Bacaan Injil Hari Ini Sabtu 4 September 2021

Bacaan Injil Hari Ini Sabtu 4 September 2021, Luk 6:1-5

Pada suatu hari Sabat, ketika Yesus berjalan di ladang gandum, murid-murid-Nya memetik bulir gandum dan memakannya, sementara mereka menggisarnya dengan tangannya.

Tetapi beberapa orang Farisi berkata: “Mengapa kamu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?”

Lalu Yesus menjawab mereka: “Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan oleh Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya lapar bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan mengambil roti sajian,

lalu memakannya dan memberikannya kepada pengikut-pengikutnya, padahal roti itu tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam?” Kata Yesus lagi kepada mereka: “Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.”

Renungan

Injil Lukas menampilkan Yesus yang mengajak orang-orang Farisi untuk mendahulukan tindakan kemanusiaan daripada hanya taat buta dengan peraturan. Yesus tidak memandang rendah hukum dan peraturan, tetapi dalam keadaan darurat upaya menyelamatkan kehidupan harus didahulukan.

Tentu apa yang dikatakan Yesus ini untuk mengkritik orang-orang Farisi yang terlalu taat pada hukum dan peraturan, tetapi mengabaikan manusia konkret yang sedang membutuhkan pertolongan.

Hidup kita memang tidak bisa dilepaskan dari hukum dan peraturan. Namun, sebagai orang beriman kita juga diajak untuk bijaksana dalam memandang hukum dan peraturan itu.

Jangan sampai dengan hukum dan peraturan itu kita berubah menjadi manusia robot, di mana hidup hanya digerakkan oleh peraturan sehingga hati nurani tumpul, kasih terhadap sesama nihil, dan relasi dengan orang lain menjadi gersang.

Kita juga harus berani bersuara terhadap peraturan atau hukum yang justru membuat manusia tidak bisa berkembang dan malah menjadi korban. Misalnya, peraturan yang diskriminatif, tidak ramah dengan orang-orang yang berkebutuhan khusus, atau hanya menguntungkan kelompok tertentu saja.

Peraturan yang baik harus mampu menjaga dan melindungi hidup semua orang.

Bapa Yang Maha Adil, senoga hidup kami senantiasa digerakkan oleh belas kasih terhadap semua orang dan segala ciptaan-Mu. Amin.

.

Sumber renungan: Ziarah Batin 2021, OBOR Indonesia

Baca Juga: https://staging2.christina.my.id/bacaan-injil-hari-ini-panduan-hidup-beriman/

.

.

Bacaan Injil Hari Ini Jumat 3 September 2021

Bacaan Injil Hari Ini Jumat 3 September 2021, Luk 5:33-39

Sekali peristiwa, orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat berkata kepada Yesus: “Murid-murid Yohanes sering berpuasa dan sembahyang, demikian juga murid-murid orang Farisi, tetapi murid-murid-Mu makan dan minum.”

Jawab Yesus kepada mereka: Dapatkah sahabat mempelai laki-laki disuruh berpuasa, sedang mempelai itu bersama mereka? Tetapi akan datang waktunya, apabila mempelai itu diambil dari mereka, pada waktu itulah mereka akan berpuasa.”

Ia mengatakan juga suatu perumpamaan kepada mereka: Tidak seorang pun mengoyakkan secarik kain dari baju yang baru untuk menambalkannya pada baju yang tua. Jika demikian, yang baru itu juga akan koyak dan pada yang tua itu tidak akan cocok kain penambal yang dikoyakkan dari yang baru itu.

Demikian juga tidak seorang pun mengisikan anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian, anggur yang baru itu akan mengoyakkan kantong itu dan anggur itu akan terbuang dan kantong itu pun hancur. Tetapi anggur yang baru harus disimpan dalam kantong yang baru pula.

Dan tidak seorang pun yang telah minum anggur tua ingin minum anggur yang baru, sebab ia akan berkata: Anggur yang tua itu baik.”

Renungan

Pada hari ini, orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat mengkritik para murid Yesus yang tidak berpuasa. Terhadap kritikan itu, Yesus menjawab bahwa puasa itu dilakukan ketika mempelai laki-laki tidak ada bersama dengan mereka. Mempelai laki-laki di sini maksudnya adalah Yesus sendiri.

Jawaban Yesus itu mengajarkan kepada kita bahwa puasa merupakan salah satu cara agar kita bisa bertemu, akrab, dekat, dan bersatu dengan Dia. Dalam kehidupan sehari-hari, puasa dimaknai sebagai upaya untuk menahan dan mengurangi makan serta minum.

Namun, makna yang lebih dalam dari itu adalah kita mengurangi hal yang kurang baik dalam diri kita, seperti dendam, iri hati, sombong, suka marah, selingkuh, korupsi, dll.

Ketika hal-hal buruk itu selalu ada dalam diri kita, maka Tuhan pasti jauh dari hidup kita. Dengan puasa kita kembali dekat dengan Tuhan.
Kita bisa berpuasa setiap hari, tanpa harus menunggu masa Prapaskah.

Artinya setiap hari kita berupaya untuk mengurangi hal-hal buruk dalam hati, pikiran, perkataan, dan tindakan kita sehingga hidup kita selalu bersih dan senantiasa bersama-sama dengan Tuhan.

Kebersamaan dengan Tuhan akan membuat kita rindu untuk hidup dalam kebenaran dan kebaikan. Hal ini pula yang membuat kita merasa nyaman dan aman.

Allah Yang Maharahim, semoga pikiran, perkataan, dan perbuatan kami menjadi berkat bagi banyak orang. Amin.

.

Sumber renungan: Ziarah Batin 2021, OBOR Indonesia

Baca Juga: https://staging2.christina.my.id/bacaan-injil-hari-ini-panduan-hidup-beriman/

.

.

Bacaan Injil Hari Ini Kamis 2 September 2021

Bacaan Injil Hari Ini Kamis 2 September 2021, Luk 5:1-11

Pada suatu ketika, Yesus berdiri di pantai Danau Genesaret, sedang orang banyak mengerumuni Dia hendak mendengarkan firman Allah. Ia melihat dua perahu di tepi pantai.

Nelayan-nelayannya telah turun dan sedang membasuh jalanya. la naik ke dalam salah satu perahu itu, yaitu perahu Simon, dan menyuruh dia supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai.

Lalu la duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu. Setelah selesai berbicara, la berkata kepada Simon: “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.”

Simon menjawab: “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.”

Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak. Lalu mereka memberi isyarat kepada teman-temannya di perahu yang lain supaya mereka datang membantunya.

Dan mereka itu datang, lalu mereka bersama-sama mengisi kedua perahu itu dengan ikan hingga hampir tenggelam. Ketika Simon Petrus melihat hal itu ia pun tersungkur di depan Yesus dan berkata: “Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa.”

Sebab ia dan semua orang yang bersama-sama dengan dia takjub oleh karena banyaknya ikan yang mereka tangkap; demikian juga Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, yang menjadi teman Simon.

Kata Yesus kepada Simon: “Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia.” Dan sesudah mereka menghela perahu-perahunya ke darat, mereka pun meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikutYesus.

Renungan

Dalam Injil hari ini, Yesus membantu para murid untuk menangkap ikan. Ketaatan Simon dan teman-temannya untuk menebarkan jala ke tempat yang lebih dalam seperti yang diperintahkan Yesus membuahkan hasil. Perahu mereka penuh dengan ikan.

Para murid itu sangat bersukacita. Namun, mereka juga mendapatkan tugas baru dari Yesus, yaitu menjadi penjala manusia.

Yang dimaksudkan dengan menjadi penjala manusia adalah para murid diutus untuk menebarkan jala cinta dan jaring kasih kepada semua orang sehingga banyak orang percaya kepada Allah, sebagaimana Yesus juga telah menjala Simon Petrus dan teman-temannya untuk menjadi murid-murid-Nya.

Kasih itu ditebarkan kepada siapa saja tanpa membeda-bedakan, sehingga semua orang dapat merasakan kasih Tuhan. Kita semua juga dipanggil untuk menjadi penjala manusia dengan menebarkan jaring kasih kepada siapa pun sehingga banyak orang boleh mengalami keselamatan.

Untuk dapat menjadi penjala manusia, kita harus berani untuk keluar dari diri kita, mau capek, lelah, berkeringat, kepanasan, berkorban waktu dan tenaga. Hanya dengan keberanian seperti itu, kita akan mampu menjalankan tugas yang telah diamanatkan Yesus kepada kita.

Bapa Yang Mahabijaksana, semoga kami mempunyai hati yang bijaksana sehingga dapat menebarkan jala kasih di tengah keluarga dan masyarakat kami. Amin.

.

Sumber renungan: Ziarah Batin 2021, OBOR Indonesia

Baca Juga: https://staging2.christina.my.id/bacaan-injil-hari-ini-panduan-hidup-beriman/

.

.

Bacaan Injil Hari Ini Rabu 1 September 2021

Bacaan Injil Hari Ini Rabu 1 September 2021, Luk 4:38-44

Setelah meninggalkan rumah ibadat di Kapernaum, Yesus pergi ke rumah Simon. Adapun ibu mertua Simon demam keras dan mereka minta kepada Yesus supaya menolong dia. Maka la berdiri di sisi perempuan itu, lalu menghardik demam itu, dan penyakit itu pun meninggalkan dia.

Perempuan itu segera bangun dan melayani mereka. Ketika matahari terbenam, semua orang membawa kepada-Nya orang-orang sakitnya, yang menderita bermacam-macam penyakit. la pun meletakkan tangan-Nya atas mereka masing-masing dan menyembuhkan mereka.

Dari banyak orang keluar juga setan-setan sambil berteriak: “Engkau adalah Anak Allah.” Lalu la dengan keras melarang mereka dan tidak memperbolehkan mereka berbicara, karena mereka tahu bahwa la adalah Mesias.

Ketika hari siang, Yesus berangkat dan pergi ke suatu tempat yang sunyi. Tetapi orang banyak mencari Dia, lalu menemukan-Nya dan berusaha menahan Dia supaya jangan meninggalkan mereka.

Tetapi la berkata kepada mereka: “Juga di kota-kota lain Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah sebab untuk itulah Aku diutus.” Dan la memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat di Yudea.

Renungan

Firman Tuhan pada hari ini berkisah tentang Yesus yang menyembuhkan mertua Simon Petrus dan banyak orang sakit lainnya. Dengan mukjizat itu, Yesus sedang mewartakan Kerajaan Allah yang ditandai dengan banyaknya orang yang terbebaskan dari berbagai penyakit dan mereka menjadi percaya.

Bahkan, mereka menghendaki agar Yesus tinggal lebih lama dengan mereka. Kita semua yang telah dibaptis juga diutus untuk turut mewartakan Kerajaan Allah dengan cara mewartakan kasih Allah yang membebaskan, menghibur, menguatkan, mendamaikan, dan memberdayakan setiap pribadi.

Yesus mewartakan kasih dengan kata-kata dan tindakan. Kita pun dipanggil untuk melakukan hal yang sama dalam kehidupan sehari-hari, di tengah keluarga, tempat kerja, lingkungan, dan di mana pun kita berada.

Agar kasih Allah dapat dirasakan oleh sebanyak mungkin orang, maka kita diajak untuk menebarkan kasih itu kepada siapa pun juga, tanpa membeda-bedakan golongan, suku, agama, dan budaya.

Kalau semakin banyak orang dapat merasakan kasih Allah maka semakin banyak orang akan mengalami kebahagiaan, dan kita pun turut berbahagia karena hidup kita bisa berguna bagi orang lain.

Allah Yang Mahakasih, semoga kami selalu rindu untuk hidup dalan kasih-Mu dan dapat membagikan kasih itu dengan tulus lewat tindakan-tindakan kecil dalam hidup kami sehari-hari. Amin.

.

Sumber renungan: Ziarah Batin 2021, OBOR Indonesia

Baca Juga: https://staging2.christina.my.id/bacaan-injil-hari-ini-panduan-hidup-beriman/

.

.

Bacaan Injil Hari Ini Selasa 31 Agustus 2021

Bacaan Injil Hari Ini Selasa 31 Agustus 2021, Luk 4:31-37

Sekali peristiwa, Yesus pergi ke Kapernaum, sebuah kota di Galilea. Di situ, la mengajar pada hari-hari Sabat. Orang-orang takjub
mendengar pengajaran-Nya, sebab perkataan-Nya penuh kuasa. Di dalam rumah ibadat itu ada seorang yang kerasukan setan dan ia berteriak dengan suara keras:

“Hai Engkau, Yesus orang Nazaret, apa urusan-Mu dengan kami? Engkau datang hendak membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah.” Tetapi Yesus menghardiknya, kata-Nya: “Diam, keluarlah dari padanya!

Dan setan itu pun menghempaskan orang itu ke tengah-tengah orang banyak, lalu keluar dari padanya dan sama sekali tidak menyakitinya. Dan semua orang takjub, lalu berkata seorang kepada yang lain, katanya:

“Alangkah hebatnya perkataan ini! Sebab dengan penuh wibawa dan kuasa la memberi perintah kepada roh-roh jahat dan mereka pun keluar.” Dan tersebarlah berita tentang Dia ke mana-mana di daerah itu.

Renungan

Menurut St. lgnatius Loyola, salah satu ciri roh jahat ialah bertindak seperti buaya darat: Lebih menyukai kegelapan karena ingin menyembunyikan perbuatan maksiatnya. Terang kebenaran, transparansi ditakutinya.

St. Paulus menegaskan bahwa orang kristiani mestinya bukan merupakan “orang-orang malam atau orang-orang kegelapan”, melainkan “anak-anak terang dan anak-anak siang” (1 Tes. 5:4-5).

Orang yang hidupnya benar tidak takut berterus terang dan transparan. Kebenaran itu memang memerdekakan. Orang seperti ini selalu siap menyambut kedatangan Tuhan. Sementara orang yang hidupnya tidak benar selalu bergerak dalam gelap karena takut ketahuan.

Orang seperti ini tidak merdeka, dibelenggu oleh kecemasan, dan malah takut akan kedatangan Tuhan. Dalam Injil, orang yang kerasukan setan ketakutan didatangi Yesus. la tahu bahwa Yesus adalah Yang Kudus dari Allah. Setan dalam diri orang itu menjadi cemas dan gentar karena berpikir Yesus hendak menghancurkannya.

Orang yang dikuasai oleh roh jahat memang takut pada orang-orang yang hidupnya suci dan benar. Anak-anak kegelapan sebenarnya gentar pada anak-anak terang, orang-orang yang tak jujur atau korup dalam suatu instansi merasa terancam
dengan kehadiran orang jujur dan bersih.

Sebagaimana Yesus disegani oleh orang banyak, kita pun, bila setia hidup sebagai anak-anak terang, akan disegani. Cara hidup kita yang jujur dan bersih menjadi cambuk bagi orang-orang yang tidak jujur.

Tuhan, bantulah kami supaya selalu setia hidup sebagai anak-anak terang. Amin.

.

Sumber renungan: Ziarah Batin 2021, OBOR Indonesia

Baca Juga: https://staging2.christina.my.id/bacaan-injil-hari-ini-panduan-hidup-beriman/

.

.

Bacaan Injil Hari Ini Senin 30 Agustus 2021

Bacaan Injil Hari Ini Senin 30 Agustus 2021, Luk 4:16-30

Sekali peristiwa, datanglah Yesus di Nazaret, tempat Ia dibesarkan. Seperti biasa, pada hari Sabat la masuk ke rumah ibadat, lalu berdiri hendak membaca dari Alkitab.

Kepada-Nya diberikan kitab nabi Yesaya dan setelah dibuka-Nya, la menemukan nas, di mana ada tertulis: “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab la telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin;

dan la telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.”

Kemudian la menutup kitab itu, memberikannya kembali kepada pejabat, lalu duduk; dan mata semua orang dalam rumah ibadat itu tertuju kepada-Nya. Lalu la memulai mengajar mereka, kata-Nya: “Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya.”

Dan semua orang itu membenarkan Dia dan mereka heran akan kata-kata yang indah yang diucapkan-Nya, lalu kata mereka: “Bukankah la ini anak Yusuf?” Maka berkatalah la kepada mereka: “Tentu kamu akan mengatakan pepatah ini kepada-Ku: Hai tabib, sembuhkanlah diri-Mu sendiri.

Perbuatlah di sini juga, di tempat asal-Mu ini, segala yang kami dengar yang telah terjadi di Kapernaum!” Dan kata-Nya lagi: “Aku
berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya.” (Bacaan selengkapnya lih. Alkitab atau “Buku Bacaan II: Bacaan Misa Harian”, hlm. 1099-1100).

Renungan

Martin Luther King mengatakan, “Kita harus menerima kekecewaan yang terbatas, namun tak boleh kehilangan harapan yang tak terbatas. Kekecewaan itu wajar terjadi dalam hidup tetapi tak perlu membiarkan diri kita dikuasai oleh rasa kecewa.

Kita perlu berpegang pada dan membiarkan diri kita ditaburi oleh pengharapan yang tak terbataş. Pengharapan membuat kita percaya kepada segala kemungkinan akan perbaikan, sebab kita fokus pada sisi positif. Dalam kekecewaan orang fokus pada sisi negatif saja.

Maka, sementara pengharapan itu menghidupkan, membangkitkan semangat; kekecewaan itu mematikan, mematahkan semangat. Orang yang tak berpengharapan telah mati selama masih hidup.

Dalam bacaan pertama, Paulus mengingatkan bahwa berpengharapan merupakan ciri orang yang percaya pada Kristus: “Kamu jangan berdukacita seperti orang lain yang tak mempunyai pengharapan” (1Tes. 4:13). Dalam Injil, alih-alih memupuk diri dan menerima Yesus, orang yang sekampung halaman dengan Yesus menolak Dia karena membiarkan diri dikuasai oleh kekecewaan dan skeptisisme.

Mereka kecewa dan skeptis bahwa anak Yusuf, si tukang kayu, bisa menjadi Mesias. Mereka terpaku pada apa yang menurut mereka merupakan kekurangan. Mereka gagal membuka diri dan berpegang pada pengharapan bahwa juga dari yang terkecil dan lemah di dunia ini Allah bisa mendatangkan keselamatan.

Berpengharapan berarti yakin bahwa Allah bisa melakukan hal-hal di luar batas-batas kemungkinan manusiawi.

Ya Allah, penuhilah hati kami dengan pengharapan yang menghidupkan. Amin.

.

Sumber renungan: Ziarah Batin 2021, OBOR Indonesia

Baca Juga: https://staging2.christina.my.id/bacaan-injil-hari-ini-panduan-hidup-beriman/

.

.

Bacaan Injil Hari Ini Minggu 29 Agustus 2021

Bacaan Injil Hari Ini Minggu 29 Agustus 2021, Mrk 7:1-8.14-15.21-23

Pada suatu hari, serombongan orang Farisi dan beberapa ahli Taurat dari Yerusalem datang menemui Yesus. Mereka melihat bahwa beberapa orang murid-Nya makan dengan tangan najis, yaitu dengan tangan yang tidak dibasuh.

Sebab orang-orang Farisi seperti orang-orang Yahudi lainnya tidak makan kalau tidak melakukan pembasuhan tangan lebih dulu, karena mereka berpegang pada adat istiadat nenek moyang mereka; dan kalau pulang dari pasar mereka juga tidak makan kalau tidak lebih dahulu membersihkan dirinya.

Banyak warisan lain lagiyang mereka pegang, umpamanya hal mencuci cawan, kendi dan perkakas-perkakas tembaga. Karena itu orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu bertanya kepada-Nya: “Mengapa murid-murid-Mu tidak hidup menurut adat istiadat nenek moyang kita, tetapi makan dengan tangan najis?”

Jawab-Nya kepada mereka: “Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia.

Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia. ” Lalu Yesus memanggil lagi orang banyak dan berkata
kepada mereka: “Kamu semua, dengarlah kepada-Ku dan camkanlah. Apa pun dari luar, yang masuk ke dalam seseorang, tidak dapat menajiskannya, tetapi apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya.

Sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang.”

Renungan

Kebesaran suatu bangsa tidak diukur secara kuantitatif saja, melainkan lebih-lebih secara kualitatif. Bacaan pertama mengindikasikan bahwa suatu bangsa menjadi besar manakala memiliki dan menerapkan hukum-hukum yang adil. Hukum yang adil merupakan buah dari akal budi dan kebijaksanaan yang diterangi oleh sabda Tuhan.

Maka, Musa mengimbau umat Israel untuk setia mendengarkan dan melaksanakan sabda Tuhan, serta terlebih lagi: “Janganlah kamu menambahi apa yang kuperintahkan kepadamu, dan janganlah kamu menguranginya” (Ul. 4:2).Orang-orang Farisi merasa diri besar tetapi sebenarnya kerdil. Mereka hidup dalam ilusi.

Mereka merasa diri menjadi penyambung lidah Tuhan, padahal “ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia” (ay. 7). Mereka mengabaikan perintah Tuhan dan lebih memilih “berpegang pada adat istiadat manusia” (ay. 8). Kemunafikan adalah ekspresi kekerdilan hati mereka.

Oleh sebab itu, Rasul Yakobus menasihati jemaat kristiani: “Hendaklah kamu menjadi pelaku firman, dan bukan hanya pendengar. Sebab, jika tidak demikian, kamu menipu diri sendiri” (Yak. 1:22). Kesetiaan pada tradisi perlu dibarengi kepekaan akan gerak Roh yang dinamis.

Orang kristiani mesti waspada pada setiap bentuk konservatisme, sebab dalam konservatisme orang bisa secara kaku berpegang teguh ada adat istiadat atau tradisi yang ada.

Bapa, semoga kami selalu terbuka mendengarkan sabda-Mu. Amin.

.

Sumber renungan: Ziarah Batin 2021, OBOR Indonesia

Baca Juga: https://staging2.christina.my.id/bacaan-injil-hari-ini-panduan-hidup-beriman/

.

.

Bacaan Injil Hari Ini 28 Agustus 2021

Bacaan Injil Hari Ini 28 Agustus 2021, Mat 25:14-30

Pada suatu hari, Yesus mengemukakan perumpamaan berikut kepada murid-murid-Nya, “Hal Kerajaan Surga sama seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka.

Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat. Segera pergilah hamba yang menerima lima talenta itu. la menjalankan uang itu lalu beroleh laba lima talenta.

Hamba yang menerima dua talenta itu pun berbuat demikian juga dan berlaba dua talenta. Tetapi hamba yang menerima satu talenta itu pergi dan menggali lobang di dalam tanah lalu menyembunyikan uang tuannya. Lama sesudah itu pulanglah tuan hamba-hamba itu lalu mengadakan perhitungan dengan mereka.

Hamba yang menerima lima talenta itu datang dan ia membawa laba lima talenta, katanya: Tuan, lima talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba lima talenta. Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.

Lalu datanglah hamba yang menerima dua talenta itu, katanya: Tuan, dua talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba dua talenta. Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.

Kini datanglah juga hamba yang menerima satu talenta itu dan berkata: Tuan, aku tahu bahwa tuan adalah manusia yang kejam yang menuai di tempat di mana tuan tidak menabur dan yang memungut dari tempat di mana tuan tidak menanam. (Bacaan selengkapnya lih. Alkitab atau “Buku Bacaan II: Bacaan Misa Harian”, hlm. 1094-1095)

Renungan

Cinta kasih kristiani itu melibatkan perasaan. Namun, bukan hanya soal perasaan. Sebab, cinta kasih kristiani pertama-tama adalah komitmen untuk merawat dan mengusahakan kebaikan bagi orang yang dicintai, bila perlu sampai mengorbankan diri sendiri.

Karena bukan soal perasaan, kasih yang seperti ini bisa dimiliki dengan mempelajarinya, dengan belajar mengasihi seperti yang dinyatakan oleh Paulus, “kamu sendiri telah belajar kasih mengasihi dari Allah” (1 Tes. 4:9). Kasih tak bisa diajarkan dengan tulisan dan uraian, tetapi dipelajari dengan melakukannya.

Hamba yang menerima satu talenta dalam lnjil tidak mencintai tuannya, sehingga ia gagal mengapresiasi pemberian si tuan dan tidak punya gairah untuk mengembangkannya.

Alih-alih mencintai, si hamba itu takut dan berprasangka buruk terhadap tuannya. Itulah sebabnya ia menjadi malas untuk mengembangkan talenta yang telah diberikan, padahal talenta itu diberikan menurut kesanggupan si hamba sendiri.

Bila tiada cinta, tiada pula komitmen. Orang yang tak mengasihi, tak kan menerima kasih. Sebaliknya, yang banyak mengasihi banyak dikasihi.

Ya Bapa, semoga kami semakin mengasihi Engkau dan sesama. Amin.

.

Sumber renungan: Ziarah Batin 2021, OBOR Indonesia

Baca Juga: https://staging2.christina.my.id/bacaan-injil-hari-ini-panduan-hidup-beriman/

.

.

Bacaan Injil Hari Ini 27 Agustus 2021

Bacaan Injil Hari Ini 27 Agustus 2021, Mat 25:1-13

Pada suatu hari, Yesus mengucapkan perumpamaan ini kepada murid-murid-Nya, “Hal Kerajaan Sorga seumpama sepuluh gadis, yang mengambil pelitanya dan pergi menyongsong mempelai laki-laki. Lima di antaranya bodoh dan lima bijaksana.

Gadis-gadis yang bodoh itu membawa pelitanya, tetapi tidak membawa minyak, sedangkan gadis-gadis yang bijaksana itu membawa pelitanya dan juga minyak dalam buli-buli mereka.

Tetapi karena mempelai itu lama tidak datang-datang juga, mengantuklah mereka semua lalu tertidur. Waktu tengah malam terdengarlah suara orang berseru: Mempelai datang! Songsonglah dia! Gadis -gadis itu pun bangun semuanya lalu membereskan pelita mereka.

Gadis-gadis yang bodoh berkata kepada gadis-gadis yang bijaksana: Berikanlah kami sedikit dari minyakmu itu, sebab pelita kami hampir padam. Tetapi jawab gadis-gadis yang bijaksana itu: Tidak, nanti tidak cukup untuk kami dan untuk kamu. Lebih baik kamu pergi kepada penjual minyak dan beli di situ.

Akan tetapi, waktu mereka sedang pergi untuk membelinya, datanglah mempelai itu dan mereka yang telah siap sedia masuk bersama-sama dengan dia ke ruang perjamuan kawin, lalu pintu ditutup.

Kemudian datang juga gadis-gadis yang lain itu dan berkata: Tuan, tuan, bukakanlah kami pintu! Tetapi ia menjawab: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya aku tidak mengenal kamu. Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya.”

Renungan

Tiap orang dipanggil menuju kekudusan dan tiada kekudusan tanpa mati raga. Mati raga berarti mampu menguasai diri sehingga tidak hidup menurut keinginan daging atau hawa nafsu tetapi hidup menurut Roh.

Tubuh itu diciptakan baik adanya dan bisa menjadi sarana pengudusan asalkan diarahkan sesuai petunjuk Roh. Bila seseorang berbuat cabul, ia mengikuti keinginan daging dan dengan begitu mencemarkan tubuhnya serta melukai sesama.

St. Paulus menegaskan, “Inilah kehendak Allah: pengudusanmu, yaitu supaya kamu menjauhi percabulan” (1 Tes. 4:3).

Percabulan, entah secara fisik maupun secara batin, hanya bisa dijauhi dengan mati raga. Orang yang bisa bermati raga adalah orang yang bisa mengatasi kemalasan. Maka, orang yang bermati raga juga adalah orang yang selalu eling dan waspada. Karakteristik inilah yang dimiliki oleh gadis-gadis bijaksana dalam lnjil.

Gadis-gadis bodoh malas membawa buli-buli berisi minyak cadangan, sementara gadis-gadis bijaksana membawanya. Gadis-gadis yang bijaksana bisa menyambut sang mempelai karena mereka bisa mengalahkan kemalasannya, tidak enggan repot-repot menyiapkan buli-buli minyak cadangan yang sekiranya diperlukan.

Orang yang malas menjadi budak hawa nafsu, tidak berpikir panjang, dan sambalewa. Sementara itu, orang yang bermati raga itu bijak karena mengikuti Roh sehingga mereka pun selalu siap menyongsong tiap kesempatan untuk menjadi baik dan kudus.

Ya Tuhan, semoga pelita kami tetap bernyala dan siap menyambut-Mu dalam kekudusan. Karena kami dapat mengalahkan kemalasan dan keinginan daging. Amin.

.

Sumber renungan: Ziarah Batin 2021, OBOR Indonesia

Baca Juga: https://staging2.christina.my.id/bacaan-injil-hari-ini-panduan-hidup-beriman/

.

.

Bacaan Injil Hari Ini 26 Agustus 2021

Bacaan Injil Hari Ini 26 Agustus 2021, Mat 24:42-51

Yesus bersabda kepada murid-murid-Nya, “Berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang. Tetapi ketahuilah ini: Jika tuan rumah tahu pada waktu mana pada malam hari pencuri akan datang, sudahlah pasti ia berjaga-jaga, dan tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar.

Sebab itu, hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga.

Siapakah hamba yang setia dan bijaksana, yang diangkat oleh tuannya atas orang-orangnya untuk memberikan mereka makanan pada waktunya? Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya tuannya itu akan mengangkat dia menjadi pengawas segala miliknya.

Akan tetapi apabila hamba itu jahat dan berkata di dalam hatinya: Tuanku tidak datang-datang, lalu ia mulai memukul hamba-hamba lain, dan makan minum bersama-sama pemabuk-pemabuk, maka tuan hamba itu akan datang pada hari yang tidak disangkakannya, dan pada saat yang tidak diketahuinya, dan akan membunuh dia dan membuat dia senasib dengan orang-orang munafik. Di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi.”

Renungan

Sukacita sejati seorang pewarta tidak terletak pada ketenaran atau pengakuan bahwa dirinya mumpuni atau karena video renungannya viral. Sukacita sejati seorang pewarta terletak pada perkembangan iman umat, ketika mendapati umat makin teguh dalam iman dan makin berkelimpahan dalam kasih seorang terhadap yang lain dan terhadap semua orang” (1 Tes. 3:12). Itulah yang dialami oleh Paulus, dkk.

Dalam pewartaan, mereka mengalami banyak kesukaran dan kesesakan. Namun, mereka “menjadi terhibur oleh kamu dan oleh imanmu” (2Tes. 3:7). Pelayan dan pewarta sabda sejati bersukacita ketika sabda yang diwartakan itu berhasil mentransformasi
dan meningkatkan kualitas cara hidup jemaat. Dalam Injil, seorang hamba dikatakan berbahagia bila melakukan tugasnya dengan penuh tanggung jawab.

Hamba yang baik ialah pelayan yang selalu siap sedia menunaikan tugasnya, bukan karena takut akan kemarahan tuannya. Bukan pula karena ingin mendapat pujian dari si tuan, melainkan karena sikap bertanggung jawab. Spirit seorang hamba dalam Kerajaan Allah adalah melayani secara tulus dan rendah hati, seperti dikatakan dalam nas, “Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan” (Luk. 17:10)

Terlaksananya amanah secara paripurna ialah sumber sukacita sejati seorang hamba Tuhan. Hamba yang amanah biasanya akan mendapat kepercayaan lebih besar lagi.

Ya Bapa, jadikanlah kami pewarta-pewarta sabda yang bersemangat hamba: bekerja secara paripurna tanpa mengharapkan imbalan. Amin.

.

Sumber renungan: Ziarah Batin 2021, OBOR Indonesia

Baca Juga: https://staging2.christina.my.id/bacaan-injil-hari-ini-panduan-hidup-beriman/

.

.

You cannot copy content of this page