Perayaan Malam Paskah: Kebangkitan Kristus Menggugah Semangat Berbelarasa dan Berpengharapan

Sabtu, 16 April 2022 di Gereja St. Albertus Agung Jetis Yogyakarta telah berlangsung Perayaan Ekaristi Malam Paskah atau Vigili Paskah.

Perayaan Ekarisi dibagi menjadi dua bagian. Pertama diadakan pukul 17.00 dan selanjutnya pukul 20.00 WIB. Vigili Paskah adalah tirakatan agung untuk mengenang Paskah Perjanjian Baru dan Perjanjian Lama.

Paskah Perjanjian Lama dikisahkan dalam bacaan kedua dari kitab Keluaran yaitu pembebasan bangsa Israel dari penindasan bangsa Mesir melalui Musa dengan cara menyeberangi laut merah.

Sedangkan Paskah Perjanjian Baru adalah pembebasan manusia dari belenggu dosa dan maut karena penebusan Yesus Kristus di kayu salib.

.

Malam Vigili Paskah adalah malam yang suci, mulia dan malam kemenangan Tuhan. Kemenangan Tuhan atas maut dan menanti saat-saat kebangkitan Tuhan di esok hari dilambangkan dengan kehadiran api baru dari lilin Paskah.

Perayaan Ekaristi Malam Paskah diawali dengan Novena Kerahiman Ilahi dilanjutkan dengan upacara cahaya (exultet).

Api tersebut melambangkan Kristus yang bangkit, bersinar dan mulia. Lilin paskah kemudian diarak masuk ke dalam Gereja sebagai kenangan akan perjalanan bangsa Israel keluar dari tanah Mesir dituntun tiang-tiang api dan awan.

Kekhasan dalam perayaan Ekaristi ini adalah pembaharuan janji baptis atau ritus pembaptisan bagi para calon baptis.

Pembaharuan janji baptis dilakukan pada perayaan ekaristi yang pertama sementara ritus pembaptisan dilangsungkan pada perayaan ekaristi yang kedua.

Terdapat 9 orang calon baptis yang malam ini menerima sakramen baptis. Antusiasme umat cukup tinggi di kedua perayaan ekaristi sehingga bangku-bangku umat terisi penuh baik dari dalam maupun luar paroki.

Perayaan Ekaristi pertama dipimpin oleh Romo Yustinus Winaryanto, Pr. Dalam homilinya, Romo mengajak kita untuk mengenangkan peristiwa kebangkitan.

Para wanita yang datang ke kubur Yesus untuk memberi rempah-rempah adalah wujud cinta mereka kepada Yesus meskipun saat itu Ia telah wafat. Wanita-wanita tersebut terkejut karena tak menemukan Yesus di dalam makam.

Kita pun kerap kali juga terkejut dengan peristiwa yang tidak kita inginkan. Terkadang peristiwa tersebut mengaburkan fokus awal atau dalam bahasa gaulnya ‘gagal fokus’.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita kerap kali juga merasa ‘gagal fokus’ pada arah kehidupan yang sesungguhnya yaitu keselamatan.

Dalam perayaan Paskah, Tuhan telah membuka kesempatan bagi kita menuju keselamatan dalam Tuhan sendiri. Hendaknya kita secara pribadi tetap fokus menuju pada keselamatan yang telah diberikan Tuhan melalui wafatNya di kayu salib.

Semoga kita selalu fokus untuk mengarahkan hidup pada keselamatan di dalam Tuhan Yesus sendiri.

.

Romo Vincentius Suparman, Pr memimpin Perayaan Ekaristi Malam Paskah yang kedua. Perayaan ekaristi tersebut mengajak umat untuk memperbaharui hati yang bersih karena penebusan Tuhan. Langkah ini dimulai dari diri sendiri.

Melalui kebangkitanNya, manusia dapat menaruh harapan pada keselamatan hidup kekal.

Digambarkan dalam kisah penciptaan, pada mulanya Tuhan menciptakan semua ciptaan dalam keadaan baik bahkan manusia dinilai sungguh amat baik. Namun karena dosa, semua hal menjadi kacau.

Sebagai akibatnya, untuk menebus dosanya, manusia harus bersusah payah untuk hidup di bumi. Lalu Tuhan menginginkan situasi damai kembali terjadi maka Ia mengutus anakNya yang tunggal untuk menebus dunia.

Di sela-sela homilinya, Romo bertanya kepada umat: “Lalu selama 3 hari sebelum bangkit apa yang Yesus lakukan?” Romo menjawab: selama 3 hari sebelum kebangkitan-Nya, Ia mengumpulkan semua orang yang telah wafat untuk masuk ke surga.

Ia lah yang membuka belenggu pintu surga bagi kita manusia.

Romo juga menambahkan beberapa pertanyaan kepada para calon baptis. Mengapa ingin dibaptis? Apa tugas seorang murid Yesus?

Beberapa anak menjawab ingin dibaptis karena ingin menjadi murid Yesus, ingin diselamatkan oleh Tuhan Yesus dan ingin menjadi murid Kristus. Sementara tugas murid Yesus adalah belajar pada sang Guru sejati.

Kiranya Paskah menjadi sukacita bagi setiap pribadi karena Allah menyelamatkan kita umat manusia yang penuh dosa.

Semoga tema Paskah tahun ini dapat diwujudnyatakan dalam kehidupan sehari-hari.

Alleluya Alleluya, Terpuji Sang Kristus karena maut terkalahkan!

.
.

Penulis : Christina

.
.

Perayaan Ibadat Jumat Agung: Keagungan Kasih Tuhan

Pada sore hari Jumat tanggal 15 April 2022 umat Katolik di seluruh dunia memperingati hari wafat-Nya di kayu salib. Sang Penebus bermahkotakan duri di kepala-Nya.

Setiap tahun kita membacakan dan mengenang kisah sengsara-Nya mulai dari penangkapan, penderitaan, penyesahan hingga wafat-Nya.

Ibadat Jumat Agung di Gereja St. Albertus Agung Jetis Yogyakarta diadakan dua kali yaitu yang pertama pada pukul 15.00 WIB dan yang kedua pukul 18.00 WIB.

Animo umat yang cukup tinggi membuat seluruh tempat duduk yang disediakan penuh hingga aula serta halaman di sekitar gereja.

Untuk mempersingkat waktu maka kisah sengsara hanya dibacakan dan tidak dinyanyikan seperti yang telah dilakukan pada tahun sebelumnya.

Meskipun begitu tidak mengurangi kekhidmatan umat dalam mengikuti ibadat.

Dalam homili singkatnya, Romo Vincentius Suparman Pr menyampaikan bahwa kesiap sediaan serta kesetiaan Yesus sebagai utusan Bapa dihayati hingga akhir hidupnya. Makna dan juga peristiwa salib memiliki arti yang mendalam bagi kita.

Salib lambang kehinaan Ia ubah menjadi tanda kemuliaan, Ia harus ditinggikan. Setiap kali memandang salib Tuhan kita Yesus Kristus kita merasa tidak sendirian.

Selaras dengan tema Paskah pada tahun ini, kita pun diajak untuk berbelarasa dan berpengharapan.

Karena melalui salib-Nya itu merupakan suimber kekuatan.

Sebagai penutup homili singkatnya, Romo Vincentius Suparman Pr, menyampaikan sebuah cerita singkat dimana seorang perawat yang diminta untuk menurunkan salib yang tergantung di tempat kerjanya oleh seorang pasien.

Namun, dengan baik dan santun ia menolak sambil menjawab bahwa ia tak dapat menurunkan salib tersebut, karena salib tersebut adalah sumber kekuatan baginya untuk merawat dan mengasihi banyak pasien.

Perawat tersebut belajar mengasihi banyak pasien melalui salib yang tergantung di tempat kerjanya.

Iman sang perawat itu meneguhkan kita semua sebagai umat Katolik karena ia selalu memadukan segala perjuangan hidupnya dengan salib Tuhan. Semoga kita sebagai umat yang dikasihiNya juga selalu berpadanan dengan salib Tuhan Kita Yesus Kristus.

Salib memang berat namun hendaknya kita justru ikut ambil bagian dalam memanggul salib Tuhan dengan meringankan salib kita masing-masing.

Kerap kali manusia cenderung menyerahkan salib kita kepada Tuhan dan hanya terima enaknya saja. ‘Pasrah bongkokan’ atau dalam bahasa Indonesia tidak mau tahu.

Semoga kita sebagai umat Katolik senantiasa terpanggil untuk memanggul salib kita masing-masing dan menjadi berkat dimanapun berada.

Ibadat Perayaan Jumat Agung dilanjutkan dengan doa umat meriah dan penghormatan salib secara sederhana. Penghormatan salib dilakukan oleh Imam di depan altar dan umat menghormati salib dengan cara berlutut.

Di hari Jumat Agung ini, saatnya bagi kita untuk sungguh menata hidup dan menampakkan kerelaan kita ikut serta dalam memanggul salib Yesus. Semoga di hari yang suci ini, hidup kita semakin dekat dengan Tuhan.

.
.

Penulis : Christina

.
.

You cannot copy content of this page