Warta Alumni KPP Jetis, Melayani Sampai ke Rutan

Sebagai salah satu bentuk dari pewartaan kabar suka cita Injil, pada hari Selasa, 29 Oktober 2019, Alumni Kursus Penginjilan Pribadi (KPP) St. Albertus Agung Jetis berkesempatan melayani di Rumah Tahanan (Rutan) Yogyakarta. Bentuk pelayanan yang kami lakukan adalah mengadakan ibadat sabda bersama  warga binaan (wabin) yang ada di Rutan Yogyakarta yang beragama Kristen dan Katolik. Adapun  jumlah  yang mengikuti ibadat sabda yang kami adakan sebanyak 15 orang wabin ditambah 5 orang dari kami  Alumni KPP Jetis.

Pelayanan kami Alumni KPP Jetis kali ini merupakan yang pertama kami lakukan sedangkan pelayanan serupa  sudah dilakukan pula oleh beberapa komunitas Katolik secara bergilir seminggu sekali. Grup- grup komunitas ini terdiri dari 4-5 orang dan tergabung dalam komunitas  Maximilianus Maria Kolbe (MMK). Nama komunitas  pelayanan di Rutan Yogyakarta ini diambil dari nama santo pelindung para tahanan. Santo Maximilianus Maria Kolbe adalah santo yg juga seorang martir, yg menggantikan hukuman mati seorang tahanan yg tdk ia kenal di kamp konsentrasi Nazi, Auschwitz, Austria. Semangat utk mengasihi semua orang termasuk para warga binaanlah yg menjadi spirit komunitas yg tergabung dlm MMK.

Selain dikoordinir oleh MMK pelayanan di Rutan Yogyakarta juga didampingi oleh Kantor Departemen Agama Yogyakarta melalui petugasnya Ibu Felicitas Tiwik, yg kebetulan jg berasal dari Paroki St. Albertus Agung Jetis.

Ibadat sabda yg dipimpin oleh Alumni KPP Jetis mengambil tema: “Roh Kudus Sebagai Penolong Dalam Hidup Kita”. Dalam ibadat sabda tersebut juga diadakan sharing iman yang mengajak wabin untuk turut serta ambil bagian mengemukakan atau berbagi pengalaman iman mereka.  Beberapa wabin tampak bersemangat membagikan cerita pengalaman iman mereka, sesekali disertai canda yang memancing tawa kami semua, sementara yang lain ada yang merasa malu untuk sharing dan hanya mendengarkan saja. Namun demikian tampak mereka semua sangat bersukacita dan bersemangat mengikuti jalannya ibadat dan sharing iman. Ibadat berjalan dengan lancar dan hidup dengan sharing yang disampaikan wabin dan juga dari kami, terlebih juga didukung dengan lagu-lagu pujian yang kami nyanyikan bersama.

Semoga tujuan kami mengadakan kunjungan pelayanan dengan berdoa bersama ini bisa dirasakan buahnya oleh para wabin, setidaknya semoga bisa menguatkan iman mereka. Sedangkan bagi kami sendiri,  mengunjungi mereka merupakan kesempatan yang berharga,  dengan memandang mereka sebagai sesama, sebagai saudara, sungguh, kita jadi saling menguatkan.

Semoga melalui pendalaman iman yg dibawakan oleh Alumni KPP Jetis para warga binaan dikuatkan imannya dalam menghadapi semua peristiwa hidupnya, biarlah semuanya dipersembahkan demi kemuliaan Tuhan semata.

 

Laskar Kristus..yesss, KPP Jetis…siap diutus.

Amin

Berkah Dalem

 

Ditulis oleh: Rosalia Wisudaningrum

Misa Penutupan Bulan Rosario, Mensyukuri Berkat Bunda Maria

jadwal misa online hari ini

Tanpa terasa bulan Rosario sudah berakhir, satu bulan penuh di Oktober umat paroki St. Albertus Agung Jetis – Yogyakarta mendaraskan Novena dan Rosario kepada Bunda Maria.

Sebelumnya di awal bulan Oktober 2019, telah diselenggarkan perayaan ekaristi pembukaan Rosario, yang diawali dengan doa Rosario dilanjutkan dengan prosesi perarakan patung Bunda Maria menuju ke dalam gereja.

Umat St. Albertus Agung Jetis

Baca juga : Perayaan Ekaristi Pembukaan Rosario Bulan Oktober 2019

Misa penutupan bulan Rosario yang diselenggarakan pada Kamis sore (31/10/2019), dipimpin oleh romo Vincentius Suparman, Pr.  Umat dengan antusias hadir pada perayaan ekaristi ini, seperti halnya saat misa pembukaan, pada misa penutupan ini umat yang hadir memenuhi seluruh tempat duduk di dalam dan luar gereja.

Umat St. Albertus Agung Jetis

Dalam homilinya romo Parman menyampaikan bahwa dengan melaksanakan doa Rosario selama satu bulan penuh di lingkungan merupakan wujud kesetiaan dalam kebersamaan dan berbagi berkat.

Romo Parman In Frame

Setelah penerimaan komuni, beberapa perwakilan dari umat di panggil ke depan untuk menerima tumpeng dari romo Vincentius Suparman, Pr, sebagai wujud syukur atas terlaksananya rangkaian prosesi selama bulan Rosario.  Sebelum memberikan berkat penutup, romo Parman mengajak umat yang hadir, setelah perayaan ekaristi bersama-sama menikmati hidangan yang telah disediakan di aula gereja.

Romo Parman Potong Tumpeng
Bapak Ibu & Muda-Mudi Perwakilan Umat

Misa di tutup dengan berkat dan dilanjutkan dengan iring-iringan umat pembawa vandel lingkungan menuju aula gereja.

Para Pembawa Vandel Lingkungan

Umat dengan tertib memasuki aula untuk bersama-sama menikmati pincuk nasi dan gudangan yang telah disediakan.  Itulah wujud kebersamaan umat paroki St. Albertus Agung Jetis dalam mensyukuri berkat dari Bunda Maria.

Pesta Umat
Wujud Nyata ME
Behind The Scene
Pesta Umat St. Albertus Agung Jetis
Kelompok Koor

Salam KOMSOS !

>>> Galeri foto KLIK DISINI <<<

 

Foto & Artikel oleh : Agustinus Suseno

Renungan Mingguan 27 Oktober 2019

Sabda Tuhan Hari Ini 27 Oktober 2019,  Lukas 18:9-14

Doa: Tuhan Yesus, bukalah pintu hatiku. Bersabdalah, ya Tuhan, hamba-Mu mendengarkan.

 

Dan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain, Yesus mengatakan perumpamaan ini: “Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”

 

DIBENARKAN ALLAH

Untuk siapakah keselamatan yang ditawarkan Allah? Semua orang yang merasa menanggapi tawaran itu, tentu mengharapkan mendapatkannya. Apakah itu akan diberikan kepada pemuka agama seperti Imam, Bruder, Suster, Prodiakon, Katekis, Evangelizer, aktivis Gereja? Belum tentu. Mungkin, untuk koruptor yang merugikan masyarakat. Begitulah lebih kurang kisah perumpamaan Yesus dalam konteks zaman kita sekarang. Tentu saja ada penjelasannya.

Orang yang menggeluti agama dalam hidupnya sehari-hari, menjadi pemimpin agama, menjalankan hukum agama lebih keras dari orang awam kebanyakan, belum tentu dinilai sebagai benar oleh Allah. Sebaliknya, orang yang dianggap berdosa oleh masyarakat, merugikan masyarakat, korup, tidak setia pada hukum agama, mengabdi orang kafir, malah bisa dikenan oleh Allah. Itulah yang disampaikan oleh Yesus melalui perumpamaan mengenai sikap orang Farisi dan pemungut cukai.

Perumpamaan Yesus ini melanjutkan gagasan Lukas sebelumnya bahwa Allah peduli pada orang kecil, kaum hina, dan tersingkir dalam masyarakat. Orang Farisi yang merasa dirinya benar akan ditolak. Apa yang diucapkannya di Bait Allah itu bukan doa, melainkan sederetan kesombongan. Boleh jadi ia memang melakulan semua yang diucapkannya. Namun, yang menjadikan sombong adalah sikap hati seakan-akan Allah membutuhkan semua yang ia lakukan itu. Lebih jauh, ia merasa Allah membutuhkan dirinya untuk semua itu. Dalam pemahaman inilah, siapa pun kita baik Imam, Bruder, Suster, Prodiakon, Katekis, Evangelizer, aktivis Gereja  tidak dibenarkan Allah.

Sebaliknya, pemungut cukai itu justru membutuhkan Allah untuk dirinya. Ia menyerahkan dirinya dalam limpahan belas kasih Allah. Dengan sikap penyerahan diri ini, siapa pun dia kendati mendapat label pendosa publik, akan dibenarkan Allah. Soal menyerahkan diri pada Allah, bukankah ini yang dimaksud dengan sikap iman? Beriman, seturut Konstitusi Dogmatis Dei Verbum 6, adalah menyerahkan diri seutuhnya kepada Allah.

Semoga, bukan hanya sepulang dari gereja, tetapi juga dalam segala perkara dalam hidup kita, kita keluar sebagai pemenang, sebagai orang yang dibenarkan oleh Allah. (warindra)

Paguyuban Prodiakon Jetis Goes to Banyumanik

Burung berkicau di Minggu pagi yang sangat cerah, di halaman parkir Harjo (Baca: Harian Jogja) terlihat dipenuhi oleh berbagai kendaraan kecil dan besar.

Menuju Banyumanik

Hari ini Paguyuban Prodiakon Jetis hendak mengadakan acara anjangsana ke Paroki St. Maria Fatima – Banyumanik, Semarang.

Selain anjangsana, para prodiakon Jetis juga mengadakan temu kangen dengan Romo Bono yang pernah menjabat sebagai Romo Paroki Jetis.

Romo Bono

Kami tiba sekira pukul 11.00 siang, langsung berjabatan tangan dengan para prodiakon dari Paroki St. Maria Fatima – Banyumanik di pintu gerbang gereja. Kemudian kami diterima dan disambut dengan ramah di dalam Gedung Darmojoewono.

Setelah menikmati snack sejenak, acara dimulai dengan perkenalan para pengurus dan anggota dari masing-masing paroki. Dimulai dengan Paroki Banyumanik kemudian Paroki Jetis.

Perkenalan dan Sambutan Prodiakon Jetis oleh Bapak Sarwono

Beberapa saat setelah perkenalan, ada pemaparan mengenai kondisi dan tata cara bertugas di masing-masing paroki. Disampaikan bahwa Paroki Banyumanik memiliki statistik jumlah prodiakon sebanyak 78 orang (lama 43 orang, baru 35 orang), dengan kebutuhan prodiakon 42 orang setiap misa mingguan. Begitu pula dengan Paroki Jetis memiliki statistik jumlah prodiakon periode sebelumnya sebanyak 54 orang (44 putra, 10 putri). Sedangkan saat ini berkisar antara 76-80 orang.

Bicara tentang statistik terkadang membuat mengantuk, maka dari itu kami kemudian mengisi acara dengan kesaksian dari masing-masing prodiakon. Ada 4 prodiakon yang mengisi kesaksian tersebut yaitu :

  1. Bapak Unggul Kristiawan (Paroki Jetis)
  2. Bapak Triyatmo (Paroki Jetis)
  3. Bapak Yustinus Dwiharto (Paroki Banyumanik)
  4. Bapak Yustinus Mujiyono (Paroki Banyumanik)

Kesemua prodiakon tersebut dengan kompak menyatakan adanya sukacita dan berkat serta karunia yang sangat besar dengan menjadi prodiakon paroki. Bahkan ada yang mengalami keajaiban karena disembuhkan dari penyakit kanker yang cukup berat sebelum memutuskan menjadi prodiakon. Tuntunan serta petunjuk dari roh kudus tak jarang juga mengisi cerita mereka.

Kesaksian oleh Bapak Unggul Kristiawan

Keakraban kami terhenti sejenak untuk berdoa Malaikat Tuhan ketika jam menunjukkan pukul 12.00 siang, kemudian dilanjutkan kembali dengan kesaksian para prodiakon di atas.

Pukul 12.30 siang kami santap siang bersama, menu nasi liwet menghiasi makan siang kali ini.

Santap siang bersama

Setelah santap siang bersama, kemudian ada pembekalan yang diberikan oleh Romo Bono kepada para prodiakon. Namun sampai saat hendak disampaikan, materinya masih amat rahasia.

Materi yang kemudian disampaikan oleh Romo Bono untuk menguatkan iman para prodiakon adalah mengenai keteladanan Yesus.

Romo Bono Memaparkan Mengapa Kita Harus Meneladan Yesus

 

Kenapa kita harus mengikuti dan meneladani Yesus ?

Menurut Romo Bono dan berdasarkan fakta yang tercantum dalam Alkitab, karena ada 7 kelebihan Yesus dibandingkan manusia lainnya, yaitu :

  1. Dia Hebat – Superpower, Dia mampu mengadakan macam-macam mukjizat, Dia mampu menghidupkan orang mati yang sudah 4 hari.
  2. Dia Baik – Mati tanpa memiliki apa pun.
  3. Dia bangkit dari mati – ada saksinya.
  4. Dia naik ke sorga – ada saksinya.
  5. Dia berjanji – pada waktu ajal akan menjemput kita dan membawa kita ke tempat yang telah disediakan (Yoh 14:2-3)
  6. Menjadi hakim dalam pengadilan terakhir (Mat 25, Al Nisa 157, 163, 171, 172)
  7. Dia berjanji – menyertai kita dalam kondisi apa saja, dimana saja dan kapan saja (Mat 28:20)

Acara ditutup dengan pemberian buah tangan dan kenang-kenangan dari Paguyuban Prodiakon Paroki Jetis kepada Prodiakon Paroki Banyumanik dan sebaliknya.

Pemberian Kenang-Kenangan Dari Paroki Banyumanik
Pemberian Kenang-Kenangan Dari Paroki Jetis

Doa bersama yang dipimpin oleh suster dari Paroki Jetis mengakhiri kebersamaan kami pada siang hari ini. Tak lupa pula foto bersama untuk mengabadikan kenangan dan momen spesial pada hari ini.

 

Penulis : Frans

Foto : Deni & Frans

Renungan Mingguan 20 Oktober 2019

Sabda Tuhan Hari Ini 20 Oktober 2019,  Lukas 18:1-8

Doa: Tuhan Yesus, bukalah pintu hatiku. Bersabdalah, ya Tuhan, hamba-Mu mendengarkan.

 

Yesus mengatakan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan, bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu.

Kata-Nya: “Dalam sebuah kota ada seorang hakim yang tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorangpun. Dan di kota itu ada seorang janda yang selalu datang kepada hakim itu dan berkata: Belalah hakku terhadap lawanku. Beberapa waktu lamanya hakim itu menolak. Tetapi kemudian ia berkata dalam hatinya: Walaupun aku tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorangpun, namun karena janda ini menyusahkan aku, baiklah aku membenarkan dia, supaya jangan terus saja ia datang dan akhirnya menyerang aku.”

Kata Tuhan: “Camkanlah apa yang dikatakan hakim yang lalim itu! Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka? Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan mereka. Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?”

 

MENJAWAB DOA

Bacaan hari ini bisa menimbulkan ketidakjelasan dasar pengabulan doa. Sebenarnya, Allah mengabulkan doa atas dasar apa? Mungkin selama ini banyak orang, termasuk saya, berpendapat bahwa Allah mengabulkan doa-doa kita karena ia mencintai kita. Atau, juga karena ia berbelas kasih kepada kita. Tetapi, bacaan hari ini menyajikan perumpamaan yang bisa ditafsirkan berbeda.

Dari perumpaan tentang hakim yang tidak benar ini spontan saya beranggapan bahwa bisa saja Allah mengabulkan doa saya bukan oleh karena ia mencintai atau berbelas kasih, tetapi sebenarnya hanya karena risih, atau brebeg (Jw) mendengarkan doa saya. Atau, saya justru telah dianggapnya nggriseni (Jw) dengan doa-doa itu. Karenanya, daripada terganggu, lebih baik Allah lalu mengabulkan doa saya agar gangguan itu berhenti.

Begitukah? Rasa-rasanya kok ada ketidakrelaan mau mengambil kesimpulan begitu. Masa Allah begitu…. Tetapi, kalau tidak begitu, perumpamaan itu mesti diartikan bagaimana? Barangkali, waktu itu Yesus sekadar mengambil contoh ekstrem untuk memberi tekanan pada pesan utamanya. Apa pesan utamanya? Apakah tentang pengabulan doa? Kita biasanya sibuk mencari-cari rumusan atau syarat agar doa dikabulkan. Bahkan, dalam sebuah kursus penginjilan, ada seorang pembicara  yang memberikan materi “doa yang efektif” berikut syarat-syaratnya. Seakan begitulah semestinya kita berdoa yang efektif. Efektif, apa maksudnya? Efek apa yang diharapkan? Potensial dikabulkan?

Mungkin, justru bukan itu pesannya. Bacaan hari ini menyampaikan pesan agar kita berdoa dengan tak jemu-jemu. Tulisan Lukas ini amat cocok dengan pikiran Paulus yang juga meminta kita agar berdoa senantiasa. Soal kapan dikabulkan, sebenarnya Perjanjian Lama justru menampilkan Allah yang bersegera menjawab. Sir 35:18-19 mengatakan bahwa Allah tidak sabar dalam memberi hak kepada orang miskin yang tertindas. Sementara itu, menurut Lukas, ada kesan bahwa mungkin saja Allah mengulur-ulur waktu. Mungkin ini berkaitan dengan waktu kegenapan, saat kedatangan-Nya kembali kelak.

Tapi, soal waktu, bukankah itu juga hak Allah untuk kapan pun mau menjawab doa? Allah bebas mau mengabulkan ataupun tidak, dan bebas pula kapan mau menjawab doa kita. Kita hanya diminta untuk berdoa dengan tidak jemu-jemu. (warindra)

Renungan Mingguan 13 Oktober 2019

Sabda Tuhan Hari Ini 13 Oktober 2019, Lukas 17:11‐19

 

Dalam perjalanan‐Nya ke Yerusalem Yesus menyusur perbatasan Samaria dan Galilea. Ketika Ia memasuki suatu desa datanglah sepuluh orang kusta menemui Dia. Mereka tinggal berdiri agak jauh, dan berteriak, “Yesus, Guru, kasihanilah kami!”

Yesus lalu memandang mereka dan berkata, “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam‐imam.” Dan sementara dalam perjalanan, mereka menjadi tahir. Seorang di antara mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada‐Nya. Orang itu seorang Samaria.

Lalu Yesus berkata, “Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain orang asing ini?” Lalu Ia berkata kepada orang itu, “Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau.”

Demikianlah Injil Tuhan.

 

RENUNGAN

Panggilan untuk memberitakan kabar baik menjadi panggilan setiap orang beriman yang telah dibaptis dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Memberitakan kabar baik di era modern menjadi panggilan dan perutusan bagi segenap umat beriman. Dunia dewasa ini dihadapkan dengan berbagai tantangan dan pergumulan yang menyedot energi dan perhatian, termasuk maraknya berita buruk dan berita palsu atau hoaks. Dunia membutuhkan penghiburan dan warta kabar gembira yang menuntun manusia tidak hanya berpikir tentang kesejahteraan masa kini, tetapi terutama tentang keselamatan dan damai sejahtera di akhirat.

Kerajaan Allah dan kerajaan dunia adalah dua hal yang berbeda prinsip. Kerajaan Allah menawarkan kelembutan, damai sejahtera, kebakan, kebenaran, keadilan dan perdamaian. Kerajaan dunia menawarkan kekuasaan, popularitas diri serta hormat terhadap hal material sebagai yang dikejar di dunia dengan menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya.

Yesus mengingatkan para rasul dan segenap umat beriman untuk tidak saja mengarahkan perhatian kepada hal‐hal material di dunia, tetapi juga memelihara keselarasan dengan orientasi pada nilai‐nilai spiritual Kerajaan Allah yang menuntun manusia pada damai sejahtera dan keselamatan kekal.

Dari sepuluh orang kusta yang sehat fisik dan rohani hanya satu orang yang kembali kepada Yesus untuk mengucapkan syukur dan terima kasih. Kita semua diajak untuk selalu kembali kepada Allah dengan mengucap syukur dan berkat. Orang yang selalu bersyukur dan ringan mengucapkan terima kasih adalah tanda orang yang rendah hati di hadapan Allah dan sesama. Hal tersebut menggembirakan hati Allah dan membahagiakan sesama.

Ya Tuhan, tuntunlah aku agar tahu berterima kasih kepada‐Mu dan sesama. Semoga hatku selalu terarah kepada‐Mu dan senantiasa bersyukur atas segala kejadian dalam hidupku sambil mewartakan kabar baik keselamatan Allah kepada semua orang yang aku jumpai. Amin.

 

Sumber : Ziarah Rohani 2019, Obor Indonesia

Misa Pelajar SD, SMP, SMA/SMK Se-Paroki JETIS

Teriknya matahari tidak menyurutkan semangat para siswa SD, SMP, SMA, dan SMK di lingkungan Paroki St. Albertus Agung Jetis untuk bersatu dalam Misa Pelajar.

Perayaan Ekaristi ini berlangsung pada hari Jumat, 04 Oktober 2019 pukul 11.45, dan rutin diadakan setiap Jumat Pertama. Misa pelajar ini sudah berlangsung dua kali di Paroki Jetis, dan kali ini dipimpin oleh Romo Vincentius Suparman, Pr.

Misa ini dimeriahkan dengan koor dari SMP Negeri 6 Yogyakarta, yang dengan sangat merdu mengiringi setiap rangkaian liturgi. Misa ini juga dihadiri oleh sekitar 300 murid dari berbagai sekolah, yaitu SDK Gowongan, SMP Negeri 6, SMA N 11, SMK Negeri 2, dan SMK Negeri 3.

Dalam khotbahnya kali ini, Romo Parman menyampaikan bahwa kepercayaan dan keimanan adalah dua hal yang sangat penting, dan tidak bisa seenaknya dimaknai oleh manusia. Romo Parman sungguh berterimakasih pada para guru yang sudah mengajak seluruh murid yang beragama Katolik untuk bersatu dalam misa ini, tapi yang terpenting adalah kesadaran para murid yang hadir di Gereja ini untuk bersyukur.

Melalui rasa bersyukur dalam persaudaraan umat beriman ini tentunya para siswa diharapkan agar selalu percaya dan beriman kepada Kristus, serta tidak mudah goyah dan meninggalkan keimanannya. Romo juga berharap para siswa semakin mengenali sosok yang selama ini hati mereka inginkan dan rindukan, yaitu Yesus Kristus.

Misa ini berjalan dengan lancar, dan dibantu pula oleh petugas parkir dari Wilayah Tiga dan difasilitasi oleh Tim Liturgi Paroki Jetis.

Penulis & Fotografer : Beta Amorrista

Renungan Mingguan 6 Oktober 2019

Sabda Tuhan Hari Ini 6 Oktober 2019, Lukas 17:5-10

Doa: Tuhan Yesus, bukalah pintu hatiku. Bersabdalah, ya Tuhan, hamba-Mu mendengarkan.

 

Lalu kata rasul-rasul itu kepada Tuhan: “Tambahkanlah iman kami!” Jawab Tuhan: “Kalau sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: Terbantunlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu.”

“Siapa di antara kamu yang mempunyai seorang hamba yang membajak atau menggembalakan ternak baginya, akan berkata kepada hamba itu, setelah ia pulang dari ladang: Mari segera makan! Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepada hamba itu: Sediakanlah makananku. Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai selesai aku makan dan minum. Dan sesudah itu engkau boleh makan dan minum.

Adakah ia berterima kasih kepada hamba itu, karena hamba itu telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya? Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.”

 

HAMBA

Bacaan hari ini bagi saya rasanya tidak cocok disebut “kabar gembira” (euaggelion, Yun.; evangelium, Lat.) karena memang tidak membuat saya bergembira. Bagaimana mau bergembira kalau kita sebagai pengikut-Nya justru diminta untuk mengakui, “Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan”.

Seorang tuan begitu berkuasa atas hamba atau budaknya. Hamba itu nyaris tak punya hak, dan dapat diperlakukan sehendak hati tuannya. Kata hamba atau budak berasal dari kata servant atau slave (Ingg.); ancilla (Lat.); doulos (Yun.); atau ebed (Ibr.) Tugasnya adalah mengerjakan pekerjaan menurut kehendak tuannya, tanpa hak pribadi. Kita susah mencari padanan pekerja semacam itu pada zaman sekarang ini. Kalau pun ada, tentu itu termasuk penindasan dan pelanggaran hukum.

Tetapi, ketika saya menelusur Perjanjian Lama, ternyata dengan mudah saya temukan bahwa kata hamba ini punya arti paradoks. Pada satu sisi, artinya seperti uraian di atas. Pada sisi lain, ternyata kata hamba punya makna yang sangat luhur dan tinggi derajatnya ketika  diikuti kata Tuhan.

Misalnya, Musa disebut “Hamba Tuhan”. Menurut Kitab Bilangan 12:1-16, hamba malah lebih besar dari nabi. Kepada nabi, Tuhan menyampaikan pesan tidak secara langsung, misalnya melalui mimpi. Tetapi, dengan seorang hamba, seperti Hamba-Ku Musa, Tuhan berbicara secara langsung berhadapan muka.

Mungkin, karena seorang hamba tak lagi punya hak atas dirinya, ia jadi menyangkal diri dan secara total menyerahkan dirinya kepada tuannya. Begitulah sikap Musa kepada Tuhan. Bukan hanya Musa, Paulus dalam Perjanjian Baru bahkan mematikan dirinya dan menyatakan “Bukan lagi aku yang hidup, melainkan Kristus yang hidup dalam aku” (Gal. 2:20).

Kalau demikian memahaminya, wajarlah pesan Yesus dalam bacaan hari ini, dan semoga ini menjadi kabar gembira bagi kita. (warindra)

Perayaan Ekaristi Pembukaan Rosario Bulan Oktober 2019

Penghormatan khusus kepada Maria oleh Gereja dilaksanakan selama dua kali dalam setahun. Pada bulan Mei, kita menghormati Maria sebagai Bunda Allah sehingga disebut bulan Maria.

Sedangkan bulan Oktober ditetapkan sebagai bulan rosario untuk mengenang kekuatan berdoa kepada Allah melalui Maria dengan sarana rosario di tangan. Penetapan bulan rosario memiliki sejarah tersendiri.

Paroki Santo Albertus Agung Jetis Yogyakarta menyelenggarakan perayaan ekaristi pembukaan bulan Rosario, dipimpin oleh romo Vincentius Suparman, Pr, pada Selasa sore (01/10/2019). Sebelum perayaan ekaristi umat mendaraskan  doa Rosario di aula gereja, ditempat tersebut terdapat patung Bunda Maria yang akan di tandu dibawa masuk ke dalam gereja melalui perarakan.

Doa Rosario telah selesai, patung bunda Maria di berkati oleh Romo Parman, kemudian dibawa dengan tandu oleh beberapa OMK. Iring-iringan perarakan dimulai dengan putra altar, pembawa tandu Bunda Maria, pembawa vandel lingkungan, prodiakon dan terakhir adalah Romo.  Dengan iringan lagu perarakan mulai berjalan menuju ke gereja, umat menyambut dengan mengangkat lilin.

Setelah homili, romo Vincentius Suparman, Pr memerciki aula yang baru saja selesai di renovasi, sedangkan pro diakon memerciki umat beserta benda-benda devosi Maria yang mereka bawa.

Antusias umat sungguh luar biasa, terlihat umat yang hadir memenuhi ruang gereja, baik di sayap timur maupun di selasar gereja.

 

Ditulis oleh : Agustinus Suseno

Foto oleh : Pascalis Danu & Beta Amorrista

You cannot copy content of this page