Renungan Mingguan 27 Oktober 2019

Sabda Tuhan Hari Ini 27 Oktober 2019,  Lukas 18:9-14

Doa: Tuhan Yesus, bukalah pintu hatiku. Bersabdalah, ya Tuhan, hamba-Mu mendengarkan.

 

Dan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain, Yesus mengatakan perumpamaan ini: “Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”

 

DIBENARKAN ALLAH

Untuk siapakah keselamatan yang ditawarkan Allah? Semua orang yang merasa menanggapi tawaran itu, tentu mengharapkan mendapatkannya. Apakah itu akan diberikan kepada pemuka agama seperti Imam, Bruder, Suster, Prodiakon, Katekis, Evangelizer, aktivis Gereja? Belum tentu. Mungkin, untuk koruptor yang merugikan masyarakat. Begitulah lebih kurang kisah perumpamaan Yesus dalam konteks zaman kita sekarang. Tentu saja ada penjelasannya.

Orang yang menggeluti agama dalam hidupnya sehari-hari, menjadi pemimpin agama, menjalankan hukum agama lebih keras dari orang awam kebanyakan, belum tentu dinilai sebagai benar oleh Allah. Sebaliknya, orang yang dianggap berdosa oleh masyarakat, merugikan masyarakat, korup, tidak setia pada hukum agama, mengabdi orang kafir, malah bisa dikenan oleh Allah. Itulah yang disampaikan oleh Yesus melalui perumpamaan mengenai sikap orang Farisi dan pemungut cukai.

Perumpamaan Yesus ini melanjutkan gagasan Lukas sebelumnya bahwa Allah peduli pada orang kecil, kaum hina, dan tersingkir dalam masyarakat. Orang Farisi yang merasa dirinya benar akan ditolak. Apa yang diucapkannya di Bait Allah itu bukan doa, melainkan sederetan kesombongan. Boleh jadi ia memang melakulan semua yang diucapkannya. Namun, yang menjadikan sombong adalah sikap hati seakan-akan Allah membutuhkan semua yang ia lakukan itu. Lebih jauh, ia merasa Allah membutuhkan dirinya untuk semua itu. Dalam pemahaman inilah, siapa pun kita baik Imam, Bruder, Suster, Prodiakon, Katekis, Evangelizer, aktivis Gereja  tidak dibenarkan Allah.

Sebaliknya, pemungut cukai itu justru membutuhkan Allah untuk dirinya. Ia menyerahkan dirinya dalam limpahan belas kasih Allah. Dengan sikap penyerahan diri ini, siapa pun dia kendati mendapat label pendosa publik, akan dibenarkan Allah. Soal menyerahkan diri pada Allah, bukankah ini yang dimaksud dengan sikap iman? Beriman, seturut Konstitusi Dogmatis Dei Verbum 6, adalah menyerahkan diri seutuhnya kepada Allah.

Semoga, bukan hanya sepulang dari gereja, tetapi juga dalam segala perkara dalam hidup kita, kita keluar sebagai pemenang, sebagai orang yang dibenarkan oleh Allah. (warindra)

Renungan Mingguan 20 Oktober 2019

Sabda Tuhan Hari Ini 20 Oktober 2019,  Lukas 18:1-8

Doa: Tuhan Yesus, bukalah pintu hatiku. Bersabdalah, ya Tuhan, hamba-Mu mendengarkan.

 

Yesus mengatakan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan, bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu.

Kata-Nya: “Dalam sebuah kota ada seorang hakim yang tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorangpun. Dan di kota itu ada seorang janda yang selalu datang kepada hakim itu dan berkata: Belalah hakku terhadap lawanku. Beberapa waktu lamanya hakim itu menolak. Tetapi kemudian ia berkata dalam hatinya: Walaupun aku tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorangpun, namun karena janda ini menyusahkan aku, baiklah aku membenarkan dia, supaya jangan terus saja ia datang dan akhirnya menyerang aku.”

Kata Tuhan: “Camkanlah apa yang dikatakan hakim yang lalim itu! Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka? Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan mereka. Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?”

 

MENJAWAB DOA

Bacaan hari ini bisa menimbulkan ketidakjelasan dasar pengabulan doa. Sebenarnya, Allah mengabulkan doa atas dasar apa? Mungkin selama ini banyak orang, termasuk saya, berpendapat bahwa Allah mengabulkan doa-doa kita karena ia mencintai kita. Atau, juga karena ia berbelas kasih kepada kita. Tetapi, bacaan hari ini menyajikan perumpamaan yang bisa ditafsirkan berbeda.

Dari perumpaan tentang hakim yang tidak benar ini spontan saya beranggapan bahwa bisa saja Allah mengabulkan doa saya bukan oleh karena ia mencintai atau berbelas kasih, tetapi sebenarnya hanya karena risih, atau brebeg (Jw) mendengarkan doa saya. Atau, saya justru telah dianggapnya nggriseni (Jw) dengan doa-doa itu. Karenanya, daripada terganggu, lebih baik Allah lalu mengabulkan doa saya agar gangguan itu berhenti.

Begitukah? Rasa-rasanya kok ada ketidakrelaan mau mengambil kesimpulan begitu. Masa Allah begitu…. Tetapi, kalau tidak begitu, perumpamaan itu mesti diartikan bagaimana? Barangkali, waktu itu Yesus sekadar mengambil contoh ekstrem untuk memberi tekanan pada pesan utamanya. Apa pesan utamanya? Apakah tentang pengabulan doa? Kita biasanya sibuk mencari-cari rumusan atau syarat agar doa dikabulkan. Bahkan, dalam sebuah kursus penginjilan, ada seorang pembicara  yang memberikan materi “doa yang efektif” berikut syarat-syaratnya. Seakan begitulah semestinya kita berdoa yang efektif. Efektif, apa maksudnya? Efek apa yang diharapkan? Potensial dikabulkan?

Mungkin, justru bukan itu pesannya. Bacaan hari ini menyampaikan pesan agar kita berdoa dengan tak jemu-jemu. Tulisan Lukas ini amat cocok dengan pikiran Paulus yang juga meminta kita agar berdoa senantiasa. Soal kapan dikabulkan, sebenarnya Perjanjian Lama justru menampilkan Allah yang bersegera menjawab. Sir 35:18-19 mengatakan bahwa Allah tidak sabar dalam memberi hak kepada orang miskin yang tertindas. Sementara itu, menurut Lukas, ada kesan bahwa mungkin saja Allah mengulur-ulur waktu. Mungkin ini berkaitan dengan waktu kegenapan, saat kedatangan-Nya kembali kelak.

Tapi, soal waktu, bukankah itu juga hak Allah untuk kapan pun mau menjawab doa? Allah bebas mau mengabulkan ataupun tidak, dan bebas pula kapan mau menjawab doa kita. Kita hanya diminta untuk berdoa dengan tidak jemu-jemu. (warindra)

Renungan Mingguan 13 Oktober 2019

Sabda Tuhan Hari Ini 13 Oktober 2019, Lukas 17:11‐19

 

Dalam perjalanan‐Nya ke Yerusalem Yesus menyusur perbatasan Samaria dan Galilea. Ketika Ia memasuki suatu desa datanglah sepuluh orang kusta menemui Dia. Mereka tinggal berdiri agak jauh, dan berteriak, “Yesus, Guru, kasihanilah kami!”

Yesus lalu memandang mereka dan berkata, “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam‐imam.” Dan sementara dalam perjalanan, mereka menjadi tahir. Seorang di antara mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada‐Nya. Orang itu seorang Samaria.

Lalu Yesus berkata, “Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain orang asing ini?” Lalu Ia berkata kepada orang itu, “Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau.”

Demikianlah Injil Tuhan.

 

RENUNGAN

Panggilan untuk memberitakan kabar baik menjadi panggilan setiap orang beriman yang telah dibaptis dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Memberitakan kabar baik di era modern menjadi panggilan dan perutusan bagi segenap umat beriman. Dunia dewasa ini dihadapkan dengan berbagai tantangan dan pergumulan yang menyedot energi dan perhatian, termasuk maraknya berita buruk dan berita palsu atau hoaks. Dunia membutuhkan penghiburan dan warta kabar gembira yang menuntun manusia tidak hanya berpikir tentang kesejahteraan masa kini, tetapi terutama tentang keselamatan dan damai sejahtera di akhirat.

Kerajaan Allah dan kerajaan dunia adalah dua hal yang berbeda prinsip. Kerajaan Allah menawarkan kelembutan, damai sejahtera, kebakan, kebenaran, keadilan dan perdamaian. Kerajaan dunia menawarkan kekuasaan, popularitas diri serta hormat terhadap hal material sebagai yang dikejar di dunia dengan menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya.

Yesus mengingatkan para rasul dan segenap umat beriman untuk tidak saja mengarahkan perhatian kepada hal‐hal material di dunia, tetapi juga memelihara keselarasan dengan orientasi pada nilai‐nilai spiritual Kerajaan Allah yang menuntun manusia pada damai sejahtera dan keselamatan kekal.

Dari sepuluh orang kusta yang sehat fisik dan rohani hanya satu orang yang kembali kepada Yesus untuk mengucapkan syukur dan terima kasih. Kita semua diajak untuk selalu kembali kepada Allah dengan mengucap syukur dan berkat. Orang yang selalu bersyukur dan ringan mengucapkan terima kasih adalah tanda orang yang rendah hati di hadapan Allah dan sesama. Hal tersebut menggembirakan hati Allah dan membahagiakan sesama.

Ya Tuhan, tuntunlah aku agar tahu berterima kasih kepada‐Mu dan sesama. Semoga hatku selalu terarah kepada‐Mu dan senantiasa bersyukur atas segala kejadian dalam hidupku sambil mewartakan kabar baik keselamatan Allah kepada semua orang yang aku jumpai. Amin.

 

Sumber : Ziarah Rohani 2019, Obor Indonesia

Renungan Mingguan 6 Oktober 2019

Sabda Tuhan Hari Ini 6 Oktober 2019, Lukas 17:5-10

Doa: Tuhan Yesus, bukalah pintu hatiku. Bersabdalah, ya Tuhan, hamba-Mu mendengarkan.

 

Lalu kata rasul-rasul itu kepada Tuhan: “Tambahkanlah iman kami!” Jawab Tuhan: “Kalau sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: Terbantunlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu.”

“Siapa di antara kamu yang mempunyai seorang hamba yang membajak atau menggembalakan ternak baginya, akan berkata kepada hamba itu, setelah ia pulang dari ladang: Mari segera makan! Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepada hamba itu: Sediakanlah makananku. Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai selesai aku makan dan minum. Dan sesudah itu engkau boleh makan dan minum.

Adakah ia berterima kasih kepada hamba itu, karena hamba itu telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya? Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.”

 

HAMBA

Bacaan hari ini bagi saya rasanya tidak cocok disebut “kabar gembira” (euaggelion, Yun.; evangelium, Lat.) karena memang tidak membuat saya bergembira. Bagaimana mau bergembira kalau kita sebagai pengikut-Nya justru diminta untuk mengakui, “Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan”.

Seorang tuan begitu berkuasa atas hamba atau budaknya. Hamba itu nyaris tak punya hak, dan dapat diperlakukan sehendak hati tuannya. Kata hamba atau budak berasal dari kata servant atau slave (Ingg.); ancilla (Lat.); doulos (Yun.); atau ebed (Ibr.) Tugasnya adalah mengerjakan pekerjaan menurut kehendak tuannya, tanpa hak pribadi. Kita susah mencari padanan pekerja semacam itu pada zaman sekarang ini. Kalau pun ada, tentu itu termasuk penindasan dan pelanggaran hukum.

Tetapi, ketika saya menelusur Perjanjian Lama, ternyata dengan mudah saya temukan bahwa kata hamba ini punya arti paradoks. Pada satu sisi, artinya seperti uraian di atas. Pada sisi lain, ternyata kata hamba punya makna yang sangat luhur dan tinggi derajatnya ketika  diikuti kata Tuhan.

Misalnya, Musa disebut “Hamba Tuhan”. Menurut Kitab Bilangan 12:1-16, hamba malah lebih besar dari nabi. Kepada nabi, Tuhan menyampaikan pesan tidak secara langsung, misalnya melalui mimpi. Tetapi, dengan seorang hamba, seperti Hamba-Ku Musa, Tuhan berbicara secara langsung berhadapan muka.

Mungkin, karena seorang hamba tak lagi punya hak atas dirinya, ia jadi menyangkal diri dan secara total menyerahkan dirinya kepada tuannya. Begitulah sikap Musa kepada Tuhan. Bukan hanya Musa, Paulus dalam Perjanjian Baru bahkan mematikan dirinya dan menyatakan “Bukan lagi aku yang hidup, melainkan Kristus yang hidup dalam aku” (Gal. 2:20).

Kalau demikian memahaminya, wajarlah pesan Yesus dalam bacaan hari ini, dan semoga ini menjadi kabar gembira bagi kita. (warindra)

Renungan Mingguan 29 September 2019

Sabda Tuhan Hari Ini 29 September 2019, Lukas 16:19-31

Doa: Tuhan Yesus, bukalah pintu hatiku. Bersabdalah, ya Tuhan, hamba-Mu mendengarkan.

 

“Ada seorang kaya yang selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan. Dan ada seorang pengemis bernama Lazarus, badannya penuh dengan borok, berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu, dan ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu. Malahan anjing-anjing datang dan menjilat boroknya.

Kemudian matilah orang miskin itu, lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham. Orang kaya itu juga mati, lalu dikubur. Dan sementara ia menderita sengsara di alam maut ia memandang ke atas, dan dari jauh dilihatnya Abraham, dan Lazarus duduk di pangkuannya. Lalu ia berseru, katanya: Bapa Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini.

Tetapi Abraham berkata: Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita. Selain dari pada itu di antara kami dan engkau terbentang jurang yang tak terseberangi, supaya mereka yang mau pergi dari sini kepadamu ataupun mereka yang mau datang dari situ kepada kami tidak dapat menyeberang.

Kata orang itu: Kalau demikian, aku minta kepadamu, bapa, supaya engkau menyuruh dia ke rumah ayahku, sebab masih ada lima orang saudaraku, supaya ia memperingati mereka dengan sungguh-sungguh, agar mereka jangan masuk kelak ke dalam tempat penderitaan ini. Tetapi kata Abraham: Ada pada mereka kesaksian Musa dan para nabi; baiklah mereka mendengarkan kesaksian itu. Jawab orang itu: Tidak, bapa Abraham, tetapi jika ada seorang yang datang dari antara orang mati kepada mereka, mereka akan bertobat. Kata Abraham kepadanya: Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati.”

 

LAZARUS

Seperti apakah miskin itu? Negara kita terhitung bukan negara kaya, malah mungkin boleh disebut miskin. Tetapi, sungguhkah kita merasakan kemiskinan yang sungguh miskin? Ingatkah kita kapan kita merasa lapar dan sungguh saat itu tak ada yang dimakan? Pernahkah kita mengalami hal itu?

Mungkin kita belum pernah mengalami. Bahkan, barangkali berjumpa dengan orang-orang miskin seperti itu pun belum pernah. Anak-anak jalanan yang kita jumpai di persimpangan jalan, para pengemis kita, tidak semiskin itu. Paling-paling, kita tahu dari pemberitaan media massa bahwa ada orang sedemikian miskin dan menderita. Itu pun hanya satu dua, dan nyatanya sudah jadi berita. Kalau begitu, sulitlah kita berempati dan membayangkan seperti apa orang miskin itu di dunia nyata.

Saya pernah menjalankan tugas jurnalistik mengunjungi Kam Tin Walled Village, di wilayah New Territories, daerah pendukung penting industri dan perdagangan di pusat bisnis Kowloon. Tetapi jangan bayangkan penduduk kampung itu tersentuh hiruk pikuk peradaban metropolis masyarakat Hong Kong. Kampung berbenteng itu dihuni kaum miskin Hakka dari Klan Tang, eksodan dari Cina daratan, yang tinggal di situ sejak tahun 1600-an. Sebagian besar penghuninya adalah perempuan tua dan anak-anak. Kaum lelakinya, juga para perempuan yang masih kuat, menjadi buruh di kota. Karena miskinnya, untuk lauk makan sehari-hari mereka cukup merebus sayur rompesan dengan garam.

Itu tentu belum amat miskin, karena masih bisa makan. Tetapi, itu sempat membayangi benak saya pada saat-saat menikmati makan di hotel tempat saya menginap, dengan menu-menu mewah masakan Cina, Jepang, dan Eropa Tengah. Terbayang seorang perempuan tua suku Hakka yang kelaparan tertatih menuju meja kami. Jangan-jangan ia Lazarus, dalam bacaan hari ini. Saya jadi miris. Jangan-jangan saya termasuk kategori “orang kaya” dalam bacaan hari ini. Banyak orang kini memang makin tak peduli terhadap sesamanya yang miskin dan menderita. Bacaan hari ini paling tidak bisa menggugah kepedulian kita pada sesama. Itu implikasi moralnya, sekaligus perwujudan iman kita. (warindra)

Renungan Mingguan 22 September 2019

Sabda Tuhan Hari Ini 22 September 2019, Lukas 16:1-13

Doa: Tuhan Yesus, bukalah pintu hatiku. Bersabdalah, ya Tuhan, hamba-Mu mendengarkan.

 

Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Ada seorang kaya yang mempunyai seorang bendahara. Kepadanya disampaikan tuduhan, bahwa bendahara itu menghamburkan miliknya. Lalu ia memanggil bendahara itu dan berkata kepadanya: Apakah yang kudengar tentang engkau? Berilah pertanggungan jawab atas urusanmu, sebab engkau tidak boleh lagi bekerja sebagai bendahara.

Kata bendahara itu di dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat? Tuanku memecat aku dari jabatanku sebagai bendahara. Mencangkul aku tidak dapat, mengemis aku malu. Aku tahu apa yang akan aku perbuat, supaya apabila aku dipecat dari jabatanku sebagai bendahara, ada orang yang akan menampung aku di rumah mereka.

Lalu ia memanggil seorang demi seorang yang berhutang kepada tuannya. Katanya kepada yang pertama: Berapakah hutangmu kepada tuanku? Jawab orang itu: Seratus tempayan minyak. Lalu katanya kepada orang itu: Inilah surat hutangmu, duduklah dan buat surat hutang lain sekarang juga: Lima puluh tempayan. Kemudian ia berkata kepada yang kedua: Dan berapakah hutangmu? Jawab orang itu: Seratus pikul gandum. Katanya kepada orang itu: Inilah surat hutangmu, buatlah surat hutang lain: Delapan puluh pikul.

Lalu tuan itu memuji bendahara yang tidak jujur itu, karena ia telah bertindak dengan cerdik. Sebab anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya dari pada anak-anak terang. Dan Aku berkata kepadamu: Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi.”

“Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar. Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya?

Dan jikalau kamu tidak setia dalam harta orang lain, siapakah yang akan menyerahkan hartamu sendiri kepadamu? Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.”

 

KALAH CERDIK

Iseng saya Googling memasukkan kata kunci” “cari uang”. Muncul banyak iklan kiat cerdik cari uang. “Cari Uang Tanpa Modal”, atau “Bisnis cerdik cari uang. Manusia cuma butuh satu kata uang, dengan uang kita bisa apa pun… semua bisa Anda dapatkan di situs ini…buruaaan!”

Anda mengalami kesulitan keuangan? “Jangan khawatir.. Kini hadir sebuah solusi yang akan mengubah hidup Anda saat ini juga! Sebuah terobosan terbaru dalam dunia bisnis online yang bekerja secara otomatis untuk menghasilkan uang dengan cara tercepat dan mudah, hanya dengan sedikit memainkan jari anda di depan komputer sambil minum kopi, maka Anda siap-siap menunggu REKENING.”

“Baru dibuka program investasi, tanpa cari downline, tanpa promosi, tanpa setoran terus-menerus, hanya dengan investasi Rp 200.000,- uang Anda akan kembali menjadi Rp 2,1 Juta selama 5 x total Rp 10 juta. Investasi Rp 400.000,- uang anda akan menjadi Rp 4,2 juta selama 5 x total Rp 21 juta. dan seterusnya dalam waktu kurang lebih 1 bulan….”

“Ya, ini benar-benar nyata. Cukup dengan 3 JURUS AMPUH, dapatkan 70 juta rupiah bahkan bisa tembus ratusan juta rupiah perbulan. Bisnis ini sangat mudah dan halal. Dapatkan pula bonus menarik di dalamnya. Gak pake jual barang, gak ribet karena bukan MLM, PTC, PTR, Forex, money game, Deposito, dan sebagainya. BUKTIKAN KEBERHASILANNYA!!!”

Rasa-rasanya, memang benar yang disampaikan bacaan hari ini. Orang-orang yang hanya mementingkan urusan duniawi, makin cerdik mengurus uang. Yang diprihatinkan bacaan hari ini adalah bahwa kita para murid Yesus dalam mengurus Kerajaan Allah tidak secerdik mereka dalam mengurus uang. Itu yang mengecewakan Yesus! Semoga kita tidak salah prioritas, dan tetap fokus menempatkan Allah dalam puncak hierarki nilai dalam hidup kita sehari-hari. (warindra)

Renungan Mingguan 15 September 2019

Sabda Tuhan Hari Ini 15 September 2019, Lukas 15:1-10

Doa: Tuhan Yesus, bukalah pintu hatiku. Bersabdalah, ya Tuhan, hamba-Mu mendengarkan.

 

Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa biasanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya: “Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka.”

Lalu Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka: “Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya?

Dan kalau ia telah menemukannya, ia meletakkannya di atas bahunya dengan gembira, dan setibanya di rumah ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetanggan serta berkata kepada mereka: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dombaku yang hilang itu telah kutemukan. Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan.”

“Atau perempuan manakah yang mempunyai sepuluh dirham, dan jika ia kehilangan satu di antaranya, tidak menyalakan pelita dan menyapu rumah serta mencarinya dengan cermat sampai ia menemukannya?

Dan kalau ia telah menemukannya, ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dirhamku yang hilang itu telah kutemukan. Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat.”

 

MENEMUKAN YANG HILANG

Anda tentu pernah mendengar cerita bijak tentang buli-buli berisi uang emas. Meski banyak versi dan variannya, intinya sama. Kisahnya tentang seseorang yang miskin, ketemu peri di hutan, lalu boleh mengajukan permintaan kepada peri itu. Tidak menyia-nyiakan kesempatan, ia segera mengucapkan keinginannya menjadi kaya. Peri itu menyanggupi.

Ia diminta pulang, dan bakal menjumpai tujuh buli-buli di bawah balai-balainya, penuh berisi uang emas. Ia segera bergegas pulang dan menemukan tujuh buli-bulinya, tetapi ternyata ada satu buli-buli yang isinya tidak penuh. Ada kurangnya sedikit.

Ia kecewa, dan merasa  ada yang kurang. Sejak itu ia bekerja keras, agar buli-bulinya segera penuh. Tapi, uang emas tak sedikit nilainya. Ia harus bekerja amat keras, sampai melupakan keadaan dirinya, anak-istrinya, dan menjadi orang yang amat hemat serta kikir. Ia salah menyikapi uang emasnya. Bukannya memanfaatkan yang ada, malah mencari kurangnya, dan menjadi tamak.

 

Gembala yang kehilangan satu domba dan perempuan yang kehilangan dirhamnya pun merasa ada yang kurang. Apakah Ia juga jadi tamak dengan mencari yang hilang, dan justru tidak mendayagunakan yang masih tinggal? Pesan kisahnya berbeda. Kisah gembala dan perempuan itu mau menekankan segi kegembiraannya saat mereka menemukan yang hilang.

Bukan soal ketidakrelaan kehilangan dan terobsesi mendapatkan kembali oleh karena ketamakan. Pencariannya itu pun justru didasari cintanya pada yang hilang. Tentu saja yang hilang itu bukan sekadar domba dan dirham, karena kisah ini hanya metafor cinta Allah pada kita yang suka menghilang. Ia mencari karena mencintai, dan betapa gembiranya manakala kita ditemukan atau pulang kembali. (warindra)

Renungan Mingguan 8 September 2019

Sabda Tuhan Hari Ini 8 September 2019, Lukas 14:25-33

Doa: Tuhan Yesus, bukalah pintu hatiku. Bersabdalah, ya Tuhan, hamba-Mu mendengarkan.

Pada suatu kali banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. Sambil berpaling Ia berkata kepada mereka:

“Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.

Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu?

Supaya jikalau ia sudah meletakkan dasarnya dan tidak dapat menyelesaikannya, jangan-jangan semua orang yang melihatnya, mengejek dia, sambil berkata: Orang itu mulai mendirikan, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya.

Atau, raja manakah yang kalau mau pergi berperang melawan raja lain tidak duduk dahulu untuk mempertimbangkan, apakah dengan sepuluh ribu orang ia sanggup menghadapi lawan yang mendatanginya dengan dua puluh ribu orang?

Jikalau tidak, ia akan mengirim utusan selama musuh itu masih jauh untuk menanyakan syarat-syarat perdamaian. Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.

 

MEMBUAT PERTIMBANGAN

Membuat pertimbangan, itu yang mau ditekankan Yesus dalam bacaan hari ini. Kalau sudah membuat pertimbangan cermat, ambillah keputusan. Kalau sudah mengambil keputusan, jangan leda-lede. Mungkin, begitu pesan yang mau disampaikan.

Bacaan hari ini tentu tidak bermaksud menyampaikan syarat mengikuti Yesus antara lain dengan membenci ayah, ibu, istri, anak, dan seterusnya. Bagaimana mungkin, mengikuti Yesus yang mengajarkan soal kasih, orang mesti lebih dahulu membenci orang-orang yang selama ini dicintainya?

Kata membenci sebagai hasil terjemahan dalam bahasa Indonesia memang tak menggambarkan isi yang dimaui. Kata itu mesti mendapat penjelasan. Pengaruh gaya bahasa Ibraninya masih amat kuat. Bahasa Ibrani tidak mengenal perbandingan yang satu lebih dari yang lain.

Dalam konteks bahasa budaya setempat kata itu mesti dipahami bahwa seseorang yang mau mengikuti Yesus mesti meninggalkan ayah, ibu, istri, anak, dan seterusnya, dengan segera meninggalkan mereka. Jangan lagi menjadikan mereka sebagai gangguan dalam mengikuti Yesus.

Meski tidak diminta membenci mereka, perintah ini pun termasuk keras. Karenanya Yesus meminta kita membuat pertimbangan dulu sebelum mengambil keputusan. Dicontohkan, orang yang mau membangun menara, mesti duduk dulu menghitung biaya, agar ia bisa menyelesaikan pembangunannya. Tidak macet di tengah proses.

Atau, seorang raja yang hendak pergi berperang, mesti duduk dulu menghitung kekuatan lawan, agar bisa mengambil keputusan tepat. Kalau mampu mengalahkan, dengan kekuatan berapa pasukan. Kalau tidak, segera negosiasikan syarat perdamaian.

Sebelum mengikuti Yesus, renungkan dulu, apakah sanggup memenuhi syarat yang diajukan-Nya. Kalau sanggup, jalani dengan setia, loyal, radikal, jangan plin-plan.

(warindra)

Renungan Mingguan 1 September 2019

Sabda Tuhan Hari Ini 1 September 2019, Lukas 14:1.7-14

Doa: Tuhan Yesus, bukalah pintu hatiku. Bersabdalah, ya Tuhan, hamba-Mu mendengarkan.

 

Pada suatu hari Sabat Yesus datang ke rumah salah seorang pemimpin dari orang-orang Farisi untuk makan di situ. Semua yang hadir mengamat-amati Dia dengan saksama.

Karena Yesus melihat, bahwa tamu-tamu berusaha menduduki tempat-tempat kehormatan, Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka: “Kalau seorang mengundang engkau ke pesta perkawinan, janganlah duduk di tempat kehormatan, sebab mungkin orang itu telah mengundang seorang yang lebih terhormat dari padamu,

supaya orang itu, yang mengundang engkau dan dia, jangan datang dan berkata kepadamu: Berilah tempat ini kepada orang itu. Lalu engkau dengan malu harus pergi duduk di tempat yang paling rendah.

Tetapi, apabila engkau diundang, pergilah duduk di tempat yang paling rendah. Mungkin tuan rumah akan datang dan berkata kepadamu: Sahabat, silakan duduk di depan. Dan dengan demikian engkau akan menerima hormat di depan mata semua tamu yang lain.

“Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”

 

Dan Yesus berkata juga kepada orang yang mengundang Dia: “Apabila engkau mengadakan perjamuan siang atau perjamuan malam, janganlah engkau mengundang sahabat-sahabatmu atau saudara-saudaramu atau kaum keluargamu atau tetangga-tetanggamu yang kaya,

karena mereka akan membalasnya dengan mengundang engkau pula dan dengan demikian engkau mendapat balasnya. Tetapi apabila engkau mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang buta.

Dan engkau akan berbahagia, karena mereka tidak mempunyai apa-apa untuk membalasnya kepadamu. Sebab engkau akan mendapat balasnya pada hari kebangkitan orang-orang benar.”

 

BERBAGI

Soal memberi dan menerima, mana yang lebih Anda sukai? Spontan, kita tentu senang menerima pemberian. Tapi, jangan salah, ada juga orang yang lebih suka memberi.

Saya pernah bertanya pada orang seperti itu, katanya ada rasa puas dan bahagia dalam hati ketika bisa memberi seseorang yang membutuhkan tanpa ia perlu mendapatkan balas jasa.

 

Tentu tak banyak orang seperti itu. Waktu seorang kerabat punya gawe menikahkan anaknya, ia bikin daftar nama kenalan yang diundangnya. Pada kolom di sampingnya, ia menuliskan besarnya sumbangan. “Untuk apa?” tanya saya.

“Supaya kita bisa memberikan sumbangan yang tidak lebih kecil ketika mereka ganti punya gawe dan mengundang kita,” jawabnya. Pengalaman itu ternyata terjadi juga pada beberapa kawan. Rupanya sudah lazim bahwa pesta nikah, menjadi ajang transaksi tukar hadiah. Atau, secara tak langsung orang sedang meminjamkan dan mengembalikan pinjaman uang yang dikemas dalam amplop sumbangan.

 

Itu berbeda dengan pengalaman saya menghadiri pesta nikah teman di aula gereja bulan lalu. Saat kami masuk ruang, disambut jabat tangan keluarga. Pengantin pun menyalami ke sana kemari, tak ada kursi pelaminan.

Saat menyalaminya, saya berbisik, “Mana genthong untuk memasukkan amplop?” “Tidak ada. Nyontek nikahmu dulu,” jawabnya berbisik sambil tersenyum. Rupanya, dia ingat nikah kami dulu.

Eksplisit saya sebutkan di pemberitahuan nikah kami bahwa “doa dan kehadiran Anda, menjadi satu-satunya kado yang kami damba.” Juga, kami tambahkan, “Jangan menjadi repot hanya karena kami menikah. Kalau tak bisa hadir, doa pun cukup bagi kami.”

 

Pengalaman itu menjadi latihan menarik untuk belajar memberi tanpa berharap balasan diberi seperti amanat bacaan Injil hari ini, “Apabila engkau mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang buta. Dan engkau akan berbahagia, karena mereka tidak mempunyai apa-apa untuk membalasnya kepadamu.”

Memberi itu berbagi, beda dengan bertransaksi. Apalagi, kita sedang menikah, tentu selayaknya berbagi kegembiraan, bukannya membebani teman dan saudara dengan sumbangan. (warindra)

Renungan Mingguan 26 Agustus 2019

Sabda Tuhan Hari Ini 26 Agustus 2019, Matius 23:13-22

Doa: Tuhan Yesus, bukalah pintu hatiku. Bersabdalah, ya Tuhan, hamba-Mu mendengarkan.

 

“Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, karena kamu menutup pintu-pintu Kerajaan Sorga di depan orang.

Sebab kamu sendiri tidak masuk dan kamu merintangi mereka yang berusaha untuk masuk. (Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu menelan rumah janda-janda sedang kamu mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang. Sebab itu kamu pasti akan menerima hukuman yang lebih berat.)

Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu mengarungi lautan dan menjelajah daratan, untuk mentobatkan satu orang saja menjadi penganut agamamu dan sesudah ia bertobat, kamu menjadikan dia orang neraka, yang dua kali lebih jahat dari pada kamu sendiri.

Celakalah kamu, hai pemimpin-pemimpin buta, yang berkata: Bersumpah demi Bait Suci, sumpah itu tidak sah; tetapi bersumpah demi emas Bait Suci, sumpah itu mengikat. Hai kamu orang-orang bodoh dan orang-orang buta, apakah yang lebih penting, emas atau Bait Suci yang menguduskan emas itu?

Bersumpah demi mezbah, sumpah itu tidak sah; tetapi bersumpah demi persembahan yang ada di atasnya, sumpah itu mengikat. Hai kamu orang-orang buta, apakah yang lebih penting, persembahan atau mezbah yang menguduskan persembahan itu? Karena itu barangsiapa bersumpah demi mezbah, ia bersumpah demi mezbah dan juga demi segala sesuatu yang terletak di atasnya.

Dan barangsiapa bersumpah demi Bait Suci, ia bersumpah demi Bait Suci dan juga demi Dia, yang diam di situ. Dan barangsiapa bersumpah demi sorga, ia bersumpah demi takhta Allah dan juga demi Dia, yang bersemayam di atasnya.”

 

KECAMAN-KECAMAN

Bacaan hari ini berisi kecaman-kecaman. Tidak jelas, secara historis, apakah Yesus memang punya konflik terbuka dengan ahli-ahli Taurat dan orang Farisi. Dengan demikian, tidak jelas pula, apakah rumusan kecaman-kecaman ini berasal dari Yesus atau dari penulis Injil Matius yang didasarkan atas konflik Gereja Perdana dengan para ahli Taurat dan orang-orang Farisi.

Hal itu sebenarnya tidaklah begitu penting. Secara material, bila isi kecaman itu dicermati alasannya, dan itu benar dilakukan oleh orang Farisi dan ahli Taurat, tentunya mereka memang pantas dikecam. Tengok saja, mereka membebani umat dengan tuntutan-tuntutan yang membuat pelaksanaan hukum Taurat justru menjadi mustahil (ay 13).

Wajar, kalau mereka dikecam. Atau berkaitan dengan para proselit, orang kafir yang masuk agama Yahudi, mengingat propaganda iman Yahudi amat gencar waktu itu, tapi setelah masuk tidak diurus semestinya.

 

Menarik juga yang mereka lakukan sehubungan pembebasan orang dari nazarnya. Soalnya, ada bermacam-macam nazar. Yang namanya nazar, sesulit apapun tentunya mesti dipenuhi. Tetapi, mereka mencoba mengemukakan berbagai dalih untuk membebaskan orang dari nazarnya, dengan cara yang kurang bijaksana.

Wajar saja mereka dikecam, karena bagaimana mungkin mereka bisa berkata Bersumpah demi Bait Suci, sumpah itu tidak sah; tetapi bersumpah demi emas Bait Suci, sumpah itu mengikat?

 

Tentu, bacaan hari ini bukan mau mengajari kita agar pandai mengecam atau mengutuk. Tetapi, kita mesti berani bersikap kritis dan bertindak tegas melawan ketidakbaikan. Tentu pula, ini mengandaikan pada kita ada kebenaran dan kebaikan terlebih dahulu. (warindra)

You cannot copy content of this page