Menjalin Persaudaraan & Berbagi Kebaikan Melalui Sebungkus Nasi

Pada hari Sabtu, 30 November 2019 lalu berlangsung acara Pembagian Nasi Bungkus di sekitar lingkungan Gereja St. Albertus Agung Jetis Yogyakarta. Acara ini dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Pangan Sedunia atau World Food Day. Hari pangan sedunia tahun ini mengangkat tema “Teknologi industri pertanian dan Pangan menuju Indonesia lumbung Pangan Dunia 2045”.

Gambar 1. Tim sedang mempersiapkan nasi bungkus dan air minum yang akan dibagikan.

Pembagian nasi bungkus menjadi wujud kepedulian dan ungkapan bela rasa dari umat Paroki untuk orang-orang kurang mampu di sekitar wilayah gereja. Ketersediaan makanan yang bergizi dan layak merupakan tujuan utama kegiatan ini. Tim berkumpul pukul 05.30 WIB dan pembagian dimulai pukul 06.00 WIB, Bapak Joko Sunarno selaku Wakil Ketua Dewan Pastoral Paroki St. Albertus Agung Jetis ikut memantau kegiatan tersebut.

Gambar 2. Ketua Bidang Pelayanan Kemasyarakatan dan anggotanya yang sedang memantau dan berdiskusi terkait lokasi pembagian nasi bungkus.

Pembagian nasi bungkus dipelopori oleh Tim APP dan didukung oleh Romo Paroki St. Albertus Agung Jetis, Romo Vincentius Suparman, Pr. Nasi bungkus sejumlah 60 bungkus dibagikan oleh enam orang anggota tim APP, PSE dan Ketua Bidang Pelayanan Kemasyarakatan. Kami berjalan kaki untuk menyapa dan memberikan nasi bungkus, sembari sedikit ngobrol dengan mereka. Karena masih ada sisa beberapa bungkus, kami membagikan dengan naik motor berdua-dua.

Gambar 3 & 4. Pembagian nasi bungkus

Nasi bungkus habis dibagikan pukul 07.00 WIB. Orang-orang yang memperoleh nasi bungkus menyambut baik niat Gereja untuk membantu orang lain yang membutuhkan bantuan akan makanan. Kegiatan ini akan diadakan rutin setiap satu bulan sekali sebagai upaya mengembangkan semangat berbagi bagi sesama yang membutuhkan.

Gereja menginginkan kita untuk terlibat dalam gerakan moral umat kristiani dalam upaya pencapaian mutu hidup manusia. Seperti halnya yang dikatakan Yesus: “Kamu harus memberi mereka makan”. Yesus mengajak umat Katolik semakin mampu untuk membuka diri pada perubahan sosial terkait persoalan pangan.

Mari ikut serta meneruskan langkah kecil kita untuk peduli dan perhatian terhadap sesama !

Maju Terus Tim APP Jetis !

“Ayem Tentrem Bersama Yesus”, Ekaristi Umat Berkebutuhan Khusus Kevikepan DIY

Gereja dipanggil untuk menjadi sakramen yakni tanda persatuan kasih mesra antara Allah dan manusia serta antara sesama manusia, panggilan dan perutusan tersebut dilaksanakan dengan usaha-usaha untuk mengejawantahkan kehadiran Kristus Sang Gembala Baik yang memelihara dan mempersatukan domba-domba dengan kasih.

Penerimaan sakramen inisiasi bagi umat berkebutuhan khusus (UBK) menjadi wujud ajaran atas panggilan Luhur untuk menanggapi keselamatan dan kesucian dalam keluarga sebagai rahmat dari Tuhan karena anak berkebutuhan khusus juga berhak mendapatkan bimbingan iman menjadi istimewa dan perlu disambut dengan sukacita dan didukung serta diantar pada perkembangan diri dan sekaligus kedewasaan Iman.

Hari ini, Kamis (12/12/2019) bertempat di Gereja Katolik Kristus Raja Baciro Yogyakarta diselenggarakan penerimaan sakramen inisiasi dan perayaan ekaristi bersama umat berkebutuhan khusus (UBK). Satu persatu umat berkebutuhan khusus bersama keluarga hadir di gereja Baciro, sebelum memasuki gereja, mereka di perkenankan untuk berfoto di photo booth yang telah disediakan, dan hasilnya langsung diberikan kepada mereka.

Ekaristi penerimaan Sakramen Inisiasi dipimpin oleh Uskup Keuskupan Agung Semarang Mgr. Robertus Rubiyatmoko bersama Vikep Kategorial Keuskupan Agung Semarang (KAS) Rama Yohanes Dwi Harsanto Pr, Vikep Kevikepan Daerah Istimewa Yogyakarta romo Andrianus Maradiyo Pr, Romo Vincentius Suparman, Pr, Romo Bernardus Himawan, Pr, Romo Henrikus Eko Riyanto, MSF, Romo Dominicus Bambang Sutrisno, Pr, Romo Fransiskus Xaverius Alip Suwito, Pr, Romo Widi OMI, Romo Yusuf Martinus Sutomo, Pr, dan Romo Antonius Wahadi Martaatmaja, Pr.

Dalam pengantar ekaristi, romo Yohanes Dwi Harsanto Pr mengatakan, “Sebanyak 80 umat berkebutuhan khusus yang berhak menerima sakramen inisiasi yaitu baptis, komuni pertama dan sakramen penguatan, telah dipersiapkan oleh para pendamping bersama keluarga dan orang tua. Dan semoga mereka yang akan dibaptis dan menerima Roh Kudus semakin siap untuk diutus dan berkaryademi pewartaan dalam gereja dan menjadi pelaksana Sabda Kristus untuk menyatakan rahmat Tuhan dan mewujudkan Kerajaan Allah di tengah masyarakat.”

Mgr. Robertus Rubiyatmoko juga memberikan pengantar, dan beliau menyampaikan bahwa”Umat berkebutuhan khusus yang akan diperkenankan untuk menikmati anugerah Tuhan yang luar biasa yakni sakramen inisiasi baptis, komuni pertama dan penguatan. Sakramen-sakramen yang diberikan oleh Allah kepada gereja sebagai sarana bagaimana Allah menyelenggarakan kehidupan kita, bagaimana Allah menolong kita dari waktu ke waktu supaya kita semua menikmati kesejahteraan jasmani dan rohani dan khusus juga menikmati keselamatan dari Allah.”

Didalam homilinya, Mgr. Robertus Rubiyatmoko berinteraksi dengan menyapa satu persatu umat yang akan menerima sakramen inisiasi. Salah satunya Andrianus Lukito, yang saat di tanya oleh bapak uskup “Mengapa Lukito ingin menerima sakramen komuni pertama?” Lukito menjawab bahwa karena dengan menerima tubuh Kristus, ia ingin menjadi anak baik dengan ikut Tuhan Yesus.

Bapak uskup mengatakan “Suatu kegembiraan yang luar biasa bagi kita semua hari ini, karena ada sekian banyak diantara kita yang akan menerima anugerah Tuhan yang luar biasa. Peristiwa hari ini adalah peristiwa untuk mengungkapkan kemuliaan dan kebesaran Tuhan yang luar biasa, Tuhan tidak meninggalkan kita, Tuhan mendampingi kita, menyertai kita dan memberikan apa yang kita butuhkan, yang tidak lain adalah sukacita.”

Bapak Uskup juga menambahkan “Tuhan berkenan untuk mencurahkan rahmat-Nya, mencurahkan anugerah yang istimewa, yakni keselamatan melalui rahmat sakramen.  Tentu saja yang diharapkan adalah bahwa setelah penerimaan sakramen inisiasi tidak berhenti begitu saja, namun berlanjut dalam keseharian, maka keluarga para pendamping mempunyai peran yang sangat istimewa dalam mendampingi umat berkebutuhan khusus dari waktu ke waktu untuk semakin dekat dengan Tuhan dan mengalami Rahmat yang semakin berlimpah kemuliaan.”

Usai homili, dilanjutkan dengan penerimaan sakramen baptis dan krisma, mereka yang akan menerima sakramen satu persatu maju ke depan di dampingi dengan orang tua dan saudara, dengan mantap hati menerima sakramen baptis serta krisma. Ekaristi dilanjutkan dengan doa Syukur Agung, dan penerimaan komuni pertama.

Ekaristi penerimaan sakramen inisiasi ditutup dengan berkat dari Mgr. Robertus Rubiyatmoko, kemudian dilanjutkan dengan foto bersama.

 

Feature UBK (oleh Anton Sumarjana)

Entah pukul berapa ibu bapak dan sang putra ini bangun. Pukul 8 mereka sudah tiba di Gereja Baciro. Raut muka sang ibu tampak gembira, demikian pula sang bapak, sang putra tidak jelas raut mukanya, ia autis, selalu bertingkah tidak bisa jenak. Begitu mendaftar, mereka langsung menuju photo booth, ayahnya dengan bersandal jepit tanpa ragu ambil posisi di samping kanan anaknya, ibunya di kiri, “Nyuwun ngapunten pak, kulo mboten ngagem klambi putih,” tutur ibunya. “Mboten menopo bu, meniko sampun sae,” jawab saya.

Photobooth selesai,  sang ibu tampak semakin sumringah, setelah dikasih tahu nanti hasil fotonya bisa diambil setelah misa.

Keluarga ini datang dari Bonoharjo, paroki baru di Kulon Progo. Pada waktu GR, mereka hadir pagi-pagi, sampai di gereja ibu langsung membereskan administrasi di sekretariat. Masih ada kekurangan surat baptis. Hari ini semua sudah beres. Mereka tampak sukacita dapat melampaui proses dari mendaftar hingga menerima sakramen. Untuk bisa hadir, keluarga ini dipinjami sepeda motor tetangga, sesama warga lingkungan. Sang putra yang masih remaja, selain autis juga bocor jantung. Ia anak tunggal, sekarang sudah menerima sakramen komuni dan krisma. Kita doakan anak ini selaku sehat dan semakin tenang. Berkat Tuhan hari ini semoga sungguh memberi kekuatan baru bagi keluarga ini.

 

Galeri foto klik disini

Penulis & Foto : Agustinus Suseno

Panduan Pertemuan 3 ADVEN 2019 – “Bersabarlah dan Teguhkanlah Hatimu”

Tujuan 
Umat semakin teguh dalam hidup berkomunitas atau paguyuban, sehingga mampu bersabar untuk membuat gerakan yang berdaya ubah (transformatif) dalam kehidupan bersama, baik lingkup keluarga, lingkungan, dan masyarakat.

Pra Wacana Pertemuan
Ciri transformatif Gereja diwujudkan dalam berbagai gerakan-gerakan paguyuban yang membawa seluruh anggotanya berani bertindak sebagai nabi di tengah masyarakat. Persekutuan umat beriman hendaknya dijiwai dengan semangat persaudaraan Injil dan secara penuh melibatkan diri dalam masyarakat. Paguyuban kita dipanggil ambil bagian dalam tugas perutusan Yesus sendiri, mewartakan Kerajaan Allah.

Di era keterbukaan informasi, dengan berbagai maraknya intoleransi, disintegrasi, materialisme dan tantangan-tantangan lainnya, umat dipanggil dengan penuh kesabaran dan keteguhan hati mampu mewartakan Kerajaan Allah sehingga membawa pada perubahan hidup. Bukan sikap putus asa dan berdiam diri saja yang diminta oleh Allah tetapi sikap kesabaran, keteguhan dan penuh tanggung jawab dalam setiap karya dan pelayanan untuk memuliakan Allah.

Langkah Proses Pertemuan

A. Pembuka 

  1. 1. Nyanyian Pembuka

Pemandu  dapat  mengajak  peserta  membuka  dengan  lagu-lagu yang memberikan semangat teguh dan bersabar dalam tantangan. 

  1. 2. Doa Pembuka

Doa ini hanya salah satu alternatif, pemandu dapat menyesuaikannya dengan situasi umat.

Tuhan dan Allah kami, kami bersyukur atas rahmat pendampingan-Mu kepada kami. Kami juga bersyukur atas rahmat-Mu yang telah mempercayakan kehadiran Roh Kudus kepada Gereja melalui peristiwa kelahiran Yesus Kristus. Kami mohon, semoga Roh Kudus-Mu hidup dalam diri kami, menguatkan kami untuk mengubah dunia menjadi sarana keselamatan bagi seluruh ciptaan. Semoga berkat daya Roh-Mu, kami semua mampu setia hidup dan bertindak penuh semangat kasih dalam setiap pikiran, perkataan dan perbuatan. Doa ini kami panjatkan, dalam Tuhan kami Yesus Kristus, Putra-Mu, yang hidup dan bertahta bersama Engkau dalam persekutuan dengan Roh Kudus, kini dan sepanjang segala masa. Amin.

  1. 3. Penyalaan lilin Korona

Setelah doa pembuka, pemandu mengajak umat untuk melanjutkan dengan Penyalaan Lilin Korona Adven yang ketiga.

P: Tuhan, terangilah umat-Mu dengan cahaya kasih-Mu.

U : Agar kami semua dapat menjadi cahaya bagi sesama.

P: Ya Bapa, berbelaskasihlah kepada kami, para hamba-Mu yang merindukan Putera-Mu, cahaya kehidupan sejati. Nyalakanlah harapan kami yang gelap ini akan kehadiran Putera-Mu yang menjadi penerang bagi hidup kami. Bagaikan nyala lilin yang semakin terang, demikianlah kami mohon agar hidup kami semakin diterangi oleh kehadiran Kristus. Semoga kami semua mampu menjadi pribadi-pribadi yang guyub-rukun serta memiliki daya ubah untuk menyalakan sukacita bagi sesama dalam kesaksian hidup kami setiap hari. Demi Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami, sepanjang segala masa.

U: Amin

  1. 4. Pengantar Pertemuan 

Pemandu dapat mengantar pertemuan dengan memberikan beberapa catatan sebagai berikut:

Pemandu diusahakan membuat dialog singkat untuk meneguhkan pesan dalam pertemuan Adven pertama dan kedua.

Sekarang kita memasuki pertemuan adven yang ketiga. Tema pada pertemuan adven ketiga adalah “Bersabarlah dan Teguhkanlah hatimu”.

Kita bersama terpanggil untuk mengubah dunia menjadi tempat yang lebih baik, apapun suku-agama-ras-golongan-status sosial yang dimilikinya. Seperti halnya yang dilakukan oleh Yesus mewartakan kerajaan Allah. Kita dipanggil untuk membuat dunia ini lebih baik dengan segala potensi yang kita punya. Apa pun yang kita miliki, mari kita berikan sepenuh tenaga demi lingkungan dan sesama di sekitar kita. Namun, kita sekarang perlu menyadari, bahwa semua itu tidaklah mudah. Butuh kesabaran dan keteguhan hati, apalagi tantangan yang begitu berat dewasa ini. Kita mampu berdaya ubah, jika kita mempunyai keteguhan dan kesabaran menghadapi segala tantangan yang terjadi.

Maka, marilah dengan semangat Adven ini, kita balut keteguhan dan kesabaran perjuangan lingkungan atau komunitas kita, agar semakin berdaya ubah bagi sesama. Kita kuatkan budi dan kerjasama, agar semakin tahan walaupun tantangan semakin berat.

B. Inspirasi 

  1. 1. Cerita Pengalaman

Pemandu dapat mengawali refleksi dengan membaca cerita pengalaman sebagai berikut:

“Teguhlah dan Bersabarlah Berbuat Baik”

Saya aktivis pewartaan di sebuah paroki pinggiran Semarang. Pada tahun 1980, saya pernah mempunyai pengalam kelam. Saya terjebak di tengah kerusuhan etnis. Pada waktu itu, ada kerusuhan rasial di Jawa Tengah antara etnis Jawa dan Tionghoa yang meluas hingga kota-kota dan kabupaten di seluruh Jawa Tengah.

Konon kabarnya, kerusuhan itu, dipicu dari sebuah perselisihan kecil di Solo. Waktu itu, saya berada tepat di tengah ratusan orang yang sedang bertikai. Saya bahkan sempat kena pukulan dan tendangan. Untungnya, dan berkat Tuhan, saya ditolong oleh seorang Haji. Saya dimasukkan di rumahnya dari pagi hingga malam. Pertolongan Tuhan memang misteri. Saya percaya, iman saya pada Tuhan menyelamatkan saya di dalam situasi kacau waktu itu. Uniknya lagi yang menyelamatkan saya adalah seorang Haji etnis Jawa. Beliau adalah seorang Muslim yang menghargai iman saya yang berbeda dengannya.

Sampai sekarang pun, kami masih berhubungan baik dan menghargai keyakinan masing-masing, bahkan kami seperti saudara. Peristiwa itu, membuat saya belajar, apa artinya teguh dan bersabar untuk senantiasa berbuat baik kepada yang lain, walapun kadang tantangan dan himpitan terus menerus terjadi.

Maka, saya senatiasa percaya, walaupun hari-hari ini banyak sekali peritiwa kekerasan etnis, cemoohan dan ujaran kebencian bagi kelompok minoritas, saya tetap bersabar dan teguh untuk senantiasa berbuat baik pada yang lain dan berbeda. Saya tetap terus akan bersabar dan teguh, walaupun berat di hati, karena selalu ada buah di seberang sana. Apa yang saya tanam, pastinya juga saya tuai, pengalamn kelam waktu itu telah membuktikannya.

  1. 2. Pendalaman Bersama

Pemandu dapat mengajak umat mengevaluasi sebagai berikut:

  1. 1) Menurut Bapak Ibu, apa artinya “SABAR” menjadi murid Yesus?
  2. 2) Menurut Bapak Ibu, apa artinya “TEGUH HATI” menjadi murid Yesus?
  3. 3) Menurut Anda, bagaimana orang Katolik mampu konsisten sabar dan teguh hati menjadi murid Yesus, menyangkal diri, memikul salib, sebelum mendapat anugerah Kemuliaan

C. Refleksi Kateketis dan Simpul Pertemuan

Pemandu dapat mengajak umat memperkaya dan meneguhkan refleksi pengalaman hidup dengan melihat kembali Renungan bacaan masa Adven Pertama.

  1. 1. Kutipan Kitab Suci

Pemandu mengajak umat menyimak bacaan Kitab Suci Yakobus 5: 7-11

Karena itu, Saudara-saudara, bersabarlah sampai kepada kedatangan Tuhan. Sesungguhnya petani menantikan hasil yang berharga dari tanahnya dan ia sabar sampai telah turun hujan musim gugur dan hujan musim semi. Kamu juga harus bersabar dan harus meneguhkan hatimu, karena kedatangan Tuhan sudah dekat! Saudara-saudara, janganlah kamu bersungut-sungut dan saling mempersalahkan, supaya kamu jangan dihukum. Sesungguhnya Hakim telah berdiri di ambang pintu. Saudara-saudara, turutilah teladan penderitaan dan kesabaran para nabi yang telah berbicara demi nama Tuhan. Sesungguhnya kami menyebut mereka berbahagia, yaitu mereka yang telah bertekun; kamu telah mendengar tentang ketekunan Ayub dan kamu telah tahu apa yang pada akhirnya disediakan Tuhan baginya, karena Tuhan Mahapenyayang dan penuh belas kasihan.

  1. 2. Renungan dan Simpul

Pendamping dapat menyampaikan point-point reflektif untuk memperkaya/melengkapi pertemuan.

  • Bacaan Yakobus 5: 7-11, mengajak kita melihat dari hidup petani, para nabi, dan Ayub yang telah berjuang sampai akhir. Mereka semua bergantung hanya kepada Tuhan dan mengarahkan pandangan mereka kepada tujuan akhir dari semua yang mereka kerjakan, yaitu demi kemuliaan Tuhan.
  • Demikian juga hendaknya, dalam setiap karya dan pelayanan yang kita kembangkan bersama. Jika kita tidak memiliki tujuan yang benar untuk memuliakan Tuhan, maka kita akan mudah sekali mengeluh dan rentan. Kita diajak untuk mempunyai tanggungjawab mengerjakan apa yang Tuhan panggil untuk kita. Jikalau kita mengerjakan sesuatu dengan motivasi hati yang murni untuk kebesaran Kristus, dari itulah kita akan teruji untuk mempunyai daya ubah yang lebih besar.
  • Menjadi seorang Kristiani itu perlu berkontribusi terhadap dunia, artinya berdaya ubah bagi sekitarnya. Meskipun kita tidak sempurna tetapi kita sudah dipilih Tuhan menjadi garam dan terang dunia.
  • Kita diajak mendengar sharing singkat dari salah seorang saksi kerusuhan etnis dan agama mengenai contoh proses kesabaran dan ketangguhan menjadi murid Yesus. Ia menyadari masa lalunya adalah fakta rahmat Tuhan bekerja melalui kerukunan dan penghormatan kepada mereka yang berbeda dari kita. Ia tetap berusaha berkontribusi terhadap lingkungannya, dengan iman yang dipunyai, sejauh yang ia bisa, untuk mengubah dunia menjadi lebih baik.
  • Kalau kita tidak berkontribusi, percuma kita menjadi murid Yesus. Selain nabi Ayub, yang disebut dalam bacaan, Kita tahu para pengikut Yesus juga jatuh bangun dalam berusaha berkontribusi terhadap dunia. Semua murid Yesus mempunyai dinamika naik turun dalam beriman dan berkontribusi mengubah Gereja dan dunia menjadi sarana keselamatan Ilahi.
  • Dalam masa penantian kedatangan Tuhan, marilah kita bersama-sama belajar untuk tidak mudah putus asa, namun kita harus rela menyangkal diri untuk mengerjakan apa yang Tuhan inginkan, sehingga kita bisa terus bertumbuh dan memberi buah dan bersabar, dengan satu tujuan agar kita menjadi serupa dengan Kristus.

C. Penegasan Bersama dan Penutup

Pemandu mengajak pribadi, keluarga atau lingkungan untuk membuat niat dan aksi-aksi nyata yang bisa dilaksanakan secara konkret oleh pribadi atau lingkungan!

  1. 1. Pengendapan 

Pemandu mengajak umat membuat pengendapan dengan hening sejenak dalam batin selama kurang lebih 5-10 menit.

Ajakan untuk meresapkan secara batin pribadi:

Keteguhan dan kesabaran macam apa yang akan dapat kita kembangkan dalam hidup di tengah lingkungan dan masyarakat kita, khususnya pribadi kita?

Ajakan untuk berdoa:

Berdoalah agar Roh Kudus membantu kita dalam masa Adven ini, bersabar dan teguh walaupun ada banyak tantangan di luar dan sekeliling kita. Kita harus mulai bertekun dan berteguh sebagai pribadi dan komunitas, agar nantinya siap senantiasa hadir dan mempunyai daya ubah di masyarakat. Berdoalah agar rahmat perutusan yang berdaya ubah terwujud dalam kehidupan kita.

Kita satukan dalam doa yang diajarkan Kristus sendiri yakni doa “Bapa Kami”.

  1. 2. Doa Penutup 

Allah Bapa Mahakuasa, kami sedang bersiap untuk menyambut kelahiran Putra-Mu terkasih, Tuhan kami Yesus Kristus. Maka kami mohon, semoga kami senantiasa diterima sebagai murid Kristus, Putra-Mu. Kami juga mohon, agar Roh Kudus–Mu turun menerangi dan menuntun agar kami semakin sabar dan tangguh menghayati semangat solidaritas sukacitaMu dalam hidup keseharian kami. Doa ini kami panjatkan, dalam Tuhan kami Yesus Kristus, Putra-Mu, yang hidup dan bertahta bersama Engkau dalam persekutuan dengan Roh Kudus, Allah Tritunggal, sekarang dan sepanjang segala masa. Amin.

  1. 3. Nyanyian Penutup 

Pemandu dapat mengajak peserta menutup pertemuan dengan lagu-lagu yang memberikan semangat terbuka bagi masyarakat sekitarnya.

Download Panduan Adven 2019

Renungan Mingguan 8 Desember 2019

Sabda Tuhan Hari Ini 8 Desember 2019, Matius 3:1‐12

Doa: Tuhan Yesus, bukalah pintu hatiku. Bersabdalah, ya Tuhan, hamba-Mu mendengarkan.

Sekali peristiwa tampillah Yohanes Pembaptis di padang gurun Yudea dan berseru, “Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat!” Sesungguhnya, dialah yang dimaksudkan nabi Yesaya ketika nabi itu berkata, “Ada suara orang yang berseru‐seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi‐Nya.”Yohanes itu memakai jubah bulu unta dan ikat pinggang kulit, makanannya belalang dan madu hutan. Maka datanglah kepadanya penduduk dari Yerusalem, dari seluruh Yudea dan dari seluruh daerah sekitar Yordan. Dan sambil mengakui dosanya mereka dibaptis oleh Yohanes di sungai Yordan. Tetapi waktu melihat banyak orang Farisi dan orang Saduki datang untuk dibaptis, berkatalah Yohanes Pembaptis kepada mereka, “Hai kamu keturunan ular beludak! Siapakah yang mengatakan kepada kamu, bahwa kamu dapat lolos dari murka yang akan datang? Maka hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan. Dan janganlah mengira, bahwa kamu dapat berkata dalam hatimu: Kami adalah anak Abraham. Sebab aku berkata kepadamu: Dari batu‐batu ini pun Allah dapat menjadikan anak‐anak bagi Abraham. Kapak sudah tersedia pada akar pohon, dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. Aku membaptis kamu dengan air sebagai tanda pertobatan, tetapi Ia yang datang kemudian daripadaku lebih berkuasa daripadaku, dan aku tidak layak melepaskan kasut‐Nya. Ia akan membaptiskan kamu dengan Roh Kudus dan dengan api. Alat penampi sudah ditangan‐Nya. Ia akan membersihkan tempat pengirikan‐Nya dan mengumpulkan gandum‐Nya ke dalam lumbung, tetapi debu jerami akan dibakar‐Nya dalam api yang tidak terpadamkan.”

Demikianlah Injil Tuhan.

Renungan

Hari ini adalah Minggu Adven kedua. Lilin dalam korona pun bernyala dua. Lingkaran Adven sebagai gambaran dunia yang gelap, kini sudah terang setengahnya. Dua penjuru bumi memancarkan cahayanya. Harapan akan dunia yang temaram kian hari kian terbuka prospeknya.

Bagaimana dengan api pertobatan dan pengharapan kita? Apakah semakin temaram? Semoga jawabannya adalah “ya”. Inilah harapan kita semua, yakni langkah awal pertobatan kita tidak berhenti. Sebaliknya, kita semakin peka menilik kekurangan diri yang menggairahkan kita untuk hidup makin selaras dengan kehendak Allah.

Yesaya mengingatkan kita bahwa Allah adalah hakim yang adil. Ia akan mengadili manusia sesuai amal perbuatannya. Yang salah akan dihukum, yang benar akan menerima ganjaran keselamatan. Dalam pengadilannya tidak ada suap, main mata, atau negosiasi. Dan Yohanes pun tegas menyuarakan: “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!” Karena itu, marilah kita jaga nyala api pertobatan dan harapan kita dengan terus melakukan kebaikan. Hidup yang semakin baik di mata Allah dan sesama adalah credit point bagi ganjaran keselamatan kita.

Ya Bapa, jagalah api harapan dan kasih‐Mu dalam hatiku. Jangan biarkan aku berjalan dalam kegelapan dan dosa. Tuntunlah aku pada kebenaran‐Mu, agar kelak aku boleh berharap akan rahmat keselamatan‐Mu. Amin.

Sumber renungan: ZiarahBatin 2019, OBOR Indonesia

Panduan Pertemuan 2 ADVEN 2019 – “Satu Hati dan Satu Suara Memuliakan ALLAH”

Tujuan
Umat mampu melihat bersama sejauh mana daya ubah (transformasi) hidup beriman ke dalam sudah terjadi dan telah digiatkan dalam komunitas.

Pra Wacana Pertemuan
Gereja harus bersifat transformatif (Gereja yang berdaya ubah)! Berdaya ubah bagi seluruh anggota-anggota maupun bagi masyarakat. Gereja menjadikan anggota-anggotanya hidup dalam kesatuan kasih dengan Allah yang akan berakibat dalam relasi baru dengan sesama. Berkat kehadiran Roh Kudus, Gereja membawa seluruh anggotanya menjadi anak-anak Allah. Roh Kudus yang bekerja dalam Gereja berdaya ubah menyatukan seluruh hati anggotanya.

Paguyuban atau lingkungan kita menjadi bagian gereja yang disatukan oleh Roh Kudus. Kita disatukan hati kita oleh Roh Kudus dalam komunitas murid-murid Kristus. Gereja bukan lah segerombolan pribadi-pribadi yang tanpa bentuk tetapi sebuah persekutuan murid-murid Kristus. Persekutuan yang berkembang secara jiwa dan semangat yang sama (organis) dan cara pengaturan yang menjamin pertumbuhan dan perkembangan kominitas (organisatoris). Apakah kita mempunyai kesadaran sebagai anggota paguyuban sudah berdaya ubah (transformatif)? Segi daya ubah ini juga apakah sudah dirasakan oleh seluruh warga paguyuban? Mencari dan mengevaluasi “daya ubah” paguyuban menjadi sangat penting supaya kita semakin memuliakan Allah.

Langkah Proses Pertemuan
A. Pembuka
1. Nyanyian Pembuka
Pemandu dapat mengajak peserta membuka dengan lagu-lagu yang memberikan semangat satu kesatuan hati.

  1. Doa Pembuka
    Doa ini hanya salah satu alternatif, pemandu dapat menyesuaikannya dengan situasi umat.

Bapa yang Maha Kasih, Allah segala penghiburan, dalam Masa Adven kedua ini, utuslah terang Roh Kudus Mu, agar kami dapat bersama-sama melihat kembali, sejauh mana kesadaran sebagai komunitas atau paguyuban lingkungan mampu berdaya ubah (transformatif). Berikanlah kesadaran dalam diri kami, agar masa Adven ini dapat membuat kami semakin satu hati dalam panggilan perutusan kami, terutama panggilan menjadi lingkungan yang berdaya ubah. Doa ini kami panjatkan, dalam Tuhan kami Yesus Kristus, Putra-Mu, yang hidup dan bertahta bersama Engkau dalam persekutuan dengan Roh Kudus, kini dan sepanjang segala masa. Amin.

  1. Penyalaan lilin Korona
    Setelah doa pembuka, pemandu mengajak umat untuk melanjutkan dengan Penyalaan Lilin Korona Adven yang kedua.

P: Tuhan, terangilah umat-Mu dengan cahaya kasih-Mu.

U: Agar kami semua dapat menjadi cahaya bagi sesama.

P: Ya Bapa, berbelaskasihlah kepada kami, para hamba-Mu yang merindukan Putera-Mu, cahaya kehidupan sejati. Nyalakanlah harapan kami yang gelap ini akan kehadiran Putera-Mu yang menjadi penerang bagi hidup kami. Bagaikan nyala lilin yang semakin terang, demikianlah kami mohon agar hidup kami semakin diterangi oleh kehadiran Kristus. Semoga kami semua mampu menjadi pribadi-pribadi yang guyub-rukun serta memiliki daya ubah untuk menyalakan sukacita bagi sesama dalam kesaksian hidup kami setiap hari. Demi Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami, sepanjang segala masa.

U: Amin

  1. Pengantar Pertemuan
    Pemandu dapat mengantar pertemuan dengan memberikan beberapa catatan sebagai berikut:

Bapak dan Ibu yang terkasih, dalam Pertemuan Sarasehan Adven kedua ini, kita akan diajak melihat, apakah segi daya ubah (transformatif) iman, sudah dirasakan bagi seluruh komunitas atau paguyuban. Apakah kita sudah satu hati, bersama-sama sebagai pribadi dan paguyuban memberikan yang terbaik bagi lingkungan kita.

Maka, marilah dengan semangat Advent ini, kita balut kebersamaan sebagai lingkungan atau komunitas. Kita satukan hati dan satukan suara memuliakan Allah, agar kita sebagai pribadi-pribadi mampu mendukung lingkungan kita mempunyai daya ubah bagi masyarakat sekitar.

  1. Inspirasi
    1. Mengapresiasi Daya Ikat dan Keguyuban Lingkungan
    Pemandu dapat mengawali refleksi dengan membaca ungkapan Paus Fransiskus tentang hidup komunitas.

Paus Fransiskus memberi pesan pada sebuah akhir wawancara yang dilakukan oleh Antonio Spadaro, S.J., seorang imam, pemimpin redaksi La Civiltà Cattolica. La Civiltà Cattolica merupakan jurnal Jesuit Italia. Dikutip kembali dalam A Papal Perspective on Community, dikatakan demikian

“Dalam hidup saya, saya telah belajar bahwa satusatunya cara untuk tumbuh dalam keyakinan saya adalah dengan orang lain — dalam kata-kata John Donne, tidak ada manusia yang cukup untuk dirinya sendiri”. Komunitas adalah cara kami mencapai pertumbuhan nilai-nilai yang kami rasa mungkin penting bagi kami — apa pun itu. Perubahan tidak akan berakar sampai kita merendahkan diri, menemukan cara untuk memberikan layanan kepada komunitas dan kepercayaannya, dan berusaha untuk menjaga komunitas tetap bersatu.”

Pesan itu, dalam Masa Adven kedua kita menjadi penting untuk disadari. Kita diajak menyongsong kehadiran Juru Selamat dalam kesatuan hati sebagai komunitas atau paguyuban di lingkungan. Dalam satu hati, sebagai Orang Katolik yang transformatif.

No Pernyataan dan Refleksi Penilaian komunitas*
Ada Teratur (Intensselalu) Tidak Teratur (kadangkadang) Tidak Ada
1. Apakah sejauh ini, lingkungan teratur dalam berkomunikasi, baik secara langsung maupun melalui alat komunikasi lainnya.
2. Apakah sejauh ini, lingkungan teratur dalam bergiat dengan acara-acara moment Gerejawi dan Kebersamaan lainnya.
3. Apakah sejauh ini, lingkungan teratur memperhatikan para anggotannya yang sedang mengalami kesusahan, sakit dan permasalahan.
4. Apakah sejauh ini, lingkungan teratur dalam mendukung keluarga-keluarga dalam pendidikan iman menggerejanya, baik bersifat Liturgis maupun NonLiturgis.
5. Apakah sejauh ini, lingkungan teratur mendukung kegiatan-kegiatan yang semakin mengakrabkan dan meningkatkan kebersamaan dari rekoleksi hingga rekreasi.
6. Apakah sejauh ini, lingkungan teratur berusaha memberdayakan pribadi dan perkembangan bersama dengan berbagai macam cara.

Maka, marilah kita evaluasi komunitas kita, apakah sudah berdaya ubah ke dalam:

Penilaian komunitas* Pemandu dapat mengajak umat mengevaluasi sejauh mana lingkungan mempunyai daya ubah (transformatif) dalam lingkup internal.Penilaian ini, dapat diberi tanda centang (V) pada kolom yang dimaksud. Pemandu diharapkan dapat merekap hasilnya lalu dimasukkan dalam Scan QR Code berikut ini, untuk masukan ke Keuskupan.

Untuk memperkaya pertemuan, hasil rekap juga dapat dinilai dengan ketentuan sebagai berikut:

  1. Teratur, mempunyai skor 6
  2. Tidak Teratur, mempunyai skor 3
  3. Tidak Ada, mempunyai skor 0

Jika dijumlahkan, skor tertinggi yaitu 36, maka rentangnya sebagai berikut:

  1. Skor 30 – 36, lingkungan menampakkan tanda-tanda GUYUB
  2. Skor 18 – 29, lingkungan menampakkan tanda-tanda BIASA SAJA
  3. Skor 0 – 17, lingkungan menampakkan tanda-tanda LEMAH, KURANG GUYUB.
  1. Pendalaman Bersama
    Pemandu dapat mengajak umat mengevaluasi sebagai berikut:
  1. Berdasarkan hasil penilaian lingkungan Anda? Bagaimanakah tanggapan Anda, Berikanlah pandangan Anda !
  2. Dalam wujud apa saja kesatuan hati yang sudah terjadi di lingkungan Anda untuk mewujudkan daya ubah iman baik ke dalam maupun keluar?
  1. Refleksi Kateketis dan Simpul Pertemuan
    Pemandu dapat mengajak umat memperkaya dan meneguhkan refleksi pengalaman hidup dengan melihat kembali renungan bacaan masa Adven Pertama.
  2. Kutipan Kitab Suci
    Pemandu mengajak umat menyimak bacaan Kitab Suci Roma 15: 4-9

Sebab segala sesuatu yang ditulis dahulu, telah ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita, supaya kita teguh berpegang pada pengharapan oleh ketekunan dan penghiburan dari Kitab Suci. Semoga Allah, yang adalah sumber ketekunan dan penghiburan, mengaruniakan kerukunan kepada kamu, sesuai dengan kehendak Kristus Yesus, sehingga dengan satu hati dan satu suara kamu memuliakan Allah dan Bapa Tuhan kita, Yesus Kristus. Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah. Yang aku maksudkan ialah, bahwa oleh karena kebenaran Allah Kristus telah menjadi pelayan orang-orang bersunat untuk mengokohkan janji yang telah diberikanNya kepada nenek moyang kita, dan untuk memungkinkan bangsabangsa, supaya mereka memuliakan Allah karena rahmat-Nya, seperti ada tertulis: “Sebab itu aku akan memuliakan Engkau di antara bangsa-bangsa dan menyanyikan mazmur bagi nama-Mu.”

  1. Renungan dan Simpul
    Pendamping dapat menyampaikan point-point reflektif untuk memperkaya/melengkapi pertemuan.
  • Dalam bacaan Roma 15: 4-9, Paulus menegaskan hendaklah kita menerima satu dengan yang lain, demi kemuliaan Allah. Bukan hanya demi orang itu sendiri, tetapi tujuan bersamanya. Maka, kebersamaan visi dalam komunitas atau paguyuban menjadi daya dorong agar kita mampu mempunyai daya ubah, baik keluar maupun ke dalam.
  • Melalui bacaan itu, Paulus juga mendorong kita untuk saling memberikan motivasi satu sama lainnya. Paulus mengajak bertekun dalam kebersamaan. Rasul Paulus juga mengharapkan dan menghimbau agar komunitas atau paguyuban hidup dalam kerukunan. Keberagaman latar belakang, tingkat ekonomi, suku, pandangan, bahkan agama tidaklah menjadi penghalang kesatuan untuk memuji dan memuliakan Allah.
  • Keragaman dalam satu komunitas atau paguyuban adalah kekayaan yang patut disyukuri. Keragaman dalam satu komunitas atau paguyuban, tentunya akan memberikan nilai tambah pada komunitas atau paguyuban itu sendiri untuk semakin menjadi komunitas yang berdaya ubah .
  • Demikian halnya aneka macam pribadi dalam komunitas atau paguyuban, membuat komunitas menjadi lebih beragam dan berdaya. Maka, pertumbuhan komunitas atau paguyuban dalam Gereja kita, selalu dua arah sekaligus, baik internal maupun eksternal. Secara internal, kita harus bertumbuh dan berdaya ubah dalam pribadi-pribadi yang ada, mengalami perkembangan baik secara perseorangan maupun kebersamaan. Begitu juga secara eksternal, keada-an dan ke-berada-an suatu komunitas kita sebagai umat beriman haruslah memiliki dampak dalam hidup kemasyarakatan.
  1. Penegasan Bersama dan Penutup
    Pemandu mengajak pribadi, keluarga atau lingkungan untuk membuat niat dan aksi-aksi nyata yang bisa dilaksanakan secara konkret oleh pribadi atau lingkungan!
  2. Pengendapan
    Pemandu mengajak umat membuat pengendapan dengan hening sejenak dalam batin selama kurang lebih 5-10 menit.
    Ajakan untuk meresapkan secara batin pribadi:
    Daya ubah macam apa yang akan dapat kita kembangkan dalam hidup di tengah lingkungan kita, khususnya pribadi kita?
    Ajakan untuk berdoa:
    Berdoalah agar Roh Kudus membantu kita dalam masa Adven ini, satu hati, satu keyakinan untuk semakin memuliakan Allah. Kita harus mulai membangun juga para pribadi dan komunitas Gereja kita, agar nantinya siap senantiasa hadir di masyarakat. Berdoalah agar rahmat perutusan yang berdaya Ubah terwujud dalam kehidupan kita.
    Kita satukan dalam doa yang diajarkan Kristus sendiri yakni doa “Bapa Kami”.
  3. Doa Penutup
    Bapa Mahakarya, kami bersyukur karena hari ini Engkau telah membawa kami satu hati menjadi orang dan komunitas beriman yang berani hadir dan berdampak baik bagi kami semua satu komunitas dan masyarakat. Terima kasih Tuhan, Engkau telah mengembangkan hidup kami dengan Roh Kudus-Mu untuk semakin memuliakan-Mu. Semoga untuk hari-hari mendatang kami semakin berani membangun dan mewujudkan komunitas atau paguyuban yang berdaya ubah, baik ke dalam maupun keluar. Doa ini kami panjatkan, dalam Tuhan kami Yesus Kristus, PutraMu, yang hidup dan bertahta bersama Engkau dalam persekutuan dengan Roh Kudus, sekarang dan sepanjang segala masa. Amin.
  4. Nyanyian Penutup
    Pemandu dapat mengajak peserta menutup pertemuan dengan lagu-lagu yang memberikan semangat terbuka bagi masyarakat sekitarnya.

Download Panduan Adven 2019

Fruits of Hope – Festival Film Komsos #1

*klik tombol PLAY (>) di atas untuk melihat video

The Fruits of Hope Karya KOMSOS Paroki St. Albertus Agung Jetis (Fesfikom #1)

Film The Fruits of Hope merupakan film pertama yang dibuat oleh Komsos Paroki Jetis. Dengan genre dokumenter, film ini juga diikutsertakan dalam Festival Film Komsos #1 yang diadakan oleh Komsos Keuskupan Agung Semarang pada tanggal 30 September 2019 yang lalu. Besar harapan kami Komsos Paroki Jetis agar umat dan dewan pastoral paroki bekerjasama bahu membahu untuk memajukan gereja kita semua. Berkah Dalem.

Inilah Wajah Para Pemenang Festival Film Komsos #1

Sore hari yang agak dingin, mendung menggantung di langit, gerimis pun terlihat sudah turun rintik-rintik. Kami perlahan-lahan berangkat menuju Wisma Domus Pacis Puren, Pringwulung, Condongcatur, Sleman, DI Yogyakarta. Hari ini hari besar bagi kami Komsos Paroki Jetis, para pemenang Festival Film Komsos (FESFIKOM) yang pertama akan diumumkan pada malam hari ini.

Komsos Keuskupan Agung Semarang di tahun 2019 menyelenggarakan Festival Film Komsos (FESFIKOM) yang pertama. Fesfikom diselenggarakan dengan tujuan untuk mengajak umat menghidupi ARDAS KAS dan RIKAS melalui karya audio visual dengan mengangkat tema“Manusia Biasa yang Berdampak Luar Biasa.

Sebagai sasaran narasumber Fesfikom adalah orang Katolik/Komunitas Katolik yang mempunyai karya untuk mewujudkan kesejahteraan umum secara lintas suku, agama, ras, dan antar golongan di Keuskupan Agung Semarang.

Pengumuman pemenang diselenggarakan di kantor Komsos KAS, Wisma Domus Pacis Puren, Pringwulung, Condongcatur, Sleman, DI Yogyakarta pada Sabtu malam (30/11/2019). Fesfikom yang pertama ini total diikuti oleh 11 peserta dari berbagai paroki di lingkup Keuskupan Agung Semarang.

Dalam sambutannya, romo Yustinus Slamet Witokaryono, Pr menyampaikan, dengan festival film ini, dapat mengangkat orang biasa menjadi luar biasa.  Seringkali keterlibatan dan perjuangan seseorang dalam memajukan sebuah komunitas, tidaklah bisa terlihat oleh banyak orang karena tidak ada yang menyebarluaskan. Banyak umat Katolik yang menjadi tokoh di lingkungan, wilayah atau paroki, juga menjadi tokoh penggerak di tengah masyarakat.

Namun kisah mereka tidak banyak yang mengetahuinya, untuk itu KOMSOS KAS mengadakan festival film dokumenter yang diharapkan dapat mengangkat kisah para inspirator tersebut sehingga mampu menginpirasi lebih banyak orang untuk mewujudkan kesejahteraan umum dalam masyarakat multikultural.

Romo Wito berharap kegiatan dalam membuat film dokumenter yang mengangkat tokoh-tokoh inspiratif tersebut tidak hanya berhenti pada festival film saja, namun dapat berkelanjutan untuk mengangkat narasi-narasi yang baik melalui media digital.

Setelah sambutan romo Wito, dilanjutkan dengan pemaparan singkat programasi dari setiap Komsos Kevikepan. Kembali romo Wito berharap, dalam programasi setiap kevikepan memikirkan kaderisasi dan SDM di masing-masing paroki, serta mengembangkan jejaring di segala sektor baik di tingkat paroki, kevikepan maupun keuskupan. Jejaring yang dikembangkan berdasarkan kesadaran yang sama, keprihatinan yang sama, bergerak bersama dan kata kuncinya adalah “INI URUSANKU”.

Tibalah saat yang dinanti-nanti oleh para peserta yang hadir, yaitu pengumuman pemenang, sebelumnya mas Borgia Edgar selaku panitia menyampaikan bahwa dalam lomba ini ada penilaian kriteria utama yaitu substansial dan tehnik, juga terdapat 4 (empat) kriteria penilaian, yaitu kesesuaian tema, originalitas cerita, kreatifitas dan sinematografi.

Berikut ini daftar para pemenang Festival Film Komsos 2019 yang pertama :

  1. Juara 1 dengan judul “Perjuangan Perempuan Tani – Karya @production Gereja Mater Dei Lampersari Semarang
  2. Juara 2 dengan judul “Salam Balungan Kere”, karya Komsos paroki Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran
  3. Juara 3 dengan judul “Karya dari Karyanya”, karya OMK Sylvester paroki Santa Perawan Maria Bunda Kristus, Wedi
  4. Juara 4 kategori Film Favorit Dewan Juri dengan judul “Memayu”, karya Komsos paroki Santa Perawan Maria Ratu Rosario Suci Randusari Semarang
  5. Juara 5 jategori Sinematografi terbaik , dengan judul “Salam Balungan Kere”, karya Komsos paroki Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran
  6. Juara 6 kategori Narasumber Inspiratif, dengan judul “Noviana Diprayanti, Kisah Muda Kaum Difabel”, karya Komsos paroki Petrus Krisologus Bukit Semarang Baru

Para Pemenang Fesfikom #1 (urutan posisi dari kiri ke kanan)

The Fruits of Hope Karya KOMSOS Paroki St. Albertus Agung Jetis (Fesfikom #1)

Film The Fruits of Hope merupakan film pertama yang dibuat oleh Komsos Paroki Jetis. Dengan genre dokumenter, film ini juga diikutsertakan dalam Festival Film Komsos #1 yang diadakan oleh Komsos Keuskupan Agung Semarang pada tanggal 30 September 2019 yang lalu. Besar harapan kami Komsos Paroki Jetis agar umat dan dewan pastoral paroki bekerjasama bahu membahu untuk memajukan gereja kita semua. Berkah Dalem.

Tonton FILM KAMI DISINI

Kami Komsos Paroki Jetis belum bisa mencicipi rasanya menjadi pemenang di Fesfikom #1 ini, namun kami memiliki cita-cita dan semangat yang besar untuk terus berkarya. Hati-hati para pemenang, kami mengincar posisi Anda di kesempatan berikutnya ! Salam Komsos ! 🙂

Penulis & Foto : Agustinus Suseno

Editor : Frans

Renungan Mingguan 1 Desember 2019

pengakuan dosa

Sabda Tuhan Hari Ini 1 Desember 2019, Matius 24:37‐44

Doa: Tuhan Yesus, bukalah pintu hatiku. Bersabdalah, ya Tuhan, hamba-Mu mendengarkan.

Sekali peristiwa Yesus bersabda kepada murid‐murid‐Nya, “Seperti halnya pada zaman Nuh, demikianlah kelak pada kedatangan Anak Manusia. Pada zaman sebelum air bah itu orang makan dan minum, kawin dan mengawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera; mereka tidak menyadari apa yang terjadi sampai air bah itu datang dan melenyapkan mereka semua. Demikian pulalah halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia. Pada waktu itu kalau ada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan. Kalau ada dua orang perempuan sedang menggiling gandum, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan. Oleh karena itu berjaga‐jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang. Tetapi ketahuilah ini: Jika tuan rumah tahu pada waktu mana pencuri datang waktu malam, pastilah ia berjaga‐jaga, dan tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar. Sebab itu, hendaklah kamu selalu siap siaga, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga.”

Demikianlah Injil Tuhan.

Renungan

Hari ini umat beriman memasuki masa Adven. Lilin pertama dalam lingkaran Adven pun mulai dinyalakan. Jika kita ibaratkan korona Adven sebagai gambaran dunia yang gelap, maka kegelapan dunia itu mulai diusir. Salah satu penjuru bumi itu sudah memiliki cahaya. Harapan akan dunia yang temaran dengan cahaya sudah diawali.

Orang beriman adalah mereka yang selalu berupaya menyalakan terang dalam kegelapan jalan hidupnya. Mereka menyadari diri sebagai sosok yang kurang dan lemah, namun ia terus berupaya untuk hidup dalam kelimpahan dan kekuatan rahmat Allah. Selalu berharap adalah kata kunci mereka.

Terang dan harapan bagi umat beriman itu adalah Yesus Sang Mesias. Yesaya meyakinkan kita bahwa Dia‐lah jalan keselamatan hidup kita. Berjalan bersama Dia menjadi panggilan kita. Berkat Dia keselamatan kita semakin mendekat.

Karena itu, marilah kita senantiasa waspada dan berjaga‐jaga. Kita tidak terlena dalam perbuatan salah dan dosa. Mari berlomba berbuat kasih dan hidup dalam doa dan Sabda. Kesiapsiagaan kita menyongsong kelahiran‐Nya adalah peluang bagi keselamatan kita.

Ya Bapa, nyalakanlah api harapan dalam diriku. Biarkan cahayanya menghalau kegelapan dosa dan menuntutku kepada Yesus, Sang Imanuel yang aku nantikan. Amin.

Sumber renungan : Ziarah Batin 2019, OBOR Indonesia

Workshop Membuat Video Profesional Dengan Smartphone

Keterampilan dan keahlian Komisi Komsos dalam tugasnya mewartakan kabar di masing-masing paroki perlu selalu diasah serta ditingkatkan, namun tidak selalu bergantung kepada alat yang dimilikinya semisal seperti kamera.  Tim Komsos dituntut bisa menjalankan tugasnya dengan alat yang paling minim sekalipun, salah satunya dengan menggunakan smartphone yang selalu dibawa kemana-mana.

 

Pelatihan ini juga bertujuan untuk mengajak penggiat Komsos menggunakan smartphone sebagai media pewartaan, kemudian menularkannya kepada seluruh umat di masing-masing paroki, sehingga dalam skala yang lebih luas umat di liingkungan juga dapat menjadikan smartphone sebagai media untuk mewartakan.

Karena itu Komisi Komunikasi dan Sosial (Komsos) Kevikepan DI Yogyakarta mengadakan pelatihan pembuatan dan editing video dengan menggunakan smartphone.  Kali ini pelatihan diselenggarakan di gereja St. Petrus & Paulus, Minomartani. Bertindak sebagai pembawa materi yaitu mas Erman dari Komsos KAS.  Pelatihan yang diadakan pada hari Minggu, 24 November 2019 dihadiri oleh kurang lebih 40 peserta dari berbagai kalangan seperti anggota, penggiat Komsos, suster serta dihadiri juga oleh warga di sekitar gereja Minomartani.

Acara diawali dengan sambutan oleh Romo Antonius Gunardi, MSF. Beliau menyambut baik kehadiran para penggiat Komsos di paroki Minomartani, Romo Anton berharap kegiatan pelatihan ini dapat menumbuhkan semangat bagi Komsos Paroki Minomartani yang sedang bangkit lagi.

Kemudian menuju acara berikutnya adalah pelatihan, mas Erman pertama-tama mengawali pelatihan dengan memberikan aplikasi editing video kepada setiap peserta.  Setelahnya diberikan penjelasan singkat mengenai aplikasi editing video tersebut, dan setiap peserta pelatihan dipersilahkan untuk mengambil gambar video di seputar gereja Minomartani.

Para penggiat Komsos, baik tua dan muda dengan penuh semangat mengeksplore spot-spot yang ada di sekitar gereja.  Setelah mengambil gambar para peserta kembali memasuki ruangan lantai tiga tempat pelatihan diadakan, disini mas Erman kemudian memberikan penjelasan lebih lanjut bagaimana melakukan editing video dengan aplikasi yang telah diberikan.

Penjelasan demi penjelasan di berikan dengan gamblang, jika ada yang bertanya di tengah-tengah penjelasan dipersilahkan, agar tidak tertinggal.  Hasil editing video masing-masing peserta kemudian ditayangkan untuk dilihat dan dievaluasi bersama-sama. Walapun masih dalam tahap belajar, namun hasil editing video yang diperlihatkan cukup memuaskan, hanya perlu pembiasaan mempergunakannya agar semakin baik dalam mengedit video.

Akhirnya acara pelatihan ditutup dengan sambutan dari Ketua Komsos Kevikepan DIY, Romo Lukas Ivan Sanjaya, Pr, yang juga menyampaikan bahwa pada tanggal 15-16 Februari 2020 akan diselenggarakan Jambore Komsos Kevikepan DIY di Wisma Salam.  Jambore ini bertujuan untuk membekali para penggiat Komsos yang ada di paroki agar semakin memahami tugas dan kewajibannya sebagai Komsos.  Jambore dilaksanakan juga sebagai persiapan menuju pemekaran kevikepan DIY menjadi 2 (dua) kevikepan.

Galeri foto klik disini

 

Artikel Oleh : Agustinus Suseno

Foto Oleh : Monica Asih & Agustinus Suseno

Editor : Frans

WKRI Ranting Jetis Ngundhuh Pertemuan WKRI Ranting Kota

Sabtu menjelang siang sekitar pukul 12.00 WIB pada tanggal 23 November 2019 di Paroki St. Albertus Agung Jetis. Sekelompok ibu-ibu dari paguyuban Wanita Katolik Republik Indonesia atau sering kita kenal dengan singkat melalui panggilan WKRI mengadakan pertemuan rutin.

Kali ini ibu-ibu WKRI dari Ranting Jetis yang mendapat kehormatan untuk mengundhuh acara pertemuan bersama WKRI Ranting Kota.

Acara dimulai dengan doa pembukaan kemudian dilanjutkan dengan doa WKRI serta doa untuk imam dan calon imam. Setelahnya ada aktivitas bernyanyi bersama Mars WKRI.

Pembacaan sabda Tuhan, renungan dan kesaksian dari ibu Brigitta Sugianti merupakan agenda selanjutnya. Ibu Sugianti memberi kesaksian bahwa hidup di dalam Kristus selalu mendapatkan pencerahan. Betapa ia sangat bergantung kepada Tuhan Yesus Kristus dalam seluruh hidupnya, dilanjutkan sambutan dari perwakilan WKRI Ranting Jetis.

Bapak Wahyu selaku ketua bidang paguyuban dan persaudaraan di Paroki Jetis kemudian memberikan sambutan kepada para ibu-ibu dari WKRI Ranting Kota. Beliau menyampaikan bahwa pertemuan rutin seperti ini sangat baik untuk dilakukan untuk mempererat paguyuban dan organisasi terlebih dengan banyaknya anggota dan ranting-ranting yang ada.

Menjelang pertengahan acara, didakan pula Sosialisasi lagu Kuhantar Dikau Kawan (lagu ini dibuat untuk anggota Wanita Katolik RI yang meninggal). Setelah bernyanyi bersama sekitar 5 menit kemudian menuju agenda yang paling ditunggu-tunggu yaitu makan siang bersama.

Selepas makan siang bersama, acara dilanjutkan kembali dengan adanya pengumuman berbagai kegiatan oleh WKRI Ranting Kota. Setelah selesai, acara ditutup dengan doa bersama.

 

Galeri Foto Klik Disini

 

Artikel & Foto oleh : Frans

You cannot copy content of this page