Sosialisasi Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2019

Pada bulan September telah dikhususkan oleh Gereja Katolik Indonesia sebagai Bulan Kitab Suci Nasional. Di setiap keuskupan dilakukan berbagai kegiatan untuk mengisi bulan ini, mulai di lingkungan, wilayah, paroki, biara, maupun di kelompok-kelompok kategorial.


Begitu pula dengan Paroki Santo Albertus Agung Jetis Yogyakarta, menyelengarakan sosialisasi BKSN dengan mengundang para pemandu lingkungan dan ketua lingkungan, acara berlangsung di Aula gereja (Kamis, 22 Agustus 2019).

Acara dibuka dengan pengantar dari Romo Ambrosius Heri Krismawanto Pr, dilanjutkan dengan materi BKSN yang dibawakan oleh bapak Yacob Malinso.


Bulan Kitab Suci Nasional tahun 2019 mengambil tema “MEWARTAKAN KABAR BAIK DI TENGAH KRISIS LINGKUNGAN HIDUP”. Tema ini diambil karena keprihatinan terhadap kondisi lingkungan dan alam saat ini.

Kerusakan lingkungan hidup sekarang ini merupakan akibat kegiatan manusia dan bukanlah suatu proses alamiah yang memang juga sudah beberapa kali terjadi dalam sejarah panjang kehidupan di bumi.

Manusia modern dengan kemajuan ilmunya berhasil mengembangkan teknologi tinggi. Hal ini telah membawa banyak kemudahan bagi kehidupan kita sekarang: penerangan listrik, sarana transport, alat komunikasi, dst.

Tetapi, ada pula risiko dan sisi negatif yang tidak lepas dari kebudayaan zaman sekarang.
Untuk itu para pemandu BKSN diharapkan dapat menyampaikan pesan-pesan yang ada didalam buku BKSN kepada umat dengan baik.

 

Untuk materi BKSN 2019 dapat di download DISINI (Klik) http://kevikepandiy.org/blog/category/komisi-kitab-suci/

Penulis & Foto Oleh : Agustinus Suseno

Renungan Mingguan 18 Agustus 2019

Sabda Tuhan Hari Ini 18 Agustus 2019, Lukas 1:39-56

Doa: Tuhan Yesus, bukalah pintu hatiku. Bersabdalah, ya Tuhan, hamba-Mu mendengarkan.

 

Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan langsung berjalan ke pegunungan menuju sebuah kota di Yehuda. Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet.

Dan ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring:

 

“Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?

Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Dan berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana.”

 

Lalu kata Maria: “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya.

Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus.

Dan rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia. Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya;

Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah; Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa;

Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya, seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya.”

Dan Maria tinggal kira-kira tiga bulan lamanya bersama dengan Elisabet, lalu pulang kembali ke rumahnya.

 

DIANGKAT KE SORGA

Hari ini Gereja merayakan Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Sorga. Banyak hal masih tidak jelas bagi saya tentang Maria. Apalagi, kalau hal itu berkaitan dengan aspek historisnya.

Dogma tentang pengangkatannya ke sorga pun, tentu tidak bisa didasarkan atas teks bacaan pada hari ini saja.

 

Kalau Yesus yang terangkat ke sorga, tentu semua orang lebih bisa menerima. Tapi, kalau Maria? Orang tentu berpikir oleh keallahan-Nya, wajar Yesus naik ke sorga. Tetapi, Maria, bukankah ia manusia biasa?

Barangkali, kebingungan orang beriman tentang Maria sudah bertimbun-timbun. Bermula dari ia gadis biasa yang dipilih Allah menjadi bunda Penebus seturut penuturan Injil Lukas.

Bagaimana mungkin Penebus yang adalah Allah itu lahir dari rahim seorang manusia biasa? Bukankah manusia itu ketempelan dosa dan dosa asal? Logikanya, Yesus yang lahir dari rahimnya pun bakal ketempelan kotoran dosanya.

 

Mengatasi kesulitan itu, lalu secara teologis dirumuskan bahwa Maria dikandung tidak dengan noda. Nah, lalu wajar saja Yesus tetap tanpa dosa meski harus lahir dari rahimnya.

Rupanya pengakuan bahwa Maria itu dikandung tanpa noda juga menumbuhkan kensekuensi. Sebagai orang yang tidak memiliki dosa tentu cara matinya pun tidak boleh sama dengan manusia kebanyakan.

Bahkan, apakah seorang yang tanpa noda itu boleh mati? Ini pun satu kesulitan tersendiri. Sampai akhirnya dikeluarkan dogma bahwa Maria diangkat ke sorga.

 

Tetapi, tentu semua itu bukan dengan sembarangan dirumuskan. Konon, sebelum dibuat keputusan, apa yang mau diputuskan itu mesti sudah lebih dulu diimani umat.

Artinya, sebelum didogmakan, umat sudah lebih dulu memercayai atau mengimani bahwa Maria itu tidak mati tapi terangkat ke sorga. Paus Pius XII menetapkan dogma ini pada 1 November 1950 dalam Konstitusi Apostolik Munificentissimus Deus.

Maria pantas mendapatkan kemuliaan itu berkat Putra-Nya.

 

(Oleh : Warindra)

Ramah Tamah Umat Paroki Jetis Dengan Paroki Randusari Katedral Semarang

Sore hari ini (Rabu, 31 Juli 2019) umat Paroki St. Albertus Agung akan kedatangan tamu istimewa. Beberapa ibu-ibu Paroki St.Albertus terlihat sedang sibuk menyiapkan makanan, minuman & snack.

Ibu-Ibu Paroki Jetis Siap Menyambut Kedatangan Umat Paroki Randusari
Ibu-Ibu Paroki Jetis Menyiapkan Dahar Untuk Umat Paroki Randusari
Salah Satu Ibu dari Paroki Jetis Menyiapkan Dahar Untuk Umat Paroki Randusari

Sejumlah umat dari Paroki Randusari Katedral Semarang hendak mengantar dan menerimakan Romo mereka yaitu Romo Heri (Ambrosius Heri Krismawanto Pr) yang akan menetap di Paroki Jetis.

Umat Paroki Jetis pun mempersiapkan dan menyambut kedatangan dengan penuh antusias.

Beberapa Ibu dari Paroki Jetis Bersiap Menyambut Kedatangan Umat Paroki Randusari
Suster-Suster ADM
Para Bapak dari Paroki Jetis Ikut Bersiap Menyambut Kedatangan Umat Paroki Randusari
Tim PAMJA Paroki Jetis

Umat yang mengantar dari Semarang berjumlah sekitar 170-200 orang,  kedatangan bertahap menggunakan 4 bus & beberapa kendaraan kecil jenis mobil. Banyaknya umat yang datang dari Randusari membuktikan bahwa Romo Heri sangat dicintai oleh umatnya.

Momen Kedatangan Umat Paroki Randusari Katedral Semarang
Momen Kedatangan Umat Paroki Randusari Katedral Semarang

Acara yang direncanakan dimulai pada pukul 16.30 ini baru dimulai sekitar pukul 18.30 dikarenakan menunggu kedatangan seluruh umat Randusari yang masih dalam perjalanan.

Momen Kedatangan Umat Paroki Randusari Katedral Semarang
Momen Kedatangan Umat Paroki Randusari Katedral Semarang
Momen Kedatangan Umat Paroki Randusari & Romo Heri

Setelah seluruh umat Paroki Randusari dirasa sudah datang, kemudian Bapak Wahyu – Cokrodiningratan bersama dengan Mbak Weni (Kricak) selaku MC membuka acara dengan mempersilahkan Bapak Andar selaku wakil ketua Dewan Paroki sebagai perwakilan umat dari Paroki Randusari Katedral Semarang.

Bapak Wahyu & Mbak Weni

Kemudian di kesempatan selanjutnya, Romo Suparman yang juga baru saja menjadi Romo Paroki Jetis memperkenalkan Paroki kami yang masih memerlukan banyak perubahan dan kemajuan. Supaya nama Paroki yang disandang yaitu St. Albertus Agung benar-benar menunjukkan kuasa dan keagungan Tuhan Semesta Alam.

Sambutan berikutnya disampaikan oleh Bapak Dody selaku sekretaris Dewan Paroki Jetis.

Romo Heri kemudian berbicara di kesempatan selanjutnya didahului dengan menyanyikan sebait lagu Kla Project – Yogyakarta.

Pulang ke kotamu.. Ada setangkup haru dalam rindu..

Masih seperti dulu, tiap sudut menyapaku bersahabat..

 

Romo berterima kasih umat di Jetis bisa menerima kedatangan romo dengan baik.

Romo Heri juga sangat berterima kasih kepada umat Randusari yang telah mengantar jauh-jauh dari Semarang.

Ramah Tamah Umat Paroki Jetis dengan Umat Paroki Randusari

Kemudian berikutnya giliran Romo Herman yang merupakan rekan bertugas Romo Heri sebelumnya di Paroki Randusari menyampaikan selamat bertugas kepada Romo Heri di paroki Jetis.

Acara ditutup dengan santap malam bersama yang sebelumnya dipimpin doa makan oleh MC sekaligus pemberian berkat perlindungan bagi umat Randusari yang hendak pulang kembali oleh Romo Parman.

 

#Ditulis oleh : Frans
#Foto oleh : Agustinus Suseno

Download Foto-Foto Disini (KLIK) : Foto Ramah Tamah Dengan Umat Paroki Randusari

Serah Terima Jabatan Romo Paroki St. Albertus Agung Jetis

Pada tanggal 21 Juli 2019 di siang hari yang cerah ini, diadakan serah terima jabatan Romo Paroki antara Romo Rafael Tri Wijayanto Pr yang telah berkarya selama 7 tahun terakhir di paroki St. Albertus Agung Jetis dengan Romo Vincentius Suparman.

Romo Vincentius Suparman sebelumnya bertugas di paroki Kristoforus Banyutemumpang, Sawangan, Magelang, Jawa Tengah. Sedangkan Romo Rafael Tri Wijayanto Pr dipindah tugaskan ke paroki Santo Yohanes Rasul Somohitan, Sleman, Yogyakarta.

Acara yang direncanakan mulai jam 11 siang ini baru dimulai pada jam 1 siang dikarenakan Romo Vikaris Episkopalis (Vikep) Adrianus Maradiyo Pr sebagai saksi sebelumnya menghadiri acara Misa 40 tahun PKK KAS di Sleman City Hall.

Sekitar kurang lebih 300 orang ikut serta mengantar Romo Parman (panggilan akrab Romo Vincentius Suparman). Selain itu juga ada sekitar 20 orang yg mengantar Romo Ambrosius Heri Krismawanto Pr yang sebelumnya bertugas di Katedral Semarang kemudian dipindahtugaskan pula ke Paroki St. Albertus Agung Jetis, menggantikan Romo Bernardus Singgih Guritno Pr yang melanjutkan studi S3 ke Roma.

Romo Heri (panggilan akrab Romo Ambrosius Heri Krismawanto Pr) memperkenalkan diri dengan memberitahukan bahwa beliau merupakan kelahiran Turki (Turunan Kidul) yaitu tepatnya kota Bantul.

Acara dimulai dengan santap siang bersama dahulu kemudian baru dilanjutkan dengan serah terima serah terima jabatan Romo Paroki St. Albertus Agung Jetis.

Suasana dirasa cukup ramai serta meriah karena ada sekitar 3 bis pengantar dan kurang lebih 25 kendaraan jenis mobil. Acara yang selesai pada pukul 14.30 WIB ini berjalan dengan khidmat dan sederhana.

 

Ditulis oleh : Franciskus Devy H.

Foto oleh : Rosario Guntur H.

Komsos Jetis & DIY “Mabur” ke Paroki Kalasan

Pertemuan rutin Komsos Kevikepan DI Yogyakarta setiap 2 (dua) bulanan yang jatuh pada bulan Juli ini bertempat di Paroki Marganingsih Kalasan.

Ada yang spesial pada pertemuan kali ini, alih-alih hanya bertemu dan sekedar membahas hal-hal teknis yang itu-itu saja, kami malah diajari mabur ! Ya, Anda sudah benar dan tidak salah membaca.

Kami diajari memaburkan drone ! Kami diajari menjadi pilot drone. 🙂

Bertindak sebagai pelatih kami yaitu Mas Wawan (Paroki Santa Perawan Maria Tak Bercela Nanggulan, Kulon Progo) dan Adri (Paroki  Santo Petrus & Paulus Minomartani, Sleman). Mengenai keahlian mengendalikan drone, mereka berdua jagonya !

Sekitar 30-an rekan-rekan peserta pelatihan yang merupakan anggota Komsos Kevikepan DIY dan sebagian dari rekan-rekan Komsos KAS mengikuti briefing dan simulasi menerbangkan drone dengan penuh antusias di ruang pertemuan pastoran Paroki Marganingsih Kalasan.

Sebelum menerbangkan drone di lapangan, kami belajar latar belakang menerbangkan drone terlebih dahulu, hal-hal teknis seperti :

  • di daerah mana kami boleh menerbangkan
  • berapa ketinggian maksimum yang diperbolehkan
  • berapa jarak maksimum yang sanggup ditempuh oleh drone
  • bagaimana cara mengendalikan dan menerbangkan serta mendaratkan drone
  • dan masih banyak lagi

Diberitahukan selengkap-lengkapnya pada briefing awal. Seketika mata kami terbuka lebar dan menjadi tidak sabaran ingin langsung icip-icip rasanya menjadi pilot drone sesungguhnya. Hehe..

Kami beruntung drone yang disediakan untuk pelatihan cukup banyak, sehingga semua peserta dapat merasakan bagaimana mengendalikan drone dan menjadi pilot drone sebenarnya.

Dikarenakan keterbatasan waktu yang disediakan untuk pelatihan (walaupun sudah lumayan panjang), dan dirasa masih kurang oleh peserta. Dengar-dengar akan ada pelatihan Drone Jilid 2 ! atas kesepakatan bersama antara peserta dan pelatih di bulan depan atau di pertemuan rutin Komsos DIY berikutnya.

Mau ikut? Tunggu beritanya ya ! Daftar jadi anggota Komsos disini yuk biar bisa seru-seruan bareng ! >>> DAFTAR ANGGOTA KOMSOS JETIS

 

Penulis : Frans

Foto : Agustinus Suseno & Frans

Perayaan Ekaristi Pisah Sambut Paroki St Albertus Agung Jetis, Dari Panggung Menuju ke Altar

Romo Rafael Tri Wijayanto Pr telah berkarya di paroki Santo Albertus Agung Jetis Yogyakarta selama 7 tahun dan romo Bernadus Singgih Guritno Pr selama 1,5 tahun. Dan di bulan Juli, tepatnya tanggal 21 Juli 2019 telah melakukan serah terima jabatan dengan romo Vincentius Suparman dan romo Ambrosius Heri Krismawanto Pr.


Serah terima jabatan sendiri telah dilakukan di siang hari, di saksikan oleh romo Vikaris episkopalis (vikep) Adrianus Maradiyo Pr, dan di sore harinya di laksanakan perayaan ekaristi pisah sambut.


Selain di hadiri oleh umat paroki Jetis, hadir pula dewan paroki Katedral Semarang dan keluarga romo Heri. Romo Rafael Tri Wijayanto Pr dipindah tugaskan ke paroki Santo Yohanes Rasul Somohitan, Sleman, Yogyakarta sedangkan romo Bernadus Singgih Guritno Pr melanjutkan studi ke Roma.

Romo Vincentius Suparman sebelumnya bertugas di paroki Kristoforus Banyutemumpang, Sawangan, Magelang, Jawa Tengah dan romo Ambrosius Heri Krismawanto Pr sebelumnya bertugas di Katedral Semarang.


Usai misa, dilanjutkan dengan acara ramah tamah di aula gereja, dengan acara penyampaian kesan, pesan, perkenalan dan pemberian tanda mata dari dewan paroki, ketua lingkungan, kategorial dan umat gereja Jetis.


Acara berlangsung cukup meriah, satu persatu ketua lingkungan memberikan kesan-kesan mereka kepada romo Tri dan romo Singgih, dan acara ditutup dengan lagu-lagu persembahan dari OMK.


Selamat jalan romo Rafael Tri Wijayanto Pr dan romo Bernadus Singgih Guritno Pr, semoga selalu dalam lindungan Yesus Kristus, Amin.

#Agustinus Suseno

Sukacita Atas Pemekaran Lingkungan St. Ignatius – Penumping

14 Juli 2019

Gereja Paroki St. Albertus Agung Jetis

Hangatnya mentari dan udara pagi ini tercium sangat segar, sesegar wajah-wajah baru pengurus Lingkungan St. Rafael Penumping yang dalam beberapa menit ke depan akan diangkat dan diresmikan oleh Romo Rafael Tri Wijayanto Pr.

Dalam pidato pembukaannya Romo Tri (panggilan akrab Romo Rafael Tri Wijayanto Pr.) sendiri menyampaikan bahwa dalam perayaan ekaristi hari Minggu 14 Juli 2019 di misa ke dua ini akan diadakan pengangkatan pengurus lingkungan baru, bersama-sama dengan peresmian Lingkungan St. Rafael Penumping yang merupakan pemekaran dari Lingkungan St. Ignatius Loyola Penumping.

Pemekaran wilayah Penumping ini sudah di rencanakan oleh Romo Paroki sejak tahun 2014, berawal karena jumlah KK yang ada di wilayah penumping melebihi batas standart operasional yang tercantum di PPDP (Pedoman dasar Pelaksanaan Dewan Paroki). PPDP merupakan pedoman dasar Dewan Paroki yang telah disahkan oleh Keuskupan Agung Semarang. PPDP ini menyangkut tentang seputar pengelolaan kebutuhan pastoral yang lebih efektif dan bertujuan untuk ‘menyapa umat’.

“Dalam pedoman ini memiliki ketentuan yakni membatasi jumlah KK yang ada di setiap satu Lingkungan. PPDP membatasi 10-50 KK per lingkungannya, sedangkan di lingkungan Penumping memiliki 86 KK sehingga perlu dimekarkan agar umat dapat terlayani dengan batas wilayah yang lebih kecil serta untuk memunculkan tokoh-tokoh keterlibatan baru didalam hidup menggereja khususnya di lingkungan.” Ujar Romo Rafael Tri Wijayanto selaku Romo Paroki St. Albertus Agung Jetis.

Ini merupakan kali kedua Paroki St. Albertus Agung Jetis menjalankan Program Pemekaran Lingkungan ini yang sebelumnya telah di terapkan di Lingkungan Karangwaru yang di namakan Lingkungan Materdei, tujuan dari Pemekaran Lingkungan ini yaitu agar dapat memudahkan umat untuk dilayani. “Hingga saat ini Lingkungan Materdei berjalan sangat baik dengan adanya bukti yaitu kehadiran dan keterlibatan umat yang lebih banyak dari sebelumnya saat lingkungan Karangwaru belum di mekarkan.” Lanjut Romo Tri.

Homili pada misa ke dua ini dibawakan oleh Romo Bernardus Singgih Guritno Pr., dalam homilinya pertama-tama Romo Singgih membawakan sebuah cerita mengenai seorang Raja yang ingin melihat hubungan/interaksi antar rakyatnya.

Sang Raja tersebut dengan sengaja menaruh sebuah batu besar di tengah-tengah jalan yang sering dilalui rakyatnya. Ia pun mengamati dari kejauhan.

Beberapa waktu berlalu ada seorang rakyatnya yang melintasi jalan tersebut. Ketika diamati, rakyatnya tersebut hanya menggerutu sembari mengucap “kenapa sih ada batu sebesar ini di tengah jalan?!” kemudian berlalu mencari jalan lain.

Begitu pun yang terjadi dengan dua orang rakyatnya yang lain. Mereka cuek & tidak peduli, hanya menggerutu saja. Tetapi tidak melakukan perubahan. Tidak ada yang berusaha menyingkirkan batu besar tersebut dari tengah-tengah jalan.

Sang Raja pun sedih, ternyata rakyatnya tidak sesuai harapannya. Mereka tidak tumbuh menjadi dewasa ketika menghadapi persoalan yang terjadi.

Romo Singgih kemudian mengkaitkan dengan kondisi gereja Katolik, keadaannya mungkin hampir-hampir mirip dengan rakyat di atas jika umat bersikap apatis, cuek dan tidak peduli.

Gereja Katolik bisa bertumbuh karena ada orang-orang yang peduli, ada banyak umat yang haus akan perubahan dan peduli terhadapnya. Gereja Katolik tidak bertumbuh secara otomatis.

Romo Singgih juga mengajak seluruh umat Paroki Jetis untuk bergerak, melakukan perubahan secara konkret. Tidak hanya mengkritik setiap ada misa atau mengkritik pelayan-pelayan misa di gereja, namun untuk terlibat dan berpikir untuk menjadi bagian dari pelayan misa.

Sangatlah mudah untuk mengkritik sound system gereja yang tidak bagus, atau mungkin mengeluh bahwa petugas parkir gereja tidak profesional. Padahal Gereja Katolik akan berkembang karena adanya orang-orang yang peduli dan mau terlibat.

Pada hari ini umat Paroki Jetis mensyukuri adanya pelantikan ketua lingkungan & pengurus lingkungan baru. Syarat utama untuk menjadi pengurus hanya satu, yaitu PEDULI.

Bagaimana cara kita peduli?

  1. Dengan mengingat pengalaman kita saat kecil, saat mencium tangan (salim) si Mbah kita masing-masing atau orang yang di-tua-kan.
  2. Mengucapkan “Nderek langkung/permisi” ketika melewati orang di jalan/gang
  3. Saling menyapa orang yang dirasa kenal atau tetangga sebelah rumah
  4. Ketika mengadakan acara besar, kita juga bisa berbagi dengan orang lain

Sikap peduli perlu dilatih, tidak muncul secara instant, ia perlu dipelajari & terus dilatih. Sudah menjadi tanggung jawab kita semua untuk meneruskannya pada generasi muda (adik-adik atau yang berusia lebih muda dari kita).

Kesimpulan homili hari ini :

Kita diajak merenungkan kepedulian terhadap sesama kita, dan peduli perlu dilatih dalam kehidupan sehari-hari kita.

Setelah homili berakhir, dilanjutkan dengan pemercikan air suci sebagai tanda pelantikan pengurus lingkungan baru dan peresmian Lingkungan St. Rafael Penumping.

Tentu perjalanan umat Lingkungan Penumping dalam proses Pemekaran Lingkungan ini tidaklah mudah. Program Pemekaran ini juga mendapat dukungan Pro dan Kontra dari umat Lingkungan Penumping ini, ada beberapa umat yang mendukung Pemekaran ini karena dapat mengembangkan lingkungannya masing-masing, dan ada pula beberapa umat yang keberatan karena khawatir kekurangan anggota dan kegiatan harian pun jadi tidak hidup lagi. “Maka dari itu saya katakana jangan pesimis, kita harus optimis. Kita harus berani untuk maju. Apa adanya kita, kita coba untuk berlatih dengan segala kekurangan kita.” Ujar Bapak Agustinus Budi Eko Priyanto selaku Ketua Lingkungan Rafael Penumping

Akhirnya setelah disosialisasikan saat Misa Lingkungan yang di pimpin langsung oleh Romo Paroki, maka segenap Umat Lingkungan Penumping menyepakati bersama untuk menjalankan Program Pemekaran Lingkungan Penumping. “Sangat bermanfaat sekali karena membuat umat yang tadinya ‘tidur’ dapat ‘bangun’ kembali. Dengan adanya Program Pemekaran ini kita bisa menggugah hati umat untuk mengambil bagian dan berperan dalam kepengurusan gereja.” Lanjut Bapak Agustinus Budi Eko Priyanto

Peresmian Program Pemekaran ini dirayakan bersamaan dengan Misa Mingguan di Paroki St. Albertus Agung Jetis dan dilanjut dengan perayaan pemotongan tumpeng untuk mengungkapkan wujud syukur atas terlaksananya Program Pemekaran Lingkungan Penumping.

Pemekaran Lingkungan tidaklah bertujuan untuk memecahkan atau memisahkan umat, justru Pemekaran ini memiliki tujuan untuk menggugah hati umat agar dapat merekah dan mau melibatkan diri untuk saling melayani satu sama lain.

“Lahirnya lingkungan baru diibaratkan seperti lahirnya Kristus yang baru yang dapat menyelamatkan banyak orang. Harapan untuk kedepannya, teruskan semangat yang ada dengan mengambil inspirasi dari Roh Allah sendiri yang akan membuat kita mampu. Yang kita butuhkan adalah kesediaan. Kalo soal kesulitan pasti ada, tapi itu Tuhan yang akan mendandani semuanya, dan itu akan terjadi. Saya Yakin.” Ujar Romo Tri sambil tersenyum simpul.

 

Penulis : Veda & Frans

Foto : Frans & Angie

Penerimaan Komuni Pertama di Paroki St. Albertus Agung Jetis – Yogyakarta

Pada Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus, Minggu, 23  Juni 2019, sebanyak 15 putra & 9 putri, telah menerima komuni pertama dari tangan Romo Rafael Tri Wijayanto, Pr selaku Pastor Paroki.

Dalam homilinya, Romo Tri menekankan perbedaan makanan jasmani dan rohani. Makanan jasmani contohnya  roti, tahu, tempe,bakwan dll  yg akan menjadi daging, sedangkan makanan rohani adalah  sabda Tuhan & Ekaristi kudus, yg akan menyelamatkan manusia. Keseluruhan 24 anak menerima komuni pertama tersebut dengan dua rupa.

Setelah misa, dilanjutkan dengan perayaan ucap syukur, atas diterimakannya komuni pertama di aula gereja.

Perayaan ini dihadiri oleh Pastor Paroki, Suster-Suster komunitas ADM, Wakil Ketua Dewan Bapak Ludovicus Joko Sunarno, Para katekis serta orang tua anak-anak yang berbahagia.

Bapak Gabriel Unggul Kristiawan sebagai ketua panitia dan atas nama orang tua, mengucapkan terima kasih kepada Sr. Valeria, Sr. Sofiana, Sr. Odilia, Sr.Lisa, Sr. Aquila dari komunitas Suster ADM, yang dengan sabar membimbing dan memberikan pendalaman iman kepada anak-anak selama 10 bulan.

Lucia Jessica Widodo selaku wakil anak-anak komuni pertama menyampaikan ucapan terimakasih kepada romo, suster dan orang tua, atas support kepada anak-anak. Selain itu mereka juga berkomitmen sepakat mendaftarkan diri menjadi anggota Putra Altar St. Christopher Jetis.

Acara semakin meriah dengan tampilnya kakak2 Putra Altar St. Christopher dan ditutup dengan doa penutup oleh Sr. Sofiana.

Berkah Dalem Gusti…🙏✝

Mengintip Aktivitas Renewal WEA XXII #1

Dalam rangka follow up peserta Weekend XXII yang diadakan Juni tahun lalu, Antiokhia Jetis mengadakan kegiatan Renewal WEA XXII #1 pada Minggu 16 Juni 2019 di wisma Estu wening, Palagan Yogyakarta.

Acara yang bertema “Love Unites Us Back” ini diikuti oleh 40 orang Antiokhers dari WEA XI – XXII.

Acara berlangsung dengan santai namun padat, diisi dengan gerak dan lagu, games, outbond, serta sharing pengalaman iman.

Renewal adalah salah satu program Antiokhia untuk merangkul kembali para Antiokhers (sebutan bagi para anggota Antiokhia Jetis-red.) yang pernah mengikuti Weekend Antiokhia agar tetap solid dan memiliki jiwa Antiokhia.

Dalam sharingnya, Edo peserta Weekend Antiokhia XXII menyampaikan bahwa Antiokhia adalah batu loncatan untuk terlibat aktif dalam kegiatan menggereja.

“Menurutku acara kemarin itu udah bagus banget, hanya perlu ditingkatkan lagi agar lebih baik ke depannya” jawab Edo ketika ditanya harapannya untuk Antiokhia.

-Kontributor Renewal WEA XXII-

Liburan Sekolah Ala PIA St. Paulus Jatimulyo

(16/06/2019) Seorang anak dengan baju basah kuyub lari dari kolam ikan di Jogja Exotarium dan teriak “aku senaaaaaannngggg….”. Itu salah satu ekspresi anak PIA St. Paulus Jatimulyo Paroki Jetis pada rangkaian liburan bareng. Liburan kali ini PIA St Paulus mengadakan out bound di Jogja Eksotarium pada Minggu, 16 Juni 2019. Out bound yang diikuti oleh 14 anak ini dipilih untuk membuat anak-anak PIA semakin bersemangat dalam kegiatan PIA.

Ada beberapa permainan yang diadakan disana yaitu Ball Phyton, Piring Terbang, Pertamini, Spon Sitdown, haral rintang, dan diakhiri dengan kunjungan ke kebun binatang mini. Dalam permainan Ball Phyton, menuntut peserta untuk selalu berkonsentrasi terus di dalam kompetisi dan di butuhkan kecepatan respon perintah yang di berikan oleh pemandu. Permainan bertujuan untuk membangun konsentrasi peserta dalam melakukan permainan agar pikiran lebih fokus ke permainan, dan melatih peserta untuk mengikuti perintah atau pengarahan dari pemandu.

Permainan piring terbang dilakukan untuk membentuk kerjasama tim yang kompak dan solid. Peserta dituntut untuk selalu percaya kepada teman, karena di permainan ini piring yang di bawa melewati atas kepala peserta tidak menengok ke belakang yang di lakukan hanya komunikasi yang baik dan percaya bahwa teman yang di belakangnya mampu dan bisa menerima piring dengan baik. Apabila komunikasi kurang baik maka kelompok akan dirugikan dengan bola dari piring yang jatuh atau air yang tumpah.

Permainan Pertamini adalah memindahkan air dari bak ember ke dalam botol menggunakan gelas yang berlubang. Supaya air yang dibawa tetap terkumpul banyak maka peserta dituntut untuk cepat lari menuju botol permainan. Hal ini dilakukan secara bergantian  antar anggota kelompok dengan bertujuan peserta untuk terbiasa antri dan melatih peserta untuk bersama-sama maju menuju ke satu tujuan. Dalam hal ini mengumpulkan air sebanyak mungkin supaya kelompoknya bisa menang karena setiap anggota kelompok sekecil apapun tetap berkontribusi dalam kelompok.

Bentuk permainan spon sitdown hampir sama seperti pertamini di atas. Tetapi untuk yang ini peserta menggunakan spon untuk memindahkan air dan dipindah ke dalam ember kecil yang ada di bawah kursi. Spon tersebut yang sudah dicelup ke dalam air harus diperas dengan cara diduduki di kursi supaya airnya bisa terkumpul di ember yang ada di bawahnya. Permainan ini dimaksudkan untuk belajar antri dan sabar, peserta dituntut untuk rela berkorban karena pakaiannya basah dalam upaya kelompoknya bisa mengumpulkan air yang banyak.

Permainan ditutup dengan haral rintang untuk meningkatkan keberanian peserta. Ada peserta yang dengan berani mengikuti semua tantangan, ada juga peserta yang takut dan lari ke pendamping. Tidak mudah menanamkan keberanian pada anak. Dalam pendampingan PIA pun tidak mudah mengajak anak untuk berani mempimpin doa.

Serangkaian outbound ditutup dengan keliling ke kebun binatang mini untuk mengenal satwa. Dalam hal ini semua peserta dikenalkan dengan nama hewan, sifat-sifatnya, makanannya.

Anak-anak pun diajari untuk berani berinteraksi dengan beberapa hewan jinak dan memberi makan mereka. Anak PIA diajari untuk mencintai binatang sebagai bagian dari ciptaan Tuhan. (LJS)

You cannot copy content of this page