Panduan Pertemuan 1 ADVEN 2019 – “Bangunlah Dari Tidurmu !”

Tujuan

Umat mampu mencari dan mengevaluasi, sejauh mana daya ubah (transformatif) iman mereka bagi diri dan masyarakat di sekitarnya.

Pra Wacana Pertemuan

Zona nyaman atau situasi kemapanan merupakan situasi yang selalu didambakan setiap orang, seperti ketika kita tidur pulas yang nyaman menyegarkan badan. Situasi nyaman ini dapat membuat kita menjadi terlena dan membawa kita pada sikap enggan untuk berubah, tidak mau bergerak dan meningkatkan diri kepada situasi yang lebih baik lagi. Sebagai orang katolik, apakah kita juga sudah nyaman dengan iman kita? Merasa cukup pengetahuan dan kedalaman iman kita?

Gereja sebagai komunitas orang beriman senantiasa membarui diri agar selalu tanggap terhadap perubahan zaman, sehingga selalu relevan bagi setiap orang di segala zaman. Iman akan Kristus hendaknya selalu berkembang dan berkualitas baik ke dalam (ad intra) maupun ke luar (ad extra) karena kita menyadari diri iman yang kita hayati ini dihadapkan pada era teknologi informasi yang mengubah cara pikir dan cara mengungkapkan diri bagi orang-orang zaman sekarang.

Mari kita keluar dari zona nyaman egosentrisme, bangur dari tidur dan keluar dari segala kungkungan “keterlenaan” diri untuk semakin mengembangkan iman dengan mengapresiasi (mencari dan mengevaluasi) diri dan komunitas kita agar semakin berdaya ubah (transformatif) bagi diri pribadi dan masyarakat di sekitar kita.

Langkah Proses Pertemuan

  1. Pembuka
    1. Nyanyian Pembuka
    Pemandu dapat mengajak peserta membuka dengan lagu-lagu yang memberikan semangat terbuka bagi masyarakat sekitarnya.
  2. Doa Pembuka

Doa ini hanya salah satu alternatif, pemandu dapat menyesuaikannya dengan situasi umat.

Bapa Maharahim, Allah segala penghiburan, dalam Masa Adven tahun ini, di samping kami menyambut momen penting Perayaan 80 Tahun Keuskupan Agung Semarang (KAS), Refleksi Rencana Induk (RIKAS) dalam Roadmap I (2016-2020), kami juga diajak menyemai peringatan 100 tahun diterbitkannya Surat Apostolik Maximum Illud. Segala gerak yang telah kami jalin dan bangun, semoga memberikan semangat untuk membangun iman yang berdaya ubah. Ajarilah kami, untuk semakin mampu menyadari dan menemukan nilai, karya, dan semangat yang telah kami kembangkan dalam paguyuban, terutama dalam keterlibatan iman yang memasyarakat. Doa ini kami panjatkan, dalam Tuhan kami Yesus Kristus, Putra-Mu, yang hidup dan bertahta bersama Engkau dalam persekutuan dengan Roh Kudus, kini dan sepanjang segala masa. Amin.

  1. Penyalaan lilin Korona

Setelah doa pembuka, pemandu mengajak umat untuk melanjutkan dengan Penyalaan Lilin Korona Adven yang pertama.

P: Tuhan, terangilah umat-Mu dengan cahaya kasih-Mu.

U: Agar kami semua dapat menjadi cahaya bagi sesama.

P: Ya Bapa, berbelaskasihlah kepada kami, para hamba-Mu yang merindukan Putera-Mu, cahaya kehidupan sejati. Nyalakanlah harapan kami yang gelap ini akan kehadiran Putera-Mu yang menjadi penerang bagi hidup kami. Bagaikan nyala lilin yang semakin terang, demikianlah kami mohon agar hidup kami semakin diterangi oleh kehadiran Kristus. Semoga kami semua mampu menjadi pribadi-pribadi yang guyub-rukun serta memiliki daya ubah untuk menyalakan sukacita bagi sesama dalam kesaksian hidup kami setiap hari. Demi Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami, sepanjang segala masa.

U: Amin

  1. Pengantar Pertemuan

Pemandu dapat mengantar pertemuan dengan memberikan beberapa catatan sebagai berikut:

Bapak dan Ibu yang terkasih, dalam Pertemuan Sarasehan Adven pertama ini, kita akan diajak mencari dan mengevaluasi, sejauh mana iman kita memberikan daya ubah (transformatif) bagi diri kita sendiri dan masyarakat di sekitar kita. Kita berkumpul bersama, untuk menyadari sejauh mana kita masih terkungkung dengan egosentrisme iman dan keterlenaan diri selama ini. Bisakah kita melalui moment Adven ini menjadi komunitas dan diri yang berdaya ubah bagi orang lain. Perubahan itu sangat penting bagi kita, terutama kita di tahun 2020 merayakan 80 Tahun Keuskupan kita, Refleksi bersama tentang Rencana Induk (RIKAS) dalam Roadmap I (2016-2020) dan Tahun Misi peringatan 100 tahun diterbitkannya Surat Apostolik Maximum Illud.

Maka, marilah dengan semangat Advent ini, kita bangun dari tidur, bangun dari keterlenaan kita untuk bersedia bangkit menjadi Orang Katolik yang transforamtif bagi kita sendiri dan masyarakat sekitar.

  1. Inspirasi
  2. Mengapresiasi diri dan Lingkungan

Pemandu dapat mengawali refleksi untuk mencari dan mengevaluasi diri sejauh mana diri dan lingkungan mempunyai daya ubah (transformatif) iman.

Paus Fransiskus memberi pesan untuk Kongres Nasional tentang Misi yang diselenggarakan oleh KKM-KWI melalui Uskup Mgr. A. M. Sutrisnaatmaka MSF,

“Jangan pernah lupa, kita selalu berjalan ke depan. Jadilah Ragi yang baik dalam kehidupan sosial. Dalam Kitab Suci dikatakan, kita bukan orang-orang yang berjalan ke belakang. Kita semua orang-orang yang berjalan ke depan. Jika seorang berjalan ke belakang, ia bukanlah seorang Kristiani. Kristiani berarti mengarahkan ke depan. Itu artinya diutus. Dengan demikian kita tetap semangat, selalu menatap ke depan dengan penuh harapan. Roh Kudus mendorong kita untuk maju. Ada dua hal yang harus menjadi rantai penghubung bagi kita semua sebagai orang Kristiani. Bagaimana kita menghidupi baptisan, dalam kehidupan pribadi, juga dalam masyarakat sosial, dan membawa pesan Yesus itu kepada orang lain di sekitar kita. ”

Pesan itu, dalam masa Adven kita yang pertama ini menjadi sangat relevan. Kita diajak “Bangun dari Tidur kita, Bangun dari keterlenaan kita” untuk bersedia bangkit menjadi Orang Katolik yang transformatif bagi kita sendiri dan masyarakat sekitar kita.

No Pernyataan dan Refleksi Penilaian komunitas*
Aktif Biasa Saja Kurang
1 Apakah sejauh ini, lingkungan aktif dalam kegiatan baik internal Menggereja maupun Sosial Kemasyarakatan
2 Apakah sejauh ini, lingkungan aktif dalam kegiatan internal mengembangkan iman yang cerdas dan tangguh dalam rupa dan cara apapun
3 Apakah sejauh ini, lingkungan aktif dalam menggiatkan dan membantu perkembangan rasa saling memiliki, rasa guyub dan rasa kebersamaan (handarbeni)
4 Apakah sejauh ini, lingkungan aktif dalam kegiatan membantu orang yang membutuhkan bantuan material, baik warga lingkungan maupun masyarakat umum sekitar.
5 Apakah sejauh ini, lingkungan aktif dalam kegiatan menjaga rasa kebangsaan, rasa persaudaraan, dan toleransi dengan masyarakat sekitar.
6 Apakah sejauh ini, lingkungan aktif dalam kegiatan sosial pemberdayaan, baik ekonomi atau budaya yang berdampak bagi masyarakat umum sekitar.

Maka, marilah kita evaluasi diri dan komunitas kita:

Penilaian komunitas* Pemandu dapat mengajak umat mengevaluasi sejauh mana lingkungan mempunyai daya ubah (transformatif) iman.Penilaian ini, dapat diberi tanda centang (V) pada kolom yang dimaksud. Pemandu diharapkan dapat merekap hasilnya lalu dimasukkan dalam Scan QR Code berikut ini, untuk masukan ke Keuskupan.

Untuk memperkaya pertemuan, hasil rekap juga dapat dinilai dengan ketentuan sebagai berikut:

  1. Aktif, mempunyai skor 6
    b. Biasa saja, mempunyai skor 3
    c. Kurang, mempunyai skor 0

 

Maka jika dijumlahkan, skor tertinggi yaitu 36, rentangnya dapat sebagai berikut:

  1. Skor 30 – 36, lingkungan menampakkan tanda-tanda BERDAYA
  2. Skor 18 – 29, lingkungan menampakkan tanda-tanda BIASA SAJA
  3. Skor 0 – 17, lingkungan menampakkan tanda-tanda LEMAH, KURANG BERSEMANGAT.
  1. Pendalaman Bersama

Pemandu dapat mengajak umat mengevaluasi sebagai berikut:

  1. Berdasarkan hasil penilaian lingkungan Anda? Bagaimanakah tanggapan Anda Bagikanlah pendapat Anda !
    b. Apa saja bentuk peran serta Anda dalam memperkembangkan lingkungan Anda ?
  2. Refleksi Kateketis dan Simpul Pertemuan

Pemandu dapat mengajak umat memperkaya dan meneguhkan refleksi pengalaman, hidup dengan melihat kembali Renungan bacaan masa Adven Pertama.

  1. Kutipan Kitab Suci

Pemandu mengajak umat menyimak bacaan Kitab Suci Roma 13: 11-14a

Hal ini harus kamu lakukan, karena kamu mengetahui keadaan waktu sekarang, yaitu bahwa saatnya telah tiba bagi kamu untuk bangun dari tidur. Sebab sekarang keselamatan sudah lebih dekat bagi kita dari pada waktu kita menjadi percaya. Hari sudah jauh malam, telah hampir siang. Sebab itu marilah kita menanggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan dan mengenakan perlengkapan senjata terang! Marilah kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati. Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus

  1. Renungan dan Simpul

Pendamping dapat menyampaikan point-point reflektif untuk memperkaya/ melengkapi pertemuan.

  • Bacaan Roma 13: 11-14a mengajak untuk mewujudkan dan menghidupi semangat baru dalam hidup kita. Sebuah semangat untuk memiliki daya ubah demi kemajuan diri dan komunitas di sekitar kita. Tentu, semua itu harus dimulai dengan “bangun dari segala keterkungkungan diri.”
  • Bagaimana kalau kita memang tertidur selama ini. Kita menjadi biasa saja, hanya sekedar begitu-begitu saja. Dalam arti ini, kita seperti yang diungkapkan Paulus, hanya “mengenakan pakaian yang biasa dan tertidur.”
  • Seorang penulis Lauren Winner, mengatakan bahwa secara diam-diam pakaian yang kita kenakan dapat mengungkapkan jati diri kita kepada orang lain. Apa yang kita kenakan dapat saja menunjukkan “semangat dan daya juang kita.” Pikirkanlah jika baju, seragam, atau celana yang kita kenakan untuk menyambut kedatangan Sang Raja Penyelamat, hanya biasa saja. Maka, Paulus mengajak untuk mengenakan baju “terang” dan “saatnya bangun dari tidur”
  • Hal itulah yang diingatkan oleh Paulus kepada jemaat di Roma. Paulus mengatakanbahwa jemaat harus bangun dari tidur, “hal ini harus kamu lakukan, karena kamu mengetahui keadaan waktu sekarang, yaitu bahwa saatnya telah tiba bagi kamu untuk bangun dari tidur”.
  • Pertumbuhan suatu komunitas atau lingkungan, sebenarnya tidak tergantung pada seberapa banyak sosok-sosok dominan yang ada dalam lingkungan tersebut. Namun kesediaan untuk belajar bersama, `Gereja yang belajar’ (ecclesia discens) itulah yang membuat suatu lingkungan itu bertumbuh dan berdaya ubah.
  • Hidupnya sebuah lingkungan akan ditandai dengan adanya “semangat” untuk selalu membarui diri yang didukung dengan adanya “kegiatan” yang selalu dilakukan sehingga menumbuhkan sebuah “gerakan” bersama sebagai perjuwudan iman. Tantangan beratnya, mampukah kita bangun dari tidur, bangun dari kemapanan demi pertumbuhan komunitas yang tidak hanya mendorong arah pertumbuhannya saja, namun menjadi wujud Gereja yang senantiasa berbenah. Meskipun perubahan itu begitu lambat dan pelan, Gereja senantiasa memiliki daya ubah yang dengannya semakin menjadi berkat untuk semua.
  • Panggilan kita sebagai umat di lingkungan-lingkungan merupakan panggilan yang khas (ex vocatione propria). Saatnya, mulai mengembangkan hidup menggereja yang berdialog dengan segala keprihatinan dunia dan masyarakat dewasa ini. Iman yang senantiasa terlibat untuk semakin menghadirkan sakramen keselamatan di tengah-tengah dunia dan keprihatinannya.
  1. Penegasan Bersama dan Penutup 
    Pemandu mengajak pribadi, keluarga atau lingkungan untuk membuat niat dan aksi-aksi nyata yang bisa dilaksanakan secara konkret oleh pribadi atau lingkungan!
  2. Pengendapan

Pemandu mengajak umat membuat pengendapan dengan hening sejenak dalam batin selama kurang lebih 5-10 menit. .

Ajakan untuk meresapkan secara batin pribadi:

Daya ubah macam apa yang akan kita lakukan dalam hidup di tengah lingkungan kita dan masyarakat?

Ajakan untuk berdoa:

Berdoalah agar Roh Kudus membantu kita dalam masa Adven ini, bangun dari keterlenaan diri kita. Kita harus bangun untuk menjadi Gereja yang senantiasa hadir di masyarakat. Berdoalah agar rahmat perutusan yang berdaya ubah terwujud dalam kehidupan kita.

Kita satukan dalam doa yang diajarkan Kristus sendiri yakni doa “Bapa Kami”.

  1. Doa Penutup

Bapa Mahkarya, kami bersyukur karena hari ini Engkau telah membawa kami bangun menjadi orang katolik yang berani hadir dan berdampak di tengah masyarakat. Terima kasih Bapa, Engkau telah membarui hidup kami dengan Roh Kudus-Mu sendiri melalui panggilan keselamatan yang telah kami terima. Semoga untuk hari-hari mendatang kami semakin berani membangun dan mewujudkan peradaban kasih di tengah masyarakat. Doa ini kami panjatkan, dalam Tuhan kami Yesus Kristus, Putra-Mu, yang hidup dan bertahta bersama Engkau dalam persekutuan dengan Roh Kudus, sekarang dan sepanjang segala masa. Amin.

  1. Nyanyian Penutup

Pemandu dapat mengajak peserta menutup pertemuan dengan lagu-lagu yang memberikan semangat terbuka bagi masyarakat sekitarnya.

 

Download Panduan Adven 2019 Disini

Renungan Mingguan 24 November 2019

renungan-mingguan

Sabda Tuhan Hari Ini 24 November 2019, Lukas 23:35-43

Doa: Tuhan Yesus, bukalah pintu hatiku. Bersabdalah, ya Tuhan, hamba-Mu mendengarkan.

 

Orang banyak berdiri di situ dan melihat semuanya. Pemimpin-pemimpin mengejek Dia, katanya, “Orang lain Ia selamatkan, biarlah sekarang Ia menyelamatkan diri-Nya sendiri, jika Ia adalah Mesias, orang yang dipilih Allah.”

Juga prajurit-prajurit mengolok-olokkan Dia; mereka mengunjukkan anggur asam kepada-Nya dan berkata, “Jika Engkau adalah raja orang Yahudi, selamatkanlah diri-Mu!” Ada juga tulisan di atas kepala-Nya, “Inilah raja orang Yahudi”.

Seorang dari penjahat yang digantung itu menghujat Dia, katanya, “Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami!” Tetapi yang seorang menegor dia, katanya, “Tidakkah engkau takut, juga tidak kepada Allah, sedang engkau menerima hukuman yang sama? Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah.”

Lalu ia berkata, “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.” Kata Yesus kepadanya, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.”

 

RAJA

Hari ini Gereja merayakan Hari Raya Tuhan Kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam. Perayaan ini ditetapkan oleh Paus Pius XI pada tahun 1925 pada setiap hari Minggu  terakhir bulan Oktober, menjelang  Hari Raya Semua Orang Kudus. Maksud utama perayaan ini sebagaimana tertuang dalam ensiklik “Quas Primas”, Paus sengaja melawan Atheisme dan Sekularisme pada masa itu dengan menampilkan Kristus sebagai yang lebih tinggi dan lebih berkuasa daripada segala kekuatan yang diunggulkan dunia ini.

Sejak tahun 1970 perayaan ini mengalami perubahan penekanan pada Kristus yang lebih bercorak eskatologis. Oleh karena itu, penempatan tanggalnya pun berubah, bukan lagi pada hari Minggu terakhir bulan Oktober, tetapi pada hari Minggu menjelang Hari Minggu I Adven. Jadi, jelas pula sebagai penutup Tahun Liturgi Gereja. Kristus adalah Alfa dan Omega.

Injil hari ini mengisahkan dua pihak yang memberikan pengakuan Yesus sebagai raja. Kelompok pertama adalah kelompok orang-orang terhormat, para pemimpin Yahudi, dan para prajurit. Mereka menyebut Yesus sebagai raja, dengan tujuan sebagai ejekan. Di atas salib-Nya pun tertulis “Inilah raja orang Yahudi”.

Sementara itu, pihak kedua adalah seorang penjahat yang disalibkan di sebelah Yesus. Ia dengan tulus mengakui Yesus sebagai raja, “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.” Pilih orang terhormat, atau penjahat? Bukan itu pilihannya, tetapi pilihannya adalah mengakui Yesus Kristus adalah Raja atau bukan. Secara yuridis atau verbal, kita orang Katolik mengakui Yesus adalah Raja. Tetapi, apakah pengakuan itu terwujud dalam praksis hidup kita?

Hari ini Gereja mengakhiri Tahun Liturgi dengan mengakui Yesus Kristus Raja Semesta Alam yang berkuasa menentukan penghakiman terakhir kita. Ini menjadi bekal penyerahan diri dan pertobatan, untuk dengan tulus dan hati makin terbuka memasuki masa Adven minggu depan. Kita membuka hati pada tawaran karya penyelamatan Allah yang sebentar lagi dihadirkan di tengah kita. Semoga kita siap menyambut-Nya apabila Ia datang menyapa. Semoga kita peka kalau kedatangan-Nya dalam rupa yang tak kita duga sebagaimana dikisahkan dalam bacaan hari ini. (warindra)

HUT Ke-95 Wanita Katolik Republik Indonesia

Di suatu pagi yang cerah pada tanggal 30 Juni 2019, terlihat beberapa ibu-ibu yang berdandan rapi turun dari kendaraannya di halaman parkir kampus Universitas Sanata Dharma Kampus 3 yang terletak di jalan Paingan , Maguwoharjo – Yogyakarta. Dengan menggunakan seragam biru-biru para ibu-ibu tersebut terlihat sangat ceria dan antusias sekali memasuki gedung kampus Fakultas Psikologi tersebut.

Dengan tertib mereka memasuki lift menuju aula kampus yang terletak di lantai 4 gedung tersebut. Di dalam ruangan sudah terpampang tulisan Hari Ulang Tahun Wanita Katolik Republik Indonesia ke 95.

Kelompok ibu-ibu tersebut ternyata merupakan para utusan dari seluruh cabang WKRI se-DIY yang bersama-sama hendak merayakan peringatan Hari Ulang Tahun Wanita Katolik Republik Indonesia ke-95 tahun. Sedangkan dari Paroki jetis sendiri mengirimkan 5 orang ibu sebagai wakil utusannya, yakni :

  1. Ibu F. Yuliana Sukarno
  2. Ibu Damiana Lilik Sumarti Priyadi
  3. Ibu NSS Caniscara Dewi
  4. Ibu Cypriana Krismiati
  5. Ibu Brigitta Sugianti

Acara perayaan ulang tahun tersebut yang bertemakan “Menegakkan Kehidupan Bermusyawarah Yang Bermartabat Dalam Rangka Merawat NKRI dan Kebhinekaan“ dimulai dengan menyanyikan lagu Hymne WKRI, Doa St. Anna dan dilanjutkan dengan perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Romo Andrianus Maradiyo Pr. dan Romo Yohanes Dwi Harsanto Pr.

Setelah Ekaristi selesai ibu-ibu Wanita Katolik kemudian menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, lagu Mengheningkan Cipta dan lagu Mars WKRI. Dimana kami dengan semangat dan hikmat menyanyikan lagu-lagu di atas.

Acara yang dimulai tepat pukul 7.40 WIB tersebut dilanjutkan dengan laporan-laporan serta sambutan-sambutan dari ketua pelaksana, ketua cabang Sleman, ketua DPD Presidium, sambutan pembina masyarakat Katolik dan sambutan dari wakil organisasi perempuan.

Adapun di tengah-tengah acara agar memberi warna yang berbeda, kemudian diselingi dengan hiburan dari anak-anak TK Indriyasana Ngemplak.

Acara perayaan Ulang Tahun tersebut juga dimeriahkan hiburan dari kelompok musik para Frater yang dipimpin oleh Romo Fancy dari Wisma Sang Penabur. Dimana kami para ibu dihibur dengan lagu-lagu tempo dulu yang dinyanyikan secara remix dan membuat ibu-ibu sontak ikut bernyanyi sambil tertawa dengan gembira.

Pada akhir sesi perayaan ulang tahun, dilakukan pemotongan tumpeng oleh Ibu Suwarni selaku Ketua DPD Presidium WKRI, Yogyakarta didampingi oleh para ketua cabang WKRI seluruh Yogyakarta. Acara pun dilanjutkan dengan penyerahan beasiswa kepada 10 anak TK Indriyasana se-Daerah Istimewa Yogyakarta.

Acara demi acara pada peringatan ulang tahun tersebut telah berlalu, semangat dan keceriaan para ibu-ibu WKRI masih terlihat dan akhirnya tepat pada pukul 12.00 WIB acara ditutup dengan menyanyikan lagu Padamu Negeri dan pembacaan Doa Penutup.

Selamat ulang tahun ke-95 WKRI !

 

Artikel & Foto oleh : Brigitta Sugianti

Kamu Harus Memberi Mereka Makan, Peringatan Hari Paroki Ke-54 St. Albertus Agung Jetis

Sebagai puncak Hari Ulang Tahun ke-54 Paroki St. Albertus Agung Jetis – Yogyakarta, diadakanlah ekaristi untuk memperingati hari ulang tahun paroki pada hari Minggu (17/11/2019) yang dipimpin secara konselebran Romo Vikep Kevikepan DIY, Romo Adrianus Maradiyo Pr. Bersama dengan romo Paroki St. Albertus Agung Jetis, Romo Vincentius Suparman Pr. serta Romo Ambrosius Heri Krismawanto Pr.

Doa bersama sebelum perayaan ekaristi
Panitia Menyambut Kedatangan Umat
Para Petugas Vandel Paroki

Sebelumnya panitia telah menyelenggarakan berbagai macam kegiatan yang sudah berjalan dengan baik, diantaranya Workshop Photocaption yang digagas oleh panitia bersama dengan tim kerja Komsos paroki. Kegiatan ini diadakan untuk mengajak remaja millenial supaya ikut bagian dalam mewartakan sukacita, kabar gembira dan injil dengan menggunakan media sosial yang dimilikinya.

Baca Juga : https://staging2.christina.my.id/satu-foto-sejuta-makna-workshop-photo-caption-2019/

Misdinar Paroki Jetis (PAPIXTO)
Petugas Perayaan Ekaristi

Selain itu juga diselenggarakan festival dolanan tradisional, supaya anak-anak dan keluarga tidak disibukkan melulu oleh gadget dan game online, sehingga mereka dapat mengenal pula berbagai jenis permainan tradisional. Untuk sekedar sejenak melupakan dunia online, berbaur, bermain bersama serta bertegur sapa dengan teman-teman di dalam permainan tradisional.

Tidak ketinggalan sebagai salah satu wujud syukur, diadakan acara kenduri, dengan tujuan menyapa masyarakat yang bertempat tinggal di sekitar lingkungan gereja serta mengajak mereka untuk ikut kenduri bersama, karena gereja hidup dan berada di tengah-tengah masyarakat, sekaligus untuk menjalin lintas iman dengan saudara kita yang beragama lain.

Baca Juga : https://staging2.christina.my.id/kenduri-menjelang-hari-paroki/

Dalam homilinya, Romo Adrianus Maradiyo Pr. menyambut baik bentuk-bentuk kegiatan yang telah dilaksanakan dalam rangka memeringati HUT Paroki St. Albertus Agung Jetis yang ke-54. Romo Maradiyo mengatakan,

”Umat Paroki Jetis di usianya yang ke-54 semakin matang dan dewasa terlibat dalam kehidupan di gereja maupun di tengah masyarakat.  Salah satunya adalah mulai gumregah terlibat dalam kehidupan menggereja ikut serta kerja bakti membersihkan lingkungan gereja.”

Usia paroki 54 tahun merupakan usia yang matang. Umat perlu dilibatkan, bukan hanya sebagian orang. Hal ini dapat dilihat dari pesta yang melibatkan seluruh umat di paroki. Petugas koor diambil dari 4 wilayah dan 20 lingkungan.

Diharapkan tema hari paroki yang diambil sungguh menggerakkan seluruh umat, kerelaan berbagi apa yang kita miliki akan tumbuh ketika kita peduli satu sama lain terutama kepada orang-orang yang sungguh membutuhkan bantuan. Kerelaan untuk berbagi  diyakini akan memberikan dampak tidak akan terjadi kelaparan. Wujud konkrit kepedulian kita sebagai umat. Ketika para murid menghadapi tantangan 5000 orang, Tuhan Yesus berkata, kamu harus memberi mereka makan.

Bagaimana kepedulian dibangun? Romo Maradiyo berucap, saya berikan sebuah contoh cerita.

Ada seorang pemuda yang masuk ke sebuah kampung, mengetuk pintu rumah seorang janda.

Pemuda : Ibu tolong saya, saya sudah 3 hari tidak makan. Saya kelaparan.

Ibu : Anak muda maaf sekali disini tidak ada makanan.

Ibu jangan khawatir, saya membawa tas kresek yang berisi sebuah batu ajaib. Saya hanya minta kepada ibu untuk menyediakan Tungku, Api dan, Dandang.

Saya akan masak dengan batu ajaib yang saya miliki ini. Silahkan ibu memberikan kabar sukacita kepada warga di kampung ini untuk datang bersama-sama menikmati masakan yang akan saya masak ini.

Disaat ibu tersebut keliling dari rumah ke rumah kemudian pemuda ini mulai menyalakan api dalam tungku dan memasak air yang dimasukkan ke dalam panci dan batu ajaib tersebut dimasukkan sembari terus diaduk-aduk sambil sesekali diicipi.

Pemuda tersebut kemudian berkata, Bapak ibu dan saudara-saudari terkasih masakan ini akan semakin enak kalau ditambah sayur. Siapa yang di rumahnya ada sayur silahkan dibawa kemari.

Lalu penduduk kampung itu mengatakan, saya punya pete, saya punya kacang panjang, saya punya wortel. Kemudian mereka membawanya ke rumah janda tersebut. Dimasukkan ke dalam panci besar itu dan mulai diaduk-aduk lagi.

Pemuda itu pun kembali mencicipi masakan tersebut. Ia berkata kembali, masakan ini sudah lezat, namun akan lebih lezat lagi kalau ditambah daging.

Kemudian ada yang mengatakan, saya punya ayam, saya punya daging kambing, dan lain-lain. Lalu sebagian dari mereka pulang ke rumahnya dan kembali dengan membawa daging-daging tersebut. Dimasukkan ke dalam panci dan diaduk kembali.

Setelah dicicipi, ia pun berkata. Bapak, ibu dan saudara-saudari masakan ini sudah siap untuk disantap, mari kita makan bersama-sama. Tetapi maaf disini tidak ada piring, silahkan bapak dan ibu pulang dahulu untuk mengambil piring dan jangan lupa diisi dengan buah dan nasi.

Akhirnya semua dijadikan satu dan mereka pun mulai makan sampai kenyang. Mereka mengatakan, baru kali ini kita makan bersama dan begitu menggembirakan. Siapa yang mempunyai ide ini?

Janda tersebut kemudian berkata, ada seorang pemuda yang mempunyai ide ini. Mana orangnya? Tanya salah seorang penduduk kampung. Pemuda itu dicari kemana-mana tetapi tidak ketemu. Hanya pemuda itu meninggalkan sebuah surat berbunyi :

Bapak, ibu dan saudara-saudari terkasih. Mohon maaf saya tidak bisa ikut makan bersama-sama tetapi saya meninggalkan batu ajaib itu untuk kampung ini. Silahkan kalau ingin selalu bergembira, masak batu ajaib ini bersama-sama seperti yang saya lakukan. Salam.

Lalu salah satu dari mereka bertanya kepada janda tersebut, siapa nama pemuda itu? Pergi ke mana dia?

Lalu mereka mendapatkan sebuah jawaban yang mencengangkan, pemuda itu adalah umat Paroki Jetis.. 😀

Pemotongan Tumpeng Sebagai Simbol Peringatan Hari Paroki Ke-54

Selesai mengikuti perayaan ekaristi, umat Paroki Jetis diajak untuk makan bersama nasi kuning yang telah disediakan oleh setiap lingkungan dilanjutkan dengan “rayahan” dua buah gunungan sayur dan buah di halaman parkir gereja.

Makan Bersama
Para Suster Ikut Merayakan HUT Paroki Jetis Ke-54
Rayahan Gunungan Sayur & Buah

Bersamaan pula dengan Hari Orang Miskin Sedunia yang akan diperingati pada tanggal 19 November mendatang, panitia telah mengundang umat sederhana untuk berwawan hati bersama Romo Vikep dan Romo Paroki, juga diberikan sembako sebagai wujud kepedulian gereja terhadap umat sederhana.

Selamat Ulang Tahun Paroki St Albertus Agung Jetis Yogyakarta yang ke-54 !

Umat Paroki Jetis
Wawan Hati Dengan Romo Vikep

Galeri Foto Klik Disini

 

Artikel oleh : Agustinus Suseno & Frans

Foto oleh : Panitia Hari Paroki & Tim Komsos Jetis

Renungan Mingguan 17 November 2019

Sabda Tuhan Hari Ini 17 November 2019, Lukas 21:5‐19

Sekali peristiwa ketika beberapa orang berbicara tentang Bait Allah dan mengagumi bangunan yang dihiasi dengan batu yang indah‐indah dan dengan berbagai barang persembahan, berkatalah Yesus, “Akan datang harinya segala yang kamu lihat di situ diruntuhkan, dan tidak akan ada satu batu pun dibiarkan terletak di atas batu yang lain.”

Lalu murid‐murid bertanya kepada Yesus, “Guru, bilamanakah itu akan terjadi? Dan apakah tandanya, kalau itu akan terjadi?” Jawab Yesus, “Waspadalah, jangan sampai kamu disesatkan. Sebab banyak orang akan datang dengan memakai nama‐Ku dan berkata ‘Akulah Dia’ atau ‘Saatnya sudah dekat.’ Janganlah kamu mengikuti mereka.

Dan bila kamu mendengar tentang perang dan pemberontakan, janganlah kamu terkejut. Sebab semuanya itu harus terjadi dahulu, tetapi itu tidak berarti kesudahannya akan datang segera.” Kemudian Yesus berkata kepada mereka, “Bangsa akan bangkit melawan bangsa dan kerajaan melawan kerajaan. Akan terjadi gempa bumi yang dahsyat, dan di berbagai tempat akan ada penyakit sampar dan kelaparan. Dan akan terjadi juga hal‐hal yang mengejutkan dan tanda‐tanda yang dahsyat dari langit.

Tetapi sebelum semuanya itu kamu akan ditangkap dan dianiaya. Karena nama‐Ku kamu akan diserahkan ke rumahrumah ibadat, dimasukkan ke dalam penjara, dan dihadapkan kepada raja‐raja dan para penguasa. Hal itu akan menjadi kesempatan bagimu untuk bersaksi. Sebab itu tetap teguhlah di dalam hatimu, jangan kamu memikirkan lebih dahulu pembelaanmu. Aku sendirilah yang akan memberikan kamu kata‐kata hikmat, sehingga kamu tidak dapat ditentang atau dibantah lawan‐lawanmu.

Kamu akan diserahkan juga oleh orangtuamu, saudara‐saudaramu, kaum keluarga dan sahabat‐sahabatmu, dan beberapa orang di antara kamu akan dibunuh; karena nama‐Ku kamu akan dibenci semua orang Tetapi tidak sehelai pun dari rambut kepalamu akan hilang. Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu.”

Demikianlah Injil Tuhan.

 

Renungan

Dalam Injil hari ini Yesus memberitahukan kepada para murid‐Nya bagaimana Ia akan menderita dan para murid juga akan mengalami hal yang sama karena mereka beriman kepada Yesus. Oleh karena itu, mereka juga harus siap untuk menderita. Yesus menasihati agar mereka tidak berkecil hati, apalagi takut, karena Ia akan memberikan kata‐kata hikmat dan mereka tetap hidup jika tetap bertahan dalam iman kepada‐Nya.

Dalam hidup ini, kesulitan akan selalu ada. Namun sebagai orang beriman, berbagai kesulitan yang kita hadapi dapat kita pandang sebagai kesempatan untuk lebih dekat dengan Tuhan, menjadi peluang bagi kita untuk tumbuh dan berkembang dalam iman. Jika kita senantiasa bersama dengan Tuhan, kita tidak akan dibelenggu oleh masalah, tetapi justru dapat menguasai masalah; tidak mudah berpikiran pendek, tetapi dengan hati tenang dan akal budi yang jernih mencari solusi.

Daya tahan dan kemampuan kita terbatas, tetapi jika kita selalu menggunakan iman kita dalam setiap menghadapi masalah, Tuhan akan senantiasa mengisi energi kita dan menumbuhkan kembali semangat dan harapan kita

Allah yang mahabaik, semoga aku selalu dapat bertahan dalam iman ketika kesulitan hidup datang dan tetap menjadi anak‐Mu yang bijak dalam mencari jalan keluar yang cepat. Amin.

 

Sumber renungan: Ziarah Batin 2019, OBOR Indonesia

Kenduri Menjelang Hari Paroki Ke-54 St. Albertus Agung Jetis

Menjelang Hari Paroki yang menandakan bertambahnya usia gereja pada tanggal 15 November 2019, Paroki St. Albertus Agung – Jetis, Yogyakarta menyelenggarakan acara kenduri untuk mengucap syukur atas bertambahnya usia gereja menjadi 54 tahun. Acara kenduri dihadiri oleh tidak kurang dari 50 orang, dari berbagai kalangan usia yang didominasi oleh para pini sepuh dan pemuda-pemudi.

Dalam acara kenduri, panitia Hari Paroki mengundang warga yang bertempat tinggal di sekitar Gereja St. Albertus Agung – Jetis untuk hadir dan turut merasakan kebahagiaan gereja. Bertindak sebagai pembicara dan pemimpin doa yaitu Bapak Muh. Burhanuddin.

Bapak Muh. Burhanuddin juga menyampaikan dalam sambutannya bahwa dalam hidup kita perlu banyak bersyukur karena Allah Sang Maha Pemberi selalu mencukupkan umatnya. Dengan bersyukur dan memberi, rejeki yang berlimpah juga akan diberikan oleh Tuhan Sang maha Pengasih.

Tema Hari Paroki St. Albertus Agung yang ke-54 adalah “Kamu Harus Memberi Mereka Makan”, dan ini diwujudkan dengan memberikan sembako kepada warga yang diundang.  Kenduri ini juga menjadi jalinan Silaturahmi antara gereja dengan warga di sekitar gereja.

Setelah kenduri pada hari ini, selanjutnya pada hari Minggu nanti tanggal, 17 November 2019, akan diselenggarakan puncak perayaan ekaristi Hari Paroki yang akan dipimpin secara konselebran bersama romo Vikep Kevikepan DIY, Romo  Andrianus Maradiyo Pr., romo Paroki St. Albertus Agung Jetis, Romo Vincentius Suparman Pr., dan Romo Ambrosius Heri Krismawanto Pr.

 

Foto oleh : Komsos Paroki Jetis

Artikel oleh : Agustinus Suseno & Frans

Kunjungan Kelompok Doa Kerahiman Ilahi Paroki Banyutemumpang

Ada kerinduan yang mendalam dari kelompok Doa Kerahiman Ilahi Paroki St. Kristoforus Banyutemumpang, Sawangan – Magelang untuk bertemu dengan romo Vincentius Suparman, Pr. yang saat ini menjadi romo Paroki St. Albertus Agung Jetis Yogyakarta.

Untuk mengobati kerinduan tersebut, maka pada hari Sabtu (9/11/2019) kelompok Doa Kerahiman Ilahi dari paroki St. Kristoforus Banyutemumpang sejumlah 200 an umat, hadir di paroki Jetis, untuk ber-wawan hati dengan romo Vincentius Suparman, Pr.

Kehadiran mereka di paroki Jetis disambut dengan hangat oleh kelompok Doa Kerahiman Ilahi dan Dewan Paroki St Albertus Agung Jetis.

Saat wawan hati dengan romo Parman, para anggota Doa Kerahiman Illahi Paroki Banyutemumpang berkesempatan untuk bernostalgia, kembali ke masa tahun 2016 saat kelompok Doa Kerahiman Ilahi ini di bentuk oleh romo Parman.  Semangat para anggota untuk bertemu dan berdevosi sangat luar biasa walapun secara geografis dan jarak bisa dikatakan naik turun dan berjauhan.

Ada kesempatan pada wawan hati ini anggota Doa Kerahiman Ilahi berbagi pengalaman dan kesaksian menjadi anggota dari Doa Kerahiman Ilahi.

Acara kemudian dilanjutkan dengan perayaan ekaristi dan ditutup dengan makan bersama.

 

Galeri foto Klik disini

Foto & Artikel Oleh : Agustinus Suseno

Renungan Mingguan 10 November 2019

Sabda Tuhan Hari Ini 10 November 2019, Lukas 20:27.34-38

Doa: Tuhan Yesus, bukalah pintu hatiku. Bersabdalah, ya Tuhan, hamba-Mu mendengarkan.

 

Maka datanglah kepada Yesus beberapa orang Saduki, yang tidak mengakui adanya kebangkitan. Mereka bertanya kepada-Nya: “Guru, Musa menuliskan perintah ini untuk kita: Jika seorang, yang mempunyai saudara laki-laki, mati sedang isterinya masih ada, tetapi ia tidak meninggalkan anak, saudaranya harus kawin dengan isterinya itu dan membangkitkan keturunan bagi saudaranya itu.

Adalah tujuh orang bersaudara. Yang pertama kawin dengan seorang perempuan lalu mati dengan tidak meninggalkan anak. Lalu perempuan itu dikawini oleh yang kedua, dan oleh yang ketiga dan demikianlah berturut-turut oleh ketujuh saudara itu, mereka semuanya mati dengan tidak meninggalkan anak. Akhirnya perempuan itupun mati.

Bagaimana sekarang dengan perempuan itu, siapakah di antara orang-orang itu yang menjadi suaminya pada hari kebangkitan? Sebab ketujuhnya telah beristerikan dia.”

Jawab Yesus kepada mereka: “Orang-orang dunia ini kawin dan dikawinkan, tetapi mereka yang dianggap layak untuk mendapat bagian dalam dunia yang lain itu dan dalam kebangkitan dari antara orang mati, tidak kawin dan tidak dikawinkan.

Sebab mereka tidak dapat mati lagi; mereka sama seperti malaikat-malaikat dan mereka adalah anak-anak Allah, karena mereka telah dibangkitkan. Tentang bangkitnya orang-orang mati, Musa telah memberitahukannya dalam nas tentang semak duri, di mana Tuhan disebut Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub. Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Dia semua orang hidup.”

 

KEBANGKITAN

Misteri kebangkitan, menjadi bagian tersulit bagi saya untuk memahami iman Katolik. Ajaran Yesus tentang kebangkitan ini ternyata juga menyulitkan sebagian kelompok Yahudi, seperti beberapa orang Saduki dalam bacaan hari ini. Pada dasarnya, mereka tidak mengakui adanya kebangkitan. Maka, tendensi pertanyaan mengenai kebangkitan ini bisa dicurigai sekadar untuk mencobai atau mempermainkan Yesus. Tetapi, permasalahan yang diajukan memakai rujukan serius yakni Hukum Musa.

Sebagai Filosofan, saya pikir permasalahan kebangkitan ini bukan sekadar persoalan diskusi filsafat mengenai kekekalan jiwa. Orang-orang Yahudi memang tidak terlatih menggeluti filsafat, meski ilmu ini diperlukan untuk memahami bagaimana jiwa yang tidak dapat mati bisa hidup terus tanpa badan. Tetapi bukan itu soalnya, bagi mereka ini lebih persoalan teologis. Maka, dalam bacaan hari ini Yesus tidak mengutip tradisi-tradisi kebijaksanaan Yahudi lainnya selain dari Taurat Musa. Yesus persis menggunakan rujukan yang mereka pakai.

Karena itulah mereka merasa jawaban Yesus ini mengena. Kalau Allah itu hidup, maka mereka yang dikasihi-Nya mesti diberi-Nya hidup pula. Sifat tidak dapat mati itu tidak terletak dalam sifat jiwa yang rohani, melainkan pertama-tama terletak dalam cinta Allah kepada semua orang. Cinta itulah yang kekal dan menghidupkan.

Misteri kebangkitan ini menjadi makin terang dalam pengalaman kebangkitan Yesus sendiri. Yesus dialami sebagai hidup oleh orang-orang yang dicintai dan mencintai-Nya. Cinta akan Yesus inilah yang akan menjamin kebangkitan Yesus dan membangkitkan kita juga untuk hidup kekal bersama-Nya selamanya. (warindra)

Satu Foto Sejuta Makna, Workshop Photo Caption 2019

Aula Paroki St. Albertus Agung Jetis, 03 November 2019

Hari Paroki atau Hari Ulang Tahun Paroki Jetis hanya dalam hitungan minggu lagi. Dalam rangka Hari Paroki tersebut, Paroki St. Albertus Agung Jetis menggelar sebuah workshop bertajuk Photo Caption.

Workshop ini diadakan bagi umat Paroki Jetis dengan tujuan memberikan pelatihan bagaimana membuat caption (baca : narasi) yang sesuai bagi foto yang seringkali kita kirim terutama di social media dan melalui aplikasi untuk berkomunikasi seperti WhatsApp dan sejenisnya.

Mungkin kita sering mengalami adanya pribadi yang mengirim pesan dalam grup atau secara japri (jalur Pribadi) berupa gambar/foto tanpa tulisan sama sekali. Tentu kita akan kebingungan karena tidak mengetahui apa maksud atau tujuan dari gambar/foto tersebut. Nah, untuk itulah pelatihan ini dibuat.

Setelah dibuka dengan doa bersama yang dipimpin oleh mas Deo, kemudian workshop dengan durasi setengah hari ini dibawakan oleh mas Eri dari Komsos Kevikepan DIY yang berasal dari Paroki Boro.

Penyelenggaraan acara dilakukan di aula Paroki, dengan jumlah kehadiran umat sekitar 30 peserta dari berbagai kalangan usia. Para peserta ini berasal dari berbagai lingkungan dalam lingkup Paroki St. Albertus Agung Jetis.

Seperti yang telah disampaikan, perhelatan ini merupakan salah satu rangkaian dari kegiatan umat Paroki St. Albertus Agung Jetis menyambut Hari Ulang Tahun Paroki yang ke-54 tahun, dan dapat terselenggara dengan baik berkat bantuan dari rekan-rekan Komisi Komsos Kevikepan DIY serta Panitia Hari Paroki ke-54.

Materi yang dibawakan memberikan banyak pengalaman baru bagi peserta dalam mengambil foto yang baik, memiliki makna dan membuat caption yang menjelaskan maksud yang ingin disampaikan oleh foto tersebut.

Para peserta pun diberikan kesempatan untuk mencoba membuat karyanya masing-masing yang kemudian dievaluasi bersama. Bukan untuk menilai baik-buruk maupun benar-salahnya namun bersma-sama mengevaluasi agar dapat menghasilkan karya yang lebih baik lagi.

Berikut ini hasil karya dari beberapa peserta Workshop Photo Caption 2019 Paroki St. Albertus Agung Jetis :

Workshop diakhiri pada pukul 12.00 siang setelah doa penutup dan foto bersama.

Galeri FOTO Klik Disini

Terima kasih Komsos Kevikepan DIY !

Renungan Mingguan 3 November 2019

Sabda Tuhan Hari Ini 3 November 2019, Lukas 19:1-10

Doa: Tuhan Yesus, bukalah pintu hatiku. Bersabdalah, ya Tuhan, hamba-Mu mendengarkan.

 

Yesus masuk ke kota Yerikho dan berjalan terus melintasi kota itu. Di situ ada seorang bernama Zakheus, kepala pemungut cukai, dan ia seorang yang kaya. Ia berusaha untuk melihat orang apakah Yesus itu, tetapi ia tidak berhasil karena orang banyak, sebab badannya pendek.

Maka berlarilah ia mendahului orang banyak, lalu memanjat pohon ara untuk melihat Yesus, yang akan lewat di situ. Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata: “Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu.” Lalu Zakheus segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita.

Tetapi semua orang yang melihat hal itu bersungut-sungut, katanya: “Ia menumpang di rumah orang berdosa.” Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan: “Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.” Kata Yesus kepadanya: “Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang ini pun anak Abraham. Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.”

 

ZAKHEUS

Zakheus (Zakhaios, Yun) berasal dari nama Ibrani yang indah Zakai yang berarti orang yang murni. Bisa juga nama itu berarti “orang yang benar”. Kebenaran atau kecocokan nama itu dengan penyandangnya barulah ditemukan di akhir kisah bacaan hari ini.

Sebelumnya, amat tak cocok. Ia seorang kepala pemungut cukai di kota yang amat strategis, Yerikho. Karyawan yang bekerja pada pemerintah Roma ini bisa dibayangkan seberapa harta kekayaannya. Kendati begitu, ia merasa hidupnya tak nyaman, dirinya tak bahagia! Karenanya, ia mengamati dan hanyut dalam hot issue yang berhembus saat itu. Ia sudah banyak mendengar tentang Yesus, yang beritanya bergemuruh dibicarakan orang. Ia jadi ingin tahu dan ingin menjajagi prospeknya.

Karena itulah, saat didengarnya orang berbondong-bondong menyongsong Yesus yang masuk ke kota Yerikho, ia tak ketinggalan. Bahkan, ia rela merendahkan diri main panjat pohon murbei (sykaminos, Yun), bukan ara (“syke_, Yun). Pohon murbei ini dahannya pendek-pendek dan cabangnya terentang lebar, memudahkan orang tak berpengalaman untuk memanjatnya.

Di mata Yesus semua itu merupakan langkah-langkah awal intensi pemurniannya. Dalam Hukum, kemurnian memang dituntut dari semua ciptaan, termasuk manusia dengan menghampiri Allah yang kudus. Semoga keterbukaan ini juga menggerakkan kita untuk terbuka pada tawaran belas kasih Allah, peka akan tawaran-tawaran penyelamatan Allah, dan berani selalu mengevaluasi diri untuk menjadi lebih baik sebagai pengikut Kristus.

(warindra)

You cannot copy content of this page