PALMA Jetis Di Rumah Dulu, A Palma Voice Collaboration

Adanya pandemi covid-19 membuat sebagian aktivitas lumpuh. Tak terkecuali kegiatan keagamaan di gereja. Sudah beberapa minggu umat katolik pada umumnya melakukan ibadah di rumah dan terpaksa membatalkan beberapa agenda.

Kerinduan mulai muncul khususnya dari kalangan anak muda gereja. Berangkat dari kerinduan itu, maka OMK PALMA Jetis melalui salah satu cabang kegiatannya yakni Palma Voice berinisiatif untuk membuat sebuah kolaborasi virtual yang memungkinkan anggotanya untuk bernyanyi bersama walaupun berada di tempat yang berbeda.

Sebuah lagu yang diciptakan oleh C.B. Rio Budi Pratama yang merupakan salah satu OMK Paroki Jetis, yang dibuat sedemikian rupa dengan lirik yang sesuai pada situasi kondisi saat ini. Nada-nada dalam lagu ini dibuat ceria, dengan harapan dapat mengajak masyarakat khususnya kaum muda agar tidak berkeluh kesah meskipun  gerak kita terbatas hanya di rumah saja. Kita harus percaya bahwa meskipun dirumah, kita masih dapat melakukan hal-hal positif yang kita senangi.

Semoga lagu ini dapat mengobati kerinduan umat Paroki Jetis pada dinamika kehidupan menggereja.

Selalu Ceria, Jangan Takut, Tetap Bahagia. Jaga kesehatan, Tuhan memberkati.

– OMK PALMA Jetis –

Semangat Berbagi di Minggu Paskah Saat Merebaknya Covid-19 Corona Virus

Sudah lebih dari 30 hari semenjak virus Corona (Covid-19) merebak di negara kita. Tidak hanya di Indonesia, bahkan hampir seluruh negara di belahan dunia terdampak oleh virus ini.

Efek dari virus ini tidak hanya berdampak langsung terhadap kesehatan, yang tidak terlihat namun dirasakan adalah efeknya terhadap perekonomian negara-negara di seluruh dunia.

Berdasarkan data dari CNN Indonesia, di negara Amerika Serikat sendiri sekitar 17 juta orang kehilangan pekerjaannya akibat adanya pemutusan hubungan kerja (PHK) oleh perusahaan pemberi kerja karena mereka pun tidak memiliki pilihan akibat pembatasan sosial (social distancing) yang terbukti efektif menurunkan tingkat penularan Corona Virus Covid-19.

Koordinasi Sebelum Pembagian

Berangkat dari kepedulian terhadap pribadi-pribadi yang terdampak di negara Indonesia khususnya di kota Yogyakarta ini, pada hari Minggu Paskah sekitar pukul 10.00 WIB diadakan pembagian paket nasi dan masker yang terbuat dari kain oleh Gereja Albertus Agung Jetis kepada masyarakat umum. Paket nasi ini berasal dari donasi salah satu umat Gereja St. Albertus Agung Jetis.

Sejumlah nasi dus dengan total 300 paket dibagikan kepada penduduk RT47 Kelurahan Cokrodiningratan sebanyak 150 paket, dan sisanya 150 paket nasi dibagikan di halaman gereja kepada masyarakat umum dengan menganut sistem drive-thru agar tidak menimbulkan kerumunan massa.

Menuju RT47 Kelurahan Cokrodiningratan
Penyerahan Simbolis Kepada Ketua RT47

Bagi para penerima paket nasi diwajibkan untuk melakukan sanitasi menggunakan hand sanitizer sebelum  masuk ke halaman gereja dengan dibantu oleh beberapa umat yang hadir membantu terlaksananya kegiatan ini.

Wajib Menggunakan Hand Sanitizer

Semua paket nasi tersebut dibagikan hanya dalam waktu sekitar 1 jam saja. Panitia dadakan yang berjumlah sekitar 20 orang bergerak cepat terdiri dari berbagai elemen, yaitu Romo, Bidang Kemasyarakatan dan Tim Pelayanan APP, OMK, semuanya baik tua dan muda bergerak seirama bahu membahu bersama-sama memberikan dukungan bagi masyarakat yang terdampak oleh virus Corona.

Panitia Dadakan

Paskah tahun 2020 ini memang terasa jauh berbeda dengan perayaan di tahun-tahun sebelumnya yang selalu dihiasi oleh kemeriahan perayaan di gereja. Tahun ini kita seakan disadarkan bahwa Paskah tidak selalu tentang perayaan, namun juga fleksibel melakukan perubahan dan terus menjadi perpanjangan kasih Tuhan di saat terjadinya bencana wabah seperti sekarang ini. Sesuai dengan tema Paskah 2020 – Berubah dan Berbuah Berkat.

Kita berdoa dan terus berharap, semoga pandemi ini dapat cepat berlalu dan segalanya dapat pulih kembali seperti sediakala.

Artikel & Foto : Tim Pelayanan Komsos

DOWNLOAD Foto – Foto Kegiatan

Ingin Nikah Beda Agama di Gereja Katolik? Ini Syaratnya

nikah beda agama

Nikah beda agama dalam Katolik – Dengan semakin beragamnya masyarakat dunia saat ini, berdampak pada kompleksitas persoalan pernikahan. Tak jarang kita melihat, pacaran anak muda yang telah berlangsung lama berujung pada putusnya hubungan mana kala hendak berlanjut ke jenjang pernikahan, karena persoalan beda agama. Hal ini mengemuka dalam diskusi Lincak Alma yang digelar OMK Palma Jetis, Yogyakarta (08/03/2020).

Lincak Alma besutan OMK Palma Jetis ini sedari awal memang sudah terlihat spesial. Mulai dari topik yang diangkat yaitu Nikah Beda Agama, sampai dengan mendatangkan narasumber yang kompeten. Maka tidak heran jika acara ini diramaikan oleh sekitar 70-an orang yang bahkan tidak hanya beragama Katolik, namun dari berbagai lini kepercayaan. Kemungkinan besar karena menariknya tema yang diambil tersebut.

Romo Agustinus Tri Edi Warsono, Pr

Romo Agustinus Tri Edi Warsono, Pr, selaku pembicara, menegaskan pernikahan atau perkawinan dalam Gereja Katolik diatur dalam Kitab Hukum Kanonik (KHK) yang menjadi pegangan pelaksanaan pernikahan. Romo Tri menambahkan, menurut Gereja Katolik, pernikahan idealnya dilakukan oleh pasangan yang sama-sama sudah dibaptis secara Katolik (seiman) melalui sakramen pernikahan. Namun, dalam kenyataan sosial di tengah masyarakat yang kian beragam, pernikahan bisa saja dilakukan  antara orang Katolik dengan orang non-Katolik, yang dalam khasanah Gereja Katolik disebut sebagai pernikahan campur.

Nikah Beda Agama Menurut Agama Katolik

Pernikahan campur dibedakan menjadi dua, yakni pernikahan beda agama dan pernikahan beda gereja. Dalam hal pernikahan beda gereja, yakni antara orang Katolik dan anggota gereja lain, dianggap sah jika kedua pasangan telah dibaptis Trinitarian (dibaptis dalam nama Bapa, Putera, dan Roh Kudus). Untuk pernikahannya dinamakan pemberkatan pernikahan, diperlukan ijin dari otoritas gereja yang berwenang. Dalam hal ini uskup atau yang ditunjuk olehnya. Pernikahan beda gereja sah jika dilakukan di hadapan imam dan dua saksi.

Sedangkan pernikahan beda agama, yakni antara orang Katolik dan non-Katolik/Kristen, termasuk mereka yang mengikuti aliran kepercayaan dan juga yang menyatakan tidak beragama, dimungkinkan adanya dispensasi setelah memenuhi beberapa persyaratan.

Sesi tanya jawab dengan peserta

Persyaratan Dispensasi Nikah Dalam Katolik

Pernikahan beda agama bisa dilakukan setelah ada dispensasi dari romo vikep. Adapun dispensasi diberikan jika terpenuhi syarat-syarat sebagaimana dinyatakan dalam KHK, yakni :

  1. Pihak Katolik menyatakan bersedia menjauhkan bahaya meninggalkan iman serta memberi janji dengan jujur bahwa ia akan berbuat segala sesuatu dengan sekuat tenaga agar semua anaknya dibaptis dan dididik dalam Gereja Katolik
  2. Mengenai janji-janji yang harus dibuat oleh pihak Katolik itu pihak lain hendaknya diberi tahu pada waktunya, sedemikian jelas bahwa ia sungguh sadar akan janji dan kewajiban pihak Katolik.
  3. Kedua pihak hendaknya diberi penjelasan mengenai tujuan-tujuan serta sifat hakiki perkawinan, yang tidak boleh dikecualikan oleh seorang pun dari keduanya.
  4. Pernikahan beda agama dianggap sah jika dilakukan di hadapan romo dan dua orang saksi.

Memahami Nikah Beda Agama Dalam Gereja Katolik

Meski pernikahan campur dimungkinkan dalam Gereja katolik, namun romo Tri Edi mengingatkan pasangan beda agama yang akan menikah untuk memahami makna suci pernikahan. Terutama dalam Gereja Katolik, pernikahan bersifat monogami eksklusif dan tak terceraikan seumur hidup. “Jadi kalau masih pacaran beda agama ya silahkan, tapi kalau sudah memutuskan untuk menikah maka harus dipahami makna hakiki pernikahan”, ujar  romo yang menjabat sebagai Tribunal Keuskupan Agung Semarang ini.

Penyerahan Buah Tangan

Acara diakhiri sekitar pukul 21.30 WIB setelah sebelumnya berfoto dan berdoa bersama. Ikuti Lincak Alma Edisi selanjutnya yang lebih seru ya ! 😉

Foto-Foto Lincak Alma Edisi Maret 2020 :

Download disini

.

Baca Juga: https://staging2.christina.my.id/doa-koronka-seruan-kepada-kerahiman-ilahi/

.

.

Reporter : Paulina Dita

Artikel : Wempi Gunarto

Fotografer : Silvester Angie

Editor : Frans

.

.

Perayaan Ekaristi Pembukaan Rosario Bulan Oktober 2019

Penghormatan khusus kepada Maria oleh Gereja dilaksanakan selama dua kali dalam setahun. Pada bulan Mei, kita menghormati Maria sebagai Bunda Allah sehingga disebut bulan Maria.

Sedangkan bulan Oktober ditetapkan sebagai bulan rosario untuk mengenang kekuatan berdoa kepada Allah melalui Maria dengan sarana rosario di tangan. Penetapan bulan rosario memiliki sejarah tersendiri.

Paroki Santo Albertus Agung Jetis Yogyakarta menyelenggarakan perayaan ekaristi pembukaan bulan Rosario, dipimpin oleh romo Vincentius Suparman, Pr, pada Selasa sore (01/10/2019). Sebelum perayaan ekaristi umat mendaraskan  doa Rosario di aula gereja, ditempat tersebut terdapat patung Bunda Maria yang akan di tandu dibawa masuk ke dalam gereja melalui perarakan.

Doa Rosario telah selesai, patung bunda Maria di berkati oleh Romo Parman, kemudian dibawa dengan tandu oleh beberapa OMK. Iring-iringan perarakan dimulai dengan putra altar, pembawa tandu Bunda Maria, pembawa vandel lingkungan, prodiakon dan terakhir adalah Romo.  Dengan iringan lagu perarakan mulai berjalan menuju ke gereja, umat menyambut dengan mengangkat lilin.

Setelah homili, romo Vincentius Suparman, Pr memerciki aula yang baru saja selesai di renovasi, sedangkan pro diakon memerciki umat beserta benda-benda devosi Maria yang mereka bawa.

Antusias umat sungguh luar biasa, terlihat umat yang hadir memenuhi ruang gereja, baik di sayap timur maupun di selasar gereja.

 

Ditulis oleh : Agustinus Suseno

Foto oleh : Pascalis Danu & Beta Amorrista

Temu & Dialog Orang Muda Lintas Agama 2019

TEMU DAN DIALOG ORANG MUDA LINTAS AGAMA

“Ada Yang Salah Dengan Negeri Kita”

-Srawung Yogyakarta-

Srawung. Ya, kata ini merupakan kata yang akhir-akhir ini sering di galakkan oleh banyak orang. Tak terkecuali orang muda. Kali ini, kelompok orang muda yang menamai diri mereka sebagai “Srawung Yogyakarta” juga melakukan hal yang serupa. Ini merupakan tindak lanjut dari kegiatan Srawung Persaudaraan Sejati Orang Muda 2018.

Pada tanggal 27-28 Juli 2019 kemarin, kelompok Srawung Yogyakarta yang bernaung dibawah bimbingan Rm. Martinus Joko Lelono, Pr. mengadakan kegiatan Temu dan Dialog Orang Muda Lintas Agama dengan mengambil tema “Ada Yang Salah Dengan Negeri Kita”. Acara ini sukses dan diikuti oleh banyak kelompok lintas iman, maupun perwakilan dari kampus-kampus yang ada di dalam maupun di luar DIY. OMK PALMA Jetis juga turut serta dalam kegiatan ini. Kali ini OMK PALMA Jetis mengirimkan 5 orang perwakilan, yaitu Ancis, Deo, Hugo, Lia dan Agnes.

Dalam kegiatan yang diadakan selama dua hari satu malam di Posko Merapi – FPUB, Pakem, Sleman ini, para peserta diajak untuk berdinamika, diskusi kelompok tentang permasalahan yang ada di Indonesia, pelatihan untuk menjadi influencer dalam hal kebaikan serta regenerasi kepengurusan. Selain itu, acara juga diisi dengan games, senam pagi, penyusunan rencana tindak lanjut untuk kepengurusan yang baru, tukar kado dan diakhiri dengan pembacaan doa penutup lintas iman oleh perwakilan 6 agama yang ada.

Semoga kedepannya akan sering diadakan kegiatan seperti ini, untuk merajut kembali nilai pancasila sehingga masyarakat dapat bersatu dan nilai kebhinekaan dapat terus dipertahankan di negara ini. Dan semoga perwakilan OMK PALMA Jetis dapat menjadi “motor srawung” serta berdampak baik bagi kehidupan bermasyarakat khususnya di paroki Jetis.

 

Foto & artikel oleh : Franciscus Krismono

You cannot copy content of this page