Pendalaman Iman MINGGU ADVEN III: St.Maria Assumpta Jogoyudan Kidul – Berjalan Bersama Dengan Sukacita

Kegiatan Pendalaman Iman Minggu Adven III dilaksanakan oleh umat di Lingkungan St.Maria Assumpta Jogoyudan Kidul pada hari Selasa, 13 Desember 2022, pukul 19.00 WIB. Bertempat di kediaman Bu Sari sebagai Ketua Lingkungan dan dihadiri oleh 12 umat beserta 7 orang mahasiswa/i PENDIKKAT USD. Pendalaman iman adven ini dipimpin oleh Bu Wiwik sebagai calon prodiakon dari Lingkungan St. Maria Assumpta Jogoyudan Kidul. Kegiatan Pendalaman Iman Minggu Adven III ini dilangsungkan dengan tujuan supaya dalam masa adven ini, umat semakin menghayati makna minggu adven ketiga untuk semakin menyambut kedatangan Tuhan dengan sukacita.


(Para mahasiswa/i PENDIKKAT USD yang mengikuti pendalaman iman)

Suasana pendalaman iman berlangsung lancar & menggugah antusias umat yang hadir. Walaupun umat yang hadir hanya belasan, tetapi semangatnya seperti ribuan umat. prosesnya, kegiatan diawali dengan nyanyian pembuka “O Datanglah Emanuel. Setelah lagu pembuka, masuk pada bagian tanda salib dan kata pengantar untuk pendalaman minggu adven III. Dalam kata pengantar ini, umat diajak untuk berusaha menumbuhkan semangat “berjalan bersama” dengan sukacita dan komitmen membangun hidup menggereja yang lebih baik, baik di dalam keluarga, lingkungan, bahkan paroki. Kata pengantar disambung dengan Doa Pembuka sekaligus penyalaan lilin korona ketiga (warna pink) dalam lingkaran adven.

Untuk bagian berikutnya: mendengarkan & berbicara pengalaman iman. Pada bagian ini, beberapa umat berani men-sharing-kan pengalamannya. Seperti biasa sharing dipandu dengan 2 pertanyaan utama, yakni:

  1. Apakah anda merasakan sukacita sebagai umat katolik? Bagikan pengalaman anda?
  2. Menurut pendapat dan pengalaman anda selama ini, apakah umat di lingkungan kita sudah ikut “bertanggung jawab bersama” secara sukacita dengan berpartisipasi atau berperan serta melayani misi atau perutusan Gereja?

Dari panduan sharing di atas, hasil sharing umat berbeda-beda namun mengarah pada rasa sukacita sebagai umat katolik. Yang berbeda adalah prosesnya dalam hidup sebagai umat katolik. Ada umat yang ber-sharing bahwa ia menjadi katolik, karena pindah agama & menikah dengan istrinya. Ia tertarik dengan agama katolik karena ajaran kasih yang menjadi dasar untuk menjalani kehidupan. Di sisi lain, ia percaya ada janji Yesus kepada umat kristiani tentang kehidupan kekal di Surga. Akhirnya, ia memutuskan dengan bulat hati berpindah agama & merasakan sukacita sebagai umat katolik.


(Suasana sharing yang mengundang tawa & kegembiraan umat Lingkungan St.Maria Assumpta Jogoyudan Kidul)

Ada pula umat yang ber-sharing bahwa ia menjadi katolik, karena bawaan dari lahir & pilihan orang tua (baptis bayi). Tidak memungkiri sebenarnya ia dapat pindah agama ketika usia dewasa/menikah. Namun, ia tetap berpegang teguh akan imannya dan bangga menjadi katolik. Hal ini mungkin dipengaruhi pula dengan ikut ambil bagian dalam seluruh kegiatan-kegiatan menggereja, seperti mengikuti putra/i altar, menjadi pengurus OMK, dan sebagainya. Hingga saatnya, ia dekat dengan seorang pemuda yang sesama katolik dan saat ini menjadi suaminya. Dari pengalaman ini, ia merasa bersyukur sampai sekarang menjadi orang katolik & penuh kesukacitaan dalam hidupnya.

Terakhir, ada umat yang ber-sharing bahwa ia menjadi katolik, karena keputusannya sendiri (baptis dewasa). Ia mengatakan bahwa menjadi orang katolik ini prosesnya tidaklah mudah, perlu belajar dulu secara tekun (menjadi katekumen). Meskipun prosesnya sulit, ia tetap menjalaninya dengan sukacita karena ada niat kerinduan yang cukup besar dalam dirinya. Maka, setelah dibaptis sangatlah bergembira hatinya & meluap-luaplah kesenangan dalam dirinya menjadi seorang katolik. Sampai sekarang, ia berusaha menjadi seorang katolik yang penuh sukacita.

Untuk pertanyaan sharing yang kedua, dijawab secara bersama-sama dengan kata “sudah”. Umat di lingkungan St. Maria Assumpta Jogoyudan Kidul sudah ikut “bertanggung jawab bersama” secara sukacita dengan berpartisipasi atau berperan serta melayani misi atau perutusan Gereja. Hal ini dikonkretkan dengan berpartisipasi menjadi petugas koor, mengirimkan petugas liturgi yang lain, ikut berpartisipasi dalam proyek pembangunan gereja, dll.

Setelah berbagi pengalaman, dilanjutkan dengan merenungkan bacaan dari Matius 11:2-11. Bacaan ini berkaitan dengan Yohanes Pembaptis yang mengutus para muridnya untuk datang kepada Yesus dan membuktikan bahwa karya keselamatanNya itu nyata. Bukti karya keselamatan ini nyata diperlihatkan dengan aksi yang Yesus lakukan: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta sembuh, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar gembira. Yohanes Pembaptis sungguh memastikan kabar sukacita itu, bahwa jalan terjal yang ia lalui dan jerih payah yang ia tempuh tak akan pernah sia-sia lewat bukti aksi dari Yesus. Seperti halnya Yohanes Pembaptis, bersukacita bahwa dirinya tak akan sia-sia menjadi pembuka jalan keselamatan. Kita juga perlu senantiasa melihat kembali apakah kita bersama mampu berjalan mengusahakan sesuatu yang lebih baik dengan makin mendalam dan mendewasakan iman kita, bahkan semakin mengobarkan dan menggelorakan iman kita.

Seluruh rangkaian pendalaman iman minggu adven ketiga di Lingkungan St. Maria Assumpta Jogoyudan Kidul ditutup dengan doa umat dilanjutkan dengan doa bapa kami dan doa penutup.

.

Penulis: Chris Cerly Rika Saraswati (Mahasiswi PENDIKKAT USD)

.
.

Pendalaman Iman MINGGU ADVEN II: St.Ignatius Cokrokusuman – Berjalan Bersama Membangun Pertobatan

Kegiatan pendalaman iman Minggu Adven II dilaksanakan oleh umat di Lingkungan St.Ignatius Cokrokusuman pada Rabu, 7 Desember 2022 pukul 19.00 WIB di kediaman Pak Agus. Pendalaman Iman Minggu Adven II ini mengambil tema “Berjalan Bersama Membangun Pertobatan” sesuai dengan Buku Panduan Adven Lingkungan KAS. Kegiatan ini dihadiri oleh 18 umat lingkungan Ignatius Cokrokusuman, 2 orang mahasiswa/i PENDIKKAT USD, dan dipandu oleh Pak Lintang selaku calon prodiakon lingkungan.

Suasana pendalaman iman berlangsung lancar, singkat, padat, & jelas. Umat yang hadir hampir seluruhnya berusia dewasa hingga lansia. Dalam prosesnya, diawali dengan nyanyian pembuka “Juruselamat Datanglah”. Setelah lagu pembuka, masuk pada bagian tanda salib dan kata pengantar untuk pendalaman minggu adven II. Kata pengantar ini mengajak umat untuk semakin menantikan kedatangan Tuhan dengan sikap tobat dan dari segala kekurangan dan keterpurukan yang pernah terjadi. Dari kata pengantar dilanjutkan dengan Doa Tobat “Allah yang Maharahim”, Doa Pembuka, dan Penyalaan lilin korona kedua dalam lingkaran adven.

Untuk bagian selanjutnya: mendengarkan & berbicara pengalaman iman. Pada bagian ini, Pak Lintang sebagai pemandu mengajukan pertanyaan-pertanyaan sharing yang telah disediakan. Mayoritas umat menjawab “sudah” atas pertanyaan-pertanyaan yang ada. Namun, tiba-tiba ada salah satu umat yang bertanya kepada Pak Lintang sebagai pemandu. Pertanyaan bapak ini berbunyi demikian: “Saya sering mendengarkan homili Romo-romo yang ada di Keuskupan Jakarta melalui misa live streaming. Suatu saat ada homili yang menarik dari beliau ini tentang ‘bagaimana sebaiknya kita mengimani iman kristiani, iman kita?’ Karena menurut saya, menjadi orang kristiani itu sebenarnya hal yang susah susah gampang, sebab ada orang yang rajin sekali ke gereja, tetapi antar tetangganya bermusuhan atau setelah pulang misa suka menggosip orang lain. Lantas, bagaimana sebaiknya kita mengimani iman kita?”

Pertanyaan dari salah satu umat ini menjadi bahan sharing tambahan yang justru menimbulkan berbagai argumen dari macam-macam umat. Ada umat yang ber­-sharing bahwa menghidupi iman itu ya melakukan & berbuat. Misalnya, sudah rajin ke gereja, lalu kerajinan ini hendaknya juga berbuah lewat tindakan-tindakan baik yang kita lakukan kepada orang lain. Tindakan baik yang dilakukan ini menjadi bukti nyata bahwa kita benar-benar menghidupi iman yang ada. Lalu, adapula umat yang ber-sharing pula untuk mengidupi iman dapat dilakukan dengan berusaha setiap hari mendekatkan diri dengan Tuhan lewat berdoa & bersyukur. Berdoa & bersyukur sebagai bentuk bagi kita menerima segala karunia yang Ia berikan.

Dari segala sharing yang ada, Pak Lintang sebagai pemandu pendalaman adven mencoba memantik kembali hasil sharing umat dengan pertanyaan kunci: “Apakah dengan bersyukur, sudah cukup untuk semakin memperbaiki diri melalui tindakan?” Pastinya tidak, karena semuanya itu diawali dengan adanya rasa penyesalan & pertobatan. Rasa pertobatan yang membawa kita kepada niat selanjutnya yakni bersyukur & bertindak yang lebih baik lagi.

Setelah berbagi pengalaman, dilanjutkan dengan merenungkan bacaan dari Matius 3:1-12. Bacaan ini berkaitan dengan seruan pertobatan dari Yohanes Pembaptis. Dari bacaan tentang pertobatan ini, kita diajak kepada wujud pertobatan dalam mempersiapkan kehadiran Sang Juruselamat di hati kita. Situasi di tengah pemulihan pandemi ini dan sinodalitas hidup kekatolikan kita memang belum sepenuh pulih dan optimal. Masih ada berbagai hal yang perlu menjadi bentuk pertobatan kita bersama, terutama kerapuhan dalam paguyuban umat.

Seluruh rangkaian pendalaman iman minggu adven kedua ditutup dengan doa umat dilanjutkan dengan doa bapa kami dan doa penutup. Terakhir ditutup dengan nyanyian “Nderek Dewi Maria”.

.

Penulis: Chris Cerly Rika Saraswati (Mahasiswi PENDIKKAT USD)

.
.

Ibadat Tobat & Pengakuan Dosa Masa Adven 2022: “Ada Ampun Dari-Nya”

Kedatangan Sang Juru Selamat yang dinantikan oleh umat kristiani di seluruh dunia sudah semakin dekat. Untuk menyambut kedatangan Sang Juru Selamat ini, Gereja secara khusus memang seluruh umat kristiani untuk melaksanakan Sakramen Tobat sebagai sarana rekonsiliasi dengan Allah & sesama. Dari arti katanya, rekonsiliasi berarti ‘memulihkan hubungan’. Tentu memulihkan hubungan kepada suasana damai. Maka, untuk mau me-rekonsiliasi pasti diperlukan kesadaran & pemeriksaan batin masing-masing akan kesalahan yang pernah diperbuat.  Kesadaran & pemeriksaan batin ini dibawa kedalam Sakramen Tobat sebagai penyesalan & niat memperbaiki diri kearah yang lebih baik.

Para Imam-imam di Kevikepan Jogja Timur saling berkolaborasi untuk mengusahakan pelaksanaan safari pengakuan dosa bagi umat di masing-masing Paroki. Dalam kolaborasi ini, setiap imam menjadwalkan pelaksanaan pengakuan dosa dan saling bergantian melayaninya. Untuk giliran jadwal pelaksanaan pengakuan dosa di Paroki St. Albertus Agung Jetis jatuh pada hari Senin, 12 Desember 2022 tepatnya pukul 16.30-19.30 WIB.

Sesuai dengan jadwal yang ditentukan, pelaksanaan safari pengakuan dosa diawali dengan ibadat tobat dan dilanjutkan dengan pengakuan dosa secara pribadi di bilik pengakuan dosa. Ibadat tobat dipimpin oleh Pak Wawan sebagai salah satu Prodiakon Paroki Jetis. Pak Wawan mengantar umat pada suasana tobat lewat permenungan dalam salah satu perikop Kitab Suci. Dengan merenungkan Perikop Anak yang Hilang (Lukas 15:11-32), kita semua diajak untuk bangkit & percaya bahwa ada ampun dari Bapa seperti yang dialami oleh anak bungsu. Keadaan sulit & haus akan kasih sayang dari Bapanya, membuat si Bungsu memberanikan diri untuk datang meminta pengampunan pada Bapa. Respon yang tak terduga dari Bapa atas keberanian dari si Bungsu, malah membuat iri si Sulung. Tetapi, dengan kebijaksanaan Bapa terucaplah: “Kita patut bersukaria dan bergembira karena saudaramu telah mati dan hidup kembali. Ia telah hilang dan ditemukan kembali.”

Perikop Anak yang Hilang sangat cocok dengan pelaksanaan safari pengakuan dosa. Masing-masing pribadi dipanggil seperti si Bungsu. Puji Tuhan, berbondong-bondong umat di Paroki Jetis datang dan meng-antri di depan bilik pengakuan dosa, padahal sudah ada 6 bilik pengakuan dosa yang diisi oleh Imam-imam Kevikepan Jogja Timur. Dengan kesabaran dan keteraturan antri, pengakuan dosa secara pribadi berjalan dengan lancar. Semoga kedepannya semakin banyak umat kristiani yang lebih banyak lagi mengikuti safari pengakuan dosa.

.

Penulis: Chris Cerly Rika Saraswati (Mahasiswi PENDIKKAT USD)

.
.

PAPIXTO JETIS: Putra-putri Altar Paroki Jetis terus mengobarkan Semangat Melayani

JETIS- PAPIXTO Jetis adalah sebutan bagi Putra-putri Altar di Paroki Santo Albertus Agung Jetis. Mereka melangsungkan pertemuan rutin setiap 2 kali dalam sebulan untuk terus mengobarkan semangat melayani. Pada Minggu, 4 Desember 2022 menjadi pertemuan yang pertama dalam bulan Desember. Pertemuan diadakan di gereja Santo Albertus Agung Jetis Yogyakarta, pukul 10.00-12.00 WIB.

Pertemuan ini dihadiri oleh 11 orang putra-putri altar, 2 orang pendamping, dan 6 mahasiswa/i Pendidikan Keagamaan Katolik (PENDIKKAT) USD yang magang Pelayanan Karya Paroki. Dua orang pendamping yang hadir (Kak Tama & Kak Niko) membuka pertemuan dengan doa pembuka. Setelah doa pembuka, acara dilanjutkan dengan sesi perkenalan antara kakak-kakak mahasiswa/i dan putra-putri altar. Masing-masing menyebutkan nama, asal, dan sekolah. Rata-rata putra-putri altar yang hadir sedang menempuh pendidikan di jenjang SMP dan SD kelas atas. Tahap perkenalan ini menjadi hal yang penting bagi kakak-kakak mahasiswa/i, karena menjadi modal awal untuk berdinamika bersama putra-putri altar Paroki Jetis. Sebab rencananya, kakak-kakak mahasiswa/i akan memberikan penyegaran baru bagi mereka pada pertemuan selanjutnya (Minggu, 18 Desember 2022). Untuk itu, jika para pembaca adalah bagian dari putra-putri altar Paroki Jetis, diharapkan kedatangannya pada pertemuan mendatang.

(Proses perkenalan kakak-kakak mahasiswa/i PENDIKKAT USD dan putra-putri altar Paroki Jetis)

Semua pihak sudah perkenalan. Ternyata dalam putra-putri altar ini ada anggota senior & junior. Maka, pada pertemuan ini berfokus pada latihan untuk pelayanan perayaan ekaristi manten (perkawinan). Namun, sebelum latihan untuk perayaan ekaristi manten (perkawinan), kakak pendamping menawarkan pembagian jadwal tugas bulan Desember terutama tugas perayaan ekaristi harian. Putra-putri altar bebas memilih hari untuk bertugas & biasannya mendapatkan pasangan yang random. Setelah pembagian tugas selesai, latihan untuk perayaan ekaristi manten (perkawinan) pun dimulai. Kak Niko sebagai sie liturgi memandu latihan diawali dengan arahan keistimewaan liturgi perkawinan. Barulah putra-putri altar Jetis praktik langsung secara berpasangan. Dalam dinamika latihan bersama, memang ada sesi bercanda namun ada juga sesi serius. Disinilah nampak bahwa putra-putri altar Paroki Jetis dapat memposisikan dirinya dalam berlatih. Seperti kata-kata bijak, “Bercanda itu boleh, asal tidak berlebihan, tidak menyakiti perasaan serta memahami situasi dan kondisi.”

(Putra-putri Altar Paroki Jetis yang sedang praktik latihan untuk perayaan ekaristi manten)

Pada akhirnya seluruh kegiatan pertemuan berjalan lancar dari awal hingga akhir. Semoga putra-putri altar Paroki Jetis semakin terus mengobarkan semangat melayaninya dengan konsisten bertugas dalam perayaan-perayaan ekaristi ataupun peribadatan lainnya. Tuhan Memberkati!

.

Penulis: Chris Cerly Rika Saraswati (Mahasiswi PENDIKKAT USD)

.
.

Pendalaman Iman MINGGU ADVEN I: Berjalan Bersama Menyongsong Kedatangan Tuhan – Semangat Umat St.Paulus Jatimulyo

JATIMULYO- Dengan semangat keakraban, umat Lingkungan Paulus Jatimulyo berkumpul untuk melangsungkan pendalaman iman Minggu Adven I (03/12/22, 19.00 WIB) di kediaman Pak Sudirahman.

Pendalaman iman Minggu Adven I di lingkungan Paulus Jatimulyo dihadiri oleh lebih kurang 30 umat termasuk 6 mahasiswa/i Program Studi Pendidikan Keagamaan Katolik (PENDIKKAT) USD. Kehadiran mahasiswa/i ini sebagai bentuk pelayanan kepada umat selama magang pelayanan karya paroki di Paroki Jetis. Maka, mereka yang membantu umat untuk menjadi fasilitator dalam pendalaman iman Minggu Adven I.

Pendalaman iman Minggu Adven I ini diawali dengan kata pengantar dari Bu Nevi selaku Ketua Lingkungan Paulus Jatimulyo. Kegiatan dilanjutkan dengan nyanyian pembuka “O, Datanglah Emanuel” yang mengarah pada tema Minggu Adven I, masa pengharapan akan Tuhan Sang Juru Selamat. Pendalaman iman dipandu oleh Roland sebagai fasilitator utama. Roland mengawali pendalaman iman dengan menyampaikan maksud & tujuan dari pendalaman iman Minggu Adven I sesuai Buku Panduan Adven Lingkungan 2022 KAS, “Berjalan Bersama: Semakin Katolik, Semakin Apostolik.”

Maksud & tujuan dari pendalaman iman Minggu Adven I ialah, umat diajak untuk berjaga-jaga, tanggap, kuat, dan senantiasa berharap di masa pemulihan COVID-19. Umat diajak untuk menyadari gerak sinodalitas dalam konteks memahami mengenai harapan dan kekuatan di kehidupan zaman sekarang yang penuh tantangan dan resiko ini. Dengan bacaan yang akan diperdalam sebagai peneguhan dan renungan dari Matius 24:37-44 mengenai “Kedatangan Anak Manusia” yang tiba-tiba dan tidak dapat diduga (Adven Eskatologis).

Setelah menyampaikan maksud & tujuan pendalaman iman Minggu Adven I, pertemuan dilanjutkan dengan berbagi pengalaman (sharing) hidup umat. Berbagi pengalaman ini dipandu dengan pokok-pokok pertanyaan sebagai berikut:

  1. Menurut anda, masihkan orang-orang zaman sekarang ini menantikan kehadiran dan keterlibatan Tuhan dalam hidupnya?
  2. Situasi apa yang membuat orang senantiasa menantikan kehadiran Tuhan? Bagikanlah pengalaman anda!

Apa arti dan makna Adven bagi hidup Anda dalam situasi saat ini?

Dari panduan pertanyaan untuk berbagi pengalaman di atas, beberapa umat di lingkungan Paulus berani untuk mengungkapkan pengalaman hidupnya. Ada yang mengungkapkan pengalaman kesedihan & kehilangan orang-orang tersayang saat pandemi tahun 2020-2021 yang lalu. Pengalaman kesedihan & kehilangan orang-orang tersayang ini diolah ke dalam pengalaman yang mampu mendekatkan diri dengan Tuhan melalui Doa. Ada pula yang mengungkapkan pengalaman jauh dari Tuhan saat pandemi karena jarang sekali menerima Tubuh & Darah Kristus secara langsung. Namun, hal ini menjadi suatu kerinduan yang sangat berarti akan Tuhan ketika sekarang sudah dibebaskan pergi ke gereja & mengikuti Perayaan Ekaristi.

Selain kedua pengalaman di atas, Bu Nevi sebagai ketua lingkungan juga men-sharing-kan pengalamannya untuk berserah kepada Yesus dalam situasi apapun. Awalnya beliau mengatakan bahwa dirinya hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa yang kerjanya hanya di rumah saja. Tetapi dibalik pengalamannya ini, dirinya menyampaikan selalu berpasrah kepada Tuhan dalam situasi apapun. Terlebih saat ini sedang rawan dengan peristiwa-peristiwa bencana alam. Dirinya menyadari bahwa kita sebagai manusia hanyalah butiran kecil yang rata di mata Tuhan. Untuk itu, pada masa Adven ini hendaknya selalu mawas diri & berjaga-jaga dalam situasi-situasi apapun.

Lain halnya dengan sharing yang disampaikan oleh perwakilan dari mahasiswa/i PENDIKKAT USD. Dari sisi mahasiswa, ada pengalaman-pengalaman yang menyesakkan dan dalam masa-masa sulit mencari Tuhan. Ditengah masa pandemi ini, mahasiswa/i mengungkapkan bahwa ada kesulitan dan tantangan dalam menyesuaikan keadaan yang dituntut serba online. Keadaan serba online yang membuat malas untuk mengikuti pembelajaran ataupun misa live streaming. Kendati demikian, keadaan ini tidak begitu saja membuat mahasiswa/i terlena. Saat ini, saat pandemi mulai berangsur-angsur menjadi endemi, mahasiswa/i harus terus survive dan beradaptasi kembali ke dalam dunia nyata.

Dari banyaknya berbagi pengalaman kehidupan dari umat maupun mahasiswa/i PENDIKKAT USD, hampir semuanya mengarah pada orang-orang zaman sekarang ini masih menantikan kehadiran & keterlibatan Tuhan dalam hidupnya. Beragam situasi yang membuat orang senantiasa menantikan kehadiran Tuhan, dengan mayoritas situasi: berpengharapan, kepedihan, sesak, dan berbeban berat. Kemudian memaknai arti dan makna Adven bagi hidup dalam situasi sekarang ini: untuk terus berbenah & berjalan bersama ke arah yang lebih baik. Maka, hasil berbagi pengalaman kehidupan ini diteguhkan dalam bacaan Injil Matius 24:37-44. Bacaan ini mengajak kita untuk bermenung tentang berjaga-jaga. Poin refleksi dari bacaan, mengharapkan kita agar senantiasa berjaga-jaga dan berharap, sehingga kita tidak akan tertinggal. Kedatangan keselamatan Anak Manusia harus membutuhkan kesiapsediaan kita. Dengan kata lain, kita harus terus hidup dan berpola pikir selalu siap sedia. Artinya, hidup kita diharapkan terus menerus merindukan Yesus. Yesus menjadi pusat perhatian kita saat berdoa, berfikir, berkata-kata, dan dalam berkarya.

Melalui masa Adven ini, kita diajak melihat bagaimana tantangan hidup menggereja dan beriman kita. Tantangan dari berbagai himpitan Pandemi COVID-19, melihat kembali peluang dan bagaimana kita mewujudkan wajah Gereja kita dewasa ini, sebagai Gereja yang Sinodal berziarah menuju kepada Gereja Misi mewujudkan Peradaban Kasih di masyarakat.

.

Penulis: Chris Cerly Rika Saraswati (Mahasiswi PENDIKKAT USD)

.
.

Perayaan Ekaristi Minggu ADVEN II: “Bertobatlah Kerajaan Surga sudah dekat!”

JETIS- Penyalaan lilin ungu kedua di lingkaran Adven dalam Perayaan Ekaristi Minggu ADVEN II pukul 08.00 WIB, bertempat di gereja Santo Albertus Agung Jetis, Yogyakarta (04/12/22).

Memasuki Minggu Adven kedua dalam masa penantian Tuhan, menjadi suatu hal yang istimewa karena minggu ini disebut sebagai minggu pertobatan. Kita sebagai umat kristiani secara khusus dipanggil Tuhan kedalam jalan pertobatan, seperti seruan tokoh Yohanes Pembaptis: Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat!Bagian pernyataan tobat dengan pemercikan air suci (Asperges Me) juga mengingatkan kita akan peristiwa pembaptisan sebagai buah-buah pertobatan.

Seseorang yang mempunyai rasa pertobatan yang besar dalam dirinya biasannya ditandai dengan adanya rasa “takut akan Tuhan”. Romo Vincentius Suparman, Pr juga menegaskan hal ini dalam homilinya. Beliau menyampaikan bahwa, seseorang yang takut akan Tuhan pastilah minim berbuat jahat. Maka, jika seseorang sama sekali tidak memiliki rasa “takut akan Tuhan” sudah pasti dia menganggap dirinya benar & sama sekali tidak ada rasa pertobatan dalam dirinya sendiri. Ini menjadi hal yang sangat berbahaya dan sudah selayaknya kita hindari.

Rasa “takut akan Tuhan” menjadi hal yang penting pula bagi keseimbangan hidup kita. Jika kita masih memiliki rasa ini, pastilah hidup kita seimbang. Alampun berbicara kepada kita. Kita tidak akan mudah merusak alam, merusak sesama, bahkan holistik dunia. Sehingga menjadi suasana damai & shalom. Seperti suasana dalam bacaan pertama yang menggambarkan: ‘anak lembu dan anak singa akan makan rumput bersama-sama, dan seorang anak kecil akan menggiringnya.’

Panggilan pertobatan yang sebaiknya terus menerus diserukan: Pertobatan, pertobatan, dan pertobatan! Kemudian dalam bacaan kedua, Santo Paulus yang juga menegaskan bahwa pertobatan ditunjukkan dengan relasi akan Sabda Tuhan dan menerima sesama satu dengan yang lain. Pada akhir homilinya, Romo Parman kembali mengajak umat di Paroki Jetis untuk menggunakan kesempatan pertobatan dengan mengikuti Ibadat Tobat yang akan dilaksanakan Minggu depan.

(Romo Vincentius Suparman, Pr menyampaikan Homili dalam Perayaan Ekaristi Minggu Adven II)

Sebelum berkat penutup dalam Perayaan Ekaristi, ada 3 pengumuman yang disampaikan, yakni:

Pertama, terkait jadwal Ibadat Tobat gereja Santo Albertus Agung Jetis yang akan dilaksanakan pada hari Senin, 12 Desember 2022 pukul 16.30 WIB dilanjutkan dengan Pengakuan Dosa.

Kedua, terkait Panitia Natal dari Wilayah IV yang menghimbau umat untuk turut berpartisipasi dalam persiapan Natal. Partisipasi dapat dikonkretkan dengan turut mengisi amplop partisipasi yang dibagikan sebelum Perayaan Ekaristi.

Ketiga, terkait perkenalan dari mahasiswa/i Program Studi Pendidikan Keagamaan Katolik (PENDIKKAT) Universitas Sanata Dharma. Mahasiswa/i ini akan praktik Pelayanan Karya Paroki selama 1 bulan terhitung dari tanggal 4 Desember 2022 hingga 8 Januari 2023.

(Roland Mauritius sebagai perwakilan perkenalan dari mahasiswa/i PENDIKKAT USD)

.

(Selengkapnya, Misa Online 4 – 12 – 2022, Pk 08.00 WIB | MINGGU ADVEN II | GEREJA ST. ALBERTUS AGUNG JETIS: https://www.youtube.com/watch?v=tUxtr3dc4uk&ab_channel=KomsosJetis)

.

Penulis: Chris Cerly Rika Saraswati (Mahasiswi PENDIKKAT USD)
.
.

Rapat Panitia NATAL 2022: Wilayah IV Paroki Jetis – Mempersiapkan Kedatangan Sang Juru Selamat

Lebih kurang sekitar tiga minggu lagi, kita sebagai umat katolik akan menyambut kedatangan Yesus Kristus Sang Juru Selamat dalam Perayaan Ekaristi Natal. Dalam menyambut kedatangan-Nya, tentu kita mempersiapkan segala sesuatu baik dari aspek rohani maupun aspek jasmani. Demikian halnya dengan umat di Paroki Santo Albertus Agung Jetis yang mulai menyiapkan persiapan secara jasmani. Persiapan secara jasmani yang dimaksudkan untuk memperlancar kegiatan Perayaan Ekaristi. Maka pada tahun 2022 ini, terbentuklah Panitia Natal 2022 dari umat di Wilayah IV Paroki Jetis yang mendapatkan giliran tugas & tanggung jawab sebagai panitia dalam Perayaan Hari Raya Besar.

Rapat panitia Natal 2022 (30/11/22, 19.00-21.25 WIB) dilaksanakan di Aula Paroki dan dipimpin oleh Bapak Andreas Catur (Kawil IV). Rapat ini dihadiri oleh 25 orang dari tim panitia, 1 perwakilan KOMSOS, dan 4 mahasiswa/i Pendikkat yang akan pelayanan paroki di Paroki Jetis. Rapat kali ini merupakan rapat kedua kalinya untuk memantapkan kebutuhan bidang-bidang dalam Panitia Natal 2022. Selain itu, dalam rapat ini juga membahas anggaran yang diperlukan untuk masing-masing bidang serta rancangan jadwal Perayaan Ekaristi Natal 2022. Berikut ini rancangan jadwal Perayaan Ekaristi Natal 2022 di Paroki Jetis:

Tanggal: 24 Desember 2022 Tanggal: 25 Desember 2022
Misa Natal Sore Pertama: pukul 17.00 WIB Misa Natal Pagi Pertama: pukul 06.00 WIB
Misa Natal Sore Kedua: pukul 20.00 WIB Misa Natal Pagi Kedua: pukul 08.00 WIB

.
Rapat panitia Natal 2022 juga dihadiri oleh Pastor Paroki Romo Vincentius Suparman, Pr. Tak lupa dalam rapat, besar harapan Romo Parman bagi panitia natal untuk menjadikan Perayaan Natal sebagai sukacita & damai. Damai di Bumi & Surga. Dengan merujuk Tema Natal 2022, … pulanglah mereka ke negerinya melalui jalan lain (Matius 2:12)” diharapkan panitia natal dan seluruh umat di Paroki Jetis dalam menyongsong Perayaan Natal 2022 dapat menemukan jalan Tuhan, jalan kebenaran.

.
.
Penulis: Chris Cerly Rika Saraswati (Mahasiswi Pendikkat USD)
.
.

Perayaan Ekaristi Minggu ADVEN 1: Hendaklah kamu selalu siap siaga

Tidak terasa pada akhir November tahun 2022, seluruh umat katolik sedunia memasuki masa penantian kedatangan Tuhan (Masa Adven). Dalam Buku Panduan Adven Lingkungan 2022 KAS, Berjalan Bersama: Semakin Katolik, Semakin Apostolik, “Minggu Adven Pertama: merupakan masa penantian kedatangan Kristus yang kedua, yakni kedatangan Tuhan pada akhir zaman. Ditandai dengan menyalakan lilin ungu yang pertama.”

Sejalan dengan pernyataan di atas, homili dalam Perayaan Ekaristi Minggu Adven I sangat relate dengan makna dari Minggu Adven I. Perayaan Ekaristi di Paroki Santo Albertus Agung Jetis (27/11/2022, 08.00 WIB) dipimpin oleh Romo Paulus Erwin Sasmito, Pr (Romo Pendamping Para Frater di Seminari Tinggi Kentungan Yogyakarta).

(Misa Online 27/11/2022, Pk 08.00 WIB | MINGGU ADVEN I | GEREJA ST. ALBERTUS AGUNG JETIS: https://www.youtube.com/watch?v=ftBS2KIzXB0&t=670s&ab_channel=KomsosJetis)

Dalam homilinya, Romo Erwin menyinggung kedatangan Tuhan untuk kedua kalinya yang sering disebut sebagai hari kiamat sebagai misteri/tidak ada yang tahu. Bahkan sebenarnya pada masing-masing dari kita memiliki hari kiamat yakni pada hari kematian. Sebenarnya kita diharapkan untuk selalu siap sedia akan hari kematian kita. Tetapi, seringkali kita seenaknya sendiri akan hidup, istilahnya “ngawur”. Kita semaunya mempergunakan waktu untuk pesta pora ataupun hal-hal yang tidak penting. Padahal, Tuhan dengan bebas memberikan kita waktu 24 jam dalam sehari.

Maka, muncul pertanyaan singgungan dari Romo Erwin: “Kalau hari ini hari terakhir dalam hidup kita, apa yang akan kita lakukan?” Mungkin ada yang ingin berbuat baik, ingin mengaku dosa, ingin meminta maaf kepada musuh, atau bahkan ingin lebih menyayangi orang-orang terdekat. Hal ini sama dengan isi bacaan kedua dari Surat Rasul Paulus kepada jemaat di Roma (Roma 13:11-14a) yang menyampaikan 3 hal yang sebaiknya kita lakukan untuk mempersiapkan kedatangan Tuhan, yakni:

  1. Jangan dalam pesta pora dan kemabukan; kita diajak untuk hidup dalam jalan terang & sering berefleksi.
  2. Jangan dalam percabulan dan hawa nafsu; kita diajak untuk sedikit-demi sedikit menanggalkan percabulan dan hawa nafsu yang terlihat sulit untuk dilakukan.
  3. Jangan dalam perselisihan dan iri hati; kita diajak untuk hidup dalam damai pada Tuhan & sesama.

Pertanyaan terakhir yang sekali lagi ditegaskan oleh Romo Erwin dalam homilinya: “Seandainya Tuhan datang sewaktu-waktu: apakah kita siap untuk hidup dalam terang? Seandainya hari ini hidup terakhir: apakah aku mau hidup dalam kasih & terang Yesus Kristus?

.
.

Penulis: Chris Cerly Rika Saraswati (Mahasiswi Pendikkat USD)

.
.

Panduan ADVEN 2022, Berjalan Bersama: Semakin KATOLIK, Semakin APOSTOLIK

panduan adven 2022

Panduan Adven 2022 – Masa Adven senantiasa mengajak kita mempersiapkan dan menantikan kedatangan Kristus. Perayaan Adven 2022 saat ini kita rayakan dalam suasana pemulihan atas Pandemi COVID 19 dan masa untuk bergiat kembali membangun segala harapan di tengah keterpurukan yang telah terjadi. Pengalaman tersebut, hendaknya membawa hidup beriman kita semakin tangguh dan berdaya bahkan semakin kuat dalam pengharapan.

Kita, sebagai umat Keuskupan Agung Semarang yang saat ini berdinamika dalam pemulihan Pandemi COVID 19 ini, diajak tetap setia mewujudkan cita-cita RIKAS dan menyambut semangat Sinode dengan iman yang semakin partisipatif dan transformatif. Harapannya, iman kita tidak semakin terpuruk, namun semakin berharap dan pulih untuk semakin menjadi Katolik dan apostolik atau terlibat dalam karya kerasulan.

Keuskupan Agung Semarang pada tahun 2022 masih melanjutkan mengemban semangat Gereja yang diwarnai dengan pelaksanaan lima bidang garapan yaitu kekatolikan, kerasulan, kebangsaan, kerjasama dan sinergi serta profesionalitas. Pada prinsipnya, kita sebagai warga Keuskupan Agung Semarang (KAS) mengemban tugas pemulihan hidup beriman dan mengembangkan visi agar Gereja semakin mampu menampakkan maknanya di tengah bangsa dan masyarakat.

Melalui Pendalaman Adven 2022 ini, Komisi Kateketik Keuskupan Agung Semarang mengajak menggemakan Sinode dalam terang pemulihan atas COVID 19 dan pelaksanaan RIKAS dalam segala gerak menggereja dan beriman umat. Komisi Kateketik KAS melalui Adven 2022 ingin mengajak memaknai “berjalan bersama” bergiat melaksanakan RIKAS dan ambil bagian agar tumbuh sebagai Gereja sinodal. Komisi Kateketik Keuskupan Agung Semarang mengajak semua umat Katolik Keuskupan Agung Semarang mengisi Adventus (masa penantian) ini dengan merefleksikan sinodalitas dalam menghayati iman di masa pemulihan ini.

Umat diajak melihat kembali renungan masa Adven dalam sudut pandang Sinode yang menunjuk pada Gereja yang berkumpul untuk “berjalan bersama” semakin mewartakan iman. Gereja adalah semua umat Allah yang berkumpul bersama karena rahmat untuk menjadi tanda dan sarana keselamatan bagi semua orang (bdk. Lumen Gentium, 9). Gereja adalah umat yang berziarah menuju ‘langit yang baru dan bumi yang baru’ (Wahyu 21:1). Maka, untuk memperdalam sinodalitas dalam menghayati iman di masa pemulihan ini akan diolah melalui empat (4) pertemuan sebagai berikut:

1. Panduan Pertemuan Adven I: Berjalan Bersama menyongsong kedatangan Tuhan.

Pada pertemuan Adven I ini, umat diajak untuk berjaga-jaga, tanggap, kuat dan senantiasa berharap di masa pemulihan COVID 19. Umat diajak menyadari gerak sinodalitas dalam konteks memahami mengenai harapan dan kekuatan di kehidupan zaman sekarang yang penuh tantangan dan resiko ini. Umat diajak menimba kekuatan harapan di masa pemulihan hidup beriman yang semakin berat namun menantang. Bacaan yang diperdalam sebagai peneguhan dan renungan dari Mat 24: 37-44 mengenai “Kedatangan Anak Manusia” yang tiba-tiba dan tidak dapat diduga (Adven Eskatologis).

2. Pertemuan Adven II: Berjalan Bersama membangun pertobatan.

Pada pertemuan Adven II ini, umat diajak pada suasana dan dorongan rohani pertobatan dan pemulihan atas segala kekurangan dan keterpurukan yang pernah terjadi. Pada Adven II ini umat diajak untuk memperdalam berbagai pengalaman sinodalitas dengan pertobatan dan semangat berbenah diri agar mampu bersama-sama melakukan upaya pemulihan hidup beriman yang lebih baik. Bacaan untuk pertemuan Adven II ini diambil dari Mat 3: 1-12 mengenai Kisah Yohanes Pembaptis yang mempersiapkan jalan bagi Mesias dengan menyerukan pertobatan.

3. Pertemuan Adven III: Berjalan Bersama dengan Sukacita.

Pada pertemuan Adven III, setelah memperdalam semangat pertobatan dan pemulihan hidup beriman, umat diajak melihat sinodalitas atau semangat “berjalan bersama” dengan sukacita dan komitmen. Pertemuan Adven III ini menjadi refleksi seberapa jauh umat selama ini saling mengenal umat dari keluarga, lingkungan hingga paroki. Seberapa jauh umat mampu berjalan bersama dalam masa pemulihan COVID 19 untuk semakin tangguh dan bertanggungjawab menghidupi semangat kerasulan dengan mendengarkan, berbicara dan saling bertanggungjawab dalam misi. Bacaan diinspirasi dari Mat. 11: 2-11 mengenai komitmen seorang Yohanes Pembabtis yang diutus untuk mempersiapkan sesuatu yang lebih besar daripada dirinya.

4. Pertemuan Adven IV: Berjalan Bersama Melaksanakan Warta Keselamatan.

Pada pertemuan Adven IV, umat diajak memuncaki pertemuan dengan kesadaran akan sinodalitas berkarya dan merasul bersama. Umat dalam pertemuan Adven IV ini diajak semakin meningkatkan pelaksanaan lima bidang garapan yaitu kekatolikan, kerasulan, kebangsaan, kerjasama dan sinergi serta profesionalitas dalam gerak kesadaran “berjalan bersama.” Harapannya, umat semakin menyadari tentang Gereja yang dipanggil, untuk membuat harapan orang-orang semakin pulih dan berkembang, mendorong kepercayaan, untuk membalut luka-luka, untuk menjalin hubungan-hubungan baru dan lebih dalam, untuk belajar dari satu sama lain, membangun jembatan-jembatan, mencerahkan pikiran, menghangatkan hati, dan untuk memulihkan kekuatan ke dalam tangan misi bersama.

Bacaan yang menjadi inspirasi dari pertemuan Adven IV ini adalah Mat 1: 18-24 mengenai daya juang Yusup demi karya dan jalan keselamatan Allah terlaksana. Melalui empat (4) pertemuan ini, kita diharapkan dapat melihat kembali sejauh mana “berjalan bersama” telah dirajut di masa pemulihan Pandemi COVID 19 dalam komitmen kita menjalankan amanat RIKAS. Pertemuan Adven 2022 ini harapannya juga menjadi refleksi kita menantikan Sang Juru Selamat agar kita semua semakin menyadari dan memahami gerak bersama dalam upaya mewujudkan diri menghadirkan peradaban kasih di tengah-tengah masyarakat kita yang sedang berproses untuk pulih kembali dari keterpurukan akibat Pandemi COVID 19 ini.

Berkah Dalem.
Rm. Stepanus Istoto Raharjo, Pr.
Ketua Umum Komkat KAS

.

>> Download Panduan Adven 2022 Disini <<

>> Download Panduan Adven B. Jawa 2022 Disini <<

>> Download Panduan Adven Kategorial PIA/PIR 2022 Disini <<

.

.

Ratusan Umat Mengikuti Perayaan Ekaristi Adiyuswa Legio Maria

Rasa syukur atas anugrah kesehatan dan kemampuan untuk melayani disampaikan pak Yono (84 th) salah satu umat lansia di hadapan ratusan umat yang hadir dalam perayaaan ekaristi kerahiman Ilahi untuk kalangan adiyuswa di Gereja Katolik Paroki St.Albertus Magnus Jetis Yogyakarta (16/05/22).

Hal tersebut disampaikan Pak Yono kepada Romo Vincentius Suparman Pr, saat dialog disela-sela homili.

Romo Parman, romo paroki St.Albertus Magnus Jetis yang memimpin perayaan misa mengapresiasi antusias umat lansia dalam perayaan misa kali ini, yang menunjukkan keinginan untuk dekat dengan Tuhan Yesus meski selama ini harus terkendala pandemi Covid-19.

Dalam homilinya Romo Parman mengutip Yohanes 14: 15-31 tentang roh penolong yang dijanjikan Yesus setelah Ia wafat.

Romo Parman menyampaikan para umat lansia harus senantiasa bersyukur atas anugrah umur yang masih diberikan Tuhan sampai saat ini, dan berupaya membimbing anak, cucu, dan keluarga untuk sungguh-sungguh menjalankan iman katolik.

“bagi saya, panjemengan ini semua orang hebat, yang sudah merasakan pahit manis dan getir kehidupan dan mau tetap tekun beriman pada Yesus Kristus”, puji Romo Parman.

Romo Parman juga mengharapkan para adiyuswa selalu meminta bimbingan roh kudus dalam menjalani hidup.

“kalau hidup kita tenang, bahagia itu pasti karena bimbingan roh kudus. tapi kalau yang diraskan adalah pertengkaran, permusuhan, itu pasti bukan buah roh kudus, tapi roh perpecahan”, jelas romo parman.

Dalam perayaan misa ini romo parman juga mengajak 10 umat untuk maju dan memberikan tanda mata kepada mereka.

Sementara itu sebelum perayaan ekaristi dimulai, juga dilangsungkan doa koronka yang diikuti oleh seluruh umat yang hadir.

.

Foto & Penulis: Wempi Gunarto

.

.

You cannot copy content of this page