Panduan Pertemuan 1 ADVEN 2019 – “Bangunlah Dari Tidurmu !”

Tujuan

Umat mampu mencari dan mengevaluasi, sejauh mana daya ubah (transformatif) iman mereka bagi diri dan masyarakat di sekitarnya.

Pra Wacana Pertemuan

Zona nyaman atau situasi kemapanan merupakan situasi yang selalu didambakan setiap orang, seperti ketika kita tidur pulas yang nyaman menyegarkan badan. Situasi nyaman ini dapat membuat kita menjadi terlena dan membawa kita pada sikap enggan untuk berubah, tidak mau bergerak dan meningkatkan diri kepada situasi yang lebih baik lagi. Sebagai orang katolik, apakah kita juga sudah nyaman dengan iman kita? Merasa cukup pengetahuan dan kedalaman iman kita?

Gereja sebagai komunitas orang beriman senantiasa membarui diri agar selalu tanggap terhadap perubahan zaman, sehingga selalu relevan bagi setiap orang di segala zaman. Iman akan Kristus hendaknya selalu berkembang dan berkualitas baik ke dalam (ad intra) maupun ke luar (ad extra) karena kita menyadari diri iman yang kita hayati ini dihadapkan pada era teknologi informasi yang mengubah cara pikir dan cara mengungkapkan diri bagi orang-orang zaman sekarang.

Mari kita keluar dari zona nyaman egosentrisme, bangur dari tidur dan keluar dari segala kungkungan “keterlenaan” diri untuk semakin mengembangkan iman dengan mengapresiasi (mencari dan mengevaluasi) diri dan komunitas kita agar semakin berdaya ubah (transformatif) bagi diri pribadi dan masyarakat di sekitar kita.

Langkah Proses Pertemuan

  1. Pembuka
    1. Nyanyian Pembuka
    Pemandu dapat mengajak peserta membuka dengan lagu-lagu yang memberikan semangat terbuka bagi masyarakat sekitarnya.
  2. Doa Pembuka

Doa ini hanya salah satu alternatif, pemandu dapat menyesuaikannya dengan situasi umat.

Bapa Maharahim, Allah segala penghiburan, dalam Masa Adven tahun ini, di samping kami menyambut momen penting Perayaan 80 Tahun Keuskupan Agung Semarang (KAS), Refleksi Rencana Induk (RIKAS) dalam Roadmap I (2016-2020), kami juga diajak menyemai peringatan 100 tahun diterbitkannya Surat Apostolik Maximum Illud. Segala gerak yang telah kami jalin dan bangun, semoga memberikan semangat untuk membangun iman yang berdaya ubah. Ajarilah kami, untuk semakin mampu menyadari dan menemukan nilai, karya, dan semangat yang telah kami kembangkan dalam paguyuban, terutama dalam keterlibatan iman yang memasyarakat. Doa ini kami panjatkan, dalam Tuhan kami Yesus Kristus, Putra-Mu, yang hidup dan bertahta bersama Engkau dalam persekutuan dengan Roh Kudus, kini dan sepanjang segala masa. Amin.

  1. Penyalaan lilin Korona

Setelah doa pembuka, pemandu mengajak umat untuk melanjutkan dengan Penyalaan Lilin Korona Adven yang pertama.

P: Tuhan, terangilah umat-Mu dengan cahaya kasih-Mu.

U: Agar kami semua dapat menjadi cahaya bagi sesama.

P: Ya Bapa, berbelaskasihlah kepada kami, para hamba-Mu yang merindukan Putera-Mu, cahaya kehidupan sejati. Nyalakanlah harapan kami yang gelap ini akan kehadiran Putera-Mu yang menjadi penerang bagi hidup kami. Bagaikan nyala lilin yang semakin terang, demikianlah kami mohon agar hidup kami semakin diterangi oleh kehadiran Kristus. Semoga kami semua mampu menjadi pribadi-pribadi yang guyub-rukun serta memiliki daya ubah untuk menyalakan sukacita bagi sesama dalam kesaksian hidup kami setiap hari. Demi Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami, sepanjang segala masa.

U: Amin

  1. Pengantar Pertemuan

Pemandu dapat mengantar pertemuan dengan memberikan beberapa catatan sebagai berikut:

Bapak dan Ibu yang terkasih, dalam Pertemuan Sarasehan Adven pertama ini, kita akan diajak mencari dan mengevaluasi, sejauh mana iman kita memberikan daya ubah (transformatif) bagi diri kita sendiri dan masyarakat di sekitar kita. Kita berkumpul bersama, untuk menyadari sejauh mana kita masih terkungkung dengan egosentrisme iman dan keterlenaan diri selama ini. Bisakah kita melalui moment Adven ini menjadi komunitas dan diri yang berdaya ubah bagi orang lain. Perubahan itu sangat penting bagi kita, terutama kita di tahun 2020 merayakan 80 Tahun Keuskupan kita, Refleksi bersama tentang Rencana Induk (RIKAS) dalam Roadmap I (2016-2020) dan Tahun Misi peringatan 100 tahun diterbitkannya Surat Apostolik Maximum Illud.

Maka, marilah dengan semangat Advent ini, kita bangun dari tidur, bangun dari keterlenaan kita untuk bersedia bangkit menjadi Orang Katolik yang transforamtif bagi kita sendiri dan masyarakat sekitar.

  1. Inspirasi
  2. Mengapresiasi diri dan Lingkungan

Pemandu dapat mengawali refleksi untuk mencari dan mengevaluasi diri sejauh mana diri dan lingkungan mempunyai daya ubah (transformatif) iman.

Paus Fransiskus memberi pesan untuk Kongres Nasional tentang Misi yang diselenggarakan oleh KKM-KWI melalui Uskup Mgr. A. M. Sutrisnaatmaka MSF,

“Jangan pernah lupa, kita selalu berjalan ke depan. Jadilah Ragi yang baik dalam kehidupan sosial. Dalam Kitab Suci dikatakan, kita bukan orang-orang yang berjalan ke belakang. Kita semua orang-orang yang berjalan ke depan. Jika seorang berjalan ke belakang, ia bukanlah seorang Kristiani. Kristiani berarti mengarahkan ke depan. Itu artinya diutus. Dengan demikian kita tetap semangat, selalu menatap ke depan dengan penuh harapan. Roh Kudus mendorong kita untuk maju. Ada dua hal yang harus menjadi rantai penghubung bagi kita semua sebagai orang Kristiani. Bagaimana kita menghidupi baptisan, dalam kehidupan pribadi, juga dalam masyarakat sosial, dan membawa pesan Yesus itu kepada orang lain di sekitar kita. ”

Pesan itu, dalam masa Adven kita yang pertama ini menjadi sangat relevan. Kita diajak “Bangun dari Tidur kita, Bangun dari keterlenaan kita” untuk bersedia bangkit menjadi Orang Katolik yang transformatif bagi kita sendiri dan masyarakat sekitar kita.

No Pernyataan dan Refleksi Penilaian komunitas*
Aktif Biasa Saja Kurang
1 Apakah sejauh ini, lingkungan aktif dalam kegiatan baik internal Menggereja maupun Sosial Kemasyarakatan
2 Apakah sejauh ini, lingkungan aktif dalam kegiatan internal mengembangkan iman yang cerdas dan tangguh dalam rupa dan cara apapun
3 Apakah sejauh ini, lingkungan aktif dalam menggiatkan dan membantu perkembangan rasa saling memiliki, rasa guyub dan rasa kebersamaan (handarbeni)
4 Apakah sejauh ini, lingkungan aktif dalam kegiatan membantu orang yang membutuhkan bantuan material, baik warga lingkungan maupun masyarakat umum sekitar.
5 Apakah sejauh ini, lingkungan aktif dalam kegiatan menjaga rasa kebangsaan, rasa persaudaraan, dan toleransi dengan masyarakat sekitar.
6 Apakah sejauh ini, lingkungan aktif dalam kegiatan sosial pemberdayaan, baik ekonomi atau budaya yang berdampak bagi masyarakat umum sekitar.

Maka, marilah kita evaluasi diri dan komunitas kita:

Penilaian komunitas* Pemandu dapat mengajak umat mengevaluasi sejauh mana lingkungan mempunyai daya ubah (transformatif) iman.Penilaian ini, dapat diberi tanda centang (V) pada kolom yang dimaksud. Pemandu diharapkan dapat merekap hasilnya lalu dimasukkan dalam Scan QR Code berikut ini, untuk masukan ke Keuskupan.

Untuk memperkaya pertemuan, hasil rekap juga dapat dinilai dengan ketentuan sebagai berikut:

  1. Aktif, mempunyai skor 6
    b. Biasa saja, mempunyai skor 3
    c. Kurang, mempunyai skor 0

 

Maka jika dijumlahkan, skor tertinggi yaitu 36, rentangnya dapat sebagai berikut:

  1. Skor 30 – 36, lingkungan menampakkan tanda-tanda BERDAYA
  2. Skor 18 – 29, lingkungan menampakkan tanda-tanda BIASA SAJA
  3. Skor 0 – 17, lingkungan menampakkan tanda-tanda LEMAH, KURANG BERSEMANGAT.
  1. Pendalaman Bersama

Pemandu dapat mengajak umat mengevaluasi sebagai berikut:

  1. Berdasarkan hasil penilaian lingkungan Anda? Bagaimanakah tanggapan Anda Bagikanlah pendapat Anda !
    b. Apa saja bentuk peran serta Anda dalam memperkembangkan lingkungan Anda ?
  2. Refleksi Kateketis dan Simpul Pertemuan

Pemandu dapat mengajak umat memperkaya dan meneguhkan refleksi pengalaman, hidup dengan melihat kembali Renungan bacaan masa Adven Pertama.

  1. Kutipan Kitab Suci

Pemandu mengajak umat menyimak bacaan Kitab Suci Roma 13: 11-14a

Hal ini harus kamu lakukan, karena kamu mengetahui keadaan waktu sekarang, yaitu bahwa saatnya telah tiba bagi kamu untuk bangun dari tidur. Sebab sekarang keselamatan sudah lebih dekat bagi kita dari pada waktu kita menjadi percaya. Hari sudah jauh malam, telah hampir siang. Sebab itu marilah kita menanggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan dan mengenakan perlengkapan senjata terang! Marilah kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati. Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus

  1. Renungan dan Simpul

Pendamping dapat menyampaikan point-point reflektif untuk memperkaya/ melengkapi pertemuan.

  • Bacaan Roma 13: 11-14a mengajak untuk mewujudkan dan menghidupi semangat baru dalam hidup kita. Sebuah semangat untuk memiliki daya ubah demi kemajuan diri dan komunitas di sekitar kita. Tentu, semua itu harus dimulai dengan “bangun dari segala keterkungkungan diri.”
  • Bagaimana kalau kita memang tertidur selama ini. Kita menjadi biasa saja, hanya sekedar begitu-begitu saja. Dalam arti ini, kita seperti yang diungkapkan Paulus, hanya “mengenakan pakaian yang biasa dan tertidur.”
  • Seorang penulis Lauren Winner, mengatakan bahwa secara diam-diam pakaian yang kita kenakan dapat mengungkapkan jati diri kita kepada orang lain. Apa yang kita kenakan dapat saja menunjukkan “semangat dan daya juang kita.” Pikirkanlah jika baju, seragam, atau celana yang kita kenakan untuk menyambut kedatangan Sang Raja Penyelamat, hanya biasa saja. Maka, Paulus mengajak untuk mengenakan baju “terang” dan “saatnya bangun dari tidur”
  • Hal itulah yang diingatkan oleh Paulus kepada jemaat di Roma. Paulus mengatakanbahwa jemaat harus bangun dari tidur, “hal ini harus kamu lakukan, karena kamu mengetahui keadaan waktu sekarang, yaitu bahwa saatnya telah tiba bagi kamu untuk bangun dari tidur”.
  • Pertumbuhan suatu komunitas atau lingkungan, sebenarnya tidak tergantung pada seberapa banyak sosok-sosok dominan yang ada dalam lingkungan tersebut. Namun kesediaan untuk belajar bersama, `Gereja yang belajar’ (ecclesia discens) itulah yang membuat suatu lingkungan itu bertumbuh dan berdaya ubah.
  • Hidupnya sebuah lingkungan akan ditandai dengan adanya “semangat” untuk selalu membarui diri yang didukung dengan adanya “kegiatan” yang selalu dilakukan sehingga menumbuhkan sebuah “gerakan” bersama sebagai perjuwudan iman. Tantangan beratnya, mampukah kita bangun dari tidur, bangun dari kemapanan demi pertumbuhan komunitas yang tidak hanya mendorong arah pertumbuhannya saja, namun menjadi wujud Gereja yang senantiasa berbenah. Meskipun perubahan itu begitu lambat dan pelan, Gereja senantiasa memiliki daya ubah yang dengannya semakin menjadi berkat untuk semua.
  • Panggilan kita sebagai umat di lingkungan-lingkungan merupakan panggilan yang khas (ex vocatione propria). Saatnya, mulai mengembangkan hidup menggereja yang berdialog dengan segala keprihatinan dunia dan masyarakat dewasa ini. Iman yang senantiasa terlibat untuk semakin menghadirkan sakramen keselamatan di tengah-tengah dunia dan keprihatinannya.
  1. Penegasan Bersama dan Penutup 
    Pemandu mengajak pribadi, keluarga atau lingkungan untuk membuat niat dan aksi-aksi nyata yang bisa dilaksanakan secara konkret oleh pribadi atau lingkungan!
  2. Pengendapan

Pemandu mengajak umat membuat pengendapan dengan hening sejenak dalam batin selama kurang lebih 5-10 menit. .

Ajakan untuk meresapkan secara batin pribadi:

Daya ubah macam apa yang akan kita lakukan dalam hidup di tengah lingkungan kita dan masyarakat?

Ajakan untuk berdoa:

Berdoalah agar Roh Kudus membantu kita dalam masa Adven ini, bangun dari keterlenaan diri kita. Kita harus bangun untuk menjadi Gereja yang senantiasa hadir di masyarakat. Berdoalah agar rahmat perutusan yang berdaya ubah terwujud dalam kehidupan kita.

Kita satukan dalam doa yang diajarkan Kristus sendiri yakni doa “Bapa Kami”.

  1. Doa Penutup

Bapa Mahkarya, kami bersyukur karena hari ini Engkau telah membawa kami bangun menjadi orang katolik yang berani hadir dan berdampak di tengah masyarakat. Terima kasih Bapa, Engkau telah membarui hidup kami dengan Roh Kudus-Mu sendiri melalui panggilan keselamatan yang telah kami terima. Semoga untuk hari-hari mendatang kami semakin berani membangun dan mewujudkan peradaban kasih di tengah masyarakat. Doa ini kami panjatkan, dalam Tuhan kami Yesus Kristus, Putra-Mu, yang hidup dan bertahta bersama Engkau dalam persekutuan dengan Roh Kudus, sekarang dan sepanjang segala masa. Amin.

  1. Nyanyian Penutup

Pemandu dapat mengajak peserta menutup pertemuan dengan lagu-lagu yang memberikan semangat terbuka bagi masyarakat sekitarnya.

 

Download Panduan Adven 2019 Disini

Kamu Harus Memberi Mereka Makan, Peringatan Hari Paroki Ke-54 St. Albertus Agung Jetis

Sebagai puncak Hari Ulang Tahun ke-54 Paroki St. Albertus Agung Jetis – Yogyakarta, diadakanlah ekaristi untuk memperingati hari ulang tahun paroki pada hari Minggu (17/11/2019) yang dipimpin secara konselebran Romo Vikep Kevikepan DIY, Romo Adrianus Maradiyo Pr. Bersama dengan romo Paroki St. Albertus Agung Jetis, Romo Vincentius Suparman Pr. serta Romo Ambrosius Heri Krismawanto Pr.

Doa bersama sebelum perayaan ekaristi
Panitia Menyambut Kedatangan Umat
Para Petugas Vandel Paroki

Sebelumnya panitia telah menyelenggarakan berbagai macam kegiatan yang sudah berjalan dengan baik, diantaranya Workshop Photocaption yang digagas oleh panitia bersama dengan tim kerja Komsos paroki. Kegiatan ini diadakan untuk mengajak remaja millenial supaya ikut bagian dalam mewartakan sukacita, kabar gembira dan injil dengan menggunakan media sosial yang dimilikinya.

Baca Juga : https://staging2.christina.my.id/satu-foto-sejuta-makna-workshop-photo-caption-2019/

Misdinar Paroki Jetis (PAPIXTO)
Petugas Perayaan Ekaristi

Selain itu juga diselenggarakan festival dolanan tradisional, supaya anak-anak dan keluarga tidak disibukkan melulu oleh gadget dan game online, sehingga mereka dapat mengenal pula berbagai jenis permainan tradisional. Untuk sekedar sejenak melupakan dunia online, berbaur, bermain bersama serta bertegur sapa dengan teman-teman di dalam permainan tradisional.

Tidak ketinggalan sebagai salah satu wujud syukur, diadakan acara kenduri, dengan tujuan menyapa masyarakat yang bertempat tinggal di sekitar lingkungan gereja serta mengajak mereka untuk ikut kenduri bersama, karena gereja hidup dan berada di tengah-tengah masyarakat, sekaligus untuk menjalin lintas iman dengan saudara kita yang beragama lain.

Baca Juga : https://staging2.christina.my.id/kenduri-menjelang-hari-paroki/

Dalam homilinya, Romo Adrianus Maradiyo Pr. menyambut baik bentuk-bentuk kegiatan yang telah dilaksanakan dalam rangka memeringati HUT Paroki St. Albertus Agung Jetis yang ke-54. Romo Maradiyo mengatakan,

”Umat Paroki Jetis di usianya yang ke-54 semakin matang dan dewasa terlibat dalam kehidupan di gereja maupun di tengah masyarakat.  Salah satunya adalah mulai gumregah terlibat dalam kehidupan menggereja ikut serta kerja bakti membersihkan lingkungan gereja.”

Usia paroki 54 tahun merupakan usia yang matang. Umat perlu dilibatkan, bukan hanya sebagian orang. Hal ini dapat dilihat dari pesta yang melibatkan seluruh umat di paroki. Petugas koor diambil dari 4 wilayah dan 20 lingkungan.

Diharapkan tema hari paroki yang diambil sungguh menggerakkan seluruh umat, kerelaan berbagi apa yang kita miliki akan tumbuh ketika kita peduli satu sama lain terutama kepada orang-orang yang sungguh membutuhkan bantuan. Kerelaan untuk berbagi  diyakini akan memberikan dampak tidak akan terjadi kelaparan. Wujud konkrit kepedulian kita sebagai umat. Ketika para murid menghadapi tantangan 5000 orang, Tuhan Yesus berkata, kamu harus memberi mereka makan.

Bagaimana kepedulian dibangun? Romo Maradiyo berucap, saya berikan sebuah contoh cerita.

Ada seorang pemuda yang masuk ke sebuah kampung, mengetuk pintu rumah seorang janda.

Pemuda : Ibu tolong saya, saya sudah 3 hari tidak makan. Saya kelaparan.

Ibu : Anak muda maaf sekali disini tidak ada makanan.

Ibu jangan khawatir, saya membawa tas kresek yang berisi sebuah batu ajaib. Saya hanya minta kepada ibu untuk menyediakan Tungku, Api dan, Dandang.

Saya akan masak dengan batu ajaib yang saya miliki ini. Silahkan ibu memberikan kabar sukacita kepada warga di kampung ini untuk datang bersama-sama menikmati masakan yang akan saya masak ini.

Disaat ibu tersebut keliling dari rumah ke rumah kemudian pemuda ini mulai menyalakan api dalam tungku dan memasak air yang dimasukkan ke dalam panci dan batu ajaib tersebut dimasukkan sembari terus diaduk-aduk sambil sesekali diicipi.

Pemuda tersebut kemudian berkata, Bapak ibu dan saudara-saudari terkasih masakan ini akan semakin enak kalau ditambah sayur. Siapa yang di rumahnya ada sayur silahkan dibawa kemari.

Lalu penduduk kampung itu mengatakan, saya punya pete, saya punya kacang panjang, saya punya wortel. Kemudian mereka membawanya ke rumah janda tersebut. Dimasukkan ke dalam panci besar itu dan mulai diaduk-aduk lagi.

Pemuda itu pun kembali mencicipi masakan tersebut. Ia berkata kembali, masakan ini sudah lezat, namun akan lebih lezat lagi kalau ditambah daging.

Kemudian ada yang mengatakan, saya punya ayam, saya punya daging kambing, dan lain-lain. Lalu sebagian dari mereka pulang ke rumahnya dan kembali dengan membawa daging-daging tersebut. Dimasukkan ke dalam panci dan diaduk kembali.

Setelah dicicipi, ia pun berkata. Bapak, ibu dan saudara-saudari masakan ini sudah siap untuk disantap, mari kita makan bersama-sama. Tetapi maaf disini tidak ada piring, silahkan bapak dan ibu pulang dahulu untuk mengambil piring dan jangan lupa diisi dengan buah dan nasi.

Akhirnya semua dijadikan satu dan mereka pun mulai makan sampai kenyang. Mereka mengatakan, baru kali ini kita makan bersama dan begitu menggembirakan. Siapa yang mempunyai ide ini?

Janda tersebut kemudian berkata, ada seorang pemuda yang mempunyai ide ini. Mana orangnya? Tanya salah seorang penduduk kampung. Pemuda itu dicari kemana-mana tetapi tidak ketemu. Hanya pemuda itu meninggalkan sebuah surat berbunyi :

Bapak, ibu dan saudara-saudari terkasih. Mohon maaf saya tidak bisa ikut makan bersama-sama tetapi saya meninggalkan batu ajaib itu untuk kampung ini. Silahkan kalau ingin selalu bergembira, masak batu ajaib ini bersama-sama seperti yang saya lakukan. Salam.

Lalu salah satu dari mereka bertanya kepada janda tersebut, siapa nama pemuda itu? Pergi ke mana dia?

Lalu mereka mendapatkan sebuah jawaban yang mencengangkan, pemuda itu adalah umat Paroki Jetis.. 😀

Pemotongan Tumpeng Sebagai Simbol Peringatan Hari Paroki Ke-54

Selesai mengikuti perayaan ekaristi, umat Paroki Jetis diajak untuk makan bersama nasi kuning yang telah disediakan oleh setiap lingkungan dilanjutkan dengan “rayahan” dua buah gunungan sayur dan buah di halaman parkir gereja.

Makan Bersama
Para Suster Ikut Merayakan HUT Paroki Jetis Ke-54
Rayahan Gunungan Sayur & Buah

Bersamaan pula dengan Hari Orang Miskin Sedunia yang akan diperingati pada tanggal 19 November mendatang, panitia telah mengundang umat sederhana untuk berwawan hati bersama Romo Vikep dan Romo Paroki, juga diberikan sembako sebagai wujud kepedulian gereja terhadap umat sederhana.

Selamat Ulang Tahun Paroki St Albertus Agung Jetis Yogyakarta yang ke-54 !

Umat Paroki Jetis
Wawan Hati Dengan Romo Vikep

Galeri Foto Klik Disini

 

Artikel oleh : Agustinus Suseno & Frans

Foto oleh : Panitia Hari Paroki & Tim Komsos Jetis

Kenduri Menjelang Hari Paroki Ke-54 St. Albertus Agung Jetis

Menjelang Hari Paroki yang menandakan bertambahnya usia gereja pada tanggal 15 November 2019, Paroki St. Albertus Agung – Jetis, Yogyakarta menyelenggarakan acara kenduri untuk mengucap syukur atas bertambahnya usia gereja menjadi 54 tahun. Acara kenduri dihadiri oleh tidak kurang dari 50 orang, dari berbagai kalangan usia yang didominasi oleh para pini sepuh dan pemuda-pemudi.

Dalam acara kenduri, panitia Hari Paroki mengundang warga yang bertempat tinggal di sekitar Gereja St. Albertus Agung – Jetis untuk hadir dan turut merasakan kebahagiaan gereja. Bertindak sebagai pembicara dan pemimpin doa yaitu Bapak Muh. Burhanuddin.

Bapak Muh. Burhanuddin juga menyampaikan dalam sambutannya bahwa dalam hidup kita perlu banyak bersyukur karena Allah Sang Maha Pemberi selalu mencukupkan umatnya. Dengan bersyukur dan memberi, rejeki yang berlimpah juga akan diberikan oleh Tuhan Sang maha Pengasih.

Tema Hari Paroki St. Albertus Agung yang ke-54 adalah “Kamu Harus Memberi Mereka Makan”, dan ini diwujudkan dengan memberikan sembako kepada warga yang diundang.  Kenduri ini juga menjadi jalinan Silaturahmi antara gereja dengan warga di sekitar gereja.

Setelah kenduri pada hari ini, selanjutnya pada hari Minggu nanti tanggal, 17 November 2019, akan diselenggarakan puncak perayaan ekaristi Hari Paroki yang akan dipimpin secara konselebran bersama romo Vikep Kevikepan DIY, Romo  Andrianus Maradiyo Pr., romo Paroki St. Albertus Agung Jetis, Romo Vincentius Suparman Pr., dan Romo Ambrosius Heri Krismawanto Pr.

 

Foto oleh : Komsos Paroki Jetis

Artikel oleh : Agustinus Suseno & Frans

Satu Foto Sejuta Makna, Workshop Photo Caption 2019

Aula Paroki St. Albertus Agung Jetis, 03 November 2019

Hari Paroki atau Hari Ulang Tahun Paroki Jetis hanya dalam hitungan minggu lagi. Dalam rangka Hari Paroki tersebut, Paroki St. Albertus Agung Jetis menggelar sebuah workshop bertajuk Photo Caption.

Workshop ini diadakan bagi umat Paroki Jetis dengan tujuan memberikan pelatihan bagaimana membuat caption (baca : narasi) yang sesuai bagi foto yang seringkali kita kirim terutama di social media dan melalui aplikasi untuk berkomunikasi seperti WhatsApp dan sejenisnya.

Mungkin kita sering mengalami adanya pribadi yang mengirim pesan dalam grup atau secara japri (jalur Pribadi) berupa gambar/foto tanpa tulisan sama sekali. Tentu kita akan kebingungan karena tidak mengetahui apa maksud atau tujuan dari gambar/foto tersebut. Nah, untuk itulah pelatihan ini dibuat.

Setelah dibuka dengan doa bersama yang dipimpin oleh mas Deo, kemudian workshop dengan durasi setengah hari ini dibawakan oleh mas Eri dari Komsos Kevikepan DIY yang berasal dari Paroki Boro.

Penyelenggaraan acara dilakukan di aula Paroki, dengan jumlah kehadiran umat sekitar 30 peserta dari berbagai kalangan usia. Para peserta ini berasal dari berbagai lingkungan dalam lingkup Paroki St. Albertus Agung Jetis.

Seperti yang telah disampaikan, perhelatan ini merupakan salah satu rangkaian dari kegiatan umat Paroki St. Albertus Agung Jetis menyambut Hari Ulang Tahun Paroki yang ke-54 tahun, dan dapat terselenggara dengan baik berkat bantuan dari rekan-rekan Komisi Komsos Kevikepan DIY serta Panitia Hari Paroki ke-54.

Materi yang dibawakan memberikan banyak pengalaman baru bagi peserta dalam mengambil foto yang baik, memiliki makna dan membuat caption yang menjelaskan maksud yang ingin disampaikan oleh foto tersebut.

Para peserta pun diberikan kesempatan untuk mencoba membuat karyanya masing-masing yang kemudian dievaluasi bersama. Bukan untuk menilai baik-buruk maupun benar-salahnya namun bersma-sama mengevaluasi agar dapat menghasilkan karya yang lebih baik lagi.

Berikut ini hasil karya dari beberapa peserta Workshop Photo Caption 2019 Paroki St. Albertus Agung Jetis :

Workshop diakhiri pada pukul 12.00 siang setelah doa penutup dan foto bersama.

Galeri FOTO Klik Disini

Terima kasih Komsos Kevikepan DIY !

Satu Langkah Nyata Peduli Sesama di Bantul

“Di sini pas tanggal 17 Maret itu seharian hujan deras dari pagi hingga malam hari lalu tiba-tiba sekitar waktu subuh banjir bandang melanda pemukiman termasuk rumah saya” kata salah seorang Bapak yang kami temui di posko bantuan bencana banjir dan tanah longsor Kecamatan Imogiri, Bantul beberapa waktu lalu. Kabupaten Bantul memang menjadi wilayah terparah yang dilanda banjir. Tercatat 35 desa dan 14 kecamatan terdampak banjir akibat hujan deras yang mengguyur dari pagi hingga malam hari. Selain Bantul, tiga daerah lainnya yaitu Kulon Progo, Sleman dan Gunungkidul juga terdampak hujan lebat dibuktikan dengan temuan genangan air di beberapa lokasi.

Sebagai wujud kepedulian warga gereja Santo Albertus Agung Jetis, umat melalui TIM APP (Aksi Puasa Pembangunan) menyalurkan bantuan untuk meringankan beban para korban banjir dan tanah longsor. Sebelum penyaluran bantuan, pengumpulan informasi dilakukan guna mengetahui kebutuhan apa saja yang saat itu diperlukan para korban.

Romo Paroki dan para ketua lingkungan membantu tim mempercepat pengumpulan bantuan dari 19 lingkungan di wilayah paroki. Pengumpulan bantuan  hanya dilakukan dalam waktu 2 hari saja mengingat situasi dan keperluan yang mendesak. Bantuan yang diberikan berupa kebutuhan sembako, obat – obatan, kebutuhan bayi, peralatan masak dan peralatan kebersihan.

Lima hari setelah bencana, kami Tim APP datang ke posko bantuan yang dipusatkan di Stasi St. Mater Dei, Bantul. Kami datang menggunakan mobil pick up dan disambut oleh Bapak Wahyu sebagai penanggung jawab bantuan di posko tersebut. Beliau menjamu kami dengan teh dan pisang rebus hangat yang cocok sekali dengan hawa dingin dan hujan rintik saat itu. Kemudian kami banyak bertukar cerita tentang dampak banjir bandang yang dirasakan warga Bantul.

Kata Pak Wahyu “Satu hari setelah bencana banjir, air sudah surut Mbak namun warga harus membersihkan rumahnya selama berhari-hari. Anak – anak juga belum bisa kembali sekolah karena harus membantu orang tua membersihkan rumah lagipula kondisi sekolah belum memungkinkan untuk kembali digunakan”. Akibat bencana ini, ada 5.046 warga DIY yang terdampak dengan 4.427 di antaranya adalah warga Bantul. Selain itu, peristiwa ini memakan korban jiwa sebanyak lima orang.

Dukungan layanan kesehatan dan logistik dari pihak lain masih terus berdatangan saat tim kami berkunjung ke sana. Tampaknya semangat peduli dan perhatian masih mengakar di kalangan masyarakat. Kami berharap kondisi di Bantul segera pulih sehingga warga dapat kembali beraktifitas dan kondisi di Yogyakarta selalu aman dan kondusif.

 

Ditulis Oleh : Christina Adiratna R

You cannot copy content of this page