Perayaan hari Ibu, Natal 2019 dan Tahun Baru 2020 WKRI Jetis & PIIP

Di suatu sore hari yang cerah pada hari Rabu 8 Januari 2020, beranda aula gereja St. Albertus Agung Jetis terlihat dipenuhi dengan  ibu-ibu dari berbagai kalangan usia yang dengan penuh ceria menyanyikan beberapa lagu Natal. Perayaan tiga hari besar yang digabung menjadi satu ini yaitu hari ibu, hari raya Natal dan tahun baru dengan mengangkat tema “Hiduplah sebagai sahabat bagi semua orang”  tersebut digawangi oleh ibu-ibu dari wilayah 4 Paroki St. Albertus Agung Jetis.  

Tampak pula hadir dan memberikan kata sambutan Romo Vincentius Suparman Pr . selaku Romo Paroki dan hadir pula bapak Ludovicus Joko Sunarno serta bapak Emanuel Wahyu Herman selaku tamu undangan perwakilan dari Dewan Paroki.

Acara pertama-tama dimulai dengan penyalaan lilin dan berbagai sambutan yaitu dari Ketua Panitia Ibu F. Yuliana dan Koordinator Paguyuban Ibu-Ibu Paroki, Ibu C. Sri Yuli Sriyono. Acara kemudian diselingi dengan lagu-lagu natal.

Menuju acara berikutnya, Permenungan Natal dibawakan oleh perwakilan dari komunitas suster-suster ADM. Kemudian setelah itu, segenap ibu-ibu yang hadir bersama-sama menyanyikan dengan gegap gempita Lagu Hari Ibu, untuk selanjutnya acara dilanjutkan dengan pentas kesenian. Kali ini diisi dengan drama musikal putra-putri dari SD Kanisius Gowongan.

Tari Nawang Sekar yg dibawakan dengan luwes oleh adik Gaby dan Naya menjadi pengisi acara berikutnya. Disela-sela berbagai acara di atas terkadang diselingi dengan kuis berhadiah dengan menjawab pertanyaan seputar hari Ibu, juga diumumkan pemenang lomba keluwesan dalam berbusana bagi ibu-ibu yang hadir.

Sebelum acara ditutup masih ada sajian tarian dari ibu-ibu wilayah 4 yakni tari Gloria dan Jingle Bell. Sebagai penutup dipanjatkan doa bersama serta menyanyikan lagu Selamat Natal.

 

Ditulis oleh : Brigitta Sugianti

Foto oleh : Pascalis Danu

Galeri Foto KLIK Disini

Bernyanyi dan Bersuka Bagi Tuhan, Lomba Menyanyi dan Mewarnai Anak-Anak

Beberapa anak-anak beserta orang tuanya terlihat sedang bercengkrama dan sesekali bercanda, mereka sedang mempersiapkan diri untuk mengikuti lomba menyanyi dan mewarnai untuk anak-anak yang diadakan seusai perayaan ekaristi Natal Fajar di aula dan gereja.

Untuk lomba menyanyi, kategori usia yang dilombakan yaitu SD Kelas 1-3 dan Kelas 4-6. Dengan lagu wajib pilihan dari ketiga lagu yaitu : Gita Surga Bergema, Gembala Pergilah Cepat-Cepat, dan Holy Night. Serta sebuah lagu bebas bertemakan hari raya Natal.

Sedangkan untuk lomba mewarnai, kategori usia peserta yaitu TK A & B. Gambar disediakan oleh panitia namun masing-masing peserta diwajibkan untuk membawa alat warna sendiri dan peralatan lain yang diperlukan.

Lomba menyanyi dan mewarnai tersebut dimulai bersama-sama sekitar pukul 10.00, lomba menyanyi mengambil tempat di depan gua natal di dalam gereja. Untuk lomba mewarnai dilaksanakan di aula gereja.

Lomba mewarnai diikuti oleh sekitar 15 peserta yang berusia TK A & TK B. Setelah doa bersama, lomba mewarnai dimulai dan terlihat beberapa peserta dengan cekatan menggoreskan warna-warni ke dalam kertas gambar yang telah dibagikan. Senyum dan canda terlihat di wajah para orang tua peserta, sesekali memberikan arahan kepada anaknya agar mewarnai dengan baik.

Tepat 13 anak menjadi peserta lomba menyanyi. Secara bergantian dari peserta pertama hingga terakhir menyanyikan lagu yang sudah mereka pilih. Masing-masing peserta menyanyikan 2 lagu, 1 lagu wajib pilihan dan 1 lagu bebas. Sesekali terdengar pujian dan lontaran semangat dari para orang tua peserta. Berikut ini foto dari para peserta yang tampil.

Tepat pukul 12.00 kedua lomba tersebut berakhir. Namun pemenang dari keduanya belum diputuskan hari ini. Para pemenang akan diumumkan bersamaan dengan beberapa lomba lain dalam rangka hari paroki dan hari raya Natal setelah misa tutup tahun pada tanggal 31 Desember nanti. Selamat menanti ! 😉

 

Download Foto-Foto Disini (KLIK)

Misa Kudus Hari Raya Natal Fajar 2019, Hiduplah Sebagai Sahabat Bagi Semua Orang

Feliz Navidad, Feliz Navidad

Feliz Navidad prospero ano y felicidad

Lagu penutup pada misa fajar kali ini bergema sangat lantang. Tuhan Yesus Kristus telah turun ke dunia lebih dari 2000 tahun lalu, namun perayaan hari kelahirannya masih kita rayakan sampai saat ini.

Natal Fajar di tahun 2019 ini terasa sangat spesial, banyak “keajaiban-keajaiban” terjadi di bulan Desember ini. Terlebih lagi dua hari ini umat yang merayakan hari raya Natal bersama-sama dengan kami bisa dibilang lebih banyak jumlahnya dari tahun-tahun yang lalu.

Sekitar satu jam sebelumnya..

Misa Fajar pagi ini dipimpin secara konselebrasi oleh tiga orang romo yaitu Romo Vincentius Suparman Pr, Romo Ambrosius Heri Krismawanto Pr, dan Romo Serafim CSE. Romo Parman membuka misa dengan sapaan kepada umat Paroki Jetis dan umat lain yang berasal dari luar kota Jogja.

Homili pada pagi hari ini dibawakan oleh Romo Serafim CSE. Pada homilinya romo menyampaikan bahwa Tuhan Yesus lahir ke dalam dunia untuk memperbaharui hati kita. Dalam kitab Yesaya (Bacaan 1), Allah ingin mengatakan bahwa sekarang inilah saatnya penyelamatan. Allah ingin memperbaharui kita melalui kelahiran-Nya kembali ke dalam dunia. Ia menyelamatkan kita semua melalui sakramen baptis, kita dilahirkan kembali dan menerima pembaharuan Roh Kudus.

Ketika kita merayakan ekaristi, sakramen tobat dan sakramen-sakramen lainnya, Roh Kudus menyucikan kita, mengampuni dosa-dosa kita, menyembuhkan luka-luka kita akibat dosa di masa lampau. Roh Kudus mengarahkan kita kepada kehidupan yang kekal, persatuan Allah yang sempurna dalam cinta kasih.

Seorang anak kecil bernama Toyib yang sangat nakal, ia merajuk dan minta orangtuanya yang pas-pasan Macbook Pro. Ia lalu memanjat pohon yang sangat tinggi. Guru agama kemudian dipanggil untuk membuat Toyib turun namun tidak berhasil. Kemudian orangtuanya memanggil seorang pendekar, namun ia pun tidak berhasil.

Orang tua Toyib lalu pergi menemui seorang Pastor. Ia lalu menanyakan perihal masalahnya lalu mengajak doa bersama. Kemudian ia pun mendapat ide. Lalu Pastor menghampiri Toyib yang masih di atas pohon. Kemudian Pastor melakukan gerakan seperti membuat tanda salib dari atas ke bawah kemudian dari kiri ke kanan. Seketika Toyib pun langsung turun dari pohon. Ia juga bertobat dan meminta maaf kepada kedua orang tuanya. Orang tua Toyib bingung, lalu bertanya kepada Pastor. Apa yang Pastor lakukan? Ternyata gerakan membuat tanda salib tadi artinya : Toyib kalau kamu tidak segera turun, saya TEBAS.. Pohonnya !

Dalam bacaan Injil pun kita disadarkan seperti para gembala yang menyambut kelahiran Tuhan Yesus Kristus dan segera mengunjungi Keluarga Kudus Nazaret. Allah menjadi pusat perhatian, prioritas dan hidup kita. Tuhan Yesus menjadi pusat tujuan kita.

Sesaat sebelum misa selesai Romo Parman mengajak anak-anak untuk berkumpul di depan altar dan mengucapkan Selamat Natal kepada seluruh umat. Selanjutnya setelah perayaan ekaristi selesai, acara dilanjutkan dengan pembagian bingkisan kepada anak-anak. Romo Heri berperan menjadi Santa Claus yang membagikan bingkisan.

Tidak selesai sampai di situ, seusai perayaan ekaristi Natal Fajar diadakan lomba menyanyi dan mewarnai untuk anak-anak di aula dan gereja. Baca berita lengkapnya disini : https://staging2.christina.my.id/bernyanyi-dan-bersuka-bagi-tuhan-lomba-menyanyi-dan-mewarnai-anak-anak/

Selamat NATAL ! 🙂

 

Download Foto-Foto Disini (KLIK)

Misa Vigili Natal, Hari Raya Natal 2019

Tahukah Anda bahwa untuk merayakan Natal, di jaman dahulu Liturgi Romawi memberikan pilihan empat nama Misa? Pada tanggal 24 Desember umumnya dilaksanakan Misa Vigili Natal (Misa Sore Menjelang Hari Raya Natal). Kemudian sesudah Misa Vigili ada lagi tiga Misa Natal dengan sebutan khas yaitu : Misa Malam (in nocte), Misa Fajar (in aurora), dan Misa Siang (in die). Ketiga misa tersebut merupakan warisan kuno tradisi Liturgi Romawi. Sedangkan Misa Vigili Natal konon merupakan buah pembaharuan liturgi pasca Konsili Vatikan II.

Kekhasan dari Misa Malam terasa terutama dari pemilihan waktu pelaksanaannya yaitu pada tengah malam, transisi menuju tanggal 25 Desember. Seperti jaman dahulu saat menjelang kelahiran Yesus, para gembala berjaga ketika semua orang tidur. Kita pun saat ini berhimpun di gereja untuk merayakan kelahiran Yesus pada waktu-waktu kita biasanya sudah dibuai mimpi. Kekhasan ini kemungkinan besar tidak akan kita rasakan jika misa diadakan pada sore hari hingga malam yang masih riuh. Unsur spesial lain adalah Kalenda atau Maklumat Natal yang menggantikan doa “Saya mengaku” dan “Kyrie”. Kalenda ditampilkan untuk mengingatkan sejarah kelahiran Yesus, bahwa Dia memang sungguh hadir sebagai manusia pada masa penjajahan Romawi di bawah Kaisar Agustus.

Sore hari ini gereja St. Albertus Agung – Jetis terlihat cukup padat. Umat yang ingin merayakan misa di paroki kami terlihat sangat banyak jumlahnya. Sekitar dua kali lipat dari jumlah umat biasanya. Dapat dimaklumi karena momentum menjelang perayaan Natal 2019 ini dihadiri tidak hanya umat Paroki Jetis namun juga umat yang berasal dari luar kota dan kebetulan sedang liburan ataupun mengunjungi keluarganya di kota Yogyakarta kita tercinta.

Sepanjang jalan masuk gereja kami di sebelah kanan dan kiri terlihat dihiasi oleh pohon natal karya 20 lingkungan Paroki Jetis. Tidak sedikit umat yang tergoda untuk berfoto dengan pohon-pohon natal yang terbuat dari sekitar 90% barang bekas tersebut.

Baca Juga : https://staging2.christina.my.id/barang-bekas-bukan-berarti-tidak-berkelas-lomba-pohon-natal-lingkungan/

Memasuki pukul 17.00 tepat, ibadat para liturgi dimulai disusul dengan maklumat kelahiran Tuhan Yesus Kristus. Misa Vigili Natal pada sore hari ini dipimpin oleh Romo Ambrosius Heri Krismawanto Pr. dan dihadiri oleh sekitar 1500 umat. Setelah maklumat kelahiran Yesus Kristus selesai dibacakan, para petugas liturgi, romo dan perwakilan umat bersama-sama menuju gua natal dimana bayi kanak-kanak Yesus terbaring di palungan. Romo dan para petugas
liturgi serta perwakilan umat tadi kemudian berdoa sesaat di depan gua natal, setelahnya gua natal tersebut diberkati dengan air suci oleh romo.

Kemudian setelah pembacaan Injil, dalam homilinya Romo Heri menyampaikan bahwa Allah Bapa percaya kepada manusia setiap saat sehingga mengutus Putra-Nya yang tunggal lahir di dunia dalam rupa bayi yang lemah. Kita dipercaya untuk menerima Tuhan Yesus bayi kecil yang lahir di Betlehem, pun juga kita dipercaya oleh Allah untuk membawa terang dalam kegelapan.

Selaras dengan tema Natal pada tahun ini, Hiduplah Sebagai Sahabat Bagi Semua Orang (Yoh 15:14-15). Cerita mengenai Romo Heri yang di tengah malam harus memberikan minyak suci namun ternyata sesampainya di rumah sakit sudah ada romo lain yang lebih dahulu datang ingin memberikan ilustrasi bahwa hidup bersama itu lebih membahagiakan.

Bunda Theresa pernah berkata begini : “Kesedihan paling besar di dunia ini adalah kesepian.” Maka tema natal pada tahun ini mengajak kita untuk hidup bahagia dalam persaudaraan. Seperti yang Romo Mangun juga sampaikan dalam semangat 3B yaitu beriman, berbagi dan bersaudara sehingga dapat sampai ke B yang ke-4 yaitu bahagia.

Sesudah homili perayaan ekaristi kudus kemudian dilanjutkan hingga selesai, dan sebelum diberikan berkat perutusan perwakilan dari panitia hari raya natal 2019 memberikan beberapa kata sambutan di mimbar. Misa kudus malam natal pertama selesai sekitar pukul 19.00 WIB untuk kemudian selanjutnya dilanjutkan dengan misa malam natal kedua pukul 20.00 WIB.

 

Download Foto-Foto Disini (KLIK)

Barang Bekas Bukan Berarti Tidak Berkelas, Lomba Pohon Natal Lingkungan

Dalam rangka menyambut datangnya hari raya Natal yang sudah sangat dekat, serta sebagai lanjutan peringatan dari Hari Paroki yang baru saja diperingati oleh Paroki kami St. Albertus Agung – Jetis, di paroki kami diadakan lomba membuat pohon natal dari barang-barang bekas.

 

Setiap lingkungan yang berada dalam lingkup paroki kami diwajibkan untuk membuat satu pohon natal. Meskipun ide kreasi bebas namun panitia hari Natal mensyaratkan beberapa ketentuan sebagai dasar penilaian.

 

Pembuatan pohon natal dari barang bekas ini berlangsung selama kurang lebih 30 hari. Jadi masing-masing lingkungan bisa menuangkan ide sebanyak-banyaknya.

Total di paroki kami berjumlah 20 lingkungan. Dengan segala jerih payah dan kerja keras tiap lingkungan kami persembahkan hasil karya kami :

1 – St. Yohanes Bangunrejo
2 – Jogoyudan Lor
3 – St. Alfonsus Jatimulyo
4 – Gowongan
5 – St. Andreas Blunyahrejo
6 – Cokrokusuman
7 – St. Yusuf Karangwaru
8 – Kricak
9 – Poncowinatan
10 – St. Rafael Penumping
11 – St. Ignatius Penumping
12 – Mater Dei Karangwaru
13 – Cokrodiningratan
14 – Bangirejo
15 – Jogoyudan Kidul
16 – St. Paulus Jatimulyo
17 – Jetisharjo
18 – Bumijo
19a – St. Thomas Jatimulyo
19b – St. Thomas Jatimulyo

 

Download Foto-Foto Disini (KLIK)

 

 

You cannot copy content of this page