Renungan Mingguan 26 Januari 2020

Sabda Tuhan Hari Ini 26 Januari 2020, Matius 4:12‐23

Yesus diam di Kapernaum supaya genaplah firman yang disampaikan oleh Nabi Yesaya.

Ketika mendengar bahwa Yohanes Pembaptis telah ditangkap, Yesus menyingkir ke Galilea. Ia meninggalkan Nazaret dan diam di Kapernaum, di tepi danau, di daerah Zebulon dan Naftali. Dengan demikian genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: Tanah Zebulon dan tanah Naftali, jalan ke laut, daerah seberang sungai Yordan, Galilea, wilayah bangsa‐bangsa lain; bangsa yang diam dalam kegelapan, telah melihat Terang yang besar dan bagi mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut, telah terbit Terang. Sejak waktu itu Yesus memberitakan, “Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat.”

Ketika Yesus sedang berjalan menyusur danau Galilea, Ia melihat dua orang bersaudara, yaitu Simon yang disebut Petrus, dan Andreas saudaranya. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan. Yesus berkata kepada mereka, “Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” Mereka pun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Yesus.

Setelah pergi dari sana, Yesus melihat pula dua orang bersaudara, yaitu Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya, bersama ayah mereka, Zebedeus; mereka sedang membereskan jala di dalam perahu. Yesus memanggil mereka, dan mereka segera meninggalkan perahu serta ayahnya, lalu mengikuti Yesus. Yesus pun berkeliling di seluruh Galilea; Ia mengajar dalam rumah‐rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Allah serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan di antara bangsa itu.

Demikianlah Injil Tuhan.

Renungan

Sabda Tuhan hari ini berupa kabar gembira bahwa Yesus datang bukan hanya untuk bangsa‐Nya sendiri, memenuhi nubuat Nabi Yesaya: …wilayah bangsa bangsa lain,—bangsa yang diam dalam kegelapan telah melihat Terang yang besar dan bagi mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut, telah terbit Terang. Sejak waktu itulah Yesus memberitakan:” Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat!” Inilah undangan untuk semua orang untuk menerima Kristus sebagai Terang hidup kita.

Di lain pihak, sebenarnya Injil ini mengatakan sebuah ironi: Galilea adalah daerah pinggiran, berbatasan dengan walayah bangsa bangsa lain. Bangsanya sendiri tidak menerima dia, terutama daerah pusat Yerusalem dan sekitarnya. Yesus memang akan ke sana … untuk menghadapi penolakan dan wafat di salib. Galilea dan wilayah perbatasan bangsa bangsa lain justru mengalami berkat karena di situlah Yesus dan para rasul‐Nya diterima sehingga banyak berkarya selama hidupnya di dunia. Bahkan setelah kebangkitan‐Nya, Yesus meminta para rasul‐Nya kembali ke Galilea untuk bertemu dengan‐Nya (bdk. Mat. 28: 7,10).

Kabar gembira ini patut kita syukuri: jika kita ini orang sederhana, rakyat jelata, jauh dari pusat kuasa dunia, kita tak perlu berkecil hati, karena Tuhan justru mau datang bagi kita dan tinggal bersama kita. Sebaliknya bila kita sedang di pusat dunia atau bahkan Gereja karena jabatan kita, kita harus waspada karena sering kita tak merasa membutuhkan Tuhan.

Yesus, Engkaulah terang sejati dalam hidup dan pelayanan kami, jauhkanlah kami dari belenggu kekuasaan, semoga kami setia untuk mengusahakan keselamatan sesama seperti Engkau sendiri. Amin.

Sumber renungan: Ziarah Batin 2020, OBOR Indonesia

Renungan Mingguan 19 Januari 2020

Sabda Tuhan Hari Ini 19 Januari 2020, Yohanes 1:29‐34

Lihatlah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia.

Ketika Yohanes membaptis di Sungai Yordan, ia melihat Yesus datang kepadanya. Maka katanya, “Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia. Dialah yang kumaksud ketika kukatakan: Sesudah aku akan datang seorang yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku. Aku sendiri pun mula‐mula tidak mengenal Dia, tetapi untuk itulah aku datang dan membaptis dengan air, yakni supaya Ia dinyatakan kepada Israel.” Dan Yohanes memberi kesaksian, katanya, “Aku telah melihat Roh turun dari langit seperti merpati, dan Roh itu tinggal di atas‐Nya. Aku pun sebenarnya tidak mengenal Dia, Tetapi Yang mengutus aku membaptis dengan air, telah berfirman: Jikalau engkau melihat Roh turun ke atas seseorang dan tinggal di atas‐Nya, Dia itulah yang akan membaptis dengan Roh Kudus. Dan aku telah melihat‐Nya! Maka aku memberi kesaksian: Dia inilah Anak Allah.”

Demikianlah Injil Tuhan.

Renungan

Yohanes membaptis Yesus dan memberi kesaksian: “Jikalau engkau melihat Roh itu turun ke atas seseorang dan tinggal di atas‐Nya, Dialah itu yang akan membaptis dengan Roh Kudus.” Pembaptisan Yohanes adalah pembaptisan pertobatan. Namun, sejak Yesus mau dibaptis sebagai sesama manusia, baptisan adalah panggilan kekudusan karena dalam Kristus kita pun dibaptis dengan Roh Kudus: yaitu mereka yang dikuduskan dalam Kristus Yesus dan yang dipanggil menjadi orang orang kudus.

Bagaimana kita menghayati hidup kita sebagai orang yang dipanggil menuju kekudusan? Pertama, dengan menyadari penuh syukur bahwa dengan memanggil kita kepada kekudusan,  Tuhan ingin menyatakan keagungan‐Nya lewat hidup kita: dan olehmu Aku akan menyatakan keagungan‐Ku. Kedua, keagungan Tuhan itu nyata ketika kita diutus untuk mengembalikan kita  sesama manusia kepada Tuhan: untuk mengembalikan Yakub kepada‐Nya. Ketiga, menjadi terang bagi bangsa‐bangsa supaya keselamatan yang dari pada‐Ku sampai ke ujung bumi. Suatu yang nyaris mustahil bagi manusia, namun tiada yang mustahil bagi orang yang sungguh percaya pada kekuatan Roh Kudus yang telah dicurahkan ke dalam hati kita.

Yesus, kami bersyukur melalui pembaptisan Engkau memanggil kami kepada kekudusan. Jangan biarkan kami menyimpang dari jalan kekudusan. Semoga hidup  kami  Kaujadikan terang bagi sesama, sehingga mereka pun berani kembali kepada‐Mu. Amin.

Sumber renungan: Ziarah Batin 2020, OBOR Indonesia

Renungan Mingguan 12 Januari 2020

Sabda Tuhan Hari Ini 12 Januari 2020, Matius 3:13‐17

Sesudah dibaptis, Yesus melihat Roh Allah turun ke atas‐Nya.
Ketika Yohanes membaptis di sungai Yordan, datanglah Yesus dari Galilea ke sana untuk dibaptis olehnya. Tetapi Yohanes mencegah Dia, katanya, “Akulah yang musti dibaptis oleh‐Mu! Masakan Engkau yang datang kepadaku!” Lalu Yesus menjawab kepadanya, kata‐Nya, “Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah.” Dan Yohanes pun menurutinya. Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air, dan pada waktu itu juga langit terbuka, dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas‐Nya, lalu terdengarlah suara dari surga yang mengatakan, “Inilah Anak‐Ku yang Kukasihi, kepada‐Nyalah Aku berkenan.”

Demikianlah Injil Tuhan.

Renungan

Injil hari ini menunjukkan kepada kita bahwa Tuhan Yesus menjalani apa pun itu demi kepentingan kita, bukan demi kemuliaan‐Nya.  Yesus mau dibaptis oleh Yohanes agar seperti kita.Dia menjalani pembaptisan supaya lewat pembaptisan kita juga mau menjadi seperti Dia.

Untuk kita, orang‐orang Katolik, peristiwa pembabtisan adalah peristiwa iman.Allah mendatangi kita dan mau bersolider dengan kita.Ia turut merasakan pengalaman real kita dalam hidup sehari‐hari. Yesus, Sang Putra Allah, mau menjadi sama dengan kita, kecuali dalam hal dosa.

Peristiwa ini dimaknai sekurang‐kurangnya dalam dua hal ini.Pertama, sebuah ajakan untuk kita mendekatkan diri kepada Tuhan setelah kita menghindar jauh dari Tuhan akibat dosa‐dosa kita.Dialah Putra Allah dan kepada Dia Bapa di surga berkenan. “Inilah Anak‐Ku  yang Kukasihi, kepada‐Nyalah Aku berkenan.”Kedua, sebuah perintah untuk kita bersolider dengan yang lain.

Kalau Tuhan Yang Mahatinggi sudah sedemikian solidernya dengan kita; mengapa kita begitu sulit untuk bersolider dengan sesama?Kita dituntut untuk bersolider atau berbela rasa dengan sesama karena Tuhan sudah terlebih dahulu bersolider dengan kita.Semoga, rahmat pembaptisan yang kita terima meneguhkan niat dan usaha kita untuk mendekatkan diri dengan Tuhan dan bersolider dengan sesama.

Tuhan Yesus, Engkau ikut dibaptis sama dengan kami, orang‐orang berdosa ini. Semoga kami, Engkau baptis dengan Roh Kudus sehingga kami sungguhsungguh memaknai identitas kami sebagai pengikut‐Mu.Amin.

Sumber renungan: Ziarah Batin 2020, OBOR Indonesia

Renungan Mingguan 5 Januari 2020

Sabda Tuhan Hari Ini 5 Januari 2020, Matius 2:1‐12

Kami datang dari timur untuk menyembah Sang Raja.

Pada zaman pemerintahan Raja Herodes, sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea, datanglah orang‐orang majus dari Timur ke Yerusalem. Mereka bertanya‐tanya, “Di manakah Raja Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintangNya di Timur  dan kami datang untuk menyembah Dia.”

Mendengar hal itu, terkejutlah raja Herodes beserta seluruh Yerusalem. Maka dikumpulkannya semua imam kepala dan ahli Taurat bangsa Yahudi, lalu dimintanya keterangan dari mereka, di mana Mesias akan dilahirkan. Mereka berkata kepadanya, “Di Betlehem di tanah Yudea, karena beginilah ada tertulis dalam kitab nabi: Dan engkau, Betlehem di tanah Yehuda, engkau sekali‐kali bukanlah yang terkecil di antara mereka yang memerintah Yehuda, karena dari padamulah akan bangkit seorang pemimpin, yang akan menggembalakan umat‐Ku Israel.”

Lalu dengan diam‐diam Herodes memanggil orang‐orang majus itu dan dengan teliti bertanya kepada mereka kapan bintang itu nampak. Kemudian ia menyuruh mereka ke Betlehem, katanya, “Pergilah, dan selidikilah dengan seksama hal‐ikhwal Anak itu! Dan segera sesudah kamu menemukan Dia, kabarkanlah kepadaku, supaya aku pun datang menyembah Dia.”

Setelah mendengar kata‐kata raja Herodes, berangkatlah para majus itu. Dan lihatlah, bintang yang mereka lihat di Timur itu mendahului mereka hingga tiba dan berhenti di atas tempat di mana Anak itu berada.

Melihat bintang itu, sangat bersukacitalah mereka. Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu, dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu‐Nya. Lalu mereka sujud menyembah Dia. Mereka pun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada Anak itu, yaitu emas, kemenyan dan mur.

Kemudian, karena diperingatkan dalam mimpi supaya jangan kembali kepada Herodes, mereka pun pulang ke negerinya lewat jalan lain.

Demikianlah Injil Tuhan.

Renungan

Semua orang dan segala bangsa membutuhkan terang untuk menuntun dan menerangi langkah hidupnya. Hari ini kita merayakan Tuhan menyatakan diri sebagai  Terang bukan hanya bagi bangsanya, tapi kepada segala bangsa  yang diwakili oleh tiga orang majus dari berbagai bangsa.

Kehadiran para majus menyadarkan kita kembali apa artinya menjadi Gereja, Tubuh Mistik Kristus, yakni menjadi terang bagi bangsa bangsa, bagi orang‐orang di sekitar kita.

Jika kita sungguh menyambut dan menerima Yesus sebagai Terang yang menuntun langkah hidup kita, maka hidup kita pun akan menjadi terang (teladan) bagi sesama: ”Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang dan kemuliaan Tuhan terbit atasmu” (Yes. 60:1).

Menerima dan menghayati hidup Yesus dalam hidup kita harus nyata tatkala orang tertarik untuk datang kepada kita dan meneladan hidup kita.Apakah hidup kita menarik bagi sesama? Berapa orang yang sudah menjadi baik dan selamat karena teladan kita? Berapa orang yang telah kita bantu untuk keluar dari kekelaman hidupnya?

Ya Yesus, Engkau terang sejati dan sinarilah jalan hidup kami di dunia ini. Amin.

Sumber renungan: Ziarah Batin 2020, OBOR Indonesia

Renungan Mingguan 29 Desember 2019

Sabda Tuhan Hari Ini 29 Desember 2019, Matius 2:13‐15.19-23

Doa: Tuhan Yesus, bukalah pintu hatiku. Bersabdalah, ya Tuhan, hamba-Mu mendengarkan.

Setelah orang‐orang majus yang mengunjungi Bayi Yesus di Betlehem pulang, nampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi. Malaikat itu berkata, “Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu‐Nya! Larilah ke Mesir dan tinggallah di sana sampai Aku berfirman kepadamu, karena Raja Herodes akan mencari Anak itu untuk dibunuh.” Maka Yusuf pun bangun. Malam itu juga diambilnya Anak itu serta ibu‐Nya, lalu menyingkir ke Mesir, dan tinggal di sana hingga Herodes mati. Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan lewat nabi‐Nya, “Dari Mesir Kupanggil Anak‐Ku.”

Setelah Herodes mati, nampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf di Mesir dalam mimpi. Kata malaikat itu, “Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu‐Nya, dan berangkatlah ke tanah Israel, karena mereka yang hendak membunuh Anak itu sudah mati.” Lalu Yusuf pun bangunlah. Diambilnya Anak itu serta ibu‐Nya, dan pergilah mereka ke tanah Israel. Tetapi setelah mendengar bahwa Arkhelaus menjadi raja di Yudea menggantikan Herodes, ayahnya, Yusuf takut ke sana. Setelah dinasihati dalam mimpi, pergilah Yusuf ke daerah Galilea. Setibanya di sana ia tinggal di sebuah kota yang bernama Nazaret. Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi‐nabi, bahwa Ia akan disebut: Orang Nazaret.

Demikianlah Injil Tuhan.

Renungan

Pada Minggu pertama pasca Natal, kita merayakan pesta Keluarga Kudus Nazaret. Keluarga sederhana, namun hidup bersahaja di mata Allah. Keluarga kecil beranggotakan Yusuf, Maria, dan Kanak‐kanak Yesus ini juga sangat patuh pada adat‐istiadat setempat. Tentu saja keluarga ini juga sangat terbuka dengan sesamanya. Dalam keluarga itulah Yesus dilahirkan, bertumbuh dan berkembang.
Selaku orangtua, Yusuf dan Maria diimani sebagai orangtua yang harmonis, satu, setia, bahu‐membahu dalam mendidik anak dan membina keluarga. Yusuf, seorang yang saleh, benar‐benar menunaikan tanggung jawabnya sebagai ayah dan imam dalam keluarga. Demikian juga Maria yang selalu hormat pada kebijakan suaminya. Keharmonisan dan kesatuan mereka menjadikan kanak‐kanak Yesus semakin bertambah hikmatnya.

Keluarga kudus adalah model bagi keluarga‐keuarga masa kini. Misi, identitas, peran, dan penggilan keluarga zaman sekarang patut mencontoh keluarga Nazaret ini. Berbagai macam tantangan hidup perkawinan dan keluarga selalu dijiwai dan disemangati oleh teladan Yusuf, Maria, dan Yesus. Dengan demikian, pasangan suami‐istri dan anak‐anak tetap bisa menghayati hakikat dan tujuan perkawinan yang Gereja kehendaki.

Ya Bapa, berkatilah dan dampingilah keluarga‐keluarga Kristiani masa kini. Dalam berbagai tantangan yang harus dihadapi, ya Bapa, arahkanlah mereka pada tujuan yang Engkau kehendaki. Amin.

Sumber renungan: Ziarah Batin 2019, OBOR Indonesia

Renungan Mingguan 22 Desember 2019

Sabda Tuhan Hari Ini 22 Desember 2019, Matius 1:18‐24

Doa: Tuhan Yesus, bukalah pintu hatiku. Bersabdalah, ya Tuhan, hamba-Mu mendengarkan.

Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu Yesus, bertunangan dengan Yusuf, ternyata Maria mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri. Karena Yusuf, suaminya, seorang yang tulus hati, dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam‐diam.

Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi, dan berkata, “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Maria akan melahirkan anak laki‐laki, dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat‐Nya dari dosa mereka. Hal itu terjadi supaya genaplah yang firman Tuhan yang disampaikan oleh nabi: Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki‐laki, dan mereka akan menamai Dia Imanuel, yang berarti: Allah menyertai kita.”

Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat  seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya.
Demikianlah Injil Tuhan.

Renungan

Akhirnya kita sampai di penghujung masa Adven. Empat lilin dalam lingkaran Adven pun kita nyalakan semua. Sebuah gambaran bahwa dunia ini sudah temaram dengan cahaya. Tidak ada lagi sisi‐sisi atau sudut‐sudut yang gelap. Sang terang secara perlahan, namun meyakinkan mampu mengalahkan kegelapan.

Demikianlah halnya dengan misteri keselamatan Allah. Dengan amat meyakinkan Sang Terang, yakni Yesus Kristus itu akan datang. Perawan Maria menjadi perantara kedatangan‐Nya di dunia. Melalui Yesus Kristus inilah kegelapan dosa umat manusia akan dihalau. Kerahiman‐Nya menghapuskan dosa‐dosa dunia.
Nah, masihkah asa kita akan kedatangan Sang Terang itu tetap terjaga? Sejauh manakah tekad untuk mencintai Tuhan dan sesama bisa tetap terwujud? Makin besarkah kesadaran akan dosa kita sehingga makin meningkatkan upaya menyucikan diri?

Jika jawabannya adalah ”iya” bahkan trend‐nya semakin membaik, maka hal itu menjadi petunjuk bahwa Sang Terang itu selalu dihadirkan dalam diri kita. Kita tidak membiarkan ada sisi‐sisi atau sudut‐sudut kehidupan kita yang gelap. Kehadiran Tuhan selalu menjadi prioritas.

Ya Bapa, jaga dan peliharalah harapanku akan penebusan‐Mu. Jangan biarkan aku jatuh dan jatuh lagi dalam kesalahan dan dosa karena Engkaulah Emanuel, Allah yang selalu menyertaiku. Amin.

Sumber renungan: Ziarah Batin 2019, OBOR Indonesia

Renungan Mingguan 15 Desember 2019

Sabda Tuhan Hari Ini 15 Desember 2019, Matius 11:2‐11

Doa: Tuhan Yesus, bukalah pintu hatiku. Bersabdalah, ya Tuhan, hamba-Mu mendengarkan.

Sekali peristiwa Yohanes Pembaptis yang berada di penjara mendengar tentang pekerjaan Kristus.Lalu ia menyuruh murid‐muridnya bertanya kepada Yesus, “Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?” Yesus menjawab mereka, “Pergilah dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu dengar dan kamu lihat: Orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik. Berbahagialah orang yang tidak sangsi dan tidak menolak Aku.” Setelah murid‐murid Yohanes pergi, mulailah Yesus berbicara kepada orang banyak tentang Yohanes, “Untuk apakah kamu pergi ke padang gurun? Melihat buluh yang digoyangkan angin kian ke mari? Atau untuk apakah kamu pergi? Melihat orang yang berpakaian halus? Orang yang berpakaian halus itu tempatnya di istana raja. Jadi untuk apakah kamu pergi? Melihat nabi? Benar, dan Aku berkata kepadamu, bahkan lebih dari pada nabi. Karena tentang dia ada tertulis: Lihatlah, Aku menyuruh utusan‐Ku mendahului Engkau! ia akan mempersiapkan jalan di hadapan‐Mu. Aku berkata kepadamu: Camkanlah, di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar dari pada Yohanes Pembaptis. Namun demikian, yang terkecil dalam Kerajaan Surga lebih besar daripada Yohanes.”

Demikianlah Injil Tuhan.

Renungan

Tanpa terasa kita sudah ada pada Minggu ketiga masa Adven. Pada hari ini secara simbolik lilin dalam lingkaran Adven pun sudah bernyala tiga. Hal ini memberi gambaran bahwa sudah ada tiga penjuru bumi memancarkan terang. Harapan dunia yang benar‐benar diliputi cahaya sudah sangat mendekati kenyataan. Hal ini terjadi karena terang pertama dan kedua selalu dijaga nyalanya hingga terang berikutnya.

Bacaan‐bacaan hari ini mengingatkan kita akan kesulitan dan kesedihan yang bisa membuat kita lalai menjaga “terang”. Permasalahannya hidup bisa membuat kita menjauh dari Allah. Semakin berat persoalan hidup kita, semakin menggoda kita untuk semakin menjauh dari Allah.

Padahal sesungguhnya Allah tak pernah meninggalkan kita dalam keadaan apa pun. Allah ada dalam berbagai kondisi kita. Allah sendiri yang akan datang untuk menyelamatkan kita.

Nah, siapakah di antara kita yang tidak memiliki kesulitan? Pasti setiap kita memilikinya dalam rupa dan kadar yang berbeda. Akankah problem hidup itu menjadikan kita menjauh dari Allah? Semoga kesulitan hidup ini justru menjadi peluang untuk semakin menyandarkan diri pada kekuasaan‐Nya.

Ya Bapa, terima kasih untuk semua kesulitan hidup yang ada dalam diriku. Mampukanlah aku untuk menjaga harapan akan kekuasaan‐Mu yang menyelamatkan. Amin.

Sumber renungan: Ziarah Batin 2019, OBOR Indonesia

Renungan Mingguan 8 Desember 2019

Sabda Tuhan Hari Ini 8 Desember 2019, Matius 3:1‐12

Doa: Tuhan Yesus, bukalah pintu hatiku. Bersabdalah, ya Tuhan, hamba-Mu mendengarkan.

Sekali peristiwa tampillah Yohanes Pembaptis di padang gurun Yudea dan berseru, “Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat!” Sesungguhnya, dialah yang dimaksudkan nabi Yesaya ketika nabi itu berkata, “Ada suara orang yang berseru‐seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi‐Nya.”Yohanes itu memakai jubah bulu unta dan ikat pinggang kulit, makanannya belalang dan madu hutan. Maka datanglah kepadanya penduduk dari Yerusalem, dari seluruh Yudea dan dari seluruh daerah sekitar Yordan. Dan sambil mengakui dosanya mereka dibaptis oleh Yohanes di sungai Yordan. Tetapi waktu melihat banyak orang Farisi dan orang Saduki datang untuk dibaptis, berkatalah Yohanes Pembaptis kepada mereka, “Hai kamu keturunan ular beludak! Siapakah yang mengatakan kepada kamu, bahwa kamu dapat lolos dari murka yang akan datang? Maka hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan. Dan janganlah mengira, bahwa kamu dapat berkata dalam hatimu: Kami adalah anak Abraham. Sebab aku berkata kepadamu: Dari batu‐batu ini pun Allah dapat menjadikan anak‐anak bagi Abraham. Kapak sudah tersedia pada akar pohon, dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. Aku membaptis kamu dengan air sebagai tanda pertobatan, tetapi Ia yang datang kemudian daripadaku lebih berkuasa daripadaku, dan aku tidak layak melepaskan kasut‐Nya. Ia akan membaptiskan kamu dengan Roh Kudus dan dengan api. Alat penampi sudah ditangan‐Nya. Ia akan membersihkan tempat pengirikan‐Nya dan mengumpulkan gandum‐Nya ke dalam lumbung, tetapi debu jerami akan dibakar‐Nya dalam api yang tidak terpadamkan.”

Demikianlah Injil Tuhan.

Renungan

Hari ini adalah Minggu Adven kedua. Lilin dalam korona pun bernyala dua. Lingkaran Adven sebagai gambaran dunia yang gelap, kini sudah terang setengahnya. Dua penjuru bumi memancarkan cahayanya. Harapan akan dunia yang temaram kian hari kian terbuka prospeknya.

Bagaimana dengan api pertobatan dan pengharapan kita? Apakah semakin temaram? Semoga jawabannya adalah “ya”. Inilah harapan kita semua, yakni langkah awal pertobatan kita tidak berhenti. Sebaliknya, kita semakin peka menilik kekurangan diri yang menggairahkan kita untuk hidup makin selaras dengan kehendak Allah.

Yesaya mengingatkan kita bahwa Allah adalah hakim yang adil. Ia akan mengadili manusia sesuai amal perbuatannya. Yang salah akan dihukum, yang benar akan menerima ganjaran keselamatan. Dalam pengadilannya tidak ada suap, main mata, atau negosiasi. Dan Yohanes pun tegas menyuarakan: “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!” Karena itu, marilah kita jaga nyala api pertobatan dan harapan kita dengan terus melakukan kebaikan. Hidup yang semakin baik di mata Allah dan sesama adalah credit point bagi ganjaran keselamatan kita.

Ya Bapa, jagalah api harapan dan kasih‐Mu dalam hatiku. Jangan biarkan aku berjalan dalam kegelapan dan dosa. Tuntunlah aku pada kebenaran‐Mu, agar kelak aku boleh berharap akan rahmat keselamatan‐Mu. Amin.

Sumber renungan: ZiarahBatin 2019, OBOR Indonesia

Renungan Mingguan 1 Desember 2019

pengakuan dosa

Sabda Tuhan Hari Ini 1 Desember 2019, Matius 24:37‐44

Doa: Tuhan Yesus, bukalah pintu hatiku. Bersabdalah, ya Tuhan, hamba-Mu mendengarkan.

Sekali peristiwa Yesus bersabda kepada murid‐murid‐Nya, “Seperti halnya pada zaman Nuh, demikianlah kelak pada kedatangan Anak Manusia. Pada zaman sebelum air bah itu orang makan dan minum, kawin dan mengawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera; mereka tidak menyadari apa yang terjadi sampai air bah itu datang dan melenyapkan mereka semua. Demikian pulalah halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia. Pada waktu itu kalau ada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan. Kalau ada dua orang perempuan sedang menggiling gandum, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan. Oleh karena itu berjaga‐jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang. Tetapi ketahuilah ini: Jika tuan rumah tahu pada waktu mana pencuri datang waktu malam, pastilah ia berjaga‐jaga, dan tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar. Sebab itu, hendaklah kamu selalu siap siaga, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga.”

Demikianlah Injil Tuhan.

Renungan

Hari ini umat beriman memasuki masa Adven. Lilin pertama dalam lingkaran Adven pun mulai dinyalakan. Jika kita ibaratkan korona Adven sebagai gambaran dunia yang gelap, maka kegelapan dunia itu mulai diusir. Salah satu penjuru bumi itu sudah memiliki cahaya. Harapan akan dunia yang temaran dengan cahaya sudah diawali.

Orang beriman adalah mereka yang selalu berupaya menyalakan terang dalam kegelapan jalan hidupnya. Mereka menyadari diri sebagai sosok yang kurang dan lemah, namun ia terus berupaya untuk hidup dalam kelimpahan dan kekuatan rahmat Allah. Selalu berharap adalah kata kunci mereka.

Terang dan harapan bagi umat beriman itu adalah Yesus Sang Mesias. Yesaya meyakinkan kita bahwa Dia‐lah jalan keselamatan hidup kita. Berjalan bersama Dia menjadi panggilan kita. Berkat Dia keselamatan kita semakin mendekat.

Karena itu, marilah kita senantiasa waspada dan berjaga‐jaga. Kita tidak terlena dalam perbuatan salah dan dosa. Mari berlomba berbuat kasih dan hidup dalam doa dan Sabda. Kesiapsiagaan kita menyongsong kelahiran‐Nya adalah peluang bagi keselamatan kita.

Ya Bapa, nyalakanlah api harapan dalam diriku. Biarkan cahayanya menghalau kegelapan dosa dan menuntutku kepada Yesus, Sang Imanuel yang aku nantikan. Amin.

Sumber renungan : Ziarah Batin 2019, OBOR Indonesia

Renungan Mingguan 24 November 2019

renungan-mingguan

Sabda Tuhan Hari Ini 24 November 2019, Lukas 23:35-43

Doa: Tuhan Yesus, bukalah pintu hatiku. Bersabdalah, ya Tuhan, hamba-Mu mendengarkan.

 

Orang banyak berdiri di situ dan melihat semuanya. Pemimpin-pemimpin mengejek Dia, katanya, “Orang lain Ia selamatkan, biarlah sekarang Ia menyelamatkan diri-Nya sendiri, jika Ia adalah Mesias, orang yang dipilih Allah.”

Juga prajurit-prajurit mengolok-olokkan Dia; mereka mengunjukkan anggur asam kepada-Nya dan berkata, “Jika Engkau adalah raja orang Yahudi, selamatkanlah diri-Mu!” Ada juga tulisan di atas kepala-Nya, “Inilah raja orang Yahudi”.

Seorang dari penjahat yang digantung itu menghujat Dia, katanya, “Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami!” Tetapi yang seorang menegor dia, katanya, “Tidakkah engkau takut, juga tidak kepada Allah, sedang engkau menerima hukuman yang sama? Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah.”

Lalu ia berkata, “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.” Kata Yesus kepadanya, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.”

 

RAJA

Hari ini Gereja merayakan Hari Raya Tuhan Kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam. Perayaan ini ditetapkan oleh Paus Pius XI pada tahun 1925 pada setiap hari Minggu  terakhir bulan Oktober, menjelang  Hari Raya Semua Orang Kudus. Maksud utama perayaan ini sebagaimana tertuang dalam ensiklik “Quas Primas”, Paus sengaja melawan Atheisme dan Sekularisme pada masa itu dengan menampilkan Kristus sebagai yang lebih tinggi dan lebih berkuasa daripada segala kekuatan yang diunggulkan dunia ini.

Sejak tahun 1970 perayaan ini mengalami perubahan penekanan pada Kristus yang lebih bercorak eskatologis. Oleh karena itu, penempatan tanggalnya pun berubah, bukan lagi pada hari Minggu terakhir bulan Oktober, tetapi pada hari Minggu menjelang Hari Minggu I Adven. Jadi, jelas pula sebagai penutup Tahun Liturgi Gereja. Kristus adalah Alfa dan Omega.

Injil hari ini mengisahkan dua pihak yang memberikan pengakuan Yesus sebagai raja. Kelompok pertama adalah kelompok orang-orang terhormat, para pemimpin Yahudi, dan para prajurit. Mereka menyebut Yesus sebagai raja, dengan tujuan sebagai ejekan. Di atas salib-Nya pun tertulis “Inilah raja orang Yahudi”.

Sementara itu, pihak kedua adalah seorang penjahat yang disalibkan di sebelah Yesus. Ia dengan tulus mengakui Yesus sebagai raja, “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.” Pilih orang terhormat, atau penjahat? Bukan itu pilihannya, tetapi pilihannya adalah mengakui Yesus Kristus adalah Raja atau bukan. Secara yuridis atau verbal, kita orang Katolik mengakui Yesus adalah Raja. Tetapi, apakah pengakuan itu terwujud dalam praksis hidup kita?

Hari ini Gereja mengakhiri Tahun Liturgi dengan mengakui Yesus Kristus Raja Semesta Alam yang berkuasa menentukan penghakiman terakhir kita. Ini menjadi bekal penyerahan diri dan pertobatan, untuk dengan tulus dan hati makin terbuka memasuki masa Adven minggu depan. Kita membuka hati pada tawaran karya penyelamatan Allah yang sebentar lagi dihadirkan di tengah kita. Semoga kita siap menyambut-Nya apabila Ia datang menyapa. Semoga kita peka kalau kedatangan-Nya dalam rupa yang tak kita duga sebagaimana dikisahkan dalam bacaan hari ini. (warindra)

You cannot copy content of this page