Peduli Pendidikan Paroki St. Albertus Agung di Masa Pandemi Covid19

Pandemi Covid-19 yang melanda hampir seluruh wilayah di muka bumi ini menimbulkan dampak besar dalam seluruh aspek kehidupan manusia. Dampak ekonomi sangat terasa sekali terlebih untuk masyarakat kalangan bawah.

Karyawan swasta pada sektor jasa dan industri yang terdampak Covid-19 sebagian dirumahkan, demikian juga mereka yang bekerja di sektor informal dan industri rumah tangga mengalami penurunan pendapatan, bahkan kehilangan pendapatan. Angka pengangguran dan kemiskinan meningkat tajam, bahkan akan semakin memburuk untuk beberapa bulan kedepan.

Untuk mencegah agar terhindar dari terinfeksi virus ini kita harus merubah perilaku keseharian dan pola kebiasaan hidup. Harus membiasakan hidup bersih dengan mencuci tangan sesering mungkin, memakai masker agar virus tidak masuk lewat pernafasan, menjaga jarak dengan sesama agar tidak bersentuhan langsung, dan yang terpenting adalah menghindari kerumunan masa agar virus tidak tersebar meluas.

Dalam rangka menghindari kerumunan masa dalam sistem belajar di sekolah maka pemerintah mengeluarkan kebijakan sistem belajar online melalui media sosial atau jaringan internet untuk seluruh jenjang pendidikan, sebagai pengganti sistem tatap muka kelas.

Agar siswa dapat mengakses pendidikan dengan baik, orang tua murid harus mampu menyediakan sarana pendukung yang memadai. Handphone android dan jaringan internet di rumah harus tersedia. Pengeluaran untuk pembelian pulsa menjadi kebutuhan yang tak terhindarkan, anggaran yang semakin memberatkan dalam situasi sulit ini.

Gereja Santo Albertus Agung Jetis melalui Bidang Layanan Kemasyarakatan dan Tim Kerja Pendidikan peduli dengan situasi ini. Gereja ingin membantu meringankan beban orang tua murid melalui kegiatan Peduli Pendidikan Pemberian Pulsa Bagi Siswa Sekolah. Ya… Gereja sebatas ikut peduli bukan untuk menyelesaikan seluruh beban masalah orang tua murid, karena kemampuan Gereja sendiri juga terbatas.

Paket pulsa yang diberikan senilai Rp.75.000,- per kepala keluarga, total biaya mencapai Rp.9.317.000,- sumber dana seluruhnya dari Paroki. Peran Ketua Lingkungan sangat besar dalam memberikan data nama keluarga yang menjadi sasaran kegiatan ini dan data nomor handphone yang akan diisi pulsa.

Jumlah keluarga yang memperoleh ada 121 dari tujuh belas lingkungan dan setiap lingkungan jumlah kepala keluarga penerima tidak sama. Setiap orang tua penerima diminta hadir di aula gereja untuk melakukan konfirmasi nomor yang akan ditransfer pulsa, hal ini untuk meminimalisir kesalahan yang tidak perlu.

Kegiatan Pemberian Pulsa Bagi Siswa Sekolah ini telah dilaksanakan pada hari Sabtu dan Minggu tanggal 30 dan 31 Mei, jam 09.00-13.00 di Aula Gereja. Kegiatan ini dinilai sangat positif oleh para keluarga penerima.

” Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Pekerjaan apa saja yang diberikan kepadamu, hendaklah kalian mengerjakannya dengan sepenuh hati, seolah-olah Tuhanlah yang kalian layani, dan bukan hanya manusia. – Kolose 3:23 
Anda ingin berbagi…?
Paroki siap membantu menyalurkan…!

.
.

Peduli lawan Pandemi: Bakti Sosial Tanggap Bencana Virus Covid-19 Jilid 3

Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi salah satu kota di Indonesia yang terpapar virus corona. Hingga saat ini Yogyakarta menjadi kota ke 16 dengan jumlah penduduk terbanyak yang terjangkit virus corona (versi kompas.com).

Data terbaru yang dipublikasikan pada 14 Mei 2020 menunjukkan sebanyak 185 penduduk DIY terjangkit virus corona. Tingkat kesembuhan tergolong belum memuaskan sebab masih di angka 68 orang atau sekitar 37% dan angka kematian sebesar 4% dari jumlah kasus yang terkonfirmasi oleh pemerintah.

Tren nasional untuk kasus pasien yang sembuh setelah terjangkit virus corona juga mengalami peningkatan dari hari ke hari. Kita patut bersyukur sebab menurut cuplikan data di atas, DIY termasuk kota yang penyebarannya tergolong lambat dan minim korban jika dibandingkan dengan kota lain seperti DKI Jakarta atau bahkan negara lain contohnya Amerika Serikat. Namun kita pun tak boleh lengah, sebab tren nasional kasus meninggal dan terkonfirmasi virus corona masih terus bergerak naik.

Masa pandemi Covid-19 ini menjadi masa-masa sulit bagi semua orang. Sebab mewabahnya virus corona berdampak cukup signifikan bagi perekonomian Indonesia.

Dikutip  dari berita, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memperkirakan angka kemiskinan di Indonesia akan meningkat hingga 1,1 juta orang untuk skenario terberat. Sementara untuk skenario yang lebih berat, tambahan angka kemiskinan akan sebanyak 3,78 juta orang.

Perkiraan ini dengan asumsi bahwa penyebaran virus corona masih akan terus meluas namun tidak sampai memburuk. Peningkatan angka kemiskinan ini berasal dari penduduk yang rentan miskin dan hampir miskin yang mencapai sekitar 25 % dari penduduk Indonesia. Dengan mewabahnya virus corona dan diterapkannya aturan untuk tinggal di rumah, banyak golongan masyarakat yang mengalami penurunan dan pendapatan bahkan harus kehilangan mata pencahariannya.

Bakti sosial dalam rangka membantu umat paroki yang terdampak virus corona kembali dilaksanakan pada Rabu, 13 Mei 2020. Kegiatan ini mendapat sambutan baik dari penerima bantuan maupun pihak luar yang terus memberikan kontribusinya dalam bentuk sumbangan sembako.

Pada bakti sosial kali ini, tim APP dan PSE menerima sumbangan telur ayam dari bapak N. Yudianto selaku salah satu umat Paroki Jetis dan juga sumbangan beras yang berasal dari Kevikepan DIY. Kegiatan tanggap bencana ini merupakan salah satu upaya Gereja untuk mengurangi tambahan angka kemiskinan, terutama penduduk rentan miskin yang menjadi miskin atau penduduk kelas menengah yang menjadi rentan miskin akibat kehilangan pendapatan.

Persiapan kegiatan dimulai pada Senin, 11 Mei 2020 dan berlangsung selama 2 hari. Jumlah relawan yang membantu sebanyak 11 orang terdiri dari tim APP, PSE, dari bidang kemasyarakatan dan umat paroki. Kegiatan berlangsung dari pukul 10.00 hingga 11.00 WIB.

Sebanyak 220 paket sembako didistribusikan dengan mobil umat namun ada pula yang diambil langsung oleh ketua wilayah. Setiap wilayah mendapat kuota tambahan 1 keluarga dengan ketentuan ketua lingkungan perlu memutakhirkan data bantuan agar bantuan yang diberikan tepat sasaran.

Secara keseluruhan kegiatan bakti sosial berjalan dengan lancar. Semoga Tuhan memberkati dan menjauhkan kita dari virus-virus yang berbahaya bagi kesehatan. Tetap semangat!

Penulis : Christina A.R
Foto : Tim Kemasyarakatan & Ketua Lingkungan
.
.

Gerakan Umat Paroki Jetis di Masa Pandemi Virus Corona

Bila wabah virus Corona adalah ujian maka persoalannya adalah kemanusiaan. Bagaimana kepedulian masyarakat menjadi hal pokok yang menjadi sorotan. Saat ini banyak gerakan sosial yang diselenggarakan baik oleh masyarakat umum, para musisi, pejabat pemerintahan dan berbagai elemen masyarakat.

Seiring dengan perkembangan teknologi, gerakan sosial ini dilaksanakan lewat streaming, video di media sosial atau terjun langsung ke masyarakat untuk memberikan bantuan bagi masyarakat yang membutuhkan. Hal inilah yang dilakukan oleh umat Paroki Jetis di tengah situasi pandemi Covid-19.

Umat peduli, perhatian dan menunjukkan solidaritasnya lewat bantuan-bantuan yang diberikan ke Gereja untuk kemudian disalurkan kepada umat di lingkungan yang kurang mampu dan masyarakat umum. Paroki St. Albertus Agung Jetis telah menerima bantuan antara lain berupa alat-alat kebersihan, paket nasi bungkus, paket nasi kotak dan sembako. Bantuan-bantuan tersebut diterima oleh Tim APP (Aksi Puasa Pembangunan) dan dikelola agar membawa manfaat terlebih bagi mereka yang terdampak virus Corona.

Kegiatan berbagi nasi bungkus sampai dengan saat ini telah dilaksanakan dalam tiga tahap. Tahap pertama pada hari Senin, 20 April 2020 Gereja St. Albertus Agung Jetis mengadakan gerakan sosial berbagi nasi bungkug untuk masyarakat umum sebanyak 270 paket. Nasi bungkus sebanyak 220 paket merupakan bantuan dari salah satu umat di Paroki Jetis yaitu Bapak Wahyu Herman dan 50 paket lainnya bantuan tambahan dari Gereja. Pembagian nasi bungkus dilakukan untuk membangun rasa solidaritas sekaligus meringankan beban masyarakat terutama dari sisi ekonomi. Gerakan ini berlangsung dari pukul 09.00-10.00 WIB. Kontributor dari gereja yang ikut membagikan nasi bungkus berasal dari tim APP, PSE, OMK dan umat lain yang ingin ikut serta menyapa masyarakat. Sasaran kegiatan ini adalah para pejalan kaki, supir ojek online, pedagang – pedagang kecil, tukang becak, tukang sapu jalan dan semua pihak yang membutuhkan. Kegiatan berbagi nasi tahap pertama berjalan dengan lancar.

Gerakan kedua dilaksanakan pada hari Minggu, 26 April 2020 di depan Gereja St. Albertus Agung Jetis. Kali ini kegiatan bagi nasi dilaksanakan pada sore hari menjelang waktu berbuka mengingat sudah memasuki bulan puasa. Nasi bungkus sebanyak 250 paket merupakan sumbangan dari alumnus angkatan 1994 ++ Sekolah Johannes De Britto, Yogyakarta. Sasaran kegiatan masih sama yaitu para supir ojek online, tukang becak dan semua pihak yang membutuhkan bantuan makanan di sekitar area gereja. Gerakan kedua berlangsung dari pukul 17.00 hingga 17.45 WIB. Antusiasme masyarakat dinilai cukup tinggi pada kegiatan berbagi nasi tahap ini.

Gerakan berbagi nasi tahap ketiga dilaksanakan pada hari Jumat, 1 Mei 2020 di depan Gereja St. Albertus Agung Jetis. Tiga ratus paket nasi yang dibagikan merupakan sumbangan dari salah satu umat paroki Jetis yang tidak ingin disebutkan namanya. Sebanyak 60 paket nasi dibagikan kepada masyarakat dengan mengendarai sepeda motor sementara sisanya dibagikan di depan gereja. Selain nasi kotak, umat juga membagikan masker kain dan satu potong kue. Spesial pada gerakan ketiga ini, Romo Paroki dan Bapak Joko Sunarno selaku wakil ketua Dewan Paroki ikut serta dalam persiapan dan pembagian nasi kotak. Kegiatan berlangsung dari pukul 17.00 hingga 18.00 WIB kemudian ditutup dengan makan bersama para relawan yang membantu distribusi nasi kotak kepada masyarakat.

Berbagai kegiatan yang telah terlaksana di atas merupakan wujud nyata kepedulian Gereja kepada masyarakat umum yang terdampak virus Corona terutama dari sisi ekonomi. Gereja menjadi perpanjangan tangan Tuhan dalam membantu umatnya yang menderita dan menanggung beban. Kiranya Gereja sebagai wajah sosial yang berlandaskan kasih senantiasa menjadi nyata dalam kehidupan sehari-hari di tengah masyarakat terutama dalam situasi pandemi saat ini.

.
.

Penulis : Christina A.R & Elisabeth Puji S.
Foto : Tim Kemasyarakatan

Peduli lawan Pandemi: Bakti Sosial Tanggap Bencana Virus Covid-19 Jilid 2

Siang itu panas terik melanda sebagian kota Yogyakarta yang sedang lengang dan sepi pengunjung. Memang virus Corona yang mewabah sejak beberapa bulan yang lalu, telah merenggut kebebasan warga Yogyakarta untuk melaksanakan aktivitas di luar rumah seperti hari – hari biasa.

Pemerintah bahkan menganjurkan warga masyarakat untuk tinggal di rumah guna memutus mata rantai merebaknya virus corona. Anjuran ini berlaku hampir di seluruh wilayah  Indonesia terutama daerah yang kasus positifnya dikategorikan tinggi ambil contoh Jakarta. Himbauan pemerintah tersebut mendorong sektor pendidikan untuk menonaktifkan segala kegiatan belajar mengajar dan adanya sistem kerja baru yaitu Work from Home atau bekerja dari rumah baik untuk sektor pemerintah maupun swasta.

Pemberlakuan aturan stay at home ini mengakibatkan terjadinya perlambatan ekonomi disebabkan karena pelaku usaha informal seperti pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terutama para pedagang kaki lima kehilangan pangsa pasarnya. Jika pelaku bisnis sudah menjajal dunia online dan e commerce mampu bertahan bahkan mengalami kenaikan transaksi pada situasi ini, tetapi tidak demikian bagi PKL yang hanya mengandalkan penerimaan harian dari hasil jualan mereka.

Selain itu, banyak perusahaan di berbagai sektor memilih merumahkan karyawan karena ingin memangkas biaya operasional. Perusahaan terpaksa memilih jalan tersebut sebab kelesuan ekonomi akibat wabah virus Corona menyebabkan pendapatan perusahaan turun drastis sementara biaya pegawai dan operasional lain terus berjalan. Kondisi ini menyebabkan sebagian masyarakat menjadi kurang berdaya secara ekonomi. Kehilangan pekerjaan yang berarti kehilangan sumber pendapatan keluarga menjadikan masyarakat kesulitan untuk memenuhi kebutuhan pokok salah satunya kebutuhan akan makanan.

Kondisi inilah yang melatarbelakangi Tim APP Paroki St. Albertus Agung Jetis mengadakan kegiatan Peduli lawan pandemi: Bakti sosial tanggap bencana covid-19 tahap yang kedua.

Dua ratus paket sembako dibagikan kepada umat lingkungan yang kurang mampu sesuai dengan data yang diberikan ketua lingkungan. Satu paket sembako terdiri dari beras, mie telor, biskuit kering, kecap manis, minyak goreng dan gula pasir. Selain sembako, diberikan pula masker kain hasil produksi tim PSE paroki. Masker kain ini dibuat dari kain batik perca yang sudah tidak digunakan, dijahit, ditambah karet dan bahan pelengkap lain.

Beberapa bahan pokok yang diberikan merupakan sumbangan dari umat dan sisanya didanai oleh donatur dan gereja. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Senin, 13 April 2020 pukul 10.00 hingga 11.30 WIB. Tim PSE, APP dan tim lain yang tergabung dalam bidang kemasyarakatan sudah mempersiapkan kegiatan ini dari sejak seminggu sebelum tanggal pelaksanaan. Para relawan membeli sembako, membungkusnya dalam 200 paket dan mendistribusikan ke lingkungan melalui ketua wilayah masing-masing.

Total 200 paket sembako diterima oleh umat lingkungan (katolik dan non katolik) dalam keadaan layak dan mendapatkan sambutan yang baik. Umat yang berdomisili di wilayah satu dan wilayah dua yang mendapatkan bantuan paket sembako masing-masing sebanyak 48 keluarga katolik dan 1 keluarga non katolik. Di wilayah tiga mencapai 43 keluarga katolik dan 1 keluarga non katolik. Sementara umat di wilayah empat yang mendapatkan paket sembako sejumlah 58 keluarga katolik.

Bakti sosial ini berjalan dengan lancar dari awal hingga akhir. Kiranya gereja mampu menjadi perpanjangan tangan Tuhan yang senantiasa peduli dan perhatian kepada umatnya yang berkekurangan khususnya karena dampak virus covid-19. Dan semoga wabah virus covid-19 ini segera berakhir! Tuhan memberkati.

.
.

Penulis : Christina A.R.
Foto oleh : Tim Kemasyarakatan

Semangat Berbagi di Minggu Paskah Saat Merebaknya Covid-19 Corona Virus

Sudah lebih dari 30 hari semenjak virus Corona (Covid-19) merebak di negara kita. Tidak hanya di Indonesia, bahkan hampir seluruh negara di belahan dunia terdampak oleh virus ini.

Efek dari virus ini tidak hanya berdampak langsung terhadap kesehatan, yang tidak terlihat namun dirasakan adalah efeknya terhadap perekonomian negara-negara di seluruh dunia.

Berdasarkan data dari CNN Indonesia, di negara Amerika Serikat sendiri sekitar 17 juta orang kehilangan pekerjaannya akibat adanya pemutusan hubungan kerja (PHK) oleh perusahaan pemberi kerja karena mereka pun tidak memiliki pilihan akibat pembatasan sosial (social distancing) yang terbukti efektif menurunkan tingkat penularan Corona Virus Covid-19.

Koordinasi Sebelum Pembagian

Berangkat dari kepedulian terhadap pribadi-pribadi yang terdampak di negara Indonesia khususnya di kota Yogyakarta ini, pada hari Minggu Paskah sekitar pukul 10.00 WIB diadakan pembagian paket nasi dan masker yang terbuat dari kain oleh Gereja Albertus Agung Jetis kepada masyarakat umum. Paket nasi ini berasal dari donasi salah satu umat Gereja St. Albertus Agung Jetis.

Sejumlah nasi dus dengan total 300 paket dibagikan kepada penduduk RT47 Kelurahan Cokrodiningratan sebanyak 150 paket, dan sisanya 150 paket nasi dibagikan di halaman gereja kepada masyarakat umum dengan menganut sistem drive-thru agar tidak menimbulkan kerumunan massa.

Menuju RT47 Kelurahan Cokrodiningratan
Penyerahan Simbolis Kepada Ketua RT47

Bagi para penerima paket nasi diwajibkan untuk melakukan sanitasi menggunakan hand sanitizer sebelum  masuk ke halaman gereja dengan dibantu oleh beberapa umat yang hadir membantu terlaksananya kegiatan ini.

Wajib Menggunakan Hand Sanitizer

Semua paket nasi tersebut dibagikan hanya dalam waktu sekitar 1 jam saja. Panitia dadakan yang berjumlah sekitar 20 orang bergerak cepat terdiri dari berbagai elemen, yaitu Romo, Bidang Kemasyarakatan dan Tim Pelayanan APP, OMK, semuanya baik tua dan muda bergerak seirama bahu membahu bersama-sama memberikan dukungan bagi masyarakat yang terdampak oleh virus Corona.

Panitia Dadakan

Paskah tahun 2020 ini memang terasa jauh berbeda dengan perayaan di tahun-tahun sebelumnya yang selalu dihiasi oleh kemeriahan perayaan di gereja. Tahun ini kita seakan disadarkan bahwa Paskah tidak selalu tentang perayaan, namun juga fleksibel melakukan perubahan dan terus menjadi perpanjangan kasih Tuhan di saat terjadinya bencana wabah seperti sekarang ini. Sesuai dengan tema Paskah 2020 – Berubah dan Berbuah Berkat.

Kita berdoa dan terus berharap, semoga pandemi ini dapat cepat berlalu dan segalanya dapat pulih kembali seperti sediakala.

Artikel & Foto : Tim Pelayanan Komsos

DOWNLOAD Foto – Foto Kegiatan

Hari Rabu Abu dan Peraturan Pantang Puasa Katolik

hari rabu abu

Memasuki masa Prapaskah, seluruh umat Katolik di dunia hari ini memperingati Hari Rabu Abu. Pada tanggal 26 Februari Paroki Jetis mengadakan 3 (tiga) kali misa yaitu pada pagi hari pukul 05.30 WIB, siang pukul 12.00 WIB dan sore hari pada pukul 17.30 WIB. Serta didahului juga misa pada hari Selasa tanggal 25 Februari pukul 17.30 WIB.

Dari keempat misa diatas, jumlah umat yang hadir paling banyak terutama di misa Rabu sore. Kapasitas parkir Gereja Jetis sampai tidak muat karena saking banyaknya kendaraan yang perlu ditampung.

Misa pada dua hari ini dipimpin oleh Romo Vincentius Suparman, Pr dan Romo Ambrosius Heri Krismawanto, Pr secara bergantian. Pada misa Rabu pagi dalam homilinya Romo Heri menyampaikan bahwa pada masa Prapaskah ini hendaknya setiap umat Katolik wajib melakukan setiap tindakan sesuai dengan porsinya. Istilah dalam bahasa Latin disebutkan oleh Romo Heri yaitu “Intensi Recti” atau dalam bahasa Indonesia artinya Niat Lurus.

Sebagai contoh, ada sekelompok umat (bukan di Jetis) yang merencanakan untuk melakukan kunjungan ke panti asuhan namun dalam merencanakan kegiatan tersebut ternyata lebih banyak membahas hal-hal di luar niat utama kunjungan ke panti asuhan, seperti akan makan siang dimana, setelah dari panti asuhan mau jalan-jalan kemana, dan seterusnya.

Lebih jauh lagi, mengenang peninggalan Paus Leo Agung dan Mgr. Pujasumarta, Pr bahwa tindakan umat Kristiani seharusnya tidak hanya secara lahiriah namun juga batiniah yaitu tindakan yang didasarkan oleh kasih.

Hendaknya kita sebagai umat Katolik dalam rangka masa pertobatan ini tidak hanya menahan lapar dan haus namun juga memperhatikan orang-orang yang kesulitan dan berkekurangan di sekitar kita.

Sebagai penutup Romo Heri menyampaikan peraturan pantang dan puasa dalam ajaran agama Katolik yang utama yaitu berpuasa adalah makan hanya sekali saja dalam sehari pada hari Rabu Abu dan hari Jumat Sengsara dan Wafat Tuhan. Umat beriman yang wajib berpuasa adalah yang berumur antara 18 (delapan belas tahun) sampai dengan awal tahun ke 60 (enam puluh).

Untuk peraturan pantang dan puasa yang lebih lengkap silahkan lihat artikel Surat Gembala Prapaskah oleh Mgr. Robertus Rubiyatmoko – Uskup Agung Semarang D I S I N I

Artikel Oleh : Franciskus Devy

Foto Oleh : Lusia Beta Amorrista

Surat Gembala PRAPASKAH 2020 KAS Serta Aturan Pantang dan Puasa Katolik

pantang dan puasa katolik

SURAT GEMBALA PRAPASKAH

USKUP AGUNG KEUSKUPAN AGUNG SEMARANG

Diterangkan/dibacakan/ditayangkan pada Sabtu – Minggu, 22-23 Februari 2020

“Bertobat, Terlibat, dan Berbuah Berkat”

Saudari-Saudara, umat Katolik di Keuskupan Agung Semarang yang terkasih. Berkah Dalem. Bagaimana kabarnya? Saya harap semua sehat dan bahagia.

Pada hari Rabu Abu, 26 Februari 2020 nanti, kita akan memasuki masa prapaskah. Masa yang akan berlangsung selama 40 hari itu bagaikan retret agung dimana kita secara istimewa mempersiapkan diri untuk merayakan Paska atau Kebangkitan Tuhan kita Yesus Kristus. Selama masa retret agung ini kita yang telah dibaptis diundang untuk kembali mengenangkan janji baptis kita; dan bagi Anda yang akan dibaptis, diajak untuk mempersiapkan penerimaan sakramen Baptis dengan penuh kesungguhan dan penghayatan. Ini kita tempuh, antara lain dengan membina semangat pertobatan yang kita wujudnyatakan dalam perubahan-perubahan hidup yang nyata (SC 109).

Karena itu, saya mengajak Anda semua untuk memanfaatkan masa prapaskah ini dengan sebaik mungkin, terutama dengan mengupayakan pertobatan yang sejati, yakni dengan lebih sungguh menyadari kedosaan dan kelemahan, mensyukuri kerahiman dan belas kasih Allah, serta membangun kesucian melalui keutamaan-keutamaan hidup kristiani.

Saudari-saudaraku yang terkasih,

Pada masa prapaskah tahun 2020 ini, saya mengajak seluruh umat Keuskupan Agung Semarang untuk menghayati atau menghidupi tema APP KAS “Bertobat, Terlibat, dan Berbuah Berkat” dalam gerak fokus pastoral Keuskupan Agung Semarang 2020, yaitu “Umat Katolik yang Transformatif”. Dengan fokus pastoral ini, seluruh umat KAS saya ajak untuk mensyukuri rahmat baptisan yang telah kita terima. Melalui baptisan kita semua dipersatukan dengan Kristus, diangkat menjadi anak-anak Allah dan menjadi ahli waris kerajaan-Nya, menerima anugerah pengampunan dan penebusan atas segala dosa, serta dilibatkan dalam tiga tugas Kristus sebagai Imam, Nabi, dan Raja (bdk. kanon 204 & 849; KGK 1263 & 1265). Selain itu, dengan baptisan kita juga dipersatukan dengan Gereja-Nya, menjadi anggota umat Allah, dan terlibat dalam perutusan Gereja di dunia untuk mewartakan Injil kepada semua makhluk (bdk. Markus 16,15; kanon 204; KGK 1267).

Dengan menghayati fokus pastoral tersebut, saya berharap seluruh umat dapat menjadi pribadi yang transformatif, yaitu menjadi pribadi yang senantiasa siap diubah dan berubah hingga berbuah berkah yang melimpah, serta berdaya ubah bagi sesama. Hal ini ditempuh dengan terus berbenah, melakukan yang baik, dan senantiasa mengusahakan yang lebih baik. Menjadi pribadi yang transformatif tidak lain berarti menjadi pribadi yang senantiasa gumregah atau bergegas untuk berubah dengan berbenah hingga berbuah berkah yang berdaya ubah.

Hal ini sangat cocok sekali dengan tema Prapaska KAS 2020: “Bertobat, Terlibat, dan Berbuah Berkat”. Dengan ungkapan “bertobat”, kita diingatkan akan dua hal, yaitu 1) akan rahmat belas kasih Allah yang melimpah dan 2) akan perlunya ketergerakan diri untuk mengalami metanoia (Yunani), yaitu pertobatan dalam cara berpikir, merasa, dan bertindak. Pertobatan sejati mengarahkan kita kepada keberanian untuk bangkit dari kerapuhan dosa serta mau meninggalkan cara berpikir, merasa, dan bertindak yang tidak selaras dengan kehendak Allah sendiri. Dengan terang Sabda Tuhan yang kita dengar hari ini, kita diingatkan untuk bertobat dengan terus mengusahakan kesempurnaan dan kekudusan diri, sebagaimana diamanatkan oleh Tuhan Yesus dalam Injil: “Karena itu haruslah kamu sempurna, sebagaimana Bapamu yang di sorga sempurna adanya” (Mat 5,48).

Baik bacaan Injil maupun bacaan Pertama memberikan arahan nyata bagaimana kita membangun pertobatan demi kesempurnaan, yakni dengan mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri. Kasih kepada sesama ini menjadi konkret:

  • ketika kita tidak membenci, menuntut balas, dan menaruh dendam kepada orang lain yang telah berbuat tidak baik kepada kita, sebaliknya justru mengampuninya;
  • ketika kita tidak melawan kejahatan dengan kejahatan, sebaliknya justru mendoakan dan memohonkan berkat bagi orang yang memusuhi kita.

Selanjutnya, ungkapan “terlibat” mau menegaskan pentingnya wujud nyata pertobatan dalam kehidupan bersama dengan orang lain. Pertobatan yang sejati pastilah membuat orang untuk tergerak dan bergerak (obah) guna bersama-sama dengan orang lain mewujudkan kebaikan dan keutamaan hidup, termasuk lewat hal-hal yang kecil dan sederhana sekalipun. Kembali kita diingatkan bahwa pertobatan kita hanya akan menjadi nyata dalam kasih kita kepada Tuhan dan sesama.

Pada akhirnya, baik “bertobat” maupun “terlibat”, pada saatnya juga membuat hidup kita “berbuah berkat”. Usaha-usaha pertobatan kita akan membawa perubahan, bukan hanya pada diri sendiri melainkan juga pada orang lain. Ketika kita berubah dalam cara berpikir, merasa, dan bertindak, maka perubahan ini akan membawa dampak pada orang lain untuk juga berubah. Dalam arti inilah kita temukan makna terdalam dari pertobatan, yakni ketika perubahan dalam diri mampu menggerakkan orang lain untuk juga berubah menjadi semakin baik dan semakin sempurna.

Saudara-saudariku yang terkasih,

Mengakhiri Surat Gembala Prapaska 2020 ini, saya juga ingin mendoakan siapa pun yang saat ini sedang letih lesu dan berbeban berat: yang sakit, berkekurangan, dan harus menanggung beban kehidupan yang berat. Semoga Allah yang penuh belas kasih senantiasa menyertai, meneguhkan, menguatkan, dan memberikan penghiburan.

Selamat memasuki retret agung empat puluh hari dengan tekun dan setia. Rahmat dan belas kasih Allah senantiasa melimpah bagi Anda semua. Berkah Dalem.


PERATURAN PANTANG dan PUASA KATOLIK TAHUN 2020

Mengacu Ketentuan Pastoral Keuskupan Regio Jawa (KPKRJ) Tahun 2016 pasal 138 no. 2.b dalam kaitan dengan Kan. 1249-1253 KHK 1983 tentang hari tobat, peraturan pantang dan puasa Katolik ditetapkan sebagai berikut:

  1. Hari Puasa tahun 2020 ini dilangsungkan pada hari Rabu Abu tanggal 26 Februari 2020 dan Jumat Agung tanggal 10 April 2020. Hari Pantang dilangsungkan pada hari Rabu Abu dan tujuh Jumat selama masa Prapaska sampai dengan Jumat Agung.
  2. Yang dimaksud dengan berpantang adalah tidak makan daging atau makanan lain yang disukai setiap hari Jumat sepanjang tahun, kecuali hari Jumat itu merupakan hari pesta wajib, serta pada hari Rabu Abu dan hari Jumat Sengsara dan Wafat Tuhan. Umat beriman yang wajib berpantang adalah yang sudah genap berumur empat belas tahun.
  3. Yang dimaksud dengan berpuasa adalah makan hanya sekali saja dalam sehari pada hari Rabu Abu dan hari Jumat Sengsara dan Wafat Tuhan. Umat beriman yang wajib berpuasa adalah yang berumur antara delapan belas tahun sampai dengan awal tahun ke enampuluh.

Karena peraturan puasa dan pantang cukup ringan dan agar setiap pribadi dan komunitas dapat memanfaatkan 40 hari masa Prapaskah sebagai kesempatan istimewa untuk membina pertobatan dengan tobat dan matiraga, kami anjurkan beberapa hal berikut:

  • Masing-masing pribadi, keluarga, dan komunitas mencari wujud matiraga (pantang dan puasa) yang sesuai dengan jenjang usia.
  • Pada hari pantang dan atau hari-hari lain yang ditentukan, setiap keluarga/komunitas dapat berpantang makan nasi dan menggantinya dengan bahan makanan pokok lokal dengan satu macam lauk (sebagaimana telah menjadi gerakan di beberapa paroki atau komunitas selama masa Prapaska dan peringatan Hari Pangan Sedunia).
  • Selama empat puluh hari dalam masa Prapaskah secara pribadi atau dalam keluarga atau komunitas biara/ pastoran/ seminari memilih wujud pertobatan dan silih yang lebih berdaya ubah.
  • Setiap pribadi, keluarga, atau komunitas dapat mewujudkan karya amal kasih bagi mereka yang membutuhkan.
  • Setiap pribadi, keluarga, atau komunitas dapat melatih diri lebih tekun dalam olah rohani, melalui ketekunan membaca dan merenungkan Kitab Suci, mengikuti rekoleksi/retret, latihan rohani, ibadat jalan salib, pengakuan dosa, meditasi, adorasi dan sebagainya.

Tema APP tahun 2020 ini adalah: “Bertobat, Terlibat, dan Berbuah Berkat” sebagaimana diuraikan dalam buku-buku yang diterbitkan oleh Panitia APP Keuskupan Agung Semarang.

Semarang, 11 Februari 2020 Peringatan Santa Perawan Maria di Lourdes

† Mgr. Robertus Rubiyatmoko Uskup Agung Keuskupan Agung Semarang

You cannot copy content of this page