Hari Rabu Abu dan Peraturan Pantang Puasa Katolik

hari rabu abu

Memasuki masa Prapaskah, seluruh umat Katolik di dunia hari ini memperingati Hari Rabu Abu. Pada tanggal 26 Februari Paroki Jetis mengadakan 3 (tiga) kali misa yaitu pada pagi hari pukul 05.30 WIB, siang pukul 12.00 WIB dan sore hari pada pukul 17.30 WIB. Serta didahului juga misa pada hari Selasa tanggal 25 Februari pukul 17.30 WIB.

Dari keempat misa diatas, jumlah umat yang hadir paling banyak terutama di misa Rabu sore. Kapasitas parkir Gereja Jetis sampai tidak muat karena saking banyaknya kendaraan yang perlu ditampung.

Misa pada dua hari ini dipimpin oleh Romo Vincentius Suparman, Pr dan Romo Ambrosius Heri Krismawanto, Pr secara bergantian. Pada misa Rabu pagi dalam homilinya Romo Heri menyampaikan bahwa pada masa Prapaskah ini hendaknya setiap umat Katolik wajib melakukan setiap tindakan sesuai dengan porsinya. Istilah dalam bahasa Latin disebutkan oleh Romo Heri yaitu “Intensi Recti” atau dalam bahasa Indonesia artinya Niat Lurus.

Sebagai contoh, ada sekelompok umat (bukan di Jetis) yang merencanakan untuk melakukan kunjungan ke panti asuhan namun dalam merencanakan kegiatan tersebut ternyata lebih banyak membahas hal-hal di luar niat utama kunjungan ke panti asuhan, seperti akan makan siang dimana, setelah dari panti asuhan mau jalan-jalan kemana, dan seterusnya.

Lebih jauh lagi, mengenang peninggalan Paus Leo Agung dan Mgr. Pujasumarta, Pr bahwa tindakan umat Kristiani seharusnya tidak hanya secara lahiriah namun juga batiniah yaitu tindakan yang didasarkan oleh kasih.

Hendaknya kita sebagai umat Katolik dalam rangka masa pertobatan ini tidak hanya menahan lapar dan haus namun juga memperhatikan orang-orang yang kesulitan dan berkekurangan di sekitar kita.

Sebagai penutup Romo Heri menyampaikan peraturan pantang dan puasa dalam ajaran agama Katolik yang utama yaitu berpuasa adalah makan hanya sekali saja dalam sehari pada hari Rabu Abu dan hari Jumat Sengsara dan Wafat Tuhan. Umat beriman yang wajib berpuasa adalah yang berumur antara 18 (delapan belas tahun) sampai dengan awal tahun ke 60 (enam puluh).

Untuk peraturan pantang dan puasa yang lebih lengkap silahkan lihat artikel Surat Gembala Prapaskah oleh Mgr. Robertus Rubiyatmoko – Uskup Agung Semarang D I S I N I

Artikel Oleh : Franciskus Devy

Foto Oleh : Lusia Beta Amorrista

Surat Gembala PRAPASKAH 2020 KAS Serta Aturan Pantang dan Puasa Katolik

pantang dan puasa katolik

SURAT GEMBALA PRAPASKAH

USKUP AGUNG KEUSKUPAN AGUNG SEMARANG

Diterangkan/dibacakan/ditayangkan pada Sabtu – Minggu, 22-23 Februari 2020

“Bertobat, Terlibat, dan Berbuah Berkat”

Saudari-Saudara, umat Katolik di Keuskupan Agung Semarang yang terkasih. Berkah Dalem. Bagaimana kabarnya? Saya harap semua sehat dan bahagia.

Pada hari Rabu Abu, 26 Februari 2020 nanti, kita akan memasuki masa prapaskah. Masa yang akan berlangsung selama 40 hari itu bagaikan retret agung dimana kita secara istimewa mempersiapkan diri untuk merayakan Paska atau Kebangkitan Tuhan kita Yesus Kristus. Selama masa retret agung ini kita yang telah dibaptis diundang untuk kembali mengenangkan janji baptis kita; dan bagi Anda yang akan dibaptis, diajak untuk mempersiapkan penerimaan sakramen Baptis dengan penuh kesungguhan dan penghayatan. Ini kita tempuh, antara lain dengan membina semangat pertobatan yang kita wujudnyatakan dalam perubahan-perubahan hidup yang nyata (SC 109).

Karena itu, saya mengajak Anda semua untuk memanfaatkan masa prapaskah ini dengan sebaik mungkin, terutama dengan mengupayakan pertobatan yang sejati, yakni dengan lebih sungguh menyadari kedosaan dan kelemahan, mensyukuri kerahiman dan belas kasih Allah, serta membangun kesucian melalui keutamaan-keutamaan hidup kristiani.

Saudari-saudaraku yang terkasih,

Pada masa prapaskah tahun 2020 ini, saya mengajak seluruh umat Keuskupan Agung Semarang untuk menghayati atau menghidupi tema APP KAS “Bertobat, Terlibat, dan Berbuah Berkat” dalam gerak fokus pastoral Keuskupan Agung Semarang 2020, yaitu “Umat Katolik yang Transformatif”. Dengan fokus pastoral ini, seluruh umat KAS saya ajak untuk mensyukuri rahmat baptisan yang telah kita terima. Melalui baptisan kita semua dipersatukan dengan Kristus, diangkat menjadi anak-anak Allah dan menjadi ahli waris kerajaan-Nya, menerima anugerah pengampunan dan penebusan atas segala dosa, serta dilibatkan dalam tiga tugas Kristus sebagai Imam, Nabi, dan Raja (bdk. kanon 204 & 849; KGK 1263 & 1265). Selain itu, dengan baptisan kita juga dipersatukan dengan Gereja-Nya, menjadi anggota umat Allah, dan terlibat dalam perutusan Gereja di dunia untuk mewartakan Injil kepada semua makhluk (bdk. Markus 16,15; kanon 204; KGK 1267).

Dengan menghayati fokus pastoral tersebut, saya berharap seluruh umat dapat menjadi pribadi yang transformatif, yaitu menjadi pribadi yang senantiasa siap diubah dan berubah hingga berbuah berkah yang melimpah, serta berdaya ubah bagi sesama. Hal ini ditempuh dengan terus berbenah, melakukan yang baik, dan senantiasa mengusahakan yang lebih baik. Menjadi pribadi yang transformatif tidak lain berarti menjadi pribadi yang senantiasa gumregah atau bergegas untuk berubah dengan berbenah hingga berbuah berkah yang berdaya ubah.

Hal ini sangat cocok sekali dengan tema Prapaska KAS 2020: “Bertobat, Terlibat, dan Berbuah Berkat”. Dengan ungkapan “bertobat”, kita diingatkan akan dua hal, yaitu 1) akan rahmat belas kasih Allah yang melimpah dan 2) akan perlunya ketergerakan diri untuk mengalami metanoia (Yunani), yaitu pertobatan dalam cara berpikir, merasa, dan bertindak. Pertobatan sejati mengarahkan kita kepada keberanian untuk bangkit dari kerapuhan dosa serta mau meninggalkan cara berpikir, merasa, dan bertindak yang tidak selaras dengan kehendak Allah sendiri. Dengan terang Sabda Tuhan yang kita dengar hari ini, kita diingatkan untuk bertobat dengan terus mengusahakan kesempurnaan dan kekudusan diri, sebagaimana diamanatkan oleh Tuhan Yesus dalam Injil: “Karena itu haruslah kamu sempurna, sebagaimana Bapamu yang di sorga sempurna adanya” (Mat 5,48).

Baik bacaan Injil maupun bacaan Pertama memberikan arahan nyata bagaimana kita membangun pertobatan demi kesempurnaan, yakni dengan mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri. Kasih kepada sesama ini menjadi konkret:

  • ketika kita tidak membenci, menuntut balas, dan menaruh dendam kepada orang lain yang telah berbuat tidak baik kepada kita, sebaliknya justru mengampuninya;
  • ketika kita tidak melawan kejahatan dengan kejahatan, sebaliknya justru mendoakan dan memohonkan berkat bagi orang yang memusuhi kita.

Selanjutnya, ungkapan “terlibat” mau menegaskan pentingnya wujud nyata pertobatan dalam kehidupan bersama dengan orang lain. Pertobatan yang sejati pastilah membuat orang untuk tergerak dan bergerak (obah) guna bersama-sama dengan orang lain mewujudkan kebaikan dan keutamaan hidup, termasuk lewat hal-hal yang kecil dan sederhana sekalipun. Kembali kita diingatkan bahwa pertobatan kita hanya akan menjadi nyata dalam kasih kita kepada Tuhan dan sesama.

Pada akhirnya, baik “bertobat” maupun “terlibat”, pada saatnya juga membuat hidup kita “berbuah berkat”. Usaha-usaha pertobatan kita akan membawa perubahan, bukan hanya pada diri sendiri melainkan juga pada orang lain. Ketika kita berubah dalam cara berpikir, merasa, dan bertindak, maka perubahan ini akan membawa dampak pada orang lain untuk juga berubah. Dalam arti inilah kita temukan makna terdalam dari pertobatan, yakni ketika perubahan dalam diri mampu menggerakkan orang lain untuk juga berubah menjadi semakin baik dan semakin sempurna.

Saudara-saudariku yang terkasih,

Mengakhiri Surat Gembala Prapaska 2020 ini, saya juga ingin mendoakan siapa pun yang saat ini sedang letih lesu dan berbeban berat: yang sakit, berkekurangan, dan harus menanggung beban kehidupan yang berat. Semoga Allah yang penuh belas kasih senantiasa menyertai, meneguhkan, menguatkan, dan memberikan penghiburan.

Selamat memasuki retret agung empat puluh hari dengan tekun dan setia. Rahmat dan belas kasih Allah senantiasa melimpah bagi Anda semua. Berkah Dalem.


PERATURAN PANTANG dan PUASA KATOLIK TAHUN 2020

Mengacu Ketentuan Pastoral Keuskupan Regio Jawa (KPKRJ) Tahun 2016 pasal 138 no. 2.b dalam kaitan dengan Kan. 1249-1253 KHK 1983 tentang hari tobat, peraturan pantang dan puasa Katolik ditetapkan sebagai berikut:

  1. Hari Puasa tahun 2020 ini dilangsungkan pada hari Rabu Abu tanggal 26 Februari 2020 dan Jumat Agung tanggal 10 April 2020. Hari Pantang dilangsungkan pada hari Rabu Abu dan tujuh Jumat selama masa Prapaska sampai dengan Jumat Agung.
  2. Yang dimaksud dengan berpantang adalah tidak makan daging atau makanan lain yang disukai setiap hari Jumat sepanjang tahun, kecuali hari Jumat itu merupakan hari pesta wajib, serta pada hari Rabu Abu dan hari Jumat Sengsara dan Wafat Tuhan. Umat beriman yang wajib berpantang adalah yang sudah genap berumur empat belas tahun.
  3. Yang dimaksud dengan berpuasa adalah makan hanya sekali saja dalam sehari pada hari Rabu Abu dan hari Jumat Sengsara dan Wafat Tuhan. Umat beriman yang wajib berpuasa adalah yang berumur antara delapan belas tahun sampai dengan awal tahun ke enampuluh.

Karena peraturan puasa dan pantang cukup ringan dan agar setiap pribadi dan komunitas dapat memanfaatkan 40 hari masa Prapaskah sebagai kesempatan istimewa untuk membina pertobatan dengan tobat dan matiraga, kami anjurkan beberapa hal berikut:

  • Masing-masing pribadi, keluarga, dan komunitas mencari wujud matiraga (pantang dan puasa) yang sesuai dengan jenjang usia.
  • Pada hari pantang dan atau hari-hari lain yang ditentukan, setiap keluarga/komunitas dapat berpantang makan nasi dan menggantinya dengan bahan makanan pokok lokal dengan satu macam lauk (sebagaimana telah menjadi gerakan di beberapa paroki atau komunitas selama masa Prapaska dan peringatan Hari Pangan Sedunia).
  • Selama empat puluh hari dalam masa Prapaskah secara pribadi atau dalam keluarga atau komunitas biara/ pastoran/ seminari memilih wujud pertobatan dan silih yang lebih berdaya ubah.
  • Setiap pribadi, keluarga, atau komunitas dapat mewujudkan karya amal kasih bagi mereka yang membutuhkan.
  • Setiap pribadi, keluarga, atau komunitas dapat melatih diri lebih tekun dalam olah rohani, melalui ketekunan membaca dan merenungkan Kitab Suci, mengikuti rekoleksi/retret, latihan rohani, ibadat jalan salib, pengakuan dosa, meditasi, adorasi dan sebagainya.

Tema APP tahun 2020 ini adalah: “Bertobat, Terlibat, dan Berbuah Berkat” sebagaimana diuraikan dalam buku-buku yang diterbitkan oleh Panitia APP Keuskupan Agung Semarang.

Semarang, 11 Februari 2020 Peringatan Santa Perawan Maria di Lourdes

† Mgr. Robertus Rubiyatmoko Uskup Agung Keuskupan Agung Semarang

Renungan Mingguan 23 Februari 2020

Sabda Tuhan Hari Ini 23 Februari 2020, Matius 5:38‐48

Kasihilah musuhmu!

Dalam khotbah di bukit Yesus berkata kepada murid‐murid‐Nya, “Kamu telah mendengar bahwa dulu ada ungkapan: Mata ganti mata, gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu, ‘Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu. Sebaliknya, bila orang menampar pipi kananmu, berilah juga pipi kirimu.

Bila orang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. Bila engkau dipaksa mengantarkan seseorang berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil. Berikanlah kepada orang apa yang dimintanya, dan jangan menolak orang yang mau meminjam sesuatu dari padamu.’

Kamu telah mendengar firman, ‘Kasihilah sesamamu manusia, dan bencilah musuhmu.’ Tetapi Aku berkata kepadamu, ‘Kasihilah musuh‐musuhmu, dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikian kamu menjadi anak‐anak Bapamu yang di surga. Sebab Ia membuat matahariNya terbit bagi orang yang jahat dan juga bagi orang yang baik. Hujan pun diturunkan‐Nya bagi orang yang benar dan juga bagi orang yang tidak benar.

Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudaramu saja, apakah lebihnya dari perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tak mengenal Allah pun berbuat demikian? Karena itu haruslah kamu sempurna, sebagaimana Bapamu yang di surga sempurna adanya.”

Demikianlah Injil Tuhan.

Renungan

Dalam tradisi hidup bakti, ada kesempatan saling mengoreksi atau menasihati satu sama lain dalam komunitas. Dalam suasana doa dan terang Roh Kudus, dengan  jujur dan rendah hati masing‐masing anggota dalam biara menyampaikan hal‐hal yang perlu untuk diperbaiki dan dipertahankan. Tujuannya jelas, yaitu untuk saling mendukung dalam mencapai kekudusan, bukan untuk saling menjatuhkan.

Hal yang sama sebenarnya sudah ditegaskan dalam Kitab Imamat  dalam bacaan hari ini. ”Janganlah engkau membenci saudaramu di dalam hatimu, tetapi engkau harus berterus terang menegur dan jangan mendatangkan dosa”﴾Im. 19:17﴿. Menegur dengan motivasi menguduskan membutuhkan kerendahan hati dari diri kita. Biasanya kalau kita mengalami persoalan dengan saudara kita, yang ada dalam diri kita adalah benci dan kemarahan.

Tuntutan pengudusan dalam konflik, pertentangan dan percecokkan tidak lain adalah semangat pengampunan dan kerendahan hati. Hanya dengan semangat pengampunan dan rendah hati kita akan memiliki rasa cinta persaudaraan. Bahkan menurut Yesus tidak sekadar mewujudkan belas kasih kepada mereka yang menyakiti kita, tetapi merupakan keutamaan hidup Kristiani. Bagi Yesus ciri khas dan kualitas kemuridan yang sejati harus sampai pada tingkat keutamaan belas kasih, yaitu memberikan dengan rela; bukan karena kewajiban melainkan karena kemurahan hati kita.

Allah Yang Mahamurah, bimbinglah kami dalam terang Roh Kudus‐Mu, agar hari‐hari selanjutnya kami semakin berbelas kasih kepada sesama. Amin.

Sumber renungan: Ziarah Batin 2020, OBOR Indonesia

Sosialisasi Bahan APP 2020 – “Bertobat, Terlibat & Berbuah berkat”

Bahan Panduan APP – KAS 2020 Klik Tombol :

Bahan Panduan APP Remaja Bahan Panduan APP Dewasa
Bahan Panduan APP 2 Remaja Bahan Panduan APP 2 Dewasa
Bahan Panduan APP 1 Remaja Bahan Panduan APP 1 Dewasa

 

Pada Hari Jumat, 21 Februari 2020 diadakan acara sosialisasi bahan aksi puasa pembangunan (APP) di aula Gereja St. Albertus Agung Jetis. Petir dan hujan deras yang mengguyur malam itu tidak menyurutkan langkah para pemandu lingkungan untuk ikut serta. Acara ini dihadiri oleh 35 orang dari 15 lingkungan di wilayah Paroki St. Albertus Agung Jetis.

Tujuan pelaksanaan sosialisasi ini adalah memberikan bekal bagi para pemandu lingkungan agar mampu mengajak umat untuk memahami tema-tema pertemuan kemudian diwujudnyatakan dalam niat dan perbuatan yang konkret. Sosialisasi ini dimotori oleh Bidang Pewartaan bekerjasama dengan Bidang Pelayanan Kemasyarakatan. Kedua bidang berusaha mengemas 5 (lima) tema dalam pertemuan yang menarik agar nantinya pemandu dapat menjadi fasilitator yang menarik pula dalam membawakan setiap tema yang akan dibahas di lingkungan.

Tampak pula hadir dan memberikan kata sambutan Romo Ambrosius Heri Krismawanto, Pr selaku romo pendamping dan hadir pula Bapak Ludovicus Joko Sunarno selaku wakil ketua Dewan Paroki. Acara pertama dimulai dengan sambutan dari Romo Ambrosius Heri Krismawanto yang memberikan pengantar terkait Tema APP tahun ini.

Menuju acara berikutnya, pemaparan materi pertemuan pertama oleh ibu Cicilia Mulia Titi Sari dan Christina Adiratna R selaku perwakilan dari Tim Pelayanan APP. Pada pertemuan pertama, bapak/ibu pemandu diajak bersyukur atas kemurahan belas kasih Allah dalam hidup masing-masing. Syukur yang akan membawa kepada niat pertobatan yang tulus dan rendah hati. Nyanyian pembuka “Terima kasih Seribu” dinyanyikan dengan gerakan yang dirancang oleh Tim. Leaflet APP dibahas pula dalam pertemuan pertama.

Selanjutnya, pemaparan materi kedua oleh Bapak Yacob Malinso selaku perwakilan dari Tim Pewartaan. Pertemuan kedua mengajak umat untuk refleksi sejenak rahmat Tuhan apa saja yang sudah diterima dalam hidup dan sikap kita apakah sudah mensyukuri atau sekedar menikmati saja.

Pada kesempatan selanjutnya, para pemandu dibagi dalam 5 kelompok untuk simulasi dalam memimpin pertemuan APP dengan tema yang sudah disepakati. Diberikan waktu 40 menit untuk membaca secara pribadi, merenungkannya dan berlatih memandu pertemuan dalam kelompok kecil tersebut. Setelah sesi dalam kelompok selesai, para pemandu berkumpul kembali di aula dan mendengarkan peneguhan dari Romo Vincentius Suparman, Pr selaku romo paroki. Romo mengatakan bahwa para pemandu harus mampu mendorong umat untuk sharing pengalaman sesuai tema yang dibahas dalam setiap pertemuan. Semakin banyak umat yang sharing maka pertemuan itu akan semakin hidup.

Acara diakhiri dengan beberapa pengumuman dari Bidang Pelayanan Kemasyarakatan dan pembagian kotak serta leaflet APP per lingkungan.

Artikel & Foto oleh : Christina Adiratna R.

Pewartaan Yang Kekinian, Komsos Jetis Goes to Jambore #1 DIY

Hujan rintik-rintik di sore hari tanggal 15 Februari 2020 ini menemani sekitar 80 orang di Aula Girli Wisma Salam, Muntilan. Tempat tersebut terlihat ramai dengan para anggota Komsos dari berbagai kalangan usia. Dominasi peserta tentu saja dari teman-teman yang berusia muda. Selain awam, acara ini diikuti pula oleh 3 orang suster, 2 diantaranya yaitu Suster Pasifica dan Suster Rita. Selama 2 hari (15-16 Februari 2020) Komsos Kevikepan DIY mengadakan temu anggota Komsos se-kevikepan DIY dalam kegiatan Jambore Komsos dengan tema “Bertransformasi Dalam Pewartaan.”

Para peserta menjalin jejaring dan persahabatan diantara 39 paroki se-Kevikepan DIY. Hari pertama acara diisi dengan ice breaking yang cukup seru, kemudian disusul dengan sambutan oleh Franciskus dari Komsos Paroki Jetis selaku ketua pelaksana Jambore Komsos #1 DIY. Selanjutnya diisi sambutan oleh Bp. Agustinus Suseno selaku wakil ketua Komsos Kevikepan DIY. Dalam sambutannya beliau menyampaikan bahwa Komsos dari berbagai paroki harus bersedia untuk berjejaring dan menambah skill timnya masing-masing melalui pelatihan-pelatihan yang diadakan oleh Komsos Kevikepan DIY.

Dalam kesempatan selanjutnya Romo Yustinus Slamet Wito Karyono,Pr menyapa para peserta Jambore melalui rekaman video dan mengajak seluruh peserta untuk melakukan pewartaan iman dengan memanfaatkan teknologi informasi seraya memperhatikan 3 poin penting yang termuat dalam pedoman pastoral regio jawa, salah satu diantaranya yaitu dalam memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk pewartaan. Para SDM Komsos perlu memperhatikan nilai-nilai Kristiani dan prinsip pewartaan, serta agar lebih efektif dalam menjangkau lebih banyak umat di dalam mewartakan maka Komsos seluruh paroki di Kevikepan DIY mau tidak mau harus berjejaring.

Dinamika selanjutnya yaitu para peserta Jambore dibekali dengan materi jati diri, serta perkembangan kinerja Komsos Keuskupan Agung Semarang oleh Bp. FX Wasdi atau yang lazim dikenal dengan abah Encep didampingi Mas Sunbhio Pratama. Dalam sesi ini peserta saling berinteraksi dan mengajukan pertanyaan maupun berkomentar mengenai dinamika Tim Komsos mereka di masing- masing paroki.

Acara pada malam pertama ditutup dengan sharing bersama dalam kelompok-kelompok kecil mengenai dinamika masing-masing peserta maupun tim Komsos di paroki-paroki.

Setelah sarapan pagi, sekitar pukul 07.30 kegiatan outbound dimulai. Ada 4 pos yang harus dilalui keenam kelompok outbound. Pos-pos tersebut diantaranya yaitu karpet terbang dan pipe ball yang mengajarkan bahwa dalam mewartakan setiap Tim Komsos paroki tentu perlu berproses dan melakukannya selangkah demi selangkah serta juga perlu bekerjasama dengan banyak pihak.

Pada kesempatan ini ELTI Jogja dan Penerbit Pohon Cahaya mensponsori sebagian alat tulis pada acara Jambore Komsos sehingga dapat berjalan lancar. Sejumlah 5 buah buku pun diberikan sebagai doorprize oleh Pohon Cahaya menjadi milik peserta dengan menjawab beberapa pertanyaan seputar acara selama 2 hari ini.

Seluruh kegiatan Jambore Komsos di hari terakhir dibungkus dengan perayaan ekaristi bersama di Aula Batu Wisma Salam. Sebagai evaluasi akhir, Romo Lukas Ivan Sanjaya, Pr selaku Ketua Komsos Kevikepan DIY menyampaikan beberapa hal :

  1. Alat bukan merupakan harga mutlak bagi Komsos di setiap paroki untuk berkarya, namun konten yang kreatif lebih penting dari semua itu. Kita bisa memanfaatkan smartphone masing-masing untuk mewartakan.
  2. Para tim Komsos di paroki-paroki tidak perlu terpaku pada konten dalam bentuk video yang memang sedang marak dan populer saat ini. Konten dalam bentuk foto dan caption pun bisa menjadi media pewartaan yang memadai.
  3. Komsos rayon kota sulit untuk dikumpulkan dalam acara-acara yang diadakan oleh Kevikepan, namun Romo juga menyampaikan rasa syukur bahwa ada tim Komsos paroki yang dipikir tidak ada ternyata bisa mengirimkan 2 peserta yaitu salah satunya paroki Kidul Loji.
  4. Komsos Kevikepan DIY akan mengadakan pelatihan di Rayon Gunung Kidul bertempat di Paroki Wonosari Kota pada tanggal 15 Maret 2020 mendatang. Seluruh Tim Komsos di semua rayon diundang untuk menghadirinya.
  5. Double Tim Komsos dalam satu paroki (Komsos dan Tim Multimedia) menjadi penghalang bagi salah satu tim untuk berkarya, namun jika bisa bersinergi dan menghasilkan karya maka Romo mengacungi jempol karena bisa menjadi contoh baik bagi banyak paroki.
  6. Regenerasi Komsos di tiap paroki perlu dilakukan, dan jika menemui kesulitan silahkan belajar kepada paroki-paroki lain yang berhasil melakukan regenerasi.

Wakil ketua Komsos Kevikepan DIY Bp. Agustinus Suseno menambahkan 2 pesan penting untuk teman-teman peserta Jambore, yaitu :

  1. Tidak memiliki alat yang memadai bukan menjadi alasan untuk tidak berkarya, banyak jalan menuju Roma. Anda bisa meminjam terlebih dahulu ke teman, tentu bertanggung jawab dalam penggunaannya.
  2. Tidak disetujui oleh dewan paroki karena belum memiliki karya sudah menjadi hal yang lumrah, namun juga bukan alasan untuk maju dan berkarya serta menjadi pewarta.

Romo Ivan juga berpesan kepada peserta untuk tetap menjaga sinergi dan jejaring meski nanti Kevikepan DIY akan dimekarkan menjadi 2, yaitu Kevikepan DIY Timur dan Kevikepan DIY Barat pada bulan Oktober 2020 mendatang. Tepat pukul 15.00 seluruh peserta kembali ke rumah masing-masing dengan mengantongi sertifikat kepesertaan Jambore Komsos #1 DIY. Maju terus Komsos Kevikepan DIY ! Salam KOMSOS !

DOWNLOAD FOTO KEGIATAN DISINI

Penulis : Franciskus

Foto : Komsos DIY

Renungan Mingguan 16 Februari 2020

Sabda Tuhan Hari Ini 16 Februari 2020, Matius 5:17‐37

Lain yang diajarkan nenek moyang, lain yang diajarkan Yesus.

Dalam khotbah di bukit Yesus mengajar murid‐murid‐Nya, kata‐Nya, “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.

Karena Aku berkata kepadamu, ‘Sungguh, selama belum lenyap langit dan bumi ini, tidak satu iota atau satu titik pun akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.’ Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Surga. Tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Surga.

Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar daripada hidup keagamaan para ahli Taurat dan orang‐orang Farisi, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Kamu telah mendengar apa yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum! Barangsiapa yang berkata kepada saudaranya, ‘Kafir!’ ia harus dihadapkan ke Mahkamah Agama, dan siapa yang berkata, ‘Jahil!’ harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala‐nyala.

Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah, dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu, dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu. Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama‐sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim, dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya, dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas.

Kamu telah mendengar firman, ‘Jangan berzinah!’ Tetapi Aku berkata kepadamu: Barangsiapa memandang perempuan dengan menginginkannya, dia sudah berbuat zinah di dalam hatinya. Maka, jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah, karena lebih baik bagimu satu anggota tubuhmu binasa, daripada tubuhmu seutuhnya dicampakkan ke dalam neraka. Dan jika tangan kananmu menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah, karena lebih baik bagimu jika satu anggota tubuhmu binasa, daripada tubuhmu seutuhnya masuk neraka.

Telah difirmankan juga, ‘Barangsiapa menceraikan isterinya, ia harus memberikan surat cerai kepadanya. Tetapi Aku berkata kepadamu: ‘Barangsiapa menceraikan isterinya kecuali karena zinah, dia membuat isterinya berzinah. Dan barangsiapa kawin dengan perempuan yang diceraikan, dia pun berbuat zinah. Kamu telah mendengar pula yang difirmankan kepada nenek moyang kita, ‘Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu di depan Tuhan.’

Tetapi Aku berkata kepadamu, ‘Janganlah sekali‐kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah, maupun demi bumi, karena bumi adalah tumpuan kaki-Nya, ataupun demi Yerusalem, karena Yerusalem adalah kota Raja Agung. Janganlah pula engkau bersumpah demi kepalamu, karena engkau tidak berkuasa memutihkan atau menghitamkan sehelai rambut pun. Jika ya, hendaklah kamu katakan: Ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: Tidak.  Apa yang lebih daripada itu berasal dari si jahat.”

Demikianlah Injil Tuhan.

Renungan

Ketika mendidik para murid‐Nya, Yesus mulai dengan apa yang menjadi kebiasaan mereka sebagai orang Yahudi. Yesus menegaskan bahwa Ia datang bukan untuk meniadakan hukum Taurat melainkan untuk menggenapinya atau menyempurnakan.

Keutamaan hidup yang bertumbuh dari kedalaman hati untuk mewujudkan belas kasih bukan sekali jadi, melainkan bersumber pada apa yang dibiasakan terus‐menerus yang akan menjadi habitus baru. Sebab ”keutamaan” yang tidak bersumber dari peraturan Allah akan gampang jatuh pada tindakan dan keputusan yang sangat subjektif.

Mewujudkan keutamaan belas kasih yang sungguh muncul dan berkembang dari kedalaman hati pasti selalu bersumber dari sabda Allah. Sebab sabda Allah yang kita kunyah dan kita simpan dalam hati dan ketika dinyatakan dalam perbuatan itulah yang disebut kebijaksanaan ilahi. Yesus mengatakan bahwa itulah kesempurnaan Taurat ketika sabda menjadi sumber perbuatan.

Allah, mampukan kami mewujudkan perintah‐Mu dalam hidup sehari‐hari. Amin.

Sumber renungan: Ziarah Batin 2020, OBOR Indonesia

Kamulah Garam dan Terang – PIA St. Paulus Jatimulyo

Kamulah garam dunia
Kamulah terang dunia
Janganlah garammu tawar
Janganlah terangmu pudar
Buatlah yang baik-baik selalu

Kamulah garam dunia
Kamulah terang dunia
Janganlah garammu tawar
Janganlah terangmu pudar
Bersemangatlah belajar selalu

Lagu ini yang mengawali kegiatan PIA St. Paulus Jatimulyo di hari Kamis, 6 Februari 2020. Kegiatan PIA yang sore itu dihadiri 12 anak dari lingkungan St. Paulus Jatimulyo, 1 anak dari St. Thomas Jatimulyo, dan 1 anak dari Lingkungan Maria Immaculata Kricak mengambil tema Kamulah Garam dan Terang Dunia. Tema ini diambil dari bacaan Injil Minggu Biasa V yaitu Matius 5: 13 – 16.

Tiga anak yang sudah bisa membaca, diminta untuk membaca teks kutipan Injil tersebut secara bergantian. Dari bacaan itu, anak-anak diajak dialog tentang garam, ada yang tahu garam? Warnanya apa? Rasanya apa? Garam dipakai untuk apa? Kalau masak tidak pakai garam, masakannya rasanya enak tidak? Demikian juga diajak dialog tentang terang, Ada yang takut dengan suasana gelap? Bagaimana supaya tidak gelap? Siapa yang suka suasana terang?

Naaaaah…. Bagaimana supaya kita menjadi anak-anak garam dan terang dunia?
Yaaaa…. Kalian harus berbuat yang baik-baik selalu.
Sekarang anak-anak, yuk masing-masing menyebutkan satu saja, hari ini sudah berbuat baik apa?

Ada yang menyebutkan, tadi saya menemukan buku teman dan saya kembalikan, tadi saya menemukan penghapus teman dan saya kembalikan, tadi saya momong adik, tadi saya mengucapkan ulang tahun pada guru, tadi saya bantu Bunda cuci piring, dan sebagainya.

Kegiatan selanjutnya yang ditunggu anak-anak yaitu menempel dan mewarnai prakarya sesuai dengan tema. Anak-anak diberi kertas tempel dan 5 gambar, yaitu gambar Yesus, anak laki-laki, anak perempuan, gambar garam, dan gambar lampu sebagai lambang terang. Dengan asiknya anak-anak melakukan kegiatan menempel dan mewarnai dan diakhir waktu mereka menunjukkan hasil karyanya dengan gembira. Kegiatan diakhiri dengan peneguhan untuk berbuat baik selalu dan doa penutup.(LJS)

Foto & Artikel Oleh : L. Joko Sunarno

Renungan Mingguan 9 Februari 2020

Sabda Tuhan Hari Ini 09 Februari 2020, Matius 5:13‐16

Kamu adalah terang dunia.

Dalam khotbah di bukit Yesus bersabda kepada murid‐murid‐Nya, “Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada gunanya lagi selain dibuang dan diinjak‐injak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian, sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik, dan memuliakan Bapamu yang di surga.”

Demikianlah Injil Tuhan.

Renungan

“Kamu adalah garam dunia” merupakan ungkapan untuk mendorong para murid saat mengalami penderitaan dan kegalauan agar menjadi berkat bagi dunia. Para nabi yang ada sebelum mereka adalah garam bagi tanah Kanaan, tetapi para rasul adalah garam bagi seluruh bumi, sebab mereka harus pergi ke seluruh dunia untuk memberitakan Injil.

Tampaknya mereka berkecil hati karena jumlah mereka begitu sedikit dan lemah. Apa yang mampu mereka lakukan di kawasan yang begitu luas seperti seluruh muka bumi ini? Tidak ada, jika mereka harus bekerja dengan menggunakan kekuatan senjata dan pedang semata. Dengan bekerja tanpa suara seperti garam, maka segenggam garam itu akan menyebarkan rasanya ke mana‐mana, menjangkau daerah yang luas, dan bekerja tanpa terasa serta tanpa penolakan sama seperti bekerjanya ragi.

Menjadi komunitas garam dan ragi persis sama seperti yang dikatakan dalam Yesaya 58:7‐10, yaitu supaya engkau memecah‐mecahkan rotimu bagi yang lapar, dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tidak memiliki rumah.

Mewujudkan belas kasih meski sederhana sekalipun akan memberikan dampak yang luar biasa, terlebih bagi mereka yang merasakan belas kasih itu. Rasa belas kasih dan pengalaman dikasihi tidak akan pernah luntur. Inilah yang perlu kita kembangkan dalam kegembalaan Gereja khususnya zaman ini di mana belas kasih dan kepedulian semakin luntur. Doa, kesalehan, Ekaristi sangatlah penting, tetapi menjadi berarti kalau kita mampu menciptakan komunitas ekaristis: kerelaan dan siap sedia untuk berbagi.

Bapa Yang Mahakasih, pengalaman yang engkau berikan pada hari ini sungguh dalam. Kami ingin menjadi garam dan terang di mana pun kami berada, Amin.

Sumber renungan: Ziarah Batin 2020, OBOR Indonesia

Renungan Mingguan 2 Februari 2020

Sabda Tuhan Hari Ini 02 Februari 2020, Lukas 2:22‐40

Mataku telah melihat keselamatan yang dari pada‐Mu.

Ketika genap waktu pentahiran menurut hukum Taurat Musa, Maria dan Yosef membawa Anak Yesus ke Yerusalem untuk menyerahkan‐Nya kepada Tuhan, seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan, “Semua anak laki‐laki sulung harus dikuduskan bagi Allah.” Juga mereka datang untuk mempersembahkan kurban menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati.

Waktu itu adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh hidupnya, yang menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya, dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan. Atas dorongan Roh Kudus, Simeon datang ke Bait Allah.

Ketika Anak Yesus dibawa masuk oleh orang tua‐Nya, untuk melakukan kepada‐Nya apa yang ditentukan hukum Taurat, Simeon menyambut Anak itu dan menatang‐Nya sambil memuji Allah, katanya, “Sekarang Tuhan, biarkanlah hamba‐Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman‐Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada‐Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa‐bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat‐Mu, Israel.”

Yusuf dan Maria amat heran akan segala sesuatu yang dikatakan tentang Anak Yesus. Lalu Simeon memberkati mereka, dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu, “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan – dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri ‐, supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang.”

Ada juga disitu seorang nabi perempuan, anak Fanuel dari suku Asyer, namanya Hana. Ia sudah sangat lanjut umurnya. Sesudah menikah, ia hidup tujuh tahun bersama suaminya, dan sekarang ia sudah janda, berumur delapan puluh empat tahun. Ia tidak pernah meninggalkan Bait Allah, dan siang malam beribadah dengan berpuasa dan berdoa.

Pada saat Anak Yesus dipersembahkan di Bait Allah Hana pun datang ke Bait Allah, dan bersyukur kepada Allah serta berbicara tentang Anak Yesus kepada semua orang yang menantikan kelepasan untuk Yerusalem. Setelah menyelesaikan semua yang harus dilakukan menurut hukum Tuhan, kembalilah Maria dan Yusuf serta Anak Yesus ke kota kediamannya, yaitu kota Nazaret di Galilea. Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada‐Nya.

Demikianlah Injil Tuhan.

Renungan

Kisah Yesus dipersembahkan di Bait Allah menjelaskan bahwa keluarga Yesus adalah umat Yahudi yang menyadari dengan sepenuh hati bahwa Bait Allah adalah tempat kediaman Allah. Bagi Maria dan Yosep, mempersembahkan atau menguduskan anak adalah membawa Yesus ke Bait Allah. Bagi mereka Bait Allah merupakan tujuan dan puncak persembahan diri dan keluarga. Menarik dalam Bait Allah mereka berjumpa dengan Simeon dan Hanna yang menantikan kedatangan Tuhan dalam Bait Allah yang terwujud dalam diri Yesus.

Peristiwa Yesus dipersembahkan menjadikan Bait Allah sebagai perubahan. Bagaimana Simeon dan Hanna yang sudah lama menantikan Tuhan berkat kedatangan Yesus mereka mengalami rahmat demi rahmat. Bait Allah, tempat doa menjadi tempat penyerahan diri kepada kehendak Allah ketika kita menemukan Yesus di dalamnya. Bait Allah bukan sekedar tempat atau bangunan, melainkan suatu situasi di mana terjadi sebuah perjumpaan kita dengan Yesus. Pada akhirnya kita harus seperti Simeon: “Sekarang Tuhan, biarlah aku pergi dengan damai”. Hendaklah Bait Allah karena ada Yesus di dalamnya menjadikan diri kita pribadi yang rela berpasrah pada kehendak‐Nya.

Allah Bapa Yang Mahakasih, bimbinglah kami untuk berani berpasrah pada kehendak‐Mu, bukan kehendak kami sendiri. Amin.

Sumber renungan: Ziarah Batin 2020, OBOR Indonesia

Renungan Mingguan 26 Januari 2020

Sabda Tuhan Hari Ini 26 Januari 2020, Matius 4:12‐23

Yesus diam di Kapernaum supaya genaplah firman yang disampaikan oleh Nabi Yesaya.

Ketika mendengar bahwa Yohanes Pembaptis telah ditangkap, Yesus menyingkir ke Galilea. Ia meninggalkan Nazaret dan diam di Kapernaum, di tepi danau, di daerah Zebulon dan Naftali. Dengan demikian genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: Tanah Zebulon dan tanah Naftali, jalan ke laut, daerah seberang sungai Yordan, Galilea, wilayah bangsa‐bangsa lain; bangsa yang diam dalam kegelapan, telah melihat Terang yang besar dan bagi mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut, telah terbit Terang. Sejak waktu itu Yesus memberitakan, “Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat.”

Ketika Yesus sedang berjalan menyusur danau Galilea, Ia melihat dua orang bersaudara, yaitu Simon yang disebut Petrus, dan Andreas saudaranya. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan. Yesus berkata kepada mereka, “Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” Mereka pun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Yesus.

Setelah pergi dari sana, Yesus melihat pula dua orang bersaudara, yaitu Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya, bersama ayah mereka, Zebedeus; mereka sedang membereskan jala di dalam perahu. Yesus memanggil mereka, dan mereka segera meninggalkan perahu serta ayahnya, lalu mengikuti Yesus. Yesus pun berkeliling di seluruh Galilea; Ia mengajar dalam rumah‐rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Allah serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan di antara bangsa itu.

Demikianlah Injil Tuhan.

Renungan

Sabda Tuhan hari ini berupa kabar gembira bahwa Yesus datang bukan hanya untuk bangsa‐Nya sendiri, memenuhi nubuat Nabi Yesaya: …wilayah bangsa bangsa lain,—bangsa yang diam dalam kegelapan telah melihat Terang yang besar dan bagi mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut, telah terbit Terang. Sejak waktu itulah Yesus memberitakan:” Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat!” Inilah undangan untuk semua orang untuk menerima Kristus sebagai Terang hidup kita.

Di lain pihak, sebenarnya Injil ini mengatakan sebuah ironi: Galilea adalah daerah pinggiran, berbatasan dengan walayah bangsa bangsa lain. Bangsanya sendiri tidak menerima dia, terutama daerah pusat Yerusalem dan sekitarnya. Yesus memang akan ke sana … untuk menghadapi penolakan dan wafat di salib. Galilea dan wilayah perbatasan bangsa bangsa lain justru mengalami berkat karena di situlah Yesus dan para rasul‐Nya diterima sehingga banyak berkarya selama hidupnya di dunia. Bahkan setelah kebangkitan‐Nya, Yesus meminta para rasul‐Nya kembali ke Galilea untuk bertemu dengan‐Nya (bdk. Mat. 28: 7,10).

Kabar gembira ini patut kita syukuri: jika kita ini orang sederhana, rakyat jelata, jauh dari pusat kuasa dunia, kita tak perlu berkecil hati, karena Tuhan justru mau datang bagi kita dan tinggal bersama kita. Sebaliknya bila kita sedang di pusat dunia atau bahkan Gereja karena jabatan kita, kita harus waspada karena sering kita tak merasa membutuhkan Tuhan.

Yesus, Engkaulah terang sejati dalam hidup dan pelayanan kami, jauhkanlah kami dari belenggu kekuasaan, semoga kami setia untuk mengusahakan keselamatan sesama seperti Engkau sendiri. Amin.

Sumber renungan: Ziarah Batin 2020, OBOR Indonesia

You cannot copy content of this page