Renungan Harian Hari Ini 21 Juli 2022, Bacaan Injil

renungan harian hari ini

Renungan Harian Hari Ini 21 Juli 2022, Bacaan Injil Matius 13:10-17

Bacaan I: Yer. 2:1-3.7-8.12-13; Mazmur: 36:6-7ab.8-11; R:10a; PEKAN BIASA XVI (H) Sta.Agnes; St.Augurius dan Eulogius; St.Laurensius dr Brindisi;

Setelah Yesus menceritakan perumpamaan tentang seorang penabur, murid-muridNya bertanya kepada-Nya: “Mengapa Engkau berkata-kata kepada mereka dalam perumpamaan?

Jawab Yesus: “Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Sorga, tetapi kepada mereka tidak.

Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi sehingga ia berkelimpahan; tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya.

Itulah sebabnya Aku berkata-kata dalam perumpamaan kepada mereka; karena sekalipun melihat, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mendengar dan tidak mengerti.

Maka pada mereka genaplah nubuat Yesaya, yang berbunyi: Kamu akan mendengar dan mendengar, namun tidak mengerti, kamu akan melihat dan melihat, namun tidak menanggap.

Sebab hati bangsa ini telah menebal, dan telinganya berat mendengar, dan matanya melekat tertutup;

supaya jangan mereka melihat dengan matanya dan mendengar dengan telinganya dan mengerti dengan hatinya, lalu berbalik sehingga Aku menyembuhkan mereka.

Tetapi berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar.

Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya banyak nabi dan orang benar ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya.”

.

renungan harian hari ini

.

Renungan Harian Hari Ini 21 Juli 2022, Bacaan Injil

Seorang ahli komunikasi pernah mengatakan, The medium is the message, media adalah pesan itu sendiri. Artinya, sarana menyampaikan pesan sama pentingnya dengan isi pesan itu sendiri.

Sarana komunikasi tidak hanya menentukan penerimaan isi pesan, tetapi juga mengubah cara penerima menerima pesan.

Para murid heran mengapa Yesus mengajar dengan perumpamaan dan tidak langsung saja menyatakan pokok-pokok doktrin yang ingin la sampaikan.

Ternyata, lewat perumpamaan Yesus merangsang para murid untuk berpikir, bertanya-tanya, dan mencerna sendiri apa yang kiranya dimaksudkan Tuhan.

Dengan kata lain, perumpamaan yang butuh untuk direfleksikan lebih lanjut itu merupakan suatu bentuk terapi, sebab selama ini umat Israel “sekalipun melihat, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mendengar dan tidak mengerti” (ay.13).

Yeremia mengingatkan bangsa Israel akan relasi mesra antara Allah dan mereka selama di padang gurun (ay. 2).

Dengan bahasa kiasan, Yeremia menyampaikan teguran Allah pada Israel bahwa mereka meninggalkan Aku, sumber air yang hidup, untuk menggali kolam bagi mereka sendiri, yakni kolam yang bocor” (ay. 13).

Kiasan ini tidak menimbulkan kesan memojokkan melainkan mengajak Israel untuk refleksi diri. Isi pesan yang disampaikan sama pentingnya dengan sarana yang kita pakai.

Pesan yang Yesus sampaikan bertahan hingga saat ini dan sudah memengaruhi banyak orang di dunia ini bahkan menentukan sejarah dunia ini.

Salah satu alasannya adalah Yesus memakai sarana dan cara penyampaiaan pesan yang tepat dan bisa diterima banyak orang bahkan oleh semua orang sepanjang zaman.

Pelajaran untuk kita: terkadang pesan baik yang kita sampaikan salah dimengerti atau membuat hati orang terluka lantas menolak kita.

Maka, kita perlu melihat lagi cara dan sarana yang kita pakai untuk menyampaikan pesan kita. Bisa saja letak persoalannya ada di sana.

.

Ya Bapa, semoga kami dapat mewartakan sabda-Mu dalam bahasa yang sederhana. Amin.

.

Sumber renungan: Ziarah Batin 2022, OBOR Indonesia

Baca Juga (KLIK):

Ziarah Wisata Gua Maria di Jogjakarta dan Sekitarnya

.

.

Renungan Harian Hari Ini 20 Juli 2022, Bacaan Injil

renungan harian hari ini

Renungan Harian Hari Ini 20 Juli 2022, Bacaan Injil Matius 13:1-9

Bacaan I: Yer. 1:1.4-10; Mazmur: 71:1-4a.5-6ab.15ab.17; R:15; PEKAN BIASA XVI (H) Nabi Elia; Sta.Margaretha dr Antiokhia; St.Vinsent Kaun;

Pada suatu hari, Yesus keluar dari rumah dan duduk di tepi danau.

Maka  datanglah orang banyak berbondong-bondong lalu mengerumuni Dia, sehingga la naik ke perahu dan duduk di situ, sedangkan orang banyak semuanya berdiri di pantai.

Dan la mengucapkan banyak hal dalam perumpamaan kepada mereka. Kata-Nya: “Adalah seorang penabur keluar untuk menabur.

Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis.

Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya lalu benih itu pun segera tumbuh, karena tanahnya tipis. Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar.

Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati.

Dan sebagian jatuh di tanah yang baik lalu berbuah: ada yang seratus kali lipat ada yang enam puluh kali lipat ada yang tiga
puluh kali lipat. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!”

.

renungan harian hari ini

.

Renungan Harian Hari Ini 20 Juli 2022, Bacaan Injil

Benih hanya akan tumbuh baik bila ditaburkan di atas tanah yang subur. Tetapi, mengapa si penabur dalam perumpamaan tetap nekat menaburkan benih di tanah berbatu, di pinggir jalan dsb? Apakan ini bukan pemborosan?

Lewat perumpamaan ini, Yesus ingin menggarisbawahi kemurahan hati Allah, Sang Penabur Sabda.

Seperti matahari yang tidak terbit bagi orang baik saja tetapi juga bagi orang jahat, demikian pula Sabda pembawa keselamatan tidak hanya ditawarkan kepada orang baik saja,

tetapi kepada semua orang, termasuk kepada orang jahat sekalipun. Allah ingin bersikap fair (adil).

Memang, seperti dikatakan pepatah Latin Quidquid recipitur ad modum recipientis recipitur, apa yang diterima akan diterima sesuai kemampuan si penerima.

Tanah berbatu dan tanah di pinggir jalan tentu tidak mampu menerima secara baik benih yang ditaburkan.

Kendati kondisi si penerima berpengaruh, bacaan pertama hari ini mengingatkan akan daya transformatif sabda Allah itu sendiri.

Allah bersabda kepada Yeremia bahwa ia harus pergi untuk mewartakan sabda-Nya kepada umat Israel. Yeremia yang masih muda, secara manusiawi, merasa tak mampu, apalagi ia tak pandai berbicara.

Namun Allah bersabda, “Janganlah takut…sebab Aku menyertai engkau” (ay.8). Sabda ini menenangkan dan meyakinkan Yeremia muda.

Tambahan lagi, Allah menjamah mulut Yeremia dan bersabda, “Sesungguhnya, Aku menaruh perkataan-perkataanKu ke dalam mulutmu” (ay.9).

Sabda tersebut berdaya transformatif, karena mengubah Yeremia muda menjadi penabur sabda yang pemberani, termasuk menaburkan sabda Allah di atas tanah berbatu, yakni kepada umat Israel yang keras kepala, tidak setia, dan degil hatinya.

.

Ya Bapa, bantulah kami untuk tidak ragu mewartakan sabda-Mu dan nenabur benih kebaikan di jalan-jalan kami. Amin.

.

Sumber renungan: Ziarah Batin 2022, OBOR Indonesia

Baca Juga (KLIK):

Ziarah Wisata Gua Maria di Jogjakarta dan Sekitarnya

.

.

Renungan Harian Hari Ini 19 Juli 2022, Bacaan Injil

renungan harian hari ini

Renungan Harian Hari Ini 19 Juli 2022, Bacaan Injil Matius 12:46-50

Bacaan I: Mi. 7:14-15.18-20; Mazmur: 85:2-4.5-6.7-8; R:8a; PEKAN BIASA XVI (H) St.Arsenius Agung; Sta.Aurea;

Sekali peristiwa, ketika Yesus masih berbicara dengan orang banyak, ibu-Nya dan saudara-saudara-Nya berdiri di luar dan berusaha menemui Dia.

Maka, seorang berkata kepada-Nya: “Lihatlah, ibu-Mu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan berusaha menemui Engkau.”

Tetapi jawab Yesus kepada orang yang menyampaikan berita itu kepada-Nya: “Siapa ibu-Ku? Dan siapa saudara-saudara-Ku?”

Lalu kata-Nya, sambil menunjuk ke arah murid-murid-Nya: “Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku!

Sebab siapa pun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di sorga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku.”

.

renungan harian hari ini

.

Renungan Harian Hari Ini 19 Juli 2022, Bacaan Injil

Yesus tidak menampik pentingnya hubungan batin yang tercipta karena keterkaitan biologis. Kita sering mendengar anak yang diadopsi punya kerinduan besar untuk menemukan orang tua biologisnya.

Kendati demikian, persaudaraan kita tak seharusnya dibatasi oleh hubungan darah atau oleh keterkaitan marga, kesamaan suku, warna kulit, dan ikatan primordial lainnya.

Hari ini Yesus jelas-jelas menggarisbawahi bahwa persaudaraan kita harus bersifat universal. Saudara kita ialah semua orang yang melakukan kehendak Allah.

Seperti dalam kisah orang Samaria yang baik hati, sesama kita ialah siapa pun yang berbelas kasih serta mempraktikkan hukum kasih.

Ensiklik Paus Fransiskus yang berjudul Fratelli Tutti, secara harafiah berarti “Semua adalah saudara”,

mengajak umat Katolik untuk menciptakan persaudaraan terbuka dan tanpa batas, dan ini berarti untuk mengasihi semua orang tanpa dibatasi oleh sekat-sekat geografis ataupun ikatan primordial.

Sebuah persaudaraan universal akan terwujud bila kita mampu mencintai orang yang asing dan tak dikenal seperti kerabat dekat.

Paus mencontohkan St.Fransiskus Assisi yang di tengah kecamuk perang salib mendatangi Sultan Malik-al-Kamil di Mesir.

Tanpa menyangkal identitasnya sebagai orang Katolik, St.Fransiskus bergaul bersama orang Muslim dan orang tak beriman,

tanpa menciptakan pertengkaran dan permusuhan, mengingat mereka ini adalah sesama manusia yang juga diciptakan berkat kasih Allah” (Fratelli Tutti, S3)

.

Allah Bapa bimbinglah kami untuk mencintai tanpa batas dan membangun persaudaraan universal. Amin.

.

Sumber renungan: Ziarah Batin 2022, OBOR Indonesia

Baca Juga (KLIK):

Ziarah Wisata Gua Maria di Jogjakarta dan Sekitarnya

.

.

Renungan Harian Hari Ini 18 Juli 2022, Bacaan Injil

renungan harian hari ini

Renungan Harian Hari Ini 18 Juli 2022, Bacaan Injil Matius 12:38-42

Bacaan I: Mi. 6:1-4.6-8; Mazmur: 50:5-6.8-9.16bc.17.21.23; R:23b; PEKAN BIASA XVI (H) St.Frederik dari Utrecht; St.Simforosa dan Putra-putranya; St.Odilia;

Pada waktu itu, berkatalah beberapa ahli Taurat dan orang Farisi kepada Yesus: “Guru, kami ingin melihat suatu tanda dari pada-Mu.”

Tetapi jawab-Nya kepada mereka: “Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda Nabi Yunus.

Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam.

Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama angkatan ini dan menghukumnya juga.

Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat setelah mendengar pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Yunus!

Pada waktu penghakiman, ratu dari Selatan itu akan bangkit bersama angkatan ini dan ia akan menghukumnya juga.

Sebab ratu ini datang dari ujung bumi untuk mendengar hikmat Salomo, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Salomo!”

.

renungan harian hari ini

.

Renungan Harian Hari Ini 18 Juli 2022, Bacaan Injil

Tak sedikit orang yang mendasarkan imannya pada tanda-tanda spektakuler seperti mukjizat. Padahal dasar iman mestinya ialah relasi kasih dengan Tuhan yang terus menyapa kita dalam segala situasi kehidupan.

Jika iman kita hanya bertumpu pada mukjizat dan tanda-tanda keajaiban saja, maka kita harus bersiap untuk kecewa.

Konon, bangsa Israel kerap kecewa pada Yahweh karena mukjizat yang mereka harapkan tak terjadi; lantas mereka meninggalkan Yahweh dan berpaling ke ilah-ilah lain yang tampak lebih hebat serta menjanjikan keajaiban.

Hari ini, Yesus prihatin terhadap para ahli Taurat dan orang-orang Farisi yang meminta suatu tanda dari Yesus untuk percaya. Kiranya ini menunjukkan kedangkalan iman mereka.

Selain tergantung pada tanda spektakuler, keimanan mereka hanya sebatas memenuhi aturan dan ritual lahiriah, dan tak berakar pada suatu relasi batiniah yang intim dengan Allah.

Kepada ahli Taurat dan orang Farisi, yang oleh Yesus disebut sebagai “angkatan yang jahat dan tidak setia”, Yesus menegaskan bahwa tidak akan diberikan tanda lain selain tanda Nabi Yunus (ay.39).

Di sini, Yesus membuat alusi pada kematian dan kebangkitan-Nya sesudah “tinggal di rahim bumi tiga hari tiga malam” (ay.40).

Itulah mukjizat paling fundamental yang menentukan ‘takdir’ manusia. Bila orang peka akan kehadiran Allah dan punya relasi dengan-Nya, tanda tersebut sudah memadai.

Dalam bacaan pertama, lewat Nabi Mikha, Allah mengingatkan akan mukjizat pembebasan dari Mesir sebagai tanda fundamental bagi iman Israel.

Jangan dikira berkat persembahan ribuan domba jantan, Allah lantas akan membuat mukjizat. Allah tidak bisa disogok.

Hal seperti ini tak dikehendaki Allah; yang la kehendaki ialah umat-Nya “berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allah” (ay. 8). Inilah tanda kedalaman iman.

.

Bapa, semoga iman kami tak tergantung pada mukjizat tapi berakar pada relasi personal kami dengan-Mu. Amin.

.

Sumber renungan: Ziarah Batin 2022, OBOR Indonesia

Baca Juga (KLIK):

Ziarah Wisata Gua Maria di Jogjakarta dan Sekitarnya

.

.

Renungan Harian Hari Ini 17 Juli 2022, Bacaan Injil

renungan harian hari ini

Renungan Harian Hari Ini 17 Juli 2022, Bacaan Injil Lukas 10:38-42

Bacaan I: Kej. 18:1-10a; Mazmur: 15:2-3ab.3cd-4ab.5; R:1a; Bacaan II: Kol. 1:24-28; O PEKAN IV PEKAN BIASA XVI (H) St.Magdalena Postel;

Dalam perjalanan ke Yerusalem, Yesus dan murid-murid-Nya tiba di sebuah kampung. Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia di rumahnya.

Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya, sedang Marta sibuk sekali melayani.

la mendekati Yesus dan berkata: “Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri/ Suruhlah dia membantu aku.”

Tetapi Tuhan menjawabnya: “Marta, Marta, engkau khawatir dan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.”

.

renungan harian hari ini

.

Renungan Harian Hari Ini 17 Juli 2022, Bacaan Injil

Karena ingin menyukakan hati seseorang yang kita sayangi, maka dapat terjadi kita menyibukkan diri melakukan berbagai hal yang detail, rumit, sulit, dan menyita waktu.

Harapannya, orang yang kita sayangi itu akan terkesan dan lantas mengapresiasi kesibukan serta usaha keras kita. Padahal, belum tentu hal-hal yang kita lakukan itu sungguh diperlukannya.

Semua ini dilakukan hanya karena kita tak ingin mengecewakan orang lain dan ingin agar kita dipuji serta disayangi balik. Ada unsur egosentrisme di sini, sebab pada akhirnya yang menjadi pusat perhatian adalah diri kita sendiri.

Dengan mengeluh pada Yesus Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri?” (ay. 40), Marta seolah ingin mengatakan:

“Tidak pedulikah kalian padaku? Tidakkah kalian lihat aku sibuk setengah mati demi kalian?”

Jawaban Yesus terdengar menohok ke jantung persoalan: “Marta, Marta, engkau khawatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara…”, padahal semua kesibukan itu tidak sungguh-sungguh diperlukan.

Berbeda dengan Marta, Maria duduk diam dan melakukan apa yang perlu, yakni fokus mendengarkan sabda Yesus. Mendengarkan itu tidak sama dengan mendengar.

Mendengar bisa dilakukan sambil lalu, sedangkan mendengarkan menuntut konsentrasi dan fokus sehingga akan sulit bila dilakukan sambil lalu atau sambil mengerjakan banyak hal lain.

Lagi pula, dalam mendengarkan, perhatian kita tidak fokus pada diri kita sendiri, melainkan pada pihak yang berkata-kata serta pada isi atau maksud dari kata-katanya tersebut. 

Sibuk melayani itu baik, tapi lebih baik lagi melakukan apa yang diperlukan.

.

Bapa, ajarlah kami mendengarkan-Mu dan melakukan apa yang perlu demi kemuliaan dan keselamatan kami. Amin.

.

Sumber renungan: Ziarah Batin 2022, OBOR Indonesia

Baca Juga (KLIK):

Ziarah Wisata Gua Maria di Jogjakarta dan Sekitarnya

.

.

Renungan Harian Hari Ini 16 Juli 2022, Bacaan Injil

renungan harian hari ini

Renungan Harian Hari Ini 16 Juli 2022, Bacaan Injil Matius 12:14-21

Bacaan I: Mi. 2:1-5; Mazmur: 10:1-2.3-4.7-8.14; R:12b; PEKAN BIASA XV (H) Sta.Perawan Maria dr Gunung Karmel; St.Reinildis;

Sekali peristiwa, orang-orang Farisi bersekongkol untuk membunuh Yesus. Tetapi Yesus mengetahui maksud mereka lalu menyingkir dari sana.

Banyak orang mengikuti Yesus dan la menyembuhkan mereka semuanya. la dengan keras melarang mereka memberitahukan siapa Dia, supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya:

“Lihatlah, itu Hamba-Ku yang Kupilih, yang Kukasihi, yang kepada-Nya jiwa-Ku berkenan;

Aku akan menaruh roh-Ku ke atas-Nya, dan la akan memaklumkan hukum kepada bangsa-bangsa. la tidak akan berbantah dan
tidak akan berteriak dan orang tidak akan mendengar suara-Nya di jalan-jalan.

Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya, sampai la menjadikan hukum itu menang. Dan pada-Nyalah bangsa-bangsa akan berharap.”

.

renungan harian hari ini

.

Renungan Harian Hari Ini 16 Juli 2022, Bacaan Injil

Dalam bahasa Ibrani, “Mikha’ merupakan singkatan dari pertanyaan retorik yang berarti “Siapakah seperti Allah?”

Seperti Amos, Mikha merupakan nabi yang diutus Allah untuk membuka mata hati bangsa Israel atas realitas ketidakadilan sosial dalam masyarakat.

Jurang yang memisahkan orang kaya dan orang miskin telah sedemikian lebar. Ketidaksetaraan yang terlalu mencolok itu membuat orang kaya dapat memanipulasi dan memanfaatkan orang miskin sesuka hati mereka.

Dengan jaringan relasi yang mereka miliki kaum kaya dapat berkomplot dengan birokrat untuk merampas dan menguasai ladang dan perumahan kaum miskin.

Nabi Mikha berteriak lantang dan menyerukan bahwa Allah mengutuk tindak perampasan itu dan akan menegakkan keadilan.

Yesus juga mengetahui bahwa orang-orang Farisi dan pemimpin-pemimpin agama pada zaman itu bersekongkol untuk menyingkirkan-Nya.

Berbeda dengan Mikha, misi Yesus tidak politis. Yesus tidak hendak menegakkan keadilan secara langsung dalam masyarakat; tetapi la hendak meluruskan relasi spiritual atau menjembatani jurang yang memisahkan manusia dengan Allah.

Jika relasi manusia dengan Allah beres, maka manusia akan dapat mewujudkan keadilan di muka bumi. Karena itulah, Yesus tidak menghadapi ketidakadilan yang diderita-Nya di dunia ini secara konfrontatif.

Sebaliknya, Ia memberi contoh bahwa rantai kekerasan harus diputus melalui hukum kasih. Jika kasih meraja, maka keadilan di dunia akan terwujud.

Untuk itu, sebagai Hamba Yahweh, “la tidak akan berbantah dan tidak akan berteriak… sampai la menjadikan hukum itu menang” (ay.19-20). Yesus tidak kalah, namun mengalah untuk menang.

.

Ya Tuhan, semoga hukum kasih membuat kami berperilaku adil pada sesama. Jauhkan kami dari sikap balas dendam. Amin.

.

Sumber renungan: Ziarah Batin 2022, OBOR Indonesia

Baca Juga (KLIK):

Ziarah Wisata Gua Maria di Jogjakarta dan Sekitarnya

.

.

Renungan Harian Hari Ini 15 Juli 2022, Bacaan Injil

renungan harian hari ini

Renungan Harian Hari Ini 15 Juli 2022, Bacaan Injil Matius 12:1-8

Bacaan I: Yes. 38:1-6.21-22.7-8; Mazmur: Yes. 38:10.11.12abcd.16; R:17b; PEKAN BIASA XV Pw St.Bonaventura, UskPujG (P) St.Yakobus dr Nisiba;

Pada waktu itu, pada hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum. Karena lapar, murid-murid-Nya memetik bulir gandum dan memakannya.

Melihat itu, berkatalah orang-orang Farisi kepada-Nya: “Lihatlah, murid-murid-Mu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat.”

Tetapi jawab Yesus kepada mereka: “Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya lapar,

bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan bagaimana mereka makan roti sajian yang tidak boleh dimakan, baik olehnya maupun oleh mereka yang mengikutinya, kecuali oleh imam-imam?

Atau tidakkah kamu baca dalam kitab Taurat, bahwa pada hari-hari Sabat, imam-imam melanggar hukum Sabat di dalam Bait Allah, namun tidak bersalah?

Aku berkata kepadamu: Di sini ada yang melebihi Bait Allah. Jika memang kamu mengerti maksud firman ini:

Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, tentu kamu tidak menghukum orang yang tidak bersalah. Karena Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.”

.

renungan harian hari ini

.

Renungan Harian Hari Ini 15 Juli 2022, Bacaan Injil

Kita hidup di zaman di mana kemajuan teknologi memberikan banyak kemudahan dan alternatif pilihan.

Bila kita tidak suka pada satu hal, misalnya sebuah platform toko online, kita dapat segera beralih ke alternatif lain. Hubungan atau relasi menjadi sangat cair.

Bila kita tidak suka pada seorang teman di media sosial kita dapat dengan mudah unfollow tanpa perlu merasa bersalah, karena ada banyak teman lain yang tak terbatas dan yang lebih menyenangkan.

Salah satu dampak dari arus zaman seperti ini ialah tergerusnya nilai kesetiaan. Untuk apa bersusah payah mempertahankan dan setia pada suatu pilihan, jika ada pilihan lain yang lebih menjanjikan?

Kalau ada Gereja lain yang lebih menarik, kenapa harus tetap jadi Katolik?

Mentalitas mudah berganti pilihan ini tentu juga menjadi tantangan tersendiri untuk perkawinan Katolik yang monogami dan seumur hidup.

Dalam bacaan pertama, doa Raja Hizkia didengarkan Tuhan karena ia adalah orang yang setia, tulus hati, dan melakukan apa yang baik di mata Tuhan.

Di dalam Injil, Yesus mengritik orang-orang Farisi yang setia pada tradisi hukum keagamaan buatan manusia tetapi tidak tulus dan tidak setia pada Tuhan sendiri yang mengatasi hukum buatan manusia.

Mereka ingin setia pada pernak-pernik aturan eksternal yang mengatur kehidupan beragama mereka, namun di sisi lain mereka justru melupakan hukum kasih yang merupakan inti dari hidup beragama.

Mereka sibuk dengan hal-hal yang bukan inti. Karena menekankan ketaatan lahiriah, mereka suka mencari-cari kesalahan orang lain dan tidak mengamalkan inti hidup keagamaannya secara tulus hati.

.

Yesus, semoga kami setia pada-Mu dan menjalankan perintah-Mu dengan tulus hati. Buatlah kami teguh dan setia merawat dan mengamal kasih satu sama lain dalam keluarga dan dalam masyarakat. Amin.

.

Sumber renungan: Ziarah Batin 2022, OBOR Indonesia

Baca Juga (KLIK):

Ziarah Wisata Gua Maria di Jogjakarta dan Sekitarnya

.

.

Renungan Harian Hari Ini 14 Juli 2022, Bacaan Injil

renungan harian hari ini

Renungan Harian Hari Ini 14 Juli 2022, Bacaan Injil Matius 11:28-30

Bacaan I: Yes. 26:7-9.12.16-19; Mazmur: 102:13.14ab.15.16-18.19-21; R:20b; PEKAN BIASA XV (H) St.Fransiskus Solanus; St.Kamilus dr Lelli;

Sekali peristiwa, bersabdalah Yesus:

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.

Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku,

karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.

Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.”

.

renungan harian hari ini

.

Renungan Harian Hari Ini 14 Juli 2022, Bacaan Injil

Pada masa mudanya, St. Agustinus adalah seorang pencari yang selalu gelisah; ia mencoba berbagai gaya hidup serta mengikuti berbagai ajaran kebijaksanaan dan keagamaan.

Semuanya tak ada yang dapat memuaskan jiwanya. Namun, setelah pencarian panjang pada akhirnya ia mengenal dan mengimani Allah dalam Gereja Katolik, lalu menyimpulkan dengan indah,

“Gelisah hatiku sebelum beristirahat pada-Mu” (Confessiones, 1.1).

Dalam bacaan pertama hari ini, Nabi Yesaya juga menggambarkan Allah sebagai embun terang yang dapat memuaskan dahaga jiwa manusia; jiwa manusia yang merindukan istirahat abadi.

Kekayaan, kepandaian, karier, popularitas semuanya terasa menyenangkan, tetapi tetap tak dapat memuaskan kehausan jiwa yang terdalam.

Hanya Tuhan yang dapat memuaskan dahaga manusia. Manusia selalu merindukan Tuhan, karena manusia memang diciptakan untuk bersatu dengan-Nya.

Kesatuan abadi dengan Tuhan itulah yang dapat memuaskan dan menenteramkan jiwa.

Tulis Yesaya: “Dengan segenap jiwa aku merindukan Engkau pada waktu malam, juga dengan sepenuh hati aku mencari Engkau pada waktu pagi” (ay.9).

Demikian pula dalam Injil hari ini, Yesus membuka tangan lebar-lebar dan mengundang semua yang berbeban berat dalam hidup untuk datang kepada-Nya:

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadamu” (ay.28).

Yesus tidak hanya mengajak kita untuk memperhatikan orang miskin, mencari yang hilang, mencintai tanpa pamrih, mengampuni tanpa batas, dst,

tetapi la juga menjadi tambatan hati tempat kita dapat menyandarkan diri manakala jiwa kita lelah.

Yesus adalah embun sejuk yang dapat menyegarkan jiwa kita. la tidak hanya menuntut kita melakukan sesuatu untuk Dia, tetapi juga mengundang kita untuk diam dan menikmati saat-saat bersama-Nya.

.

Tuhan Yesus, Engkaulah tumpuan harapan dan kerinduan hati kami. Amin.

.

Sumber renungan: Ziarah Batin 2022, OBOR Indonesia

Baca Juga (KLIK):

Ziarah Wisata Gua Maria di Jogjakarta dan Sekitarnya

.

.

Renungan Harian Hari Ini 13 Juli 2022, Bacaan Injil

renungan harian hari ini

Renungan Harian Hari Ini 13 Juli 2022, Bacaan Injil Matius 11:25-27

Bacaan I: Yes. 10:5-7.13-16; Mazmur: 94:5-10.14-15; R:14a; PEKAN BIASA XV (H) St.Hendrich II; St.Eugenius; Sta.Teresia Yesus dr Andes;

Sekali peristiwa, berkatalah Yesus: “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi,

karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil.

Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu.

Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak seorang pun mengenal Anak selain Bapa,

dan tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya.”

.

renungan harian hari ini

.

Renungan Harian Hari Ini 13 Juli 2022, Bacaan Injil

Orang yang merasa lebih tinggi (lebih kaya, lebih terpelajar, lebih gaul) sering kali jatuh ke dalam kesombongan yang pada akhirnya membuat orang itu jadi angkuh dan takabur.

Karena kekayaan, kepandaian, dan relasinya yang luas, ia berpikir bahwa segala sesuatu dapat ia selesaikan dan atasi dengan mudah.

Orang seperti ini merasa gengsi untuk minta nasihat atau bantuan dari mereka yang lebih rendah (miskin, tak terpelajar, tak punya banyak relasi).

Tetapi, kesombongan adalah awal dari kemandekan dan kehancuran. Karena merasa telah memiliki segalanya orang sombong enggan belajar dan mendengarkan orang lain; ia hanya mendengarkan diri sendiri saja.

Sikap seperti ini membuatnya tertutup dan tak mampu memahami misteri ilahi. Orang sombong selalu mendongak ke atas, melihat yang megah dan agung, padahal misteri ilahi sering dinyatakan dalam hal yang kecil dan sederhana.

Yesus mengingatkan bahwa misteri Kerajaan Allah itu disembunyikan dari orang cerdik pandai tetapi dinyatakan kepada orang kecil (ay.25).

Orang kecil adalah orang yang tak memiliki banyak sumber daya dan karena itu bersikap rendah hati. Orang rendah hati berpijak di tanah dan memandang ke bawah;

sekalipun pandai ia merasa masih perlu belajar serta mendengarkan orang lain, termasuk dari yang lebih inferior sekalipun.

Kitab Amsal juga mengingatkan: “Tinggi hati mendahului kehancuran” (18:12), sementara Hikmat ada pada orang yang rendah hati” (11:2).

Dalam bacaan pertama Yesaya menubuatkan kehancuran Asyur yang congkak dan sombong. Di tengah kesuksesan, Asyur melupakan kebaikan Allah.

Dengan nada retorik, Yesaya berseru, “Adakah kapak memegahkan diri terhadap orang yang memakainya? ” (ay.15).

Keangkuhan dan sikap tinggi hati bukan hanya tak berkenan pada Allah, tetapi juga akan mendatangkan kehancuran diri sendiri.

.

Tuhan, jangan biarkan kami menjadi congkak dan tinggi hati, tetapi buatlah kami selalu rendah hati. Amin.

.

Sumber renungan: Ziarah Batin 2022, OBOR Indonesia

Baca Juga (KLIK):

Ziarah Wisata Gua Maria di Jogjakarta dan Sekitarnya

.

.

Renungan Harian Hari Ini 12 Juli 2022, Bacaan Injil

renungan harian hari ini

Renungan Harian Hari Ini 12 Juli 2022, Bacaan Injil Matius 11:20-24

Bacaan I: Yes. 7:1-9; Mazmur: 48:2-3a.3b-4.5-6.7-8; R:9d; PEKAN BIASA XV (H) St.Yohanes Gualbertus; St.Nabor dan Felix;

Sekali peristiwa, Yesus mulai mengecam kota-kota yang tidak bertobat, sekalipun di situ la paling banyak melakukan mukjizat-mukjizat-Nya: “Celakalah engkau Khorazim! Celakalah engkau Betsaida!

Karena jika di Tirus dan di Sidon terjadi mukjizat-mukjizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, sudah lama mereka bertobat dan berkabung.

Tetapi Aku berkata kepadamu: Pada hari penghakiman, tanggungan Tirus dan Sidon akan lebih ringan dari pada tanggunganmu.

Dan engkau Kapernaum, apakah engkau akan dinaikkan sampai ke langit? Tidak, engkau akan diturunkan sampai ke dunia orang mati!

Karena jika di Sodom terjadi mukjizat-mukjizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, kota itu tentu masih berdiri sampai hari ini.

Tetapi Aku berkata kepadamu: Pada hari penghakiman, tanggungan negeri Sodom akan lebih ringan daripada tanggunganmu.”

.

renungan harian hari ini

.

Renungan Harian Hari Ini 12 Juli 2022, Bacaan Injil

Ada beragam cara mengingatkan dan membawa seseorang yang telah melakukan kesalahan untuk berbenah diri dan kembali di jalan yang benar.

Ada yang cukup diberitahu secara halus. Ada yang perlu diajak wawan hati secara personal. Ada yang perlu ditegur secara tegas dan butuh ditunjukkan kesalahannya.

Ada pula yang sedemikian degil dan keras kepala sehingga agar sadar akan kesalahannya dan mau berubah dibutuhkan kecaman atau bahkan diancam dengan hukuman tertentu.

Yang terakhir inilah yang dilakukan oleh Yesus terhadap penduduk kota Betsaida dan Khorazim yang meski telah diberi tanda dalam rupa mukjizat-mukjizat, tetapi tetap tidak mau bertobat dan berubah.

Kepada mereka, Yesus menggunakan kata-kata yang keras, yaitu ancaman akan hukuman, dengan harapan hal ini akan menjadi suatu shock therapy yang mujarab.

Jika peringatan paling keras telah diberikan tetapi pihak yang bersalah tidak berubah, maka ia harus bertanggung jawab atas pilihan sikapnya tersebut.

Terhadap Raja Ahas yang imannya goyah sehingga mudah gemetar ketakutan seperti pohon-pohon hutan yang bergoyang ditiup angin (ay.2), Allah mengutus Yesaya untuk menyampaikan pesan peneguhan secara halus namun tegas.

Lewat Nabi Yesaya, Allah meneguhkan Ahas dan rakyatnya bahwa jika mereka ingin sukses, maka mereka tak bisa mengandalkan kalkulasi dan kekuatan sendiri namun perlu percaya dan mengikuti nasihat Tuhan.

Tuhan menegaskan “Jika kamu tidak percaya, sungguh, kamu tidak akan teguh jaya (ay.9).

Percayalah dan ikutilah nasihat Tuhan agar usaha dan ikhtiar kita akan tetap teguh jaya. Pesan ini juga ditujukan untuk kita hari ini.

.

Ya Allah, bimbinglah kami untuk mendengarkan nasihat-Mu dan percaya pada kuasa sabda-Mu yang menghidupkan. Amin.

.

Sumber renungan: Ziarah Batin 2022, OBOR Indonesia

Baca Juga (KLIK):

Ziarah Wisata Gua Maria di Jogjakarta dan Sekitarnya

.

.

You cannot copy content of this page