Doa Angelus (Doa Malaikat Tuhan) – Puji Syukur No.15

doa angelus malaikat tuhan

Doa Angelus Buku Puji Syukur No.15

Maria diberi kabar oleh malaikat Tuhan, bahwa ia akan mengandung dari Roh Kudus.

Salam Maria …

Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanmu.

Salam Maria ….

Sabda sudah menjadi daging, dan tinggal di antara kita.

Salam Maria ….

Doakanlah kami, ya Santa Bunda Allah, supaya kami dapat menikmati janji Kristus.

Ya Allah, karena kabar malaikat kami mengetahui bahwa Yesus Kristus Putra-Mu menjadi manusia; curahkanlah rahmat-Mu ke dalam hati kami, supaya karena sengsara dan salib-Nya, kami dibawa kepada kebangkitan yang mulia. Sebab Dialah Tuhan, pengantara kami. Amin.

Baca Juga (KLIK) : Doa Ratu Surga Pada Masa Prapaskah


doa angelus malaikat tuhan

.

Mengenal Doa Angelus (Malaikat Tuhan) Yang Didaraskan Setiap Hari

Kepopulerannya sudah tidak diragukan lagi, sebagian besar umat Katolik Roma mempunyai kebiasaan untuk mengucapkan rangkaian doa ini sebanyak tiga kali dalam satu hari.

Selain menggunakan istilah Angelus (Bahasa Latin) doa tersebut juga dikenal dengan “Doa Malaikat Tuhan”. 

Nama ini diambil dari kata pertama di dalam doa tersebut yang dalam bahasa latin bunyinya: Angelus Domini nuntiavit Mariae atau Malaikat Tuhan menyampaikan kabar kepada Maria.

Doa ini merupakan salah satu dari beberapa devosi yang ada di dalam ajaran Katolik.

.

Sejarah Doa Angelus Pertama Kalinya

Mengutip dari catholicism.org. Asal mula doa ini dapat ditelusuri kembali ke Italia abad ke-11, di mana biarawan Fransiskan mengucapkan doa tiga Salam Maria selama kegiatan berdoa malam, ketika bel terakhir di malam itu.

Seiring waktu, para biarawan mendorong umat Katolik di wilayah mereka untuk mengakhiri setiap hari dengan cara yang sama dengan mendaraskan tiga Salam Maria.

Awalnya doa tersebut banyak dilakukan di negara-negara yang mayoritas menganut agama Katolik.

Kemudian doa ini berkembang dari abad ke abad sampai dengan zaman Paus Yohanes XXII yang memberikan indulgensi kepada orang yang mengucapkannya.

Paus Pius V dalam tahun 1571 memperbaharui dan melengkapi bentuknya seperti yang kita kenal sekarang ini.

Pada waktu itu, doa ini diucapkan pada dini hari untuk menghormati kebangkitan Yesus, pada siang hari untuk menghormati sengsara Yesus dan pada senja hari untuk menghormati peristiwa Inkarnasi.

” Paus Paulus VI dalam ensiklik “Marialis Cultus” menulis, “Doa ini sesudah berabad-abad tetap mempertahankan nilainya dan kesegaran aslinya. ”

Paus Yohanes Paulus II menandaskan bahwa doa tersebut tak perlu diubah sebab bentuknya sederhana, diangkat dari Injil, dan asal-muasalnya berkaitan dengan doa perdamaian dan misteri Paska.

.

Maksud dan Tujuan Dari Pendarasan Doa Angelus 

Dalam satu hari doa ini didaraskan sebanyak 3 (tiga) kali. Meskipun pengucapannya sama, namun maksud dan tujuannya berbeda, disesuaikan dengan waktunya.

Adapun tujuan dari doa di pagi hari adalah : Menghormati kebangkitan Kristus yang telah bangkit dan bersama Kristus kita memulai dari dengan semangat kebangkitan.

Pada siang hari : Menghormati sengsara Kristus saat di tengah pekerjaan kita yang berat, agar kita senantiasa ingat Kristus yang telah berkorban bagi kita.

Sedangkan doa sore hari bertujuan agar kita senantiasa menghormati Inkarnasi Allah menjadi manusia. Terlebih saat kita hendak beristirahat, agar kita selalu ingat bahwa Allah selalu tinggal beserta kita.

Banyak keluarga Katolik dengan setia mengucapkannya pada pagi, siang dan malam hari.

Juga di Indonesia, sejak puluhan tahun yang lampau, bila mendengar lonceng Angelus berbunyi, umat langsung meninggalkan segala kesibukannya untuk sejenak memanjatkan doa tersebut.

Pada Masa Paskah, Doa Angelus diganti dengan Doa Ratu Surga.

Dalam doa ini, biasanya satu orang akan mengucapkan suatu kalimat dan yang lain memberikan tanggapan.

DOA RATU SURGA (dalam Masa Paskah)

Ratu Surga bersukacitalah, alleluya,
sebab Ia yang sudi kau kandung, alleluya,
telah bangkit seperti disabdakan-Nya, alleluya!
Doakanlah kami pada Allah, alleluya!
Bersukacita dan bergembiralah, Perawan Maria, alleluya,
sebab Tuhan sungguh telah bangkit, Alleluya!

Ya Allah, Engkau telah menggembirakan dunia dengan kebangkitan Putra-Mu, Tuhan kami Yesus Kristus. Kami mohon, perkenankanlah kami bersukacita dalam kehidupan kekal bersama BundaNya, Perawan Maria. Demi Kristus, pengantara kami. Amin.

.

Baca Juga (KLIK): 

https://staging2.christina.my.id/doa-pagi-katolik-awal-aura-positif-kamu-sepanjang-hari/

https://staging2.christina.my.id/doa-rosario-di-bulan-oktober-ketahui-bedanya-dengan-mei-bulan-maria/

.

(Wempi Gunarto)

Sumber :
www.catholicism.org
www.domuscordis.org
.
.

Doa Ratu Surga, Pewarta Sukacita & Kebangkitan Kristus

doa ratu surga

DOA RATU SURGA (Puji Syukur No. 16)

Ratu Surga bersukacitalah, Alleluya
sebab Ia yang sudi kau kandung, Alleluya
telah bangkit seperti yang disabdakan-Nya, Alleluya

Doakanlah kami pada Allah, Alleluya
Bersukacitalah dan bergembiralah, Perawan Maria, Alleluya
sebab Tuhan sungguh telah bangkit, Alleluya

Marilah berdoa : Ya Allah, Engkau telah menggembirakan dunia dengan kebangkitan Putra-Mu, Tuhan kami Yesus Kristus.

Kami mohon : perkenankanlah kami bersukacita dalam kehidupan kekal bersama Bunda-Nya, Perawan Maria.

Demi Kristus, pengantara kami.

Amin.

.

Kemenangan nyata atas kematian telah ditunjukkan oleh Kristus melalui kebangkitan-Nya. Kebangkitan Kristus atas kematian tidak semata hanya sebagai suatu peristiwa luar biasa untuk meyakinkan dunia agar tidak menyangkal kebenaran ajaran akan kebangkitan-Nya, tetapi juga untuk menyatakan kuasa penyelamatan-Nya. Kebangkitan ini bukan merupakan hanya suatu gambaran dari ide, bukan hanyalah wahyu kebenaran umum, tetapi sejarah kemenangan Kristus yang nyata oleh kuasa Allah. Karena itu, sukacita dan kegembiraan menjadi tanda kemenangan orang percaya yang mutlak atas kematian dalam rupa kebangkitan Kristus.

Kapan Saja Doa Ratu Surga Biasa Didaraskan ?

Pada masa paskah ini telah kita hayati sengsara dan wafat Kristus yang rela mati demi menebus dosa manusia. Kisah sengsara Yesus telah menunjukan kepada kita dengan Yesus bangkit untuk memenuhi janji-Nya. Dalam memaknai sukacita dan kegembiraan kebangkitan Kristus pada masa paskah ini kita diajak menghayati melalui Doa “Regina Caeli” atau “Ratu Surga”. Sebagai salah satu dari empat Antifon Maria yang biasanya didaraskan atau dinyanyikan. Doa ini memberi penghormatan kepada Maria yang selalu didoakan selama masa Paskah sejak Compline hari Sabtu Suci atau Vigili Paskah, sampai dengan Pentakosta hari Minggu ketujuh setelah Paskah menggantikan Doa Malaikat Tuhan (Latin: Angelus).

Waktu mendaraskannya sama dengan Doa Malaikat Tuhan yaitu sebanyak tiga kali sehari pada pagi (06.00), siang (12.00), sore (18.00). Meski waktu yang digunakan sama, namun tema kedua doa ini berbeda dimana Doa Malaikat Tuhan bermakna akan adanya misteri Inkarnasi Sabda, yaitu ketika Sabda menjadi manusia dan tinggal di antara kita sedangkan doa ini memiliki makna akan misteri Paskah, yaitu pada Kristus yang telah bangkit seperti disabdakan-Nya dan Tuhan sungguh menunjukan kebangkitan-Nya melalui Juru Selamat kita Yesus Kristus. Selain itu doa ini juga mengungkapkan bersama Bunda Maria kita diajak untuk menghayati sukacita dalam kehidupan kekal atas suatu permohonan kepada Allah Bapa melalui kebangkitan Kristus. Doa ini merupakan hal konkret bukti nyata Paskah dalam penerapan hidup kita dengan percaya kepada Kristus yang telah bangkit.

Doa Angelus pada masa bukan Paskah, KLIK:

Doa Angelus Malaikat Tuhan

Apakah Doa Ratu Surga Sebagai Pengganti Doa Malaikat Tuhan ?

Perubahan doa ini untuk menggantikan Doa Malaikat Tuhan pada masa Paskah berawal dari ditetapkannya di seluruh dunia bagi umat Katolik pada 20 April 1742 oleh Paus Benediktus XIV. Perubahan doa ini juga dijelaskan dalam Direktorium Kesalehan Umat dan Liturgi yang diterbitkan oleh Kongregasi Ibadat Ilahi dan Tata Tertib Sakramen pada tahun 2001 butir 196.

Tidak diketahui persis pengarang doa “Regina Caeli” namun, diyakini bahwa dulunya Santo Gregorius Agung, Paus yang memimpin Gereja Katolik pada tahun 590 sampai dengan tahun 604 sedang dalam suatu prosesi perarakan di Roma. Ia sedang berjalan tanpa alas kaki lalu mendengar para malaikat melantunkan tiga baris pertama pada suatu pagi hari Paskah kemudian ia menambahkan baris keempat: “Ora pro nobis Deum. Alleluia” yang berarti “Doakan kami pada Allah. Alleluya.”

Terdapat juga bukti-bukti historis menunjukkan bahwa Doa Ratu Surga sudah lama menjadi kekayaan Gereja, jauh mendahului dogmatis Maria yang diangkat ke surga pada tahun 1950. Salah satu bukti histori dengan adanya catatan dari abad XII mengenai doa ini. Terdapat juga teks musik tertua dari doa tersebut yang tersimpan di Vatikan, yaitu sebuah manuskrip dari tahun 1171. Pada sekitar tahun 1200, doa ini muncul dalam manuskrip nyanyian tradisional Romawi Kuno.

Gelar Maria & Teladannya

Gelar Maria sebagai “Ratu Surga” sendiri bukan berarti hendak menyatakan Maria sebagai saingan Allah dengan kekuasaan surgawi-Nya. Kerendahan hati Maria-lah sehingga Ia dinyatakan sebagai Ratu. Keikutsertaan Maria sebagai orang unggulan yang percaya kepada Kristus ini juga menghantarkan kebangkitan Kristus demi kemenangan dan kejayaan atas kuasa dosa dan kematian.

“Karena jikalau kita percaya, bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit,  maka kita percaya juga bahwa mereka yang telah meninggal dalam Yesus akan dikumpulkan Allah bersama-sama dengan Dia.” (1 Tesalonika 4:14)


Maka sudah sepantasnya kita merenungkan sejauh mana kita sebagai umat Katolik telah bersikap dalam menyambut sukacita dan kegembiraan kebangkitan Kristus sebagai puncak karya keselamatan yang Allah anugerahkan kepada kita. Semoga keagungan harga darah Kristus di kayu salib dalam masa paskah ini dapat kita terapkan bagi seluruh aspek kehidupan kita.

Bunda Maria Ratu Surga telah memberikan teladan kepada kita dengan rendah hati memberikan diri-Nya demi rencana Ilahi Allah Bapa. Marilah kita bersama Bunda Maria menghayati kemenangan kebangkitan Kristus dalam hidup kita dengan mendaraskan Doa Ratu Surga di masa Paskah ini. Semoga sukacita dan kebahagiaan Kristus selalu menyertai kita.

.
.

Penulis : Paulina Dita / dari berbagai sumber

You cannot copy content of this page