawali dengan nyanyian pembuka “O Datanglah Emanuel. Setelah lagu pembuka, masuk pada bagian tanda salib dan kata pengantar untuk pendalaman minggu adven III. Dalam kata pengantar ini, umat diajak untuk berusaha menumbuhkan semangat “berjalan bersama” dengan sukacita dan komitmen membangun hidup menggereja yang lebih baik, baik di dalam keluarga, lingkungan, bahkan paroki. Kata pengantar disambung dengan Doa Pembuka sekaligus penyalaan lilin korona ketiga (warna pink) dalam lingkaran adven.

Untuk bagian berikutnya: mendengarkan & berbicara pengalaman iman. Pada bagian ini, beberapa umat berani men-sharing-kan pengalamannya. Seperti biasa sharing dipandu dengan 2 pertanyaan utama, yakni:

  1. Apakah anda merasakan sukacita sebagai umat katolik? Bagikan pengalaman anda?
  2. Menurut pendapat dan pengalaman anda selama ini, apakah umat di lingkungan kita sudah ikut “bertanggung jawab bersama” secara sukacita dengan berpartisipasi atau berperan serta melayani misi atau perutusan Gereja?

Dari panduan sharing di atas, hasil sharing umat berbeda-beda namun mengarah pada rasa sukacita sebagai umat katolik. Yang berbeda adalah prosesnya dalam hidup sebagai umat katolik. Ada umat yang ber-sharing bahwa ia menjadi katolik, karena pindah agama & menikah dengan istrinya. Ia tertarik dengan agama katolik karena ajaran kasih yang menjadi dasar untuk menjalani kehidupan. Di sisi lain, ia percaya ada janji Yesus kepada umat kristiani tentang kehidupan kekal di Surga. Akhirnya, ia memutuskan dengan bulat hati berpindah agama & merasakan sukacita sebagai umat katolik.


(Suasana sharing yang mengundang tawa & kegembiraan umat Lingkungan St.Maria Assumpta Jogoyudan Kidul)

Ada pula umat yang ber-sharing bahwa ia menjadi katolik, karena bawaan dari lahir & pilihan orang tua (baptis bayi). Tidak memungkiri sebenarnya ia dapat pindah agama ketika usia dewasa/menikah. Namun, ia tetap berpegang teguh akan imannya dan bangga menjadi katolik. Hal ini mungkin dipengaruhi pula dengan ikut ambil bagian dalam seluruh kegiatan-kegiatan menggereja, seperti mengikuti putra/i altar, menjadi pengurus OMK, dan sebagainya. Hingga saatnya, ia dekat dengan seorang pemuda yang sesama katolik dan saat ini menjadi suaminya. Dari pengalaman ini, ia merasa bersyukur sampai sekarang menjadi orang katolik & penuh kesukacitaan dalam hidupnya.

Terakhir, ada umat yang ber-sharing bahwa ia menjadi katolik, karena keputusannya sendiri (baptis dewasa). Ia mengatakan bahwa menjadi orang katolik ini prosesnya tidaklah mudah, perlu belajar dulu secara tekun (menjadi katekumen). Meskipun prosesnya sulit, ia tetap menjalaninya dengan sukacita karena ada niat kerinduan yang cukup besar dalam dirinya. Maka, setelah dibaptis sangatlah bergembira hatinya & meluap-luaplah kesenangan dalam dirinya menjadi seorang katolik. Sampai sekarang, ia berusaha menjadi seorang katolik yang penuh sukacita.

Untuk pertanyaan sharing yang kedua, dijawab secara bersama-sama dengan kata “sudah”. Umat di lingkungan St. Maria Assumpta Jogoyudan Kidul sudah ikut “bertanggung jawab bersama” secara sukacita dengan berpartisipasi atau berperan serta melayani misi atau perutusan Gereja. Hal ini dikonkretkan dengan berpartisipasi menjadi petugas koor, mengirimkan petugas liturgi yang lain, ikut berpartisipasi dalam proyek pembangunan gereja, dll.

Setelah berbagi pengalaman, dilanjutkan dengan merenungkan bacaan dari Matius 11:2-11. Bacaan ini berkaitan dengan Yohanes Pembaptis yang mengutus para muridnya untuk datang kepada Yesus dan membuktikan bahwa karya keselamatanNya itu nyata. Bukti karya keselamatan ini nyata diperlihatkan dengan aksi yang Yesus lakukan: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta sembuh, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar gembira. Yohanes Pembaptis sungguh memastikan kabar sukacita itu, bahwa jalan terjal yang ia lalui dan jerih payah yang ia tempuh tak akan pernah sia-sia lewat bukti aksi dari Yesus. Seperti halnya Yohanes Pembaptis, bersukacita bahwa dirinya tak akan sia-sia menjadi pembuka jalan keselamatan. Kita juga perlu senantiasa melihat kembali apakah kita bersama mampu berjalan mengusahakan sesuatu yang lebih baik dengan makin mendalam dan mendewasakan iman kita, bahkan semakin mengobarkan dan menggelorakan iman kita.

Seluruh rangkaian pendalaman iman minggu adven ketiga di Lingkungan St. Maria Assumpta Jogoyudan Kidul ditutup dengan doa umat dilanjutkan dengan doa bapa kami dan doa penutup.

.

Penulis: Chris Cerly Rika Saraswati (Mahasiswi PENDIKKAT USD)

.
.

Pendalaman Iman MINGGU ADVEN II: St.Ignatius Cokrokusuman – Berjalan Bersama Membangun Pertobatan

Kegiatan pendalaman iman Minggu Adven II dilaksanakan oleh umat di Lingkungan St.Ignatius Cokrokusuman pada Rabu, 7 Desember 2022 pukul 19.00 WIB di kediaman Pak Agus. Pendalaman Iman Minggu Adven II ini mengambil tema “Berjalan Bersama Membangun Pertobatan” sesuai dengan Buku Panduan Adven Lingkungan KAS. Kegiatan ini dihadiri oleh 18 umat lingkungan Ignatius Cokrokusuman, 2 orang mahasiswa/i PENDIKKAT USD, dan dipandu oleh Pak Lintang selaku calon prodiakon lingkungan.

Suasana pendalaman iman berlangsung lancar, singkat, padat, & jelas. Umat yang hadir hampir seluruhnya berusia dewasa hingga lansia. Dalam prosesnya, diawali dengan nyanyian pembuka “Juruselamat Datanglah”. Setelah lagu pembuka, masuk pada bagian tanda salib dan kata pengantar untuk pendalaman minggu adven II. Kata pengantar ini mengajak umat untuk semakin menantikan kedatangan Tuhan dengan sikap tobat dan dari segala kekurangan dan keterpurukan yang pernah terjadi. Dari kata pengantar dilanjutkan dengan Doa Tobat “Allah yang Maharahim”, Doa Pembuka, dan Penyalaan lilin korona kedua dalam lingkaran adven.

Untuk bagian selanjutnya: mendengarkan & berbicara pengalaman iman. Pada bagian ini, Pak Lintang sebagai pemandu mengajukan pertanyaan-pertanyaan sharing yang telah disediakan. Mayoritas umat menjawab “sudah” atas pertanyaan-pertanyaan yang ada. Namun, tiba-tiba ada salah satu umat yang bertanya kepada Pak Lintang sebagai pemandu. Pertanyaan bapak ini berbunyi demikian: “Saya sering mendengarkan homili Romo-romo yang ada di Keuskupan Jakarta melalui misa live streaming. Suatu saat ada homili yang menarik dari beliau ini tentang ‘bagaimana sebaiknya kita mengimani iman kristiani, iman kita?’ Karena menurut saya, menjadi orang kristiani itu sebenarnya hal yang susah susah gampang, sebab ada orang yang rajin sekali ke gereja, tetapi antar tetangganya bermusuhan atau setelah pulang misa suka menggosip orang lain. Lantas, bagaimana sebaiknya kita mengimani iman kita?”

Pertanyaan dari salah satu umat ini menjadi bahan sharing tambahan yang justru menimbulkan berbagai argumen dari macam-macam umat. Ada umat yang ber­-sharing bahwa menghidupi iman itu ya melakukan & berbuat. Misalnya, sudah rajin ke gereja, lalu kerajinan ini hendaknya juga berbuah lewat tindakan-tindakan baik yang kita lakukan kepada orang lain. Tindakan baik yang dilakukan ini menjadi bukti nyata bahwa kita benar-benar menghidupi iman yang ada. Lalu, adapula umat yang ber-sharing pula untuk mengidupi iman dapat dilakukan dengan berusaha setiap hari mendekatkan diri dengan Tuhan lewat berdoa & bersyukur. Berdoa & bersyukur sebagai bentuk bagi kita menerima segala karunia yang Ia berikan.

Dari segala sharing yang ada, Pak Lintang sebagai pemandu pendalaman adven mencoba memantik kembali hasil sharing umat dengan pertanyaan kunci: “Apakah dengan bersyukur, sudah cukup untuk semakin memperbaiki diri melalui tindakan?” Pastinya tidak, karena semuanya itu diawali dengan adanya rasa penyesalan & pertobatan. Rasa pertobatan yang membawa kita kepada niat selanjutnya yakni bersyukur & bertindak yang lebih baik lagi.

Setelah berbagi pengalaman, dilanjutkan dengan merenungkan bacaan dari Matius 3:1-12. Bacaan ini berkaitan dengan seruan pertobatan dari Yohanes Pembaptis. Dari bacaan tentang pertobatan ini, kita diajak kepada wujud pertobatan dalam mempersiapkan kehadiran Sang Juruselamat di hati kita. Situasi di tengah pemulihan pandemi ini dan sinodalitas hidup kekatolikan kita memang belum sepenuh pulih dan optimal. Masih ada berbagai hal yang perlu menjadi bentuk pertobatan kita bersama, terutama kerapuhan dalam paguyuban umat.

Seluruh rangkaian pendalaman iman minggu adven kedua ditutup dengan doa umat dilanjutkan dengan doa bapa kami dan doa penutup. Terakhir ditutup dengan nyanyian “Nderek Dewi Maria”.

.

Penulis: Chris Cerly Rika Saraswati (Mahasiswi PENDIKKAT USD)

.
.

Pendalaman Iman MINGGU ADVEN I: Berjalan Bersama Menyongsong Kedatangan Tuhan – Semangat Umat St.Paulus Jatimulyo

JATIMULYO- Dengan semangat keakraban, umat Lingkungan Paulus Jatimulyo berkumpul untuk melangsungkan pendalaman iman Minggu Adven I (03/12/22, 19.00 WIB) di kediaman Pak Sudirahman.

Pendalaman iman Minggu Adven I di lingkungan Paulus Jatimulyo dihadiri oleh lebih kurang 30 umat termasuk 6 mahasiswa/i Program Studi Pendidikan Keagamaan Katolik (PENDIKKAT) USD. Kehadiran mahasiswa/i ini sebagai bentuk pelayanan kepada umat selama magang pelayanan karya paroki di Paroki Jetis. Maka, mereka yang membantu umat untuk menjadi fasilitator dalam pendalaman iman Minggu Adven I.

Pendalaman iman Minggu Adven I ini diawali dengan kata pengantar dari Bu Nevi selaku Ketua Lingkungan Paulus Jatimulyo. Kegiatan dilanjutkan dengan nyanyian pembuka “O, Datanglah Emanuel” yang mengarah pada tema Minggu Adven I, masa pengharapan akan Tuhan Sang Juru Selamat. Pendalaman iman dipandu oleh Roland sebagai fasilitator utama. Roland mengawali pendalaman iman dengan menyampaikan maksud & tujuan dari pendalaman iman Minggu Adven I sesuai Buku Panduan Adven Lingkungan 2022 KAS, “Berjalan Bersama: Semakin Katolik, Semakin Apostolik.”

Maksud & tujuan dari pendalaman iman Minggu Adven I ialah, umat diajak untuk berjaga-jaga, tanggap, kuat, dan senantiasa berharap di masa pemulihan COVID-19. Umat diajak untuk menyadari gerak sinodalitas dalam konteks memahami mengenai harapan dan kekuatan di kehidupan zaman sekarang yang penuh tantangan dan resiko ini. Dengan bacaan yang akan diperdalam sebagai peneguhan dan renungan dari Matius 24:37-44 mengenai “Kedatangan Anak Manusia” yang tiba-tiba dan tidak dapat diduga (Adven Eskatologis).

Setelah menyampaikan maksud & tujuan pendalaman iman Minggu Adven I, pertemuan dilanjutkan dengan berbagi pengalaman (sharing) hidup umat. Berbagi pengalaman ini dipandu dengan pokok-pokok pertanyaan sebagai berikut:

  1. Menurut anda, masihkan orang-orang zaman sekarang ini menantikan kehadiran dan keterlibatan Tuhan dalam hidupnya?
  2. Situasi apa yang membuat orang senantiasa menantikan kehadiran Tuhan? Bagikanlah pengalaman anda!

Apa arti dan makna Adven bagi hidup Anda dalam situasi saat ini?

Dari panduan pertanyaan untuk berbagi pengalaman di atas, beberapa umat di lingkungan Paulus berani untuk mengungkapkan pengalaman hidupnya. Ada yang mengungkapkan pengalaman kesedihan & kehilangan orang-orang tersayang saat pandemi tahun 2020-2021 yang lalu. Pengalaman kesedihan & kehilangan orang-orang tersayang ini diolah ke dalam pengalaman yang mampu mendekatkan diri dengan Tuhan melalui Doa. Ada pula yang mengungkapkan pengalaman jauh dari Tuhan saat pandemi karena jarang sekali menerima Tubuh & Darah Kristus secara langsung. Namun, hal ini menjadi suatu kerinduan yang sangat berarti akan Tuhan ketika sekarang sudah dibebaskan pergi ke gereja & mengikuti Perayaan Ekaristi.

Selain kedua pengalaman di atas, Bu Nevi sebagai ketua lingkungan juga men-sharing-kan pengalamannya untuk berserah kepada Yesus dalam situasi apapun. Awalnya beliau mengatakan bahwa dirinya hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa yang kerjanya hanya di rumah saja. Tetapi dibalik pengalamannya ini, dirinya menyampaikan selalu berpasrah kepada Tuhan dalam situasi apapun. Terlebih saat ini sedang rawan dengan peristiwa-peristiwa bencana alam. Dirinya menyadari bahwa kita sebagai manusia hanyalah butiran kecil yang rata di mata Tuhan. Untuk itu, pada masa Adven ini hendaknya selalu mawas diri & berjaga-jaga dalam situasi-situasi apapun.

Lain halnya dengan sharing yang disampaikan oleh perwakilan dari mahasiswa/i PENDIKKAT USD. Dari sisi mahasiswa, ada pengalaman-pengalaman yang menyesakkan dan dalam masa-masa sulit mencari Tuhan. Ditengah masa pandemi ini, mahasiswa/i mengungkapkan bahwa ada kesulitan dan tantangan dalam menyesuaikan keadaan yang dituntut serba online. Keadaan serba online yang membuat malas untuk mengikuti pembelajaran ataupun misa live streaming. Kendati demikian, keadaan ini tidak begitu saja membuat mahasiswa/i terlena. Saat ini, saat pandemi mulai berangsur-angsur menjadi endemi, mahasiswa/i harus terus survive dan beradaptasi kembali ke dalam dunia nyata.

Dari banyaknya berbagi pengalaman kehidupan dari umat maupun mahasiswa/i PENDIKKAT USD, hampir semuanya mengarah pada orang-orang zaman sekarang ini masih menantikan kehadiran & keterlibatan Tuhan dalam hidupnya. Beragam situasi yang membuat orang senantiasa menantikan kehadiran Tuhan, dengan mayoritas situasi: berpengharapan, kepedihan, sesak, dan berbeban berat. Kemudian memaknai arti dan makna Adven bagi hidup dalam situasi sekarang ini: untuk terus berbenah & berjalan bersama ke arah yang lebih baik. Maka, hasil berbagi pengalaman kehidupan ini diteguhkan dalam bacaan Injil Matius 24:37-44. Bacaan ini mengajak kita untuk bermenung tentang berjaga-jaga. Poin refleksi dari bacaan, mengharapkan kita agar senantiasa berjaga-jaga dan berharap, sehingga kita tidak akan tertinggal. Kedatangan keselamatan Anak Manusia harus membutuhkan kesiapsediaan kita. Dengan kata lain, kita harus terus hidup dan berpola pikir selalu siap sedia. Artinya, hidup kita diharapkan terus menerus merindukan Yesus. Yesus menjadi pusat perhatian kita saat berdoa, berfikir, berkata-kata, dan dalam berkarya.

Melalui masa Adven ini, kita diajak melihat bagaimana tantangan hidup menggereja dan beriman kita. Tantangan dari berbagai himpitan Pandemi COVID-19, melihat kembali peluang dan bagaimana kita mewujudkan wajah Gereja kita dewasa ini, sebagai Gereja yang Sinodal berziarah menuju kepada Gereja Misi mewujudkan Peradaban Kasih di masyarakat.

.

Penulis: Chris Cerly Rika Saraswati (Mahasiswi PENDIKKAT USD)

.
.

You cannot copy content of this page