Tata Perayaan Ekaristi 2020 Diperkenalkan ke Umat Paroki Jetis (Bag. 1)

tata perayaan ekaristi

Tata Perayaan Ekaristi 2020 – Panduan Ekaristi Resmi Umat Katolik

Pada perayaan ekaristi Hari Pentakosta, Minggu, 23 Mei 2021 lalu, Pastor Paroki St. Albertus Agung jetis, Vincentius Suparman Pr mengumumkan adanya Tata Cara Perayaan Ekaristi (TPE) Gereja Katolik terbaru, yakni TPE 2020. Adapun buku tentang TPE  baru ini dicetak dan diterbitkan oleh Komisi Liturgi dan Penerbit Rohani OBOR. Buku ini untuk digunakan sebagai panduan imam yang memimpin ekaristi.

Sebelumnya,  Kardinal Ignatius Suharyo, Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), meluncurkan TPE 2020 untuk  Gereja Katolik Indonesia, di Gedung Penerbit dan Toko Rohani OBOR, Jakarta, 7 Mei 2021. Kardinal Suharyo, yang juga Uskup Agung Jakarta, mengatakan, KWI menghadirkan buku TPE baru ini sebagai sarana agar merayakan Ekaristi dengan baik.

Suharyo menjelaskan, buku TPE yang dipakai di Indonesia sampai saat ini adalah TPE tahun 2005, yang disusun berdasarkan buku Misale Romawi tahun 2002. Diberi nama TPE 2005 karena resmi digunakan pada tahun itu.

Tata Perayaan Ekaristi 2020 vs 2005

Namun, pada tahun 2008 muncul buku Misale Romawi baru, sehingga KWI mengusahakan supaya TPE 2005 yang didasarkan pada Misale Romawi 2002 itu disesuaikan dengan Misale romawi 2008, maka jadilah TPE 2020. Diberi nama TPE 2020, karena finalisasi rumusan doa dan lain sebagainya selesai pada tahun 2020 lalu.

“Dengan hadirnya TPE baru ini, maka buku TPE 2005 tidak digunakan lagi, yang batas terakhir penggunaannya sampai 1 November 2021 mendatang”, ujar Suharyo. Suharyo mempersilakan para uskup di keuskupan masing-masing untuk menentukan kapan TPE ini mulai dipakai.

Wujud Kesadaran Gereja yang Satu

Suharyo menuturkan, penggunaan TPE yang sama dengan Gereja Katolik Roma ini bukan sekadar buku yang dipakai, melainkan wujud kesadaran bahwa Gereja itu satu. “Kita memakai Misale Romawi karena memang kita dari Gereja Katolik Roma Ritus Latin, maka sebagai tanda kesatuan kita dengan seluruh Gereja, kita menggunakan buku itu,” jelas Suharyo.

Ia pun berharap, kehadiran TPE baru ini makin mengajak kita semua memahami misteri ekaristi, makin juga berpartisipasi di dalamnya, sehingga kita makin berjumpa dengan Yesus yang mengorbankan diri dalam perayaan ekaristi dan kita mengalami betapa besar kasih Allah dalam perayaan ekaristi.”

Sumber : katoliknews
Penulis: Wempi Gunarto

Surat Gembala 75 TH Kemerdekaan Indonesia Uskup Agung Semarang

INDONESIA MAJU

“Bangga Buatan Indonesia”

Saudari-saudara, umat Katolik di Keuskupan Agung Semarang yang terkasih. Berkah Dalem. Saya berharap Anda semua dalam keadaan sehat dan bahagia.

Tanggal 17 Agustus ini kita memperingati dan merayakan Pesta Intan atau 75 tahun kemerdekaan Indonesia. Tema perayaan yang ditetapkan Pemerintah adalah “Indonesia Maju” ditambah slogan “Bangga Buatan Indonesia”.

Tema “Indonesia Maju” ini dimaksudkan untuk menghadirkan atau merepresentasikan Pancasila sebagai pedoman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Suatu simbolisasi dari Indonesia yang mampu untuk memperkokoh kedaulatan, persatuan dan kesatuan bangsa.

Bangsa dan negara yang maju memaknai kemerdekaan bukan sekadar sebagai kata melainkan kesempatan. Kesempatan untuk bermimpi hingga jadi nyata dan kesempatan untuk berkarya tanpa batas. Karena itu melalui tema “Indonesia Maju” ini mau ditegaskan bahwa inilah saatnya kita – masyarakat Indonesia – memfokuskan diri kepada hal yang benar-benar penting dalam menyatukan keberagaman melalui kolaborasi untuk memperkenalkan jati diri bangsa Indonesia.

Saudari-saudaraku yang terkasih,
Perayaan kemerdekaan bangsa saat ini kita peringati dalam suasana keprihatinan akibat dari wabah virus corona atau pandemi Covid-19. Pandemi ini telah menjadikan gerak kita sangat terbatas. Namun demikian kita tidak boleh menyerah. Sebaliknya kita diajak untuk terus secara nyata membangun kerja sama dan meningkatkan solidaritas dan kepedulian satu terhadap yang lain, agar kita dapat menghadapi dan mengatasi dampak pandemi ini dengan cepat dan tepat.

Bacaan kedua dari Surat Pertama Rasul Petrus (1Ptr 2,13-17) menegaskan bahwa kita adalah orang-orang merdeka yang hendaknya juga memaknai kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk bergotong-royong dan saling membantu dalam menghadapi pelbagai kesulitan dalam masyarakat. Hendaknya kita menghormati semua orang, mengasihi saudara-saudari kita sebangsa dan setanah-air dalam takut akan Tuhan.

Sedikit tentang “Bangga Buatan Indonesia”, saya mengajak Anda untuk memaknainya secara lebih luas. Bukan sekadar bangga akan produk-produk barang buatan Indonesia, tetapi juga bangga akan buah-buah pemikiran dan inovasi anak bangsa, serta bangga akan generasi muda kita. Mereka adalah masa kini dan masa depan bangsa. Salah satu hal yang sangat penting ketika kita berkata “mari kita cintai Indonesia” adalah kita cintai dan kembangkan anak-anak, para remaja dan kaum muda kita agar menjadi pribadi-pribadi yang sungguh militan dan memiliki kebanggaan terhadap bangsanya. Merekalah yang kita harapkan menjadi pelaku-pelaku transformasi bangsa menuju Indonesia maju.

Mungkin kita bertanya “kapan sebuah negara dapat dikatakan maju”. Belajar dari Injil dan Bacaan I hari ini, suatu negara dapat dinyatakan maju:

  • Pertama, kalau warga masyarakatnya dengan penuh kesadaran dan tanggungjawab melaksanakan kewajibannya, baik sebagai warga negara maupun sebagai orang beriman (Matius 22,15-21); dan
  • Kedua, kalau pemerintahnya memimpin dengan bijaksana, hingga mampu menjamin ketertiban dan kesejahteraan rakyatnya (Kitab Putra Sirakh 10,1-8).

Saudara-saudariku yang terkasih,
Mengakhiri Surat Gembala dalam rangka memperingati 75 tahun Indonesia merdeka ini, secara khusus saya ingin mendoakan Anda semua yang saat ini sedang letih lesu dan berbeban berat, terutama karena dampak pandemi ini. Saya juga berdoa khusus bagi Anda yang sakit, berkekurangan, dan harus menanggung beban kehidupan yang berat. Allah yang penuh belas kasih senantiasa menyertai, meneguhkan, menguatkan, dan memberikan penghiburan kepada Anda semua.

Tak lupa saya juga mengajak Anda semua untuk tak hentihentinya berdoa kepada Tuhan agar kita segera terbebaskan dari wabah virus Corona ini. Semoga upaya untuk menemukan vaksin segera berhasil dan kondisi hidup seluruh bangsa manusia dipulihkan kembali.

Kita juga berdoa untuk bangsa Indonesia agar dianugerahi semangat persatuan, persaudaraan dan kerukunan di atas dasar Pancasila dan UUD 1945, serta dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kita berdoa untuk para pemimpin bangsa, khususnya Presiden dan Wakil Presiden serta jajaran Kabinet Indonesia Maju, agar senantiasa diberi kebijaksanaan dalam memimpin bangsa ini. Akhirnya, mari kita pekikkan salam kebangsaan kita: Merdeka! Merdeka! Merdeka! Maju dan jayalah Indonesia. Berkah Dalem.

Semarang, 1 Agustus 2020
Peringatan Santo Alfonsus Maria de Liguori

Mgr. Robertus Rubiyatmoko
Uskup Agung Keuskupan Agung Semarang


DOWNLOAD Versi PDF Disini :

Surat Gembala Kemerdekaan RI 75th PDF

Surat Gembala Kemerdekaan RI 75th PDF (Bahasa Jawa)


Tonton juga versi Youtube disini :

Komsos Jetis Goes To Wonosari, Workshop Fotografi, Videografi & Website

Jam menunjukkan waktu pukul 09.30 WIB, kami berangkat dari paroki Jetis bersama-sama berempat orang. Di tengah perjalanan kami menjemput seorang kawan dari Komsos Babarsari.

St. Petrus Kanisius – Paroki Wonosari

Siang ini, sebanyak 35 anggota komunikasi sosial (komsos) Paroki di Daerah Istimewa Yogyakarta mengikuti workshop penulisan web, fotografi, dan videografi, yang diselenggarakan oleh Kevikepan DIY, Minggu (15/03/20). Kegiatan yang dilaksanakan di aula Ignatius Loyola Gereja Petrus Kanisius, Wonosari, Gunungkidul ini berlangsung dengan penuh keakraban.

Pemateri workshop, adalah Frans untuk pembuatan Web, Ery untuk materi fotografi, dan Sunu untuk materi videografi.

Dalam materi penulisan web, Frans menekankan fungsi web sebagai media pewartaan karya gereja. Sementara untuk kelas fotografi, Eri menekankan bagaimana membuat foto yang menarik dan etika peliputan. Sementara Sunu mengajarkan teknik- teknik pengambilan gambar via video dan editing singkat menggunakan telepon pintar (smartphone).

Frans – Website

 

Eri – Fotografi

 

Sunu – Videografi

Bapak Agustinus Suseno selaku wakil ketua Komsos Kevikepan DIY mengaku senang bahwa Komsos DIY bisa hadir mengisi pelatihan. Dan berharap pelatihan seperti ini bisa terus berlanjut ” jika ada yang membutuhkan pelatihan bisa menghubungi Kevikepan untuk nanti ditindaklanjuti” ujarnya.

Hal yang sama disampaikan oleh salah satu peserta dari Wonosari, yang mengaku waktu yang tersedia sangat singkat. ” Materinya banyak, sayangnya waktu yang tersedia terbatas”, katanya lebih lanjut. Sementara itu, Ibu Sixsy dari paroki Petrus Kanisius – Wonosari mengaku senang dengan acara ini dan berharap dari pelatihan ini bisa mewujudkan keinginan hadirnya website milik paroki Petrus Kanisius.

Ibu Sixsy – Paroki Wonosari

Dari pelatihan singkat ini diharapkan para peserta dapat segera praktik melalui komunitas Komsos di Parokinya masing-masing. Kegiatan yang berlangsung dari jam 11.30 sampai 15.00 WIB tersebut diakhiri dengan foto bersama. Turut hadir dalam acara ini Romo Lukas Ivan Sanjaya Pr, selaku Ketua Komsos Kevikepan DIY.

 

Penulis : Wempi Gunarto

Foto : Vinsensius & Christina

DOWNLOAD FOTO-FOTO DISINI

Pewartaan Yang Kekinian, Komsos Jetis Goes to Jambore #1 DIY

Hujan rintik-rintik di sore hari tanggal 15 Februari 2020 ini menemani sekitar 80 orang di Aula Girli Wisma Salam, Muntilan. Tempat tersebut terlihat ramai dengan para anggota Komsos dari berbagai kalangan usia. Dominasi peserta tentu saja dari teman-teman yang berusia muda. Selain awam, acara ini diikuti pula oleh 3 orang suster, 2 diantaranya yaitu Suster Pasifica dan Suster Rita. Selama 2 hari (15-16 Februari 2020) Komsos Kevikepan DIY mengadakan temu anggota Komsos se-kevikepan DIY dalam kegiatan Jambore Komsos dengan tema “Bertransformasi Dalam Pewartaan.”

Para peserta menjalin jejaring dan persahabatan diantara 39 paroki se-Kevikepan DIY. Hari pertama acara diisi dengan ice breaking yang cukup seru, kemudian disusul dengan sambutan oleh Franciskus dari Komsos Paroki Jetis selaku ketua pelaksana Jambore Komsos #1 DIY. Selanjutnya diisi sambutan oleh Bp. Agustinus Suseno selaku wakil ketua Komsos Kevikepan DIY. Dalam sambutannya beliau menyampaikan bahwa Komsos dari berbagai paroki harus bersedia untuk berjejaring dan menambah skill timnya masing-masing melalui pelatihan-pelatihan yang diadakan oleh Komsos Kevikepan DIY.

Dalam kesempatan selanjutnya Romo Yustinus Slamet Wito Karyono,Pr menyapa para peserta Jambore melalui rekaman video dan mengajak seluruh peserta untuk melakukan pewartaan iman dengan memanfaatkan teknologi informasi seraya memperhatikan 3 poin penting yang termuat dalam pedoman pastoral regio jawa, salah satu diantaranya yaitu dalam memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk pewartaan. Para SDM Komsos perlu memperhatikan nilai-nilai Kristiani dan prinsip pewartaan, serta agar lebih efektif dalam menjangkau lebih banyak umat di dalam mewartakan maka Komsos seluruh paroki di Kevikepan DIY mau tidak mau harus berjejaring.

Dinamika selanjutnya yaitu para peserta Jambore dibekali dengan materi jati diri, serta perkembangan kinerja Komsos Keuskupan Agung Semarang oleh Bp. FX Wasdi atau yang lazim dikenal dengan abah Encep didampingi Mas Sunbhio Pratama. Dalam sesi ini peserta saling berinteraksi dan mengajukan pertanyaan maupun berkomentar mengenai dinamika Tim Komsos mereka di masing- masing paroki.

Acara pada malam pertama ditutup dengan sharing bersama dalam kelompok-kelompok kecil mengenai dinamika masing-masing peserta maupun tim Komsos di paroki-paroki.

Setelah sarapan pagi, sekitar pukul 07.30 kegiatan outbound dimulai. Ada 4 pos yang harus dilalui keenam kelompok outbound. Pos-pos tersebut diantaranya yaitu karpet terbang dan pipe ball yang mengajarkan bahwa dalam mewartakan setiap Tim Komsos paroki tentu perlu berproses dan melakukannya selangkah demi selangkah serta juga perlu bekerjasama dengan banyak pihak.

Pada kesempatan ini ELTI Jogja dan Penerbit Pohon Cahaya mensponsori sebagian alat tulis pada acara Jambore Komsos sehingga dapat berjalan lancar. Sejumlah 5 buah buku pun diberikan sebagai doorprize oleh Pohon Cahaya menjadi milik peserta dengan menjawab beberapa pertanyaan seputar acara selama 2 hari ini.

Seluruh kegiatan Jambore Komsos di hari terakhir dibungkus dengan perayaan ekaristi bersama di Aula Batu Wisma Salam. Sebagai evaluasi akhir, Romo Lukas Ivan Sanjaya, Pr selaku Ketua Komsos Kevikepan DIY menyampaikan beberapa hal :

  1. Alat bukan merupakan harga mutlak bagi Komsos di setiap paroki untuk berkarya, namun konten yang kreatif lebih penting dari semua itu. Kita bisa memanfaatkan smartphone masing-masing untuk mewartakan.
  2. Para tim Komsos di paroki-paroki tidak perlu terpaku pada konten dalam bentuk video yang memang sedang marak dan populer saat ini. Konten dalam bentuk foto dan caption pun bisa menjadi media pewartaan yang memadai.
  3. Komsos rayon kota sulit untuk dikumpulkan dalam acara-acara yang diadakan oleh Kevikepan, namun Romo juga menyampaikan rasa syukur bahwa ada tim Komsos paroki yang dipikir tidak ada ternyata bisa mengirimkan 2 peserta yaitu salah satunya paroki Kidul Loji.
  4. Komsos Kevikepan DIY akan mengadakan pelatihan di Rayon Gunung Kidul bertempat di Paroki Wonosari Kota pada tanggal 15 Maret 2020 mendatang. Seluruh Tim Komsos di semua rayon diundang untuk menghadirinya.
  5. Double Tim Komsos dalam satu paroki (Komsos dan Tim Multimedia) menjadi penghalang bagi salah satu tim untuk berkarya, namun jika bisa bersinergi dan menghasilkan karya maka Romo mengacungi jempol karena bisa menjadi contoh baik bagi banyak paroki.
  6. Regenerasi Komsos di tiap paroki perlu dilakukan, dan jika menemui kesulitan silahkan belajar kepada paroki-paroki lain yang berhasil melakukan regenerasi.

Wakil ketua Komsos Kevikepan DIY Bp. Agustinus Suseno menambahkan 2 pesan penting untuk teman-teman peserta Jambore, yaitu :

  1. Tidak memiliki alat yang memadai bukan menjadi alasan untuk tidak berkarya, banyak jalan menuju Roma. Anda bisa meminjam terlebih dahulu ke teman, tentu bertanggung jawab dalam penggunaannya.
  2. Tidak disetujui oleh dewan paroki karena belum memiliki karya sudah menjadi hal yang lumrah, namun juga bukan alasan untuk maju dan berkarya serta menjadi pewarta.

Romo Ivan juga berpesan kepada peserta untuk tetap menjaga sinergi dan jejaring meski nanti Kevikepan DIY akan dimekarkan menjadi 2, yaitu Kevikepan DIY Timur dan Kevikepan DIY Barat pada bulan Oktober 2020 mendatang. Tepat pukul 15.00 seluruh peserta kembali ke rumah masing-masing dengan mengantongi sertifikat kepesertaan Jambore Komsos #1 DIY. Maju terus Komsos Kevikepan DIY ! Salam KOMSOS !

DOWNLOAD FOTO KEGIATAN DISINI

Penulis : Franciskus

Foto : Komsos DIY

Inilah Wajah Para Pemenang Festival Film Komsos #1

Sore hari yang agak dingin, mendung menggantung di langit, gerimis pun terlihat sudah turun rintik-rintik. Kami perlahan-lahan berangkat menuju Wisma Domus Pacis Puren, Pringwulung, Condongcatur, Sleman, DI Yogyakarta. Hari ini hari besar bagi kami Komsos Paroki Jetis, para pemenang Festival Film Komsos (FESFIKOM) yang pertama akan diumumkan pada malam hari ini.

Komsos Keuskupan Agung Semarang di tahun 2019 menyelenggarakan Festival Film Komsos (FESFIKOM) yang pertama. Fesfikom diselenggarakan dengan tujuan untuk mengajak umat menghidupi ARDAS KAS dan RIKAS melalui karya audio visual dengan mengangkat tema“Manusia Biasa yang Berdampak Luar Biasa.

Sebagai sasaran narasumber Fesfikom adalah orang Katolik/Komunitas Katolik yang mempunyai karya untuk mewujudkan kesejahteraan umum secara lintas suku, agama, ras, dan antar golongan di Keuskupan Agung Semarang.

Pengumuman pemenang diselenggarakan di kantor Komsos KAS, Wisma Domus Pacis Puren, Pringwulung, Condongcatur, Sleman, DI Yogyakarta pada Sabtu malam (30/11/2019). Fesfikom yang pertama ini total diikuti oleh 11 peserta dari berbagai paroki di lingkup Keuskupan Agung Semarang.

Dalam sambutannya, romo Yustinus Slamet Witokaryono, Pr menyampaikan, dengan festival film ini, dapat mengangkat orang biasa menjadi luar biasa.  Seringkali keterlibatan dan perjuangan seseorang dalam memajukan sebuah komunitas, tidaklah bisa terlihat oleh banyak orang karena tidak ada yang menyebarluaskan. Banyak umat Katolik yang menjadi tokoh di lingkungan, wilayah atau paroki, juga menjadi tokoh penggerak di tengah masyarakat.

Namun kisah mereka tidak banyak yang mengetahuinya, untuk itu KOMSOS KAS mengadakan festival film dokumenter yang diharapkan dapat mengangkat kisah para inspirator tersebut sehingga mampu menginpirasi lebih banyak orang untuk mewujudkan kesejahteraan umum dalam masyarakat multikultural.

Romo Wito berharap kegiatan dalam membuat film dokumenter yang mengangkat tokoh-tokoh inspiratif tersebut tidak hanya berhenti pada festival film saja, namun dapat berkelanjutan untuk mengangkat narasi-narasi yang baik melalui media digital.

Setelah sambutan romo Wito, dilanjutkan dengan pemaparan singkat programasi dari setiap Komsos Kevikepan. Kembali romo Wito berharap, dalam programasi setiap kevikepan memikirkan kaderisasi dan SDM di masing-masing paroki, serta mengembangkan jejaring di segala sektor baik di tingkat paroki, kevikepan maupun keuskupan. Jejaring yang dikembangkan berdasarkan kesadaran yang sama, keprihatinan yang sama, bergerak bersama dan kata kuncinya adalah “INI URUSANKU”.

Tibalah saat yang dinanti-nanti oleh para peserta yang hadir, yaitu pengumuman pemenang, sebelumnya mas Borgia Edgar selaku panitia menyampaikan bahwa dalam lomba ini ada penilaian kriteria utama yaitu substansial dan tehnik, juga terdapat 4 (empat) kriteria penilaian, yaitu kesesuaian tema, originalitas cerita, kreatifitas dan sinematografi.

Berikut ini daftar para pemenang Festival Film Komsos 2019 yang pertama :

  1. Juara 1 dengan judul “Perjuangan Perempuan Tani – Karya @production Gereja Mater Dei Lampersari Semarang
  2. Juara 2 dengan judul “Salam Balungan Kere”, karya Komsos paroki Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran
  3. Juara 3 dengan judul “Karya dari Karyanya”, karya OMK Sylvester paroki Santa Perawan Maria Bunda Kristus, Wedi
  4. Juara 4 kategori Film Favorit Dewan Juri dengan judul “Memayu”, karya Komsos paroki Santa Perawan Maria Ratu Rosario Suci Randusari Semarang
  5. Juara 5 jategori Sinematografi terbaik , dengan judul “Salam Balungan Kere”, karya Komsos paroki Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran
  6. Juara 6 kategori Narasumber Inspiratif, dengan judul “Noviana Diprayanti, Kisah Muda Kaum Difabel”, karya Komsos paroki Petrus Krisologus Bukit Semarang Baru

Para Pemenang Fesfikom #1 (urutan posisi dari kiri ke kanan)

The Fruits of Hope Karya KOMSOS Paroki St. Albertus Agung Jetis (Fesfikom #1)

Film The Fruits of Hope merupakan film pertama yang dibuat oleh Komsos Paroki Jetis. Dengan genre dokumenter, film ini juga diikutsertakan dalam Festival Film Komsos #1 yang diadakan oleh Komsos Keuskupan Agung Semarang pada tanggal 30 September 2019 yang lalu. Besar harapan kami Komsos Paroki Jetis agar umat dan dewan pastoral paroki bekerjasama bahu membahu untuk memajukan gereja kita semua. Berkah Dalem.

Tonton FILM KAMI DISINI

Kami Komsos Paroki Jetis belum bisa mencicipi rasanya menjadi pemenang di Fesfikom #1 ini, namun kami memiliki cita-cita dan semangat yang besar untuk terus berkarya. Hati-hati para pemenang, kami mengincar posisi Anda di kesempatan berikutnya ! Salam Komsos ! 🙂

Penulis & Foto : Agustinus Suseno

Editor : Frans

Arah Dasar Keuskupan Agung Semarang (ARDAS) 2016-2020

Arah Dasar Keuskupan Agung Semarang 2016-2020

MEMBANGUN GEREJA YANG INKLUSIF, INOVATIF DAN TRANSFORMATIF DEMI TERWUJUDNYA PERADABAN KASIH DI INDONESIA

Umat Allah Keuskupan Agung Semarang, sebagai persekutuan paguyuban-paguyuban murid-murid Yesus Kristus dalam bimbingan Roh Kudus bertekad dan bergotong royong memperjuangkan hidup bersama yang sejahtera, bermartabat, beriman, demi terwujudnya peradaban kasih, tanda kehadiran Kerajaan Allah.

Bersama masyarakat Indonesia yang sedang menghidupi kembali nilai-nilai Pancasila di era kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, umat Allah Keuskupan Agung Semarang mewujudkan diri sebagai Gereja yang, merengkuh dan bekerjasama dengan semua orang (inklusif), terus menerus membarui diri (inovatif) dan berdaya ubah (transformatif).

Cita-cita tersebut diwujudkan dengan: pengembangan iman umat yang cerdas, tangguh, misioner dan dialogis secara berjenjang dan berkelanjutan; pengembangan keluarga, lingkungan dan kelompok-kelompok umat agar lebih berperan dalam masyarakat; peningkatan pelayanan karitatif dan pemberdayaan kaum kecil, lemah, miskin, tersingkir dan difabel agar semakin sejahtera dan bermartabat; serta peningkatan peran dan keterlibatan kaum awam dalam gerakan sosial, budaya, ekonomi, politik dan pelestarian lingkungan dengan semangat pembelajaran, kejujuran, dan kerjasama. Upaya tersebut didukung dengan transparansi dan akuntabilitas dalam tata kelola paroki dan lembaga-lembaga karya serta peningkatan spiritualitas dan profesionalitas para pelayan pastoral.

Umat Allah Keuskupan Agung Semarang dengan tulus, setia, dan rendah hati bertekad bulat melaksanakan upaya tersebut, serta mempercayakan diri pada penyelenggaraan ilahi seturut teladan Maria, hamba Allah dan bunda Gereja.

Allah yang memulai pekerjaan baik di antara kita akan menyelesaikannya (bdk. Flp 1:6)

You cannot copy content of this page