Misa Vigili Natal, Hari Raya Natal 2019

Tahukah Anda bahwa untuk merayakan Natal, di jaman dahulu Liturgi Romawi memberikan pilihan empat nama Misa? Pada tanggal 24 Desember umumnya dilaksanakan Misa Vigili Natal (Misa Sore Menjelang Hari Raya Natal). Kemudian sesudah Misa Vigili ada lagi tiga Misa Natal dengan sebutan khas yaitu : Misa Malam (in nocte), Misa Fajar (in aurora), dan Misa Siang (in die). Ketiga misa tersebut merupakan warisan kuno tradisi Liturgi Romawi. Sedangkan Misa Vigili Natal konon merupakan buah pembaharuan liturgi pasca Konsili Vatikan II.

Kekhasan dari Misa Malam terasa terutama dari pemilihan waktu pelaksanaannya yaitu pada tengah malam, transisi menuju tanggal 25 Desember. Seperti jaman dahulu saat menjelang kelahiran Yesus, para gembala berjaga ketika semua orang tidur. Kita pun saat ini berhimpun di gereja untuk merayakan kelahiran Yesus pada waktu-waktu kita biasanya sudah dibuai mimpi. Kekhasan ini kemungkinan besar tidak akan kita rasakan jika misa diadakan pada sore hari hingga malam yang masih riuh. Unsur spesial lain adalah Kalenda atau Maklumat Natal yang menggantikan doa “Saya mengaku” dan “Kyrie”. Kalenda ditampilkan untuk mengingatkan sejarah kelahiran Yesus, bahwa Dia memang sungguh hadir sebagai manusia pada masa penjajahan Romawi di bawah Kaisar Agustus.

Sore hari ini gereja St. Albertus Agung – Jetis terlihat cukup padat. Umat yang ingin merayakan misa di paroki kami terlihat sangat banyak jumlahnya. Sekitar dua kali lipat dari jumlah umat biasanya. Dapat dimaklumi karena momentum menjelang perayaan Natal 2019 ini dihadiri tidak hanya umat Paroki Jetis namun juga umat yang berasal dari luar kota dan kebetulan sedang liburan ataupun mengunjungi keluarganya di kota Yogyakarta kita tercinta.

Sepanjang jalan masuk gereja kami di sebelah kanan dan kiri terlihat dihiasi oleh pohon natal karya 20 lingkungan Paroki Jetis. Tidak sedikit umat yang tergoda untuk berfoto dengan pohon-pohon natal yang terbuat dari sekitar 90% barang bekas tersebut.

Baca Juga : https://staging2.christina.my.id/barang-bekas-bukan-berarti-tidak-berkelas-lomba-pohon-natal-lingkungan/

Memasuki pukul 17.00 tepat, ibadat para liturgi dimulai disusul dengan maklumat kelahiran Tuhan Yesus Kristus. Misa Vigili Natal pada sore hari ini dipimpin oleh Romo Ambrosius Heri Krismawanto Pr. dan dihadiri oleh sekitar 1500 umat. Setelah maklumat kelahiran Yesus Kristus selesai dibacakan, para petugas liturgi, romo dan perwakilan umat bersama-sama menuju gua natal dimana bayi kanak-kanak Yesus terbaring di palungan. Romo dan para petugas
liturgi serta perwakilan umat tadi kemudian berdoa sesaat di depan gua natal, setelahnya gua natal tersebut diberkati dengan air suci oleh romo.

Kemudian setelah pembacaan Injil, dalam homilinya Romo Heri menyampaikan bahwa Allah Bapa percaya kepada manusia setiap saat sehingga mengutus Putra-Nya yang tunggal lahir di dunia dalam rupa bayi yang lemah. Kita dipercaya untuk menerima Tuhan Yesus bayi kecil yang lahir di Betlehem, pun juga kita dipercaya oleh Allah untuk membawa terang dalam kegelapan.

Selaras dengan tema Natal pada tahun ini, Hiduplah Sebagai Sahabat Bagi Semua Orang (Yoh 15:14-15). Cerita mengenai Romo Heri yang di tengah malam harus memberikan minyak suci namun ternyata sesampainya di rumah sakit sudah ada romo lain yang lebih dahulu datang ingin memberikan ilustrasi bahwa hidup bersama itu lebih membahagiakan.

Bunda Theresa pernah berkata begini : “Kesedihan paling besar di dunia ini adalah kesepian.” Maka tema natal pada tahun ini mengajak kita untuk hidup bahagia dalam persaudaraan. Seperti yang Romo Mangun juga sampaikan dalam semangat 3B yaitu beriman, berbagi dan bersaudara sehingga dapat sampai ke B yang ke-4 yaitu bahagia.

Sesudah homili perayaan ekaristi kudus kemudian dilanjutkan hingga selesai, dan sebelum diberikan berkat perutusan perwakilan dari panitia hari raya natal 2019 memberikan beberapa kata sambutan di mimbar. Misa kudus malam natal pertama selesai sekitar pukul 19.00 WIB untuk kemudian selanjutnya dilanjutkan dengan misa malam natal kedua pukul 20.00 WIB.

 

Download Foto-Foto Disini (KLIK)

Barang Bekas Bukan Berarti Tidak Berkelas, Lomba Pohon Natal Lingkungan

Dalam rangka menyambut datangnya hari raya Natal yang sudah sangat dekat, serta sebagai lanjutan peringatan dari Hari Paroki yang baru saja diperingati oleh Paroki kami St. Albertus Agung – Jetis, di paroki kami diadakan lomba membuat pohon natal dari barang-barang bekas.

 

Setiap lingkungan yang berada dalam lingkup paroki kami diwajibkan untuk membuat satu pohon natal. Meskipun ide kreasi bebas namun panitia hari Natal mensyaratkan beberapa ketentuan sebagai dasar penilaian.

 

Pembuatan pohon natal dari barang bekas ini berlangsung selama kurang lebih 30 hari. Jadi masing-masing lingkungan bisa menuangkan ide sebanyak-banyaknya.

Total di paroki kami berjumlah 20 lingkungan. Dengan segala jerih payah dan kerja keras tiap lingkungan kami persembahkan hasil karya kami :

1 – St. Yohanes Bangunrejo
2 – Jogoyudan Lor
3 – St. Alfonsus Jatimulyo
4 – Gowongan
5 – St. Andreas Blunyahrejo
6 – Cokrokusuman
7 – St. Yusuf Karangwaru
8 – Kricak
9 – Poncowinatan
10 – St. Rafael Penumping
11 – St. Ignatius Penumping
12 – Mater Dei Karangwaru
13 – Cokrodiningratan
14 – Bangirejo
15 – Jogoyudan Kidul
16 – St. Paulus Jatimulyo
17 – Jetisharjo
18 – Bumijo
19a – St. Thomas Jatimulyo
19b – St. Thomas Jatimulyo

 

Download Foto-Foto Disini (KLIK)

 

 

Kamu Harus Memberi Mereka Makan, Peringatan Hari Paroki Ke-54 St. Albertus Agung Jetis

Sebagai puncak Hari Ulang Tahun ke-54 Paroki St. Albertus Agung Jetis – Yogyakarta, diadakanlah ekaristi untuk memperingati hari ulang tahun paroki pada hari Minggu (17/11/2019) yang dipimpin secara konselebran Romo Vikep Kevikepan DIY, Romo Adrianus Maradiyo Pr. Bersama dengan romo Paroki St. Albertus Agung Jetis, Romo Vincentius Suparman Pr. serta Romo Ambrosius Heri Krismawanto Pr.

Doa bersama sebelum perayaan ekaristi

Panitia Menyambut Kedatangan Umat

Para Petugas Vandel Paroki

Sebelumnya panitia telah menyelenggarakan berbagai macam kegiatan yang sudah berjalan dengan baik, diantaranya Workshop Photocaption yang digagas oleh panitia bersama dengan tim kerja Komsos paroki. Kegiatan ini diadakan untuk mengajak remaja millenial supaya ikut bagian dalam mewartakan sukacita, kabar gembira dan injil dengan menggunakan media sosial yang dimilikinya.

Baca Juga : https://staging2.christina.my.id/satu-foto-sejuta-makna-workshop-photo-caption-2019/

Misdinar Paroki Jetis (PAPIXTO)

Petugas Perayaan Ekaristi

Selain itu juga diselenggarakan festival dolanan tradisional, supaya anak-anak dan keluarga tidak disibukkan melulu oleh gadget dan game online, sehingga mereka dapat mengenal pula berbagai jenis permainan tradisional. Untuk sekedar sejenak melupakan dunia online, berbaur, bermain bersama serta bertegur sapa dengan teman-teman di dalam permainan tradisional.

Tidak ketinggalan sebagai salah satu wujud syukur, diadakan acara kenduri, dengan tujuan menyapa masyarakat yang bertempat tinggal di sekitar lingkungan gereja serta mengajak mereka untuk ikut kenduri bersama, karena gereja hidup dan berada di tengah-tengah masyarakat, sekaligus untuk menjalin lintas iman dengan saudara kita yang beragama lain.

Baca Juga : https://staging2.christina.my.id/kenduri-menjelang-hari-paroki/

Dalam homilinya, Romo Adrianus Maradiyo Pr. menyambut baik bentuk-bentuk kegiatan yang telah dilaksanakan dalam rangka memeringati HUT Paroki St. Albertus Agung Jetis yang ke-54. Romo Maradiyo mengatakan,

”Umat Paroki Jetis di usianya yang ke-54 semakin matang dan dewasa terlibat dalam kehidupan di gereja maupun di tengah masyarakat.  Salah satunya adalah mulai gumregah terlibat dalam kehidupan menggereja ikut serta kerja bakti membersihkan lingkungan gereja.”

Usia paroki 54 tahun merupakan usia yang matang. Umat perlu dilibatkan, bukan hanya sebagian orang. Hal ini dapat dilihat dari pesta yang melibatkan seluruh umat di paroki. Petugas koor diambil dari 4 wilayah dan 20 lingkungan.

Diharapkan tema hari paroki yang diambil sungguh menggerakkan seluruh umat, kerelaan berbagi apa yang kita miliki akan tumbuh ketika kita peduli satu sama lain terutama kepada orang-orang yang sungguh membutuhkan bantuan. Kerelaan untuk berbagi  diyakini akan memberikan dampak tidak akan terjadi kelaparan. Wujud konkrit kepedulian kita sebagai umat. Ketika para murid menghadapi tantangan 5000 orang, Tuhan Yesus berkata, kamu harus memberi mereka makan.

Bagaimana kepedulian dibangun? Romo Maradiyo berucap, saya berikan sebuah contoh cerita.

Ada seorang pemuda yang masuk ke sebuah kampung, mengetuk pintu rumah seorang janda.

Pemuda : Ibu tolong saya, saya sudah 3 hari tidak makan. Saya kelaparan.

Ibu : Anak muda maaf sekali disini tidak ada makanan.

Ibu jangan khawatir, saya membawa tas kresek yang berisi sebuah batu ajaib. Saya hanya minta kepada ibu untuk menyediakan Tungku, Api dan, Dandang.

Saya akan masak dengan batu ajaib yang saya miliki ini. Silahkan ibu memberikan kabar sukacita kepada warga di kampung ini untuk datang bersama-sama menikmati masakan yang akan saya masak ini.

Disaat ibu tersebut keliling dari rumah ke rumah kemudian pemuda ini mulai menyalakan api dalam tungku dan memasak air yang dimasukkan ke dalam panci dan batu ajaib tersebut dimasukkan sembari terus diaduk-aduk sambil sesekali diicipi.

Pemuda tersebut kemudian berkata, Bapak ibu dan saudara-saudari terkasih masakan ini akan semakin enak kalau ditambah sayur. Siapa yang di rumahnya ada sayur silahkan dibawa kemari.

Lalu penduduk kampung itu mengatakan, saya punya pete, saya punya kacang panjang, saya punya wortel. Kemudian mereka membawanya ke rumah janda tersebut. Dimasukkan ke dalam panci besar itu dan mulai diaduk-aduk lagi.

Pemuda itu pun kembali mencicipi masakan tersebut. Ia berkata kembali, masakan ini sudah lezat, namun akan lebih lezat lagi kalau ditambah daging.

Kemudian ada yang mengatakan, saya punya ayam, saya punya daging kambing, dan lain-lain. Lalu sebagian dari mereka pulang ke rumahnya dan kembali dengan membawa daging-daging tersebut. Dimasukkan ke dalam panci dan diaduk kembali.

Setelah dicicipi, ia pun berkata. Bapak, ibu dan saudara-saudari masakan ini sudah siap untuk disantap, mari kita makan bersama-sama. Tetapi maaf disini tidak ada piring, silahkan bapak dan ibu pulang dahulu untuk mengambil piring dan jangan lupa diisi dengan buah dan nasi.

Akhirnya semua dijadikan satu dan mereka pun mulai makan sampai kenyang. Mereka mengatakan, baru kali ini kita makan bersama dan begitu menggembirakan. Siapa yang mempunyai ide ini?

Janda tersebut kemudian berkata, ada seorang pemuda yang mempunyai ide ini. Mana orangnya? Tanya salah seorang penduduk kampung. Pemuda itu dicari kemana-mana tetapi tidak ketemu. Hanya pemuda itu meninggalkan sebuah surat berbunyi :

Bapak, ibu dan saudara-saudari terkasih. Mohon maaf saya tidak bisa ikut makan bersama-sama tetapi saya meninggalkan batu ajaib itu untuk kampung ini. Silahkan kalau ingin selalu bergembira, masak batu ajaib ini bersama-sama seperti yang saya lakukan. Salam.

Lalu salah satu dari mereka bertanya kepada janda tersebut, siapa nama pemuda itu? Pergi ke mana dia?

Lalu mereka mendapatkan sebuah jawaban yang mencengangkan, pemuda itu adalah umat Paroki Jetis.. 😀

Pemotongan Tumpeng Sebagai Simbol Peringatan Hari Paroki Ke-54

Selesai mengikuti perayaan ekaristi, umat Paroki Jetis diajak untuk makan bersama nasi kuning yang telah disediakan oleh setiap lingkungan dilanjutkan dengan “rayahan” dua buah gunungan sayur dan buah di halaman parkir gereja.

Makan Bersama

Para Suster Ikut Merayakan HUT Paroki Jetis Ke-54

Rayahan Gunungan Sayur & Buah

Bersamaan pula dengan Hari Orang Miskin Sedunia yang akan diperingati pada tanggal 19 November mendatang, panitia telah mengundang umat sederhana untuk berwawan hati bersama Romo Vikep dan Romo Paroki, juga diberikan sembako sebagai wujud kepedulian gereja terhadap umat sederhana.

Selamat Ulang Tahun Paroki St Albertus Agung Jetis Yogyakarta yang ke-54 !

Umat Paroki Jetis

Wawan Hati Dengan Romo Vikep

Galeri Foto Klik Disini

 

Artikel oleh : Agustinus Suseno & Frans

Foto oleh : Panitia Hari Paroki & Tim Komsos Jetis

Kenduri Menjelang Hari Paroki Ke-54 St. Albertus Agung Jetis

Menjelang Hari Paroki yang menandakan bertambahnya usia gereja pada tanggal 15 November 2019, Paroki St. Albertus Agung – Jetis, Yogyakarta menyelenggarakan acara kenduri untuk mengucap syukur atas bertambahnya usia gereja menjadi 54 tahun. Acara kenduri dihadiri oleh tidak kurang dari 50 orang, dari berbagai kalangan usia yang didominasi oleh para pini sepuh dan pemuda-pemudi.

Dalam acara kenduri, panitia Hari Paroki mengundang warga yang bertempat tinggal di sekitar Gereja St. Albertus Agung – Jetis untuk hadir dan turut merasakan kebahagiaan gereja. Bertindak sebagai pembicara dan pemimpin doa yaitu Bapak Muh. Burhanuddin.

Bapak Muh. Burhanuddin juga menyampaikan dalam sambutannya bahwa dalam hidup kita perlu banyak bersyukur karena Allah Sang Maha Pemberi selalu mencukupkan umatnya. Dengan bersyukur dan memberi, rejeki yang berlimpah juga akan diberikan oleh Tuhan Sang maha Pengasih.

Tema Hari Paroki St. Albertus Agung yang ke-54 adalah “Kamu Harus Memberi Mereka Makan”, dan ini diwujudkan dengan memberikan sembako kepada warga yang diundang.  Kenduri ini juga menjadi jalinan Silaturahmi antara gereja dengan warga di sekitar gereja.

Setelah kenduri pada hari ini, selanjutnya pada hari Minggu nanti tanggal, 17 November 2019, akan diselenggarakan puncak perayaan ekaristi Hari Paroki yang akan dipimpin secara konselebran bersama romo Vikep Kevikepan DIY, Romo  Andrianus Maradiyo Pr., romo Paroki St. Albertus Agung Jetis, Romo Vincentius Suparman Pr., dan Romo Ambrosius Heri Krismawanto Pr.

 

Foto oleh : Komsos Paroki Jetis

Artikel oleh : Agustinus Suseno & Frans

Satu Foto Sejuta Makna, Workshop Photo Caption 2019

Aula Paroki St. Albertus Agung Jetis, 03 November 2019

Hari Paroki atau Hari Ulang Tahun Paroki Jetis hanya dalam hitungan minggu lagi. Dalam rangka Hari Paroki tersebut, Paroki St. Albertus Agung Jetis menggelar sebuah workshop bertajuk Photo Caption.

Workshop ini diadakan bagi umat Paroki Jetis dengan tujuan memberikan pelatihan bagaimana membuat caption (baca : narasi) yang sesuai bagi foto yang seringkali kita kirim terutama di social media dan melalui aplikasi untuk berkomunikasi seperti WhatsApp dan sejenisnya.

Mungkin kita sering mengalami adanya pribadi yang mengirim pesan dalam grup atau secara japri (jalur Pribadi) berupa gambar/foto tanpa tulisan sama sekali. Tentu kita akan kebingungan karena tidak mengetahui apa maksud atau tujuan dari gambar/foto tersebut. Nah, untuk itulah pelatihan ini dibuat.

Setelah dibuka dengan doa bersama yang dipimpin oleh mas Deo, kemudian workshop dengan durasi setengah hari ini dibawakan oleh mas Eri dari Komsos Kevikepan DIY yang berasal dari Paroki Boro.

Penyelenggaraan acara dilakukan di aula Paroki, dengan jumlah kehadiran umat sekitar 30 peserta dari berbagai kalangan usia. Para peserta ini berasal dari berbagai lingkungan dalam lingkup Paroki St. Albertus Agung Jetis.

Seperti yang telah disampaikan, perhelatan ini merupakan salah satu rangkaian dari kegiatan umat Paroki St. Albertus Agung Jetis menyambut Hari Ulang Tahun Paroki yang ke-54 tahun, dan dapat terselenggara dengan baik berkat bantuan dari rekan-rekan Komisi Komsos Kevikepan DIY serta Panitia Hari Paroki ke-54.

Materi yang dibawakan memberikan banyak pengalaman baru bagi peserta dalam mengambil foto yang baik, memiliki makna dan membuat caption yang menjelaskan maksud yang ingin disampaikan oleh foto tersebut.

Para peserta pun diberikan kesempatan untuk mencoba membuat karyanya masing-masing yang kemudian dievaluasi bersama. Bukan untuk menilai baik-buruk maupun benar-salahnya namun bersma-sama mengevaluasi agar dapat menghasilkan karya yang lebih baik lagi.

Berikut ini hasil karya dari beberapa peserta Workshop Photo Caption 2019 Paroki St. Albertus Agung Jetis :

Workshop diakhiri pada pukul 12.00 siang setelah doa penutup dan foto bersama.

Galeri FOTO Klik Disini

Terima kasih Komsos Kevikepan DIY !

You cannot copy content of this page