Renungan Bacaan Injil Minggu 22 Agustus 2021

Sabda Tuhan Hari Ini 22 Agustus 2021, Yoh 6:60-69

Setelah Yesus menyelesaikan ajaran-Nya tentang roti kehidupan, banyak dari murid-murid-Nya berkata: “Perkataan ini keras, Siapakah yang sanggup mendengarkannya?” Yesus yang di dalam hati-Nya tahu, bahwa murid-murid-Nya bersungut-sungut tentang hal itu, berkata kepada mereka:

“Adakah perkataan itu menggoncangkan imanmu? Dan bagaimanakah, jikalau kamu melihat Anak Manusia naik ke tempat di mana la sebelumnya berada? Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup. Tetapi di antaramu ada yang tidak percaya.”

Sebab Yesus tahu dari semula, siapa yang tidak percaya dan siapa yang akan menyerahkan Dia. Lalu la berkata: “Sebab itu telah Kukatakan kepadamu: Tidak ada seorang pun dapat datang kepada-Ku, kalau Bapa tidak mengaruniakannya kepadanya,” Mulai dari waktu itu banyak murid-murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia. Maka kata Yesus kepada kedua belas murid-Nya: “Apakah kamu tidak mau pergi juga?”

Jawab Simon Petrus kepada-Nya: “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah.”

Renungan

Orang yang mengikuti Kristus hanya demi memperoleh kemudahan dan pemenuhan kepentingan pribadi, sewaktu-waktu dengan mudah akan meninggalkan-Nya, khususnya ketika merasa dikecewakan. Sebaliknya, orang yang mengikuti Kristus karena mencintai Dia dan menemukan dalam Dia suatu kebenaran yang tak tergantikan, bukan hanya tak akan meninggalkan melainkan bahkan sanggup berkorban untuk membela-Nya.

Petrus telah mengenali Yesus dan menemukan kebenaran dalam Dia. Baginya, sabda Yesus adalah sabda kehidupan kekal, juga ketika sabda-Nya kadang terdengar keras atau mengusik nurani. Perkataan lembut dan nikmat didengar belum tentu mengandung kebenaran. Petrus mencintai Yesus dan sama sekali tak melihat ada alasan untuk meninggalkan-Nya.

Bangsa Israel yang telah merasakan cinta Allah dalam rupa pembebasan dari perbudakan di Mesir juga tak melihat alasan untuk meninggalkan Allah dan beribadah kepada allah lain. “Jauhlah dari kami meninggalkan Tuhan untuk beribadah kepada allah lain” (Yos. 24:16). St. Paulus menggambarkan kasih setia Kristus kepada umat-Nya (Gereja) sebagai model dan inspirasi bagi kasih sepasang suami istri.

Seperti jemaat menghormati Kristus, demikian istri harus menghormati suaminya. Sebaliknya, seperti Kristus telah mengasihi jemaat dengan menyerahkan hidup-Nya, demikian suami harus mengasihi istrinya (bdk. Et. 5:24-25). Bila hal ini terwujud, lalu tak ada alasan untuk berpindah ke lain hati. Ketidaksetiaan dan perselingkuhan bisa terjadi bila orang menyembah ‘allah’ lain, yakni kenikmatan pribadi.

Bapa, terima kasih atas kesetiaan-Mu. Ajarlah kami untuk setia kepada Kristus sebagaimnana Kristus setia mencintai kami. Amin.

.

Sumber renungan: Ziarah Batin 2021, OBOR Indonesia

Baca Juga: https://staging2.christina.my.id/bacaan-injil-hari-ini-panduan-hidup-beriman/

.

.

Renungan Bacaan Injil Hari Ini 21 Agustus 2021

Sabda Tuhan Hari Ini 21 Agustus 2021, Mat 23:1-12

Sekali peristiwa, berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: “Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya.

Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya. Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang; mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat; mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi. Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara.

Dan janganlah kamu menyebut siapa pun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga. Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias. Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”

Renungan

Setiap orang ingin mendapat pengakuan dan diperlakukan secara terhormat oleh orang lain. Namun, pengakuan dan penghormatan tersebut hanya bermakna bila bukan merupakan pujian kosong, melainkan didasarkan pada kinerja dan integritas moral orang yang bersangkutan.

Maka, pengakuan dan penghormatan tak perlu dicari-cari, sebab keduanya akan datang dengan sendirinya bila orang bekerja secara jujur, tulus, kreatif, dan profesional. Dalam bacaan pertama, ketulusan, kesetiaan, dan kinerja Rut di negeri baru yang ia tinggali membuat Boas terkesan sehingga ia memperlakukan Rut secara terhormat. Bahkan, Boas, orang Yahudi itu, tak segan-
segan untuk menebus dan memperistri Rut, yang adalah orang asing.

Dalam Injil, orang-orang Farisi dan ahli Taurat mencari pujian kosong. Mereka rajin beribadah dan beramal hanya agar dikagumi oleh orang banyak dan mereka senang dipanggil dengan gelar-gelar kehormatan mereka. Apresiasi tanpa didasarkan pada prestasi adalah sanjungan hampa. Mereka lebih mementingkan dekorasi daripada substansi. Mereka berusaha menciptakan impresi dengan ujaran-ujaran indah dan ajaran-ajaran saleh.

Menurut Yesus, “mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya” (ay. 5). Tanpa kinerja dan integritas moral, mereka pantas dicela. Tentu sebagai manusia dan karena posisi mereka sebagai pemuka agama, mereka perlu diperlakukan dengan hormat seperlunya. Tak heran, Yesus menyarankan agar para murid tetap mendengarkan pemuka seperti itu, walaupun tak perlu meneladan perbuatan mereka.

Ya Bapa, semoga dalam setiap hal yang kamni lakukan kami selalu mengutamakan kinerja dan integritas moral serta tidak mencari-cari pujian hampa. Amin.

.

Sumber renungan: Ziarah Batin 2021, OBOR Indonesia

Baca Juga: https://staging2.christina.my.id/bacaan-injil-hari-ini-panduan-hidup-beriman/

.

.

Renungan Bacaan Injil Hari Ini 20 Agustus 2021

Sabda Tuhan Hari Ini 20 Agustus 2021, Mat 22:34-40

Ketika orang- orang Farisi mendengar, bahwa Yesus telah membuat orang-orang Saduki itu bungkam, berkumpullah mereka dan seorang dari mereka, seorang ahli Taurat, bertanya untuk mencobai Dia: “Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”

Renungan

Kualitas seseorang ditentukan oleh kepribadiannya, bukan oleh ras dan asal-usul daerahnya. Rut adalah orang asing, orang Moab, yang tinggal bersama Naomi, mertuanya yang berkebangsaan Yahudi. Keduanya menjadi janda dan Naomi menawarkan kepada Rut sekiranya ia mau kembali kepada bangsa dan daerah asalnya.

Namun, Rut menolak karena ingin menemani serta hidup bersama mertuanya. Kesetiaan Rut pada Naomi merupakan wujud kasih yang mengatasi sekat-sekat SARA. Hal itu terjadi karena Rut adalah orang yang tidak dikuasai primordialisme tetapi selalu terbuka kepada kebenaran dan kemanusiaan yang universal. Maka, ia pun bisa mengatakan kepada Naomi, “Bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku” (Rut. 1:16).

Bila cinta kasih itu menyatukan, maka kebencian memisahkan. Karena membenci Yesus, orang-orang Farisi hendak menjebak dan menjatuhkan Yesus dengan menanyakan manakah hukum yang terutama dalam seluruh kitab. Dengan mengatakan: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (ay.39), Yesus sekaligus menyindir dan menunjukkan kegagalan orang-orang Farisi dalam mewujudkan hukum yang terutama itu.

Mereka memiliki pengetahuan tetapi tak dapat merealisasikannya dalam tindakan, padahal kasih bukan soal pengetahuan tetapi soal perbuatan. Orang-orang Farisi itu bermutu dalam ilmu, tetapi tak berkualitas dalam amal kasih. Rasa benci bisa membuat orang tertutup pada kebenaran dan kemanusiaan yang universal.

Bapa, semoga kami semakin mengasihi Engkau dengan kasih yang benar, sehingga kami pun dapat mengasihi sesama tanpa terhalang oleh batas-batas SARA, Amin.

.

Sumber renungan: Ziarah Batin 2021, OBOR Indonesia

Baca Juga: https://staging2.christina.my.id/bacaan-injil-hari-ini-panduan-hidup-beriman/

.

.

Renungan Bacaan Injil Hari Ini 19 Agustus 2021

Sabda Tuhan Hari Ini 19 Agustus 2021, Mat 22:1-14

Pada suatu ketika, Yesus berbicara kepada para imam kepala dan pemuka rakyat dengan memakai perumpamaan. la bersabda, “Hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja, yang mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya. Ia menyuruh hamba-hambanya memanggil orang-orang yang telah diundang ke perjamuan kawin itu, tetapi orang-orang itu tidak mau datang.

la menyuruh pula hamba-hamba lain, pesannya: Katakanlah kepada orang-orang yang diundang itu: Sesungguhnya hidangan telah kusediakan, lembu-lembu jantan dan ternak piaraanku telah disembelih; semuanya telah tersedia, datanglah ke perjamuan kawin ini. Tetapi orang-orang yang diundang itu tidak mengindahkannya; ada yang pergi ke ladangnya, ada yang pergi mengurus usahanya, dan yang lain menangkap hamba-hambanya itu, menyiksanya dan membunuhnya.

Maka murkalah raja itu, lalu menyuruh pasukannya ke sana untuk membinasakan pembunuh-pembunuh itu dan membakar kota mereka. Sesudah itu ia berkata kepada hamba-hambanya: Perjamuan kawin telah tersedia, tetapi orang-orang yang diundang tadi tidak layak untuk itu. Sebab itu pergilah ke persimpangan-persimpangan jalan dan undanglah setiap orang yang kamu jumpai
di sana ke perjamuan kawin itu.

Maka pergilah hamba-hamba itu dan mereka mengumpulkan semua orang yang dijumpainya di jalan-jalan, orang-orang jahat dan orang-orang baik, sehingga penuhlah ruangan perjamuan kawin itu dengan tamu. Ketika raja itu masuk untuk bertemu dengan tamu-tamu itu, ia melihat seorang yang tidak berpakaian pesta. la berkata kepadanya: Hai saudara, bagaimana engkau masuk ke mari dengan tidak mengenakan pakaian pesta? Tetapi orang itu diam saja. Lalu kata raja itu kepada hamba-hambanya: Ikatlah kaki dan tangannya dan campakkanlah orang itu ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi. Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih.”

Renungan

Orang yang memiliki integritas itu tak pernah mengobral janji tanpa realisasi. Inilah yang dilakukan Yefta. la telah berjanji, bila ia menang perang, ia hendak mengurbankan apapun yang pertama keluar dari rumahnya sewaktu pulang untuk Tuhan. Yang keluar ialah anak tunggalnya. Merawat integritas tak dapat diwujudkan tanpa komitmen dan pengurbanan diri. Meski berat, Yefta mengurbankan anaknya: “Aku telah membuka mulutku bernazar kepada Tuhan, dan tidak dapat aku mundur (Hak 11:35). Ia pun berkenan di mata Tuhan.

Allah tak pernah ingkar janji. la bagaikan seorang raja yang mengundang orang untuk datang ke dalam pesta sang putra. Karena para undangan menolak datang, ia menyuruh utusannya untuk mengundang semua orang, entah itu orang baik atau orang jahat, ke dalam pesta. Ia tidak memandang perbedaan; semua diberi kesempatan tanpa pandang bulu. Ada yang meng-iya-kan tetapi kemudian datang tanpa pakaian pesta yang layak. Orang ini gagal satu kata satu perbuatan. Iya di mulut tanpa diikuti dengan tindakan yang sepadan. Menggenapi apa yang telah dikatakan butuh perjuangan. Kata-kata pujian kita menyukakan Tuhan, tapi bila tanpa diikuti dengan tindakan yang sepadan, semuanya itu tak akan membuat-Nya sungguh berkenan.

Tuhan, ajarlah kami untuk bisa satu kata dan satu perbuatan. Amin.

.

Sumber renungan: Ziarah Batin 2021, OBOR Indonesia

Baca Juga: https://staging2.christina.my.id/bacaan-injil-hari-ini-panduan-hidup-beriman/

.

.

Renungan Bacaan Injil Harian 18 Agustus 2021

Sabda Tuhan Hari Ini 18 Agustus 2021, Mat 20:1-16a

Sekali peristiwa, Yesus mengemukakan perumpamaan berikut kepada murid-murid-Nya, “Hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang tuan rumah yang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya. Setelah ia sepakat dengan pekerja-pekerja itu mengenai upah sedinar sehari, ia menyuruh mereka ke kebun anggurnya. Kira-kira pukul sembilan pagi ia keluar pula dan dilihatnya ada lagi orang-orang lain menganggur di pasar.

Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku dan apa yang pantas akan kuberikan kepadamu. Dan mereka pun pergi. Kira-kira pukul dua belas dan pukul tiga petang ia keluar pula dan melakukan sama seperti tadi. Kira-kira pukul lima petang ia keluar lagi dan mendapati orang-orang lain pula, lalu katanya kepada mereka: Mengapa kamu menganggur saja di sini sepanjang hari? Kata mereka kepadanya: Karena tidak ada orang mengupah kami. Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku.

Ketika hari malam tuan itu berkata kepada mandurnya: Panggillah pekerja-pekerja itu dan bayarkan upah mereka, mulai dengan mereka yang masuk terakhir hingga mereka yang masuk terdahulu. Maka datanglah mereka yang mulai bekerja kira-kira pukul lima dan mereka menerima masing-masing satu dinar. Kemudian datanglah mereka yang masuk terdahulu, sangkanya akan mendapat lebih banyak, tetapi mereka pun menerima masing-masing satu dinar juga.

Ketika mereka menerimanya, mereka bersungut-sungut kepada tuan itu, katanya: Mereka yang masuk terakhir ini hanya bekerja satu jam dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari. Tetapi tuan itu menjawab seorang dari mereka: Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari? Ambillah bagianmu dan pergilah; aku mau memberikan kepada orang yang masuk terakhir ini sama seperti kepadamu.”

(Bacaan selengkapnya lih. Alkitab atau “Buku Bacaan I: Bacaan Misa Harian” hlm. 1048-1050).

Renungan

Seorang imam lansia di Panti Wreda dikunjungi oleh umat yang pernah dilayaninya. Waktu berpamitan, si umat meminta, “Tolong doakan kami.” Imam itu menyodorkan buku tulis, katanya, “Tulis apa intensimu di sini!” Si umat itu kebingungan karena ia tidak tahu apa yang sebenarnya ia inginkan.

Terkadang, waktu kita berdoa kita tidak sungguh-sungguh tahu apa yang sedang kita minta. Inilah yang dialami bangsa Israel. Mereka tidak puas dipimpin oleh para hakim, merasa takut akan kehebatan bangsa-bangsa sekitar, lalu meminta seorang raja yang kuat kepada Tuhan. Namun, lewat Yotam, Allah mengingatkan bahwa raja kuat yang mereka minta itu bisa berubah menjadi “semak duri'”, yakni seorang tiran yang semena-mena (bdk. Hak. 9:14-15).

Si pekerja yang bekerja sedari pagi dalam Injil juga tidak paham apa yang sebenarnya ia minta dari si tuan. la sudah mendapatkan bagian yang menjadi haknya sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati. la merasa sedang meminta keadilan, namun sebernarnya ia sedang mengekspresikan keirihatiannya saja akan kemurahan hati si tuan kepada pekerja yang mulai bekerja belakangan. “Iri hatikah engkau, karena aku murah hati?” (ay. 15). Seperti lsrael, pekerja terdahulu meminta karena terdorong oleh rasa iri hati; mereka ingin memiliki apa yang dimiliki oleh orang lain. Rasa iri  muncul karena orang kurang mensyukuri apa yang baik yang telah dianugerahkan Tuhan kepadanya.

Ya Bapa, semoga kami mudah ikut bergembira melihat kemurahan hati-Mu. Amin.

.

Sumber renungan: Ziarah Batin 2021, OBOR Indonesia

Baca Juga: https://staging2.christina.my.id/bacaan-injil-hari-ini-panduan-hidup-beriman/

.

.

Renungan Bacaan Injil Harian 17 Agustus 2021

Sabda Tuhan Hari Ini 17 Agustus 2021, Mat 22:15-21

Sekali peristiwa, orang-orang Farisi berunding bagaimana mereka dapat menjerat Yesus dengan suatu pertanyaan. Mereka menyuruh murid-murid mereka bersama-sama orang-orang Herodian bertanya kepada-Nya: “Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut kepada siapa pun juga, sebab Engkau tidak mencari muka. Katakanlah kepada kami pendapat-Mu: Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?”

Tetapi Yesus mengetahui kejahatan hati mereka itu lalu berkata: “Mengapa kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik?Tunjukkanlah kepada-Ku mata uang untuk pajak itu.” Mereka membawa suatu dinar kepada-Nya. Maka la bertanya kepada mereka: “Gambar dan tulisan siapakah ini?” Jawab mereka: “Gambar dan tulisan Kaisar.” Lalu kata Yesus kepada mereka: “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.”

Renungan

Kemerdekaan adalah hak semua orang. Tak ada seorang pun yang ingin hidup terkekang atau diatur-atur oleh orang lain. Semua ingin bebas mengekspresikan diri, bebas beribadah, bebas memilih jodoh, pekerjaan, dst. Meski demikian, tidak semua orang sungguh siap hidup dalam kemerdekaan. Agar kemerdekaan membawa berkah, diperlukan kemampuan memimpin diri sendiri, sikap bertanggung jawab, serta sikap hormat pada kebebasan sesama. Tanpa itu semua, kemerdekaan bisa menjadi bencana. Tak sedikit yang memaknai kemerdekaan sebagai bebas sesuka hati’, tanpa peduli apakah perbuatan dan kata-katanya melukai harga diri, martabat, atau rasa keadilan sesama. Kebebasan kita dibatasi oleh nilai-nilai kebaikan dan norma-norma keadilan. Petrus mengingatkan, “Hiduplah sebagai orang-orang merdeka, bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu… Hormatilah semua orang… takutlah akan Allah. Hormatilah raja” (1 Ptr. 2:16-17). Kebebasan kita hidupi dalam batas-batas tanggung jawab kita pada sesama, negara, dan Allah. Orang yang menghindari membayar pajak itu serupa dengan orang yang malas beribadah di hari Minggu: belum siap atau belum sungguh merdeka. Orang yang merdeka melakukan kewajibannya dengan sukarela, sedangkan orang yang belum’ merdeka melakukan kewajibannya karena terpaksa. Orang yang merdeka tidak takut menjadi hamba nilai-nilai kebaikan dan norma-norma keadilan, sementara orang yang belum merdeka mencari-cari kesempatan untuk melanggarnya dan melepaskan tanggung jawab.

Bapa. kami bersyukur atas rahmat kemerdekaan bangsa kami. Ajarlah untuk menghidupi kemerdekaan secara bertanggung jawab. Amin.

.

Sumber renungan: Ziarah Batin 2021, OBOR Indonesia

Baca Juga: https://staging2.christina.my.id/bacaan-injil-hari-ini-panduan-hidup-beriman/

.

.

Renungan Bacaan Injil Harian 16 Agustus 2021

Sabda Tuhan Hari Ini 16 Agustus 2021, Mat 19:16-22

Pada suatu hari, ada seorang datang kepada Yesus, dan berkata: “Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Jawab Yesus: “Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik? Hanya satu yang baik. Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah.” Kata orang itu kepada-Nya: “Perintah yang mana?”

Kata Yesus: “Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, hormatilah ayahmu dan ibumu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Kata orang muda itu kepada-Nya: “Semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang?” Kata Yesus kepadanya: “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku” Ketika orang muda itu mendengar perkataan itu, pergilah ia dengan sedih, sebab banyak hartanya.

Renungan

Santo lgnatius Loyola membedakan antara (1) orang yang senang menjadi orang Kristen ‘biasa-biasa saja’, yakni berpuas diri dengan hidup benar tanpa berbuat dosa atau tanpa melanggar perintah Tuhan; dan (2) orang yang tak cepat berpuas diri dan mau menjadi orang kristen ‘yang unggul’, yakni dengan tidak sekadar tak melanggar perintah Tuhan, tetapi mengikuti Yesus secara lebih radikal: hidup miskin seperti Yesus yang miskin, tak takut dihina atau dianggap bodoh demi imannya, seperti Yesus yang telah lebih dahulu diperlakukan demikian.

Anak muda yang mendekati Yesus telah melaksanakan kesepuluh perintah Allah. la telah memenuhi standar untuk jadi ‘orang Kristen biasa’, dan hal itu pantas diapresiasi serta sudah cukup bagi dia untuk memperoleh hidup kekal. Namun, Yesus menantang anak muda itu: “Jikalau engkau hendak sempurna… juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang miskin.. kemudian ikutilah Aku” (ay. 21). Kalau anak muda itu ingin menjadi ‘orang Kristen yang unggul’ dia harus berani hidup miskin seperti Yesus dan mengikuti Dia berkeliling mewartakan Kerajaan Allah.

Kesalehan Kristiani tidak pernah bersifat melulu individual melainkan selalu bersifat eklesial dan sosial. Orang yang sungguh suci itu tidak pernah egois, sebab kasih akan Allah yang dimiliknya pasti mendorongnya guna memberikan diri bagi pelayanan pada sesama dalam Gereja dan masyarakat. Kesalehan individual, walau tak salah, namun belum sempurna bila belum menjadi berkah bagi sesama.

Ya Tuhan, semoga kami tidak cepat berpuas diri karena tidak melanggar perintah-Mu, tetapi tergelitik untuk menjadi lebih sempurna dengan melayani sesama. Amin.

.

Sumber renungan: Ziarah Batin 2021, OBOR Indonesia

Baca Juga: https://staging2.christina.my.id/bacaan-injil-hari-ini-panduan-hidup-beriman/

.

.

Renungan Bacaan Injil Minggu 15 Agustus 2021

Sabda Tuhan Hari Ini 15 Agustus 2021, Luk 1:39-56

Beberapa waktu sesudah kedatangan Malaikat Gabriel, bergegaslah Maria ke pegunungan menuju sebuah kota di Yehuda. Di situ la masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet. Dan ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring: “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu.
Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Dan berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana.”
Lalu kata Maria: “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab la telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus. Dan rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia.
la memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; la menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah; la melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar.” (Bacaan selengkapnya lih. Alkitab atau “Buku Bacaan II”, hlm. 62-63).

Renungan

Jika logika matematika itu linear, logika iman itu penuh dengan paradoks. Maria yang berada di bawah salib merepresentasikan Gereja. Gereja kehilangan seorang Yesus sebagai manusia, namun karena kehilangan Anak Manusia itu, Gereja justru mendapatkan rahmat penebusan bagi semua orang.
Karena menghampakan diri sampai terhina di salib, Yesus justru dipermuliakan oleh Allah melalui kebangkitan. Dengan menjadi yang terakhir, Yesus justru menjadi yang pertama yang dibangkitkan dari antara orang mati (bdk. 1Kor. 15:20). Karena lahir sebagai bayi lemah dari rahim Perawan Maria, justru Yesus menjadi kekuatan dahsyat yang menyelamatkan: “Sekarang telah tiba keselamatan dan kuasa dan pemerintahan Allah kita…” (Why. 12:10).
Maria adalah perempuan perkasa, Justru karena ia taat pada perintah Allah. Ia mengosongkan diri dengan mengesampingkan niat dan impian pribadi lalu memenuhi diri dengan memeluk kehendak dan rencana Allah. Justru karena “kerendahan hamba-Nya”, Allah menjadikan Maria “yang berbahagia” dan Allah mengerjakan perbuatan -perbuatan besar” atasnya (ay. 48-49).
Karena kerendahan hati dan ketaatannya pada Allah, Maria diangkat ke surga, jiwa dan badan. Maria adalah model atau teladan bagi Gereja. Jika Gereja tidak mencari kemuliaan dan kebesaran duniawi tetapi mau ‘ambyar’ dengan menghampakan diri lewat pelayanan dan amal kepada yang orang-orang yang renda” dan orang-orang yang lapar Gereja akan ikut ditinggikan bersama Maria.

Bapa, semoga kami selalu rendah hati dan tidak mencari kemegahan duniawi. Amin.

Sumber renungan: Ziarah Batin 2021, OBOR Indonesia

Baca Juga: https://staging2.christina.my.id/bacaan-injil-hari-ini-panduan-hidup-beriman/

Renungan Bacaan Injil Harian 14 Agustus 2021

Sabda Tuhan Hari Ini 14 Agustus 2021, Mat 19:13-15

Sekali peristiwa, orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya la meletakkan tangan-Nya atas mereka dan mendoakan mereka; akan tetapi murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu. Tetapi Yesus berkata: “Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga.” Lalu la meletakkan tangan-Nya atas mereka dan kemudian la berangkat dari situ.

Renungan

Anak kecil itu bisa bertingkah lucu dan menyenangkan, tetapi kadang mereka bisa mengganggu dan menjengkelkan. Cinta dan perhatian yang dicurahkan kepada mereka acap kali menuntut banyak kesabaran. Bila para murid Yesus memarahi anak-anak yang datang mendekati Yesus, boleh jadi karena mereka kehabisan kesabaran dan menganggap anak-anak sebagai pengganggu saja. Namun, Yesus mengingatkan para murid bahwa Kerajaan Allah itu tidak ditujukan hanya kepada mereka yang telah dewasa, dapat berpikir sendiri, dan hidup tertib. Kerajaan Allah juga ditujukan kepada mereka yang kecil, kekanak-kanakan, belum bisa berpikir mandiri, dan mungkin kehadirannya mengganggu.
Allah tidak pilih kasih, tetapi sengaja memberi perhatian ekstra kepada mereka yang lemah dan lebih memerlukan cinta serta perhatian. Bersikap adil bagi Allah tidak berarti memperlakukan semua orang secara sama begitu saja, tetapi masing-masing diperlakukan seturut kondisi dan kebutuhannya. Bangsa Israel sering kali bertingkah seperti kanak-kanak: mudah tergoda mencari nikmat sesaat sehingga sangat mudah pula merengek kesakitan bila harus menanggung kesukaran.
Mereka kerap tidak tertib mengikuti perintah Allah, mudah lupa atau ingkar janji, lalu menyembah ‘allah’ lain, yaitu ‘allah’ yang memberi kenikmatan sesuai harapan mereka sendiri (berhala). Namun, Allah mengasihi mereka dengan kesabaran dan keadilan. la tahu kapan harus menghukum dan memberi didikan. Tiap kali la membarui perjanjian dengan mereka dan tak jemu-jemunya mengingatkan, “Sekarang, jauhkanlah Allah asing yang ada di tengah-tengah kamu dan condongkanlah hatimu kepada Tuhan, Allah Israel” (Yos 24:23). Adakah Allah lain dalam hidupku?

Bapa Yang Mahabaik, maafkanlah kami bila sering bersikap kekanak-kanakan di hadapanmu dan jauhkanlah kami dari segala bentuk berhala yang menyenangkan namun menyesatkan. Amin.

Sumber renungan: Ziarah Batin 2021, OBOR Indonesia

Baca Juga: https://staging2.christina.my.id/bacaan-injil-hari-ini-panduan-hidup-beriman/

Renungan Bacaan Injil Harian 13 Agustus 2021

Sabda Tuhan Hari Ini 13 Agustus 2021, Mat 19:3-12

Pada suatu hari, datanglah orang-orang Farisi kepada Yesus, untuk mencobai Dia. Mereka bertanya: “Apakah diperbolehkan orang menceraikan istrinya dengan alasan apa saja?” Jawab Yesus: “Tidakkah kamu baca, bahwa la yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan? Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.”

Kata mereka kepada-Nya: “Jika demikian, apakah sebabnya Musa memerintahkan untuk memberikan surat cerai jika orang menceraikan istrinya?” Kata Yesus kepada mereka: “Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan istrimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian. Tetapi Aku berkata kepadamu: Barangsiapa menceraikan istrinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah.”

Murid-murid itu berkata kepada-Nya: “Jika demikian halnya hubungan antara suami dan istri, lebih baik jangan kawin.” Akan tetapi la berkata kepada mereka: “Tidak semua orang dapat mengerti perkataan itu, hanya mereka yang dikaruniai saja. Ada orang yang tidak dapat kawin karena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya, dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Sorga. Siapa yang dapat mengerti hendaklah ia mengerti.”

Renungan

Seperti digambarkan dalam Kidung Agung, relasi Israel dengan Allah itu seperti relasi cinta sepasang kekasih. Segera sesudah memasuki Tanah Terjanji, Yosua mengajak Israel membarui perjanjian mereka dengan Allah. Yosua tidak menjelaskan siapakah Allah Tuhan mereka itu melalui konsep-konsep abstrak, melainkan melalui cerita atau kisah tentang kasih Allah yang konkret kepada bangsa Israel, mulai dari zaman Abraham, Ishak, Yakub, Musa sampai kini. Kenangan akan perbuatan baik serta kesetiaan Allah dalam sejarah hidup bangsa mereka, menyalakan kembali api cinta kepada Allah sehingga mereka pun terpacu untuk setia pada perjanjian dengan Allah.

Dalam perkawinan, sepasang kekasih mengikat perjanjian untuk setia sebagai suami-istri sepanjang hayat dalam untung dan malang, di kala sehat maupun sakit, di saat ekonomi keluarga lancar ataupun seret. Seperti dalam sejarah Israel, tentu selalu ada kesulitan-relasional, psikologis, ekonomis, dll.—yang membuat timbulnya keraguan akan perlunya mempertahankan perjanjian. Namun, Yesus mengingatkan bahwa ikatan perkawinan kristiani itu tidak terceraikan. Pada saat-saat krisis, mengingat kembali segala perbuatan baik yang telah dilakukan oleh pasangan dapat menyelamatkan bahtera keluarga. Kenangan akan perbuatan baik sang kekasih, bisa memacu untuk tetap setia pada perjanjian, juga meski Cinta sang kekasih tak sempurna.

Ya Bapa, bantulah keluarga-keluarga kristiani yang tengah mengalami kesulitan dalam perkawinan untuk menemukan kembali api cinta di antara mereka. Amin.

Sumber renungan: Ziarah Batin 2021, OBOR Indonesia

Baca Juga: https://staging2.christina.my.id/bacaan-injil-hari-ini-panduan-hidup-beriman/

You cannot copy content of this page