Renungan Mingguan 5 Januari 2020

Sabda Tuhan Hari Ini 5 Januari 2020, Matius 2:1‐12

Kami datang dari timur untuk menyembah Sang Raja.

Pada zaman pemerintahan Raja Herodes, sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea, datanglah orang‐orang majus dari Timur ke Yerusalem. Mereka bertanya‐tanya, “Di manakah Raja Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintangNya di Timur  dan kami datang untuk menyembah Dia.”

Mendengar hal itu, terkejutlah raja Herodes beserta seluruh Yerusalem. Maka dikumpulkannya semua imam kepala dan ahli Taurat bangsa Yahudi, lalu dimintanya keterangan dari mereka, di mana Mesias akan dilahirkan. Mereka berkata kepadanya, “Di Betlehem di tanah Yudea, karena beginilah ada tertulis dalam kitab nabi: Dan engkau, Betlehem di tanah Yehuda, engkau sekali‐kali bukanlah yang terkecil di antara mereka yang memerintah Yehuda, karena dari padamulah akan bangkit seorang pemimpin, yang akan menggembalakan umat‐Ku Israel.”

Lalu dengan diam‐diam Herodes memanggil orang‐orang majus itu dan dengan teliti bertanya kepada mereka kapan bintang itu nampak. Kemudian ia menyuruh mereka ke Betlehem, katanya, “Pergilah, dan selidikilah dengan seksama hal‐ikhwal Anak itu! Dan segera sesudah kamu menemukan Dia, kabarkanlah kepadaku, supaya aku pun datang menyembah Dia.”

Setelah mendengar kata‐kata raja Herodes, berangkatlah para majus itu. Dan lihatlah, bintang yang mereka lihat di Timur itu mendahului mereka hingga tiba dan berhenti di atas tempat di mana Anak itu berada.

Melihat bintang itu, sangat bersukacitalah mereka. Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu, dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu‐Nya. Lalu mereka sujud menyembah Dia. Mereka pun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada Anak itu, yaitu emas, kemenyan dan mur.

Kemudian, karena diperingatkan dalam mimpi supaya jangan kembali kepada Herodes, mereka pun pulang ke negerinya lewat jalan lain.

Demikianlah Injil Tuhan.

Renungan

Semua orang dan segala bangsa membutuhkan terang untuk menuntun dan menerangi langkah hidupnya. Hari ini kita merayakan Tuhan menyatakan diri sebagai  Terang bukan hanya bagi bangsanya, tapi kepada segala bangsa  yang diwakili oleh tiga orang majus dari berbagai bangsa.

Kehadiran para majus menyadarkan kita kembali apa artinya menjadi Gereja, Tubuh Mistik Kristus, yakni menjadi terang bagi bangsa bangsa, bagi orang‐orang di sekitar kita.

Jika kita sungguh menyambut dan menerima Yesus sebagai Terang yang menuntun langkah hidup kita, maka hidup kita pun akan menjadi terang (teladan) bagi sesama: ”Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang dan kemuliaan Tuhan terbit atasmu” (Yes. 60:1).

Menerima dan menghayati hidup Yesus dalam hidup kita harus nyata tatkala orang tertarik untuk datang kepada kita dan meneladan hidup kita.Apakah hidup kita menarik bagi sesama? Berapa orang yang sudah menjadi baik dan selamat karena teladan kita? Berapa orang yang telah kita bantu untuk keluar dari kekelaman hidupnya?

Ya Yesus, Engkau terang sejati dan sinarilah jalan hidup kami di dunia ini. Amin.

Sumber renungan: Ziarah Batin 2020, OBOR Indonesia

Renungan Mingguan 29 Desember 2019

Sabda Tuhan Hari Ini 29 Desember 2019, Matius 2:13‐15.19-23

Doa: Tuhan Yesus, bukalah pintu hatiku. Bersabdalah, ya Tuhan, hamba-Mu mendengarkan.

Setelah orang‐orang majus yang mengunjungi Bayi Yesus di Betlehem pulang, nampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi. Malaikat itu berkata, “Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu‐Nya! Larilah ke Mesir dan tinggallah di sana sampai Aku berfirman kepadamu, karena Raja Herodes akan mencari Anak itu untuk dibunuh.” Maka Yusuf pun bangun. Malam itu juga diambilnya Anak itu serta ibu‐Nya, lalu menyingkir ke Mesir, dan tinggal di sana hingga Herodes mati. Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan lewat nabi‐Nya, “Dari Mesir Kupanggil Anak‐Ku.”

Setelah Herodes mati, nampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf di Mesir dalam mimpi. Kata malaikat itu, “Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu‐Nya, dan berangkatlah ke tanah Israel, karena mereka yang hendak membunuh Anak itu sudah mati.” Lalu Yusuf pun bangunlah. Diambilnya Anak itu serta ibu‐Nya, dan pergilah mereka ke tanah Israel. Tetapi setelah mendengar bahwa Arkhelaus menjadi raja di Yudea menggantikan Herodes, ayahnya, Yusuf takut ke sana. Setelah dinasihati dalam mimpi, pergilah Yusuf ke daerah Galilea. Setibanya di sana ia tinggal di sebuah kota yang bernama Nazaret. Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi‐nabi, bahwa Ia akan disebut: Orang Nazaret.

Demikianlah Injil Tuhan.

Renungan

Pada Minggu pertama pasca Natal, kita merayakan pesta Keluarga Kudus Nazaret. Keluarga sederhana, namun hidup bersahaja di mata Allah. Keluarga kecil beranggotakan Yusuf, Maria, dan Kanak‐kanak Yesus ini juga sangat patuh pada adat‐istiadat setempat. Tentu saja keluarga ini juga sangat terbuka dengan sesamanya. Dalam keluarga itulah Yesus dilahirkan, bertumbuh dan berkembang.
Selaku orangtua, Yusuf dan Maria diimani sebagai orangtua yang harmonis, satu, setia, bahu‐membahu dalam mendidik anak dan membina keluarga. Yusuf, seorang yang saleh, benar‐benar menunaikan tanggung jawabnya sebagai ayah dan imam dalam keluarga. Demikian juga Maria yang selalu hormat pada kebijakan suaminya. Keharmonisan dan kesatuan mereka menjadikan kanak‐kanak Yesus semakin bertambah hikmatnya.

Keluarga kudus adalah model bagi keluarga‐keuarga masa kini. Misi, identitas, peran, dan penggilan keluarga zaman sekarang patut mencontoh keluarga Nazaret ini. Berbagai macam tantangan hidup perkawinan dan keluarga selalu dijiwai dan disemangati oleh teladan Yusuf, Maria, dan Yesus. Dengan demikian, pasangan suami‐istri dan anak‐anak tetap bisa menghayati hakikat dan tujuan perkawinan yang Gereja kehendaki.

Ya Bapa, berkatilah dan dampingilah keluarga‐keluarga Kristiani masa kini. Dalam berbagai tantangan yang harus dihadapi, ya Bapa, arahkanlah mereka pada tujuan yang Engkau kehendaki. Amin.

Sumber renungan: Ziarah Batin 2019, OBOR Indonesia

Renungan Mingguan 22 Desember 2019

Sabda Tuhan Hari Ini 22 Desember 2019, Matius 1:18‐24

Doa: Tuhan Yesus, bukalah pintu hatiku. Bersabdalah, ya Tuhan, hamba-Mu mendengarkan.

Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu Yesus, bertunangan dengan Yusuf, ternyata Maria mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri. Karena Yusuf, suaminya, seorang yang tulus hati, dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam‐diam.

Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi, dan berkata, “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Maria akan melahirkan anak laki‐laki, dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat‐Nya dari dosa mereka. Hal itu terjadi supaya genaplah yang firman Tuhan yang disampaikan oleh nabi: Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki‐laki, dan mereka akan menamai Dia Imanuel, yang berarti: Allah menyertai kita.”

Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat  seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya.
Demikianlah Injil Tuhan.

Renungan

Akhirnya kita sampai di penghujung masa Adven. Empat lilin dalam lingkaran Adven pun kita nyalakan semua. Sebuah gambaran bahwa dunia ini sudah temaram dengan cahaya. Tidak ada lagi sisi‐sisi atau sudut‐sudut yang gelap. Sang terang secara perlahan, namun meyakinkan mampu mengalahkan kegelapan.

Demikianlah halnya dengan misteri keselamatan Allah. Dengan amat meyakinkan Sang Terang, yakni Yesus Kristus itu akan datang. Perawan Maria menjadi perantara kedatangan‐Nya di dunia. Melalui Yesus Kristus inilah kegelapan dosa umat manusia akan dihalau. Kerahiman‐Nya menghapuskan dosa‐dosa dunia.
Nah, masihkah asa kita akan kedatangan Sang Terang itu tetap terjaga? Sejauh manakah tekad untuk mencintai Tuhan dan sesama bisa tetap terwujud? Makin besarkah kesadaran akan dosa kita sehingga makin meningkatkan upaya menyucikan diri?

Jika jawabannya adalah ”iya” bahkan trend‐nya semakin membaik, maka hal itu menjadi petunjuk bahwa Sang Terang itu selalu dihadirkan dalam diri kita. Kita tidak membiarkan ada sisi‐sisi atau sudut‐sudut kehidupan kita yang gelap. Kehadiran Tuhan selalu menjadi prioritas.

Ya Bapa, jaga dan peliharalah harapanku akan penebusan‐Mu. Jangan biarkan aku jatuh dan jatuh lagi dalam kesalahan dan dosa karena Engkaulah Emanuel, Allah yang selalu menyertaiku. Amin.

Sumber renungan: Ziarah Batin 2019, OBOR Indonesia

Renungan Mingguan 15 Desember 2019

Sabda Tuhan Hari Ini 15 Desember 2019, Matius 11:2‐11

Doa: Tuhan Yesus, bukalah pintu hatiku. Bersabdalah, ya Tuhan, hamba-Mu mendengarkan.

Sekali peristiwa Yohanes Pembaptis yang berada di penjara mendengar tentang pekerjaan Kristus.Lalu ia menyuruh murid‐muridnya bertanya kepada Yesus, “Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?” Yesus menjawab mereka, “Pergilah dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu dengar dan kamu lihat: Orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik. Berbahagialah orang yang tidak sangsi dan tidak menolak Aku.” Setelah murid‐murid Yohanes pergi, mulailah Yesus berbicara kepada orang banyak tentang Yohanes, “Untuk apakah kamu pergi ke padang gurun? Melihat buluh yang digoyangkan angin kian ke mari? Atau untuk apakah kamu pergi? Melihat orang yang berpakaian halus? Orang yang berpakaian halus itu tempatnya di istana raja. Jadi untuk apakah kamu pergi? Melihat nabi? Benar, dan Aku berkata kepadamu, bahkan lebih dari pada nabi. Karena tentang dia ada tertulis: Lihatlah, Aku menyuruh utusan‐Ku mendahului Engkau! ia akan mempersiapkan jalan di hadapan‐Mu. Aku berkata kepadamu: Camkanlah, di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar dari pada Yohanes Pembaptis. Namun demikian, yang terkecil dalam Kerajaan Surga lebih besar daripada Yohanes.”

Demikianlah Injil Tuhan.

Renungan

Tanpa terasa kita sudah ada pada Minggu ketiga masa Adven. Pada hari ini secara simbolik lilin dalam lingkaran Adven pun sudah bernyala tiga. Hal ini memberi gambaran bahwa sudah ada tiga penjuru bumi memancarkan terang. Harapan dunia yang benar‐benar diliputi cahaya sudah sangat mendekati kenyataan. Hal ini terjadi karena terang pertama dan kedua selalu dijaga nyalanya hingga terang berikutnya.

Bacaan‐bacaan hari ini mengingatkan kita akan kesulitan dan kesedihan yang bisa membuat kita lalai menjaga “terang”. Permasalahannya hidup bisa membuat kita menjauh dari Allah. Semakin berat persoalan hidup kita, semakin menggoda kita untuk semakin menjauh dari Allah.

Padahal sesungguhnya Allah tak pernah meninggalkan kita dalam keadaan apa pun. Allah ada dalam berbagai kondisi kita. Allah sendiri yang akan datang untuk menyelamatkan kita.

Nah, siapakah di antara kita yang tidak memiliki kesulitan? Pasti setiap kita memilikinya dalam rupa dan kadar yang berbeda. Akankah problem hidup itu menjadikan kita menjauh dari Allah? Semoga kesulitan hidup ini justru menjadi peluang untuk semakin menyandarkan diri pada kekuasaan‐Nya.

Ya Bapa, terima kasih untuk semua kesulitan hidup yang ada dalam diriku. Mampukanlah aku untuk menjaga harapan akan kekuasaan‐Mu yang menyelamatkan. Amin.

Sumber renungan: Ziarah Batin 2019, OBOR Indonesia

Renungan Mingguan 8 Desember 2019

Sabda Tuhan Hari Ini 8 Desember 2019, Matius 3:1‐12

Doa: Tuhan Yesus, bukalah pintu hatiku. Bersabdalah, ya Tuhan, hamba-Mu mendengarkan.

Sekali peristiwa tampillah Yohanes Pembaptis di padang gurun Yudea dan berseru, “Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat!” Sesungguhnya, dialah yang dimaksudkan nabi Yesaya ketika nabi itu berkata, “Ada suara orang yang berseru‐seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi‐Nya.”Yohanes itu memakai jubah bulu unta dan ikat pinggang kulit, makanannya belalang dan madu hutan. Maka datanglah kepadanya penduduk dari Yerusalem, dari seluruh Yudea dan dari seluruh daerah sekitar Yordan. Dan sambil mengakui dosanya mereka dibaptis oleh Yohanes di sungai Yordan. Tetapi waktu melihat banyak orang Farisi dan orang Saduki datang untuk dibaptis, berkatalah Yohanes Pembaptis kepada mereka, “Hai kamu keturunan ular beludak! Siapakah yang mengatakan kepada kamu, bahwa kamu dapat lolos dari murka yang akan datang? Maka hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan. Dan janganlah mengira, bahwa kamu dapat berkata dalam hatimu: Kami adalah anak Abraham. Sebab aku berkata kepadamu: Dari batu‐batu ini pun Allah dapat menjadikan anak‐anak bagi Abraham. Kapak sudah tersedia pada akar pohon, dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. Aku membaptis kamu dengan air sebagai tanda pertobatan, tetapi Ia yang datang kemudian daripadaku lebih berkuasa daripadaku, dan aku tidak layak melepaskan kasut‐Nya. Ia akan membaptiskan kamu dengan Roh Kudus dan dengan api. Alat penampi sudah ditangan‐Nya. Ia akan membersihkan tempat pengirikan‐Nya dan mengumpulkan gandum‐Nya ke dalam lumbung, tetapi debu jerami akan dibakar‐Nya dalam api yang tidak terpadamkan.”

Demikianlah Injil Tuhan.

Renungan

Hari ini adalah Minggu Adven kedua. Lilin dalam korona pun bernyala dua. Lingkaran Adven sebagai gambaran dunia yang gelap, kini sudah terang setengahnya. Dua penjuru bumi memancarkan cahayanya. Harapan akan dunia yang temaram kian hari kian terbuka prospeknya.

Bagaimana dengan api pertobatan dan pengharapan kita? Apakah semakin temaram? Semoga jawabannya adalah “ya”. Inilah harapan kita semua, yakni langkah awal pertobatan kita tidak berhenti. Sebaliknya, kita semakin peka menilik kekurangan diri yang menggairahkan kita untuk hidup makin selaras dengan kehendak Allah.

Yesaya mengingatkan kita bahwa Allah adalah hakim yang adil. Ia akan mengadili manusia sesuai amal perbuatannya. Yang salah akan dihukum, yang benar akan menerima ganjaran keselamatan. Dalam pengadilannya tidak ada suap, main mata, atau negosiasi. Dan Yohanes pun tegas menyuarakan: “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!” Karena itu, marilah kita jaga nyala api pertobatan dan harapan kita dengan terus melakukan kebaikan. Hidup yang semakin baik di mata Allah dan sesama adalah credit point bagi ganjaran keselamatan kita.

Ya Bapa, jagalah api harapan dan kasih‐Mu dalam hatiku. Jangan biarkan aku berjalan dalam kegelapan dan dosa. Tuntunlah aku pada kebenaran‐Mu, agar kelak aku boleh berharap akan rahmat keselamatan‐Mu. Amin.

Sumber renungan: ZiarahBatin 2019, OBOR Indonesia

Renungan Mingguan 1 Desember 2019

pengakuan dosa

Sabda Tuhan Hari Ini 1 Desember 2019, Matius 24:37‐44

Doa: Tuhan Yesus, bukalah pintu hatiku. Bersabdalah, ya Tuhan, hamba-Mu mendengarkan.

Sekali peristiwa Yesus bersabda kepada murid‐murid‐Nya, “Seperti halnya pada zaman Nuh, demikianlah kelak pada kedatangan Anak Manusia. Pada zaman sebelum air bah itu orang makan dan minum, kawin dan mengawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera; mereka tidak menyadari apa yang terjadi sampai air bah itu datang dan melenyapkan mereka semua. Demikian pulalah halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia. Pada waktu itu kalau ada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan. Kalau ada dua orang perempuan sedang menggiling gandum, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan. Oleh karena itu berjaga‐jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang. Tetapi ketahuilah ini: Jika tuan rumah tahu pada waktu mana pencuri datang waktu malam, pastilah ia berjaga‐jaga, dan tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar. Sebab itu, hendaklah kamu selalu siap siaga, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga.”

Demikianlah Injil Tuhan.

Renungan

Hari ini umat beriman memasuki masa Adven. Lilin pertama dalam lingkaran Adven pun mulai dinyalakan. Jika kita ibaratkan korona Adven sebagai gambaran dunia yang gelap, maka kegelapan dunia itu mulai diusir. Salah satu penjuru bumi itu sudah memiliki cahaya. Harapan akan dunia yang temaran dengan cahaya sudah diawali.

Orang beriman adalah mereka yang selalu berupaya menyalakan terang dalam kegelapan jalan hidupnya. Mereka menyadari diri sebagai sosok yang kurang dan lemah, namun ia terus berupaya untuk hidup dalam kelimpahan dan kekuatan rahmat Allah. Selalu berharap adalah kata kunci mereka.

Terang dan harapan bagi umat beriman itu adalah Yesus Sang Mesias. Yesaya meyakinkan kita bahwa Dia‐lah jalan keselamatan hidup kita. Berjalan bersama Dia menjadi panggilan kita. Berkat Dia keselamatan kita semakin mendekat.

Karena itu, marilah kita senantiasa waspada dan berjaga‐jaga. Kita tidak terlena dalam perbuatan salah dan dosa. Mari berlomba berbuat kasih dan hidup dalam doa dan Sabda. Kesiapsiagaan kita menyongsong kelahiran‐Nya adalah peluang bagi keselamatan kita.

Ya Bapa, nyalakanlah api harapan dalam diriku. Biarkan cahayanya menghalau kegelapan dosa dan menuntutku kepada Yesus, Sang Imanuel yang aku nantikan. Amin.

Sumber renungan : Ziarah Batin 2019, OBOR Indonesia

Renungan Mingguan 24 November 2019

renungan-mingguan

Sabda Tuhan Hari Ini 24 November 2019, Lukas 23:35-43

Doa: Tuhan Yesus, bukalah pintu hatiku. Bersabdalah, ya Tuhan, hamba-Mu mendengarkan.

 

Orang banyak berdiri di situ dan melihat semuanya. Pemimpin-pemimpin mengejek Dia, katanya, “Orang lain Ia selamatkan, biarlah sekarang Ia menyelamatkan diri-Nya sendiri, jika Ia adalah Mesias, orang yang dipilih Allah.”

Juga prajurit-prajurit mengolok-olokkan Dia; mereka mengunjukkan anggur asam kepada-Nya dan berkata, “Jika Engkau adalah raja orang Yahudi, selamatkanlah diri-Mu!” Ada juga tulisan di atas kepala-Nya, “Inilah raja orang Yahudi”.

Seorang dari penjahat yang digantung itu menghujat Dia, katanya, “Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami!” Tetapi yang seorang menegor dia, katanya, “Tidakkah engkau takut, juga tidak kepada Allah, sedang engkau menerima hukuman yang sama? Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah.”

Lalu ia berkata, “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.” Kata Yesus kepadanya, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.”

 

RAJA

Hari ini Gereja merayakan Hari Raya Tuhan Kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam. Perayaan ini ditetapkan oleh Paus Pius XI pada tahun 1925 pada setiap hari Minggu  terakhir bulan Oktober, menjelang  Hari Raya Semua Orang Kudus. Maksud utama perayaan ini sebagaimana tertuang dalam ensiklik “Quas Primas”, Paus sengaja melawan Atheisme dan Sekularisme pada masa itu dengan menampilkan Kristus sebagai yang lebih tinggi dan lebih berkuasa daripada segala kekuatan yang diunggulkan dunia ini.

Sejak tahun 1970 perayaan ini mengalami perubahan penekanan pada Kristus yang lebih bercorak eskatologis. Oleh karena itu, penempatan tanggalnya pun berubah, bukan lagi pada hari Minggu terakhir bulan Oktober, tetapi pada hari Minggu menjelang Hari Minggu I Adven. Jadi, jelas pula sebagai penutup Tahun Liturgi Gereja. Kristus adalah Alfa dan Omega.

Injil hari ini mengisahkan dua pihak yang memberikan pengakuan Yesus sebagai raja. Kelompok pertama adalah kelompok orang-orang terhormat, para pemimpin Yahudi, dan para prajurit. Mereka menyebut Yesus sebagai raja, dengan tujuan sebagai ejekan. Di atas salib-Nya pun tertulis “Inilah raja orang Yahudi”.

Sementara itu, pihak kedua adalah seorang penjahat yang disalibkan di sebelah Yesus. Ia dengan tulus mengakui Yesus sebagai raja, “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.” Pilih orang terhormat, atau penjahat? Bukan itu pilihannya, tetapi pilihannya adalah mengakui Yesus Kristus adalah Raja atau bukan. Secara yuridis atau verbal, kita orang Katolik mengakui Yesus adalah Raja. Tetapi, apakah pengakuan itu terwujud dalam praksis hidup kita?

Hari ini Gereja mengakhiri Tahun Liturgi dengan mengakui Yesus Kristus Raja Semesta Alam yang berkuasa menentukan penghakiman terakhir kita. Ini menjadi bekal penyerahan diri dan pertobatan, untuk dengan tulus dan hati makin terbuka memasuki masa Adven minggu depan. Kita membuka hati pada tawaran karya penyelamatan Allah yang sebentar lagi dihadirkan di tengah kita. Semoga kita siap menyambut-Nya apabila Ia datang menyapa. Semoga kita peka kalau kedatangan-Nya dalam rupa yang tak kita duga sebagaimana dikisahkan dalam bacaan hari ini. (warindra)

Renungan Mingguan 17 November 2019

Sabda Tuhan Hari Ini 17 November 2019, Lukas 21:5‐19

Sekali peristiwa ketika beberapa orang berbicara tentang Bait Allah dan mengagumi bangunan yang dihiasi dengan batu yang indah‐indah dan dengan berbagai barang persembahan, berkatalah Yesus, “Akan datang harinya segala yang kamu lihat di situ diruntuhkan, dan tidak akan ada satu batu pun dibiarkan terletak di atas batu yang lain.”

Lalu murid‐murid bertanya kepada Yesus, “Guru, bilamanakah itu akan terjadi? Dan apakah tandanya, kalau itu akan terjadi?” Jawab Yesus, “Waspadalah, jangan sampai kamu disesatkan. Sebab banyak orang akan datang dengan memakai nama‐Ku dan berkata ‘Akulah Dia’ atau ‘Saatnya sudah dekat.’ Janganlah kamu mengikuti mereka.

Dan bila kamu mendengar tentang perang dan pemberontakan, janganlah kamu terkejut. Sebab semuanya itu harus terjadi dahulu, tetapi itu tidak berarti kesudahannya akan datang segera.” Kemudian Yesus berkata kepada mereka, “Bangsa akan bangkit melawan bangsa dan kerajaan melawan kerajaan. Akan terjadi gempa bumi yang dahsyat, dan di berbagai tempat akan ada penyakit sampar dan kelaparan. Dan akan terjadi juga hal‐hal yang mengejutkan dan tanda‐tanda yang dahsyat dari langit.

Tetapi sebelum semuanya itu kamu akan ditangkap dan dianiaya. Karena nama‐Ku kamu akan diserahkan ke rumahrumah ibadat, dimasukkan ke dalam penjara, dan dihadapkan kepada raja‐raja dan para penguasa. Hal itu akan menjadi kesempatan bagimu untuk bersaksi. Sebab itu tetap teguhlah di dalam hatimu, jangan kamu memikirkan lebih dahulu pembelaanmu. Aku sendirilah yang akan memberikan kamu kata‐kata hikmat, sehingga kamu tidak dapat ditentang atau dibantah lawan‐lawanmu.

Kamu akan diserahkan juga oleh orangtuamu, saudara‐saudaramu, kaum keluarga dan sahabat‐sahabatmu, dan beberapa orang di antara kamu akan dibunuh; karena nama‐Ku kamu akan dibenci semua orang Tetapi tidak sehelai pun dari rambut kepalamu akan hilang. Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu.”

Demikianlah Injil Tuhan.

 

Renungan

Dalam Injil hari ini Yesus memberitahukan kepada para murid‐Nya bagaimana Ia akan menderita dan para murid juga akan mengalami hal yang sama karena mereka beriman kepada Yesus. Oleh karena itu, mereka juga harus siap untuk menderita. Yesus menasihati agar mereka tidak berkecil hati, apalagi takut, karena Ia akan memberikan kata‐kata hikmat dan mereka tetap hidup jika tetap bertahan dalam iman kepada‐Nya.

Dalam hidup ini, kesulitan akan selalu ada. Namun sebagai orang beriman, berbagai kesulitan yang kita hadapi dapat kita pandang sebagai kesempatan untuk lebih dekat dengan Tuhan, menjadi peluang bagi kita untuk tumbuh dan berkembang dalam iman. Jika kita senantiasa bersama dengan Tuhan, kita tidak akan dibelenggu oleh masalah, tetapi justru dapat menguasai masalah; tidak mudah berpikiran pendek, tetapi dengan hati tenang dan akal budi yang jernih mencari solusi.

Daya tahan dan kemampuan kita terbatas, tetapi jika kita selalu menggunakan iman kita dalam setiap menghadapi masalah, Tuhan akan senantiasa mengisi energi kita dan menumbuhkan kembali semangat dan harapan kita

Allah yang mahabaik, semoga aku selalu dapat bertahan dalam iman ketika kesulitan hidup datang dan tetap menjadi anak‐Mu yang bijak dalam mencari jalan keluar yang cepat. Amin.

 

Sumber renungan: Ziarah Batin 2019, OBOR Indonesia

Renungan Mingguan 10 November 2019

Sabda Tuhan Hari Ini 10 November 2019, Lukas 20:27.34-38

Doa: Tuhan Yesus, bukalah pintu hatiku. Bersabdalah, ya Tuhan, hamba-Mu mendengarkan.

 

Maka datanglah kepada Yesus beberapa orang Saduki, yang tidak mengakui adanya kebangkitan. Mereka bertanya kepada-Nya: “Guru, Musa menuliskan perintah ini untuk kita: Jika seorang, yang mempunyai saudara laki-laki, mati sedang isterinya masih ada, tetapi ia tidak meninggalkan anak, saudaranya harus kawin dengan isterinya itu dan membangkitkan keturunan bagi saudaranya itu.

Adalah tujuh orang bersaudara. Yang pertama kawin dengan seorang perempuan lalu mati dengan tidak meninggalkan anak. Lalu perempuan itu dikawini oleh yang kedua, dan oleh yang ketiga dan demikianlah berturut-turut oleh ketujuh saudara itu, mereka semuanya mati dengan tidak meninggalkan anak. Akhirnya perempuan itupun mati.

Bagaimana sekarang dengan perempuan itu, siapakah di antara orang-orang itu yang menjadi suaminya pada hari kebangkitan? Sebab ketujuhnya telah beristerikan dia.”

Jawab Yesus kepada mereka: “Orang-orang dunia ini kawin dan dikawinkan, tetapi mereka yang dianggap layak untuk mendapat bagian dalam dunia yang lain itu dan dalam kebangkitan dari antara orang mati, tidak kawin dan tidak dikawinkan.

Sebab mereka tidak dapat mati lagi; mereka sama seperti malaikat-malaikat dan mereka adalah anak-anak Allah, karena mereka telah dibangkitkan. Tentang bangkitnya orang-orang mati, Musa telah memberitahukannya dalam nas tentang semak duri, di mana Tuhan disebut Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub. Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Dia semua orang hidup.”

 

KEBANGKITAN

Misteri kebangkitan, menjadi bagian tersulit bagi saya untuk memahami iman Katolik. Ajaran Yesus tentang kebangkitan ini ternyata juga menyulitkan sebagian kelompok Yahudi, seperti beberapa orang Saduki dalam bacaan hari ini. Pada dasarnya, mereka tidak mengakui adanya kebangkitan. Maka, tendensi pertanyaan mengenai kebangkitan ini bisa dicurigai sekadar untuk mencobai atau mempermainkan Yesus. Tetapi, permasalahan yang diajukan memakai rujukan serius yakni Hukum Musa.

Sebagai Filosofan, saya pikir permasalahan kebangkitan ini bukan sekadar persoalan diskusi filsafat mengenai kekekalan jiwa. Orang-orang Yahudi memang tidak terlatih menggeluti filsafat, meski ilmu ini diperlukan untuk memahami bagaimana jiwa yang tidak dapat mati bisa hidup terus tanpa badan. Tetapi bukan itu soalnya, bagi mereka ini lebih persoalan teologis. Maka, dalam bacaan hari ini Yesus tidak mengutip tradisi-tradisi kebijaksanaan Yahudi lainnya selain dari Taurat Musa. Yesus persis menggunakan rujukan yang mereka pakai.

Karena itulah mereka merasa jawaban Yesus ini mengena. Kalau Allah itu hidup, maka mereka yang dikasihi-Nya mesti diberi-Nya hidup pula. Sifat tidak dapat mati itu tidak terletak dalam sifat jiwa yang rohani, melainkan pertama-tama terletak dalam cinta Allah kepada semua orang. Cinta itulah yang kekal dan menghidupkan.

Misteri kebangkitan ini menjadi makin terang dalam pengalaman kebangkitan Yesus sendiri. Yesus dialami sebagai hidup oleh orang-orang yang dicintai dan mencintai-Nya. Cinta akan Yesus inilah yang akan menjamin kebangkitan Yesus dan membangkitkan kita juga untuk hidup kekal bersama-Nya selamanya. (warindra)

Renungan Mingguan 3 November 2019

Sabda Tuhan Hari Ini 3 November 2019, Lukas 19:1-10

Doa: Tuhan Yesus, bukalah pintu hatiku. Bersabdalah, ya Tuhan, hamba-Mu mendengarkan.

 

Yesus masuk ke kota Yerikho dan berjalan terus melintasi kota itu. Di situ ada seorang bernama Zakheus, kepala pemungut cukai, dan ia seorang yang kaya. Ia berusaha untuk melihat orang apakah Yesus itu, tetapi ia tidak berhasil karena orang banyak, sebab badannya pendek.

Maka berlarilah ia mendahului orang banyak, lalu memanjat pohon ara untuk melihat Yesus, yang akan lewat di situ. Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata: “Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu.” Lalu Zakheus segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita.

Tetapi semua orang yang melihat hal itu bersungut-sungut, katanya: “Ia menumpang di rumah orang berdosa.” Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan: “Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.” Kata Yesus kepadanya: “Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang ini pun anak Abraham. Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.”

 

ZAKHEUS

Zakheus (Zakhaios, Yun) berasal dari nama Ibrani yang indah Zakai yang berarti orang yang murni. Bisa juga nama itu berarti “orang yang benar”. Kebenaran atau kecocokan nama itu dengan penyandangnya barulah ditemukan di akhir kisah bacaan hari ini.

Sebelumnya, amat tak cocok. Ia seorang kepala pemungut cukai di kota yang amat strategis, Yerikho. Karyawan yang bekerja pada pemerintah Roma ini bisa dibayangkan seberapa harta kekayaannya. Kendati begitu, ia merasa hidupnya tak nyaman, dirinya tak bahagia! Karenanya, ia mengamati dan hanyut dalam hot issue yang berhembus saat itu. Ia sudah banyak mendengar tentang Yesus, yang beritanya bergemuruh dibicarakan orang. Ia jadi ingin tahu dan ingin menjajagi prospeknya.

Karena itulah, saat didengarnya orang berbondong-bondong menyongsong Yesus yang masuk ke kota Yerikho, ia tak ketinggalan. Bahkan, ia rela merendahkan diri main panjat pohon murbei (sykaminos, Yun), bukan ara (“syke_, Yun). Pohon murbei ini dahannya pendek-pendek dan cabangnya terentang lebar, memudahkan orang tak berpengalaman untuk memanjatnya.

Di mata Yesus semua itu merupakan langkah-langkah awal intensi pemurniannya. Dalam Hukum, kemurnian memang dituntut dari semua ciptaan, termasuk manusia dengan menghampiri Allah yang kudus. Semoga keterbukaan ini juga menggerakkan kita untuk terbuka pada tawaran belas kasih Allah, peka akan tawaran-tawaran penyelamatan Allah, dan berani selalu mengevaluasi diri untuk menjadi lebih baik sebagai pengikut Kristus.

(warindra)

You cannot copy content of this page