Mahkhluk Hidup Musnah Karena Kejahatan Manusia (BKSN 1) – St.Yusuf Bangirejo

Pertemuan BKSN 2019 yang pertama dengan tema “Makhluk Hidup Musnah Karena Kejahatan Manusia” telah dilaksanakan di lingkungan Santo Yusuf Bangirejo (Rabu, 04/09/2019), bertempat di rumah Kita, sebagai pemandu adalah suster Agustin PI.

Dalam pertemuan BKSN yang pertama ini umat diajak untuk menyadari bahwa manusia dapat menjadi penyebab hancurnya kehidupan, tetapi juga menjadi penjaga kelestarian kehidupan, dan uamt yang hadir diajak untuk melakukan tindakan nyata dalam pemulihan dan mengatasi krisis di lingkungan sekitarnya.

Suster Agustin PI dalam menyampaikan materi BKSN menggunakan media video sehingga apa yang disampaikan tidak hanya berupa verbal namun juga berupa visual, yang menggambarkan keprihatinan terhadap kelestarian hutan yang rusak karena penebangan liar, lingkungan yang kotor karena banyak sampah yang dibuang secara sembarangan, pencemaran udara dan pencemaran-pencemaran lainnya.

Dalam Bacaan Kitab Suci yang di ambil dari Kej. 6:1-13 terdapat Orang-orang gagah perkasa yang menyombongkan diri sebagai anak-anak Allah. Karena itu, Allah mengingatkan mereka bahwa mereka hanyalah manusia fana dan membatasi umur mereka (hanya 120 tahun, usia ini lebih pendek jika dibandingkan dengan leluhur mereka, lihat Kej. 5).

Kesombongan manusia inilah yang menjadi sumber kejahatan yang merasuki pikiran dan hati mereka. Terdorong oleh kesombongan yang ada dalam hati mereka, orang-orang itu berbuat sesuka hati dan cenderung melakukan kejahatan.

Reaksi Allah terhadap kejahatan manusia itu digambarkan secara manusiawi. Ia menyesal dan sakit hati karena telah menciptakan manusia. Ia menciptakan mereka untuk menjaga dan memelihara bumi supaya mereka sendiri dapat hidup berbahagia. Tetapi, sejak Adam dan Hawa, manusia terus bersalah dan merusak bumi. Karena itu, Allah Ia mengambil keputusan untuk menghapus manusia.

Tidak hanya manusia yang dimusnahkan, tetapi juga mahk-luk ciptaan yang lain. Sebab, Allah melihat bahwa kejahatan manusia telah merasuki bumi dan segala makhluk ciptaan. Mereka musnah karena kejahatan manusia dan kemusnahan mereka mendatangkan penderitaan bagi manusia.

Suster Agustin PI juga mengajak umat yang hadir untuk sharing pengalaman dalam menghadapi dan menangani kerusakan yang ada di lingkungan sekitar umat Santo Yusuf Bangirejo.

Sebagai penutup BKSN, suster Agustin PI mengajak uamt Bangirejo untuk menjaga kelestarian dan kebersihan, dimulai dari rumah dan lingkungan sekitarnya.

Agustinus Suseno.

Renungan Mingguan 1 September 2019

Sabda Tuhan Hari Ini 1 September 2019, Lukas 14:1.7-14

Doa: Tuhan Yesus, bukalah pintu hatiku. Bersabdalah, ya Tuhan, hamba-Mu mendengarkan.

 

Pada suatu hari Sabat Yesus datang ke rumah salah seorang pemimpin dari orang-orang Farisi untuk makan di situ. Semua yang hadir mengamat-amati Dia dengan saksama.

Karena Yesus melihat, bahwa tamu-tamu berusaha menduduki tempat-tempat kehormatan, Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka: “Kalau seorang mengundang engkau ke pesta perkawinan, janganlah duduk di tempat kehormatan, sebab mungkin orang itu telah mengundang seorang yang lebih terhormat dari padamu,

supaya orang itu, yang mengundang engkau dan dia, jangan datang dan berkata kepadamu: Berilah tempat ini kepada orang itu. Lalu engkau dengan malu harus pergi duduk di tempat yang paling rendah.

Tetapi, apabila engkau diundang, pergilah duduk di tempat yang paling rendah. Mungkin tuan rumah akan datang dan berkata kepadamu: Sahabat, silakan duduk di depan. Dan dengan demikian engkau akan menerima hormat di depan mata semua tamu yang lain.

“Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”

 

Dan Yesus berkata juga kepada orang yang mengundang Dia: “Apabila engkau mengadakan perjamuan siang atau perjamuan malam, janganlah engkau mengundang sahabat-sahabatmu atau saudara-saudaramu atau kaum keluargamu atau tetangga-tetanggamu yang kaya,

karena mereka akan membalasnya dengan mengundang engkau pula dan dengan demikian engkau mendapat balasnya. Tetapi apabila engkau mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang buta.

Dan engkau akan berbahagia, karena mereka tidak mempunyai apa-apa untuk membalasnya kepadamu. Sebab engkau akan mendapat balasnya pada hari kebangkitan orang-orang benar.”

 

BERBAGI

Soal memberi dan menerima, mana yang lebih Anda sukai? Spontan, kita tentu senang menerima pemberian. Tapi, jangan salah, ada juga orang yang lebih suka memberi.

Saya pernah bertanya pada orang seperti itu, katanya ada rasa puas dan bahagia dalam hati ketika bisa memberi seseorang yang membutuhkan tanpa ia perlu mendapatkan balas jasa.

 

Tentu tak banyak orang seperti itu. Waktu seorang kerabat punya gawe menikahkan anaknya, ia bikin daftar nama kenalan yang diundangnya. Pada kolom di sampingnya, ia menuliskan besarnya sumbangan. “Untuk apa?” tanya saya.

“Supaya kita bisa memberikan sumbangan yang tidak lebih kecil ketika mereka ganti punya gawe dan mengundang kita,” jawabnya. Pengalaman itu ternyata terjadi juga pada beberapa kawan. Rupanya sudah lazim bahwa pesta nikah, menjadi ajang transaksi tukar hadiah. Atau, secara tak langsung orang sedang meminjamkan dan mengembalikan pinjaman uang yang dikemas dalam amplop sumbangan.

 

Itu berbeda dengan pengalaman saya menghadiri pesta nikah teman di aula gereja bulan lalu. Saat kami masuk ruang, disambut jabat tangan keluarga. Pengantin pun menyalami ke sana kemari, tak ada kursi pelaminan.

Saat menyalaminya, saya berbisik, “Mana genthong untuk memasukkan amplop?” “Tidak ada. Nyontek nikahmu dulu,” jawabnya berbisik sambil tersenyum. Rupanya, dia ingat nikah kami dulu.

Eksplisit saya sebutkan di pemberitahuan nikah kami bahwa “doa dan kehadiran Anda, menjadi satu-satunya kado yang kami damba.” Juga, kami tambahkan, “Jangan menjadi repot hanya karena kami menikah. Kalau tak bisa hadir, doa pun cukup bagi kami.”

 

Pengalaman itu menjadi latihan menarik untuk belajar memberi tanpa berharap balasan diberi seperti amanat bacaan Injil hari ini, “Apabila engkau mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang buta. Dan engkau akan berbahagia, karena mereka tidak mempunyai apa-apa untuk membalasnya kepadamu.”

Memberi itu berbagi, beda dengan bertransaksi. Apalagi, kita sedang menikah, tentu selayaknya berbagi kegembiraan, bukannya membebani teman dan saudara dengan sumbangan. (warindra)

Misa Syukur 4 Tahun PAMJA Paroki Jetis

Misa Syukur 4 Tahun Pamja Gereja Santo Albertus Agung Jetis

Tanpa terasa 4 tahun sudah Pamja atau PAM keamanan gereja Jetis bertugas, dibentuk pada tahun 2015, saat itu dipelopori oleh 15 umat.

Sebagai bentuk rasa syukur, maka pada Rabu malam (28/08/2019) bertempat di rumah bapak Jaka Triyana, lingkungan Santo Yusuf Bangirejo di selenggarakan misa syukur dipimpin oleh romo Bernadus Singgih Guritno, Pr.

Romo Singgih menyampaikan bahwa Pamja mempunyai peranan penting dalam memberikan rasa aman kepada umat saat di gereja.  Dengan adanya rasa aman, maka iman pun akan bertumbuh, maka umat yang ada di dalam gereja akan mengucapkan Amin sebagai syukur atas iman yang dimiliki dan rasa aman dalam beribadah.

Hadir dalam misa syukur ini wakil ketua 2 dewan paroki Jetis, prodiakon, ketua lingkungan dan tamu  undangan.  Usai misa acara di lanjutkan dengan ramah tamah.

#Agustinus Suseno

Program Bedah Rumah PSE Paroki

PSE Paroki Santo Albertus Agung Jetis Melaksanakan Program Bedah Rumah

PSE (Pengembangan Sosial Ekonomi) adalah sebuah karya pastoral gereja yang mengemban tugas merencanakan, melaksanakan, dan mengkoordinasi kegiatan pengembangan sosial ekonomi umat/masyarakat lebih-lebih yang termasuk dalam golongan kecil, lemah, miskin, tersingkir, dan difabel (KLMTD) sebagai perwujudan iman dalam rangka menghadirkan Kerajaan Allah.

 

Karya pengembangan sosial ekonomi ini merupakan karya gereja yang tak terpisahkan dengan karya-karya gereja lainnya. Karya PSE termasuk dalam bidang pelayanan (diakonia) dan tergabung dalam pelayanan kemasyarakatan.

Kerasulan/pelayanan sosial ekonomi merupakan penegasan jati diri gereja yang memihak pada kaum lemah dan miskin sebagaimana dalam diri Yesus.

 

Agar karya pelayanan/kerasulan sosial ekonomi terarah dan lebih efektif maka dibentuklah sebuah panitia/komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) di tingkat KWI, Keuskupan dan Kevikepan bernama Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (Komisi PSE), sedangkan di tingkat paroki dan lingkungan disebut Tim Kerja Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE).

PSE Paroki Santo Albertus Jetis juga memberikan bantuan Karitatif yaitu memberi bantuan secara langsung kepada orang-orang yang membutuhkan; bersifat memberi kasih sayang atau cuma-cuma,  bantuan tersebut dalam bentuk :

  1. Beasiswa SD-SMA/SMK
  2. Mahasiswa PKL dan/atau Tugas Akhir
  3. Kesehatan/Orang Sakit
  4. Lansia/Jompo Terlantar
  5. Tanggap Bencana
  6. Bedah Rumah Tidak Layak Huni
  7. Rintisan Usaha
  8. Pengembangan Usaha

Berikut bantuan bedah rumah tidak layak huni telah diberikan kepada keluarga bapak Yuli Avianto umat lingkungan Santo Paulus Jatimulyo, dan ibu Maria Sarjinem umat lingkungan Rafael Penumping.

Foto rumah bapak Yuli Avianto sebelum renovasi

 

Foto rumah bapak Yuli Avianto sesudah renovasi

 

Foto rumah ibu Maria Sarjinem sebelum renovasi

 

Foto rumah ibu Maria Sarjinem proses renovasi

 

Foto rumah ibu Maria Sarjinem sesudah renovasi

 

Selain PSE Paroki yang memberi bantuan, ketua lingkungan dan umat di lingkungan ikut membantu dalam proses bedah rumah.

#Agustinus Suseno

Renungan Mingguan 26 Agustus 2019

Sabda Tuhan Hari Ini 26 Agustus 2019, Matius 23:13-22

Doa: Tuhan Yesus, bukalah pintu hatiku. Bersabdalah, ya Tuhan, hamba-Mu mendengarkan.

 

“Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, karena kamu menutup pintu-pintu Kerajaan Sorga di depan orang.

Sebab kamu sendiri tidak masuk dan kamu merintangi mereka yang berusaha untuk masuk. (Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu menelan rumah janda-janda sedang kamu mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang. Sebab itu kamu pasti akan menerima hukuman yang lebih berat.)

Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu mengarungi lautan dan menjelajah daratan, untuk mentobatkan satu orang saja menjadi penganut agamamu dan sesudah ia bertobat, kamu menjadikan dia orang neraka, yang dua kali lebih jahat dari pada kamu sendiri.

Celakalah kamu, hai pemimpin-pemimpin buta, yang berkata: Bersumpah demi Bait Suci, sumpah itu tidak sah; tetapi bersumpah demi emas Bait Suci, sumpah itu mengikat. Hai kamu orang-orang bodoh dan orang-orang buta, apakah yang lebih penting, emas atau Bait Suci yang menguduskan emas itu?

Bersumpah demi mezbah, sumpah itu tidak sah; tetapi bersumpah demi persembahan yang ada di atasnya, sumpah itu mengikat. Hai kamu orang-orang buta, apakah yang lebih penting, persembahan atau mezbah yang menguduskan persembahan itu? Karena itu barangsiapa bersumpah demi mezbah, ia bersumpah demi mezbah dan juga demi segala sesuatu yang terletak di atasnya.

Dan barangsiapa bersumpah demi Bait Suci, ia bersumpah demi Bait Suci dan juga demi Dia, yang diam di situ. Dan barangsiapa bersumpah demi sorga, ia bersumpah demi takhta Allah dan juga demi Dia, yang bersemayam di atasnya.”

 

KECAMAN-KECAMAN

Bacaan hari ini berisi kecaman-kecaman. Tidak jelas, secara historis, apakah Yesus memang punya konflik terbuka dengan ahli-ahli Taurat dan orang Farisi. Dengan demikian, tidak jelas pula, apakah rumusan kecaman-kecaman ini berasal dari Yesus atau dari penulis Injil Matius yang didasarkan atas konflik Gereja Perdana dengan para ahli Taurat dan orang-orang Farisi.

Hal itu sebenarnya tidaklah begitu penting. Secara material, bila isi kecaman itu dicermati alasannya, dan itu benar dilakukan oleh orang Farisi dan ahli Taurat, tentunya mereka memang pantas dikecam. Tengok saja, mereka membebani umat dengan tuntutan-tuntutan yang membuat pelaksanaan hukum Taurat justru menjadi mustahil (ay 13).

Wajar, kalau mereka dikecam. Atau berkaitan dengan para proselit, orang kafir yang masuk agama Yahudi, mengingat propaganda iman Yahudi amat gencar waktu itu, tapi setelah masuk tidak diurus semestinya.

 

Menarik juga yang mereka lakukan sehubungan pembebasan orang dari nazarnya. Soalnya, ada bermacam-macam nazar. Yang namanya nazar, sesulit apapun tentunya mesti dipenuhi. Tetapi, mereka mencoba mengemukakan berbagai dalih untuk membebaskan orang dari nazarnya, dengan cara yang kurang bijaksana.

Wajar saja mereka dikecam, karena bagaimana mungkin mereka bisa berkata Bersumpah demi Bait Suci, sumpah itu tidak sah; tetapi bersumpah demi emas Bait Suci, sumpah itu mengikat?

 

Tentu, bacaan hari ini bukan mau mengajari kita agar pandai mengecam atau mengutuk. Tetapi, kita mesti berani bersikap kritis dan bertindak tegas melawan ketidakbaikan. Tentu pula, ini mengandaikan pada kita ada kebenaran dan kebaikan terlebih dahulu. (warindra)

Sosialisasi Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2019

Pada bulan September telah dikhususkan oleh Gereja Katolik Indonesia sebagai Bulan Kitab Suci Nasional. Di setiap keuskupan dilakukan berbagai kegiatan untuk mengisi bulan ini, mulai di lingkungan, wilayah, paroki, biara, maupun di kelompok-kelompok kategorial.


Begitu pula dengan Paroki Santo Albertus Agung Jetis Yogyakarta, menyelengarakan sosialisasi BKSN dengan mengundang para pemandu lingkungan dan ketua lingkungan, acara berlangsung di Aula gereja (Kamis, 22 Agustus 2019).

Acara dibuka dengan pengantar dari Romo Ambrosius Heri Krismawanto Pr, dilanjutkan dengan materi BKSN yang dibawakan oleh bapak Yacob Malinso.


Bulan Kitab Suci Nasional tahun 2019 mengambil tema “MEWARTAKAN KABAR BAIK DI TENGAH KRISIS LINGKUNGAN HIDUP”. Tema ini diambil karena keprihatinan terhadap kondisi lingkungan dan alam saat ini.

Kerusakan lingkungan hidup sekarang ini merupakan akibat kegiatan manusia dan bukanlah suatu proses alamiah yang memang juga sudah beberapa kali terjadi dalam sejarah panjang kehidupan di bumi.

Manusia modern dengan kemajuan ilmunya berhasil mengembangkan teknologi tinggi. Hal ini telah membawa banyak kemudahan bagi kehidupan kita sekarang: penerangan listrik, sarana transport, alat komunikasi, dst.

Tetapi, ada pula risiko dan sisi negatif yang tidak lepas dari kebudayaan zaman sekarang.
Untuk itu para pemandu BKSN diharapkan dapat menyampaikan pesan-pesan yang ada didalam buku BKSN kepada umat dengan baik.

 

Untuk materi BKSN 2019 dapat di download DISINI (Klik) http://kevikepandiy.org/blog/category/komisi-kitab-suci/

Penulis & Foto Oleh : Agustinus Suseno

Renungan Mingguan 18 Agustus 2019

Sabda Tuhan Hari Ini 18 Agustus 2019, Lukas 1:39-56

Doa: Tuhan Yesus, bukalah pintu hatiku. Bersabdalah, ya Tuhan, hamba-Mu mendengarkan.

 

Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan langsung berjalan ke pegunungan menuju sebuah kota di Yehuda. Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet.

Dan ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring:

 

“Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?

Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Dan berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana.”

 

Lalu kata Maria: “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya.

Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus.

Dan rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia. Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya;

Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah; Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa;

Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya, seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya.”

Dan Maria tinggal kira-kira tiga bulan lamanya bersama dengan Elisabet, lalu pulang kembali ke rumahnya.

 

DIANGKAT KE SORGA

Hari ini Gereja merayakan Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Sorga. Banyak hal masih tidak jelas bagi saya tentang Maria. Apalagi, kalau hal itu berkaitan dengan aspek historisnya.

Dogma tentang pengangkatannya ke sorga pun, tentu tidak bisa didasarkan atas teks bacaan pada hari ini saja.

 

Kalau Yesus yang terangkat ke sorga, tentu semua orang lebih bisa menerima. Tapi, kalau Maria? Orang tentu berpikir oleh keallahan-Nya, wajar Yesus naik ke sorga. Tetapi, Maria, bukankah ia manusia biasa?

Barangkali, kebingungan orang beriman tentang Maria sudah bertimbun-timbun. Bermula dari ia gadis biasa yang dipilih Allah menjadi bunda Penebus seturut penuturan Injil Lukas.

Bagaimana mungkin Penebus yang adalah Allah itu lahir dari rahim seorang manusia biasa? Bukankah manusia itu ketempelan dosa dan dosa asal? Logikanya, Yesus yang lahir dari rahimnya pun bakal ketempelan kotoran dosanya.

 

Mengatasi kesulitan itu, lalu secara teologis dirumuskan bahwa Maria dikandung tidak dengan noda. Nah, lalu wajar saja Yesus tetap tanpa dosa meski harus lahir dari rahimnya.

Rupanya pengakuan bahwa Maria itu dikandung tanpa noda juga menumbuhkan kensekuensi. Sebagai orang yang tidak memiliki dosa tentu cara matinya pun tidak boleh sama dengan manusia kebanyakan.

Bahkan, apakah seorang yang tanpa noda itu boleh mati? Ini pun satu kesulitan tersendiri. Sampai akhirnya dikeluarkan dogma bahwa Maria diangkat ke sorga.

 

Tetapi, tentu semua itu bukan dengan sembarangan dirumuskan. Konon, sebelum dibuat keputusan, apa yang mau diputuskan itu mesti sudah lebih dulu diimani umat.

Artinya, sebelum didogmakan, umat sudah lebih dulu memercayai atau mengimani bahwa Maria itu tidak mati tapi terangkat ke sorga. Paus Pius XII menetapkan dogma ini pada 1 November 1950 dalam Konstitusi Apostolik Munificentissimus Deus.

Maria pantas mendapatkan kemuliaan itu berkat Putra-Nya.

 

(Oleh : Warindra)

Ramah Tamah Umat Paroki Jetis Dengan Paroki Randusari Katedral Semarang

Sore hari ini (Rabu, 31 Juli 2019) umat Paroki St. Albertus Agung akan kedatangan tamu istimewa. Beberapa ibu-ibu Paroki St.Albertus terlihat sedang sibuk menyiapkan makanan, minuman & snack.

Ibu-Ibu Paroki Jetis Siap Menyambut Kedatangan Umat Paroki Randusari
Ibu-Ibu Paroki Jetis Menyiapkan Dahar Untuk Umat Paroki Randusari
Salah Satu Ibu dari Paroki Jetis Menyiapkan Dahar Untuk Umat Paroki Randusari

Sejumlah umat dari Paroki Randusari Katedral Semarang hendak mengantar dan menerimakan Romo mereka yaitu Romo Heri (Ambrosius Heri Krismawanto Pr) yang akan menetap di Paroki Jetis.

Umat Paroki Jetis pun mempersiapkan dan menyambut kedatangan dengan penuh antusias.

Beberapa Ibu dari Paroki Jetis Bersiap Menyambut Kedatangan Umat Paroki Randusari
Suster-Suster ADM
Para Bapak dari Paroki Jetis Ikut Bersiap Menyambut Kedatangan Umat Paroki Randusari
Tim PAMJA Paroki Jetis

Umat yang mengantar dari Semarang berjumlah sekitar 170-200 orang,  kedatangan bertahap menggunakan 4 bus & beberapa kendaraan kecil jenis mobil. Banyaknya umat yang datang dari Randusari membuktikan bahwa Romo Heri sangat dicintai oleh umatnya.

Momen Kedatangan Umat Paroki Randusari Katedral Semarang
Momen Kedatangan Umat Paroki Randusari Katedral Semarang

Acara yang direncanakan dimulai pada pukul 16.30 ini baru dimulai sekitar pukul 18.30 dikarenakan menunggu kedatangan seluruh umat Randusari yang masih dalam perjalanan.

Momen Kedatangan Umat Paroki Randusari Katedral Semarang
Momen Kedatangan Umat Paroki Randusari Katedral Semarang
Momen Kedatangan Umat Paroki Randusari & Romo Heri

Setelah seluruh umat Paroki Randusari dirasa sudah datang, kemudian Bapak Wahyu – Cokrodiningratan bersama dengan Mbak Weni (Kricak) selaku MC membuka acara dengan mempersilahkan Bapak Andar selaku wakil ketua Dewan Paroki sebagai perwakilan umat dari Paroki Randusari Katedral Semarang.

Bapak Wahyu & Mbak Weni

Kemudian di kesempatan selanjutnya, Romo Suparman yang juga baru saja menjadi Romo Paroki Jetis memperkenalkan Paroki kami yang masih memerlukan banyak perubahan dan kemajuan. Supaya nama Paroki yang disandang yaitu St. Albertus Agung benar-benar menunjukkan kuasa dan keagungan Tuhan Semesta Alam.

Sambutan berikutnya disampaikan oleh Bapak Dody selaku sekretaris Dewan Paroki Jetis.

Romo Heri kemudian berbicara di kesempatan selanjutnya didahului dengan menyanyikan sebait lagu Kla Project – Yogyakarta.

Pulang ke kotamu.. Ada setangkup haru dalam rindu..

Masih seperti dulu, tiap sudut menyapaku bersahabat..

 

Romo berterima kasih umat di Jetis bisa menerima kedatangan romo dengan baik.

Romo Heri juga sangat berterima kasih kepada umat Randusari yang telah mengantar jauh-jauh dari Semarang.

Ramah Tamah Umat Paroki Jetis dengan Umat Paroki Randusari

Kemudian berikutnya giliran Romo Herman yang merupakan rekan bertugas Romo Heri sebelumnya di Paroki Randusari menyampaikan selamat bertugas kepada Romo Heri di paroki Jetis.

Acara ditutup dengan santap malam bersama yang sebelumnya dipimpin doa makan oleh MC sekaligus pemberian berkat perlindungan bagi umat Randusari yang hendak pulang kembali oleh Romo Parman.

 

#Ditulis oleh : Frans
#Foto oleh : Agustinus Suseno

Download Foto-Foto Disini (KLIK) : Foto Ramah Tamah Dengan Umat Paroki Randusari

Serah Terima Jabatan Romo Paroki St. Albertus Agung Jetis

Pada tanggal 21 Juli 2019 di siang hari yang cerah ini, diadakan serah terima jabatan Romo Paroki antara Romo Rafael Tri Wijayanto Pr yang telah berkarya selama 7 tahun terakhir di paroki St. Albertus Agung Jetis dengan Romo Vincentius Suparman.

Romo Vincentius Suparman sebelumnya bertugas di paroki Kristoforus Banyutemumpang, Sawangan, Magelang, Jawa Tengah. Sedangkan Romo Rafael Tri Wijayanto Pr dipindah tugaskan ke paroki Santo Yohanes Rasul Somohitan, Sleman, Yogyakarta.

Acara yang direncanakan mulai jam 11 siang ini baru dimulai pada jam 1 siang dikarenakan Romo Vikaris Episkopalis (Vikep) Adrianus Maradiyo Pr sebagai saksi sebelumnya menghadiri acara Misa 40 tahun PKK KAS di Sleman City Hall.

Sekitar kurang lebih 300 orang ikut serta mengantar Romo Parman (panggilan akrab Romo Vincentius Suparman). Selain itu juga ada sekitar 20 orang yg mengantar Romo Ambrosius Heri Krismawanto Pr yang sebelumnya bertugas di Katedral Semarang kemudian dipindahtugaskan pula ke Paroki St. Albertus Agung Jetis, menggantikan Romo Bernardus Singgih Guritno Pr yang melanjutkan studi S3 ke Roma.

Romo Heri (panggilan akrab Romo Ambrosius Heri Krismawanto Pr) memperkenalkan diri dengan memberitahukan bahwa beliau merupakan kelahiran Turki (Turunan Kidul) yaitu tepatnya kota Bantul.

Acara dimulai dengan santap siang bersama dahulu kemudian baru dilanjutkan dengan serah terima serah terima jabatan Romo Paroki St. Albertus Agung Jetis.

Suasana dirasa cukup ramai serta meriah karena ada sekitar 3 bis pengantar dan kurang lebih 25 kendaraan jenis mobil. Acara yang selesai pada pukul 14.30 WIB ini berjalan dengan khidmat dan sederhana.

 

Ditulis oleh : Franciskus Devy H.

Foto oleh : Rosario Guntur H.

Komsos Jetis & DIY “Mabur” ke Paroki Kalasan

Pertemuan rutin Komsos Kevikepan DI Yogyakarta setiap 2 (dua) bulanan yang jatuh pada bulan Juli ini bertempat di Paroki Marganingsih Kalasan.

Ada yang spesial pada pertemuan kali ini, alih-alih hanya bertemu dan sekedar membahas hal-hal teknis yang itu-itu saja, kami malah diajari mabur ! Ya, Anda sudah benar dan tidak salah membaca.

Kami diajari memaburkan drone ! Kami diajari menjadi pilot drone. 🙂

Bertindak sebagai pelatih kami yaitu Mas Wawan (Paroki Santa Perawan Maria Tak Bercela Nanggulan, Kulon Progo) dan Adri (Paroki  Santo Petrus & Paulus Minomartani, Sleman). Mengenai keahlian mengendalikan drone, mereka berdua jagonya !

Sekitar 30-an rekan-rekan peserta pelatihan yang merupakan anggota Komsos Kevikepan DIY dan sebagian dari rekan-rekan Komsos KAS mengikuti briefing dan simulasi menerbangkan drone dengan penuh antusias di ruang pertemuan pastoran Paroki Marganingsih Kalasan.

Sebelum menerbangkan drone di lapangan, kami belajar latar belakang menerbangkan drone terlebih dahulu, hal-hal teknis seperti :

  • di daerah mana kami boleh menerbangkan
  • berapa ketinggian maksimum yang diperbolehkan
  • berapa jarak maksimum yang sanggup ditempuh oleh drone
  • bagaimana cara mengendalikan dan menerbangkan serta mendaratkan drone
  • dan masih banyak lagi

Diberitahukan selengkap-lengkapnya pada briefing awal. Seketika mata kami terbuka lebar dan menjadi tidak sabaran ingin langsung icip-icip rasanya menjadi pilot drone sesungguhnya. Hehe..

Kami beruntung drone yang disediakan untuk pelatihan cukup banyak, sehingga semua peserta dapat merasakan bagaimana mengendalikan drone dan menjadi pilot drone sebenarnya.

Dikarenakan keterbatasan waktu yang disediakan untuk pelatihan (walaupun sudah lumayan panjang), dan dirasa masih kurang oleh peserta. Dengar-dengar akan ada pelatihan Drone Jilid 2 ! atas kesepakatan bersama antara peserta dan pelatih di bulan depan atau di pertemuan rutin Komsos DIY berikutnya.

Mau ikut? Tunggu beritanya ya ! Daftar jadi anggota Komsos disini yuk biar bisa seru-seruan bareng ! >>> DAFTAR ANGGOTA KOMSOS JETIS

 

Penulis : Frans

Foto : Agustinus Suseno & Frans

You cannot copy content of this page