Renungan Harian Hari Ini 10 Desember 2022, Bacaan Injil

renungan harian hari ini

Renungan Harian Hari Ini 10 Desember 2022, Bacaan Injil Matius 17:10-13

Bacaan I: Sir. 48:1-4.9-11; Mazmur: 80:2ac.3b.15-16.18-19; R:4; PEKAN ADVEN II (U) St.Miltiades; B.Marc Antonius Durando; SP Maria dr Loreto;

Ketika Yesus dan murid-murid-Nya turun dari gunung, para murid-Nya bertanya kepada-Nya: Kalau demikian mengapa ahli-ahli Taurat berkata bahwa Elia harus datang dahulu?” Jawab Yesus: “Memang Elia akan datang dan memulihkan segala sesuatu dan Aku berkata kepadamu: Elia sudah datang, tetapi orang tidak mengenal dia, dan memperlakukannya menurut kehendak mereka. Demikian juga Anak Manusia akan menderita oleh mereka.” Pada waktu itu mengertilah murid-murid Yesus bahwa la berbicara tentang Yohanes Pembaptis.

.

renungan harian hari ini

.

Renungan Harian Hari Ini 10 Desember 2022, Bacaan Injil

Hidup yang diperbarui dalam kehendak Allah ialah hidup dengan benar, adil, dan damai. Itu tidak mudah. Hal ini juga dialami oleh Elia ketika mengajak Israel untuk menyongsong hal yang baru dengan meninggalkan dewa-dewa Baal. Malah Elia dijadikan musuh dan target pembunuhan oleh penyembah-penyembah Baal. Dalam kesesakan, Elia lari kepada Tuhan dan mendapatkan pengarahan akan masa depan di Horeb. Tugas Elia jelas, mengajak Israel untuk meninggalkan kekelaman dan menyongsong hidup yang baru.

Apa yang dialami Elia juga dialami Yohanes Pembaptis sebagai “jalan” bagi kebenaran dan hidup, yaitu Yesus sendiri. Ketidakmampuan orang-orang untuk mengerti akan kedatangan Yesus karena mereka menolak orang yang memberikan jalan kepada kebenaran itu, yaitu Elia maupun Yohanes Pembaptis. Mereka, khususnya orang Farisi dan ahli taurat merasa tidak butuh “jalan” itu, karena mereka sudah merasa mampu menemukan keselamatan.

Pengalaman akan Allah merupakan perjumpaan personal, namun tetap membutuhkan tuntutan agar tidak hanya “merasa” berjumpa dengan Allah. Penuntun hidup kepada Kristus adalah Sabda Allah, tradisi iman dan magisterium atau ajaran Gereja. Maka, mana mungkin kita akan menemukan Kristus yang sejati kalau enggan untuk mendalami Kitab Suci, tradisi maupun magisterium.

Iman akan Allah bukan permainan perasaan, melainkan membutuhkan penuntun iman agar kita bisa mengerti apa yang kita imani dan beriman dengan sadar.

.

Bapa Yang Maharahim, berilah kami keterbukaan hati untuk mencari kehendak-Mu melalui pengenalan akan Kitab Suci, setia pada tradisi iman, dan terbuka pada ajaran Gereja. Amin.

.

Sumber renungan: Ziarah Batin 2022, OBOR Indonesia

Baca Juga (KLIK):

Ziarah Wisata Gua Maria di Jogjakarta dan Sekitarnya

.

.

Renungan Harian Hari Ini 9 Desember 2022, Bacaan Injil

renungan harian hari ini

Renungan Harian Hari Ini 9 Desember 2022, Bacaan Injil Matius 11:16-19

Bacaan I: Yes. 48:17-19; Mazmur: 1:1-2.3.4.6; R: Yoh. 8:12; PEKAN ADVEN II (U) St.Fransiskus Antonius; St.Petrus Fourier; B.Bernardus Maria Silvestrelli;

Sekali peristiwa, Yesus berkata kepada orang banyak: “Dengan apakah akan Kuumpamakan angkatan ini? Mereka itu seumpama anak-anak yang duduk di pasar dan berseru kepada teman-temannya: Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak berkabung. Karena Yohanes datang, ia tidak makan, dan tidak minum, dan mereka berkata: Ia kerasukan setan.

Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan mereka berkata: Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa. Tetapi hikmat Allah dibenarkan oleh perbuatannya.”

.

renungan harian hari ini

.

Renungan Harian Hari Ini 9 Desember 2022, Bacaan Injil

Ecclesia semper reformanda merupakan sebuah ungkapan bahwa Gereja senantiasa terbuka untuk sebuah pembaruan. Makna dari ungkapan ini tidak lain agar Gereja tetap berarti bagi dunia dalam kehadiran dan pengudusannya. Hal ini penting karena dunia berkembang dan zaman berubah, namun tujuan panggilan manusia tidak berubah: mencapai Kerajaan Allah.

Nah, di sinilah makna sebuah pembaruan diri terus-menerus agar dalam setiap situasi sabda Allah tetap aktual untuk membimbing orang kepada kesempurnaan hidup. Injil bercerita, ketika Yohanes datang, ia tidak makan dan tidak minum, sehingga orang berkata ia kerasukan setan. Ia terlalu keras, terlalu tegas, terlalu berpegang pada prinsip.

Sementara, ketika “Anak Manusia” datang, la makan dan minum, lalu orang-orang berkata: Lihat si pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan pendosa. Ia mengendurkan peraturan, tidak mempertahankan ketegasan seperti dulu. Ia terlalu manusiawi, mau menyenangkan orang. Juga menuai celaan orang.

Orang-orang Farisi dan ahli Taurat adalah kelompok yang memprotes baik Yohanes maupun Yesus. Mereka enggan berubah karena menutup diri, tidak rendah hati dan tidak mau berkembang. Menjadi Gereja yang hidup adalah meninggalkan semangat “farisi” dengan rendah hati berani membarui diri, bersama dunia dalam penziarahan, melayani dengan rendah hati, memberikan harapan, dan terbuka pada setiap kehidupan untuk dikuduskan. Inilah yang perlu diupayakan Gereja.

.

Bapa Yang Murah Hati, berilah kami hati yang terbuka pada sabda Putra-Mu agar kami menjadi Gereja yang hidup: terbuka, rendah hati, dan bertumbuh. Amin.

.

Sumber renungan: Ziarah Batin 2022, OBOR Indonesia

Baca Juga (KLIK):

Ziarah Wisata Gua Maria di Jogjakarta dan Sekitarnya

.

.

Renungan Harian Hari Ini 8 Desember 2022, Bacaan Injil

renungan harian hari ini

Renungan Harian Hari Ini 8 Desember 2022, Bacaan Injil Lukas 1:26-38

Bacaan I: Kej. 3:9-15.20; Mazmur: 98:1.2-3ab.3c-4; R: 1ab; Bacaan II: Ef. 1:3-6.11-12; PEKAN ADVEN II; HR MARIA DIKANDUNG TANPA DOSA (P);

Dalam bulan yang keenam, Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret, kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud, nama perawan itu Maria. Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.” Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu.

Kata malaikat itu kepadanya: “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.”

Kata Maria kepada malaikat itu: “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” Jawab malaikat itu kepadanya: “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau, sebab itu anak yang akan kau lahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, ia pun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu. Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.”

Kata Maria: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia.

.

renungan harian hari ini

.

Renungan Harian Hari Ini 8 Desember 2022, Bacaan Injil

Hawa dengan darah dan hidupnya meneruskan dosa dalam tubuh dan nyawa anak-anaknya. Tetapi Maria, diserahi umat manusia di bawah salib, sebagai ibu Gereja yang mengandung benih keselamatan dan mengalir melalui sakramen-sakramen Gereja, yang dilambangkan oleh darah dan air yang mengalir dari lambung Kristus. Seperti Hawa dibentuk sebagai ibu kehidupan karena tulang rusuk Adam, demikian pun Maria menjadi ibu kehidupan kita, ibu Gereja.

Maria sebagai ibu kehidupan adalah ibu semua orang. Siapa saja bisa datang untuk memohon doanya. Ia akan menerima, menyapa, dan merangkul dengan kasih seorang ibu. Sebagai yang tak bernoda, Maria adalah cermin yang mempunyai kedalaman yang tak terhingga, memantulkan semua cita rasa dan kasih seorang ibu bagi semua orang. Ia penuh rahmat, tidak akan habis ditimba. Ia menjadi cermin kesalehan, kesetiaan, kesahajaan bagi dunia.

Ia seorang ibu yang hadir dalam seluruh kehidupan manusia: di saat lahir, perkawinan, keseharian, terlebih di saat-saat kematian. Mari kita meneladan kesetiaan, kesahajaan, kepekaan Maria dalam hidup harian kita sebagai pribadi, sebagai warga Gereja, dan sebagai warga dunia.

.

Ya Bapa, berilah kami hati tak bernoda seperti hati Bunda Maria yang merengkuh seluruh kehidupan manusia untuk diserahkan kepada Yesus, Putra-Mu. Amin.

.

Sumber renungan: Ziarah Batin 2022, OBOR Indonesia

Baca Juga (KLIK):

Ziarah Wisata Gua Maria di Jogjakarta dan Sekitarnya

.

.

PAPIXTO JETIS: Putra-putri Altar Paroki Jetis terus mengobarkan Semangat Melayani

JETIS- PAPIXTO Jetis adalah sebutan bagi Putra-putri Altar di Paroki Santo Albertus Agung Jetis. Mereka melangsungkan pertemuan rutin setiap 2 kali dalam sebulan untuk terus mengobarkan semangat melayani. Pada Minggu, 4 Desember 2022 menjadi pertemuan yang pertama dalam bulan Desember. Pertemuan diadakan di gereja Santo Albertus Agung Jetis Yogyakarta, pukul 10.00-12.00 WIB.

Pertemuan ini dihadiri oleh 11 orang putra-putri altar, 2 orang pendamping, dan 6 mahasiswa/i Pendidikan Keagamaan Katolik (PENDIKKAT) USD yang magang Pelayanan Karya Paroki. Dua orang pendamping yang hadir (Kak Tama & Kak Niko) membuka pertemuan dengan doa pembuka. Setelah doa pembuka, acara dilanjutkan dengan sesi perkenalan antara kakak-kakak mahasiswa/i dan putra-putri altar. Masing-masing menyebutkan nama, asal, dan sekolah. Rata-rata putra-putri altar yang hadir sedang menempuh pendidikan di jenjang SMP dan SD kelas atas. Tahap perkenalan ini menjadi hal yang penting bagi kakak-kakak mahasiswa/i, karena menjadi modal awal untuk berdinamika bersama putra-putri altar Paroki Jetis. Sebab rencananya, kakak-kakak mahasiswa/i akan memberikan penyegaran baru bagi mereka pada pertemuan selanjutnya (Minggu, 18 Desember 2022). Untuk itu, jika para pembaca adalah bagian dari putra-putri altar Paroki Jetis, diharapkan kedatangannya pada pertemuan mendatang.

(Proses perkenalan kakak-kakak mahasiswa/i PENDIKKAT USD dan putra-putri altar Paroki Jetis)

Semua pihak sudah perkenalan. Ternyata dalam putra-putri altar ini ada anggota senior & junior. Maka, pada pertemuan ini berfokus pada latihan untuk pelayanan perayaan ekaristi manten (perkawinan). Namun, sebelum latihan untuk perayaan ekaristi manten (perkawinan), kakak pendamping menawarkan pembagian jadwal tugas bulan Desember terutama tugas perayaan ekaristi harian. Putra-putri altar bebas memilih hari untuk bertugas & biasannya mendapatkan pasangan yang random. Setelah pembagian tugas selesai, latihan untuk perayaan ekaristi manten (perkawinan) pun dimulai. Kak Niko sebagai sie liturgi memandu latihan diawali dengan arahan keistimewaan liturgi perkawinan. Barulah putra-putri altar Jetis praktik langsung secara berpasangan. Dalam dinamika latihan bersama, memang ada sesi bercanda namun ada juga sesi serius. Disinilah nampak bahwa putra-putri altar Paroki Jetis dapat memposisikan dirinya dalam berlatih. Seperti kata-kata bijak, “Bercanda itu boleh, asal tidak berlebihan, tidak menyakiti perasaan serta memahami situasi dan kondisi.”

(Putra-putri Altar Paroki Jetis yang sedang praktik latihan untuk perayaan ekaristi manten)

Pada akhirnya seluruh kegiatan pertemuan berjalan lancar dari awal hingga akhir. Semoga putra-putri altar Paroki Jetis semakin terus mengobarkan semangat melayaninya dengan konsisten bertugas dalam perayaan-perayaan ekaristi ataupun peribadatan lainnya. Tuhan Memberkati!

.

Penulis: Chris Cerly Rika Saraswati (Mahasiswi PENDIKKAT USD)

.
.

Pendalaman Iman MINGGU ADVEN I: Berjalan Bersama Menyongsong Kedatangan Tuhan – Semangat Umat St.Paulus Jatimulyo

JATIMULYO- Dengan semangat keakraban, umat Lingkungan Paulus Jatimulyo berkumpul untuk melangsungkan pendalaman iman Minggu Adven I (03/12/22, 19.00 WIB) di kediaman Pak Sudirahman.

Pendalaman iman Minggu Adven I di lingkungan Paulus Jatimulyo dihadiri oleh lebih kurang 30 umat termasuk 6 mahasiswa/i Program Studi Pendidikan Keagamaan Katolik (PENDIKKAT) USD. Kehadiran mahasiswa/i ini sebagai bentuk pelayanan kepada umat selama magang pelayanan karya paroki di Paroki Jetis. Maka, mereka yang membantu umat untuk menjadi fasilitator dalam pendalaman iman Minggu Adven I.

Pendalaman iman Minggu Adven I ini diawali dengan kata pengantar dari Bu Nevi selaku Ketua Lingkungan Paulus Jatimulyo. Kegiatan dilanjutkan dengan nyanyian pembuka “O, Datanglah Emanuel” yang mengarah pada tema Minggu Adven I, masa pengharapan akan Tuhan Sang Juru Selamat. Pendalaman iman dipandu oleh Roland sebagai fasilitator utama. Roland mengawali pendalaman iman dengan menyampaikan maksud & tujuan dari pendalaman iman Minggu Adven I sesuai Buku Panduan Adven Lingkungan 2022 KAS, “Berjalan Bersama: Semakin Katolik, Semakin Apostolik.”

Maksud & tujuan dari pendalaman iman Minggu Adven I ialah, umat diajak untuk berjaga-jaga, tanggap, kuat, dan senantiasa berharap di masa pemulihan COVID-19. Umat diajak untuk menyadari gerak sinodalitas dalam konteks memahami mengenai harapan dan kekuatan di kehidupan zaman sekarang yang penuh tantangan dan resiko ini. Dengan bacaan yang akan diperdalam sebagai peneguhan dan renungan dari Matius 24:37-44 mengenai “Kedatangan Anak Manusia” yang tiba-tiba dan tidak dapat diduga (Adven Eskatologis).

Setelah menyampaikan maksud & tujuan pendalaman iman Minggu Adven I, pertemuan dilanjutkan dengan berbagi pengalaman (sharing) hidup umat. Berbagi pengalaman ini dipandu dengan pokok-pokok pertanyaan sebagai berikut:

  1. Menurut anda, masihkan orang-orang zaman sekarang ini menantikan kehadiran dan keterlibatan Tuhan dalam hidupnya?
  2. Situasi apa yang membuat orang senantiasa menantikan kehadiran Tuhan? Bagikanlah pengalaman anda!

Apa arti dan makna Adven bagi hidup Anda dalam situasi saat ini?

Dari panduan pertanyaan untuk berbagi pengalaman di atas, beberapa umat di lingkungan Paulus berani untuk mengungkapkan pengalaman hidupnya. Ada yang mengungkapkan pengalaman kesedihan & kehilangan orang-orang tersayang saat pandemi tahun 2020-2021 yang lalu. Pengalaman kesedihan & kehilangan orang-orang tersayang ini diolah ke dalam pengalaman yang mampu mendekatkan diri dengan Tuhan melalui Doa. Ada pula yang mengungkapkan pengalaman jauh dari Tuhan saat pandemi karena jarang sekali menerima Tubuh & Darah Kristus secara langsung. Namun, hal ini menjadi suatu kerinduan yang sangat berarti akan Tuhan ketika sekarang sudah dibebaskan pergi ke gereja & mengikuti Perayaan Ekaristi.

Selain kedua pengalaman di atas, Bu Nevi sebagai ketua lingkungan juga men-sharing-kan pengalamannya untuk berserah kepada Yesus dalam situasi apapun. Awalnya beliau mengatakan bahwa dirinya hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa yang kerjanya hanya di rumah saja. Tetapi dibalik pengalamannya ini, dirinya menyampaikan selalu berpasrah kepada Tuhan dalam situasi apapun. Terlebih saat ini sedang rawan dengan peristiwa-peristiwa bencana alam. Dirinya menyadari bahwa kita sebagai manusia hanyalah butiran kecil yang rata di mata Tuhan. Untuk itu, pada masa Adven ini hendaknya selalu mawas diri & berjaga-jaga dalam situasi-situasi apapun.

Lain halnya dengan sharing yang disampaikan oleh perwakilan dari mahasiswa/i PENDIKKAT USD. Dari sisi mahasiswa, ada pengalaman-pengalaman yang menyesakkan dan dalam masa-masa sulit mencari Tuhan. Ditengah masa pandemi ini, mahasiswa/i mengungkapkan bahwa ada kesulitan dan tantangan dalam menyesuaikan keadaan yang dituntut serba online. Keadaan serba online yang membuat malas untuk mengikuti pembelajaran ataupun misa live streaming. Kendati demikian, keadaan ini tidak begitu saja membuat mahasiswa/i terlena. Saat ini, saat pandemi mulai berangsur-angsur menjadi endemi, mahasiswa/i harus terus survive dan beradaptasi kembali ke dalam dunia nyata.

Dari banyaknya berbagi pengalaman kehidupan dari umat maupun mahasiswa/i PENDIKKAT USD, hampir semuanya mengarah pada orang-orang zaman sekarang ini masih menantikan kehadiran & keterlibatan Tuhan dalam hidupnya. Beragam situasi yang membuat orang senantiasa menantikan kehadiran Tuhan, dengan mayoritas situasi: berpengharapan, kepedihan, sesak, dan berbeban berat. Kemudian memaknai arti dan makna Adven bagi hidup dalam situasi sekarang ini: untuk terus berbenah & berjalan bersama ke arah yang lebih baik. Maka, hasil berbagi pengalaman kehidupan ini diteguhkan dalam bacaan Injil Matius 24:37-44. Bacaan ini mengajak kita untuk bermenung tentang berjaga-jaga. Poin refleksi dari bacaan, mengharapkan kita agar senantiasa berjaga-jaga dan berharap, sehingga kita tidak akan tertinggal. Kedatangan keselamatan Anak Manusia harus membutuhkan kesiapsediaan kita. Dengan kata lain, kita harus terus hidup dan berpola pikir selalu siap sedia. Artinya, hidup kita diharapkan terus menerus merindukan Yesus. Yesus menjadi pusat perhatian kita saat berdoa, berfikir, berkata-kata, dan dalam berkarya.

Melalui masa Adven ini, kita diajak melihat bagaimana tantangan hidup menggereja dan beriman kita. Tantangan dari berbagai himpitan Pandemi COVID-19, melihat kembali peluang dan bagaimana kita mewujudkan wajah Gereja kita dewasa ini, sebagai Gereja yang Sinodal berziarah menuju kepada Gereja Misi mewujudkan Peradaban Kasih di masyarakat.

.

Penulis: Chris Cerly Rika Saraswati (Mahasiswi PENDIKKAT USD)

.
.

Perayaan Ekaristi Minggu ADVEN II: “Bertobatlah Kerajaan Surga sudah dekat!”

JETIS- Penyalaan lilin ungu kedua di lingkaran Adven dalam Perayaan Ekaristi Minggu ADVEN II pukul 08.00 WIB, bertempat di gereja Santo Albertus Agung Jetis, Yogyakarta (04/12/22).

Memasuki Minggu Adven kedua dalam masa penantian Tuhan, menjadi suatu hal yang istimewa karena minggu ini disebut sebagai minggu pertobatan. Kita sebagai umat kristiani secara khusus dipanggil Tuhan kedalam jalan pertobatan, seperti seruan tokoh Yohanes Pembaptis: Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat!Bagian pernyataan tobat dengan pemercikan air suci (Asperges Me) juga mengingatkan kita akan peristiwa pembaptisan sebagai buah-buah pertobatan.

Seseorang yang mempunyai rasa pertobatan yang besar dalam dirinya biasannya ditandai dengan adanya rasa “takut akan Tuhan”. Romo Vincentius Suparman, Pr juga menegaskan hal ini dalam homilinya. Beliau menyampaikan bahwa, seseorang yang takut akan Tuhan pastilah minim berbuat jahat. Maka, jika seseorang sama sekali tidak memiliki rasa “takut akan Tuhan” sudah pasti dia menganggap dirinya benar & sama sekali tidak ada rasa pertobatan dalam dirinya sendiri. Ini menjadi hal yang sangat berbahaya dan sudah selayaknya kita hindari.

Rasa “takut akan Tuhan” menjadi hal yang penting pula bagi keseimbangan hidup kita. Jika kita masih memiliki rasa ini, pastilah hidup kita seimbang. Alampun berbicara kepada kita. Kita tidak akan mudah merusak alam, merusak sesama, bahkan holistik dunia. Sehingga menjadi suasana damai & shalom. Seperti suasana dalam bacaan pertama yang menggambarkan: ‘anak lembu dan anak singa akan makan rumput bersama-sama, dan seorang anak kecil akan menggiringnya.’

Panggilan pertobatan yang sebaiknya terus menerus diserukan: Pertobatan, pertobatan, dan pertobatan! Kemudian dalam bacaan kedua, Santo Paulus yang juga menegaskan bahwa pertobatan ditunjukkan dengan relasi akan Sabda Tuhan dan menerima sesama satu dengan yang lain. Pada akhir homilinya, Romo Parman kembali mengajak umat di Paroki Jetis untuk menggunakan kesempatan pertobatan dengan mengikuti Ibadat Tobat yang akan dilaksanakan Minggu depan.

(Romo Vincentius Suparman, Pr menyampaikan Homili dalam Perayaan Ekaristi Minggu Adven II)

Sebelum berkat penutup dalam Perayaan Ekaristi, ada 3 pengumuman yang disampaikan, yakni:

Pertama, terkait jadwal Ibadat Tobat gereja Santo Albertus Agung Jetis yang akan dilaksanakan pada hari Senin, 12 Desember 2022 pukul 16.30 WIB dilanjutkan dengan Pengakuan Dosa.

Kedua, terkait Panitia Natal dari Wilayah IV yang menghimbau umat untuk turut berpartisipasi dalam persiapan Natal. Partisipasi dapat dikonkretkan dengan turut mengisi amplop partisipasi yang dibagikan sebelum Perayaan Ekaristi.

Ketiga, terkait perkenalan dari mahasiswa/i Program Studi Pendidikan Keagamaan Katolik (PENDIKKAT) Universitas Sanata Dharma. Mahasiswa/i ini akan praktik Pelayanan Karya Paroki selama 1 bulan terhitung dari tanggal 4 Desember 2022 hingga 8 Januari 2023.

(Roland Mauritius sebagai perwakilan perkenalan dari mahasiswa/i PENDIKKAT USD)

.

(Selengkapnya, Misa Online 4 – 12 – 2022, Pk 08.00 WIB | MINGGU ADVEN II | GEREJA ST. ALBERTUS AGUNG JETIS: https://www.youtube.com/watch?v=tUxtr3dc4uk&ab_channel=KomsosJetis)

.

Penulis: Chris Cerly Rika Saraswati (Mahasiswi PENDIKKAT USD)
.
.

Renungan Harian Hari Ini 7 Desember 2022, Bacaan Injil

renungan harian hari ini

Renungan Harian Hari Ini 7 Desember 2022, Bacaan Injil Matius 11:28-30

Bacaan I: Yes. 40:25-31; Mazmur: 103:1-4.8-10; R:1a; PEKAN ADVEN II Pw. St.Ambrosius, UskPujG (P);

Sekali peristiwa, bersabdalah Yesus: “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.”

.

renungan harian hari ini

.

Renungan Harian Hari Ini 7 Desember 2022, Bacaan Injil

Sapaan Yesus kepada mereka yang letih lesu dan berbeban berat untuk datang kepada-Nya bukan sekadar reaksi terhadap situasi bangsa-Nya waktu itu. Apa yang dikatakan Yesus justru untuk mengingatkan kembali maksud kedatangan-Nya ke dunia. Kedatangan-Nya, hidup dan karya-Nya jelas, yaitu untuk menebus segala dosa dan kelemahan kita: segala kelesuan, beban berat, dan penderitaan dunia.

Apa yang diwartakan Yesus juga pernah diserukan Nabi Yesaya. Yesaya menegaskan bahwa Allah tidak akan lelah dan lesu meneguhkan bangsa Israel agar tidak lelah dan lesu dalam menghayati kesetiaan kepada Allah. Apa yang dikatakan Yesaya menjadi tidak bergema lantang karena perilaku orang-orang Farisi dan ahli Taurat dalam menerapkan hukum Allah, bukan menyelamatkan umat melainkan memberikan beban kepada bangsanya demi kemapanan mereka.

Kehadiran Yesus memberikan teladan bukan peraturan. Yesus mengajak untuk menghayati hukum baru dalam kehidupan sehari-hari. Ia memberikan rahasianya bagaimana orang bisa menerima beban dan keletihan dengan ringan dan kelegaan. Ia menghadirkan kemanusiaan dan kebaikan daripada sekadar sebuah peraturan. Ia mengajarkan sikap lemah-lembut dan rendah hati.

Sikap inilah yang mesti kita ikuti, bahwa kehadiran Gereja bukan berhenti pada peraturan dan hukum kaku, melainkan lemah lembut dan rendah hati dalam kesetiaan kepada Allah. Kita percaya, ketika hati yang bertakwa kepada Allah berbicara soal kehidupan, penebusan, kemurahan hati, pasti kelegaan yang terjadi, bukan beban dan penderitaan.

.

Tuhan, ajarlah kami menjadi Gereja yang taat kepada Allah dalam kelembutan dan kerendahan hati untuk meringankan beban dan penderitaan banyak orang untuk mencapai keselamatan yang sejati. Amin.

.

Sumber renungan: Ziarah Batin 2022, OBOR Indonesia

Baca Juga (KLIK):

Ziarah Wisata Gua Maria di Jogjakarta dan Sekitarnya

.

.

Renungan Harian Hari Ini 6 Desember 2022, Bacaan Injil

renungan harian hari ini

Renungan Harian Hari Ini 6 Desember 2022, Bacaan Injil Matius 18:12-14

Bacaan I: Yes. 40:1-11; Mazmur: 96:1-2.3.10ac. 11-12.13-14; R: Yes. 40:10ab; PEKAN ADVEN II (U) St.Nikolaus dr Myra;

Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Bagaimana pendapatmu? Jika seorang mempunyai seratus ekor domba, dan seekor di antaranya sesat, tidakkah ia akan meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di pegunungan dan pergi mencari yang sesat itu?

Dan Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jika ia berhasil menemukannya, lebih besar kegembiraannya atas yang seekor itu dari pada atas yang kesembilan puluh sembilan ekor yang tidak sesat. Demikian juga Bapamu yang di sorga tidak menghendaki supaya seorang pun dari anak-anak ini hilang.”

.

renungan harian hari ini

.

Renungan Harian Hari Ini 6 Desember 2022, Bacaan Injil

Kisah gembala yang meninggalkan 99 ekor dombanya dan mencari satu ekor yang sesat merupakan gambaran Allah Bapa kita yang penuh kerahiman. Kerinduan Allah dan surga tidak lain adalah menemukan jiwa-jiwa dari kesesatan dan dosa. Kegirangan surga tidak lain adalah sebuah pertobatan. Allah Bapa yang mencintai kita bukanlah Allah yang menghukum, melainkan Allah yang selalu membuka pintu surga-Nya untuk sebuah pertobatan dan keselamatan.

Gambaran Allah Yang Maharahim juga telah diserukan oleh Yesaya dalam bacaan pertama hari ini. Yesaya menegaskan bahwa Allah itu seperti seorang gembala yang menggembalakan ternak-Nya, menghimpunkannya dengan tangan-Nya, serta memangku anak-anak domba-Nya dan menuntun induk domba-Nya. Allah membuka rahmat dan kasih-Nya untuk manusia yang senantiasa mau berseru kepada-Nya. Allah yang kita Imani adalah Bapa yang penuh belas kasih.

Menyuarakan kerahiman Allah adalah kesempatan pastoral dan kehadiran Gereja dalam kondisi zaman ini yang penuh dengan egoisme, hedonisme, konsumtif dan keserakahan. Gereja dipanggil untuk hadir sebagai gembala baik seperti Bapa, Sang Gembala, dengan kehadiran yang merawat, merangkul, menuntun, dan merengkuh yang terlantar; agar melalui Gereja, orang melihat Allah Bapa yang berbelas kasih. Gereja menghadirkan belas kasih Allah dalam karya-karya nyata bagi mereka yang miskin, tertindas, terpinggirkan, dan difabel.

.

Allah Yang Mahabaik, ajarlah kami agar tetap setia pada kehendak-Mu untuk menghadirkan Gereja yang penuh kerahiman dalam kata dan aksi nyata bagi mereka yang tertindas, miskin, dan terpinggirkan. Amin.

.

Sumber renungan: Ziarah Batin 2022, OBOR Indonesia

Baca Juga (KLIK):

Ziarah Wisata Gua Maria di Jogjakarta dan Sekitarnya

.

.

Renungan Harian Hari Ini 5 Desember 2022, Bacaan Injil

renungan harian hari ini

Renungan Harian Hari Ini 5 Desember 2022, Bacaan Injil Lukas 5:17-26

Bacaan I: Yes. 35:1-10; Mazmur: 85.9ab-10.11-12.13-14; R: Yes. 35:4d; PEKAN ADVEN II(U) St.Sabbas: St.Reinardus; St.Philipus Rinaldi; B.Bartolemeous Fanti;

Pada suatu hari ketika Yesus mengajar, ada beberapa orang Farisi dan ahli Taurat duduk mendengarkan-Nya. Mereka datang dari semua desa di Galilea dan Yudea dan dari Yerusalem. Kuasa Tuhan menyertai Dia, sehingga la dapat menyembuhkan orang sakit. Lalu datanglah beberapa orang mengusung seorang lumpuh di atas tempat tidur; mereka berusaha membawa dia masuk dan meletakkannya di hadapan Yesus.

Karena mereka tidak dapat membawanya masuk berhubung dengan banyaknya orang di situ, naiklah mereka ke atap rumah, lalu membongkar atap itu, dan menurunkan orang itu dengan tempat tidurnya ke tengah-tengah orang banyak tepat di depan Yesus. Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah la: “Hai saudara, dosamu sudah diampuni.”

Tetapi ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi berpikir dalam hatinya: “Siapakah orang yang menghujat Allah ini? Siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah sendiri?” Akan tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka, lalu berkata kepada mereka: “Apakah yang kamu pikirkan dalam hatimu? Manakah lebih mudah, mengatakan: Dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah, dan berjalanlah?

Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa” -berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu-: “Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!” Dan seketika itu juga bangunlah ia, di depan mereka, lalu mengangkat tempat tidurnya dan pulang ke rumahnya sambil memuliakan Allah.

Semua orang itu takjub, lalu memuliakan Allah, dan mereka sangat takut, katanya: “Hari ini kami telah menyaksikan hal-hal yang sangat mengherankan.”

.

renungan harian hari ini

.

Renungan Harian Hari Ini 5 Desember 2022, Bacaan Injil

Ketika Yesus sedang mengajar di hadapan banyak orang, termasuk orang-orang Farisi, datanglah peristiwa iman di mana Bapa melalui diri-Nya telah mengampuni dosa orang itu sehingga ia sembuh. Buah perjumpaan dengan Bapa di bait suci membuahkan keselamatan. Meski menimbulkan kegelisahan bagi banyak orang mengenai pengampunan dosa, Yesus ingin menunjukkan bahwa Bapa adalah Allah yang berbelas kasih dan selalu memberikan rahmat keselamatan.

Allah yang menyembuhkan dan memberikan harapan kepada umatnya juga menjadi seruan kenabian Yesaya. Dengan mantab, Yesaya menegaskan, “Jangan tawar hati, Allah akan datang untuk menyelamatkan: yang buta akan dicelikkan, yang lumpuh akan melompat”. Seruan Yesaya itu dengan gamblang disempurnakan oleh Yesus dalam peristiwa penyembuhan seorang lumpuh di Bait Allah.

Namun, banyak dari kita yang menyerupai orang Farisi bahwa bait Allah hanya sebatas tempat untuk mengadakan ritualitas keagamaan. Yesus menegaskan bahwa Bait Allah adalah tempat Allah ada, sehingga kehendak Allah terjadi. Salah satu kehendak Allah adalah kasih dan pengharapan, pembebasan dari yang jahat dan penyembuhan dari dosa dan penyakit.

Maka, menjadi sebuah pengalaman iman yang mendalam ketika kehadiran Gereja dalam doa dan pelayanan memberikan rahmat kesembuhan, pembebasan dan membuat orang berdaya dan tidak lumpuh.

.

Bapa yang berbelas kasih, ajarlah kami untuk senantiasa mewujudkan doa-doa kami dalam pelayanan dan perhatian demi keselamatan sesama. Amin.

.

Sumber renungan: Ziarah Batin 2022, OBOR Indonesia

Baca Juga (KLIK):

Ziarah Wisata Gua Maria di Jogjakarta dan Sekitarnya

.

.

Renungan Harian Hari Ini 4 Desember 2022, Bacaan Injil

renungan harian hari ini

Renungan Harian Hari Ini 4 Desember 2022, Bacaan Injil Matius 3:1-12

Bacaan I: Yes. 11:1-10; Mazmur: 72:1-2.7-8.12-13.17; R:7; Bacaan II: Rm. 15:4-9; O PEKAN II PEKAN ADVEN II (U);

Pada waktu itu tampillah Yohanes Pembaptis di padang gurun Yudea dan memberitakan: Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!” Sesungguhnya dialah yang dimaksudkan Nabi Yesaya ketika ia berkata: “Ada suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya.” Yohanes memakai jubah bulu unta dan ikat pinggang kulit, dan makanannya belalang dan madu hutan.

Maka datanglah kepadanya penduduk dari Yerusalem, dari seluruh Yudea dan dari seluruh daerah sekitar Yordan. Lalu sambil mengaku dosanya mereka dibaptis oleh Yohanes di Sungai Yordan. Tetapi waktu ia melihat banyak orang Farisi dan orang Saduki datang untuk dibaptis, berkatalah ia kepada mereka: “Hai kamu keturunan ular beludak. Siapakah yang mengatakan kepada kamu, bahwa kamu dapat melarikan diri dari murka yang akan datang?

Jadi hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan. Dan janganlah mengira, bahwa kamu dapat berkata dalam hatimu: Abraham adalah bapa kami! Karena aku berkata kepadamu: Allah dapat menjadikan anak-anak bagi Abraham dari batu-batu ini! Kapak sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api.

Aku membaptis kamu dengan air sebagai tanda pertobatan, tetapi la yang datang kemudian dari padaku lebih berkuasa dari padaku dan aku tidak layak melepaskan kasut-Nya. Ia akan membaptiskan kamu dengan Roh Kudus dan dengan api. Alat penampi sudah ditangan-Nya. Ia akan membersihkan tempat pengirikan-Nya dan mengumpulkan gandum-Nya ke dalam lumbung, tetapi debu jerami itu akan dibakar-Nya dalam api yang tidak terpadamkan.”

.

renungan harian hari ini

.

Renungan Harian Hari Ini 4 Desember 2022, Bacaan Injil

Harapan masa depan yang cerah merupakan sesuatu yang dirindukan semua orang. Nabi Yesaya dalam nubuat kenabiannya menegaskan, harapan itu pasti dan sedang terjadi. Akan muncul “tunggul Isai” yang akan memberikan rahmat penebusan kepada banyak orang yang percaya karena mereka akan menerima karunia Roh bukan hal-hal duniawi. Roh Tuhan akan ada pada mereka dengan segala karunianya.

Apa yang diserukan Yesaya juga dinyatakan oleh Yohanes Pembaptis: la yang aku wartakan akan membaptis kamu dengan Roh Kudus. Kita sudah menerima Kristus. Juga, Roh Kudus sudah dicurahkan atas kita. Namun, masa depan yang cerah tidak ditentukan oleh apa yang kita terima, tetapi oleh apa yang kita jalani. Kita akan dihakimi seturut kekayaan rahmat yang kita terima. Banyak yang kita terima, lebih banyak pula yang akan dituntut dari kita.

Kekayaan terbesar, yakni Roh Kudus dan Penebusan Kristus sudah kita terima. Kita dituntut hidup di bawah bimbingan Roh Kudus, dan berusaha kudus sama seperti Allah Kudus adanya. Bisakah kita menjadi kudus? Banyak santo/santa berasal dari kalangan umat biasa, awam sederhana, yang menjadi teladan kekudusan bagi kita. Mereka menjadi kudus bukan karena melakukan pekerjaan besar dan luar biasa, tetapi justru karena tekun dan setia dalam pekerjaan kecil dan sederhana.

Mereka hidup dengan jujur, penuh cinta kasih, setia mengikuti Ekaristi, bertekun dalam doa, menerima sakramen-sakramen, dan terlibat dalam karya amal kasih. Mereka setia melakukan pekerjaan-pekerjaan kecil dengan cinta yang besar dan tanpa menuntut balas budi. Kita semua punya potensi untuk menjadi kudus, karena Roh Kudus sendiri tinggal di dalam diri dan hidup kita.

.

Ya Bapa, terangilah hati dan budi kami untuk menjadi berkat bagi sesama. Amin.

.

Sumber renungan: Ziarah Batin 2022, OBOR Indonesia

Baca Juga (KLIK):

Ziarah Wisata Gua Maria di Jogjakarta dan Sekitarnya

.

.

You cannot copy content of this page