Bacaan Injil Hari Ini Rabu 1 September 2021

Bacaan Injil Hari Ini Rabu 1 September 2021, Luk 4:38-44

Setelah meninggalkan rumah ibadat di Kapernaum, Yesus pergi ke rumah Simon. Adapun ibu mertua Simon demam keras dan mereka minta kepada Yesus supaya menolong dia. Maka la berdiri di sisi perempuan itu, lalu menghardik demam itu, dan penyakit itu pun meninggalkan dia.

Perempuan itu segera bangun dan melayani mereka. Ketika matahari terbenam, semua orang membawa kepada-Nya orang-orang sakitnya, yang menderita bermacam-macam penyakit. la pun meletakkan tangan-Nya atas mereka masing-masing dan menyembuhkan mereka.

Dari banyak orang keluar juga setan-setan sambil berteriak: “Engkau adalah Anak Allah.” Lalu la dengan keras melarang mereka dan tidak memperbolehkan mereka berbicara, karena mereka tahu bahwa la adalah Mesias.

Ketika hari siang, Yesus berangkat dan pergi ke suatu tempat yang sunyi. Tetapi orang banyak mencari Dia, lalu menemukan-Nya dan berusaha menahan Dia supaya jangan meninggalkan mereka.

Tetapi la berkata kepada mereka: “Juga di kota-kota lain Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah sebab untuk itulah Aku diutus.” Dan la memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat di Yudea.

Renungan

Firman Tuhan pada hari ini berkisah tentang Yesus yang menyembuhkan mertua Simon Petrus dan banyak orang sakit lainnya. Dengan mukjizat itu, Yesus sedang mewartakan Kerajaan Allah yang ditandai dengan banyaknya orang yang terbebaskan dari berbagai penyakit dan mereka menjadi percaya.

Bahkan, mereka menghendaki agar Yesus tinggal lebih lama dengan mereka. Kita semua yang telah dibaptis juga diutus untuk turut mewartakan Kerajaan Allah dengan cara mewartakan kasih Allah yang membebaskan, menghibur, menguatkan, mendamaikan, dan memberdayakan setiap pribadi.

Yesus mewartakan kasih dengan kata-kata dan tindakan. Kita pun dipanggil untuk melakukan hal yang sama dalam kehidupan sehari-hari, di tengah keluarga, tempat kerja, lingkungan, dan di mana pun kita berada.

Agar kasih Allah dapat dirasakan oleh sebanyak mungkin orang, maka kita diajak untuk menebarkan kasih itu kepada siapa pun juga, tanpa membeda-bedakan golongan, suku, agama, dan budaya.

Kalau semakin banyak orang dapat merasakan kasih Allah maka semakin banyak orang akan mengalami kebahagiaan, dan kita pun turut berbahagia karena hidup kita bisa berguna bagi orang lain.

Allah Yang Mahakasih, semoga kami selalu rindu untuk hidup dalan kasih-Mu dan dapat membagikan kasih itu dengan tulus lewat tindakan-tindakan kecil dalam hidup kami sehari-hari. Amin.

.

Sumber renungan: Ziarah Batin 2021, OBOR Indonesia

Baca Juga: https://staging2.christina.my.id/bacaan-injil-hari-ini-panduan-hidup-beriman/

.

.

Bacaan Injil Hari Ini Selasa 31 Agustus 2021

Bacaan Injil Hari Ini Selasa 31 Agustus 2021, Luk 4:31-37

Sekali peristiwa, Yesus pergi ke Kapernaum, sebuah kota di Galilea. Di situ, la mengajar pada hari-hari Sabat. Orang-orang takjub
mendengar pengajaran-Nya, sebab perkataan-Nya penuh kuasa. Di dalam rumah ibadat itu ada seorang yang kerasukan setan dan ia berteriak dengan suara keras:

“Hai Engkau, Yesus orang Nazaret, apa urusan-Mu dengan kami? Engkau datang hendak membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah.” Tetapi Yesus menghardiknya, kata-Nya: “Diam, keluarlah dari padanya!

Dan setan itu pun menghempaskan orang itu ke tengah-tengah orang banyak, lalu keluar dari padanya dan sama sekali tidak menyakitinya. Dan semua orang takjub, lalu berkata seorang kepada yang lain, katanya:

“Alangkah hebatnya perkataan ini! Sebab dengan penuh wibawa dan kuasa la memberi perintah kepada roh-roh jahat dan mereka pun keluar.” Dan tersebarlah berita tentang Dia ke mana-mana di daerah itu.

Renungan

Menurut St. lgnatius Loyola, salah satu ciri roh jahat ialah bertindak seperti buaya darat: Lebih menyukai kegelapan karena ingin menyembunyikan perbuatan maksiatnya. Terang kebenaran, transparansi ditakutinya.

St. Paulus menegaskan bahwa orang kristiani mestinya bukan merupakan “orang-orang malam atau orang-orang kegelapan”, melainkan “anak-anak terang dan anak-anak siang” (1 Tes. 5:4-5).

Orang yang hidupnya benar tidak takut berterus terang dan transparan. Kebenaran itu memang memerdekakan. Orang seperti ini selalu siap menyambut kedatangan Tuhan. Sementara orang yang hidupnya tidak benar selalu bergerak dalam gelap karena takut ketahuan.

Orang seperti ini tidak merdeka, dibelenggu oleh kecemasan, dan malah takut akan kedatangan Tuhan. Dalam Injil, orang yang kerasukan setan ketakutan didatangi Yesus. la tahu bahwa Yesus adalah Yang Kudus dari Allah. Setan dalam diri orang itu menjadi cemas dan gentar karena berpikir Yesus hendak menghancurkannya.

Orang yang dikuasai oleh roh jahat memang takut pada orang-orang yang hidupnya suci dan benar. Anak-anak kegelapan sebenarnya gentar pada anak-anak terang, orang-orang yang tak jujur atau korup dalam suatu instansi merasa terancam
dengan kehadiran orang jujur dan bersih.

Sebagaimana Yesus disegani oleh orang banyak, kita pun, bila setia hidup sebagai anak-anak terang, akan disegani. Cara hidup kita yang jujur dan bersih menjadi cambuk bagi orang-orang yang tidak jujur.

Tuhan, bantulah kami supaya selalu setia hidup sebagai anak-anak terang. Amin.

.

Sumber renungan: Ziarah Batin 2021, OBOR Indonesia

Baca Juga: https://staging2.christina.my.id/bacaan-injil-hari-ini-panduan-hidup-beriman/

.

.

Bacaan Injil Hari Ini Senin 30 Agustus 2021

Bacaan Injil Hari Ini Senin 30 Agustus 2021, Luk 4:16-30

Sekali peristiwa, datanglah Yesus di Nazaret, tempat Ia dibesarkan. Seperti biasa, pada hari Sabat la masuk ke rumah ibadat, lalu berdiri hendak membaca dari Alkitab.

Kepada-Nya diberikan kitab nabi Yesaya dan setelah dibuka-Nya, la menemukan nas, di mana ada tertulis: “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab la telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin;

dan la telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.”

Kemudian la menutup kitab itu, memberikannya kembali kepada pejabat, lalu duduk; dan mata semua orang dalam rumah ibadat itu tertuju kepada-Nya. Lalu la memulai mengajar mereka, kata-Nya: “Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya.”

Dan semua orang itu membenarkan Dia dan mereka heran akan kata-kata yang indah yang diucapkan-Nya, lalu kata mereka: “Bukankah la ini anak Yusuf?” Maka berkatalah la kepada mereka: “Tentu kamu akan mengatakan pepatah ini kepada-Ku: Hai tabib, sembuhkanlah diri-Mu sendiri.

Perbuatlah di sini juga, di tempat asal-Mu ini, segala yang kami dengar yang telah terjadi di Kapernaum!” Dan kata-Nya lagi: “Aku
berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya.” (Bacaan selengkapnya lih. Alkitab atau “Buku Bacaan II: Bacaan Misa Harian”, hlm. 1099-1100).

Renungan

Martin Luther King mengatakan, “Kita harus menerima kekecewaan yang terbatas, namun tak boleh kehilangan harapan yang tak terbatas. Kekecewaan itu wajar terjadi dalam hidup tetapi tak perlu membiarkan diri kita dikuasai oleh rasa kecewa.

Kita perlu berpegang pada dan membiarkan diri kita ditaburi oleh pengharapan yang tak terbataş. Pengharapan membuat kita percaya kepada segala kemungkinan akan perbaikan, sebab kita fokus pada sisi positif. Dalam kekecewaan orang fokus pada sisi negatif saja.

Maka, sementara pengharapan itu menghidupkan, membangkitkan semangat; kekecewaan itu mematikan, mematahkan semangat. Orang yang tak berpengharapan telah mati selama masih hidup.

Dalam bacaan pertama, Paulus mengingatkan bahwa berpengharapan merupakan ciri orang yang percaya pada Kristus: “Kamu jangan berdukacita seperti orang lain yang tak mempunyai pengharapan” (1Tes. 4:13). Dalam Injil, alih-alih memupuk diri dan menerima Yesus, orang yang sekampung halaman dengan Yesus menolak Dia karena membiarkan diri dikuasai oleh kekecewaan dan skeptisisme.

Mereka kecewa dan skeptis bahwa anak Yusuf, si tukang kayu, bisa menjadi Mesias. Mereka terpaku pada apa yang menurut mereka merupakan kekurangan. Mereka gagal membuka diri dan berpegang pada pengharapan bahwa juga dari yang terkecil dan lemah di dunia ini Allah bisa mendatangkan keselamatan.

Berpengharapan berarti yakin bahwa Allah bisa melakukan hal-hal di luar batas-batas kemungkinan manusiawi.

Ya Allah, penuhilah hati kami dengan pengharapan yang menghidupkan. Amin.

.

Sumber renungan: Ziarah Batin 2021, OBOR Indonesia

Baca Juga: https://staging2.christina.my.id/bacaan-injil-hari-ini-panduan-hidup-beriman/

.

.

Bacaan Injil Hari Ini Minggu 29 Agustus 2021

Bacaan Injil Hari Ini Minggu 29 Agustus 2021, Mrk 7:1-8.14-15.21-23

Pada suatu hari, serombongan orang Farisi dan beberapa ahli Taurat dari Yerusalem datang menemui Yesus. Mereka melihat bahwa beberapa orang murid-Nya makan dengan tangan najis, yaitu dengan tangan yang tidak dibasuh.

Sebab orang-orang Farisi seperti orang-orang Yahudi lainnya tidak makan kalau tidak melakukan pembasuhan tangan lebih dulu, karena mereka berpegang pada adat istiadat nenek moyang mereka; dan kalau pulang dari pasar mereka juga tidak makan kalau tidak lebih dahulu membersihkan dirinya.

Banyak warisan lain lagiyang mereka pegang, umpamanya hal mencuci cawan, kendi dan perkakas-perkakas tembaga. Karena itu orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu bertanya kepada-Nya: “Mengapa murid-murid-Mu tidak hidup menurut adat istiadat nenek moyang kita, tetapi makan dengan tangan najis?”

Jawab-Nya kepada mereka: “Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia.

Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia. ” Lalu Yesus memanggil lagi orang banyak dan berkata
kepada mereka: “Kamu semua, dengarlah kepada-Ku dan camkanlah. Apa pun dari luar, yang masuk ke dalam seseorang, tidak dapat menajiskannya, tetapi apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya.

Sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang.”

Renungan

Kebesaran suatu bangsa tidak diukur secara kuantitatif saja, melainkan lebih-lebih secara kualitatif. Bacaan pertama mengindikasikan bahwa suatu bangsa menjadi besar manakala memiliki dan menerapkan hukum-hukum yang adil. Hukum yang adil merupakan buah dari akal budi dan kebijaksanaan yang diterangi oleh sabda Tuhan.

Maka, Musa mengimbau umat Israel untuk setia mendengarkan dan melaksanakan sabda Tuhan, serta terlebih lagi: “Janganlah kamu menambahi apa yang kuperintahkan kepadamu, dan janganlah kamu menguranginya” (Ul. 4:2).Orang-orang Farisi merasa diri besar tetapi sebenarnya kerdil. Mereka hidup dalam ilusi.

Mereka merasa diri menjadi penyambung lidah Tuhan, padahal “ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia” (ay. 7). Mereka mengabaikan perintah Tuhan dan lebih memilih “berpegang pada adat istiadat manusia” (ay. 8). Kemunafikan adalah ekspresi kekerdilan hati mereka.

Oleh sebab itu, Rasul Yakobus menasihati jemaat kristiani: “Hendaklah kamu menjadi pelaku firman, dan bukan hanya pendengar. Sebab, jika tidak demikian, kamu menipu diri sendiri” (Yak. 1:22). Kesetiaan pada tradisi perlu dibarengi kepekaan akan gerak Roh yang dinamis.

Orang kristiani mesti waspada pada setiap bentuk konservatisme, sebab dalam konservatisme orang bisa secara kaku berpegang teguh ada adat istiadat atau tradisi yang ada.

Bapa, semoga kami selalu terbuka mendengarkan sabda-Mu. Amin.

.

Sumber renungan: Ziarah Batin 2021, OBOR Indonesia

Baca Juga: https://staging2.christina.my.id/bacaan-injil-hari-ini-panduan-hidup-beriman/

.

.

Bacaan Injil Hari Ini 28 Agustus 2021

Bacaan Injil Hari Ini 28 Agustus 2021, Mat 25:14-30

Pada suatu hari, Yesus mengemukakan perumpamaan berikut kepada murid-murid-Nya, “Hal Kerajaan Surga sama seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka.

Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat. Segera pergilah hamba yang menerima lima talenta itu. la menjalankan uang itu lalu beroleh laba lima talenta.

Hamba yang menerima dua talenta itu pun berbuat demikian juga dan berlaba dua talenta. Tetapi hamba yang menerima satu talenta itu pergi dan menggali lobang di dalam tanah lalu menyembunyikan uang tuannya. Lama sesudah itu pulanglah tuan hamba-hamba itu lalu mengadakan perhitungan dengan mereka.

Hamba yang menerima lima talenta itu datang dan ia membawa laba lima talenta, katanya: Tuan, lima talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba lima talenta. Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.

Lalu datanglah hamba yang menerima dua talenta itu, katanya: Tuan, dua talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba dua talenta. Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.

Kini datanglah juga hamba yang menerima satu talenta itu dan berkata: Tuan, aku tahu bahwa tuan adalah manusia yang kejam yang menuai di tempat di mana tuan tidak menabur dan yang memungut dari tempat di mana tuan tidak menanam. (Bacaan selengkapnya lih. Alkitab atau “Buku Bacaan II: Bacaan Misa Harian”, hlm. 1094-1095)

Renungan

Cinta kasih kristiani itu melibatkan perasaan. Namun, bukan hanya soal perasaan. Sebab, cinta kasih kristiani pertama-tama adalah komitmen untuk merawat dan mengusahakan kebaikan bagi orang yang dicintai, bila perlu sampai mengorbankan diri sendiri.

Karena bukan soal perasaan, kasih yang seperti ini bisa dimiliki dengan mempelajarinya, dengan belajar mengasihi seperti yang dinyatakan oleh Paulus, “kamu sendiri telah belajar kasih mengasihi dari Allah” (1 Tes. 4:9). Kasih tak bisa diajarkan dengan tulisan dan uraian, tetapi dipelajari dengan melakukannya.

Hamba yang menerima satu talenta dalam lnjil tidak mencintai tuannya, sehingga ia gagal mengapresiasi pemberian si tuan dan tidak punya gairah untuk mengembangkannya.

Alih-alih mencintai, si hamba itu takut dan berprasangka buruk terhadap tuannya. Itulah sebabnya ia menjadi malas untuk mengembangkan talenta yang telah diberikan, padahal talenta itu diberikan menurut kesanggupan si hamba sendiri.

Bila tiada cinta, tiada pula komitmen. Orang yang tak mengasihi, tak kan menerima kasih. Sebaliknya, yang banyak mengasihi banyak dikasihi.

Ya Bapa, semoga kami semakin mengasihi Engkau dan sesama. Amin.

.

Sumber renungan: Ziarah Batin 2021, OBOR Indonesia

Baca Juga: https://staging2.christina.my.id/bacaan-injil-hari-ini-panduan-hidup-beriman/

.

.

Bacaan Injil Hari Ini 27 Agustus 2021

Bacaan Injil Hari Ini 27 Agustus 2021, Mat 25:1-13

Pada suatu hari, Yesus mengucapkan perumpamaan ini kepada murid-murid-Nya, “Hal Kerajaan Sorga seumpama sepuluh gadis, yang mengambil pelitanya dan pergi menyongsong mempelai laki-laki. Lima di antaranya bodoh dan lima bijaksana.

Gadis-gadis yang bodoh itu membawa pelitanya, tetapi tidak membawa minyak, sedangkan gadis-gadis yang bijaksana itu membawa pelitanya dan juga minyak dalam buli-buli mereka.

Tetapi karena mempelai itu lama tidak datang-datang juga, mengantuklah mereka semua lalu tertidur. Waktu tengah malam terdengarlah suara orang berseru: Mempelai datang! Songsonglah dia! Gadis -gadis itu pun bangun semuanya lalu membereskan pelita mereka.

Gadis-gadis yang bodoh berkata kepada gadis-gadis yang bijaksana: Berikanlah kami sedikit dari minyakmu itu, sebab pelita kami hampir padam. Tetapi jawab gadis-gadis yang bijaksana itu: Tidak, nanti tidak cukup untuk kami dan untuk kamu. Lebih baik kamu pergi kepada penjual minyak dan beli di situ.

Akan tetapi, waktu mereka sedang pergi untuk membelinya, datanglah mempelai itu dan mereka yang telah siap sedia masuk bersama-sama dengan dia ke ruang perjamuan kawin, lalu pintu ditutup.

Kemudian datang juga gadis-gadis yang lain itu dan berkata: Tuan, tuan, bukakanlah kami pintu! Tetapi ia menjawab: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya aku tidak mengenal kamu. Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya.”

Renungan

Tiap orang dipanggil menuju kekudusan dan tiada kekudusan tanpa mati raga. Mati raga berarti mampu menguasai diri sehingga tidak hidup menurut keinginan daging atau hawa nafsu tetapi hidup menurut Roh.

Tubuh itu diciptakan baik adanya dan bisa menjadi sarana pengudusan asalkan diarahkan sesuai petunjuk Roh. Bila seseorang berbuat cabul, ia mengikuti keinginan daging dan dengan begitu mencemarkan tubuhnya serta melukai sesama.

St. Paulus menegaskan, “Inilah kehendak Allah: pengudusanmu, yaitu supaya kamu menjauhi percabulan” (1 Tes. 4:3).

Percabulan, entah secara fisik maupun secara batin, hanya bisa dijauhi dengan mati raga. Orang yang bisa bermati raga adalah orang yang bisa mengatasi kemalasan. Maka, orang yang bermati raga juga adalah orang yang selalu eling dan waspada. Karakteristik inilah yang dimiliki oleh gadis-gadis bijaksana dalam lnjil.

Gadis-gadis bodoh malas membawa buli-buli berisi minyak cadangan, sementara gadis-gadis bijaksana membawanya. Gadis-gadis yang bijaksana bisa menyambut sang mempelai karena mereka bisa mengalahkan kemalasannya, tidak enggan repot-repot menyiapkan buli-buli minyak cadangan yang sekiranya diperlukan.

Orang yang malas menjadi budak hawa nafsu, tidak berpikir panjang, dan sambalewa. Sementara itu, orang yang bermati raga itu bijak karena mengikuti Roh sehingga mereka pun selalu siap menyongsong tiap kesempatan untuk menjadi baik dan kudus.

Ya Tuhan, semoga pelita kami tetap bernyala dan siap menyambut-Mu dalam kekudusan. Karena kami dapat mengalahkan kemalasan dan keinginan daging. Amin.

.

Sumber renungan: Ziarah Batin 2021, OBOR Indonesia

Baca Juga: https://staging2.christina.my.id/bacaan-injil-hari-ini-panduan-hidup-beriman/

.

.

Bacaan Injil Hari Ini 26 Agustus 2021

Bacaan Injil Hari Ini 26 Agustus 2021, Mat 24:42-51

Yesus bersabda kepada murid-murid-Nya, “Berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang. Tetapi ketahuilah ini: Jika tuan rumah tahu pada waktu mana pada malam hari pencuri akan datang, sudahlah pasti ia berjaga-jaga, dan tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar.

Sebab itu, hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga.

Siapakah hamba yang setia dan bijaksana, yang diangkat oleh tuannya atas orang-orangnya untuk memberikan mereka makanan pada waktunya? Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya tuannya itu akan mengangkat dia menjadi pengawas segala miliknya.

Akan tetapi apabila hamba itu jahat dan berkata di dalam hatinya: Tuanku tidak datang-datang, lalu ia mulai memukul hamba-hamba lain, dan makan minum bersama-sama pemabuk-pemabuk, maka tuan hamba itu akan datang pada hari yang tidak disangkakannya, dan pada saat yang tidak diketahuinya, dan akan membunuh dia dan membuat dia senasib dengan orang-orang munafik. Di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi.”

Renungan

Sukacita sejati seorang pewarta tidak terletak pada ketenaran atau pengakuan bahwa dirinya mumpuni atau karena video renungannya viral. Sukacita sejati seorang pewarta terletak pada perkembangan iman umat, ketika mendapati umat makin teguh dalam iman dan makin berkelimpahan dalam kasih seorang terhadap yang lain dan terhadap semua orang” (1 Tes. 3:12). Itulah yang dialami oleh Paulus, dkk.

Dalam pewartaan, mereka mengalami banyak kesukaran dan kesesakan. Namun, mereka “menjadi terhibur oleh kamu dan oleh imanmu” (2Tes. 3:7). Pelayan dan pewarta sabda sejati bersukacita ketika sabda yang diwartakan itu berhasil mentransformasi
dan meningkatkan kualitas cara hidup jemaat. Dalam Injil, seorang hamba dikatakan berbahagia bila melakukan tugasnya dengan penuh tanggung jawab.

Hamba yang baik ialah pelayan yang selalu siap sedia menunaikan tugasnya, bukan karena takut akan kemarahan tuannya. Bukan pula karena ingin mendapat pujian dari si tuan, melainkan karena sikap bertanggung jawab. Spirit seorang hamba dalam Kerajaan Allah adalah melayani secara tulus dan rendah hati, seperti dikatakan dalam nas, “Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan” (Luk. 17:10)

Terlaksananya amanah secara paripurna ialah sumber sukacita sejati seorang hamba Tuhan. Hamba yang amanah biasanya akan mendapat kepercayaan lebih besar lagi.

Ya Bapa, jadikanlah kami pewarta-pewarta sabda yang bersemangat hamba: bekerja secara paripurna tanpa mengharapkan imbalan. Amin.

.

Sumber renungan: Ziarah Batin 2021, OBOR Indonesia

Baca Juga: https://staging2.christina.my.id/bacaan-injil-hari-ini-panduan-hidup-beriman/

.

.

Renungan Bacaan Injil Hari Ini 25 Agustus 2021

Sabda Tuhan Hari Ini 25 Agustus 2021, Mat 23:27-32

Pada waktu itu, Yesus bersabda, “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran.

Demikian jugalah kamu, di sebelah luar kamu tampaknya benar di mata orang, tetapi di sebelah dalam kamu penuh kemunafikan dan kedurjanaan.

Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu membangun makam nabi-nabi dan dan memperindah tugu orang-orang saleh dan berkata: Jika kami hidup di zaman nenek moyang kita, tentulah kami tidak ikut dengan mereka dalam pembunuhan nabi-nabi itu.

Tetapi dengan demikian kamu bersaksi terhadap diri kamu sendiri, bahwa kamu adalah keturunan pembunuh nabi-nabi itu. Jadi, penuhilah juga takaran nenek moyangmu!

Renungan

Kita tidak bisa menilai baik-buruknya seseorang hanya dari apa yang tampak, tetapi kita perlu melihat motivasi atau niatnya. Terhadap seorang politisi yang rajin membagi-bagikan sembako di masa Pemilu, kita tidak bisa mengatakan bahwa ia adalah orang dermawan, sebab tindakannya itu bisa saja untuk mendapatkan suara.

‘Terhadap orang-orang Farisi yang tampak melakukan tindakan-tindakan sesuai perintah agama, kita tidak bisa mengatakan bahwa mereka itu orang suci. Sebab, motivasi orang Farisi itu hanya mau memuja diri, bukan memuja Tuhan. Mereka munafik, tampak bersih di luar tetapi busuk di dalam hati.

Pemuka agama dan pewarta yang munafik karena suka memuja diri biasanya juga mengklaim diri sebagai hamba Allah, namun nyatanya mereka lebih suka dilayani daripada melayani. Tak heran, orang-orang Farisi yang munafik itu justru menjadi beban bagi umat. Berbeda halnya dengan Paulus. Paulus adalah pelayan sejati. Tandanya: la tak mau menjadi beban bagi umat yang dilayani.

Karena itu, menjadi pelayan untuk memuja ‘Tuhan memang harus bekerja tanpa pamrih dan siap lelah, “Kami bekerja siang malam supaya jangan menjadi beban bagi siapa pun juga di antara kamu” (1les. 2:9). Sukacita pewarta ialah ketika nama Tuhan dimuliakan, bukan ketika nama dirinya dimuliakan karena kedudukannya yang terpandang di muka umat.

Tuhan, jadikanlah kami pewarta sabda yang tulus ikhlas dan tanpa pamrih agar kami tidak jatuh ke dalam cinta diri dan kemunafikan. Amin

.

Sumber renungan: Ziarah Batin 2021, OBOR Indonesia

Baca Juga: https://staging2.christina.my.id/bacaan-injil-hari-ini-panduan-hidup-beriman/

.

.

Renungan Bacaan Injil Hari Ini 24 Agustus 2021

Sabda Tuhan Hari Ini 24 Agustus 2021, Yoh 1:45-51

Sekali peristiwa, Filipus bertemu dengan Natanael dan berkata kepadanya: “Kami telah menemukan Dia, yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh para nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret.” Kata Natanael kepadanya: “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?” Kata Filipus kepadanya: “Mari dan lihatlah!”

Yesus melihat Natanael datang kepada-Nya, lalu berkata tentang dia: “Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!” Kata Natanael kepada-Nya: “Bagaimana Engkau mengenal aku?” Jawab Yesus kepadanya: “Sebelum Filipus memanggil engkau, Aku telah melihat engkau di bawah pohon ara” Kata Natanael kepada-Nya: “Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!”

Yesus menjawab, kata-Nya: “Karena Aku berkata kepadamu: Aku melihat engkau di bawah pohon ara, maka engkau percaya?Engkau akan melihat hal-hal yang lebih besar dari pada itu.” Lalu kata Yesus kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia.”

Renungan

Tak sedikit orang yang sulit berkembang karena hidupnya penuh kepura-puraan. Tidak mampu, tetapi pura-pura mampu. Tidak tahu, tetapi pura-pura tahu. Tidak suci tetapi pura-pura suci, dst. Bartolomeus adalah orang yang tanpa kepura-puraan. la bersikap otentik. la tidak menutup-nutupi keraguannya bahwa Yesus dari Nazaret adalah Mesias.

Keberaniannya untuk bersikap transparan itulah titik tolak yang menyelamatkannya. Apalagi, di hadapan Tuhan kepura-puraan sebenarnya tak berlaku, sebab di mata-Nya tak ada yang tersembunyi. Sikap jujur dan transparan di hadapan Tuhan merupakan pintu menuju iman sejati. Iman sejati mentransformasi diri, sementara kepalsuan menghambat perubahan nyata.

Bersikap otentik berarti berani terbuka di hadapan Tuhan dan sesama. Orang yang otentik tidak menyembunyikan luka dan tak suka sekadar mencari muka. la menerima diri apa adanya seraya membuka diri pada segala kemungkinan untuk perbaikan. Keterbukaan Bartolomeus membawanya pada pengakuan iman, “Rabi, Engkaulah Anak Allah, Engkau Raja orang Israel” (ay. 49).

Iman yang otentik ini membuat Bartolomeus berkembang menjadi utusan: konon, ia mewartakan Injil sampai ke India. Karena itulah, ia juga boleh menikmati janji Kristus: melihat kemuliaan para malaikat dan Anak Domba di surga seperti digambarkan bacaan pertama.

Ya Allah, semoga kami tidak takut menjadi diri sendiri, mampu menyingkirkan segala kepalsuan, dan terbuka pada Sabda-Mu yang senantiasa melecut semangat pembaruan. Amin.

.

Sumber renungan: Ziarah Batin 2021, OBOR Indonesia

Baca Juga: https://staging2.christina.my.id/bacaan-injil-hari-ini-panduan-hidup-beriman/

.

.

Renungan Bacaan Injil Hari Ini 23 Agustus 2021

Sabda Tuhan Hari Ini 23 Agustus 2021, Mat 23:13-22

Pada suatu hari, Yesus berkata kepada ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, “Celakalah kalian, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, karena kamu menutup pintu-pintu Kerajaan Sorga di depan orang. Sebab kamu sendiri tidak masuk dan kamu merintangi mereka yang berusaha untuk masuk.

[Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu menelan rumah janda-janda sedang kamu mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang. Sebab itu kamu pasti akan menerima hukuman yang lebih berat.]

Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu mengarungi lautan dan menjelajah daratan, untuk mentobatkan satu orang saja menjadi penganut agamamu dan sesudah ia bertobat, kamu menjadikan dia orang neraka, yang dua kali lebih jahat dari pada kamu sendiri. Celakalah kamu, hai pemimpin-pemimpin buta, yang berkata: Bersumpah demi Bait Suci, sumpah itu tidak sah; tetapi bersumpah demi emas Bait Suci, sumpah itu mengikat.

Hai kamu orang-orang bodoh dan orang-orang buta, apakah yang lebih penting, emas atau Bait Suci yang menguduskan emas itu? Bersumpah demi mezbah, sumpah itu tidak sah; tetapi bersumpah demi persembahan yang ada di atasnya, sumpah itu mengikat. Hai kamu orang-orang bodoh dan orang-orang buta, apakah yang lebih penting, emas atau Bait Suci yang menguduskan emas itu? Bersumpah demi mezbah, sumpah itu tidak sah; tetapi bersumpah demi persembahan yang ada di atasnya, sumpah itu mengikat.

Hai kamu orang-orang buta, apakah yang lebih penting, persembahan atau mezbah yang menguduskan persembahan itu? Karena itu barangsiapa bersumpah demi mezbah, ia bersumpah demi mezbah dan juga demi segala sesuatu yang terletak di atasnya. Dan barangsiapa bersumpah demi Bait Suci, ia bersumpah demi Bait Suci dan juga demi Dia, yang diam di situ. Dan barangsiapa bersumpah demi sorga, ia bersumpah demi takhta Allah dan juga demi Dia, yang bersemayam di atasnya.”

Renungan

Seorang filsuf Yunani kuno pernah mengatakan, “Antara kebenaran dan persahabatan, aku lebih memilih kebenaran.” Yesus bersahabat baik dengan orang-orang Farisi. Kadang, ia makan malam di rumah mereka. la juga berdiskusi dengan Nikodemus. Meski demikian, Yesus tidak segan-segan mengutarakan kebenaran. la tidak bisa menutupi bahwa ada yang tidak benar dalam perilaku sahabat-sahabat- Nya itu, apalagi orang-orang Farisi dianggap sebagai pemuka agama. Mengutarakan kebenaran memang bisa berisiko menimbulkan ketegangan bahkan perpecahan, namun itu masih lebih baik daripada membiarkan kesalahan yang menyesatkan merajalela.

St. Paulus juga menegaskan bahwa ia bersama Silwanus dan Timotius mewartakan Injil tidak hanya dengan kata-kata saja, tetapi juga dengan kuasa Roh Kudus yang membawa pada pekerjaan yang benar. Berkat pewartaan dan kesaksian mereka orang-orang Tesalonika “berbalik dari berhala-berhala kepada Allah untuk melayani Allah yang hidup dan yang benar” (1 Tes. 1:9). Sebaliknya, orang-orang Farisi merasa telah menyembah Allah dengan menaati detail-detail aturan agama sampai melupakan apa yang esensial, yaitu kasih terhadap sesama. Mereka jadi munafik karena mereka telah menyembah berhala-berhala, yakni citra diri dan kehormatan.

Bapa, semoga kami berani mengutarakan kebenaran pada waktu yang tepat. Amin.

.

Sumber renungan: Ziarah Batin 2021, OBOR Indonesia

Baca Juga: https://staging2.christina.my.id/bacaan-injil-hari-ini-panduan-hidup-beriman/

.

.

You cannot copy content of this page