Kenduri Menjelang Hari Paroki Ke-54 St. Albertus Agung Jetis

Menjelang Hari Paroki yang menandakan bertambahnya usia gereja pada tanggal 15 November 2019, Paroki St. Albertus Agung – Jetis, Yogyakarta menyelenggarakan acara kenduri untuk mengucap syukur atas bertambahnya usia gereja menjadi 54 tahun. Acara kenduri dihadiri oleh tidak kurang dari 50 orang, dari berbagai kalangan usia yang didominasi oleh para pini sepuh dan pemuda-pemudi.

Dalam acara kenduri, panitia Hari Paroki mengundang warga yang bertempat tinggal di sekitar Gereja St. Albertus Agung – Jetis untuk hadir dan turut merasakan kebahagiaan gereja. Bertindak sebagai pembicara dan pemimpin doa yaitu Bapak Muh. Burhanuddin.

Bapak Muh. Burhanuddin juga menyampaikan dalam sambutannya bahwa dalam hidup kita perlu banyak bersyukur karena Allah Sang Maha Pemberi selalu mencukupkan umatnya. Dengan bersyukur dan memberi, rejeki yang berlimpah juga akan diberikan oleh Tuhan Sang maha Pengasih.

Tema Hari Paroki St. Albertus Agung yang ke-54 adalah “Kamu Harus Memberi Mereka Makan”, dan ini diwujudkan dengan memberikan sembako kepada warga yang diundang.  Kenduri ini juga menjadi jalinan Silaturahmi antara gereja dengan warga di sekitar gereja.

Setelah kenduri pada hari ini, selanjutnya pada hari Minggu nanti tanggal, 17 November 2019, akan diselenggarakan puncak perayaan ekaristi Hari Paroki yang akan dipimpin secara konselebran bersama romo Vikep Kevikepan DIY, Romo  Andrianus Maradiyo Pr., romo Paroki St. Albertus Agung Jetis, Romo Vincentius Suparman Pr., dan Romo Ambrosius Heri Krismawanto Pr.

 

Foto oleh : Komsos Paroki Jetis

Artikel oleh : Agustinus Suseno & Frans

Satu Foto Sejuta Makna, Workshop Photo Caption 2019

Aula Paroki St. Albertus Agung Jetis, 03 November 2019

Hari Paroki atau Hari Ulang Tahun Paroki Jetis hanya dalam hitungan minggu lagi. Dalam rangka Hari Paroki tersebut, Paroki St. Albertus Agung Jetis menggelar sebuah workshop bertajuk Photo Caption.

Workshop ini diadakan bagi umat Paroki Jetis dengan tujuan memberikan pelatihan bagaimana membuat caption (baca : narasi) yang sesuai bagi foto yang seringkali kita kirim terutama di social media dan melalui aplikasi untuk berkomunikasi seperti WhatsApp dan sejenisnya.

Mungkin kita sering mengalami adanya pribadi yang mengirim pesan dalam grup atau secara japri (jalur Pribadi) berupa gambar/foto tanpa tulisan sama sekali. Tentu kita akan kebingungan karena tidak mengetahui apa maksud atau tujuan dari gambar/foto tersebut. Nah, untuk itulah pelatihan ini dibuat.

Setelah dibuka dengan doa bersama yang dipimpin oleh mas Deo, kemudian workshop dengan durasi setengah hari ini dibawakan oleh mas Eri dari Komsos Kevikepan DIY yang berasal dari Paroki Boro.

Penyelenggaraan acara dilakukan di aula Paroki, dengan jumlah kehadiran umat sekitar 30 peserta dari berbagai kalangan usia. Para peserta ini berasal dari berbagai lingkungan dalam lingkup Paroki St. Albertus Agung Jetis.

Seperti yang telah disampaikan, perhelatan ini merupakan salah satu rangkaian dari kegiatan umat Paroki St. Albertus Agung Jetis menyambut Hari Ulang Tahun Paroki yang ke-54 tahun, dan dapat terselenggara dengan baik berkat bantuan dari rekan-rekan Komisi Komsos Kevikepan DIY serta Panitia Hari Paroki ke-54.

Materi yang dibawakan memberikan banyak pengalaman baru bagi peserta dalam mengambil foto yang baik, memiliki makna dan membuat caption yang menjelaskan maksud yang ingin disampaikan oleh foto tersebut.

Para peserta pun diberikan kesempatan untuk mencoba membuat karyanya masing-masing yang kemudian dievaluasi bersama. Bukan untuk menilai baik-buruk maupun benar-salahnya namun bersma-sama mengevaluasi agar dapat menghasilkan karya yang lebih baik lagi.

Berikut ini hasil karya dari beberapa peserta Workshop Photo Caption 2019 Paroki St. Albertus Agung Jetis :

Workshop diakhiri pada pukul 12.00 siang setelah doa penutup dan foto bersama.

Galeri FOTO Klik Disini

Terima kasih Komsos Kevikepan DIY !

Misa Penutupan Bulan Rosario, Mensyukuri Berkat Bunda Maria

jadwal misa online hari ini

Tanpa terasa bulan Rosario sudah berakhir, satu bulan penuh di Oktober umat paroki St. Albertus Agung Jetis – Yogyakarta mendaraskan Novena dan Rosario kepada Bunda Maria.

Sebelumnya di awal bulan Oktober 2019, telah diselenggarkan perayaan ekaristi pembukaan Rosario, yang diawali dengan doa Rosario dilanjutkan dengan prosesi perarakan patung Bunda Maria menuju ke dalam gereja.

Umat St. Albertus Agung Jetis

Baca juga : Perayaan Ekaristi Pembukaan Rosario Bulan Oktober 2019

Misa penutupan bulan Rosario yang diselenggarakan pada Kamis sore (31/10/2019), dipimpin oleh romo Vincentius Suparman, Pr.  Umat dengan antusias hadir pada perayaan ekaristi ini, seperti halnya saat misa pembukaan, pada misa penutupan ini umat yang hadir memenuhi seluruh tempat duduk di dalam dan luar gereja.

Umat St. Albertus Agung Jetis

Dalam homilinya romo Parman menyampaikan bahwa dengan melaksanakan doa Rosario selama satu bulan penuh di lingkungan merupakan wujud kesetiaan dalam kebersamaan dan berbagi berkat.

Romo Parman In Frame

Setelah penerimaan komuni, beberapa perwakilan dari umat di panggil ke depan untuk menerima tumpeng dari romo Vincentius Suparman, Pr, sebagai wujud syukur atas terlaksananya rangkaian prosesi selama bulan Rosario.  Sebelum memberikan berkat penutup, romo Parman mengajak umat yang hadir, setelah perayaan ekaristi bersama-sama menikmati hidangan yang telah disediakan di aula gereja.

Romo Parman Potong Tumpeng
Bapak Ibu & Muda-Mudi Perwakilan Umat

Misa di tutup dengan berkat dan dilanjutkan dengan iring-iringan umat pembawa vandel lingkungan menuju aula gereja.

Para Pembawa Vandel Lingkungan

Umat dengan tertib memasuki aula untuk bersama-sama menikmati pincuk nasi dan gudangan yang telah disediakan.  Itulah wujud kebersamaan umat paroki St. Albertus Agung Jetis dalam mensyukuri berkat dari Bunda Maria.

Pesta Umat
Wujud Nyata ME
Behind The Scene
Pesta Umat St. Albertus Agung Jetis
Kelompok Koor

Salam KOMSOS !

>>> Galeri foto KLIK DISINI <<<

 

Foto & Artikel oleh : Agustinus Suseno

Paguyuban Prodiakon Jetis Goes to Banyumanik

Burung berkicau di Minggu pagi yang sangat cerah, di halaman parkir Harjo (Baca: Harian Jogja) terlihat dipenuhi oleh berbagai kendaraan kecil dan besar.

Menuju Banyumanik

Hari ini Paguyuban Prodiakon Jetis hendak mengadakan acara anjangsana ke Paroki St. Maria Fatima – Banyumanik, Semarang.

Selain anjangsana, para prodiakon Jetis juga mengadakan temu kangen dengan Romo Bono yang pernah menjabat sebagai Romo Paroki Jetis.

Romo Bono

Kami tiba sekira pukul 11.00 siang, langsung berjabatan tangan dengan para prodiakon dari Paroki St. Maria Fatima – Banyumanik di pintu gerbang gereja. Kemudian kami diterima dan disambut dengan ramah di dalam Gedung Darmojoewono.

Setelah menikmati snack sejenak, acara dimulai dengan perkenalan para pengurus dan anggota dari masing-masing paroki. Dimulai dengan Paroki Banyumanik kemudian Paroki Jetis.

Perkenalan dan Sambutan Prodiakon Jetis oleh Bapak Sarwono

Beberapa saat setelah perkenalan, ada pemaparan mengenai kondisi dan tata cara bertugas di masing-masing paroki. Disampaikan bahwa Paroki Banyumanik memiliki statistik jumlah prodiakon sebanyak 78 orang (lama 43 orang, baru 35 orang), dengan kebutuhan prodiakon 42 orang setiap misa mingguan. Begitu pula dengan Paroki Jetis memiliki statistik jumlah prodiakon periode sebelumnya sebanyak 54 orang (44 putra, 10 putri). Sedangkan saat ini berkisar antara 76-80 orang.

Bicara tentang statistik terkadang membuat mengantuk, maka dari itu kami kemudian mengisi acara dengan kesaksian dari masing-masing prodiakon. Ada 4 prodiakon yang mengisi kesaksian tersebut yaitu :

  1. Bapak Unggul Kristiawan (Paroki Jetis)
  2. Bapak Triyatmo (Paroki Jetis)
  3. Bapak Yustinus Dwiharto (Paroki Banyumanik)
  4. Bapak Yustinus Mujiyono (Paroki Banyumanik)

Kesemua prodiakon tersebut dengan kompak menyatakan adanya sukacita dan berkat serta karunia yang sangat besar dengan menjadi prodiakon paroki. Bahkan ada yang mengalami keajaiban karena disembuhkan dari penyakit kanker yang cukup berat sebelum memutuskan menjadi prodiakon. Tuntunan serta petunjuk dari roh kudus tak jarang juga mengisi cerita mereka.

Kesaksian oleh Bapak Unggul Kristiawan

Keakraban kami terhenti sejenak untuk berdoa Malaikat Tuhan ketika jam menunjukkan pukul 12.00 siang, kemudian dilanjutkan kembali dengan kesaksian para prodiakon di atas.

Pukul 12.30 siang kami santap siang bersama, menu nasi liwet menghiasi makan siang kali ini.

Santap siang bersama

Setelah santap siang bersama, kemudian ada pembekalan yang diberikan oleh Romo Bono kepada para prodiakon. Namun sampai saat hendak disampaikan, materinya masih amat rahasia.

Materi yang kemudian disampaikan oleh Romo Bono untuk menguatkan iman para prodiakon adalah mengenai keteladanan Yesus.

Romo Bono Memaparkan Mengapa Kita Harus Meneladan Yesus

 

Kenapa kita harus mengikuti dan meneladani Yesus ?

Menurut Romo Bono dan berdasarkan fakta yang tercantum dalam Alkitab, karena ada 7 kelebihan Yesus dibandingkan manusia lainnya, yaitu :

  1. Dia Hebat – Superpower, Dia mampu mengadakan macam-macam mukjizat, Dia mampu menghidupkan orang mati yang sudah 4 hari.
  2. Dia Baik – Mati tanpa memiliki apa pun.
  3. Dia bangkit dari mati – ada saksinya.
  4. Dia naik ke sorga – ada saksinya.
  5. Dia berjanji – pada waktu ajal akan menjemput kita dan membawa kita ke tempat yang telah disediakan (Yoh 14:2-3)
  6. Menjadi hakim dalam pengadilan terakhir (Mat 25, Al Nisa 157, 163, 171, 172)
  7. Dia berjanji – menyertai kita dalam kondisi apa saja, dimana saja dan kapan saja (Mat 28:20)

Acara ditutup dengan pemberian buah tangan dan kenang-kenangan dari Paguyuban Prodiakon Paroki Jetis kepada Prodiakon Paroki Banyumanik dan sebaliknya.

Pemberian Kenang-Kenangan Dari Paroki Banyumanik
Pemberian Kenang-Kenangan Dari Paroki Jetis

Doa bersama yang dipimpin oleh suster dari Paroki Jetis mengakhiri kebersamaan kami pada siang hari ini. Tak lupa pula foto bersama untuk mengabadikan kenangan dan momen spesial pada hari ini.

 

Penulis : Frans

Foto : Deni & Frans

Perayaan Ekaristi Pembukaan Rosario Bulan Oktober 2019

Penghormatan khusus kepada Maria oleh Gereja dilaksanakan selama dua kali dalam setahun. Pada bulan Mei, kita menghormati Maria sebagai Bunda Allah sehingga disebut bulan Maria.

Sedangkan bulan Oktober ditetapkan sebagai bulan rosario untuk mengenang kekuatan berdoa kepada Allah melalui Maria dengan sarana rosario di tangan. Penetapan bulan rosario memiliki sejarah tersendiri.

Paroki Santo Albertus Agung Jetis Yogyakarta menyelenggarakan perayaan ekaristi pembukaan bulan Rosario, dipimpin oleh romo Vincentius Suparman, Pr, pada Selasa sore (01/10/2019). Sebelum perayaan ekaristi umat mendaraskan  doa Rosario di aula gereja, ditempat tersebut terdapat patung Bunda Maria yang akan di tandu dibawa masuk ke dalam gereja melalui perarakan.

Doa Rosario telah selesai, patung bunda Maria di berkati oleh Romo Parman, kemudian dibawa dengan tandu oleh beberapa OMK. Iring-iringan perarakan dimulai dengan putra altar, pembawa tandu Bunda Maria, pembawa vandel lingkungan, prodiakon dan terakhir adalah Romo.  Dengan iringan lagu perarakan mulai berjalan menuju ke gereja, umat menyambut dengan mengangkat lilin.

Setelah homili, romo Vincentius Suparman, Pr memerciki aula yang baru saja selesai di renovasi, sedangkan pro diakon memerciki umat beserta benda-benda devosi Maria yang mereka bawa.

Antusias umat sungguh luar biasa, terlihat umat yang hadir memenuhi ruang gereja, baik di sayap timur maupun di selasar gereja.

 

Ditulis oleh : Agustinus Suseno

Foto oleh : Pascalis Danu & Beta Amorrista

Komsos Jetis “Mabur” Jilid 2 di Paroki Nandan

Setelah 2 bulan lalu bertemu, KOMSOS Kevikepan DIY pada bulan September ini melanjutkan tema pelatihan sebelumnya. Benar ! Kami diajari menerbangkan drone, JILID 2 !

Pertemuan rutin KOMSOS Kevikepan DIY yang diadakan setiap 2 (dua) bulanan ini bertempat di Joglo Antonio – Paroki St. Alfonsus de Liguori Nandan. Sekitar pukul 11.00 acara dimulai.

Pertemuan dibuka dengan doa bersama yang dipimpin oleh bruder Albert dari Paroki Nandan. Setelahnya, sambutan dari Bapak Sigit selaku ketua bidang pewartaan Paroki Nandan.

Beliau menyampaikan bahwa ladang yang harus dituai itu luas namun pekerja hanya sedikit. Dengan segala keterbatasan yang ada saat ini, anak-anak muda harus berani terlibat dan terjun berorganisasi, membangun Gereja Katolik.

Lalu bapak Agustinus Suseno selaku ketua KOMSOS Kevikepan DIY memberikan sambutan. Harapan pak Seno agar semua peserta pertemuan pada siang hari ini bisa menikmati pelatihan. Memanfaatkan kemajuan dunia IT untuk menjadi pewarta di tengah-tengah Gereja Katolik. Yang paling penting, buang jauh ketakutan kalau-kalau drone rusak oleh peserta, anak muda harus berani berkarya.

Pelatih kami siang ini sangat spesial yaitu Mas Wawan, Mas Tatang & Mas Deddy (Paroki Santa Perawan Maria Tak Bercela Nanggulan, Kulon Progo), serta Mas Adrian (Paroki  Santo Petrus & Paulus Minomartani, Sleman). Mengenai drone, mereka berempat jagonya !

Briefing singkat pertama-tama dibawakan oleh Mas Adrian di Joglo Antonio. Sekitar 30 menit kemudian, kami langsung praktek menerbangkan drone.

Kemudian peserta dibagi menjadi 4 kelompok kecil untuk selanjutnya diberikan arahan serta briefing singkat cara mengoperasikan drone.

Sesi berikutnya peserta dan pelatih menuju ke lapangan sepakbola CSsR yang berada di sisi utara gereja Paroki Nandan.  Setiap peserta dipersilahkan untuk mencoba mengoperasikan dan mengendalikan drone.

Di antara para peserta yang berjumlah sekitar 50 orang, juga ada peserta spesial, 3 orang rohaniwan mengikuti pelatihan tersebut, yaitu suster Luiza PI, suster Pasifica dan bruder Albert FIC.

Oya, suster juga ikut nge-drone lho !

 

Berikut ini foto-foto dan video kegiatan KOMSOS Kevikepan DIY. Klik >>> GALERI FOTO

Setelah 1,5 jam berlalu dan semua peserta telah merasakan menjadi pilot drone, acara dilanjutkan dengan evaluasi di Joglo Antonio.

Saat sesi evaluasi, suster Luisa PI selaku Prompang Muperkas memberikan pengumuman, bahwa Prompang Kevikepan DIY akan menyelenggarakan Live In Panggilan bagi rekan-rekan OMK, terutama yang masih duduk di bangku SMA/SMK selama dua hari, pada tanggal 11-13 Oktober 2019.

Dari hasil pelatihan ini para anggota dan pemerhati Komsos Kevikepan DIY semakin bersemangat dalam melayani dan mewartakan melalui karya-karya mereka sebagai Komsos paroki.  Sampai bertemu kembali di bulan November, dalam pelatihan video editing.

Besar harapan kami umat Paroki Jetis terutama kaum muda juga banyak yang mengikuti pelatihan-pelatihan seperti ini di kemudian hari. Daftar jadi anggota Komsos disini yuk biar bisa seru-seruan bareng ! >>> DAFTAR ANGGOTA KOMSOS JETIS

 

 

Penulis & Foto : Frans

Komsos Jetis & DIY “Mabur” ke Paroki Kalasan

Pertemuan rutin Komsos Kevikepan DI Yogyakarta setiap 2 (dua) bulanan yang jatuh pada bulan Juli ini bertempat di Paroki Marganingsih Kalasan.

Ada yang spesial pada pertemuan kali ini, alih-alih hanya bertemu dan sekedar membahas hal-hal teknis yang itu-itu saja, kami malah diajari mabur ! Ya, Anda sudah benar dan tidak salah membaca.

Kami diajari memaburkan drone ! Kami diajari menjadi pilot drone. 🙂

Bertindak sebagai pelatih kami yaitu Mas Wawan (Paroki Santa Perawan Maria Tak Bercela Nanggulan, Kulon Progo) dan Adri (Paroki  Santo Petrus & Paulus Minomartani, Sleman). Mengenai keahlian mengendalikan drone, mereka berdua jagonya !

Sekitar 30-an rekan-rekan peserta pelatihan yang merupakan anggota Komsos Kevikepan DIY dan sebagian dari rekan-rekan Komsos KAS mengikuti briefing dan simulasi menerbangkan drone dengan penuh antusias di ruang pertemuan pastoran Paroki Marganingsih Kalasan.

Sebelum menerbangkan drone di lapangan, kami belajar latar belakang menerbangkan drone terlebih dahulu, hal-hal teknis seperti :

  • di daerah mana kami boleh menerbangkan
  • berapa ketinggian maksimum yang diperbolehkan
  • berapa jarak maksimum yang sanggup ditempuh oleh drone
  • bagaimana cara mengendalikan dan menerbangkan serta mendaratkan drone
  • dan masih banyak lagi

Diberitahukan selengkap-lengkapnya pada briefing awal. Seketika mata kami terbuka lebar dan menjadi tidak sabaran ingin langsung icip-icip rasanya menjadi pilot drone sesungguhnya. Hehe..

Kami beruntung drone yang disediakan untuk pelatihan cukup banyak, sehingga semua peserta dapat merasakan bagaimana mengendalikan drone dan menjadi pilot drone sebenarnya.

Dikarenakan keterbatasan waktu yang disediakan untuk pelatihan (walaupun sudah lumayan panjang), dan dirasa masih kurang oleh peserta. Dengar-dengar akan ada pelatihan Drone Jilid 2 ! atas kesepakatan bersama antara peserta dan pelatih di bulan depan atau di pertemuan rutin Komsos DIY berikutnya.

Mau ikut? Tunggu beritanya ya ! Daftar jadi anggota Komsos disini yuk biar bisa seru-seruan bareng ! >>> DAFTAR ANGGOTA KOMSOS JETIS

 

Penulis : Frans

Foto : Agustinus Suseno & Frans

Keseruan Workshop Photo Caption 2019 Bersama Tim Komsos KAS

Paroki Pugeran, Yogya 01 Juni 2019

Satu hari menjelang Hari Komunikasi Sedunia (Diperingati setiap tahun pada tanggal 2 Juni) sejumlah pemerhati komunikasi sosial yang tergabung dalam Komisi KOMSOS Kevikepan DIY menghadiri acara Workshop Photo Caption 2019.

Workshop berdurasi 1 hari ini dihadiri oleh sekitar 30 peserta dari berbagai kalangan usia, dengan dominasi usia OMK. Para peserta ini berasal dari berbagai paroki dalam lingkup Kevikepan DIY.

Acara ini merupakan salah satu rangkaian dari kegiatan Komsos Kevikepan DIY selama tahun 2019. Workshop ini terselenggara berkat bantuan dari rekan-rekan Komisi KOMSOS KAS.

Penyelenggaraan acara dilakukan di Lantai 2 Wisma Rosari, Paroki Pugeran Yogyakarta. Workshop satu hari ini juga dihadiri oleh Romo Wicak selaku Romo pembimbing KOMSOS Kevikepan DIY.

Workshop photo caption yang dibawakan oleh mas Bhio dari tim KOMSOS KAS memberikan banyak pengalaman baru bagi peserta dalam mengambil foto dan membuat caption yang dapat dinikmati berbagai kalangan usia.

Pada sesi pertama mas Bhio memberi pengantar dan mengajarkan bagaimana cara mengabadikan momen menggunakan kamera smartphone maupun kamera digital dan DSLR. Metode EDFAT untuk mengambil foto merupakan dasar-dasar untuk mendapatkan foto yang bagus dan penuh makna.

Kemudian Workshop diistirahatkan selama 1 jam untuk makan siang bersama.

Sedangkan pada sesi selanjutnya yang juga menjadi sesi terakhir kami belajar bagaimana menulis cerita dalam bentuk caption yang lebih panjang. Menyusun kata demi kata menjadi kalimat yang menarik untuk dibaca. Workshop diakhiri sekitar pukul 14.30 WIB dengan doa bersama.

Lihat keseruan kami selama workshop di Akun Instagram (IG) @photocaptiondiy (klik)

Apabila Anda tertarik mempelajari cara menulis caption dan mengambil foto yang benar silahkan download materi workshop disini : Materi Photo Caption Workshop 2019 (klik)

You cannot copy content of this page