Renungan Mingguan 15 Maret 2020

Sabda Tuhan Hari Ini 15 Maret 2020, Yoh 4:5‐42

Mata air yang memancar sampai ke hidup yang kekal.

Sekali peristiwa sampailah Yesus ke sebuah kota di Samaria, yang bernama Sikhar, dekat tanah yang dahulu diberikan Yakub kepada anaknya, Yusuf. Di situ terdapat sumur Yakub. Yesus sangat letih oleh perjalanan, karena itu Ia duduk di pinggir sumur itu. Hari kira‐kira pukul dua belas. Maka datanglah seorang perempuan Samaria hendak menimba air.

Kata Yesus kepadanya, “Berilah Aku minum!” Sebab murid‐murid Yesus telah pergi membeli makanan. Maka kata perempuan Samaria itu kepada‐Nya, “Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria?” Maklum orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria. Jawab Yesus kepadanya, “Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapa Dia yang berkata kepadamu ‘Berilah Aku minum’ niscaya engkau telah meminta kepada‐Nya, dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup.”

Kata perempuan itu kepada‐Nya, “Tuhan, Engkau tidak punya timba dan sumur ini amat dalam; dari manakah Engkau memperoleh air hidup itu? Adakah Engkau lebih besar dari pada bapa kami Yakub, yang memberikan sumur ini kepada kami dan ia sendiri telah minum dari dalamnya, ia beserta anak‐anak dan ternaknya?”

Jawab Yesus kepadanya, “Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi! Tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama‐lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus‐menerus memancar sampai ke hidup yang kekal.” Kata perempuan itu kepada‐Nya, “Tuhan, berikanlah aku air itu, supaya aku tidak haus, dan tidak usah datang lagi ke sini untuk menimba.”

Kata Yesus kepadanya, “Pergilah, panggillah suamimu dan datanglah ke sini.” Kata perempuan itu, “Aku tidak mempunyai suami.” Kata Yesus kepadanya, “Tepat katamu, bahwa engkau tidak mempunyai suami, sebab engkau sudah mempunyai lima suami, dan yang sekarang ada padamu pun bukanlah suamimu. Dalam hal ini engkau berkata benar.”

Kata perempuan itu kepada Yesus, “Tuhan, nyata sekarang padaku, bahwa Engkau seorang nabi. Nenek moyang kami menyembah di atas gunung ini, tetapi kamu katakan, bahwa Yerusalemlah tempat orang menyembah.” Kata Yesus kepadanya, “Percayalah kepada‐Ku, hai perempuan, saatnya akan tiba bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem. Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, tetapi kami menyembah yang kami kenal, sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi.

Tetapi saatnya akan datang, dan sudah tiba sekarang, bahwa para penyembah yang benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran, sebab Bapa menghendaki penyembah‐penyembah yang demikian. Allah itu Roh, dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah‐Nya dalam roh dan kebenaran.” Jawab perempuan itu, “Aku tahu, bahwa Mesias, yang disebut juga Kristus, akan datang; apabila datang, Ia akan memberitakan segala sesuatu kepada kami.” Kata Yesus kepadanya, “Akulah Dia, yang sedang bercakap-cakap dengan engkau!”

Pada waktu itu datanglah murid‐murid Yesus, dan mereka heran bahwa Yesus sedang bercakap‐cakap dengan seorang perempuan. Tetapi tak seorang pun berkata, “Apa yang Engkau kehendaki? Atau: Apa yang Engkau percakapkan dengan dia?” Sementara itu perempuan tadi meninggalkan tempayannya di situ, lalu pergi ke kota dan berkata kepada orang‐orang yang di situ, “Mari, lihat! Di sana ada seorang yang mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat. Mungkinkah Dia itu Kristus?” Maka mereka pun meninggalkan kota lalu datang kepada Yesus.

Sementara itu murid‐murid mengajak Yesus, katanya, “Rabi, makanlah!” Akan tetapi Yesus berkata kepada mereka, “Pada‐Ku ada makanan yang tidak kamu kenal.” Maka murid‐murid itu berkata seorang kepada yang lain, “Adakah orang yang telah membawa sesuatu kepada‐Nya untuk dimakan?”

Kata Yesus kepada mereka, “Makanan‐Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan‐Nya. Bukankah kamu mengatakan ‘Empat bulan lagi tibalah musim menuai’? Tetapi Aku berkata kepadamu: Lihatlah sekelilingmu, dan pandanglah ladang‐ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai. Sekarang juga penuai telah menerima upahnya, dan ia mengumpulkan buah untuk hidup yang kekal, sehingga penabur dan penuai sama‐sama bersukacita. Sebab dalam hal ini benarlah peribahasa ‘Yang seorang menabur dan yang lain menuai’. Aku mengutus kamu untuk menuai apa yang tidak kamu usahakan. Orang‐orang lain berusaha, dan kamu datang memetik hasil usaha mereka.”

Banyak orang Samaria dari kota itu telah menjadi percaya kepada Yesus karena perkataan perempuan itu, yang bersaksi, “Ia mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat.” Ketika orang‐orang Samaria itu sampai kepada Yesus, mereka meminta kepada‐Nya, supaya Yesus tinggal pada mereka, dan Yesus pun tinggal di situ dua hari lamanya. Dan lebih banyak lagi orang yang menjadi percaya karena perkataan Yesus, dan mereka berkata kepada perempuan itu, “Kami percaya, tetapi bukan lagi karena apa yang kaukatakan, sebab kami sendiri telah mendengar Dia dan kami tahu, bahwa Dialah benar-benar Juruselamat dunia.

Demikianlah Injil Tuhan.

Renungan

Air adalah salah satu unsur semesta yang penting dan menjadi kebutuhan pokok manusia. Air menjadi simbol hidup. Ia menjadi simbol kebeningan dan kebersihan. Ia simbol kekuatan yang melepaskan dahaga.

Masalah air menjadi bencana kemanusiaan yang hebat. Kekurangan air bisa menjadi krisis ekonomi, sosial, dan politik, bahkan budaya dan religius. Orang Israel dalam perjalanan menuju tanah terjanji mengalami kekurangan air. Hal itu menyebabkan pertengkaran di antara mereka, dan Musa terpojok. Tuhan menolong mereka, sehingga dahaga mereka terpenuhi.

Dalam bacaan Injil, wanita yang menimba air di sumur Yakub, berjumpa dengan Yesus dan ia mengalami  perubahan pandangan: dari air yang menghidupkan badan dan bersifat sementara ke air yang menghidupkan jiwa untuk hidup kekal. Kristus memperkenalkan diri‐Nya sebagai mata air kehidupan kekal. Ia sumber kehidupan yang melimpah.

Air menjadi simbol spiritual yang penting bagi semua agama, terutama agama Kristen. Air baptis adalah simbol peralihan hidup kita, dari yang lama menuju yang baru. Kristus adalah sumber dan danau kehidupan yang siap melepaskan dahaga kita, membersihkan kita, mentransformasi dan menumbuhkan kembali hidup kita. Air adalah simbol kasih karunia ilahi yang dialirkan Roh Kudus dalam hati yang dahaga supaya kita berbuah lebat.

Tuhan, bantulah kami menjadi air kehidupan bagi sesama kami. Amin.

Sumber renungan: Ziarah Batin 2020, OBOR Indonesia

Renungan Mingguan 8 Maret 2020

Sabda Tuhan Hari Ini 8 Maret 2020, Matius 17:1‐9

Wajah‐Nya bercahaya seperti Matahari.

Sekali peristiwa Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes saudaranya, dan bersama‐sama mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendirian saja. Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka; wajah‐Nya bercahaya seperti matahari, dan pakaian‐Nya menjadi putih bersinar seperti terang. Maka nampak kepada mereka Musa dan Elia sedang berbicara dengan Yesus. Kata Petrus kepada Yesus, “Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Jika Engkau mau, biarlah kudirikan di sini tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia.”

Sementara Petrus berkata begitu, tiba‐tiba turunlah awan yang terang menaungi mereka, dan dari dalam awan itu terdengar suara yang berkata, “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada‐Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia!” Mendengar itu tersungkurlah murid‐murid Yesus dan mereka sangat ketakutan. Lalu Yesus datang kepada mereka. Ia menyentuh mereka sambil berkata, “Berdirilah, jangan takut!” Dan ketika mengangkat kepala, mereka tidak melihat seorang pun kecuali Yesus seorang diri.

Pada waktu mereka turun dari gunung, Yesus berpesan kepada mereka, “Jangan kamu ceriterakan penglihatan itu kepada seorang pun sebelum Anak Manusia dibangkitkan dari antara orang mati.”

Demikianlah Injil Tuhan.

Renungan

Tiga tema yang selalu dilang‐ulang dalam Kitab Suci, yaitu dipanggil ﴾vocatio﴿, hidup bersama/bersekutu ﴾communio﴿, dan diutus ﴾missio﴿. Semua tokoh besar dalam kisah keselamatan dalam Kitab Suci selalu berada dalam proses ini.

Abraham dalam bacaan pertama hari ini, dipanggil oleh Tuhan, untuk berada dalam naungan‐Nya, dan diutus. Ia dijanjikan tanah/negeri, keturunan, dan berkat. Ia menjadi tokoh iman. Demikian juga Timotius dalam bacaan kedua hari ini, dipanggil dan diutus oleh Tuhan untuk mewartakan Kabar Gembira supaya semua orang mendapat keselamatan dari Allah sendiri.

Hal yang sama dialami oleh Petrus, Yakobus, dan Yohanes. Mereka dipanggil oleh Tuhan, untuk bersatu dengan‐Nya, dan kemudian harus diutus. Mereka diajak Yesus mendaki gunung ﴾panggilan﴿, lalu mengalami ke‐Allah‐an‐Nya dipuncak gunung ﴾persekutuan﴿, tetapi kemudian mereka harus turun gunung ﴾diutus﴿.

Bersatu dengan Tuhan dan mengalami penampakan diri Allah adalah pengalaman yang membahagiakan para murid tetapi tidak semua orang dapat mengalaminya.

Banyak bentuk dan jenis panggilan, persekutuan, dan perutusan sekarang ini, sayang tidak semuanya membahagiakan, malah menyesatkan, karena tidak bersumber pada kebenaran Allah. Wajah Allah yang bercahaya di puncak gunung adalah wajah Ilahi yang menghancurkan kepalsuan zaman ini yang sering penuh kebohongan.

Tuhan kiranya sinar wajah‐Mu menyinari kegelapan hati dan masyarakat kami, agar kami mampu melihat kebenaran dan mencari kebahagiaan sejati dan bukan kepalsuan hidup. Bantulah kami agar menjadi seperti Abraham dan para murid yang mendegar panggilan‐Mu, setia dalam persekutuan cinta‐Mu, dan berani diutus untuk mewartakan Injil‐Mu. Amin.

Sumber renungan: Ziarah Batin 2020, OBOR Indonesia

Renungan Mingguan 1 Maret 2020

jadwal ibadat jalan salib jogja

Sabda Tuhan Hari Ini 1 Maret 2020, Matius 4:1‐11

Yesus berpuasa selama empat puluh hari, dan dicobai Iblis.

Sekali peristiwa Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun supaya dicobai Iblis. Setelah berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam, akhirnya laparlah Yesus. Lalu datanglah si pencoba itu dan berkata kepada‐Nya, “Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu‐batu ini menjadi roti.” Tetapi Yesus menjawab, “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.”

Kemudian Iblis membawa Yesus ke Kota Suci dan menempatkan Dia di bubungan Bait Allah. Lalu Iblis berkata kepada‐Nya, “Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri‐Mu ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat‐malaikat‐Nya, dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki‐Mu jangan terantuk kepada batu.” Yesus berkata kepadanya, “Ada pula tertulis: Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!”

Lalu Iblis membawa Yesus ke atas gunung yang sangat tinggi dan memperlihatkan kepada‐Nya semua kerajaan dunia dengan kemegahannya. Iblis berkata kepada‐Nya, “Semua itu akan kuberikan kepada‐Mu, jika Engkau sujud menyembah aku.” Maka berkatalah Yesus kepadanya, “Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!” Lalu Iblis meninggalkan Yesus, dan lihatlah, malaikat‐malaikat datang melayani Dia.

Demikianlah Injil Tuhan.

Renungan

Kisah Lewi yang meninggalkan rumah cukai untuk mengikuti Yesus merupakan gambaran yang sangat jelas arti sebuah pertobatan. ”Maka berdirilah Lewi lalu meninggalkan segala sesuatu dan mengikuti Yesus.” Menjadi orang yang duduk di rumah cukai adalah menjadi orang yang diperhitungkan. Minimal dipercaya oleh kekaisaran Roma, dipertimbangkan oleh para pejabat setempat dan diperhatikan oleh banyak orang. Karena dipanggil Yesus maka Lewi meninggalkan semuanya itu.

Meninggalkan sebuah kemapanan apalagi kenyamanan yang bertahun‐tahun dalam hal duniawi demi meperjuangkan nilai yang benar itulah sebuah pertobatan. Yesaya menegaskan bahwa mewujudkan kemuliaan Tuhan ketika hari Sabat dirayakan tanpa cela dan diwujudkan dengan jari yang tidak menuding‐nuding sesama kita. Yesaya menegaskan bahwa pertobatan adalah pengalaman bersama Allah yang diwujudkan dalam kehidupan sehari‐hari.

Sangat berbeda dengan orang‐orang Farisi yang mengeluh dan merasa terganggu karena adanya orang‐orang  berdosa makan bersama dengan Yesus. Mereka gelisah karena ada orang yang tidak baik pingin jadi baik. Gelisah karena ada sebuah perubahan dari yang jahat ke yang baik. Dalam kehidupan zaman sekarang, kita pun kerap menemukan kelompok Farisi yang penampilannya saleh, tetapi tidak senang ada orang berdosa kembali kepada Allah. Malah kadang‐kadang mereka menuding‐nuding orang bersalah dan bukan merangkul untuk bertobat. Merasa dirinya paling benar dan kerap mengadili orang lain. Padahal yang dibutuhkan Allah adalah seperti Lewi meninggalkan kelemahannya, menuju kepada Allah.

Allah Bapa Yang Maharahim, kerap kali hidup doa kami berhenti pada kenyamanan diri kami masing‐masing. Kami kurang berani untuk membawa perubahan ketika ada kekurangan dan kami lebih suka mengadili. Jadikanlah kami pelaku perubahan di tengah keluarga dan masyarakat. Amin.

Sumber renungan: Ziarah Batin 2020, OBOR Indonesia

Renungan Mingguan 23 Februari 2020

Sabda Tuhan Hari Ini 23 Februari 2020, Matius 5:38‐48

Kasihilah musuhmu!

Dalam khotbah di bukit Yesus berkata kepada murid‐murid‐Nya, “Kamu telah mendengar bahwa dulu ada ungkapan: Mata ganti mata, gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu, ‘Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu. Sebaliknya, bila orang menampar pipi kananmu, berilah juga pipi kirimu.

Bila orang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. Bila engkau dipaksa mengantarkan seseorang berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil. Berikanlah kepada orang apa yang dimintanya, dan jangan menolak orang yang mau meminjam sesuatu dari padamu.’

Kamu telah mendengar firman, ‘Kasihilah sesamamu manusia, dan bencilah musuhmu.’ Tetapi Aku berkata kepadamu, ‘Kasihilah musuh‐musuhmu, dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikian kamu menjadi anak‐anak Bapamu yang di surga. Sebab Ia membuat matahariNya terbit bagi orang yang jahat dan juga bagi orang yang baik. Hujan pun diturunkan‐Nya bagi orang yang benar dan juga bagi orang yang tidak benar.

Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudaramu saja, apakah lebihnya dari perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tak mengenal Allah pun berbuat demikian? Karena itu haruslah kamu sempurna, sebagaimana Bapamu yang di surga sempurna adanya.”

Demikianlah Injil Tuhan.

Renungan

Dalam tradisi hidup bakti, ada kesempatan saling mengoreksi atau menasihati satu sama lain dalam komunitas. Dalam suasana doa dan terang Roh Kudus, dengan  jujur dan rendah hati masing‐masing anggota dalam biara menyampaikan hal‐hal yang perlu untuk diperbaiki dan dipertahankan. Tujuannya jelas, yaitu untuk saling mendukung dalam mencapai kekudusan, bukan untuk saling menjatuhkan.

Hal yang sama sebenarnya sudah ditegaskan dalam Kitab Imamat  dalam bacaan hari ini. ”Janganlah engkau membenci saudaramu di dalam hatimu, tetapi engkau harus berterus terang menegur dan jangan mendatangkan dosa”﴾Im. 19:17﴿. Menegur dengan motivasi menguduskan membutuhkan kerendahan hati dari diri kita. Biasanya kalau kita mengalami persoalan dengan saudara kita, yang ada dalam diri kita adalah benci dan kemarahan.

Tuntutan pengudusan dalam konflik, pertentangan dan percecokkan tidak lain adalah semangat pengampunan dan kerendahan hati. Hanya dengan semangat pengampunan dan rendah hati kita akan memiliki rasa cinta persaudaraan. Bahkan menurut Yesus tidak sekadar mewujudkan belas kasih kepada mereka yang menyakiti kita, tetapi merupakan keutamaan hidup Kristiani. Bagi Yesus ciri khas dan kualitas kemuridan yang sejati harus sampai pada tingkat keutamaan belas kasih, yaitu memberikan dengan rela; bukan karena kewajiban melainkan karena kemurahan hati kita.

Allah Yang Mahamurah, bimbinglah kami dalam terang Roh Kudus‐Mu, agar hari‐hari selanjutnya kami semakin berbelas kasih kepada sesama. Amin.

Sumber renungan: Ziarah Batin 2020, OBOR Indonesia

Renungan Mingguan 16 Februari 2020

Sabda Tuhan Hari Ini 16 Februari 2020, Matius 5:17‐37

Lain yang diajarkan nenek moyang, lain yang diajarkan Yesus.

Dalam khotbah di bukit Yesus mengajar murid‐murid‐Nya, kata‐Nya, “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.

Karena Aku berkata kepadamu, ‘Sungguh, selama belum lenyap langit dan bumi ini, tidak satu iota atau satu titik pun akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.’ Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Surga. Tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Surga.

Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar daripada hidup keagamaan para ahli Taurat dan orang‐orang Farisi, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Kamu telah mendengar apa yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum! Barangsiapa yang berkata kepada saudaranya, ‘Kafir!’ ia harus dihadapkan ke Mahkamah Agama, dan siapa yang berkata, ‘Jahil!’ harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala‐nyala.

Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah, dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu, dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu. Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama‐sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim, dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya, dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas.

Kamu telah mendengar firman, ‘Jangan berzinah!’ Tetapi Aku berkata kepadamu: Barangsiapa memandang perempuan dengan menginginkannya, dia sudah berbuat zinah di dalam hatinya. Maka, jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah, karena lebih baik bagimu satu anggota tubuhmu binasa, daripada tubuhmu seutuhnya dicampakkan ke dalam neraka. Dan jika tangan kananmu menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah, karena lebih baik bagimu jika satu anggota tubuhmu binasa, daripada tubuhmu seutuhnya masuk neraka.

Telah difirmankan juga, ‘Barangsiapa menceraikan isterinya, ia harus memberikan surat cerai kepadanya. Tetapi Aku berkata kepadamu: ‘Barangsiapa menceraikan isterinya kecuali karena zinah, dia membuat isterinya berzinah. Dan barangsiapa kawin dengan perempuan yang diceraikan, dia pun berbuat zinah. Kamu telah mendengar pula yang difirmankan kepada nenek moyang kita, ‘Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu di depan Tuhan.’

Tetapi Aku berkata kepadamu, ‘Janganlah sekali‐kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah, maupun demi bumi, karena bumi adalah tumpuan kaki-Nya, ataupun demi Yerusalem, karena Yerusalem adalah kota Raja Agung. Janganlah pula engkau bersumpah demi kepalamu, karena engkau tidak berkuasa memutihkan atau menghitamkan sehelai rambut pun. Jika ya, hendaklah kamu katakan: Ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: Tidak.  Apa yang lebih daripada itu berasal dari si jahat.”

Demikianlah Injil Tuhan.

Renungan

Ketika mendidik para murid‐Nya, Yesus mulai dengan apa yang menjadi kebiasaan mereka sebagai orang Yahudi. Yesus menegaskan bahwa Ia datang bukan untuk meniadakan hukum Taurat melainkan untuk menggenapinya atau menyempurnakan.

Keutamaan hidup yang bertumbuh dari kedalaman hati untuk mewujudkan belas kasih bukan sekali jadi, melainkan bersumber pada apa yang dibiasakan terus‐menerus yang akan menjadi habitus baru. Sebab ”keutamaan” yang tidak bersumber dari peraturan Allah akan gampang jatuh pada tindakan dan keputusan yang sangat subjektif.

Mewujudkan keutamaan belas kasih yang sungguh muncul dan berkembang dari kedalaman hati pasti selalu bersumber dari sabda Allah. Sebab sabda Allah yang kita kunyah dan kita simpan dalam hati dan ketika dinyatakan dalam perbuatan itulah yang disebut kebijaksanaan ilahi. Yesus mengatakan bahwa itulah kesempurnaan Taurat ketika sabda menjadi sumber perbuatan.

Allah, mampukan kami mewujudkan perintah‐Mu dalam hidup sehari‐hari. Amin.

Sumber renungan: Ziarah Batin 2020, OBOR Indonesia

Renungan Mingguan 9 Februari 2020

Sabda Tuhan Hari Ini 09 Februari 2020, Matius 5:13‐16

Kamu adalah terang dunia.

Dalam khotbah di bukit Yesus bersabda kepada murid‐murid‐Nya, “Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada gunanya lagi selain dibuang dan diinjak‐injak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian, sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik, dan memuliakan Bapamu yang di surga.”

Demikianlah Injil Tuhan.

Renungan

“Kamu adalah garam dunia” merupakan ungkapan untuk mendorong para murid saat mengalami penderitaan dan kegalauan agar menjadi berkat bagi dunia. Para nabi yang ada sebelum mereka adalah garam bagi tanah Kanaan, tetapi para rasul adalah garam bagi seluruh bumi, sebab mereka harus pergi ke seluruh dunia untuk memberitakan Injil.

Tampaknya mereka berkecil hati karena jumlah mereka begitu sedikit dan lemah. Apa yang mampu mereka lakukan di kawasan yang begitu luas seperti seluruh muka bumi ini? Tidak ada, jika mereka harus bekerja dengan menggunakan kekuatan senjata dan pedang semata. Dengan bekerja tanpa suara seperti garam, maka segenggam garam itu akan menyebarkan rasanya ke mana‐mana, menjangkau daerah yang luas, dan bekerja tanpa terasa serta tanpa penolakan sama seperti bekerjanya ragi.

Menjadi komunitas garam dan ragi persis sama seperti yang dikatakan dalam Yesaya 58:7‐10, yaitu supaya engkau memecah‐mecahkan rotimu bagi yang lapar, dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tidak memiliki rumah.

Mewujudkan belas kasih meski sederhana sekalipun akan memberikan dampak yang luar biasa, terlebih bagi mereka yang merasakan belas kasih itu. Rasa belas kasih dan pengalaman dikasihi tidak akan pernah luntur. Inilah yang perlu kita kembangkan dalam kegembalaan Gereja khususnya zaman ini di mana belas kasih dan kepedulian semakin luntur. Doa, kesalehan, Ekaristi sangatlah penting, tetapi menjadi berarti kalau kita mampu menciptakan komunitas ekaristis: kerelaan dan siap sedia untuk berbagi.

Bapa Yang Mahakasih, pengalaman yang engkau berikan pada hari ini sungguh dalam. Kami ingin menjadi garam dan terang di mana pun kami berada, Amin.

Sumber renungan: Ziarah Batin 2020, OBOR Indonesia

Renungan Mingguan 2 Februari 2020

Sabda Tuhan Hari Ini 02 Februari 2020, Lukas 2:22‐40

Mataku telah melihat keselamatan yang dari pada‐Mu.

Ketika genap waktu pentahiran menurut hukum Taurat Musa, Maria dan Yosef membawa Anak Yesus ke Yerusalem untuk menyerahkan‐Nya kepada Tuhan, seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan, “Semua anak laki‐laki sulung harus dikuduskan bagi Allah.” Juga mereka datang untuk mempersembahkan kurban menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati.

Waktu itu adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh hidupnya, yang menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya, dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan. Atas dorongan Roh Kudus, Simeon datang ke Bait Allah.

Ketika Anak Yesus dibawa masuk oleh orang tua‐Nya, untuk melakukan kepada‐Nya apa yang ditentukan hukum Taurat, Simeon menyambut Anak itu dan menatang‐Nya sambil memuji Allah, katanya, “Sekarang Tuhan, biarkanlah hamba‐Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman‐Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada‐Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa‐bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat‐Mu, Israel.”

Yusuf dan Maria amat heran akan segala sesuatu yang dikatakan tentang Anak Yesus. Lalu Simeon memberkati mereka, dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu, “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan – dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri ‐, supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang.”

Ada juga disitu seorang nabi perempuan, anak Fanuel dari suku Asyer, namanya Hana. Ia sudah sangat lanjut umurnya. Sesudah menikah, ia hidup tujuh tahun bersama suaminya, dan sekarang ia sudah janda, berumur delapan puluh empat tahun. Ia tidak pernah meninggalkan Bait Allah, dan siang malam beribadah dengan berpuasa dan berdoa.

Pada saat Anak Yesus dipersembahkan di Bait Allah Hana pun datang ke Bait Allah, dan bersyukur kepada Allah serta berbicara tentang Anak Yesus kepada semua orang yang menantikan kelepasan untuk Yerusalem. Setelah menyelesaikan semua yang harus dilakukan menurut hukum Tuhan, kembalilah Maria dan Yusuf serta Anak Yesus ke kota kediamannya, yaitu kota Nazaret di Galilea. Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada‐Nya.

Demikianlah Injil Tuhan.

Renungan

Kisah Yesus dipersembahkan di Bait Allah menjelaskan bahwa keluarga Yesus adalah umat Yahudi yang menyadari dengan sepenuh hati bahwa Bait Allah adalah tempat kediaman Allah. Bagi Maria dan Yosep, mempersembahkan atau menguduskan anak adalah membawa Yesus ke Bait Allah. Bagi mereka Bait Allah merupakan tujuan dan puncak persembahan diri dan keluarga. Menarik dalam Bait Allah mereka berjumpa dengan Simeon dan Hanna yang menantikan kedatangan Tuhan dalam Bait Allah yang terwujud dalam diri Yesus.

Peristiwa Yesus dipersembahkan menjadikan Bait Allah sebagai perubahan. Bagaimana Simeon dan Hanna yang sudah lama menantikan Tuhan berkat kedatangan Yesus mereka mengalami rahmat demi rahmat. Bait Allah, tempat doa menjadi tempat penyerahan diri kepada kehendak Allah ketika kita menemukan Yesus di dalamnya. Bait Allah bukan sekedar tempat atau bangunan, melainkan suatu situasi di mana terjadi sebuah perjumpaan kita dengan Yesus. Pada akhirnya kita harus seperti Simeon: “Sekarang Tuhan, biarlah aku pergi dengan damai”. Hendaklah Bait Allah karena ada Yesus di dalamnya menjadikan diri kita pribadi yang rela berpasrah pada kehendak‐Nya.

Allah Bapa Yang Mahakasih, bimbinglah kami untuk berani berpasrah pada kehendak‐Mu, bukan kehendak kami sendiri. Amin.

Sumber renungan: Ziarah Batin 2020, OBOR Indonesia

Renungan Mingguan 26 Januari 2020

Sabda Tuhan Hari Ini 26 Januari 2020, Matius 4:12‐23

Yesus diam di Kapernaum supaya genaplah firman yang disampaikan oleh Nabi Yesaya.

Ketika mendengar bahwa Yohanes Pembaptis telah ditangkap, Yesus menyingkir ke Galilea. Ia meninggalkan Nazaret dan diam di Kapernaum, di tepi danau, di daerah Zebulon dan Naftali. Dengan demikian genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: Tanah Zebulon dan tanah Naftali, jalan ke laut, daerah seberang sungai Yordan, Galilea, wilayah bangsa‐bangsa lain; bangsa yang diam dalam kegelapan, telah melihat Terang yang besar dan bagi mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut, telah terbit Terang. Sejak waktu itu Yesus memberitakan, “Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat.”

Ketika Yesus sedang berjalan menyusur danau Galilea, Ia melihat dua orang bersaudara, yaitu Simon yang disebut Petrus, dan Andreas saudaranya. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan. Yesus berkata kepada mereka, “Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” Mereka pun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Yesus.

Setelah pergi dari sana, Yesus melihat pula dua orang bersaudara, yaitu Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya, bersama ayah mereka, Zebedeus; mereka sedang membereskan jala di dalam perahu. Yesus memanggil mereka, dan mereka segera meninggalkan perahu serta ayahnya, lalu mengikuti Yesus. Yesus pun berkeliling di seluruh Galilea; Ia mengajar dalam rumah‐rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Allah serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan di antara bangsa itu.

Demikianlah Injil Tuhan.

Renungan

Sabda Tuhan hari ini berupa kabar gembira bahwa Yesus datang bukan hanya untuk bangsa‐Nya sendiri, memenuhi nubuat Nabi Yesaya: …wilayah bangsa bangsa lain,—bangsa yang diam dalam kegelapan telah melihat Terang yang besar dan bagi mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut, telah terbit Terang. Sejak waktu itulah Yesus memberitakan:” Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat!” Inilah undangan untuk semua orang untuk menerima Kristus sebagai Terang hidup kita.

Di lain pihak, sebenarnya Injil ini mengatakan sebuah ironi: Galilea adalah daerah pinggiran, berbatasan dengan walayah bangsa bangsa lain. Bangsanya sendiri tidak menerima dia, terutama daerah pusat Yerusalem dan sekitarnya. Yesus memang akan ke sana … untuk menghadapi penolakan dan wafat di salib. Galilea dan wilayah perbatasan bangsa bangsa lain justru mengalami berkat karena di situlah Yesus dan para rasul‐Nya diterima sehingga banyak berkarya selama hidupnya di dunia. Bahkan setelah kebangkitan‐Nya, Yesus meminta para rasul‐Nya kembali ke Galilea untuk bertemu dengan‐Nya (bdk. Mat. 28: 7,10).

Kabar gembira ini patut kita syukuri: jika kita ini orang sederhana, rakyat jelata, jauh dari pusat kuasa dunia, kita tak perlu berkecil hati, karena Tuhan justru mau datang bagi kita dan tinggal bersama kita. Sebaliknya bila kita sedang di pusat dunia atau bahkan Gereja karena jabatan kita, kita harus waspada karena sering kita tak merasa membutuhkan Tuhan.

Yesus, Engkaulah terang sejati dalam hidup dan pelayanan kami, jauhkanlah kami dari belenggu kekuasaan, semoga kami setia untuk mengusahakan keselamatan sesama seperti Engkau sendiri. Amin.

Sumber renungan: Ziarah Batin 2020, OBOR Indonesia

Renungan Mingguan 19 Januari 2020

Sabda Tuhan Hari Ini 19 Januari 2020, Yohanes 1:29‐34

Lihatlah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia.

Ketika Yohanes membaptis di Sungai Yordan, ia melihat Yesus datang kepadanya. Maka katanya, “Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia. Dialah yang kumaksud ketika kukatakan: Sesudah aku akan datang seorang yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku. Aku sendiri pun mula‐mula tidak mengenal Dia, tetapi untuk itulah aku datang dan membaptis dengan air, yakni supaya Ia dinyatakan kepada Israel.” Dan Yohanes memberi kesaksian, katanya, “Aku telah melihat Roh turun dari langit seperti merpati, dan Roh itu tinggal di atas‐Nya. Aku pun sebenarnya tidak mengenal Dia, Tetapi Yang mengutus aku membaptis dengan air, telah berfirman: Jikalau engkau melihat Roh turun ke atas seseorang dan tinggal di atas‐Nya, Dia itulah yang akan membaptis dengan Roh Kudus. Dan aku telah melihat‐Nya! Maka aku memberi kesaksian: Dia inilah Anak Allah.”

Demikianlah Injil Tuhan.

Renungan

Yohanes membaptis Yesus dan memberi kesaksian: “Jikalau engkau melihat Roh itu turun ke atas seseorang dan tinggal di atas‐Nya, Dialah itu yang akan membaptis dengan Roh Kudus.” Pembaptisan Yohanes adalah pembaptisan pertobatan. Namun, sejak Yesus mau dibaptis sebagai sesama manusia, baptisan adalah panggilan kekudusan karena dalam Kristus kita pun dibaptis dengan Roh Kudus: yaitu mereka yang dikuduskan dalam Kristus Yesus dan yang dipanggil menjadi orang orang kudus.

Bagaimana kita menghayati hidup kita sebagai orang yang dipanggil menuju kekudusan? Pertama, dengan menyadari penuh syukur bahwa dengan memanggil kita kepada kekudusan,  Tuhan ingin menyatakan keagungan‐Nya lewat hidup kita: dan olehmu Aku akan menyatakan keagungan‐Ku. Kedua, keagungan Tuhan itu nyata ketika kita diutus untuk mengembalikan kita  sesama manusia kepada Tuhan: untuk mengembalikan Yakub kepada‐Nya. Ketiga, menjadi terang bagi bangsa‐bangsa supaya keselamatan yang dari pada‐Ku sampai ke ujung bumi. Suatu yang nyaris mustahil bagi manusia, namun tiada yang mustahil bagi orang yang sungguh percaya pada kekuatan Roh Kudus yang telah dicurahkan ke dalam hati kita.

Yesus, kami bersyukur melalui pembaptisan Engkau memanggil kami kepada kekudusan. Jangan biarkan kami menyimpang dari jalan kekudusan. Semoga hidup  kami  Kaujadikan terang bagi sesama, sehingga mereka pun berani kembali kepada‐Mu. Amin.

Sumber renungan: Ziarah Batin 2020, OBOR Indonesia

Renungan Mingguan 12 Januari 2020

Sabda Tuhan Hari Ini 12 Januari 2020, Matius 3:13‐17

Sesudah dibaptis, Yesus melihat Roh Allah turun ke atas‐Nya.
Ketika Yohanes membaptis di sungai Yordan, datanglah Yesus dari Galilea ke sana untuk dibaptis olehnya. Tetapi Yohanes mencegah Dia, katanya, “Akulah yang musti dibaptis oleh‐Mu! Masakan Engkau yang datang kepadaku!” Lalu Yesus menjawab kepadanya, kata‐Nya, “Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah.” Dan Yohanes pun menurutinya. Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air, dan pada waktu itu juga langit terbuka, dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas‐Nya, lalu terdengarlah suara dari surga yang mengatakan, “Inilah Anak‐Ku yang Kukasihi, kepada‐Nyalah Aku berkenan.”

Demikianlah Injil Tuhan.

Renungan

Injil hari ini menunjukkan kepada kita bahwa Tuhan Yesus menjalani apa pun itu demi kepentingan kita, bukan demi kemuliaan‐Nya.  Yesus mau dibaptis oleh Yohanes agar seperti kita.Dia menjalani pembaptisan supaya lewat pembaptisan kita juga mau menjadi seperti Dia.

Untuk kita, orang‐orang Katolik, peristiwa pembabtisan adalah peristiwa iman.Allah mendatangi kita dan mau bersolider dengan kita.Ia turut merasakan pengalaman real kita dalam hidup sehari‐hari. Yesus, Sang Putra Allah, mau menjadi sama dengan kita, kecuali dalam hal dosa.

Peristiwa ini dimaknai sekurang‐kurangnya dalam dua hal ini.Pertama, sebuah ajakan untuk kita mendekatkan diri kepada Tuhan setelah kita menghindar jauh dari Tuhan akibat dosa‐dosa kita.Dialah Putra Allah dan kepada Dia Bapa di surga berkenan. “Inilah Anak‐Ku  yang Kukasihi, kepada‐Nyalah Aku berkenan.”Kedua, sebuah perintah untuk kita bersolider dengan yang lain.

Kalau Tuhan Yang Mahatinggi sudah sedemikian solidernya dengan kita; mengapa kita begitu sulit untuk bersolider dengan sesama?Kita dituntut untuk bersolider atau berbela rasa dengan sesama karena Tuhan sudah terlebih dahulu bersolider dengan kita.Semoga, rahmat pembaptisan yang kita terima meneguhkan niat dan usaha kita untuk mendekatkan diri dengan Tuhan dan bersolider dengan sesama.

Tuhan Yesus, Engkau ikut dibaptis sama dengan kami, orang‐orang berdosa ini. Semoga kami, Engkau baptis dengan Roh Kudus sehingga kami sungguhsungguh memaknai identitas kami sebagai pengikut‐Mu.Amin.

Sumber renungan: Ziarah Batin 2020, OBOR Indonesia

You cannot copy content of this page