Buku Panduan BKL – Bulan Katekese Liturgi Mei 2020

Surat Edaran KOMLIT KAS Untuk Pelaksanaan BKL
Daftar Isi :

Surat Edaran KOMLIT KAS Untuk Pelaksanaan BKL
Daftar Isi :
*klik tombol PLAY (>) di atas untuk melihat video
Sepenggal lagu di atas merupakan bagian dari sapaan anak-anak PIA Lingkungan St. Paulus yang dibawakan melalui video singkat berdurasi sekitar 7 menit. Video ini menjadi viral setelah dibagikan di grup lingkungan St. Paulus – Gereja Jetis.
Kegiatan anak-anak PIA yang sejatinya dibawakan setiap minggu di hari Kamis sore pukul 16.00 WIB saat ini tentu saja ditiadakan. Menyusul surat edaran Keuskupan Agung Semarang yang menghimbau untuk mengadakan seluruh kegiatan baik di keuskupan sampai dengan di lingkungan kita masing-masing sebagai dampak dari pandemi Corona Virus Covid-19.
Sapaan secara online berasal dari ide para pembina PIA St. Paulus terutama bapak L. Joko Sunarno yang sudah sangat lama menjadi salah satu pembina di lingkungan.
Dalam video tersebut, para anak-anak yang tergabung dalam PIA St. Paulus disebutkan namanya dan disapa satu persatu (ini sungguh membuat terharu 🙂 ). Selain disapa video tersebut juga mengajak para anak-anak untuk sementara tetap membaca Kitab Suci dan berdoa bersama #dirumahaja dulu.
Semoga dalam waktu yang tidak lebih lama dari pengulangan tahun kelahiran kita, pandemi ini dapat cepat berlalu dan para adik-adik PIA St. Paulus bisa berkumpul serta bernyanyi dan berdoa bersama kembali. Berkah Dalem.
-Lingkungan St. Paulus-
Kamulah garam dunia
Kamulah terang dunia
Janganlah garammu tawar
Janganlah terangmu pudar
Buatlah yang baik-baik selalu
Kamulah garam dunia
Kamulah terang dunia
Janganlah garammu tawar
Janganlah terangmu pudar
Bersemangatlah belajar selalu
Lagu ini yang mengawali kegiatan PIA St. Paulus Jatimulyo di hari Kamis, 6 Februari 2020. Kegiatan PIA yang sore itu dihadiri 12 anak dari lingkungan St. Paulus Jatimulyo, 1 anak dari St. Thomas Jatimulyo, dan 1 anak dari Lingkungan Maria Immaculata Kricak mengambil tema Kamulah Garam dan Terang Dunia. Tema ini diambil dari bacaan Injil Minggu Biasa V yaitu Matius 5: 13 – 16.


Tiga anak yang sudah bisa membaca, diminta untuk membaca teks kutipan Injil tersebut secara bergantian. Dari bacaan itu, anak-anak diajak dialog tentang garam, ada yang tahu garam? Warnanya apa? Rasanya apa? Garam dipakai untuk apa? Kalau masak tidak pakai garam, masakannya rasanya enak tidak? Demikian juga diajak dialog tentang terang, Ada yang takut dengan suasana gelap? Bagaimana supaya tidak gelap? Siapa yang suka suasana terang?

Naaaaah…. Bagaimana supaya kita menjadi anak-anak garam dan terang dunia?
Yaaaa…. Kalian harus berbuat yang baik-baik selalu.
Sekarang anak-anak, yuk masing-masing menyebutkan satu saja, hari ini sudah berbuat baik apa?
Ada yang menyebutkan, tadi saya menemukan buku teman dan saya kembalikan, tadi saya menemukan penghapus teman dan saya kembalikan, tadi saya momong adik, tadi saya mengucapkan ulang tahun pada guru, tadi saya bantu Bunda cuci piring, dan sebagainya.

Kegiatan selanjutnya yang ditunggu anak-anak yaitu menempel dan mewarnai prakarya sesuai dengan tema. Anak-anak diberi kertas tempel dan 5 gambar, yaitu gambar Yesus, anak laki-laki, anak perempuan, gambar garam, dan gambar lampu sebagai lambang terang. Dengan asiknya anak-anak melakukan kegiatan menempel dan mewarnai dan diakhir waktu mereka menunjukkan hasil karyanya dengan gembira. Kegiatan diakhiri dengan peneguhan untuk berbuat baik selalu dan doa penutup.(LJS)
Foto & Artikel Oleh : L. Joko Sunarno
Siapa yang sudah dibaptiss???”……
Pertanyaan tersebut mengawali acara pembinaan iman PIA St. Paulus Jatimulyo di hari Kamis, 9 Januari 2020 yang lalu. Pembinaan iman PIA St. Paulus Jatimulyo rutin dilaksanakan setiap Kamis pukul 16:00 sore di Rumah PIA Jatimulyo Baru J-6. Pada kamis (9/01) yang lalu tema pembinaan iman adalah menyambut Pesta Pembaptisan Tuhan yang dirayakan gereja pada Minggu 12 Januari 2020. Anak-anak diajak untuk memahami arti baptis dan bagaimana Tuhan Yesus menerima pembaptisan.

Semua anak yang hadir hari itu mengangkat telunjuk menjawab pertanyaan pendamping. Ternyata semuanya sudah dibaptis…. Ada yang dibaptis di gereja Jetis dan ada yang di gereja lain. Sebagian anak tidak ingat siapa nama Romo yang membaptis, maka pendamping memberi PR supaya anak-anak menanyakan ke orang tua masing-masing siapa nama Romo yang membaptis.


Perikop injil Matius 3:13-17 dibacakan anak-anak secara bergantian. Sebelum membaca kitab suci, dengan penuh semangat anak-anak lebih dulu membawakan gerak dan lagu ‘Baca Kitab Suci’ dan ‘Firman Tuhan’. Semua semangat…. Terutama saat lirik: berbuah – berbuah… berbuah berbuah….

Prakarya adalah saat yang paling dinantikan anak-anak setiap acara pembinaan iman. Semua antusias mewarnai dan menempel gambar Yesus dibaptis oleh Yohanes Pembaptis di Sungai Yordan.



“Inilah Putra-Ku, yang Kukasihi. Aku berkenan kepadanya” (Mat 3:17). Amin.
Foto & artikel oleh : Ibu Dewi
Rekoleksi memperingati pesta nama Lingkungan St. Maria Immaculata Kricak
Minggu, 15 Desember 2019 umat lingkungan Santa Maria Immaculata Kricak melaksanakan rekoleksi dalam rangka mensyukuri pesta nama lingkungan. Dengan mengambil tema “Meneladan Bunda Maria, menjadi saluran berkat bagi sesama”, sekitar 45 orang umat yang terdiri dari PIA, PIR, OMK dan orang tua mengikuti rekoleksi yang dilaksanakan pagi hingga siang hari tersebut.
Tanggal 8 Desember Gereja memperingati Hari Raya Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda, dan pada tahun ini lingkungan menyelenggarakan rekoleksi pada tanggal 15 Desember 2019 bertempat di Aula Paroki Somohitan. Mengambil lokasi yang tenang dan jauh dari kota, umat diajak untuk kembali bersyukur dan mengambil buah-buah kasih dalam meneladan Bunda Maria.
Pada pukul 07.00 wib, umat berkumpul untuk berangkat bersama menggunakan bus. Setibanya disana kira-kira pukul 08.15 wib umat menikmati snack dan berkeliling gereja. Kegiatan dimulai pada pukul 08.45, OMK yang memandu acara pada hari itu, mengawali kegiatan dengan mengajak umat untuk bergerak dan bernyanyi bersama agar semangat kekeluargaan dan keceriaan muncul.
Selanjutnya Ibu E. Dian Tejowati selaku Ketua Lingkungan St. Maria Immaculata Kricak menyampaikan sambutannya, sekaligus ucapan terima kasih atas partisipasi seluruh umat, baik yang hadir maupun yang belum dapat hadir karena bersamaan dengan acara lain. Tak lupa juga kepada segenap donatur yang membantu terselenggaranya acara ini. Ibu Dian juga mengungkapkan harapannya, agar kekeluargaan dan guyub lingkungan tetap terpelihara dan semakin kuat.

Rekoleksi didampingi oleh Fr. Tian, Fr. Noven, Fr. Avel dan Fr. Handri dari CSsR, Wisma Sang Penebus, Gemawang, Paroki St.Alfonsus Nandan. Para Frater membantu umat untuk lebih mengenal Bunda Maria, yang oleh Gereja ditempatka untuk mendapatkan penghormatan yang khusus dan tinggi, karena Bunda Maria adalah bunda Yesus Kristus yang sungguh Allah dan Manusia, dan dipilih Allah untuk menjadi Bunda Tuhan. Meneladan Bunda Maria dalam kehidupan sehari-hari dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain dengan mewujudkan cinta dalam keluarga; bersyukur dalam kondisi yang kita lalui; mau mengampuni dan bertobat; serta membangun iman melalui doa dan perbuatan.
Setelah menyampaikan materi dan penyegaran rohani, umat diajak untuk membaca perikop Lukas 1 : 26 – 38 tentang Kelahiran Yesus. Setelah itu, umat diajak untuk merenungkan dan memilih ayat/kata/frase/kalimat dalam perikop yang berkesan dan membagikan pengalaman hidupnya. Dengan saling berbagi cerita dan pengalaman kehidupan konkrit, tidak hanya menjadikannya sebagai sebuah kekayaan iman pribadi akan tetapi juga mendorong, menyatukan dan menguatkan iman antar umat di lingkungan.
Sebelum acara ditutup, Romo Rafael Tri Wijayanto, Pr selaku Romo Paroki Somohitan, menyambut umat yang datang dan berbagi sedikit cerita mengenai Paroki Somohitan. Tak lupa Romo Tri, begitu beliau akrab dipanggil, memberikan harapan dan berkat penutupnya bagi umat lingkungan agar senantiasa guyub rukun dan setia dalam hidup beriman.
Bulan Desember adalah bulan penuh kasih dan kegembiraan, setelah kegiatan rekoleksi ini, masih ada banyak agenda di lingkungan dan paroki. Semoga kita semua senantiasa diberi rahmat kesehatan dan kebahagiaan agar dapat kita teruskan dan bagikan kepada semakin banyak orang, baik keluarga, lingkungan dan gereja!
Pertemuan BKSN 2019 yang pertama dengan tema “Makhluk Hidup Musnah Karena Kejahatan Manusia” telah dilaksanakan di lingkungan Santo Yusuf Bangirejo (Rabu, 04/09/2019), bertempat di rumah Kita, sebagai pemandu adalah suster Agustin PI.
Dalam pertemuan BKSN yang pertama ini umat diajak untuk menyadari bahwa manusia dapat menjadi penyebab hancurnya kehidupan, tetapi juga menjadi penjaga kelestarian kehidupan, dan uamt yang hadir diajak untuk melakukan tindakan nyata dalam pemulihan dan mengatasi krisis di lingkungan sekitarnya.
Suster Agustin PI dalam menyampaikan materi BKSN menggunakan media video sehingga apa yang disampaikan tidak hanya berupa verbal namun juga berupa visual, yang menggambarkan keprihatinan terhadap kelestarian hutan yang rusak karena penebangan liar, lingkungan yang kotor karena banyak sampah yang dibuang secara sembarangan, pencemaran udara dan pencemaran-pencemaran lainnya.

Dalam Bacaan Kitab Suci yang di ambil dari Kej. 6:1-13 terdapat Orang-orang gagah perkasa yang menyombongkan diri sebagai anak-anak Allah. Karena itu, Allah mengingatkan mereka bahwa mereka hanyalah manusia fana dan membatasi umur mereka (hanya 120 tahun, usia ini lebih pendek jika dibandingkan dengan leluhur mereka, lihat Kej. 5).
Kesombongan manusia inilah yang menjadi sumber kejahatan yang merasuki pikiran dan hati mereka. Terdorong oleh kesombongan yang ada dalam hati mereka, orang-orang itu berbuat sesuka hati dan cenderung melakukan kejahatan.
Reaksi Allah terhadap kejahatan manusia itu digambarkan secara manusiawi. Ia menyesal dan sakit hati karena telah menciptakan manusia. Ia menciptakan mereka untuk menjaga dan memelihara bumi supaya mereka sendiri dapat hidup berbahagia. Tetapi, sejak Adam dan Hawa, manusia terus bersalah dan merusak bumi. Karena itu, Allah Ia mengambil keputusan untuk menghapus manusia.
Tidak hanya manusia yang dimusnahkan, tetapi juga mahk-luk ciptaan yang lain. Sebab, Allah melihat bahwa kejahatan manusia telah merasuki bumi dan segala makhluk ciptaan. Mereka musnah karena kejahatan manusia dan kemusnahan mereka mendatangkan penderitaan bagi manusia.

Suster Agustin PI juga mengajak umat yang hadir untuk sharing pengalaman dalam menghadapi dan menangani kerusakan yang ada di lingkungan sekitar umat Santo Yusuf Bangirejo.
Sebagai penutup BKSN, suster Agustin PI mengajak uamt Bangirejo untuk menjaga kelestarian dan kebersihan, dimulai dari rumah dan lingkungan sekitarnya.
Agustinus Suseno.
You cannot copy content of this page